Sambutan Hangat Om Kurnia Effendi untuk Waktu Pesta

Aku mengenal Om Kurnia Effendi (Keff) lewat cerpennya. Kemudian, untuk pertama kali, aku bertemu langsung di Sanggar Pelangi. Guru menulisku, Om KW, mengajaknya singgah di Sanggar Pelangi, di Gunung Pangilun Padang. Ketika berbincang dengannya, logat khasnya membuat aku sangat dapat menyimpulkan tanah asalnya: Tegal.

Pertemuan berikutnya adalah di Serang, Banten. Saat itu, aku hadir dalam acara Malam Penganugerahan Sayembara Menulis Cerpen Belistra Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Selain menjadi juri, Om Keff juga menjadi pembicara. Aku menyimak materinya yang benar-benar menjelaskan betapa karibnya Om Keff dengan sastra. Sastra seperti bertumbuh dalam dirinya, mendarah daging. Kecintaannya yang besar pada sastra pun membuat ia hingga kini masih terus menulis. Nama Om Keff, aku catat sebagai inspirator untuk menulis cerpen, sebab Om Keff adalah salah salu cerpenis andal, penulis bernapas pendek yang cukup produktif secara karya. Saat itu, tak dinyana, Om Keff memilih cerpenku yang berjudul “Ibu Menyanyi Untukku, Aku Menyanyi Untuk Ibu” sebagai juara 2. Saat itu, aku merasa berterima kasih padanya. Om Keff benar-benar melecut semangatku untuk menulis lebih bagus. “Cerpenmu asyik,” katanya di Facebook. Di kata pengantar, ia mendoakan kami yang muda-muda untuk terus menulis dalam usia yang panjang. Aku mengaminkan dengan sungguh.

Koleksi pribadi Kurnia Effendi di album Facebook
Koleksi pribadi Kurnia Effendi di album Facebook

Pertemuan berikutnya, saat itu bedah buku Gadis Pakarena karya Mas Khrisna Pabichara di TM Bookstore, Depok Town Square.  Om Keff tetap tampil sebagaimana biasa: sederhana, bersahaja. Aku berbicang dengannya, bertanya kabarnya, dan ia bertanya kabar menulisku. Aku katakan, beban akademis saat itu memenjaraku.

Dan, berikutnya, kami hanya bersapa di Facebook.

Berikutnya lagi, aku mengirimkan pesan di inbox Facebooknya. Aku meminta kesediaannya menjadi endorser untuk buku kumpulan cerpen pertamuku. Om Keff dengan senang hati menerima permintaan itu. Aku kirim ke email naskahnya. Aku menunggu balasan testimoni darinya dengan penuh debar. Rupanya, saat itu ia sibuk. Aku setia menunggu.  Aku sudah terlanjur berharap namanya ada di buku pertamaku itu, di buku antologi berjudul Waktu Pesta. Om Keff menepati janjinya dan ia mengirimkan testimoninya, walau telat dari tanggal yang dijanjikan. Tapi, aku tetap senang, sebab endorsement darinya memberikan kesan tersendiri bagiku. Bahkan, aku tak menyangka, pada saat itu Editor menaruh endorsement Om Kurnia Effendi di kulit belakang buku.

Berikut testimonya:

“Cerpen-cerpen dalam kumpulan Waktu Pesta ini memberikan gambaran yang terang mengenai gejolak anak muda dalam memeragakan sejumlah tema: meletup-letup. Suasana dramatik bagai membelah diri, sebagian dalam bentuk kecamuk perasaan, sebagian lain tampil melalui aksi fisik. Ada anasir mistik dan eksplorasi terhadap wilayah yang ganjil, membuat kisah-kisah yang ditulis memikat dan tak biasa.”
Kurnia Effendi, penulis dan penggemar sastra

Endorsement dari Om Kurnia Effendi untuk buku Waktu Pesta (Sumber foto: Facebook Kurnia Effendi)
Endorsement dari Om Kurnia Effendi untuk buku Waktu Pesta (Sumber foto: Facebook Kurnia Effendi)

Dan, ketika bukunya terbit, aku mendapat satu buku sebagai bukti terbit. Buku itu aku kirimkan pada Om Keff sebagai ucapan terima kasih. Beberapa hari setelah aku kirimkan, Om Keff mengirimkan aku pesan di Facebook:

Menurutku, kelahiran pengarang-pengarang muda di Indonesia sangat penting. Terutama jika mereka menyuguhkan gaya ungkap dan tema-tema yang berbeda dibanding sebelumnya. Kehadiran “Waktu Pesta” ini kusambut dengan rasa bangga. Langkah pertama tak harus sempurna, tetapi di sana terdapat potensi yang gampang diasah karena memiliki bakat kuat sebagai pengarang. Masa depan pun masih panjang.

Dodi Prananda, terima kasih. Buku kalian sudah kuterima. Seperti tulisan dalam suratmu, senantiasa kutunggu karyamu berikutnya.

Ini surat yang aku sertakan ketika mengirim buku Waktu Pesta ke alamat Om Keff (Foto: Om Keff)
Ini surat yang aku sertakan ketika mengirim buku Waktu Pesta ke alamat Om Keff (Foto: Om Keff)

Demikianlah, kenapa nama penulis buku Anak Arloji, Kincir Api, Bercinta di Bawah Bulan itu selalu punya arti penting dalam kepenulisanku (selain jasa besar guru menulisku Om Yusrizal KW). Tidak hanya karena cerpen-cerpennya yang membuat aku selalu terinspirasi, tetapi juga sosok pribadi penulisnya yang patut dijadikan motivator penulis muda sepertiku: SEDERHANA, BERSAHAJA.

Salam hangat untuk Om Keff,

Regards,

Dodi Prananda

Iklan

Bunda Rika dan Waktu Pesta

Namanya, Rika Noor Athari.  Perempuan yang lahir di Padang, 8 Mei 1992 silam. Kami memanggilnya Bunda Rika. Bunda, ya. Sederhana, usia kami terpaut satu tahun. Pribadi yang penyanyang, perhatian, dan ceria. Dia adalah Ibu kami, yang selalu mengerti kami. Karena itu, kami panggil dia dengan sebutan itu.

(Dok.Pribadi milik Bunda Rika)
(Dok.Pribadi milik Bunda Rika)

Ketika Waktu Pesta beredar pertama kali di Gramedia Jabodetabek, khususnya Gramedia Depok, Bunda adalah saksinya. Usai membeli buku Waktu Pesta di Gramedia Depok, aku hendak pulang ke kost. Sambil menunggu bis kuning di halte Stasiun UI, aku membuka dan membaca kembali Waktu Pesta.

Ketika asyik membaca, Bunda lewat. Ia menyapa,” Dodi…,” sapanya dengan wajah ceria seperti biasa. “Udah keluar ya bukunya,” kata Bunda lagi.

Dan, aku tersenyum.

“Kura-kura ninja,” kataku, sambil menempelkan jari telunjuk di atas kepala, menirukan adegan Kugy di film Perahu Kertas ketika cerpen Kugy dimuat di sebuah majalah.

Ini foto 'Waktu Pesta' milik Bunda, dan bagian tulisanku yang sudah diberi sedikit tulsan dengan kata-kata manis plus tanda tangan.
Ini foto ‘Waktu Pesta’ milik Bunda, dan bagian tulisanku yang sudah diberi sedikit tulsan dengan kata-kata manis plus tanda tangan.

Bunda berjanji akan membeli buku Waktu Pesta. Janji itu ditepati. Suatu hari, Bunda mengabari. Hari lainnya, dia mengirimkan pesan untuk menandatangani buku miliknya. Aku bersedia. Kami bertemu di Kancil.

Aku selalu tidak bisa berkomentar ketika Bunda bilang: “Sekarang, dia datang kepadaku bukan lagi sebagai teman. Tapi, kini sebagai penulis….”

Bun, aku sayang Bunda! (*)

 

 

Kata Tamu Waktu Pesta

“Membaca “Waktu Pesta” rasanya seperti memasuki sebuah perayaan yang menyuguhkan banyak pertunjukan yang berhasil dituturkan secara manis dan apik. Dan pada akhir setiap pertunjukan, semua penonton akan berdiri dan bertepuk tangan. Ini adalah karya hebat dari anak-anak muda hebat!”

Wandy Ghani (@popokman), penggiat sosial media dan penulis yang sedang berproses

 

“Cerpen-cerpen dalam kumpulan Waktu Pesta ini memberikan gambaran yang terang mengenai gejolak anak muda dalam memeragakan sejumlah tema: meletup-letup. Suasana dramatik bagai membelah diri, sebagian dalam bentuk kecamuk perasaan, sebagian lain tampil melalui aksi fisik. Ada anasir mistik dan eksplorasi terhadap wilayah yang ganjil, membuat kisah-kisah yang ditulis memikat dan tak biasa.”
Kurnia Effendi, penulis dan penggemar sastra

 

Terima kasih telah mengundangku di Waktu Pesta. Pesta yang tak biasa, dan aku serasa menjadi tamu istimewa. Disuguhkan dengan makanan jiwa yang luar biasa. Diwaktu pesta aku merasa ketagihan, tak ingin pulang bahkan luar biasa dari pestanya cinderela. Empat penulis di waktu pesta memanjakan aku dengan karya mereka yang sempurna. Penulis muda yang cerdas, patut diapresiasi karena mereka adalah aset bangsa.  Masing-masing punya nuansa cerita dan gaya bahasa yang berbeda, variatif dan menurutku setiap cerpen mengandung makna yang berbeda, aku paling suka cerita dari Intan Kirana, gaya bahasanya Dodi Prananda, jalan ceritanya Mahdy, dan kemudahan mencerna cerpennya Tya Winduwati.

Selamat kepada pesta di waktu pesta. Pestanya penulis dan pembaca!

– Fitrahtul Mutia, 19 tahun, Mahasiswi

Merayakan ‘Waktu Pesta’

BEhBskcCQAAxy4S.jpg large
Foto oleh Jonathan Davin

 

 

Waktu Pesta
oleh Dodi Prananda , Intan Kirana , Muhammad Mahdy , Tya Winduwati

SINOPSIS

Teruntuk para pembaca, Atas nama cinta, kami torehkan manis dan pahitnya warna pelangi. Atas nama gelora, kami sampaikan kelam dan indahnya asa. Atas nama sang imaji, kami tunjukkan peranan tak terduga di batas khayal.

Dan atas nama para penulis, kami mengundang Anda untuk berpesta! Mari nikmati segala suasana dan ingar-bingarnya Waktu Pesta! Karena seperti yang tertulis pada kartu undangan kami semasa kecil: “Tiada kesan tanpa kehadiranmu”.

DETAIL
Judul                    : Waktu Pesta
Seri                        : Waktu Pesta
ISBN/EAN          : 9786020205823 / 9786020205823
Pengarang          :  Dodi Prananda , Intan Kirana , Muhammad Mahdy , Tya Winduwati
Penerbit             :   ELEX MEDIA
Terbit                  :   27 Februari 2013
Pages                   :  300
Berat                    :  350 gram
Dimensi(mm)   :   135 x 200
Tag