Ketika Waktunya Ibu Datang

Salah satu adegan film Pengabdi Setan (2017) (Sumber foto: Rapi Films)

Joko Anwar duduk di kursi sutradara mengarahkan produksi film yang mengambil tempat penting dalam jejak kariernya di bidang perfilman. Film horor dengan atmosfer kengerian tingkat tinggi.

Di ranjang tua berkelambu di kamar dengan motif ukiran kembang itu,  Mawarni Suwono (Ayu Laksmi) terbaring sakit. Tiga tahun terakhir, penyanyi yang sudah tidak kebagian royalti itu terpaksa merepotkan suami dan keempat anaknya untuk mengurusnya menjelang ajal menjemput. Ketika lonceng dibunyikan, itulah tanda Mawarni membutuhkan bantuan. Namun, pada suatu malam, saat Mawarni sudah benar-benar pergi, lonceng itu kembali berdentang….

Film Pengabdi Setan (1980) garapan Sisworo Gautama Putra yang dinobatkan Majalah Rolling Stones sebagai film horor Indonesia terseram sepanjang masa dibuat versi barunya dengan banyak pengubahan atau penyesuaian (re-boot version) oleh Sutradara Joko Anwar. Beberapa tahun terakhir Joko Anwar berusaha meyakinkan Sunil G. Samtani dan termasuk ayah Sunil, Gope Samtani dari rumah produksi Rapi Films sebagai pemegang hak cipta film Pengabdi Setan lawas itu. Seolah memberi “sesajen” sebagai bukti kelayakannya duduk di kursi sutradara, Joko menggarap dua film pendek persembahan, Jenny (diperankan Asmara Abigail) dan Jangan Kedip, keduanya diluncurkan 2016 lalu.

Apa sebab Joko begitu ambisius mendambakan proyek ini? Konon, film inilah yang membersitkan keinginan menjadi sineas dalam diri Joko Anwar. Hal lainnya, menurut Joko, jika ditonton hari ini pun, di saat teknologi produksi film semakin canggih, tidak menghilangkan hawa kengerian film Pengabdi Setan.

Tentu saja tidak mudah dan merupakan beban berat mengulang kesuksesan Pengabdi Setan yang pernah diputar di berbagai negara. Belum lagi jika harus mencari tandingan aktor seperti Ruth Pelupessi yang memerankan Darminah, pembantu rumah tangga yang ternyata seorang pengabdi setan. Belum lagi, bagaimana kembali ke zaman 1980 untuk menambah suasana serta atmosfer kengerian sebagai latar untuk menceritakan sebuah keluarga menghadapi petaka dari dosa masa lalu?

Alih-alih membuat versi re-make yang menjiplak utuh semua tentang Pengabdi Setan, Joko justru menulis ulang. Tidak ada Darminah. Tidak ada Hendarto,  berserta dua anaknya, Rita dan Tomi, keluarga kecil yang terpaksa menanggung derita dikejar-kejar roh jahat karena lalai dan jauh dari agama. Kali ini yang ada adalah seorang bapak (Bront Palarae) beserta empat anaknya, Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), Bondy (Nasar Annuz) dan Ian (M. Adhiyat). Demi terhindar dari keharusan mengulang yang sudah, Joko hanya meminjam semesta (universe) yang melingkupi kisah keluarga yang jauh dari agama ini. Selebihnya, Joko menulis ulang semua cerita dengan konteks yang lebih baru. Bahkan, tampak usaha Joko Anwar berusaha menerjemahkan judul “Pengabdi Setan” ke dalam makna yang harfiah. Jika pada film versi orisinal kita tidak dapat melihat gambaran jelas tentang sejumlah tanya: ‘apa’, ‘kenapa’ dan ‘bagaimana’ tentang pengabdian pada setan itu (kecuali bahwa setan selalu bersama orang-orang yang lemah imannya), dalam versi re-boot, penonton setidaknya mendapat penjelasan tentang alasan seseorang mengabdi pada setan untuk meminta sesuatu. Meski begitu, Joko pun tidak memberikan visualisasi yang gamblang seperti apakah ritual sekte yang disebut menginginkan tumbal tersebut.

Selain tetap membiarkan keseluruh tokoh ada pada semesta yang lama, tentu saja menarik melihat penggambaran suasana rumah yang sangat “jadul” ini. Sejumlah perabotan usang: ranjang, lemari berkaca oval, telepon, televisi, radio, dan jam dinding. Kita mungkin sepakat masa lalu atau masa lampau itu selalu menyeramkan. “Suasana latar tahun 80-an itu terasa lebih creepy,” kata Sunil dalam wawancara di video di balik layar pembuatan Pengabdi Setan yang terbaru.

Selain melakukan pendalaman cerita berikut karakter untuk memberikan warna baru dalam Pengabdi Setan, Joko Anwar pun paham bagaimana menakut-nakuti lewat keseluruhan suasana atau atmosfer, bukan hanya mengandalkan adegan tipuan belaka (jumpscare). Sejak pertama, film ini sudah menakutkan dari pilihan rumahnya. Sebuah rumah usang di Pengalengan, Jawa Barat yang butuh waktu tiga bulan untuk mendapatkannya. Di sekitar rumah ini, tumbuh pohon-pohon tinggi dengan kabut kelam serta tanah cokelat kemerah-merahan. Lingkungan sekitar rumah ini pun sangat menunjang guna membangun suasana kengerian. Belum lagi sumur tua lengkap dengan katrolnya, walau dibuat sebagai penambahan untuk kebutuhan cerita (ada sejumlah adegan menakutkan yang berhubungan dengan sumur). Itu baru di luar rumah! Sekarang, masuklah ke dalam. Joko Anwar pandai betul memanfaatkan segala yang ada. Ia menakuti-nakuti lewat elemen dari rumah ini. Lorong sunyi yang mencekam dengan foto ibu di ujungnya. Suara gemerincing lonceng ibu di tengah malam buta (baik saat 20 menit pertama saat ibu masih ada, atau bunyi lonceng setelah ibu tiada). Suara kaki yang menapak di rumah tua ini. Derit tangga kayu dan derit pintu. Desir angin yang mengempas daun jendela. Nyanyian dari Kelab Malam (yang ternyata sengaja  dibuat untuk kepentingan film ini), dan suara dari piringan hitam yang mendadak kusut, bercampur dengan mantra aneh. Keseluruhannya adalah atmosfer pembangun kengerian sehingga tidak memerlukan kemunculan hantu untuk menakut-nakutkan.

Bront, Endy ataupun Tara yang bermain untuk kedua kalinya di film garapan Joko Anwar bermain sangat asyik. Kemampuan pemain cilik seperti Nasar Annuz dan M. Adhiyat ini di atas rata-rata. Joko Anwar tidak membiarkan film horornya ini kopong tanpa bangunan drama yang kuat. Ia pun dapat menggambarkan dengan baik relasi keluarga kecil ini yang digambarkan sebagai keluarga yang tidak pernah salat. Empat anak dengan empat karakter berbeda. Belum lagi dengan Ian, sebagai anak bungsu yang tunarungu. Namun, sedikit disayangkan, karakter Ian dan Bondi yang seharusnya mengambil posisi penting dalam jalinan cerita, tidak diberikan penegasan untuk akhir yang mengejutkan (twist ending), padahal rasa simpatik yang dibangun terhadap dua tokoh ini sudah begitu kuat, lalu rasa simpatik itu diporak-porandakan seketika. Andaikan dua anak terakhir yang memegang peranan penting ini sebagai kunci yang mengantarkan kita pada jawaban tentang sejumlah kematian mungkin akan membuat cerita lebih padu dan tentu saja lebih seru.

Sebagai film pertama Joko Anwar yang menyelipkan nilai religiositas, menjadi wacana menarik tentang bagaimana film ini menempatkan agama. Di film orisinal yang ditulis Subagio S, menempatkan agama sebagai pondasi untuk mengalahkan yang jahat serta mengungkapnya di akhir kisah, ustaz yang membantu keluarga Hendarto dapat membinasakan sang pengabdi, namun Joko berusaha mendobrak kredo ustaz pun tak mampu menolong keluarga empat anak ini terbebas dari segala gangguan. Meski ini adalah bagian yang dapat diperdebatkan, di film horor luar hari ini pun, kekuatan iblis pun dapat menembus gereja seperti The Crucifixion (2017).

Namun, yang lebih mendasar daripada itu, Joko tetap berpegang pada nilai drama, di mana rasa saling menyayangi di antara keluarga adalah kunci jauh dari keinginan setan untuk merebut anak manusia. Saat suasana drama dibuat kental, menjadi bagian untuk mempersilakan penonton kembali dapat bernapas, sebelum disuguhkan akhir cerita yang betul-betul mengerikan tingkat tinggi. Menakutkan sekaligus menghibur, karena dalam konteks film horor menghibur adalah saat penonton berhasil ketakutan begitu keluar dari ruang teater bioskop. (*)

DODI PRANANDA, jurnalis dan penikmat film

PENGABDI SETAN

Sutradara: Joko Anwar Penulis Skenario: Joko Anwar (berdasarkan cerita versi orisinal dari Sisworo Gautama Putra, Naryono Prayitno dan Subagio S), Pemeran: Bront Palarae, Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Annuz, Ayu Laksmi, M. Adhiyat, Dimas Aditya, Egy Fredly, Asmara Abigail dan Fachry Albar

Iklan

Balada Sari dan Sekeping DVD

Sari dan Alek dalam film A Copy of My Mind (Sumber foto: tiff.net)
Sari dan Alek dalam film A Copy of My Mind (Sumber foto: tiff.net)

Film terbaru Joko Anwar soal Jakarta yang jarang kita lihat. Romantis, sederhana dan gelap. Sekaligus menjadi kapsul waktu perpolitikan Indonesia kini. Layak diganjar tujuh nominasi Piala Citra 2015.

Dari dulu, kita mungkin sudah mengenal atau pura-pura melupakan wajah Jakarta yang ini: rumah- rumah padat berdempetan, udara yang pengap, jalan tikus menuju kosan yang kumal dan bau bacin.

Di antara kehidupan menara gading, di gedung bertingkat, di tengah Jakarta yang gemerlapan, Jakarta adalah rumah yang juga dihuni orang kecil seperti Sari (Tara Basro) seorang pekerja salon dan juga Alek (Chicco Jerikho) si tukang pembuat terjemahan “ngaco” DVD bajakan.

Sari menggambarkan wajah kaum bawah (kalau tak disebut kaum proletar) ibukota: hidup-makan-bekerja-mencari kerja-pulang-tidur. Seolah hidup ini indah, kata seorang tukang sajak, aku menangis sepuas-puasnya (bagi Sari boleh jadi: aku menonton DVD sepuas-puasnya). Namun Sari betul-betul menikmati hidupnya: ada di bus kota bersama wajah-wajah yang bercucur peluh, terkantuk-kantuk, ribut dan bising. Juga pekerjaannya, mendengar celoteh para ibu-ibu apa saja sambil memijit dan memencet jerawat di wajah tamu salon.

Joko Anwar mungkin memahami kemuakan kita dibenamkan mimpi palsu kebanyakan orang memandang Jakarta atau seperti Jakarta yang digambarkan dalam film buku atau karya seni lainnya (atau dalam imajinasi orang desa memandang kota), sehingga karakter Sari membuat kita sejenak menjadi sosok yang apa adanya, yang tak pusing-pusing amat memikirkan esok, tak peduli amat ingar bingar dan riuh rendah politik. Karena memang tidak terlibat.

Atau mungkin seperti Alek, yang sepanjang harinya dihabiskan menerjemahkan DVD bajakan untuk menyambung hidup, sambil berjudi dalam kelam malam Jakarta. Kedua karakter kita ini bukanlah manusia yang menginginkan segala. Hidup ini bagi Sari mudah, ibarat: makan tak makan asal nonton DVD. Satu mimpi terbesarnya hanyalah memiliki televisi layar besar supaya puas menonton.

Bukan tak mungkin, hidup yang payah, tumbuh cinta di sana. Kali ini, adegan bercinta Sari dan Alek di indekos Alek yang sumpek, gerah, dan kusam, di situlah cinta tumbuh. Masih ada kesempatan bagi Sari membuat lelucon: meminta Alek menyetel video porno gay saat mereka asyik bercinta, dan selepasnya Sari berceletoh tentang film kesukaannya.

Namun, sekali waktu hobi Sari menonton (juga sesekali hobi mencuri sekeping DVD)  adalah malapetaka yang membuat kita berhenti dari kehidupan yang apa adanya. DVD kali ini bukan DVD dengan terjemahan sembrono buatan Alek, DVD yang dicuri Sari dari klien spesial di penjara Bu Mirna (Maera Panigoro) adalah obrolan soal “apel” (sandi untuk membicarakan uang-uang pelicin di kalangan elite politik) dengan pejabat negeri. Dan, pada bagian inilah, kita merasakan denyut gelap Jakarta. Tak ada kompromi bagi yang telanjur berurusan dengan politik: sekecil apapun tetap kena imbas, tak ada maaf, tak ada ampun, segalanya karena kuasa politik harus terbayarkan, bahkan nyawa adalah pembayarnya. Orang bawah seperti Sari yang tak terlibat, harus menerima akibat.

Harus diakui, Joko telah membuat hampir dua jam waktu kita menyantap sebuah visual Jakarta yang tak biasa (Joko sempat twit foto dia makan di pinggiran Jakarta, berlantaikan tanah, makan di sela syuting, pun para artisnya), kehidupan di daerah pecinan Glodok, atau kosan tempat Sari tinggal telah membawa kita menjadi penonton film drama rasa dokumenter. Juga dengan pergerakan kamera (camera work) yang membuat kita merasa berada di latar. Joko menakar semua dengan pas, sehingga emosi atau bumbu drama terasa tak berlebihan.

Sekaligus film A Copy of My Mind menjadi kapsul waktu untuk melacak jejak perpolitikan Indonesia pada kurun 2014-2015, di mana politik terasa panas, riuh rendah orang-orang yang terbelah haluan politik, “membakar”, seperti matahari Jakarta yang garang. “Kita mencoba membuat sebuah rekaman zaman, ini periode penting, ada pemilihan presiden,” kata Joko Anwar ketika diwawancara sebuah televisi swasta nasional.

Mungkin bila anak cucu kita bertanya seperti apa Indonesia pada tahun 2014-2015, meski berlabel film drama, A Copy of My Mind adalah jawabannya, bukti otentik kehidupan politik negara kita yang wajah perpolitikannya coreng-moreng, penuh korupsi dan intrik. Dan, Joko Anwar tahu betul bagaimana mengemas semuanya menjadi otentik. Semua terasa alami, sehingga membuat kita sebagai penonton bukan lagi orang yang duduk manis di bangku bioskop, tapi kita adalah bagian dari setiap adegan. Jakarta itu sendiri.

Karena segala kenaturalan visual, pantaslah, sepulang dari bioskop, atau  hingga kapanpun setiap adegan dalam A Copy of My Mind akan terus-terusan terkenang dan terputar dalam pikiran kita. Sari atau Alek barangkali juga wajah kita sendiri, orang bawah yang tak terlibat, namun bisa saja terjebak dalam Jakarta yang tak tertebak. (DODI PRANANDA)

A COPY OF MY MIND
Sutradara : Joko Anwar
Skenario : Joko Anwar
Pemain : Tara Basro, Chicco Jerikho, Paul Agusta, Maera Panigoro
Produksi : Lo Fi Flicks dan CJ Entertainment

Usaha Merebut Tongkat Sakti

sumber: uniqpost.com
Elang dan Dara saat beruaha merebut tongkat emas dari Biru dan Gerhana (Sumber: uniqpost.com)

Film panjang bergenre laga yang digarap sungguh-sunguh. Berhasil mengeksplore keluwesan akting bintang muda Eva Celia.

Di hari tua sang pendekar karismatik bernama Cempaka (Christine Hakim), di sebuah gubuk reot nun jauh terpencil, dengan tanah kerontang di halaman, ia menyaksikan empat muridnya berlatih.

Kita mendengar pergulatan batin Cempaka lewat narasi dengan suaranya yang serak dan getir. Ilmu silat sekuat apapun, tidak bisa menunda atau melawan kematian, begitulah kredonya. Lantaran itu, ia harus memilih murid yang mewarisi tongkat emas, simbol kejayan perguruan Tongkat Emas yang dirintis Cempaka di masa lalu.

Penerima tongkat sakti itu adalah salah satu dari keempat muridnya, yang kesemuanya adalah anak yang dipungut dari para musuh yang mati terbunuh. Dara (Eva Celia) murid termuda, yang ilmunya belum seberapa. Biru (Reza Rahadian) murid yang paling menjanjikan, Gerhana (Tara Basro) murid yang tangguh, dan Angin (Aria Kusumah) murid cilik yang tekun berlatih. Cempaka telah memikirkan matang-matang bahwa tongkat itu pantas untuk Dara. Rupanya keputusan itu membuat murid Cempaka yang lain iri. Air susu pun dibalas air tuba karena dendam masa silam.

Menu baru dari dapur Miles Film yang menggandeng KG Studio, dan manggaet sutradara muda Ifa Isfansyah. Kadar drama pun ditakar pas di tangan sutradara andal yang memikat lewat sejumlah film dramanya seperti Sang Penari (2011) dan Ambilkan Bulan (2012). Di antara film drama latah belakangan yang digarapan asal-asalan (dan asal jadi), Mira Lesmana sebagai produser hadir dengan keyakinan bahwa kejayaan film silat atau laga Indonesia bisa kembali. Kesungguhan serta keseriusan untuk membuat film bagus ini tampak sekali.

Film ini dikerjakan dengan biaya dan waktu pengerjaan terlama yang pernah digarap rumah produksi Mira Lesmana. Lebih dari 20 milyar digelontorkan untuk ongkos produksi. Lebih dari setahun waktu yang dibutuhkan. Ia pun sangat cerdik, bahwa sebuah karya industri yang “hidup” adalah karya yang juga menghidupkan industri yang lain. Akhirnya, industri buku misalnya, terciprat untung dengan adanya komik tentang kisah Pendekar Tongkat Emas, atau industri kreatif lainnya lewat kemunculan games Pendekar Tongkat Emas.

Nilai yang dibawa film ini juga dikemas dengan baik dan relevan dengan kehidupan hari ini. Cinta dalam dunia persilatan yang keruh. Juga bicara tentang ambisi dan dendam. Karakter Biru yang arogan, haus kuasa, dan tak punya hati adalah segelintir masalah pemimpin hari ini. Siapa yang sudi dipimpin seorang yang merasa dirinya hebat, namun bagi rakyatnya, ia adalah benalu yang mematikan? Dia diberi ilmu (atau jurus), tapi bukan untuk membela kebenaran dan berbuat kebaikan. Malah, untuk menyengsarakan rakyat, dan merusak di muka bumi. Bumi dan Gerhana tidak hanya berkhianat, tapi juga melanggar pantang guru, bahwa dunia silat bukan untuk pertumpahan darah, melainkan membela kebaikan.

Lewat film ini, kita melihat masa depan akting Eva Celia. Di film Adriana (2013), kita terkagum lewat karakter Adriana yang ia perankan, perempuan misterius yang fasih dengan sejarah. Kali ini, ia menjadi Dara yang begitu rapuh, terkadang sangat berapi-api, membela guru dan adik seperguruanya yang dibunuh karena dendam. Eva bisa dibilang berhasil mengunyah peran baru yang pasti butuh usaha untuk menghidupkannya. Itu juga terbantu lewat dialog dan narasi yang sangat terasa sekali, bahwa skenarionya dikerjakan sungguh-sungguh oleh Jujur Prananto dan Seno Gumira Ajidarma (dengan pengembangan cerita oleh Mira Lesmana, Ifa Isfansyah,  Eddie Cahyono dan Riri Riza). Sesekali kita mendengar kalimat dengan pakem cerita silat, seperti yang dikatakan Gerhana pada Dara, “… bicaramu melantur, Dara,” saat Dara berusaha merebut kembali tongkat emas yang jatuh di tangan orang yang salah.

Sayangnya ada sejumlah adegan yang tidak perlu di beberapa bagian yang cukup menganggu. Seperti adegan saat Dara tak sengaja melihat Elang mandi di sungai. Kealpaan serta kendala teknis di penyuntingan juga terlihat, seperti adegan saat Cempaka dimakamkan. Di layar kita menyaksikan mulut Biru dan Gerahan mengucapkan sesuatu, namun tak ada suaranya. Di bagian lain, ada suara yang keluar, namun tak ada mulut pemainnya yang bergerak.

Selain itu, adegan saat Dara membuntuti Elang (Nicholas Saputra), mencari tahu siapa Elang sesungguhnya juga menimbulkan pertanyaan. Informasi bahwa Elang adalah seorang pengumpul utang (debt collector) yang tangguh dan pemberani, rasanya tanggung sekali diceritakan. Pun, juga tidak menyumbang bagi keutuhan cerita atau karakter. Untuk mengatakan bahwa Elang sakti dan pandai membela diri, rasanya tak perlu harus dengan mengangkat keseharian profesi Elang. Dengan sederhana misalnya, bisa diceritakan dengan aksi melawan penjahat di desanya.

Ada juga ketidaklogisan secara waktu dengan kemunculan anak Biru dan Gerhana yang serba tiba-tiba. Saat terjadi keributan, dua lawan dua, anaknya sekonyong-konyong tumbuh besar tanpa diberitahu tumbuhnya. Tidak ada informasi bahwa peristiwa telah berlangsung sekian tahun.

Yang agak lebih penting dibicarakan adalah ketidakpuasan mengetahui apa sesungguhnya kesaktian tongkat emas yang diperebutkan. Satu-satunya adegan yang menunjukkan itu hanyalah adegan akhir yang penuh aksi silat yang meyakinkan. Di situ, kita perlu memuji usaha yang dilakukan pelatih gerakan yang didatangkan dari Hongkong, Xin Xin Xiong, yang merupakan double body Jet Lee dalam film-filmnya. Dipoles dengan editing dengan teknologi yang mapan, citarasa laga yang dihadirkan Pendekar Tongkat Emas setidaknya berhasil menghibur.

Walau menyembunyikan latar, sebuah dunia antah berantah, kita mungkin tak terlalu terganggu dengan atribut adat setempat, tempat di mana film ini dikerjakan. Kain-kain yang dipakai pemeran adalah kain tenun corak Sumba. Selama ini, merek-merek tertentu bisa langsung laris di pasaran setelah produknya dipakai di sebuah film. Harusnya, hal yang sama juga berlaku lewat usaha promosi karya kain tenun setempat.

Mira tak salah memilih Sumba, Nusa Tenggara Timur sebagai latar. Sumba adalah tempat yang cocok untuk menghidupkan latar dunia silat yang perlu tanah lapang. Kita menyaksikan padang sabana yang indah luas membentang, perbukitan berbatu yang hijau, pantai yang damai, dan juga sungai-sungai dengan air yang jernih. Bila pemerintah setempat cermat, sebentar lagi tempat itu pasti akan dijamah banyak pelancong yang butuh surga-surga tersembunyi di timur Indonesia. Keindahannya yang menawan, sangat mungkin membuat setting film ini bernasib bagus untuk mendatangkan uang, layaknya Belitung dalam Laskar Pelangi, Selandia Baru dalam film The Hobbit, dan tempat indah di Korea yang selalu “dijual” di banyak film dramanya.

Dengan adegan penutup Elang yang harus menjalankan sanksi karena melanggar sumpah, serta pertanyaan tentang apakah kisah membayar dendam terulang lagi pada anak Biru-Gerhana yang dipungut Dara, adalah open ending yang membuka peluang untuk dibuatnya sekual untuk film ini. Penonton pasti sangat menunggu itu. (*)

PENDEKAR TONGKAT EMAS (THE GOLDEN CANE WARRIOR)

Sutradara: Ifa Isfansyah Produksi: Miles Films & KG Studio Penulis: Jujur Prananto, Seno Gumira Ajidarma, Mira Lesmana dan Riri Riza Pemeran: Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Prisia Nasution, Darius Sinathrya, Whani Darmawan, Landung Simatupang