Sebuah Hadiah Kelam dari Hanung

(Sumber foto: thegift.co.id)

Kelabu adalah warna yang dipilihkan Tuhan untuk hidup Tiana (Ayushita Nugraha). Di masa kecilnya, ia senang menyimpan dirinya di dalam lemari. Sebab, rumah tak memberikan warna pada masa kecilnya. Ibunya mengajarkan Tiana tentang kegelapan.

Satu-satunya teman yang dapat memahami Tiana hanyalah Bona, yang menjadi teman bercakap-cakap. Kadang Bona memberi suara dari seberang, tapi juga seringkali diam. Sepertinya, hidup di sepatu Tiana sungguh tidak menyenangkan.

Ketika Tiana tumbuh menjadi dewasa, ia menjadikan menulis cerita sebagai cara memberi warna atau menciptakan keindahan sendiri. Kehidupan sebagai penulis membawa Tiana sampai di paviliun milik keluarga Harun (Reza Rahadian) di Yogyakarta. Kota yang bagi Tiana, aromanya seperti “kayu tua yang dipernis ulang”.

Berawal dari kesan pertama yang tidak menyenangkan karena Harun bersikap arogan dan cuek. Namun, dua tokoh kita ini memiliki kedekatan emosional yang tumbuh atas dasar persamaan kelamnya hidup.

Tiana kecil dihantui bayangan mimpi buruk dalam hidupnya. Ketika, ia melihat ibunya meregang nyawa. Dan setiap kali memejamkan mata, masa lalu berlari di kepalanya. Sementara Harun, tumbuh dalam amarah dan dendam atas sikap ayahnya. Kemarahan itu membuat ia berakhir menjadi seorang buta yang hidup dengan menyimpan duri dalam daging.

Bagi Tiana, melihat Harun hidup dalam kegelapan, seperti memandang ke dalam dirinya. Berdosakah jika aku masuk pada kehidupan lelaki itu? Sebuah pertanyaan yang sering diajukan Tiana pada dirinya.

Sutradara Hanung Bramantyo dan penulis cerita Ifan Ismail menawarkan kisah kelam dari dua karakter yang tidak sempurna. Tidak heran kenapa kedekatan tumbuh begitu cepat pada keduanya. Sebelumnya, Harun adalah sosok keras kepala yang sangat menutup dirinya, kecuali pada pembantu yang mengurus hidupnya. Namun, kehadiran Tiana mampu menyulapnya jadi Harun yang lunak dan penuh kejutan. Ikatan itu terjalin organik, bahkan bisa dibilang timbul begitu saja.

Hanung dan juga Ifan yang menulis skenario pun tidak ragu-ragu bermain simbol. Perubahan karakter Harun misalnya, digambarkan Hanung lewat dibukanya gembok pembatas kamar yang dihuni Tiana menuju ke rumah utama yang ditinggali Harun. Adegan terbaik dalam film ini, tentang bagaimana sebuah hadiah kunci yang dapat membuka jarak fisik yang memisahkan. Meski terasa ganjil, ini adalah bentuk ungkapan Harun telah membuka diri sepenuhnya bagi kehadiran Tiana. Ungkapan cinta Harun pun divisualkan ke dalam pahatan patung berwajah gadis berambut hitam ikal itu, hanya untuk menjelaskan betapa Harun ingin mengabadikan sosok yang telah mengubah hidupnya.

Tampaknya film ini memang bukan sebuah kisah cinta romantis seperti film Hanung terdahulu: Brownies (2004), Jomblo (2006), atau Perahu Kertas (2016). Film ini bisa dibilang karya yang menampilkan sidik jari Hanung yang sesungguhnya. Film yang baginya, “ekspresi kejujuran dan kebebasan berkarya”. Terbukti, Hanung tidak memusingkan karya yang akan diberati pesan dan metafora. Di film ini pesan moral yang tampaknya ingin diajukan adalah tentang penerimaan diri serta mencari tujuan hidup. Namun, ada pesan yang jauh lebih besar, yaitu bisakah cinta dua orang yang berada di titik terendah dalam hidupnya ini menyatu, untuk kemudian saling menyembuhkan diri satu sama lain, atau alih-alih seperti akhir yang ditawarkan, mampukah kita mengekspresikan cinta dengan cara tidak memiliki?

Namun sebagai film yang bisa dibilang “serius”, kita mesti mengkal hati mengetahui kehadiran sosok Arie (Dion Wiyoko) sejak kecil di hidup Tiana — dan kelak menjadi pasangan Tiana— hanyalah cara untuk memudahkan skenario. Di paruh akhir cerita, Arie diceritakan dokter asal Indonesia yang bekerja di sebuah rumah sakit di Italia. Mestinya, ada dua momentum di mana Hanung dapat mencengkram dan meledakkan emosi penonton, yaitu saat Tiana harus menyelesaikan hubungannya dengan Harun dengan hati yang kacau, dan momentum kedua, saat Arie menunjukkan pengorbanan dalam hidupnya. Kita dapat melihat pengorbanan yang dilakukan Arie, seseorang yang awalnya mampu mengisi ruang bagi kekosongan hidup Tiana. Dan tentu saja, pada sebuah keputusan yang akhirnya dipilih Tiana bagi hidupnya.

Sebab, kata banyak pujangga kontomporer kita, cinta yang sejati itu justru ditunjukkan dengan keikhlasan untuk memberikan apa yang berharga dari dirinya, kepada seseorang yang tidak akan jadi miliknya.

Yang menarik dari film ini, adalah permainan akting Ayushita yang melampaui pencapaian yang pernah dibuatnya dalam film Tidak Bicara Cinta (2013) bersama Nicholas Saputra. Ayu mampu bermain dalam rentang emosi yang lebar: melawan kekelaman hidupnya untuk kemudian mencari warna baru. Karakter Tiana dapat berkembang, memandang hidupnya jauh lebih dari sekadar pemenuhan hasrat, namun telah melampaui pemaknaan hidup yang dia butuhkan.

Sepertinya, Tiana hanya ingin membuktikan kebenaran kata-kata pelukis Picasso yang percaya hidup adalah soal bagaimana menemukan sebuah pemberian. Dan tujuan hidup yang sesungguhnya adalah bagaimana kita sanggup memberikannya.

DODI PRANANDA, jurnalis dan penulis.

 

THE GIFT

Produser: Rodney L. Vincent, Anirudhya Mitra, Sutradara: Hanung Bramantyo, Penulis skenario: Ifan Ismail, Pemeran: Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Dion Wiyoko, Christine Hakim, Distributor: Seven Sunday Films

Iklan

Menghidupkan Kembali Benyamin

Sumber foto: Cumicumi

Sutradara Hanung Bramantyo sedang bermain-main sambil membayangkan apa jadinya jika Pengki (yang identik dengan Benyamin Sueb) hidup di zaman kini. Pembuktian Reza Rahadian untuk tantangan baru bermain komedi musikal.

 ***

 Sekitar empat puluh enam tahun lalu, Sutradara Nawi Ismail menghadirkan karakter Pengki, pemuda Betawi panjang akal, riang jenaka, serta sering kali membuat ulah karena keisengannya. Pengki, jika Anda mengikuti ceritanya sejak awal, adalah nama asal bunyi yang disampaikan tokoh Frengki. Tokoh ini harus diakui, telanjur melekat pada satu sosok saja. Jika disebut nama Pengki, ingatan semua orang langsung tertuju pada Seniman Legendaris Benyamin Sueb, sehingga ia menjadi begitu sulit digantikan, selain hanya dapat diperankan oleh Benyamin Sueb sendiri.

Menghidupkan Pengki berarti sama saja dengan menghidupkan Benyamin Sueb. Setelah Mendiang Babe Benyamin mangkat pada 1995, kita hanya dapat bernostalgia lewat sejumlah seri Benyamin yang masih diputar di televisi sepanjang tahun 2000. Siapa yang sungguh-sungguh dapat melakukan upaya re-born sosok legendaris sekelas Benyamin? Namun, Sutradara Hanung Bramantyo yang menyanggupi tantangan rumah produksi Falcon Pictures sepertinya tidak main-main dengan ambisi menghidupkan kembali Pengki atau Benyamin. Buanglah jauh-jauh pikiran bahwa Hanung sedang membuat biopik Benyamin Sueb. Kita hanya sedang membicarakan Pengki, karakter yang puluhan tahun lalu tertidur lama dan seakan terkubur bersama perginya Sang Legenda. Hanung dalam versi re-boot Benyamin Biang Kerok (1972) tampaknya sedang bermain-main sambil membayangkan apa jadinya jika Pengki hidup di zaman kini.

Aktor terbaik negeri ini, Reza Rahadian harus menerima tantangan ambisius menghidupkan kembali karakter besar itu. Jika Anda termasuk publik golongan“Bosan Reza Rahadian”menyuarakan: Dia Lagi-Dia Lagi, setidaknya harus berbesar hati, karena memerankan Pengki sama saja dengan mendobrak kemustahilan. Pengki yang adalah Benyamin, adalah karakter dengan gerak tubuh luwes dan ia adalah orang yang paham betul menguasai medan aktingnya. Ia juga punya gelak tawa yang khas, dan ditambah lagi pandai menyanyi dan menari. Soal yang pertama, itu bukan sebuah kemustahilan karena semua orang sudah tahu Reza sangat meyakinkan dengan peran Habibie dalam Habibie & Ainun (2012). Soal yang kedua, Reza juga sudah membuktikannya lewat karakter Bosman dalam My Stupid Boss (2016), ingat tawa khas penuh kemenangan Bosman yang diciptakan Reza untuk menghidupkan karakternya. Hanya satu soal lagi, menyanyi dan menari, karena inilah sisi Reza yang belum kita lihat dari film terdahulunya.

Pengki zaman dulu yang diceritakan pandai merayu dan merebut hati banyak gadis dengan tipu-tipu bulusnya, termasuk mengaku memiliki harta benda yang adalah kepunyaan majikannya. Termasuk, menakhlukan Ida Royani yang menjadi lawan mainnya. Namun, Sutradara Hanung, dengan tiga penulis cerita versi daur ulang, Bagus Bramanti, Seno Aji Julius dan Hilman Mutasi hanya meminjam karakter Pengki dan menulis ulang semuanya dengan meletakkan semuanya pada kehidupan hari ini. Pengki zaman kini digambarkan sebagai Anak Betawi dari keluarga kaya raya. Ibu Pengki yang diperankan dengan baik oleh Meriam Bellina, seorang pengusaha kaya raya yang mewarisi harta benda dan segala kecanggihan, meski tidak begitu harmonis dengan Babe (Rano Karno). Pengki sebagai anak semata wayang, nyaris tidak dapat diandalkan keluarga. Namun, di luar sana Pengki justru terlibat dalam misi penyelamatan warga kampung pinggiran Betawi yang permukimannnya mau digusur. Bersama rekannya, Somad (Adjis Doa Ibu) merancang sebuah muslihat menyabotase sebuah kasino milik mafia ibu kota dan mengeruk seluruh uang taruhan demi membayar jaminan agar warga tak digusur. Somad meretas akses agar dapat mengirim Pengky mengandalkan segala kemampuan teknologi bawah tanahnya.

Rupanya, Hanung yang selama ini lebih sering bercerita lewat gaya drama ketimbang komedi, mencari formula lain supaya komedi tak jadi satu-satunya hal yang menjadi ruh kekinian film ini. Falcon yang sebelumnya menggarap komedi Comic 8 (2014) dan Comic 8: Casino Kings (2015) meminjam formula dua film komedi laris ini untuk Benyamin Biang Kerok.

Aksi heroik dan misi penyelamatan dengan perangkat teknologi mutakhir sekaligus dibumbui humor, adalah kata kunci pembangun cerita. Tak ketinggalan sedikit drama anak manusia, karena merayu gadis adalah kepandaian Pengki yang harus tergambarkan. Benyamin bermain bersama Ida Rodiya di film orisinalnya, sementara Pengki di masa kini, terdorong atas keinginan menyelamatkan gadis pujaannya, Aida (Delia Husein) yang berada dalam cengkeraman mafia. Aida dikisahkan sebagai biduan yang terpaksa menjadi simpanan Said (H Qomar) untuk melunasi utang keluarganya. Bagaimana akting pemain baru ini? Terlalu “berjudi” memasangkan Reza dengan Delia, membuat kita harus menyaksikan pertunjukan yang jomplang dan tak seimbang. Di bangku penonton, saya harus bersedih karena drama dua anak manusia ini tidak terkelola dengan baik, hanya karena relasi keduanya sangat datar dan tak meyakinkan sebagai pasangan yang saling jatuh cinta di antara petaka atau cengkeraman mafia. Tidak ada pengalaman mendebarkan. Tidak ada suasana romantis yang mengena ke hati, hanya karena relasi Pengki dan Aida terlindas cerita yang terlalu gagah dan sarat humor politik.

Namun, satu soal lain yang belum terungkap, tentang bagaimana Reza membuktikan ia pandai menyanyi dan menari, terjawab sudah pembuktiannya. Reza Rahadian terbukti berhasil menghidupkan kembali Pengky serta menjawab tantangan baru bermain untuk genre komedi musikal. Ia tak hanya menghidupkan Benyamin Sueb dan karakter Pengki. Reza juga membayar mahal nostalgia kita pada lagu-lagu yang dinyanyikan Benyamin. Bagian musikal dari film ini cukup berhasil membawa riang suasana dengan segala atribut Betawi yang semarak.

Sekali lagi, penonton boleh jadi akan sangat terhibur dengan kejenakaan Pengki. Semua yang menonton film ini sangat mungkin meninggalkan bioskop dengan perasaan atau pikiran rileks, meski kenyataannya ceritanya tak membekas saking gagahnya.

*) Dodi Prananda, jurnalis dan penikmat film.

 BENYAMIN BIANG KEROK

Sutradara: Hanung Bramantyo, Penulis: Bagus Bramanti, Seno Aji Julius, Hilman Mutasi Pemeran: Reza Rahadian, Rano Karno, Meriam Bellina, H. Qomar, Delia Husein, Lydia Kandau, Tora Sudiro, Adjis Doa Ibu, Aci Resti, Produksi: Falcon Pictures

Tiga Menguak Petaka

Adegan saat Tomo (Reza Rahadian), Arni (Julia Estelle) dan Guntur (Dwi Sasono) menelusuri piramida Gunung Padang dalam film Gerbang Neraka (2017) arahan Sutradara Rizal Mantovani. (Foto: Dok. Legacy Pictures)

Sutradara Rizal Mantovani mencoba gaya baru horor avontur. Setelah satu dekade, Reza Rahadian membuktikan aktingnya di film horor “di jalur yang benar” setelah tampil di Film Horor untuk pertama kali.

Tiga yang sedang menguak petaka ini adalah tiga orang dengan latar berbeda. Tomo Gunadi (Reza Rahadian) wartawan tabloid mistis yang menjalankan pekerjaannya nyaris hanya untuk uang. Arni Kumalasari (Julie Estelle) arkeolog muda yang penuh rasa ingin tahu namun selalu membantah segala hal yang klenik. Dan Guntur Samudra (Dwi Sasono) paranormal yang diliputi ketenaran dan haus pada sesuatu yang astral. Meski berbeda latar pekerjaan, pengetahuan dan keyakinan tentang mitologi dan realitas, ketiganya punya satu misi menguak misteri  dan petaka di piramida situs prasejarah megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat.

Untuk pertama kalinya Sutradara Rizal Mantovani mencoba gaya pengungkapan baru dan seolah ingin keluar dari pakem horor Indonesia yang “itu-itu saja”. Jika umumnya film Indonesia menjadikan sebuah tempat yang angker, sosok makluk tak kasat mata yang bergentayangan atau benda tertentu sebagai sentral cerita, namun film Gerbang Neraka: Fire Gate, Rizal menyajikan ketakutan dalam balutan fantasi serta petualangan (avontur) dengan pijakan fakta faktual meski keseluruhan kisah tetap bernapas fiktif.

Rizal membuka cerita dengan menggiring imajinasi kita pada visual Gunung Padang pada tahun 5.000 Sebelum Masehi (SM). Kemudian cerita bergerak pada latar penemuan nyata arkeologi yang paling menggemparkan dunia di abad 21. Pada 2012 silam, hasil uji karbon Piramida Gunung Padang menyatakan usia piramida mencapai 5000 SM, jauh lebih sepuh dari piramida Giza di Mesir yang hanya berusia 2850 SM. Semboyan imperialiasme kuno gold (kekayaan), gospel (penyebaran agama) dan glory (kejayaan) berusaha diterjemahkan ke dalam berbagai spektrum dan dimensi, salah satunya perwatakan tokoh. Dimensi pertama adalah realitas seorang Tomo yang menyerahkan sebagian hidupnya demi pekerjaan wartawan, sampai idealisme membawanya pada kenyataan pemberedelan majalah politik tempatnya bekerja, lantas berakhir membawa jalan hidupnya pada sebuah media yang menjual kisah mistik. Tomo pun melakukannya hanya demi uang, sekali pun ia tak percaya tentang yang ditulisnya. Di antara keseharian sebagai wartawan dengan peliknya industri media yang materialistik di mana berita bisa dibayar oleh narasumber, Tomo adalah seorang ayah yang menjadikan anak adalah napas dalam hidup. Dimensi lain adalah Arni, Arkeolog yang mendasari hidupnya dengan sesuatu yang bersifat sains atau ilmiah. Cara berpikir yang logis dan sistematis dan berhasrat mengungkap kebenaran piramida Gunung Padang yang ia yakini sepenuh hati sebagai tempat yang menyimpan pengetahuan yang dibutuhkan di akhir zaman serta segala kebudayaan kuno di masa lampau berpusat. Meski begitu, Arni selalu menganulir segala hal klenik dan kiblatnya dalam memahami sesuatu sebagai sains. Arni adalah corak dari dimensi gospel bagian dari penyebaran agama dan diperluas maknanya sebagai penyebaran ilmu pengetahuan. Dan dari dimensi kejayaan adalah Guntur, seorang paranormal dengan pamor yang menjanjikan serta berpandangan kekuatan atau roh jahat akan dikalahkan oleh sesuatu yang baik.

Meski pijakan pada semboyan imperialisme kuno berusaha diterjemahkan ke dalam karakter dan dihubungkan sebagai sumbu cerita, kita dapat melihat jejak ambisius Produser Robert Ronny yang berusaha membuat kisah yang ditulisnya tetap setia pada fakta yang faktual. Akting Julia Estelle sebagai Arkeolog cukup meyakinkan seolah ia adalah ensiklopedia bidang arkeologi, dengan sangat fasih menjelaskan serta membaca simbol artefak serta kujang batu, sisa peninggalan situs masa lalu. Pada bagian ini, boleh jadi kita berpandangan seperti ini: cerita ini mungkin tidak dapat dinikmati oleh banyak orang (kalau tidak dikatakan membosankan bagi sejumlah orang), mungkin hanya mereka yang antusias dengan kajian arkeologi dan sejarah yang dapat tersambung pada cerita.  Tapi anggapan itu tentu tidak berlaku jika kita sedang menyaksikan The Mummy (1999), The Mummy: Tomb of The Dragon  Emperor (2008) atau The Pyramid (2014). Masyarakat kita terbiasa mendapat sesuatu dan pengalaman baru yang datang dari luar, sementara jika eksperimen atau pembaruan itu datang dari negeri sendiri, kita merasa ada yang aneh dan ganjil jika dikatakan itu tidak riil, bahkan kadang malah mendatangkan cemooh. Namun, seolah menjawab keraguan itu sendiri, Robert Ronny sebagai Produser tampaknya mengerti boleh jadi hanya mereka yang mengapresiasi eksperimen terhadap film horor yang dapat menghargai sebuah eksplorasi cerita. Seakan-akan kalimat yang dilontarkan Tomo pada sebuah adegan itu benar adanya sebagai kegelisahan pribadi Produser: “Emang mudah jadi idealis kalo punya duit.”

Selain didasari pada riset yang matang tentang situs megalitikum Gunung Padang, kita juga melihat sisi yang menarik tentang betapa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari berbagai unsur: ilmu pengetahuan atau sains dengan hal yang bersifat ghaib bahkan klenik sekali pun. Semuanya berdiri masing-masing. Pada kenyataannya kita melihat realitas acara televisi yang menjual mistik tetap mendapat penonton yang banyak. Keduanya adalah air dan minyak yang tidak pernah bersatu tapi tetap menjadi hybrid.

Film ini sebagai upaya menampilkan pembaruan horor lokal bukan berarti hadir tanpa cacat. Jika kita kembali pada pandangan bahwa kenapa film yang mengambil latar mesir kuno sekali pun masih dapat diterima, karena boleh jadi digarap dengan computer generated imagery (CGI) yang meyakinkan. Namun, sayangnya, visual Gerbang Neraka saat menyajikan petualangan Arni, Tomo dan Guntur saat menelusuri piramida masih terasa kasar. Belum lagi jika dikritisi, bagaimana mungkin ‘proyek negara’ ini mendadak diamanahkan kepada tiga orang ini: arkeolog, jurnalis dan paranormal di saat satu per satu orang yang ada di sekitar penggalian itu mati secara misterius dengan wajah penyok? Yang agak menggangu, sejumlah aktor seperti Julia Estelle dan Lukman Sardi dibiarkan “lolos” menggunakan kata “ubah” yang diucapkan sebagai “rubah” (merubah, yang seharusnya mengubah).

Akhir film ini, saat Tomo bertemu ‘visualisasi sosok penting’ dalam cerita menjadi adegan terbaik. Untuk pertama kali, kita melihat dua aktor watak terbaik negeri ini Lukman Sardi dan Reza Rahadian ada dalam satu frame yang sama untuk sebuah dialog yang kuat. Adegan itu sekaligus mendedahkan peran wartawan yang bagai diutus ke muka bumi untuk menyelamatkan umat manusia, untuk menutup gerbang neraka, agar sesuatu yang jahat tidak keluar. Wartawan lewat berita yang ditulisnya atau pun lewat cara lainnya semestinya menyampaikan kebenaran untuk membantu manusia memutuskan pilihan dalam hidupnya, untuk membuat dunia lebih baik, bukan untuk menyesatkan orang dengan informasi yang belum tentu benar.

Dan kehadiran film ini seakan memberi harapan semakin baiknya mutu film Indonesia. Meski Tomo, sang wartawan telah menutup gerbang petaka, ada satu gerbang lain yang harus segera dibuka. Robert dan Rizal membuka gerbang masa depan film horor depan Indonesia yang semakin layak tonton. (Dodi Prananda, jurnalis, penulis dan penikmat film)

GERBANG NERAKA

Produksi: Legacy Pictures Produser: Robert Ronny Sutradara: Rizal Mantovani Penulis Skenario: Robert Ronny Pemeran: Reza Rahadian, Julie Estelle, Dwi Sasono, Ray Sahetapy

Usaha Menghadapi Bos Bongak

Salah satu adegan dalam film My Stupid Boss (2016) garapan Sutradara Upi. (Sumber: Liputan6/Falcon)
Salah satu adegan dalam film My Stupid Boss (2016) garapan Sutradara Upi. (Sumber: Liputan6/Falcon)

Duet Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari yang tak berpretensi melucu . Natural dan asyik, dengan visual bernuansa retro.

Apabila kamu bekerja di sebuah kantor yang memiliki bos menyebalkan, film terbaru Sutradara Upi ini, boleh jadi membuatmu seperti “menonton dirimu sendiri”. Diana (Bunga Citra Lestari), yang baru saja diangkat sebagai Kerani (dalam bahasa Melayu) alias Kepala Administrasi di sebuah perusahaan multinasional, bagai menghadapi mimpi terburuk sepanjang hidup: memiliki bos yang paling dibenci karyawan di seluruh dunia. Bayangkan saja: bos yang mau dipanggil Bossman (Reza Rahadian) ini akan menyerocos semaunya, dia akan membuatmu naik pitam karena tak mengizinkanmu bicara, sementara kamu tahu dia salah atau keliru, dan paling parah lagi dia pelupa, suka mencurigai, dan gemar membuat karyawannya menderita.

Kisah nyata seorang perempuan dengan akun pseudo Chaos@Work yang ditulis sejak 2005 dan kemudian dibukukan tiga tahun setelahnya dengan judul My Stupid Boss, sempat meledak di pasaran. Buku terbitan penerbit Gradien Mediatama di Yogyakarta itu kini memasuki edisi kelima. Dari empat buku itu, potongan kisah hubungan absurd seorang atasan alias bos dan bawahannya menarik perhatian rumah produksi Falcon Pictures untuk mengangkatnya ke layar lebar, dan sutradara Upi yang sempat menghilang beberapa tahun terakhir duduk di kursi sutradara.

Menjatuhkan pilihan kepada Reza Rahadian pilihan tepat Upi, karena semua aktor dalam film yang pernah digarap Upi adalah aikon. Ingat nama ini: Vino G. Bastian misalnya, dalam film-film garapan Upi: Realita, Cinta dan Rock’n Roll — bersama Herjunot Ali (2006), atau Radit Jani (2008) dan Serigala Terakhir (2009) telah menjadi karakter yang “hidup” bagi penontonnya. Ada nama lain: Abimana Aryasatya dalam Belenggu (2013). Jejak Upi tampak dalam aktor yang karakternya sangat kuat dan melekat, dan sulit membayangkan digantikan oleh nama lain.

Reza kali ini sunguh paham keinginan Upi untuk membuat sebuah film komedi tanpa memasang Komika alias aktor dari panggung lawak tunggal (stand up comedy), sehingga dari tampilan fisik bosnya saja, adalah sesuatu yang sudah lucu mengundang tawa: perut buncit, dan sabuk yang kedodoran, kepala nyaris botak — rambut asli Reza dilapisi bald cap yang kemudian ditambah rambut palsu—- dan jangan lupa, kumis segaris yang jadi bahan olokan karyawannya dengan kumis lele. Ah ya, Reza bahkan sengaja menciptakan suara tertawa yang khas sekaligus unik.

Upi membawa kita lebih dekat sekaligus bersimpatik pada tokoh Diana — yang sangat mewakili penontonnya—- saat terjebak kontrak kerja pada perusahaan Malaysia Sinar Berjaya, dan harus membayar penalti jika memutuskan keluar. Jadilah, hari demi hari terus dirongrong oleh Bossman yang tak pernah sedikitpun mendengar keluh kesah karyawannya: dari soal mesin penyejuk ruangan yang rusak, atau tagihan internet yang belum dibayar.  Dan jangan sesekali mencoba memberinya nasihat, bila tidak ingin mendengar dia mengatakan: Impossible We Do! Miracle We Try! Inilah prinsip Bossman, salahpun dia, dia tetap benar. Bossman always right. Dia mengaku “demokratis”, namun pendapat para karyawan hanyalah angin lalu.

Menarik melihat karakter Diana, seorang wanita Indonesia yang bersuamikan Dika, seorang konsultan perusahaan minyak (diperankan Alex Abbad), yang hidup nomaden ke berbagai negara dan berakhir di Kuala Lumpur, Malaysia. Jadilah, nasib tinggal dengan kehidupan Melayu super kental, dengan tetangga apartemen yang senang bergosip — termasuk menggosipkan artis Indonesia– serta sebuah keputusan bekerja dengan Bossman yang adalah sejawat suaminya saat kuliah di New York, Amerika Serikat.

Bunga Citra Lestari beruntung pernah berduet dengan Reza di film terdahulu, sehingga adu akting dengan Reza tak sulit lagi dilakukan, meski kali ini anti-tesis: tokoh yang harus dilawannya. Karakter Diana, sebagai seorang karyawan terzalimi karena ulah Bossman, cukup berhasil dimainkan dengan karakter Bunga yang sulit menahan kegusarannya, dan sebetulnya gampang meledak.

Belum lagi, setiap kali curhat tentang ulah Boss yang ia tuduh: “ada mur yang lepas dalam kepalanya” kepada Sang Suami, karena alasan pertemanan, si suami selalu mengatakan, “Dia emang gitu orangnya,” yang sontak membuat Diana kian gondok. Adegan saat Diana tertawa sendiri di tengah malam karena stres memikirkan upaya balas dendam pada bossnya, serta meneriakan kata dialah juara, adalah bagian yang terbaik karena sangat absurd. Tapi sayangnya karakter Diana ini membawa Unge tak menampilkan sesuatu yang “baru” kepada kita, jika mengingat Reza yang begitu segar dan “selalu baru”. Di balik itu, sebuah “bonus” karena Unge cukup popular dan tak asing bagi penonton di Malaysia, mengingat film ini hasil kolaborasi sineas Indonesia-Malaysia yang dibuat untuk pasar di Asia Tenggara.

Aktor Malaysia yang tampil di film ini betul-betul mendukung: Sikin (Atikah Suhaime), Adrian (Bront Palarae), Mr. Kho (Chew Kinwah) dan Azhari (Iskandar Zulkarnain). Mereka semua adalah orang Malaysia asli, berlogat Melayu yang hanya melongo karena tak mengerti betul apa yang disampaikan Bossman. Bos berkata, anak buah berkata, namun tidak ada yang saling mengerti. Belum lagi, karyawan ini berasal dari berbagai negara dan berbeda bahasa: Melayu, Tionghoa, India dan Korea, namun mereka ada di satu perusahaan dengan bos asal Indonesia yang super aneh dalam banyak hal. Sebuah gambaran menarik tentang apa jadinya jika komunitas antar-ras terhalang bahasa, relevan dengan kondisi perdagangan bebas yang tengah kita hadapi, khususnya di Asia Tenggara –yang kita sebut sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN. Film ini menarik untuk dilihat dan dikaji dari berbagai sisi, dan dari sisi budaya adalah yang paling seksi.

Sebagai sebuah film komedi, sekaligus menjadi film komedi ketiga Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta (2004 – drama komedi), Red CobeX (2010), Upi sangat berhasil menyusun sebuah kelucuan dengan mengandalkan adegan atau situasi. Sepanjang film semua aktor tak berpretensi melucu. Ingat adegan saat karyawan Bossman yang harus bergantian “ngadem” dengan cara membuka kulkas, dan hampir semua adegan, kelucuan justru datang karena kelucuan adegan dan situasi itu sendiri, tanpa dibuat-buat. Di saat industri kita “sibuk” dengan film komedi yang mengandalkan komika, Upi justru sama sekali tak memasang satupun komika yang konon jago menjual tawa. Sebuah usaha yang berhasil dan patut dipuji karena melawan tren.

Dan tak terbayangkan pula jika Upi benar-benar mundur saat ditawari H.B. Naveen dari Falcon menggarap film ini. Upi sempat mundur karena bingung menemukan cara meramu kisah yang dibangun dengan konflik melulu, sehingga sulit dialihwahanakan ke film, apalagi My Stupid Boss menjadi film pertama yang diarahkan sekaligus ditulis Upi dari sebuah novel. Dan solusinya adalah dengan memotong bagian-bagian untuk merangkai kembali menjadi sebuah alur kisahan yang solid dan saling terkait, dan bahkan nyaris berujung subtil tak tertebak.

Hal lain menarik dari film ini tentu saja dari bagaimana visual yang unik. Diana ditampilkan dengan setelan busana khas Korea: menggunakan boots dan tas ransel vintage berwarna dominan kuning, hijau dan merah. Penataan artistik yang memiliki “mood” tersendiri. Satu hal lain yang patut dibahas, Upi tak ketinggalan untuk memasukkan sisi lain Malaysia, yang salah satunya lekat dengan musik Melayu. Jadilah lagu “Gerimis Mengundang” yang pernah dipopulerkan musik Malaysia Slam pada awal 1990-an muncul menjadi musik latar bersama sejumlah musik Melayu lainnya.

Upi telah memecahkan tantangan membuat film komedi yang dianggap susah. Ia akhirnya memilihkan sebuah akhir kisah komedi yang tak terbayangkan sebelumnya. Penonton akan dimanjakan dengan komedi yang segar dan tak asal-asalan, namun juga bisa menarik sebuah pandangan berbeda: bahwa sebagai bos yang bongak, semaunya dan menyebalkan, dia jugalah seorang suami yang bahkan “tunduk” pada kemauan istri. Dia juga manusia biasa yang punya hati. Dan jangan lupa, bahwa karakter bos ini tak melulu menyebalkan, ada nilai yang penting darinya: tentang keharusan bermimpi dan tak membiarkan karyawannya bermental tempe. Ada sedikit kesempatan bagi Upi untuk menggugah penonton sehingga membungkus film ini menjadi sebuah tontonan yang tidak akan berlalu begitu saja di benak penontonnya. Seperti kata Dika, “Dia emang gitu orangnya, tapi orangnya baik.” Sebaik Upi mengakhir kisah absurd ini.

DODI PRANANDA, Penggemar Film

 

MY STUPID BOSS

Sutradara: Upi  Penulis Skenario: Upi, berdasarkan buku My Stupid Boss karangan Chaos@Work, Pemain: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Alex Abbad, Melissa Karim, Chew Kinwah, Bront Palarae, Atikah Suhaime, Iskandar Zulkarnain Produksi: Falcon Pictures

Tak Hanya Soal “Kawin”

Adegan saat Satrio dan Dinda di pantai. Salah satu adegan yang menampilkan dialog terkuat dalam film (Sumber foto: mandhut.wordpress.com)
Adegan saat Satrio dan Dinda di pantai. Salah satu adegan yang menampilkan dialog terkuat dalam film (Sumber foto: mandhut.wordpress.com)

Film bertajuk Kapan Kawin? yang mempertemukan Reza dan Adinia dalam sebuah drama komedi romantis. Film yang membuat kita terkekeh, sekaligus merenung bersamaan.

Apalagi yang kurang dari Dinda (Adinia Wirasti) selain fakta bahwa ia belum memiliki pendamping. Ia sukses di usianya 33 tahun sebagai General Manager hotel berbintang, usia yang terlampau matang versi orangtuanya yang menginginkan perkawinan bagi putrinya itu. Perkawinan bagi Dinda adalah sesuatu yang tidak pernah dan atau belum terpikirkan dalam hidupnya.

Anak mana yang tak luluh hatinya jika keinginan itu datang dari Pak Gatot (Adi Kurdi), orangtuanya (yang mengaku) sekarat. “Pulanglah ke Jogja, Nduk. Bawa kekasihmu,” pinta Dewi, ibunya (Ivanka Suwandi) dari seberang, lengkap dengan isak meyakinkan. Terlalu sayang pada orangtua, Dinda terpaksa membahagiakan keduanya dengan cara membayar seorang aktor untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Satrio Maulana yang menjelma Rio (Reza Rahadian), sosok yang katanya aktor sukses, yang kerap berfalsafah dan idealis tentang seni peran. Yang dibutuhkan Dinda darinya adalah mengaku, menunjukkan pada Ibu dan Bapak Dinda, bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Sandiwara pun dimulai dengan penuh intrik setelahnya.

Film dari dapur Legacy Pictures yang digarap sungguh-sungguh. Ody C. Harahap yang sebelumnya sukses menggarap Cinta/Mati, kali ini memasangkan duet asyik Reza dan Adinia, yang turut meramaikan menu drama komedi romantis di dapur film kita setelah 7 Hari/24 Jam, yang memasangkan Dian Sastro dan Lukman Sardi. Ide untuk menduetkan Reza dan Adinia tentu saja garansi bahwa film ini tidak akan mengecewakan.

Kita bisa menyimak betapa luwesnya Reza, memerankan karakter Satrio Maulana yang mengaku “aktor hebat” di balik predikat aktor yang juga melekat pada diri Reza. Kini dia tampil sebagai Rio yang konon katanya berprinsip, lugas, dan apa adanya. Tapi di balik itu semua, ia juga hanya seorang manusia, yang tidak bisa berpura-pura pada cintanya.

Sementara itu, Adinia tak kalah asyik dengan Dinda. Ia adalah tipikal yang sebetulnya menyayangi keluarganya, lebih dari dirinya. Cara berbohong itu, juga untuk menyenangkan hati kedua orangtuanya. Berdamai dengan rengekan kapan kawin? yang mengusiknya. Tapi sosok Rio yang awalnya melakoni semua itu demi bayaran, rupanya mengalami sesuatu yang tidak terduga sebelumnya.

Adegan saat di pantai, saat Rio menanyakan apa makanan kesukaan Dinda, menampilkan dialog penting tentang bagaimana bahagia yang seharusnya. Dinda ingin semua keluarga memakan makanan kesukaan mereka, sementara dia, apapun tak menjadi penting baginya. Tapi penting bagi Rio untuk mengetahui itu. Di situlah, Dinda terketuk, mendefinisikan ulang konsep bahagianya, terlebih saat Rio menohoknya dengan kalimat “sadis” sepajang film ini: “Kalau mau bikin orang lain bahagia, kamu dulu yang harus bahagia.” Tentu saja pujian akan dialog yang padat, mengalir, dan kadang memberi perenungan itu dialamatkan pada penulisnya, Monty Tiwa.

Ide cerita semacam ini mungkin sudah bertebaran dalam Film Televisi (FTV) yang tayang lumrah begitu saja. Dengan premis: anak yang diteror orangtuanya kapan kawin lantas membayar orang mengaku pacarnya, dan kemudian kepura-puraan itu berbuah cinta, rasanya akan semakin membuat kita malas menonton film Indonesia di bioskop, dan memberi cap betapa rendahnya mutu cerita film drama kita. Namun di atas keklisean itu (apalagi klise dalam hal setting Jogja yang sangat khas FTV), ide yang acap dipakai itu, dengan memaksimalkan usaha menghidupkan karakter, dengan skrip yang mapan, dan juga dengan sinematrografi yang memanjakan mata arahan Padri Nadeak, rasanya film ini layak mendapat tempat di hati penontonnya.

Dan yang terpenting, bahwa konsep soal kawin tak semudah kedengarannya. Alasan kenapa Dinda belum kunjung kawin, tentulah juga karena ide soal itu, tak segampang mengajak seseorang jalan-jalan ke mal. Kawin juga adalah tentang bagaimana berdamai dari pergulatan masa lalu tentang Gerry (Erwin Sutahardjo), yang kini adalah suami saudaranya, Nana (Feby Febiola). Kita teringat pada sajak kontemporer Sutardji Calzoum Bahri berjudul Tragedi Winka Sinka. Di sana, ada kata kawin yang dipecah menjadi ka-win, dan sin-ka. Interpretasi tentang ka-win itu sendiri yaitu perkawinan adalah tentang yang ka- (kalah) dan win- (menang). Ada hati yang kalah, ada hati yang menang. Dalam cerita masa lalunya, Dinda adalah pemilik hati yang kalah itu. Dan tentang permintaan orangtuanya yang segera menikah, Dinda juga adalah yang kalah, karena tak mampu berdamai dengan itu. Ini sekaligus membuat kita yakin, keegoisan hanya akan membuat kesakitan. Semua orangtua di dunia perlu tahu itu.

Ody menutup film ini dengan manis. Pada akhirnya, Dinda harus menang. Ia merasa Satrio telah memenangkan hatinya dengan cinta yang tulus. Dengan begitu, kawin menjadi mudah karena menang adalah milik orang yang telah bahagia untuk dirinya sendiri, dan juga orang lain (orangtua).

KAPAN KAWIN?

Sutradara: Ody C. Harahap Produser: Robert Ronny Penulis Naskah: Monty Tiwa, Robert Ronny, Pemain: Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Feby Febiola, Adi Kurdi, Ivanka Suwandi, Firman Ferdiansyah, Ellis Alisha Produksi: Legacy Pictures

Usaha Merebut Tongkat Sakti

sumber: uniqpost.com
Elang dan Dara saat beruaha merebut tongkat emas dari Biru dan Gerhana (Sumber: uniqpost.com)

Film panjang bergenre laga yang digarap sungguh-sunguh. Berhasil mengeksplore keluwesan akting bintang muda Eva Celia.

Di hari tua sang pendekar karismatik bernama Cempaka (Christine Hakim), di sebuah gubuk reot nun jauh terpencil, dengan tanah kerontang di halaman, ia menyaksikan empat muridnya berlatih.

Kita mendengar pergulatan batin Cempaka lewat narasi dengan suaranya yang serak dan getir. Ilmu silat sekuat apapun, tidak bisa menunda atau melawan kematian, begitulah kredonya. Lantaran itu, ia harus memilih murid yang mewarisi tongkat emas, simbol kejayan perguruan Tongkat Emas yang dirintis Cempaka di masa lalu.

Penerima tongkat sakti itu adalah salah satu dari keempat muridnya, yang kesemuanya adalah anak yang dipungut dari para musuh yang mati terbunuh. Dara (Eva Celia) murid termuda, yang ilmunya belum seberapa. Biru (Reza Rahadian) murid yang paling menjanjikan, Gerhana (Tara Basro) murid yang tangguh, dan Angin (Aria Kusumah) murid cilik yang tekun berlatih. Cempaka telah memikirkan matang-matang bahwa tongkat itu pantas untuk Dara. Rupanya keputusan itu membuat murid Cempaka yang lain iri. Air susu pun dibalas air tuba karena dendam masa silam.

Menu baru dari dapur Miles Film yang menggandeng KG Studio, dan manggaet sutradara muda Ifa Isfansyah. Kadar drama pun ditakar pas di tangan sutradara andal yang memikat lewat sejumlah film dramanya seperti Sang Penari (2011) dan Ambilkan Bulan (2012). Di antara film drama latah belakangan yang digarapan asal-asalan (dan asal jadi), Mira Lesmana sebagai produser hadir dengan keyakinan bahwa kejayaan film silat atau laga Indonesia bisa kembali. Kesungguhan serta keseriusan untuk membuat film bagus ini tampak sekali.

Film ini dikerjakan dengan biaya dan waktu pengerjaan terlama yang pernah digarap rumah produksi Mira Lesmana. Lebih dari 20 milyar digelontorkan untuk ongkos produksi. Lebih dari setahun waktu yang dibutuhkan. Ia pun sangat cerdik, bahwa sebuah karya industri yang “hidup” adalah karya yang juga menghidupkan industri yang lain. Akhirnya, industri buku misalnya, terciprat untung dengan adanya komik tentang kisah Pendekar Tongkat Emas, atau industri kreatif lainnya lewat kemunculan games Pendekar Tongkat Emas.

Nilai yang dibawa film ini juga dikemas dengan baik dan relevan dengan kehidupan hari ini. Cinta dalam dunia persilatan yang keruh. Juga bicara tentang ambisi dan dendam. Karakter Biru yang arogan, haus kuasa, dan tak punya hati adalah segelintir masalah pemimpin hari ini. Siapa yang sudi dipimpin seorang yang merasa dirinya hebat, namun bagi rakyatnya, ia adalah benalu yang mematikan? Dia diberi ilmu (atau jurus), tapi bukan untuk membela kebenaran dan berbuat kebaikan. Malah, untuk menyengsarakan rakyat, dan merusak di muka bumi. Bumi dan Gerhana tidak hanya berkhianat, tapi juga melanggar pantang guru, bahwa dunia silat bukan untuk pertumpahan darah, melainkan membela kebaikan.

Lewat film ini, kita melihat masa depan akting Eva Celia. Di film Adriana (2013), kita terkagum lewat karakter Adriana yang ia perankan, perempuan misterius yang fasih dengan sejarah. Kali ini, ia menjadi Dara yang begitu rapuh, terkadang sangat berapi-api, membela guru dan adik seperguruanya yang dibunuh karena dendam. Eva bisa dibilang berhasil mengunyah peran baru yang pasti butuh usaha untuk menghidupkannya. Itu juga terbantu lewat dialog dan narasi yang sangat terasa sekali, bahwa skenarionya dikerjakan sungguh-sungguh oleh Jujur Prananto dan Seno Gumira Ajidarma (dengan pengembangan cerita oleh Mira Lesmana, Ifa Isfansyah,  Eddie Cahyono dan Riri Riza). Sesekali kita mendengar kalimat dengan pakem cerita silat, seperti yang dikatakan Gerhana pada Dara, “… bicaramu melantur, Dara,” saat Dara berusaha merebut kembali tongkat emas yang jatuh di tangan orang yang salah.

Sayangnya ada sejumlah adegan yang tidak perlu di beberapa bagian yang cukup menganggu. Seperti adegan saat Dara tak sengaja melihat Elang mandi di sungai. Kealpaan serta kendala teknis di penyuntingan juga terlihat, seperti adegan saat Cempaka dimakamkan. Di layar kita menyaksikan mulut Biru dan Gerahan mengucapkan sesuatu, namun tak ada suaranya. Di bagian lain, ada suara yang keluar, namun tak ada mulut pemainnya yang bergerak.

Selain itu, adegan saat Dara membuntuti Elang (Nicholas Saputra), mencari tahu siapa Elang sesungguhnya juga menimbulkan pertanyaan. Informasi bahwa Elang adalah seorang pengumpul utang (debt collector) yang tangguh dan pemberani, rasanya tanggung sekali diceritakan. Pun, juga tidak menyumbang bagi keutuhan cerita atau karakter. Untuk mengatakan bahwa Elang sakti dan pandai membela diri, rasanya tak perlu harus dengan mengangkat keseharian profesi Elang. Dengan sederhana misalnya, bisa diceritakan dengan aksi melawan penjahat di desanya.

Ada juga ketidaklogisan secara waktu dengan kemunculan anak Biru dan Gerhana yang serba tiba-tiba. Saat terjadi keributan, dua lawan dua, anaknya sekonyong-konyong tumbuh besar tanpa diberitahu tumbuhnya. Tidak ada informasi bahwa peristiwa telah berlangsung sekian tahun.

Yang agak lebih penting dibicarakan adalah ketidakpuasan mengetahui apa sesungguhnya kesaktian tongkat emas yang diperebutkan. Satu-satunya adegan yang menunjukkan itu hanyalah adegan akhir yang penuh aksi silat yang meyakinkan. Di situ, kita perlu memuji usaha yang dilakukan pelatih gerakan yang didatangkan dari Hongkong, Xin Xin Xiong, yang merupakan double body Jet Lee dalam film-filmnya. Dipoles dengan editing dengan teknologi yang mapan, citarasa laga yang dihadirkan Pendekar Tongkat Emas setidaknya berhasil menghibur.

Walau menyembunyikan latar, sebuah dunia antah berantah, kita mungkin tak terlalu terganggu dengan atribut adat setempat, tempat di mana film ini dikerjakan. Kain-kain yang dipakai pemeran adalah kain tenun corak Sumba. Selama ini, merek-merek tertentu bisa langsung laris di pasaran setelah produknya dipakai di sebuah film. Harusnya, hal yang sama juga berlaku lewat usaha promosi karya kain tenun setempat.

Mira tak salah memilih Sumba, Nusa Tenggara Timur sebagai latar. Sumba adalah tempat yang cocok untuk menghidupkan latar dunia silat yang perlu tanah lapang. Kita menyaksikan padang sabana yang indah luas membentang, perbukitan berbatu yang hijau, pantai yang damai, dan juga sungai-sungai dengan air yang jernih. Bila pemerintah setempat cermat, sebentar lagi tempat itu pasti akan dijamah banyak pelancong yang butuh surga-surga tersembunyi di timur Indonesia. Keindahannya yang menawan, sangat mungkin membuat setting film ini bernasib bagus untuk mendatangkan uang, layaknya Belitung dalam Laskar Pelangi, Selandia Baru dalam film The Hobbit, dan tempat indah di Korea yang selalu “dijual” di banyak film dramanya.

Dengan adegan penutup Elang yang harus menjalankan sanksi karena melanggar sumpah, serta pertanyaan tentang apakah kisah membayar dendam terulang lagi pada anak Biru-Gerhana yang dipungut Dara, adalah open ending yang membuka peluang untuk dibuatnya sekual untuk film ini. Penonton pasti sangat menunggu itu. (*)

PENDEKAR TONGKAT EMAS (THE GOLDEN CANE WARRIOR)

Sutradara: Ifa Isfansyah Produksi: Miles Films & KG Studio Penulis: Jujur Prananto, Seno Gumira Ajidarma, Mira Lesmana dan Riri Riza Pemeran: Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Prisia Nasution, Darius Sinathrya, Whani Darmawan, Landung Simatupang

Tokoh-tokoh yang Tenggelam

Meski kisah yang diusung bukan lagi menu baru, yaitu kisah cinta tragis anak manusia karena persoalan adat, film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck nyantanya tetap ditonton. Prestasi bahwa film itu masuk deretan senarai film laris sepanjang tahun 2013, perlu diiringi dengan kesadaran bahwa sebenarnya ada tokoh-tokoh yang tenggelam di balik kesuksesan itu.

Adegan ketika Hayati (Pevita) menonton pacuan kuda. Ia berbusana ala gadis Eropa. (sumber foto: http://tikamustofa.files.wordpress.com)
Adegan ketika Hayati (Pevita) menonton pacuan kuda. Ia berbusana ala gadis Eropa. (sumber foto: http://tikamustofa.files.wordpress.com)

Perdebatan ini di kepala saya muncul saat melihat betapa hebatnya Sunil Soraya memvisualiasikan buah karya Hamka, khususnya tentang gambaran di beberapa bagian. Langsung saja, bahwa saya sepakat dengan Leila S.Chudori yang merasakan ada bayang-bayang The Great Gatsby yang diwakilkan tokoh Aziz, seorang pribumi kaya raya, hidup mewah, dan sangat menyenangi kehidupan hura-hura.”The Great Gatsby masuk Sumatera Barat,” tulis Leila dalam resensinya di Tempo.

Saya kontan tertawa membacanya, tidak hanya karena merasakan yang sama. Namun, itu adalah ledekan yang sebenarnya patut dibicarakan. Kenapa? Karena itu, tidak hanya soal distorsi atau bauran kreativitas terhadap apa yang sineas tonton dan yang ia kagumi. Sunil boleh saja suka dengan karakter yang hidup di kepalanya, yang di benak kepala lain, orang sudah pasti mengidentikannya dengan suatu film tertentu. Nah, tidak sampai di situ, bahwa kita harus pelajari Sunil lebih jauh. Film ini adalah karyanya yang kedua setelah Apa Artinya Cinta? (2005), sebelumnya ia juga menjadi produser untuk Eiffel I’m in Love (2003) serta 5 cm (2012).

Memang, ada hal yang sudah lama saya rasakan sendiri untuk film-film yang disajikan dapur film Soraya. Kita mesti sadar saat menonton, tidak boleh terbuai dengan apa yang terhidang di depan mata. Bahwa kenapa terasa ada sosok The Great Gatsby di Sumatera Barat, lebih karena cara dan sudut pandang Soraya meninabobokan penontonnya. Ini mungkin lebih tepat disebut sebagai suatu kajian kritis, bahwa hemat saya, Soraya agaknya mengajak penonton untuk menelan mentah-mentah tentang konsep kemewahan. Adegan yang menunjukkan sisi glamour tempo dulu dan flamboyannya Aziz, adalah segelintir saja argumen yang bisa dengan jujur menyatakan ada kesadaran palsu yang ditanamkan tentang hidup mewah. Lebih-lebih, ketika sosok Zainuddin (Herjunot Ali) yang tadinya hidup dalam penderitaan yang bertubi-tubi (fisik dan batin), kemudian dengan mantra yang lebih ajaib dari mantra Tuhan, dia menjadi kaya raya. Hidup di rumah mewah, dan megah seperti istana kerajaan. Punya mobil klasik yang elegan dibanding yang dimiliki Aziz di kampung halamannya di Padang Panjang. Di benak Hamka, mungkin tidak seperti itu semestinya hidup Aziz dan keluarga digambarkan. Sampai suatu hari saya menuliskan status ini di Facebook:

Di dapur film Soraya, kita dininabobokan tentang konsep kemewahan, hidup enak, dan sedikit aroma tentang hedonisme. Kita diajarkan bermimpi bahwa hidup itu mudah, seolah-olah manusia bisa punya mantra sehebat mantra Tuhan. Jadi, perlu hati-hati menangkap pesan filmnya (di luar subtansi yang diadaptasi) dan yang terpenting, menontonlah dalam keadaan ‘sadar’…

Visualisasi itu memang indah. Ingin rasanya kita ada di sana. Tapi penonton tidak boleh lupa, tahun demikian, tahun 30-an, siapa pribumi di Minangkabau yang sungguh-sungguh semapan itu. Lagipula, saat itu orang sibuk berperang dan dalam masa penjajahan. Memang juga terlihat di sana, dari kehidupan adik Aziz, Khadijah, ia sungguh telah terjajah secara busana. Gadis Minangkabau yang sok gaya noni belanda. Karakter Khadijah semestinya tidak jatuh ke tangan Gesya Shandy yang terlalu ‘kota’. Meski hanya peran pendukung, ia begitu buruk memerankan gadis minang kaya raya.

Reza Rahadian memang tidak gagal memerankan Aziz. Niscaya, ia tidak pernah main buruk. Hanya saja, dalam hal ini, tokoh yang ia perankan yang tenggelam. Tokohnya adalah hasrat memunculkan apa yang bersemayam kuat di benak sineasnya. Sebab berada di bawah bayang-bayang, tokohnya dihadirkan sebagai suatu kontaminasi imajinasi.

Tapi, setidaknya saya senang, ada Herjunot Ali dan Pevita yang menyelamatkan. Keduanya, sebagai tokoh utama, sudah menunjukkan kemampuan yang terbaik. Pevita patut dipuji karena tidak sok Minang, khususnya dalam bertutur. Dalam kebanyakan film yang mengambil latar tanah Minangkabau, dan sebagai orang Minang, saya sebal mereka yang meminang-minangkan kalimat dalam bahasa Indonesia. Untungnya Hayati (Pevita) mau belajar, dan adegan di Batipuh, saat ia naik di atas bendi, itu mampu mewakili kecantikan gadis Minang yang indah dipandang rupanya.

Junot, dia juga belajar dari kegagalannya dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah, di mana sangat datar bermain dengan Bella. Namun, sebagai anak kota, yang terbiasa dengan film-film urban (Realita Cinta dan Rock n Roll tahun 2005 misalnya), akting Junot layak diberi pujian. Apalagi, bila mesti belajar bahasa Makasar.

Saya harus bilang pada anak-anak muda yang semasa menonton film ini di bioskop, mereka banyak yang tertawa. Entah menertawakan dialog yang versi mereka mungkin terdengar lebay. Tapi, harus dipahami, sebagai Buya yang puitis, Hamka memang memikat dengan dialognya yang berbunga-bunga. Anak zaman sekarang saya rasa pasti tak suka. Namun bukanlah roman Balai Pustaka namanya jika dialognya tak indah, dan untuk sebuah adegan perpisahan, dipastikan butuh waktu yang panjang. Dan mungkin juga, yang terasa hanyut oleh suasana, akan terkuras airmatanya. (*)

Dodi Prananda, penikmat film

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

Sutradara         : Sunil Soraya
Skenario           : Donny Dhirgantoro, Imam Tantowi
Berdasarkan novel karya Hamka
Pemain             :  Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Jajang C.Noer