Permainan Maut dari Raditya Dika

 

Willy Dozan, Raditya Dika, dan Hifdzi Khoir dalam film terbaru garapan Raditya Dika berjudul Target (Sumber foto: Bookmyshow)

Raditya Dika selalu menarik dibahas. Ia diremehkan, sekaligus disanjung. Ia bisa jadi kurang dihargai oleh lingkungan perfilman, namun filmnya selalu tembus jutaan penonton. Karyanya belakangan mulai lintas genre, membuat kita perlu memperhatikan usahanya. Satu hal, Raditya Dika seorang pembelajar. Ia tidak berpuas diri menguasai satu tema yang selama ini menjadi cap dagangnya, yaitu tema komedi percintaan yang mengeksploitasi kisah kejombloan, namun berusaha menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Belajar dari kelemahan film Hang-Out (2016) yang mempertemukan sejumlah artis seperti Surya Saputra, Titi Kamal, Dinda Kanyadewi hingga Prilly Latuconsina, kini Raditya Dika menyapa penontonnya lewat Target. Film ini masih memakai formula yang sama, namun teknik penceritaan serta kemasannya jauh lebih menantang dan tentu saja, otak bakal terkuras untuk menulis skenario dengan plot twist berlapis. Ya, berlapis, alias multi-layer.

Cerita dimulai ketika sembilan selebriti yang memerankan dirinya sendiri terjebak di sebuah gedung kosong. Mereka awalnya diundang casting sebuah film berjudul Target. Alih-alih bertemu kru syuting, sembilan artis ini, Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, dan Anggika Bolsterli terpaksa menjalani skenario yang belum mereka pelajari sebelumnya. Enggak ada yang namanya reading. Bukannya diarahkan seorang sutradara, mereka terpaksa menjalankan arahan dari sebuah suara yang mengaku dirinya sebagai Game Master. Dan, peran yang mereka mainkan adalah peran yang mematikan. Hanya satu orang yang akan selamat. Film yang menurut penulis skenario aslinya, film yang belum pernah dibuat di manapun, film yang akan fenomenal!

Kisah semacam ini, di mana permainan maut sekaligus berbahaya, semua orang dikumpulkan pada sebuah tempat, lalu berperang satu sama lain demi mempertaruhkan siapa yang paling kuat, dan layak untuk tetap hidup, sudah tidak asing bagi pecinta thriller-misteri. Sutradara Yorgos Lanthimos pada 2015 mempertunjukkan aksi orang jomblo vs orang berpasangan dalam film The Lobsters. Francis Lawrence juga punya seri The Hunger Games-nya, di mana adu kekuatan antardistrik di Panem. James Wan pada 2014 juga sempat meneror seluruh penduduk bumi lewat Saw, yang seakan menjadi standar kengerian film bergenre serupa. Ada lagi Cube (1999), bahkan The Employer (2013). Sineas Indonesia sendiri belum terlalu banyak bermain di wilayah ini, apalagi harus mengawinkan genre ini dengan komedi.

Burukkah permainan Raditya Dika kali ini?

Pertama, terlihat ada upaya penyempurnaan dari cara membungkus penuturan atau gaya bercerita. Kita harus melihat Raditya Dika betul-betul memikirkan selebriti dari kelas mana yang harus ia ajak: Youtuber (Ria Ricis), Stand-up Comedian (Abdur Arsyad dan Hifdzi Khoir), Ilusionis (Romy Rafael), pemain film yang mengaku “senior” (Samuel Rizal, dan juga Willy Dozen) dan beberapa selebriti perempuan yang harus memberikan warna lain (Cinta Laura Kiehl dan Anggika Bolsterli).

Teknik di mana pemain memerankan dirinya sendiri dilakukan setelah Hang-Out. Mengingatkan kita juga pada cara Seth Rogen dan Evan Goldbery dalam This is The End (2013) berfantasi soal aktor hollywood jika menghadapi hari kiamat. Raditya Dika tidak sepenuhnya gagal dalam memilih pemainnya. Nama-nama dalam film Target jelas lebih beragam dan punya peranan masing-masing untuk menggerakan skenario.

Alhasil, kita tidak lagi sekadar mendengar celotehan lucu di sekitar permainan maut antara selebriti vs youtuber, selebriti baru vs selebriti senior, komika vs artis dan juga olok-olok pada karakter Willy Dozan yang demi kepentingan cerita menjadi pria kemayu bernama Wince. Yang terakhir ini terasa menganggu. Dua komika dalam film ini juga memerankan tugasnya dengan baik, mereka adalah comic relief. Perhatikan saja ketika Abdur Arsyad berucap dengan santai “Malas nonton di bioskop, air mineral saja puluhan ribu, memangnya itu dari air mata Reza Rahadian?”, lalu ada lagi ketika di sebuah level game, semua pemain diajukan pertanyaan buah apa yang kulitnya mulus? Lalu datanglah Abdur di detik-detik akhir menjawab dengan wajahnya yang tak berdosa itu: durian diamplas. Lucu, kan?

Tunggu, tak kalah lucu adalah Samuel Rizal. Semula kukira, ya ampun, ini Sammy mentang-mentang artis langganan Soraya harus banget main, tapi melihat gaya dia yang ceplas-ceplos dan arogan, dia lah magnet paling kuat film ini. Dia tokoh yang sangat merebut perhatian sejak awal. Waktu di jalan tol layang ada yang nyerempet mendahului mobilnya, langsung ngomel, “Pasti bukan artis tuh.” Dan, beberapa adu mulut dengan pemain lain seolah-olah dialah yang paling senior dan “artis beneran” dibanding yang lain. Sammy, you’re rock! Namun, jika boleh menyebut satu atau dua nama pemain yang mampu berakting dengan rentang emosi yang lebar, maka dua nama itu adalah Abdur dan Hifdzi. Mereka berdua tidak hanya menghidupkan film lewat lelucon khas komika, namun mereka orang yang mungkin tidak begitu dipandang pada mulanya, lalu berusaha pada sebuah titik konflik, menunjukkan sisi lain dalam dirinya.

Hanya saja, Raditya seakan-akan lupa kalau penempatan menegangkan dan lucu ada baiknya dipisah dan tidak selalu berjalin-berkelindan. Bagaimana mungkin orang tegang lalu tertawa bersamaan? Bakat komedian Radit yang begitu menonjol, sementara efek menegangkan terlalu datar. Enggak ada tegang-tegangnya, kecuali semua skenario terkuak. Dan, sedikit lebih parah, bagaimana mungkin para selebriti ini tidak menunjukkan simpatik sedikit pun ketika ada rekan sesama profesi mati dalam permainan. Raditya Dika agaknya hanya mengeksploitasi tawa. Setiap situasi diproyeksi menjadi sumber guyonan. Walau ini hanya film dan rekayasan belaka, alam film perlu menunjukkan sikap peduli dan emosional saat satu di antara mereka mati karena gagal dalam permainan. Iya betul kalau semua orang punya insting cuma pengin menyelamatkan diri sendiri di kondisi berbahaya, namun hanya beberapa dialog, misalnya dari Cinta Laura yang menunjukkan sisi mereka sebagai selebriti yang juga manusia biasa. Come-on Radit, act like human being!

Akhirnya, kita harus membicarakan bagaimana plot-twist dalam film Target bekerja. Semula, saya pikir saya akan mengamuk kalau mengetahui cerita berhenti pada kenyataan bahwa tokoh pesulap atau ilusionis yang diperankan Romy Rafael. Ya, ini mudah sekali menebaknya. Dan, karena bukan Raditya Dika namanya, karena ia telah belajar dari pengalaman menggarap Hang-Out, twist berlapis membuat saya akhirnya berpuas diri sebagai penonton. Julukan game master itu sendiri bukan disematkan untuk satu tokoh yang disebutkan pada akhir cerita. Game Master itu, adalah Raditya Dika sendiri, yang sudah berjuang membuat kita betah dan terikat mengikuti perjalanan atau permainan maut itu. Dialah Game Master sesungguhnya.

DODI PRANANDA, jurnalis, novelis, dan penikmat film.

TARGET

Sutradara dan Penulis Skenario: Raditya Dika Produser: Sunil Soraya Produksi: Soraya Intercine Films, Pemeran: Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli

Iklan

Saling Tuduh Mencari Pembunuh

Salah satu adegan dalam film Hangout (2016) arahan Raditya Dika. (Sumber foto: BookMyShow)
Salah satu adegan dalam film Hangout (2016) arahan Raditya Dika. (Sumber foto: BookMyShow)

Formula baru Raditya Dika mengawinkan kisah misteri thriller dan komedi. Mendebarkan sekaligus menghibur.

Sembilan pesohor diundang ke sebuah pertemuan membicarakan proyek besar. Undangan itu datang tiba-tiba, dan kebetulan di saat yang tepat pula dengan iming-iming berlimpah uang. Datanglah orang-orang ini memenuhi undangan dari tukang undang yang bahkan tak tahu siapa: Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Titi Kamal, Mathias Muchus, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Surya Saputra Sholeh Solihun, dan Bayu Skak.

Kesembilan ini datang sebagai diri sendiri karena mereka tidak sedang melakoni suatu peran. Sebagai artis —atau sebutlah saja pesohor, lazim bertemu produser di tempat-tempat seperti restoran atau kafe, atau mungkin hotel mewah. Bagaimana kalau undangan membicarakan proyek besar ini di sebuah vila di tengah hutan, dan untuk mencapainya harus menumpangi kapal, memasuki ceruk hutan, melewati hari tanpa sinyal dan harus menapaki jalan setapak di hutan yang rimbun? Membicarakan proyek besar atau malah mengantarkan nyawa?

Saling tuduh mencari pembunuh seperti dalam permainan werewolf memantik ide Raditya Dika  mengisahkan cerita pembunuhan berbalut komedi dalam film terbarunya Hangout (2016). Sebuah komedi dengan formula baru yang dicoba Raditya dari film terdahulunya. Seakan menjelaskan tak berhenti pada sebuah pakem dan komedi yang “itu-itu saja” dan dengan tema yang “itu-itu saja”, Raditya Dika mengawinkan kisah misteri thriller dengan komedi. Hasilnya? Sebuah film yang mendebarkan sekaligus menghibur. Sebentar-sebentar kita tertawa dengan setiap celetukan dan dialog dari para bintang ini yang menyebut hal-hal di seputar keseharian mereka. Mereka tidak sedang memerankan peran lain, sehingga memungkinkan untuk mengeksplore dari karakter keseharian mereka. Segala atribut yang berhubungan dengan kehidupan para bintang di kehidupan nyata pun akhirnya tidak menjadi celetukan yang sekilas lewat, namun bisa mengundang tawa. Namun apakah yang memerankan diri sendiri benar-benar senyata aslinya, toh kita tahu ini film komedi yang sangat wajar jika dilebih-lebihkan: jika melihat Dinda Kanya Dewi yang digambarkan sangat jorok.

Film dengan aktor yang memerankan dirinya sendiri pernah berhasil dibuat Seth Rogen dan Evan Goldberg: This is The End (2013) dengan memasang sejumlah aktor James Franco, Jonah Hill, Emma Watson. Mengisahkan para aktor terjebak pada sebuah akhir kehidupan dan mereka harus menyelamatkan diri, diwarnai dengan karakter asli aktor. Tapi, apakah Raditya Dika mampu seberhasil Seth dan Evan dalam menampilkan keaslian para aktornya sebagai diri mereka sendiri?

Banyak kesempatan untuk menampilkan sifat asli dan keseharian sang aktor yang sangat natural saat adegan penyelamatan dari vila aneh itu. Sifat egois, sifat kemaruk, dan juga sifat khas manusia lainnya harusnya bisa ditampilkan lebih “human” lagi. Kita tahu, dalam setiap film para pesohor ini adalah orang lain, atau menjadi orang lain. Sekarang mereka adalah diri mereka sendiri. Karakter yang melekat pada diri pemain bukan tidak mungkin menambah keseruan cerita, seperti bagaimana keributan yang tercipta pada tokoh saat memilih bertahan atau kabur pada film This is The End. Apakah dalam keadaan sulit dan menakutkan, masih ada kesempatan bagi tukang akting untuk berpura-pura?

Sekali lagi, ini adalah komedi. Kenaturalan apapun yang diharapkan, sekalipun memasang bintang yang memerankan diri sendiri, unsur fiktif tak akan terelakkan. Di sejumlah adegan, bukan tak mungkin juga penonton sulit meraba manakah yang asli atau justru dibuat-buat untuk kepentingan tawa. Sementara dari sisi misterinya, untuk Anda penggila film misteri atau thriller mungkin mudah saja menebak siapa pembunuhnya dari awal, karena banyak sekali clue yang ditebar sejak awal cerita. Namun yang menarik dari semua itu bukan tentang siapa pembunuhnya, tapi bagaimana setiap tokoh akhirnya berpikiran dan “awas” jika pembunuh itu adalah satu di antara mereka. Seperti menebak pembunuh pada permainan werewolf yang penuh intrik: bahkan bisa saja pertengkaran timbul karena saling tuduh. Akhirnya yang timbul adalah: dugaan persaingan ‘artis vs stand up comedy’ seperti yang dilontarkan Gading, sebuah spekulasi yang muncul saat saling tuduh mencari pembunuh bisa melahirkan suatu kebencian yang sesat pikir. Tapi itu disajikan sebagai sebuah komedi, ingat, tak boleh serius-serius amat karena ini komedi!

Meski tak serius-serius amat, akhir kisah bisa saja dibuat sangat light. Tetap ada pesan. Sudah di beberapa film terakhirnya ini, Raditya Dika seolah tak ingin mengakhiri filmnya dengan biasa-biasa saja. DODI PRANANDA

 

HANGOUT

Sutradara: Raditya Dika, Penulis Naskah: Raditya Dika, Produser: Sunil Samtani, Gope T. Samtani, Produksi: Rapi Films, Pemeran: Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Titi Kamal, Mathias Muchus, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Surya Saputra Sholeh Solihun, Bayu Skak

Saat Cinta di Depan Mata Dika

Jangan katakan Raditya Dika sebagai sosok yang maruk, karena Marmut Merah Jambu adalah sebuah bukti kematangannya sekaligus menunjukkan dirinya yang serba bisa.

Sumber foto: http://www.kawankumagz.com/read/marmut-merah-jambu-antara-detektif-dan-cinta-pertama
Sumber foto: http://www.kawankumagz.com/read/marmut-merah-jambu-antara-detektif-dan-cinta-pertama

Di film Marmut Merah Jambu, kita bisa menikmati Raditya Dika sebagai sutradara, sebagai penulis, sekaligus sebagai aktor. Paket komplit itu bisa dikatakan efek kesuksesan atas kebolehan Dika ketika menggarap seri Malam Minggu Miko I dan II. Kehadiran Dika sebagai pekerja kreatif yang serba bisa seakan memberikan harapan baru bahwa dunia kepenulisan juga membukakan pintu serta kesempatan bagi kreatornya untuk melebarkan sayap ke ranah lain.

Sebagai penulis komedi, Dika bukanlah penulis bernapas panjang, karena setiap karya yang ditulisnya selalu singkat. Dia juga tidak menulis novel komedi, melainkan kumpulan cerita penuh homor yang diawali dari kumpulan cerita di blog yang dibukukan dalam Kambing Jantan (2005), disusul Cinta Brontosaurus (2006), Marmut Merah Jambu (2010) dan Manusia Setengah Salmon (2011). Semuanya juga sudah difilmkan.

Karena yang ditulis pendek-pendek, ketika dialihkreasikan dalam bentuk film, maka jadilah sebuah jahit-menjahit cerita sehingga membentuk suatu kesatuan. Dari sekian bab yang ada dalam Marmut Merah Jambu, hanya tiga bab yang masuk ke dalam film, yaitu Orang yang Jatuh Cinta Diam-diam, Peretemuan Pertama dengan Ina Mangunkusumo, dan Misteri Surat Cinta Ketua OSIS. Bab Marmut Merah Jambu sendiri yang diangkat sebagai judul buku ibarat sebuah jarum dan benang yang mampu menjahit bagian yang kosong.

Ini mengingatkan saya pada film Mereka Bilang Saya Monyet!, dalam film itu, Djenar juga sama seperti Dika, menunjukkan bahwa dia tak hanya pandai menulis. Dia memilih sejumlah cerita saja: Lintah dan Melukis Jendela. Dia menyutradarai sendiri. Dia juga bisa menghidupkan sendiri tokoh-tokohnya ke dalam film. Bisa merangkum ceritanya dalam sebuah kumpulan cerita, dan memilih sejumlah cerita saja untuk dinikmati sebagai sebuah film panjang.

Marmut Merah Jambu masih menawarkan rasa yang sama, seperti karya Dika terdahulu yang sudah dibukukan. Masih bicara dan berkutat di tema percintaan anak remaja, tentu saja dengan latar belakang kehidupan SMA. Drama percintaan anak SMA, dibalut humor, itulah jualan andalan Dika yang selalu ia suguhkan kepada kita.

Dengan mengambil gaya penceritaan flash back, Dika menceritakan kisah SMA-nya yang kelam karena tak kunjung memiliki kekasih. Berdua dengan temanya, Bertus, mereka berjuang mati-matian meluluhkan hati perempuan dengan cara-cara yang konyol: menelepon satu per satu perempuan yang mereka suka, dan menembaknya lewat telepon. Tentu saja perempuan itu menolak cowok yang tak macho, dan hanya berani mengatakan perasaan via telepon. “Mending gue mati,” kata perempuan di seberang, sesaat setelah Bertus menembaknya.

Dika memang tipikal anak yang tak banyak teman, dan Bertus, sebagai teman dekatnya juga bukan cowok populer. Sehingga, sebagai sepasang sahabat yang bernasib sama, mereka mencari cara supaya didekati perempuan. Mereka juga bermimpi seperti seorang cowok tampan —anak basket yang sangat eksis dan digilai semua anak perempuan di sekolah.

Karena putus asa tak kunjung diterima pernyataan cintanya pada sosok yang mereka sukai, Bertus yang selalu punya ide-ide gila dan kadang tak masuk akal, melakukan sesuatu. Sampai terpikirlah oleh mereka untuk membuat grup detektif di sekolah, supaya mereka bisa eksis, dibutuhkan, dan dengan begitu, ada perempuan yang menggilai Dika dan Bertus.

Perjalanan grup detektif itu dimulai dari misi pertama yang konyol, membantu guru olahraga mereka yang konon, kehilangan bola basket sekolah. Duo grup ini langsung turun tangan dan membeberkan hal-hal yang membuat guru sekolah mereka itu geleng-geleng kepala. Kehadiran Cindy (Sonya Pandarmawan), yang memecahkan misteri hilangnya bola basket itu membuat grup detektif buatan Bertus dan Dika mendapat tambahan satu anggota baru, sekaligus langkah awal keduanya dikenal di sekolah.

Satu per satu misteri mereka pecahkan, termasuk misteri surat kaleng ketua OSIS. Meskipun mulai terkenal di sekolah akibat prestasi membantu ketua OSIS –dan mereka memiliki ruangan khusus- Bertus dan Dika tak kunjung mendapatkan pacar. Dan pada misteri coretan misterius di dinding sekolah lah, menjadi misteri yang dibaliknya, ada hati seorang perempuan yang tersembunyi.

Cerita humor ala Dika memang enak dinikmati tanpa perlu mendebat logikanya, karena akan banyak hal-hal tak masuk akal sepanjang film. Kita cukup siap-siap dibuat ketawa tanpa perlu mencari kebenarannya di realitas. Sekali lagi, komedi tetaplah komedi yang kadang menyimaknya tak perlu pakai otak, dan sedikit menyalakan hati. Sebab, ciri komedi remaja khas Dika, pastilah tersimpan renungan tentang perasaan anak remaja yang dalam masa pubertas, pencarian cinta dan sebagainya.

Sayangnya, sebagai anak yang bersekolah dan besar di Jakarta, Dika tak mewakili remaja Indonesia pada umumnya. Komedi yang ia hadirkan pun sangat Jakarta sentris. Latar belakang kehidupan masa SMA yang porsinya kira-kira 70 persen dari keseluruhan cerita, hanya mampu menggambarkan lika-liku pencarian cinta dua ABG Jakarta, dari kalangan menengah atas pula. Artinya, Dika ada pr besar setelah semua bukunya difilmkan, mampukan ia menulis komedi atau drama percintaan dengan keluar dari cara pikir anak Jakartanya? Dan tidak melulu mengenai dirinya dan cintanya…

Marmut Merah Jambu juga menceritakan harapan bahwa berkhayal memiliki cewek tercantik di sekolah adalah bagian dari hak cowok yang tak populer juga. Seperti Dika, yang merasa jatuh dari cinta pada perempuan cantik bernama Ina Mangunkusumo. Namun sebagaimana dalam dongeng-dongeng, sang ratu cantik pasti jatuh ke tangan pangeran tampan. Ina sama sekali tak tertarik pada Dika, ia hanya sempat kagum karena aksi Dika dan geng detektifnya yang menguak sejumlah misteri. Apalagi di akhir cerita, Ina milik orang lain, dan Dika hanya membiarkan harapannya menguap. Adegan yang subtil adalah ketika Dika luput membuka matanya, bahwa cinta itu ada di sekitarnya, bahkan lebih dekat dari matanya. Sayangnya, ia tak membuka mata lebih lebar lagi, bahwa cinta sebenarnya sudah ada sejak lama di dekatnya, dan ia lamur memandang keindahan yang jauh.. dan teka-teki di dinding sekolah hanyalah sedikit kode atas perasaan Cindy pada Dika.

Marmut Merah Jambu cukup segar untuk para remaja yang sedang dalam pencarian cinta. Kadang, kita menghabiskan waktu terlalu lama untuk menjangkau langit (sebagaimana khayal Dika memiliki Ina), padahal di sekitar kita, setangkai mawar telah lama ingin dipetik (saat Cindy telah dari lama menyukai dirinya, namun Dika tak menyadarinya).

Film ini juga berhasil mempertemukan duet Christoffer Nelwan dan Julian Liberty. Akting Julian akan mengocok perut sepanjang film. Adegan saat keduanya saling menjauh karena kesalahpahaman orientasi membangun grup detektif hingga keduanya nyaris sama sekali tak bertegur sapa, adalah bagian terbaik dari drama pertemanan sepasang sahabat yang tuna asmara tersebut.

Di bagian akhir, kita dibuat tak terkekeh lagi saat melihat Bertus dewasa (diperankan Kamga Tangga) memiliki tiga istri. Sementara, Dika baru menyadari cintanya (Cindy dewasa diperankan Franda) — mawarnya yang hampir layu, harus segera di petik di hari pernikahan Ina itu.

MARMUT MERAH JAMBU

Sutradara Raditya Dika, Produser: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Pemeran: Raditya Dika, Franda, Kamga Mo, Tio Pakusadewo, Bucek Depp, Dewi Irawan, Jajang C.Noer, Christoffer Nelwan, Sonya Pandarmawan, Julian Liberty Produksi: Starvision Plus

Belenggu Masa Lalu dan Kejenuhan Raditya Dika

Lewat Manusia Setengah Salmon, Raditya Dika menunjukan kematangannya. Tidak hanya matang berakting, namun juga matang bercerita, menyisipkan suatu renungan tentang pelajaran mengubur masa lalu dalam film terbaru besutan sutradara Herdanius Larobu itu. Raditya Dika menjanjikan oase bagi penonton (dan pembaca) yang dahaga tawa.

maxresdefault
Kemunculan Jessica yang tiba-tiba, membuat Dika kembali dihantui bayang-bayang masa lalu. (Sumber foto: google.com)

Secara cerita, Manusia Setengah Salmon adalah loncatan terbaik Raditya Dika. Pada buku-buku terdahulunya, Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus yang juga diangkat ke layar lebar, Raditya Dika terlalu sibuk pada aspek lelucon dan komedi. Tak jarang, baik di filmnya, penonton dan juga pembaca yang menonton, merasakan terlalu banyak adegan lucu yang dipaksakan, tidak menggali unsur tawa dari peristiwa. Namun, bergeliat di dunia kreatif semacam ini, tentu saja juga karena terlibat dalam film layar lebar Cinta Dalam Kardus, kreator Malam Minggu Miko dan Malam Minggu Miko 2, adalah sekelumit perjalanan yang menempa karier kreatifnya. Ia dimatangkan karena pengalaman-pengalaman itu. Maka kita tidak akan lelah lagi, seperti saat menyaksikan aksi pertama Radit di layar lebar, saat memerenkan karakter Radit di film Kambing Jantan.

Manusia Setengah Salmon jauh dari kesan film bergenre drama komedi yang kerap menjual lelucon kosong. Perjalanan untuk berpindah, adalah sentral ceritanya. Sebagaimana karya adaptasi buku, Dika bercerita tentang pilihan Mamanya (Dewi Irawan) yang memutuskan untuk pindah rumah. Tentu saja tidak mudah bagi Dika untuk menerima keputusan itu. Terlalu banyak kenangan yang ia miliki di rumah itu. Ibarat sebuah beringin yang telah tumbuh lama, bertahun-tahun di sebuah tempat, mustahil untuk dipindahkan. Beringin itu telah mengakar di sana. Begitu juga kisah cintanya. Selepas putus dengan Jessica (Eriska Rein), Dika masih dihantui bayang-bayang. Terlalu susah untuk melepaskan diri dari belenggu masa lalu.

Namun, ketika menyadari semua bertumbuh, menyadari apa yang ada di sekitarnya telah berubah, misalnya Edgar yang beranjak usia, ayahnya yang semakin menua, Dika tersentak. Harusnya, perubahan semua itu dapat dijalani dengan mudah seiring dengan berubahnya cara pikir dan kematangan dirinya dalam menjalani hidup. Rupanya, Dika pun tahu, terlalu lama dibelenggu masa lalu akan menyakitkan. Karena itu, ia menyetujui pilihan Mamanya untuk pindah. Ada hal yang ingin dikatakan Dika saat dia dan Mamanya berpetualangan mencari rumah yang baru. Saat kita ingin hijrah, tak mudah bagi kita untuk menemukan pengganti yang baru itu. Kita tentu saja mencari sesuatu yang standarnya minimal sama atau harus di atas yang lama. Untuk meraih itu, kita harus melewati perjalanan menemukan, sampai bersua yang cocok, persis pilihan hati yang akan berkata, ya, aku akan nyaman dengan ini. Sampai akhirnya Dika bertemu Patricia (Kimberly Ryder), sosok yang baru itu.

Akhirnya, perjalanan menemukan itu juga membuat Dika dan Mamanya menemukan rumah. Saat berkemas-kemas, tak sengaja, Dika menemukan potret-potretnya bersama Jessica. Saat kita beranjak ke hal yang baru, yang lama harus ditinggalkan. Biar tidak terus mengusik pikiran. Rupanya, Dika belum cukup siap untuk beranjak (hati). Di rumah ini, tentu saja, ada kenangan saat Jessica makan malam bersama di rumahnya, dan kenangan bersama adik-adiknya tercinta. Di rumah barunya, Dika mengeluh pada Mamanya kalau ia tidak hafal letak gelas. “Di rumah yang lama aku kan tahu di mana letak gelas,” katanya saat bangun pagi. Mamanya menanggapi enteng. “Dika, butuh adaptasi!” Lagi-lagi, sebagai penulis cerita, Dika berusaha mengajak pembaca dan juga penonton untuk belajar menyesuaikan diri terhadap segala hal yang baru. Kenyamanan lahir karena pembiasaan diri. Dika tak suka, anak-anak kompleknya ribut di depan kamarnya. Ia mengeluhkan ini, namun tidak cukup bisa menghentikan gangguan itu. Gangguan yang sama dideritanya, saat Patricia datang ke butik bersamanya. Tak sengaja, Dika meraih sebuah baju yang sama persis dengan yang dimiliki Jessica. Dika pun dihantui lagi pikiran tentang kekasih lamanya itu. Betapa pun ia telah mengusir jauh-jauh segala tentang Jessica, ia ternyata tidak cukup siap. Masa lalu adalah hantu. Bisa datang kapan saja, seenaknya. Ya, Jessica datang tiba-tiba di depan pintu rumahnya. Membuat tabungan kenangannya pecah lagi. Puncaknya adalah suatu hari ketika kencan ke bioskop dengan Patricia. Saat membayar tiket, Patricia melihat foto Jessica di dompet Dika. Patricia yang tak enak hati, minta putus di tempat.

Dari situlah, Dika belajar dewasa. Ternyata, Dika tahu, masalah apapun akan dapat terselesaikan dengan mengomunikasikan masalah itu. Katakanlah apa yang tidak membuat kita nyaman, walaupun perlu perjuangan karena kita tak cukup siap mengatakannya. Bagian ini digambarkan dengan probelem Dika dan sopir pribadinya. Ia tahu, dirinya sangat dilema antara memecat atau mengorbakan dirinya untuk terus-terusan tersiksa. Ini perkara yang sama dengan asmaranya, apakah ia akan melupakan semua tentang Jessica, barang-barang pemberiannya, foto-foto dengannya, atau terus-terusan membiarkan dirinya tersiksa, karena sosok dan nama Jessica masih hidup di pikirannya. Dengan memberanikan diri untuk jujur pada sopirnya itu, Dika akhirnya terbebas dari ‘problem ketek’. Namun perkara asmaranya belum usai. Ia masih butuh menjelaskan pada Patricia bahwa setelah ini, ia tidak akan lagi menyebut nama siapa-siapa, karena hanya ada satu nama di pikirannya: Patricia.

Hanya saja, judul buku yang juga menjadi judul filmnya, tidak melekat erat pada jalinan cerita yang utuh. Memang benar bahwa keputusan berkomitmen adalah keputusan untuk berpindah seperti rombongan jutaan salmon yang menempuh perjalanan 1.448 km untuk kawin, dibayangi berbagai ancaman predator. Karena konsistensi untuk tetap menggunakan ciri khas memberi judul karyanya dengan term-term seputar binatang, akhirnya Dika menjadi korban kehilangan relevansi. Malangnya, bagian yang menjelaskan (keterkaitan judul film dengan cerita) ini, terkesan sangat dipaksakan. Yaitu lewat penggambaran editor yang selalu menggentayangi Dika. Adegan terakhir, saat sang editor muncul di kolam renang, mencerminkan ‘memaksakan’ adegan. Terlihat upaya menyambung-nyambungkan judul.

Tapi ada satu hal yang menggelitik, bahwa tercium aroma kejenuhan Raditya Dika. Manusia Setengah Salmon (baik buku ataupun film) adalah loncatan tertinggi yang pernah dibuatnya. Sekarang, tinggal penentuan. Apakah dia akan tetap bertahan di batu tertinggi itu, di pijakan itu, atau terjun bebas. Artinya, konsitensi Dika untuk tetap mengusung karya-karya semacam ini tidak akan lekang dari dirinya, atau justru mencoba hal yang baru alias keluar dari zona nyaman. Persis di awal film, editor menolak karya Dika karena merasa Dika butuh menulis sesuatu yang baru (fresh), agar tak monoton. Sekarang, semua buku yang judulnya berunsur binatang, sudah difilmkan semua. Berikutnya, setelah lepas dari belenggu masa lalu, Dika akan melewati dua tugas besar: mencari cari untuk tetap bertahan (konsisten), atau mencoba yang baru dengan pertaruhan, siap-siap jatuh bangun (lagi). (*)

MANUSIA SETENGAH SALMON

Jenis Film : Comedy
Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Produksi : STARVISION
Sutradara : Herdanius Larobu
Pemeran: Raditya Dika, Kimberly Ryder, Erisca Rein, Dewi Irawan, Bucek