Nenek Tua yang Mengulang Masa Muda

Adegan dalam film Sweet 20 yang diadaptasi dari Mrs Granny, diperankan oleh Tatjana Saphira. (Foto: Starvisionplus/layar.id)

 Film drama komedi keluarga yang diadaptasi dari film Mrs Granny yang telah dibuat di enam negara. Film yang membuatmu tertawa dan bersedih dalam waktu nyaris bersamaan.

Pada sebuah malam, dengan hati yang sangat berantakan setelah merenungi masa tuanya, seorang nenek lanjut usia bernama Fatmawati (Niniek L. Karim) datang ke sebuah studio foto antik dan misterius bernama Forever Young. Tukang foto berjanji tidak hanya membuat sebuah foto yang menampilkan kecantikan sisa masa muda sang nenek, tapi juga membuat dia benar-benar lebih muda lima puluh tahun.

Adegan film Mrs Granny (2014), sebuah drama komedi Korea laris besutan Hwang Dong-hyuk yang masuk dalam jajaran film box office kini dapat dinikmati di Indonesia setelah dibuat versi adaptasinya oleh Sutradara Ody C. Harahap, yang belakangan filmnya selalu mencuri perhatian seperti Cinta/Mati (2013), Kapan Kawin? (2015) dan Me Vs Mami (2016).

Tentu saja hanya premisnya yang sama: seorang nenek yang di hari tuanya merasa kesepian, kosong, dan sendiri serta tidak ada yang dapat memahaminya, dan lewat sebuah kejadian yang tidak terduga di studio foto misterius itu, membuat ia melancong kembali ke masa muda untuk misi memperbaiki hal-hal yang membuat ia kecewa di masa sekarang.

Meski menggunakan premis yang sama, lewat skenario yang ditulis Upi Avianto, kita bisa merasakan betapa dekatnya “Sweet20” dengan kehidupan sehari-hari. Seorang nenek tua yang nyinyir, merasa paling tahu dan paling benar, suka mengatur kehidupan menantunya Salma (Cut Mini), selalu membanggakan putra kesayangannyanya Aditya (Lukman Sardi) di hadapan teman sejawatnya, namun sebenarnya memendam sebuah kekosongan di lubuk hati.

Dan konflik itu seperti nyaris berpilin berkelindan di antara tokoh kita: seorang menantu yang serba salah menghadapi mertua. Seorang anak yang sayang pada ibunya, namun suatu hari harus dihadapkan pada sebuah simalakama (dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati) saat dibayangi usulan memasukan sang ibu ke panti jompo. Seorang cucu yang punya ambisi menjadi pemusik namun tidak didukung orangtua, dan satu lagi, seorang kakek duda beranak satu yang di masa tuanya tetap mendamba kasih tak sampainya. Di antara karakter nenek, kakek, mertua, menantu, anak dan cucu, tentu saja banyak konflik yang bisa tercipta dan nyaris tak berkesudahan. Dan boleh jadi, kita ada di posisi seperti yang dialami salah satu karakter dalam cerita.

Namun konflik utama kita tidak lagi sekadar bagaimana hubungan serta relasi mertua-menantu, anak-orangtua, nenek dan cucu, termasuk konflik mantan calon pacar yang di hari tuanya masih mendamba hangatnya andai ia bisa merasakan cinta masa muda dengan sang pujaan hati. Saat Fatma kembali ABG (diperankan Tatjana Saphira), konflik pun berangsur menjadi jauh lebih rumit dan tidak sesederhana sebelumnya. Fatma yang kembali muda pun berusaha mencari studio foto misterius itu, namun tak dinyana, studio itu sudah tidak ada. Studo itu lenyap tiba-tiba membawa serta semua ingatan hari tuanya. Dan berikutnya, Fatma harus melalui hari-hari menjadi muda lagi dengan konflik yang jauh lebih rumit dari yang seharusnya ia hadapi.

Sebuah fantasi yang menarik tentang menjadi tua. Menjadi tua, apalagi di Jakarta, memang terdengar bukan sebuah keinginan yang menarik. Saya teringat sepotong pemikiran Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah karyanya,

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. – Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma

Persis seperti renungan menjadi tua ini, tokoh Fatma dalam film ini pun, sebetulnya memiliki ingatan tentang masa muda, yang andai ia bisa, ingin sekali ia perbaiki. Sayangnya, kehidupan tidak memberikan kita satu kesempatan —meski itu hanya sekali saja— untuk memperbaiki semuanya supaya kita tidak menyesal kelak di hari tua.

Di masa tuanya, yang harus dihadapi Fatma adalah kenyataan bahwa anaknya akan memasukkannya ke panti jompo, serta seorang teman sejak masa muda bernama Hamzah (Slamet Rahardjo) yang tetap cinta hingga akhir hayatnya. Ibarat pepatah: pagiku hilang sudah melajang, hari mudaku sudah pergi, sekarang petang datang membayang, batang usiaku sudah tinggi.” Apa yang kita jalani di masa tua, adalah hasil yang kita tanam di masa muda. Sebuah pelajaran yang menarik dari film ini. Fatma sedih mengetahui ia merasa sangat menyusahkan anak-anaknya saat ia tua seperti sekarang, tapi apa daya, nasi sudah telanjur jadi bubur, dan bubur bisa diberi beberapa pelengkap supaya tetap bisa disantap.

Namun, karena tentu saja ini sebuah komedi drama keluarga dengan balutan fantasi, maka kita akan melihat cerita bergerak untuk sebuah akhir yang mengejutkan. Kita dibawa melihat perjalanan Fatma dengan segala keganjilan. Hampir semua adegan dalam film ini sangat kuat membahas jalinan relasi antar-anggota keluarga . Dan sesekali kita diajak tertawa saat melihat gap budaya antara Fatma yang mengaku bernama Mieke Wijaya (meminjam nama dari aktris idolanya) terlihat sok tua (meski faktanya dia  memang seorang nenek-nenek) saat menghadapi Juna (Kevin Julio) atau saat bersama produser musik (Morgan Oey) yang tidak hanya jatuh cinta pada bakat menyanyi dan menarinya, tapi juga pada sosok Mieke. Belum lagi tentang selera berpakaian dan selera lagu-lagu yang dibawakannya, sebutlah Payung Fantasi (1955) atau Layu Sebelum Berkembang (1966). Perjalanan Fatma ini adalah misi untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Sebuah tugas yang mungkin luput dilakukannya dulu.

Sebentar-sebentar, kita akan tertawa melihat Tatjana yang sok tua di hadapan Juna atau produser musik itu. Hampir dari semua film Tatjana yang pernah saya tonton, saya nyaris lupa bagaimana Tatjana berakting. Tapi, tidak saat ia memerankan Fatmawati (dari busana polkadot dan potongan rambut jadul, serta tak ketinggalan payung khasnya itu).

Saya sampai sekarang masih ingat bagaimana adegan di kamar indekos Fatma di rumah Hamzah, saat ia meyakinkan Hamzah bahwa ia benar-benar Fatma sungguhan. Atau, adegan terbaik yang paling menyayat hati dan membuat mata sebagian besar penonton berkaca-kaca melihat Aditya (Lukman Sardi) menyatakan kesungguhan hati betapa tidak tahu diri dan tidak pandainya ia berterima kasih kepada seorang ibu yang membesarkannya seorang diri sampai ia menjadi seorang sarjana dan menjadi dosen, lalu berencana mencampakkan ibunya ke pantai jompo. Adegan yang paling menguras emosi dan membuat kita betul-betul “dekat” dengan film ini, yaitu relasi anak dan ibunya.

Belum lagi, ada pesan tentang mengejar mimpi. Juna tidak didukung oleh orangtuanya untuk menjadi anak band. Sementara sang nenek justru mendukung apapun pilihan sang cucu. Saat Fatmawati mengulang masa muda, di situ juga tergambar fantasi tentang cita-cita. Ia mungkin tidak dapat meraih ambisinya menjadi penyanyi karena kata orang bijak hidup hanya sekali. Tapi, lorong waktu itu membuanya dapat memperbaiki semuanya, serta membuat pengandaian itu menjadi nyata. Sebuah pernyataan yang tajam tentang keinginan dan cita-cita. Yang ingin dikatakan bagian ini kira-kira begini, “udah jangan takut mengejar apa yang lo benar-benar mau, sekali pun itu ditentang orangtua lo. Kalo lo mengerjakan sungguh-sungguh dan berhasil, kelak orangtua pasti terima dan bangga”.

Cerita Fatmawati yang mengulang masa mudanya ini pun ditutup dengan sebuah akhir yang paling hakiki tentang menjadi keluarga seutuhnya. Betapapun Fatma terlena dengan kebahagiaan “menjadi muda”, ia mesti kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Setiap orang pasti menjadi tua, itu sebuah mutlak. Kita tidak dapat menolaknya lagi. Di dunia ini, hanya Barbie dan Dian Sastro yang tidak pernah (terlihat) tua. Jadi bagaimana pun hidup yang sulit dan payah sekali pun harus dijalani. Ibarat sebuah kereta yang bergeser dari rel, ia ingin kembali stabil dan melewati hari-hari setelahnya.

Dan hanya di film ini kamu akan tertawa-tawa karena melihat Aliando yang tiba-tiba berboncengan dengan Niniek L. Karim. Apa dan siapakah Aliando? Mungkin kita harus menuntut Sutradara Ody C. Harahap untuk membuat kita tertawa dan menangis sekali lagi dengan film yang semanis ini di lain waktu. (*)

Dodi Prananda, penulis, jurnalis dan penikmat film.

SWEET 20

Sutradara: Ody C. Harahap Produser: Chand Parwes Servia, Fiaz Servia, Riza, Min Yoon, Mike Im, Kang Eun Gyoung, Upi, Reza Servia, Mithu Nisar. Skenario: Upi berdasarkan Miss Granny yang ditulis Shin Dong-Ick, Hoon Young, Jeong Dong Hee dan diadaptasi oleh Upi. Pemeran: Niniek L. Karim, Tatjana Saphira, Morgan Oey, Kevin Julio, Lukman Sardi, Slamet Rahardjo Produksi: Starvision Plus dan CJ Entertainment

Iklan

Tak Hanya Soal “Kawin”

Adegan saat Satrio dan Dinda di pantai. Salah satu adegan yang menampilkan dialog terkuat dalam film (Sumber foto: mandhut.wordpress.com)
Adegan saat Satrio dan Dinda di pantai. Salah satu adegan yang menampilkan dialog terkuat dalam film (Sumber foto: mandhut.wordpress.com)

Film bertajuk Kapan Kawin? yang mempertemukan Reza dan Adinia dalam sebuah drama komedi romantis. Film yang membuat kita terkekeh, sekaligus merenung bersamaan.

Apalagi yang kurang dari Dinda (Adinia Wirasti) selain fakta bahwa ia belum memiliki pendamping. Ia sukses di usianya 33 tahun sebagai General Manager hotel berbintang, usia yang terlampau matang versi orangtuanya yang menginginkan perkawinan bagi putrinya itu. Perkawinan bagi Dinda adalah sesuatu yang tidak pernah dan atau belum terpikirkan dalam hidupnya.

Anak mana yang tak luluh hatinya jika keinginan itu datang dari Pak Gatot (Adi Kurdi), orangtuanya (yang mengaku) sekarat. “Pulanglah ke Jogja, Nduk. Bawa kekasihmu,” pinta Dewi, ibunya (Ivanka Suwandi) dari seberang, lengkap dengan isak meyakinkan. Terlalu sayang pada orangtua, Dinda terpaksa membahagiakan keduanya dengan cara membayar seorang aktor untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Satrio Maulana yang menjelma Rio (Reza Rahadian), sosok yang katanya aktor sukses, yang kerap berfalsafah dan idealis tentang seni peran. Yang dibutuhkan Dinda darinya adalah mengaku, menunjukkan pada Ibu dan Bapak Dinda, bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Sandiwara pun dimulai dengan penuh intrik setelahnya.

Film dari dapur Legacy Pictures yang digarap sungguh-sungguh. Ody C. Harahap yang sebelumnya sukses menggarap Cinta/Mati, kali ini memasangkan duet asyik Reza dan Adinia, yang turut meramaikan menu drama komedi romantis di dapur film kita setelah 7 Hari/24 Jam, yang memasangkan Dian Sastro dan Lukman Sardi. Ide untuk menduetkan Reza dan Adinia tentu saja garansi bahwa film ini tidak akan mengecewakan.

Kita bisa menyimak betapa luwesnya Reza, memerankan karakter Satrio Maulana yang mengaku “aktor hebat” di balik predikat aktor yang juga melekat pada diri Reza. Kini dia tampil sebagai Rio yang konon katanya berprinsip, lugas, dan apa adanya. Tapi di balik itu semua, ia juga hanya seorang manusia, yang tidak bisa berpura-pura pada cintanya.

Sementara itu, Adinia tak kalah asyik dengan Dinda. Ia adalah tipikal yang sebetulnya menyayangi keluarganya, lebih dari dirinya. Cara berbohong itu, juga untuk menyenangkan hati kedua orangtuanya. Berdamai dengan rengekan kapan kawin? yang mengusiknya. Tapi sosok Rio yang awalnya melakoni semua itu demi bayaran, rupanya mengalami sesuatu yang tidak terduga sebelumnya.

Adegan saat di pantai, saat Rio menanyakan apa makanan kesukaan Dinda, menampilkan dialog penting tentang bagaimana bahagia yang seharusnya. Dinda ingin semua keluarga memakan makanan kesukaan mereka, sementara dia, apapun tak menjadi penting baginya. Tapi penting bagi Rio untuk mengetahui itu. Di situlah, Dinda terketuk, mendefinisikan ulang konsep bahagianya, terlebih saat Rio menohoknya dengan kalimat “sadis” sepajang film ini: “Kalau mau bikin orang lain bahagia, kamu dulu yang harus bahagia.” Tentu saja pujian akan dialog yang padat, mengalir, dan kadang memberi perenungan itu dialamatkan pada penulisnya, Monty Tiwa.

Ide cerita semacam ini mungkin sudah bertebaran dalam Film Televisi (FTV) yang tayang lumrah begitu saja. Dengan premis: anak yang diteror orangtuanya kapan kawin lantas membayar orang mengaku pacarnya, dan kemudian kepura-puraan itu berbuah cinta, rasanya akan semakin membuat kita malas menonton film Indonesia di bioskop, dan memberi cap betapa rendahnya mutu cerita film drama kita. Namun di atas keklisean itu (apalagi klise dalam hal setting Jogja yang sangat khas FTV), ide yang acap dipakai itu, dengan memaksimalkan usaha menghidupkan karakter, dengan skrip yang mapan, dan juga dengan sinematrografi yang memanjakan mata arahan Padri Nadeak, rasanya film ini layak mendapat tempat di hati penontonnya.

Dan yang terpenting, bahwa konsep soal kawin tak semudah kedengarannya. Alasan kenapa Dinda belum kunjung kawin, tentulah juga karena ide soal itu, tak segampang mengajak seseorang jalan-jalan ke mal. Kawin juga adalah tentang bagaimana berdamai dari pergulatan masa lalu tentang Gerry (Erwin Sutahardjo), yang kini adalah suami saudaranya, Nana (Feby Febiola). Kita teringat pada sajak kontemporer Sutardji Calzoum Bahri berjudul Tragedi Winka Sinka. Di sana, ada kata kawin yang dipecah menjadi ka-win, dan sin-ka. Interpretasi tentang ka-win itu sendiri yaitu perkawinan adalah tentang yang ka- (kalah) dan win- (menang). Ada hati yang kalah, ada hati yang menang. Dalam cerita masa lalunya, Dinda adalah pemilik hati yang kalah itu. Dan tentang permintaan orangtuanya yang segera menikah, Dinda juga adalah yang kalah, karena tak mampu berdamai dengan itu. Ini sekaligus membuat kita yakin, keegoisan hanya akan membuat kesakitan. Semua orangtua di dunia perlu tahu itu.

Ody menutup film ini dengan manis. Pada akhirnya, Dinda harus menang. Ia merasa Satrio telah memenangkan hatinya dengan cinta yang tulus. Dengan begitu, kawin menjadi mudah karena menang adalah milik orang yang telah bahagia untuk dirinya sendiri, dan juga orang lain (orangtua).

KAPAN KAWIN?

Sutradara: Ody C. Harahap Produser: Robert Ronny Penulis Naskah: Monty Tiwa, Robert Ronny, Pemain: Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Feby Febiola, Adi Kurdi, Ivanka Suwandi, Firman Ferdiansyah, Ellis Alisha Produksi: Legacy Pictures