Tiga Menguak Petaka

Adegan saat Tomo (Reza Rahadian), Arni (Julia Estelle) dan Guntur (Dwi Sasono) menelusuri piramida Gunung Padang dalam film Gerbang Neraka (2017) arahan Sutradara Rizal Mantovani. (Foto: Dok. Legacy Pictures)

Sutradara Rizal Mantovani mencoba gaya baru horor avontur. Setelah satu dekade, Reza Rahadian membuktikan aktingnya di film horor “di jalur yang benar” setelah tampil di Film Horor untuk pertama kali.

Tiga yang sedang menguak petaka ini adalah tiga orang dengan latar berbeda. Tomo Gunadi (Reza Rahadian) wartawan tabloid mistis yang menjalankan pekerjaannya nyaris hanya untuk uang. Arni Kumalasari (Julie Estelle) arkeolog muda yang penuh rasa ingin tahu namun selalu membantah segala hal yang klenik. Dan Guntur Samudra (Dwi Sasono) paranormal yang diliputi ketenaran dan haus pada sesuatu yang astral. Meski berbeda latar pekerjaan, pengetahuan dan keyakinan tentang mitologi dan realitas, ketiganya punya satu misi menguak misteri  dan petaka di piramida situs prasejarah megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat.

Untuk pertama kalinya Sutradara Rizal Mantovani mencoba gaya pengungkapan baru dan seolah ingin keluar dari pakem horor Indonesia yang “itu-itu saja”. Jika umumnya film Indonesia menjadikan sebuah tempat yang angker, sosok makluk tak kasat mata yang bergentayangan atau benda tertentu sebagai sentral cerita, namun film Gerbang Neraka: Fire Gate, Rizal menyajikan ketakutan dalam balutan fantasi serta petualangan (avontur) dengan pijakan fakta faktual meski keseluruhan kisah tetap bernapas fiktif.

Rizal membuka cerita dengan menggiring imajinasi kita pada visual Gunung Padang pada tahun 5.000 Sebelum Masehi (SM). Kemudian cerita bergerak pada latar penemuan nyata arkeologi yang paling menggemparkan dunia di abad 21. Pada 2012 silam, hasil uji karbon Piramida Gunung Padang menyatakan usia piramida mencapai 5000 SM, jauh lebih sepuh dari piramida Giza di Mesir yang hanya berusia 2850 SM. Semboyan imperialiasme kuno gold (kekayaan), gospel (penyebaran agama) dan glory (kejayaan) berusaha diterjemahkan ke dalam berbagai spektrum dan dimensi, salah satunya perwatakan tokoh. Dimensi pertama adalah realitas seorang Tomo yang menyerahkan sebagian hidupnya demi pekerjaan wartawan, sampai idealisme membawanya pada kenyataan pemberedelan majalah politik tempatnya bekerja, lantas berakhir membawa jalan hidupnya pada sebuah media yang menjual kisah mistik. Tomo pun melakukannya hanya demi uang, sekali pun ia tak percaya tentang yang ditulisnya. Di antara keseharian sebagai wartawan dengan peliknya industri media yang materialistik di mana berita bisa dibayar oleh narasumber, Tomo adalah seorang ayah yang menjadikan anak adalah napas dalam hidup. Dimensi lain adalah Arni, Arkeolog yang mendasari hidupnya dengan sesuatu yang bersifat sains atau ilmiah. Cara berpikir yang logis dan sistematis dan berhasrat mengungkap kebenaran piramida Gunung Padang yang ia yakini sepenuh hati sebagai tempat yang menyimpan pengetahuan yang dibutuhkan di akhir zaman serta segala kebudayaan kuno di masa lampau berpusat. Meski begitu, Arni selalu menganulir segala hal klenik dan kiblatnya dalam memahami sesuatu sebagai sains. Arni adalah corak dari dimensi gospel bagian dari penyebaran agama dan diperluas maknanya sebagai penyebaran ilmu pengetahuan. Dan dari dimensi kejayaan adalah Guntur, seorang paranormal dengan pamor yang menjanjikan serta berpandangan kekuatan atau roh jahat akan dikalahkan oleh sesuatu yang baik.

Meski pijakan pada semboyan imperialisme kuno berusaha diterjemahkan ke dalam karakter dan dihubungkan sebagai sumbu cerita, kita dapat melihat jejak ambisius Produser Robert Ronny yang berusaha membuat kisah yang ditulisnya tetap setia pada fakta yang faktual. Akting Julia Estelle sebagai Arkeolog cukup meyakinkan seolah ia adalah ensiklopedia bidang arkeologi, dengan sangat fasih menjelaskan serta membaca simbol artefak serta kujang batu, sisa peninggalan situs masa lalu. Pada bagian ini, boleh jadi kita berpandangan seperti ini: cerita ini mungkin tidak dapat dinikmati oleh banyak orang (kalau tidak dikatakan membosankan bagi sejumlah orang), mungkin hanya mereka yang antusias dengan kajian arkeologi dan sejarah yang dapat tersambung pada cerita.  Tapi anggapan itu tentu tidak berlaku jika kita sedang menyaksikan The Mummy (1999), The Mummy: Tomb of The Dragon  Emperor (2008) atau The Pyramid (2014). Masyarakat kita terbiasa mendapat sesuatu dan pengalaman baru yang datang dari luar, sementara jika eksperimen atau pembaruan itu datang dari negeri sendiri, kita merasa ada yang aneh dan ganjil jika dikatakan itu tidak riil, bahkan kadang malah mendatangkan cemooh. Namun, seolah menjawab keraguan itu sendiri, Robert Ronny sebagai Produser tampaknya mengerti boleh jadi hanya mereka yang mengapresiasi eksperimen terhadap film horor yang dapat menghargai sebuah eksplorasi cerita. Seakan-akan kalimat yang dilontarkan Tomo pada sebuah adegan itu benar adanya sebagai kegelisahan pribadi Produser: “Emang mudah jadi idealis kalo punya duit.”

Selain didasari pada riset yang matang tentang situs megalitikum Gunung Padang, kita juga melihat sisi yang menarik tentang betapa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari berbagai unsur: ilmu pengetahuan atau sains dengan hal yang bersifat ghaib bahkan klenik sekali pun. Semuanya berdiri masing-masing. Pada kenyataannya kita melihat realitas acara televisi yang menjual mistik tetap mendapat penonton yang banyak. Keduanya adalah air dan minyak yang tidak pernah bersatu tapi tetap menjadi hybrid.

Film ini sebagai upaya menampilkan pembaruan horor lokal bukan berarti hadir tanpa cacat. Jika kita kembali pada pandangan bahwa kenapa film yang mengambil latar mesir kuno sekali pun masih dapat diterima, karena boleh jadi digarap dengan computer generated imagery (CGI) yang meyakinkan. Namun, sayangnya, visual Gerbang Neraka saat menyajikan petualangan Arni, Tomo dan Guntur saat menelusuri piramida masih terasa kasar. Belum lagi jika dikritisi, bagaimana mungkin ‘proyek negara’ ini mendadak diamanahkan kepada tiga orang ini: arkeolog, jurnalis dan paranormal di saat satu per satu orang yang ada di sekitar penggalian itu mati secara misterius dengan wajah penyok? Yang agak menggangu, sejumlah aktor seperti Julia Estelle dan Lukman Sardi dibiarkan “lolos” menggunakan kata “ubah” yang diucapkan sebagai “rubah” (merubah, yang seharusnya mengubah).

Akhir film ini, saat Tomo bertemu ‘visualisasi sosok penting’ dalam cerita menjadi adegan terbaik. Untuk pertama kali, kita melihat dua aktor watak terbaik negeri ini Lukman Sardi dan Reza Rahadian ada dalam satu frame yang sama untuk sebuah dialog yang kuat. Adegan itu sekaligus mendedahkan peran wartawan yang bagai diutus ke muka bumi untuk menyelamatkan umat manusia, untuk menutup gerbang neraka, agar sesuatu yang jahat tidak keluar. Wartawan lewat berita yang ditulisnya atau pun lewat cara lainnya semestinya menyampaikan kebenaran untuk membantu manusia memutuskan pilihan dalam hidupnya, untuk membuat dunia lebih baik, bukan untuk menyesatkan orang dengan informasi yang belum tentu benar.

Dan kehadiran film ini seakan memberi harapan semakin baiknya mutu film Indonesia. Meski Tomo, sang wartawan telah menutup gerbang petaka, ada satu gerbang lain yang harus segera dibuka. Robert dan Rizal membuka gerbang masa depan film horor depan Indonesia yang semakin layak tonton. (Dodi Prananda, jurnalis, penulis dan penikmat film)

GERBANG NERAKA

Produksi: Legacy Pictures Produser: Robert Ronny Sutradara: Rizal Mantovani Penulis Skenario: Robert Ronny Pemeran: Reza Rahadian, Julie Estelle, Dwi Sasono, Ray Sahetapy

Iklan

The Insidious Chapter 2, Bumbu dan Rasa yang Sama

The Insidious Chapter 2 boleh dibilang karya James Wan yang memadukan segala teknik horor yang pernah dicobanya. Film ini pembuktian keseriusan James Wan dalam menggarap film horor yang tidak hanya memukau dari segi cerita, namun juga sukses meneror setiap penonton dengan kadar dan tensi horor yang tinggi. Sekaligus mendobrak pandangan bahwa tak selamanya karya sekuel itu gagal ketimbang karya awalnya.

Sumber: empireonline
Sumber: empireonline

Saat memasuki ruang bioskop, dan begitu film dimulai, suasana horor yang menegangkan sudah mulai terasa. The Insidious adalah kerja keras tim yang berbuah keberhasilan, termasuk kerja penata musik musik, Joseph Bishara, yang mampu mengolah musik yang menyayat, begitu apik berjalin dengan suasana dalam film. Terlepas dari pro dan kontra yang menghakimi bahwa jarang film sekuel yang berhasil, Wan mencoba keluar dari belenggu judge penonton itu. Dari sinilah, perjuangan membuat film dengan ongkos yang relatif minim, namun mampu mendulang penghasilan yang tinggi dimulai.

Wan kian disorot saat The Conjuring ramai dibicarakan. The Conjuring satu karya yang oleh sebagian penonton dijadikan sebagai jaminan. Belum lagi, sejumlah fim lainnya yang diarahkan Wan seperti The Saw. Perjalanan panjang saat menggarap film-film itu kiranya menjadi batu loncatan bagi Wan untuk membuat eksperimen yang memadukan segala elemen. Unsur dan teknik dipadukan. Elemen terbaik adalah saat Wan melakukan time travel bagi para tokoh-tokohnya, guna menjahit bagian di film pertama yang rumpang. Cerita dimatangkan. Segala elemen saling berjalin satu sama lain. Terlihat pula kesenangan-kesenangan Wan yang diulang. Itu senjata terkuat Wan dalam menawarkan lanjutan kisah keluarga Lambert ini.

Meskipun Insidious I tak butuh lanjutan cerita, namun sebagai penulis cerita, Wan berusaha untuk merapikan semua celah-celah cerita yang berlobang. Apa yang terjadi di Insidious II tidak berdiri sendiri, ceritanya menguatkan, sekaligus menjawab apa yang sebenarnya (tidak) patut dijawab, walau saat Insidious I selesai, penonton disilakan menerka-nerka, siapa yang membunuh Elice. Itulah cikal dan tunas cerita yang dikembangkannya sebagai sajian di film Insidious Chapter 2 ini .

Kengerian yang dijual Wan kali ini bukan lagi soal saat Dalton Lambert (Ty Simpkins) yang pada kisah awal diceritakan berhasil diselamatkan ayahnya. Namun, soal Josh Lambert (Patrick Wilson) yang setelah bertarung dengan arwah jahat yang menginginkan raga Josh untuk hidup kembali. Roh jahat itu juga menyenangi adik Dalton, Foster Lambert (Andrew Astor), karena itu mereka juga mengincar Foster. Kepada istrinya, Renai (Rose Byrne), Josh mengatakan bahwa semuanya sudah selesai dan keluarga mereka bisa hidup normal. Tapi, Renai tidak percaya. Mimpi buruknya belum usai. Ia merasakan sesuatu yang buruk, jauh lebih buruk dari sebelumnya. Ia mencium gelagat aneh pada sosok suaminya. Di saat yang sama, ia mendengar denting piano yang melagukan lagu karangannya yang ia tulis untuk Josh. Belum lagi benda-benda di rumah mertuanya bergerak sendiri. Anak bungsunya, Kali, menangis karena diganggu roh wanita bergaun putih.

Rupanya, karunia yang tersimpan dalam diri Josh dan juga keluarga Lambert, malah membawa petaka. Mereka mampu terhubung dengan alam roh. Ini yang membuat perhatian para roh jahat untuk kembali ke alam manusia dengan meminjam raga-raga keluarga Lambert. Alhasil, pertarungan memperebutkan raga manusia itu berakhir pada culik menculik orang yang dicintai Renai, anak-anaknya dan suaminya.

Keberhasilan itu ternyata juga dibumbui oleh rasa-rasa yang sama. Penonton yang akrab dengan kesenangan-kesenangan Wan, akan sadar bahwa banyak hal yang diulang. Pengulangan ini akhirnya membuat ‘tubuh’ seram horor yang ada di Insidious seolah keropos. Misalnya, kesenangan Wan dalam menggunakan boneka sebagai pengecoh kengerian. Boneka-boneka yang dipakai Wan biasanya boneka dengan rupa yang menyeramkan dan akan membuat penonton bergidik ketakutan. Kesenangan boleh saja dilakukan sekali dua kali, namun bila selalu dipakai, Wan kelihatan miskin cara.

Di balik atmosfer kelam dan pedih, Wan bak seorang pramusaji yang menyajikan menu berbeda, namun dibuat dengan cara memasak yang sama. Jump scares scene adalah nama cara itu. Memang, cara ini efektif dalam membuat lompatan cerita menarik, dan ada kesalingtersambungan antar scene sepanjang film, memberdayakan efek kejut secara maksimal, serta perjalanan cerita yang tegang. Namun, ada baiknya, meramu menu itu dengan cara memasak yang baru. Di sini, Wan perlu haus eksperimen.

Untuk meredakan kengerian, Wan senang memasang tokoh-tokoh pencair suasana. Mungkin, ini jeda untuk penonton, biar ada waktu menarik napas. Di Insidious Chapter 2 ini, sutradara asal Malaysia itu menduetkan Angus Sampson dan Leigh Whannel yang juga penulis naskah. Di film The Conjuring, juga dimunculkan tokoh pembantu paranormal yang sesekali mengundang tawa.

Citarasa yang sama juga terasa saat para hantu keluar dari lemari. Wan senang dengan bagian ini dan hampir selalu ada di setiap filmya. Belum lagi, dengan hantu-hantu yang dipakai, penonton yang mampu merekam dengan baik di ingatannya pada sosok mengerikan di film-film Wan terdahulu, akan merasakan kemiripan. Antara lain, sosok hantu tua, berkulit keriput dengan bedak yang sangat tebal. Mungkin juga, gambaran sosok yang menyamar, atau yang menggunakan gaun.

Klimaks kesamaannya adalah saat tokoh ayah di film ini yang ketika dirasuki arwah jahat, ingin membunuh anaknya sendiri (anggota keluarganya). Bandingkan dengan tokoh Ibu yang ingin membunuh anaknya di The Conjuring. Puncak kengerian adalah saat itu, dan saat bagian itu dihadirkan, mungkin ada yang merasa de javu, dan ketika anti-klimaks dimunculkan, maka jump scare scene membantu cerita diselesaikan. Ujungnya adalah yang baik, akan mengalahkan yang jahat. Namun, kali ini, getar terasa saat Elice yang berada di alam roh, ikut membantu. Betapa mengharukan saat Josh benar-benar kembali dan ia berkata,” semua cara sudah kulakukan untuk kembali, aku mainkan lagu itu untukmu.” Dan baru saja Renai sadar, bahwa yang memainkan piano itu adalah arwah suaminya yang tersesat mencari raganya.

Hanya saja, Wan tidak menggunakan teknik pengusiran setan saat kesurupan, layaknya film The Conjuring. Karena itu, layak diberi apresiasi, bahwa Wan telah keluar dari pakem lama dan mencoba membuat fitur baru dalam horor hollywood.

INSIDIOUS CHAPTER 2

(Dodi Prananda, penikmat film)