Balada Sari dan Sekeping DVD

Sari dan Alek dalam film A Copy of My Mind (Sumber foto: tiff.net)
Sari dan Alek dalam film A Copy of My Mind (Sumber foto: tiff.net)

Film terbaru Joko Anwar soal Jakarta yang jarang kita lihat. Romantis, sederhana dan gelap. Sekaligus menjadi kapsul waktu perpolitikan Indonesia kini. Layak diganjar tujuh nominasi Piala Citra 2015.

Dari dulu, kita mungkin sudah mengenal atau pura-pura melupakan wajah Jakarta yang ini: rumah- rumah padat berdempetan, udara yang pengap, jalan tikus menuju kosan yang kumal dan bau bacin.

Di antara kehidupan menara gading, di gedung bertingkat, di tengah Jakarta yang gemerlapan, Jakarta adalah rumah yang juga dihuni orang kecil seperti Sari (Tara Basro) seorang pekerja salon dan juga Alek (Chicco Jerikho) si tukang pembuat terjemahan “ngaco” DVD bajakan.

Sari menggambarkan wajah kaum bawah (kalau tak disebut kaum proletar) ibukota: hidup-makan-bekerja-mencari kerja-pulang-tidur. Seolah hidup ini indah, kata seorang tukang sajak, aku menangis sepuas-puasnya (bagi Sari boleh jadi: aku menonton DVD sepuas-puasnya). Namun Sari betul-betul menikmati hidupnya: ada di bus kota bersama wajah-wajah yang bercucur peluh, terkantuk-kantuk, ribut dan bising. Juga pekerjaannya, mendengar celoteh para ibu-ibu apa saja sambil memijit dan memencet jerawat di wajah tamu salon.

Joko Anwar mungkin memahami kemuakan kita dibenamkan mimpi palsu kebanyakan orang memandang Jakarta atau seperti Jakarta yang digambarkan dalam film buku atau karya seni lainnya (atau dalam imajinasi orang desa memandang kota), sehingga karakter Sari membuat kita sejenak menjadi sosok yang apa adanya, yang tak pusing-pusing amat memikirkan esok, tak peduli amat ingar bingar dan riuh rendah politik. Karena memang tidak terlibat.

Atau mungkin seperti Alek, yang sepanjang harinya dihabiskan menerjemahkan DVD bajakan untuk menyambung hidup, sambil berjudi dalam kelam malam Jakarta. Kedua karakter kita ini bukanlah manusia yang menginginkan segala. Hidup ini bagi Sari mudah, ibarat: makan tak makan asal nonton DVD. Satu mimpi terbesarnya hanyalah memiliki televisi layar besar supaya puas menonton.

Bukan tak mungkin, hidup yang payah, tumbuh cinta di sana. Kali ini, adegan bercinta Sari dan Alek di indekos Alek yang sumpek, gerah, dan kusam, di situlah cinta tumbuh. Masih ada kesempatan bagi Sari membuat lelucon: meminta Alek menyetel video porno gay saat mereka asyik bercinta, dan selepasnya Sari berceletoh tentang film kesukaannya.

Namun, sekali waktu hobi Sari menonton (juga sesekali hobi mencuri sekeping DVD)  adalah malapetaka yang membuat kita berhenti dari kehidupan yang apa adanya. DVD kali ini bukan DVD dengan terjemahan sembrono buatan Alek, DVD yang dicuri Sari dari klien spesial di penjara Bu Mirna (Maera Panigoro) adalah obrolan soal “apel” (sandi untuk membicarakan uang-uang pelicin di kalangan elite politik) dengan pejabat negeri. Dan, pada bagian inilah, kita merasakan denyut gelap Jakarta. Tak ada kompromi bagi yang telanjur berurusan dengan politik: sekecil apapun tetap kena imbas, tak ada maaf, tak ada ampun, segalanya karena kuasa politik harus terbayarkan, bahkan nyawa adalah pembayarnya. Orang bawah seperti Sari yang tak terlibat, harus menerima akibat.

Harus diakui, Joko telah membuat hampir dua jam waktu kita menyantap sebuah visual Jakarta yang tak biasa (Joko sempat twit foto dia makan di pinggiran Jakarta, berlantaikan tanah, makan di sela syuting, pun para artisnya), kehidupan di daerah pecinan Glodok, atau kosan tempat Sari tinggal telah membawa kita menjadi penonton film drama rasa dokumenter. Juga dengan pergerakan kamera (camera work) yang membuat kita merasa berada di latar. Joko menakar semua dengan pas, sehingga emosi atau bumbu drama terasa tak berlebihan.

Sekaligus film A Copy of My Mind menjadi kapsul waktu untuk melacak jejak perpolitikan Indonesia pada kurun 2014-2015, di mana politik terasa panas, riuh rendah orang-orang yang terbelah haluan politik, “membakar”, seperti matahari Jakarta yang garang. “Kita mencoba membuat sebuah rekaman zaman, ini periode penting, ada pemilihan presiden,” kata Joko Anwar ketika diwawancara sebuah televisi swasta nasional.

Mungkin bila anak cucu kita bertanya seperti apa Indonesia pada tahun 2014-2015, meski berlabel film drama, A Copy of My Mind adalah jawabannya, bukti otentik kehidupan politik negara kita yang wajah perpolitikannya coreng-moreng, penuh korupsi dan intrik. Dan, Joko Anwar tahu betul bagaimana mengemas semuanya menjadi otentik. Semua terasa alami, sehingga membuat kita sebagai penonton bukan lagi orang yang duduk manis di bangku bioskop, tapi kita adalah bagian dari setiap adegan. Jakarta itu sendiri.

Karena segala kenaturalan visual, pantaslah, sepulang dari bioskop, atau  hingga kapanpun setiap adegan dalam A Copy of My Mind akan terus-terusan terkenang dan terputar dalam pikiran kita. Sari atau Alek barangkali juga wajah kita sendiri, orang bawah yang tak terlibat, namun bisa saja terjebak dalam Jakarta yang tak tertebak. (DODI PRANANDA)

A COPY OF MY MIND
Sutradara : Joko Anwar
Skenario : Joko Anwar
Pemain : Tara Basro, Chicco Jerikho, Paul Agusta, Maera Panigoro
Produksi : Lo Fi Flicks dan CJ Entertainment

Badut yang Mematikan

Sumber: flickmagazine.net
Sumber: flickmagazine.net

Debut dari dapur DT Films yang mengembalikan kepercayaan kita pada film horor dalam negeri.

Percayalah, kali ini kita bisa menikmati film horor dalam negeri dengan citarasa mengejutkan ala horor Amerika.

Kita tidak akan menyimak atraksi menggelikan seperti yang dilakukan kebanyakan badut dalam acara ulang tahun atau pasar malam. Ini bukan badut yang disukai anak-anak, yang kerap mengundang tawa. Kita sedang menghadapi badut yang anti-tesis: badut yang mematikan. Dia tidak hanya menakutkan karena mimik wajahnya, dengan rupa sarat gincu. Badut kali ini adalah simbol maut.

Adalah Donald (Daniel Topan) penghuni sebuah rumah susun yang hidup dengan Farel (Christoffer Nelwan), yang semula hidup (tak) tentram, meski kerap ditagih uang sewa rusun oleh Raisa (Ratu Felisha). Belum lagi, Donald harus dibayangi teror ‘apa kabar skrispi’ dari Kayla (Aurelie Moeremans), sahabatnya yang nyinyir. Sampai suatu hari Vino, anak Raisa, mendapatkan sebuah kotak musik usang yang membawa petaka. Kotak yang telah membangkitkan Sang Badut.

Film bertajuk ‘Badoet’ yang dibidani rumah produksi DT Films telah mengikuti jejak Tuyul (2015) garapan Sutradara Billy Christian, yang juga dibicarakan karena kesungguhan akan mengembalikan kualitas film horor Indonesia. Selama ini penonton terus-terusan digentayani hantu yang itu-itu saja.

“Horor masih safe,” kata Daniel saat premiere beberapa waktu lalu di Epicentrum, saat menanggapi bagaimana pasar film horor saat ini. Selama ini film horor dianggap aman untuk berinvestasi di industri, dengan bujet yang relatif murah, namun tak perlu khawatir risiko merugi. “Kita bikin bukan karena itu, tapi karena ingin yang beda. Penonton capek dikasih Pocong dan Kuntilanak melulu. Saking bedanya, disukai banyak negara,” sebutnya. Sejumlah negara seperti Amerika dan India sudah menantikan ‘Badoet’.

Kita melihat kesungguhan pada visi sang Produser, Daniel, yang konon menggelontorkan hampir 3 milyar. Sebuah ongkos produksi yang terbilang besar untuk film horor, dibanding karya kebanyakan yang selama ini sibuk menjual bintang-bintang panas dan selipan adegan sensual. Lima rusun empat lantai dan sebuah pasar malam ditutup demi kebutuhan film. Formula baru Daniel menyajikan horor bisa dikatakan berhasil. Tak semua orang punya kesan bahwa badut itu sesuatu yang lucu. Ada sesuatu yang tersimpan di balik wajah penuh gincu, hidung merah besar, dan rambut warna-warni. Badut adalah misteri. Datang membawa tawa, pulang membawa nyawa, kata tagline film ini. Sampai-sampai Daniel dan Sutradara Awi Suryadi sendiri juga penakut pada badut.

Namun, di balik bungkus yang rapi, kita harus menelan kecewa dengan beberapa bagian yang terasa menuntut penjelasan. Barangkali Anda setuju bahwa tak puas dengan latar belakang kehidupan Si Badut. Penjelasan lewat tokoh ketiga, Nikki (Tiara Westlake), apa yang menimpanya Si Badut yang diperankan Ronny Tjandra pada masa lalu sehingga ia harus berakhir di ruang jagal. Motifnya lemah. Dan apapula hubungannya dengan hanya sekadar kotak musik. Apa arti kotak musik dalam hidup Si Badut menguap begitu saja?

Menggunakan karakter Nikki, yang muncul karena ribut soal bola di media sosial dengan Donald untuk urusan mengisahkan misteri si Badut terasa sangat kebetulan. Apa kabar kalau komentator bola bukan anak indigo, apakah para tokoh bisa menyelesaikan masalah? Kita tahu, rumah susun adalah rumah dengan berbagai lapis masyarakat. Menaruh tokoh sang juru selamat sebagai salah satu penghuni rusun mungkin akan lebih baik.

Hampir semua pemeran juga bermain biasa saja. Tidak ada yang begitu menonjol, kecuali Vino yang berhasil tampil sangat natural. Adegan Vino kesurupan, dan saat ia tak bisa diajak berkomunikasi selain terus menggambar badut adalah yang terbaik. Tiara Westlake cukup meyakinkan sebagai anak Indigo. Sang Badut yang mematikan (diperankan Ronny Tjandra), berhasil membuat kita ketakutan pada badut, setidaknya pada film ini. Daniel pun mengaku harus mengimpor tukang rias dari Abang Sam hanya demi membuat Ronny sebagai badut paling mengerakan di seluruh dunia.

Selain efek kejut yang asyik, yang tidak lazim dari sekadar hantu yang tiba-tiba sebagai pemicu menyeramkan adalah elemen horor dari benda seputar badut. Entah itu balon, kotak musik, dan lagu dari kotak musik. Ditambah dengan sudut-sudut gambar Awi Suryadi yang tak biasa: lorong-lorong panjang rumah susun yang sunyi, balon yang terbang, kamera jungkir balik, dan pilihan angle yang menarik sehingga menyumbang efek menyeramkan. Inilah yang membuat kita bisa mengatakan film ini digarap dengan sungguh-sungguh.

Akhirnya kita sampai pada sebuah akhir yang ditutup dengan pertanyaan begini: “… ketika film horor kita sudah pelan-pelan membaik kualitasnya, sudah siapkah kita sebagai penonton untuk memberikan kepercayaan itu lagi dengan datang ke bioskop?” (*)

BADOET

Sutradara: Awi Suryadi, Penulis: Agasyah Karim, Khalid Kashogi, Awi Suryadi, Pemain: Daniel Topan, Aureloe Moeremans, Ratu Felisha, Christoffer Nelwan, Tiara Westlake, Marcel Chandrawinata, Ronny Tjandra, Produksi: DT Films

Sebuah Perjalanan Menemukan

Sumber: Muvila.com
Sumber: Muvila.com

Film panjang Ismail Basbeth yang mampu “mengisi” penonton. Sarat akan renungan.

Pak Mahmud (Deddy Sutomo) adalah sosok penganut agama super taat. Apa-apa yang ia kerjakan, agama selalu jadi tiangnya. Ia tak ambil pusing usaha kedainya tak beroleh banyak untung, sebab kredonya berjualan bukanlah untuk mencari untung, melainkan sebuah ibadah. Pedagang lain terang naik pitam, menuduh Pak Mahmud “menjual agama” dalam berjualan, maklum pembeli memilih kedai Pak Mahmud yang serba murah. Dan dari kegusaran kelompok pedagang diwakili si ibu-ibu ceplas-ceplos, yang mengatakan departemen urusan agama hambur-hambur uang milyaran rupiah hanya untuk melihat hilal membuat Pak Mahmud tertohok. Si Bapak teringat tradisi purba di pesantren: kirab mencari hilal yang tak perlu banyak uang. Namun, para kawan tak mungkin kirab karena ada yang menghabiskan usia senja di kursi roda atau yang sibuk dengan ambisi kuasa, dan entah yang lain. Dengan atau tanpa kawan, Pak Mahmud tetap mencari. Dan dimulailah perjalanannya…

Dengan mengambil gaya penceritaan film perjalanan (road movie) kita diajak Sutradara Ismail Basbeth mengikuti setiap cerita yang dilalui Pak Mahmud dalam usaha “mencari hilal”. Sebagai film komersial, Ismail cukup lentur bercerita menggambarkan betapa urusan perbedaan bahkan juga terjadi dalam satu tubuh agama yang sama, alih-alih hanya dikatakan memicu konflik horizontal antaragama. Dikatakan lentur, karena berusaha mendekatkan dengan penonton, dan ramah untuk semua kalangan. Kita harus bersyukur bisa menikmati film ini hanya dengan membuka pikiran dan hati, tidak seperti film eksperimental non-komersial yang telah dimulai Ismail sejak tahun 2010, lewat film dokumenter  abang becak Jogja yang tidak gagap teknologi, Harry van Yogya (2010), dan dijamin tidak membuat kening berkerut sepanjang film diputar seperti saat menyimak Shelter (2011), Ritual (2011), Maling (2013), dan yang terakhir, yang cukup ramai dibicarakan –-yakinlah kenapa dibicarakan lantaran banyak yang bertanya-tanya setelah menontonnya–  Another Trip to the Moon (2014)

Tapi, bila kita selami hingga ke dasar, pastilah kita tahu bahwa sang sutradara tak punya pretensi sedang berdakwah macam-macam apalagi bermaksud menjejali kita dengan seruan menggurui. Selama sembilan puluh menit, kita disuguhkan tema besar tentang hubungan bapak dan anak dalam menjalankan kehidupan di tengah-tengah kehidupan beragama yang rentan rebut akibat perbedaan. Jalinan ceritanya begitu solid, sederhana namun berkesan dengan adegan tanpa dialog, namun penuh emosi. Usaha yang baik dari penulisnya Salman Aristo dan Bagus Bramanti.

Perjalanan mencari hilal sesungguhnya perjalanan dua generasi yang berbeda latar kehidupan. Satunya adalah seorang bapak yang ditopang dengan nilai agama tradisi yang kuat, satu lagi si anak hidup di dunia teknologi yang maunya enak dan serba mudah kalau tidak dikatakan pragmatis. Kita lihat saja saat sang aktivis, anak si bapak, Heli (Oka Antara) terpaksa menemani “urusan” sang bapak karena diganjar pamrih akan dibantu mengurus paspor yang waktunya sudah mepet oleh kakaknya “orang dalam” Halida (Erythrina Baskoro), karena Heli hendak dikirim ke Nikaragua untuk misi sosial. Selain itu, Heli juga gambaran terbalik bapaknya: malas salat, tidak puasa, dan jauh dari ritual agama. Dalam usaha mencari hilal, kita melihat keduanya berjalan bersama, namun pikiran dan tindak tanduk keduanya bersimpang jalan. Sesekali Pak Mahmud menuruti kemudahan teknologi versi Heli misalnya saat adegan mencari alamat, tapi lebih sering melakukan dengan caranya sendiri.

Karakter Mahmud yang pantang kalah berdebat, selalu merasa benar, dan hidupnya seolah hanya untuk agama mengingatkan kita pada karakter Haji Soleh dalam cerpen Robohnya Surau Kami milik A.A Navis. Kemiripan itu semakin kental ketika Heli adu mulut dengan sang bapak di tempat yang dituduh Pak Mahmud telah menjalankan agama dengan cara yang salah. “Kebenaran versi siapa?” kata Heli naik pitam. Di situ kita tahu bahwa Heli memendam perih yang purba, karena saat ibunya sakit si bapak sibuk berdakwah. Suatu yang tidak termaafkan, dan tak terekspresikan sepanjang hidupnya. Hal yang sama juga pada Haji Soleh yang sibuk mengejar akhirat, namun luput melakukan urusan dunia.

Dan bila kita sampai pada akhir cerita, dengan metafora yang tak terbayangkan sebelumnya sebagai penutup, kita dikejutkan dengan makna lain mencari hilal. Kita tahu, seorang pria di usia senja seperti Mahmud tak akan mungkin lagi melakukan perjalanan itu. Perjalanan mencari hilal juga bisa dimaknai sebagai perjalanan menemukan si anak yang tak lagi “dikenal” bapaknya. Orangtua mana yang sanggup berkata-kata jika dikatakan oleh anak sebagai bapak gagal mengurus anak dan keluarga. Namun Pak Mahmud sungguh telah mendapatkan yang dicari bahkan saat separuh jalan: Heli memang cuek pada agama, namun dia pribadi yang peduli, anak baik yang berkat caranya sendiri, bisa membuat kegaduhan beragama bisa damai dan rukun dengan pendekatan musyawarah. Meski tak sampai pada mencari hilal sesungguhnya, Mahmud sudah menemukan lebih dari yang ia cari “si anak yang hilang”, yang kembali. Sangat mampu “mengisi” penontonnya tanpa sedikitpun terasa menggurui.

Ismail Basbeth, luar biasa!

MENCARI HILAL

Sutradara: Ismail Basbeth Pemain: Deddy Hutomo, Oka Antara, Torro Margens, Erythrina Baskoro Penulis: Salman Aristo, Bagus Bramanti Produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film, Mizan Productions

 

Tiga Menguak Pahit

Foto: www.jagatreview.com
Adegan Ben, Jody, dan El di kedai kopi Pak Seno (Foto: http://www.jagatreview.com)

Kisah tiga orang yang punya cerita masing-masing, seperti kopi yang tak bisa menyembunyikan bagian pahitnya.

Persoalan kopi, bukan hanya persoalan kepala. Tapi juga soal hati. Ben (Chico Jericho), yang jadi sentral cerita dalam film ini adalah tokoh yang penuh obsesi membuat kopi terbaik. Dalam setiap upaya meracik kopi, yang terbayang olehnya adalah cara untuk menemukan kesempurnaan. Ben punya kredo bahwa kopi yang enak selalu menemukan penikmatnya. Kopi adalah dunia sunyinya. Meski menyimpan luka masa lalu tentang kopi, Ben mampu berdamai dengan itu.

Sementara Jody (Rio Dewanto), tak tahu menahu urusan kopi. Yang ada dalam benaknya cara untuk mengatasi utang orangtuanya di masa silam. Ayah Jody adalah orang baik semasa hidup, dan dari kecil, Ben hidup bersama mereka.

Di tangan kedua pemuda ini, kedai kopi bernama Filosofi Kopi itu bertumbuh. Jatuh bangun, menghadapi pengunjung yang banyak mau. Dalam kepala Jody, apapun cara harus diambil untuk menyelamatkan Filosofi Kopi. Sampai tantangan seorang pria parlente (Ronny P. Tjandra) yang siap membayar puluhan juta jika Ben mampu membuat racikan kopi terenak terpaksa diambil dengan dibayangi ancaman kegagalan.

Filosofi Kopi sebagai film adaptasi terbilang unik karena mengadaptasi karya cerita pendek yang tahun emasnya telah lewat. Meski masih dibicarakan hingga kini, dari tahun rilisnya, 2006, “panggung” untuk karya Dee rupanya masih belum selesai, sejak karya terdahulu yang sudah “naik panggung”, Perahu Kertas (2012), Madre (2013), dan Supernova (2015).

Konsekuensi mengembangkan cerita untuk kebutuhan film panjang pun dilakukan. Angga Dwimas Sasongko yang duduk di kursi sutradara sadar betul bahwa kisah dua sahabat Ben dan Jody tidak akan cukup disajikan sebagai kisah panjang. Nyatanya, Filosofi Kopi berhasil diracik ulang dengan interpretasi baru. Lewat tangan penulis naskah Jenny Jusuf, –yang terbilang nama baru dan diklaim punya “masa depan” yang baik– kisah terbatas dalam cerpen akhirnya bisa kita nikmati dalam dimensi film, yang mampu memberi tempat serta menjawab bagian lain yang masih kosong.

Akhirnya, kita akan berkenalan dengan karakter El (Julie Estelle) yang muncul di kehidupan asyik Ben dan Jody, dua karakter yang sangat kuat dengan segala kekhasannya (Ben yang keras kepala dan obsesif, dan Jody yang serba realistis). Pengembangan cerita di beberapa bagian cukup solid, seperti membawa kisah soal kopi lebih menjejak tanah. Kita mungkin bakal mencibir saja saat Ben mengusulkan dengan nada menyindir, saat Jody memaksa membuka kedainya itu lebih lama, “Buka aja 24 jam sekalian, biar kayak Starbucks”. Desakan itu lantaran Jody kepalang tanggung dengan utang-utang ayahnya.

Adapun intrik soal pengunjung yang hanya mau menongkrong di kedai kopi yang dilengkapi wi-fi, adalah pengembangan yang dibuat lebih kekinian. Di kedai kopi, anak muda tidak hanya mencari kopi, tapi juga “membeli” wi-fi, sementara di Filososif Kopi, yang tersedia adalah filosofi dari kopi-kopi yang dibuat, bukan wi-fi.

Adegan di pelelangan kopi semakin membuat latar belakang yang semakin kental. Wajah para penggila kopi, yang mau mengeluarkan kocek berapa saja hanya demi biji kopi idaman mereka, menjadi pemandangan baru bagi kita yang awam soal kopi. El pun diselipkan di sini. Meski di beberapa bagian El bisa “bertanggung jawab” membuat kisahnya terhubung dengan kisah dua sahabat itu, selebihnya, ia hanya tampak sekadar tempelan, karakter serba tanggung.

Adegan tukang pungut utang yang diperankan Joko Anwar adalah bagian yang membosankan sepanjang film. Sebagai cameo, Joko sangat tidak menarik, kaku, dan tidak berhasil menolong menghidupkan konflik Jody dan utang ayahnya. Sementara itu yang mengganjal adalah soal tantangan aji mumpung. Di versi buku, Ben dijanjikan akan diganjar 50 juta jika berhasil membuat kopi terlezat, sementara versi film, untuk mendukung karakter Ben yang keras kepala dan cenderung tak tertebak, Ben meminta ganjaran satu milyar. Ini membuat kita hanya disuguhi kisah yang tak masuk akal dan hanya akan dijumpai sebagai “realitas film”. Mana ada orang sekaya, dan seberani itu?

Dari sepanjang film, yang terbaik tentu saja adegan saat Ben, Jody dan El menuju Jawa Tengah untuk membuktikan kopi terlezat, Kopi Tiwus, racikan Pak Seno (Slamet Rahardjo). Ini adalah klimaks yang menggetarkan. Karakter El, dalam bagian ini, dipakai untuk menyampaikan pesan bahwa kenapa kopi racikan Ben bisa dikalahkan oleh kopi kampung biasa, di warung yang ada di tengah hamparan kebun teh. Pak Seno membuatnya dengan hati, sementara Ben meraciknya dengan obsesi.

Dari sini, kita menjadi tahu sisi pahit masing-masing tokoh. Tentang Ben, dan masa lalu soal kopi yang muram. Ibunya dibunuh, dan ancaman berikutnya adalah dirinya, jika ayah Ben yang adalah seorang petani kopi, nekat menanam kopi. Jody adalah anak penurut, semua hal dalam diatur sang Papi, tapi saat Papinya mangkat, yang disisakan Papinya adalah utang-utang untuk membesarkan dan menyekolahkannya. Sementara El, tidak pernah betul-betul mengenal Papanya. Ia mengaku Papanya sibuk sendiri dengan dunianya, cuek dan tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada El. Gurunya meminta ia menulis kisah soal Papanya, dan ia tak bisa menulis apa-apa. Tiga orang ini adalah mereka yang memilih jalan masing-masing untuk bisa “sembuh” dari rasa pahit itu.

Namun bagaimana pun, dari kisah Ben yang akhirnya paham kenapa kopinya tidak apa-apa dibanding Tiwus, kita menjadi paham bahwa hasil pekerjaan yang dilakukan dengan hati dan obsesi akan berbeda. Di akhir film El berseloroh, soal kopi bukan hanya soal kepala, tapi juga soal hati. Nilai ini mampu mendekatkan kita pada hakikat membuat kopi. Hakikat lainnya soal kopi adalah mengenai kisah tiga orang yang menguak pahitnya masing-masing itu. Pada akhirnya kita paham, seperti yang diyakini Ben, kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi, kopi tetap kopi, punya sisi yang pahit yang tak mungkin disembunyikan.

Dodi Prananda, penggemar film

FILOSOFI KOPI

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko,  Penulis Naskah : Jenny Jusuf, Pemeran: Chico Jericho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, Baim Wong, Joko Anwar, Tara Basro, Produksi: Visinema Pictures

Tak Hanya Soal “Kawin”

Adegan saat Satrio dan Dinda di pantai. Salah satu adegan yang menampilkan dialog terkuat dalam film (Sumber foto: mandhut.wordpress.com)
Adegan saat Satrio dan Dinda di pantai. Salah satu adegan yang menampilkan dialog terkuat dalam film (Sumber foto: mandhut.wordpress.com)

Film bertajuk Kapan Kawin? yang mempertemukan Reza dan Adinia dalam sebuah drama komedi romantis. Film yang membuat kita terkekeh, sekaligus merenung bersamaan.

Apalagi yang kurang dari Dinda (Adinia Wirasti) selain fakta bahwa ia belum memiliki pendamping. Ia sukses di usianya 33 tahun sebagai General Manager hotel berbintang, usia yang terlampau matang versi orangtuanya yang menginginkan perkawinan bagi putrinya itu. Perkawinan bagi Dinda adalah sesuatu yang tidak pernah dan atau belum terpikirkan dalam hidupnya.

Anak mana yang tak luluh hatinya jika keinginan itu datang dari Pak Gatot (Adi Kurdi), orangtuanya (yang mengaku) sekarat. “Pulanglah ke Jogja, Nduk. Bawa kekasihmu,” pinta Dewi, ibunya (Ivanka Suwandi) dari seberang, lengkap dengan isak meyakinkan. Terlalu sayang pada orangtua, Dinda terpaksa membahagiakan keduanya dengan cara membayar seorang aktor untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Satrio Maulana yang menjelma Rio (Reza Rahadian), sosok yang katanya aktor sukses, yang kerap berfalsafah dan idealis tentang seni peran. Yang dibutuhkan Dinda darinya adalah mengaku, menunjukkan pada Ibu dan Bapak Dinda, bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Sandiwara pun dimulai dengan penuh intrik setelahnya.

Film dari dapur Legacy Pictures yang digarap sungguh-sungguh. Ody C. Harahap yang sebelumnya sukses menggarap Cinta/Mati, kali ini memasangkan duet asyik Reza dan Adinia, yang turut meramaikan menu drama komedi romantis di dapur film kita setelah 7 Hari/24 Jam, yang memasangkan Dian Sastro dan Lukman Sardi. Ide untuk menduetkan Reza dan Adinia tentu saja garansi bahwa film ini tidak akan mengecewakan.

Kita bisa menyimak betapa luwesnya Reza, memerankan karakter Satrio Maulana yang mengaku “aktor hebat” di balik predikat aktor yang juga melekat pada diri Reza. Kini dia tampil sebagai Rio yang konon katanya berprinsip, lugas, dan apa adanya. Tapi di balik itu semua, ia juga hanya seorang manusia, yang tidak bisa berpura-pura pada cintanya.

Sementara itu, Adinia tak kalah asyik dengan Dinda. Ia adalah tipikal yang sebetulnya menyayangi keluarganya, lebih dari dirinya. Cara berbohong itu, juga untuk menyenangkan hati kedua orangtuanya. Berdamai dengan rengekan kapan kawin? yang mengusiknya. Tapi sosok Rio yang awalnya melakoni semua itu demi bayaran, rupanya mengalami sesuatu yang tidak terduga sebelumnya.

Adegan saat di pantai, saat Rio menanyakan apa makanan kesukaan Dinda, menampilkan dialog penting tentang bagaimana bahagia yang seharusnya. Dinda ingin semua keluarga memakan makanan kesukaan mereka, sementara dia, apapun tak menjadi penting baginya. Tapi penting bagi Rio untuk mengetahui itu. Di situlah, Dinda terketuk, mendefinisikan ulang konsep bahagianya, terlebih saat Rio menohoknya dengan kalimat “sadis” sepajang film ini: “Kalau mau bikin orang lain bahagia, kamu dulu yang harus bahagia.” Tentu saja pujian akan dialog yang padat, mengalir, dan kadang memberi perenungan itu dialamatkan pada penulisnya, Monty Tiwa.

Ide cerita semacam ini mungkin sudah bertebaran dalam Film Televisi (FTV) yang tayang lumrah begitu saja. Dengan premis: anak yang diteror orangtuanya kapan kawin lantas membayar orang mengaku pacarnya, dan kemudian kepura-puraan itu berbuah cinta, rasanya akan semakin membuat kita malas menonton film Indonesia di bioskop, dan memberi cap betapa rendahnya mutu cerita film drama kita. Namun di atas keklisean itu (apalagi klise dalam hal setting Jogja yang sangat khas FTV), ide yang acap dipakai itu, dengan memaksimalkan usaha menghidupkan karakter, dengan skrip yang mapan, dan juga dengan sinematrografi yang memanjakan mata arahan Padri Nadeak, rasanya film ini layak mendapat tempat di hati penontonnya.

Dan yang terpenting, bahwa konsep soal kawin tak semudah kedengarannya. Alasan kenapa Dinda belum kunjung kawin, tentulah juga karena ide soal itu, tak segampang mengajak seseorang jalan-jalan ke mal. Kawin juga adalah tentang bagaimana berdamai dari pergulatan masa lalu tentang Gerry (Erwin Sutahardjo), yang kini adalah suami saudaranya, Nana (Feby Febiola). Kita teringat pada sajak kontemporer Sutardji Calzoum Bahri berjudul Tragedi Winka Sinka. Di sana, ada kata kawin yang dipecah menjadi ka-win, dan sin-ka. Interpretasi tentang ka-win itu sendiri yaitu perkawinan adalah tentang yang ka- (kalah) dan win- (menang). Ada hati yang kalah, ada hati yang menang. Dalam cerita masa lalunya, Dinda adalah pemilik hati yang kalah itu. Dan tentang permintaan orangtuanya yang segera menikah, Dinda juga adalah yang kalah, karena tak mampu berdamai dengan itu. Ini sekaligus membuat kita yakin, keegoisan hanya akan membuat kesakitan. Semua orangtua di dunia perlu tahu itu.

Ody menutup film ini dengan manis. Pada akhirnya, Dinda harus menang. Ia merasa Satrio telah memenangkan hatinya dengan cinta yang tulus. Dengan begitu, kawin menjadi mudah karena menang adalah milik orang yang telah bahagia untuk dirinya sendiri, dan juga orang lain (orangtua).

KAPAN KAWIN?

Sutradara: Ody C. Harahap Produser: Robert Ronny Penulis Naskah: Monty Tiwa, Robert Ronny, Pemain: Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Feby Febiola, Adi Kurdi, Ivanka Suwandi, Firman Ferdiansyah, Ellis Alisha Produksi: Legacy Pictures

Usaha Merebut Tongkat Sakti

sumber: uniqpost.com
Elang dan Dara saat beruaha merebut tongkat emas dari Biru dan Gerhana (Sumber: uniqpost.com)

Film panjang bergenre laga yang digarap sungguh-sunguh. Berhasil mengeksplore keluwesan akting bintang muda Eva Celia.

Di hari tua sang pendekar karismatik bernama Cempaka (Christine Hakim), di sebuah gubuk reot nun jauh terpencil, dengan tanah kerontang di halaman, ia menyaksikan empat muridnya berlatih.

Kita mendengar pergulatan batin Cempaka lewat narasi dengan suaranya yang serak dan getir. Ilmu silat sekuat apapun, tidak bisa menunda atau melawan kematian, begitulah kredonya. Lantaran itu, ia harus memilih murid yang mewarisi tongkat emas, simbol kejayan perguruan Tongkat Emas yang dirintis Cempaka di masa lalu.

Penerima tongkat sakti itu adalah salah satu dari keempat muridnya, yang kesemuanya adalah anak yang dipungut dari para musuh yang mati terbunuh. Dara (Eva Celia) murid termuda, yang ilmunya belum seberapa. Biru (Reza Rahadian) murid yang paling menjanjikan, Gerhana (Tara Basro) murid yang tangguh, dan Angin (Aria Kusumah) murid cilik yang tekun berlatih. Cempaka telah memikirkan matang-matang bahwa tongkat itu pantas untuk Dara. Rupanya keputusan itu membuat murid Cempaka yang lain iri. Air susu pun dibalas air tuba karena dendam masa silam.

Menu baru dari dapur Miles Film yang menggandeng KG Studio, dan manggaet sutradara muda Ifa Isfansyah. Kadar drama pun ditakar pas di tangan sutradara andal yang memikat lewat sejumlah film dramanya seperti Sang Penari (2011) dan Ambilkan Bulan (2012). Di antara film drama latah belakangan yang digarapan asal-asalan (dan asal jadi), Mira Lesmana sebagai produser hadir dengan keyakinan bahwa kejayaan film silat atau laga Indonesia bisa kembali. Kesungguhan serta keseriusan untuk membuat film bagus ini tampak sekali.

Film ini dikerjakan dengan biaya dan waktu pengerjaan terlama yang pernah digarap rumah produksi Mira Lesmana. Lebih dari 20 milyar digelontorkan untuk ongkos produksi. Lebih dari setahun waktu yang dibutuhkan. Ia pun sangat cerdik, bahwa sebuah karya industri yang “hidup” adalah karya yang juga menghidupkan industri yang lain. Akhirnya, industri buku misalnya, terciprat untung dengan adanya komik tentang kisah Pendekar Tongkat Emas, atau industri kreatif lainnya lewat kemunculan games Pendekar Tongkat Emas.

Nilai yang dibawa film ini juga dikemas dengan baik dan relevan dengan kehidupan hari ini. Cinta dalam dunia persilatan yang keruh. Juga bicara tentang ambisi dan dendam. Karakter Biru yang arogan, haus kuasa, dan tak punya hati adalah segelintir masalah pemimpin hari ini. Siapa yang sudi dipimpin seorang yang merasa dirinya hebat, namun bagi rakyatnya, ia adalah benalu yang mematikan? Dia diberi ilmu (atau jurus), tapi bukan untuk membela kebenaran dan berbuat kebaikan. Malah, untuk menyengsarakan rakyat, dan merusak di muka bumi. Bumi dan Gerhana tidak hanya berkhianat, tapi juga melanggar pantang guru, bahwa dunia silat bukan untuk pertumpahan darah, melainkan membela kebaikan.

Lewat film ini, kita melihat masa depan akting Eva Celia. Di film Adriana (2013), kita terkagum lewat karakter Adriana yang ia perankan, perempuan misterius yang fasih dengan sejarah. Kali ini, ia menjadi Dara yang begitu rapuh, terkadang sangat berapi-api, membela guru dan adik seperguruanya yang dibunuh karena dendam. Eva bisa dibilang berhasil mengunyah peran baru yang pasti butuh usaha untuk menghidupkannya. Itu juga terbantu lewat dialog dan narasi yang sangat terasa sekali, bahwa skenarionya dikerjakan sungguh-sungguh oleh Jujur Prananto dan Seno Gumira Ajidarma (dengan pengembangan cerita oleh Mira Lesmana, Ifa Isfansyah,  Eddie Cahyono dan Riri Riza). Sesekali kita mendengar kalimat dengan pakem cerita silat, seperti yang dikatakan Gerhana pada Dara, “… bicaramu melantur, Dara,” saat Dara berusaha merebut kembali tongkat emas yang jatuh di tangan orang yang salah.

Sayangnya ada sejumlah adegan yang tidak perlu di beberapa bagian yang cukup menganggu. Seperti adegan saat Dara tak sengaja melihat Elang mandi di sungai. Kealpaan serta kendala teknis di penyuntingan juga terlihat, seperti adegan saat Cempaka dimakamkan. Di layar kita menyaksikan mulut Biru dan Gerahan mengucapkan sesuatu, namun tak ada suaranya. Di bagian lain, ada suara yang keluar, namun tak ada mulut pemainnya yang bergerak.

Selain itu, adegan saat Dara membuntuti Elang (Nicholas Saputra), mencari tahu siapa Elang sesungguhnya juga menimbulkan pertanyaan. Informasi bahwa Elang adalah seorang pengumpul utang (debt collector) yang tangguh dan pemberani, rasanya tanggung sekali diceritakan. Pun, juga tidak menyumbang bagi keutuhan cerita atau karakter. Untuk mengatakan bahwa Elang sakti dan pandai membela diri, rasanya tak perlu harus dengan mengangkat keseharian profesi Elang. Dengan sederhana misalnya, bisa diceritakan dengan aksi melawan penjahat di desanya.

Ada juga ketidaklogisan secara waktu dengan kemunculan anak Biru dan Gerhana yang serba tiba-tiba. Saat terjadi keributan, dua lawan dua, anaknya sekonyong-konyong tumbuh besar tanpa diberitahu tumbuhnya. Tidak ada informasi bahwa peristiwa telah berlangsung sekian tahun.

Yang agak lebih penting dibicarakan adalah ketidakpuasan mengetahui apa sesungguhnya kesaktian tongkat emas yang diperebutkan. Satu-satunya adegan yang menunjukkan itu hanyalah adegan akhir yang penuh aksi silat yang meyakinkan. Di situ, kita perlu memuji usaha yang dilakukan pelatih gerakan yang didatangkan dari Hongkong, Xin Xin Xiong, yang merupakan double body Jet Lee dalam film-filmnya. Dipoles dengan editing dengan teknologi yang mapan, citarasa laga yang dihadirkan Pendekar Tongkat Emas setidaknya berhasil menghibur.

Walau menyembunyikan latar, sebuah dunia antah berantah, kita mungkin tak terlalu terganggu dengan atribut adat setempat, tempat di mana film ini dikerjakan. Kain-kain yang dipakai pemeran adalah kain tenun corak Sumba. Selama ini, merek-merek tertentu bisa langsung laris di pasaran setelah produknya dipakai di sebuah film. Harusnya, hal yang sama juga berlaku lewat usaha promosi karya kain tenun setempat.

Mira tak salah memilih Sumba, Nusa Tenggara Timur sebagai latar. Sumba adalah tempat yang cocok untuk menghidupkan latar dunia silat yang perlu tanah lapang. Kita menyaksikan padang sabana yang indah luas membentang, perbukitan berbatu yang hijau, pantai yang damai, dan juga sungai-sungai dengan air yang jernih. Bila pemerintah setempat cermat, sebentar lagi tempat itu pasti akan dijamah banyak pelancong yang butuh surga-surga tersembunyi di timur Indonesia. Keindahannya yang menawan, sangat mungkin membuat setting film ini bernasib bagus untuk mendatangkan uang, layaknya Belitung dalam Laskar Pelangi, Selandia Baru dalam film The Hobbit, dan tempat indah di Korea yang selalu “dijual” di banyak film dramanya.

Dengan adegan penutup Elang yang harus menjalankan sanksi karena melanggar sumpah, serta pertanyaan tentang apakah kisah membayar dendam terulang lagi pada anak Biru-Gerhana yang dipungut Dara, adalah open ending yang membuka peluang untuk dibuatnya sekual untuk film ini. Penonton pasti sangat menunggu itu. (*)

PENDEKAR TONGKAT EMAS (THE GOLDEN CANE WARRIOR)

Sutradara: Ifa Isfansyah Produksi: Miles Films & KG Studio Penulis: Jujur Prananto, Seno Gumira Ajidarma, Mira Lesmana dan Riri Riza Pemeran: Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Prisia Nasution, Darius Sinathrya, Whani Darmawan, Landung Simatupang

Seminggu untuk Jatuh Cinta Lagi

Sumber: www.traxonsky.com
Adegan saat Tyo dan Tania dirawat di rumah sakit, di kamar yang sama (Sumber: http://www.traxonsky.com)

Film tentang kehidupan keluarga urban yang membayar kerinduan kita menyaksikan Dian Sastro kembali berakting, sekaligus menampilkan duet yang asyik dengan aktor kondang Lukman Sardi.

Tania (Dian Sastro) memerankan tiga peran sekaligus dalam hidupnya. Ia seorang ibu untuk Alya, buah hatinya. Ia seorang istri untuk suaminya, Tyo (Lukman Sardi), sang sutradara. Dan ia juga seorang wanita karier yang passionate, seolah kerja adalah napasnya. Di antara kesibukan mendongengkan buah hati saban malam, dan mengingatkan suami untuk ini-itu, ia juga harus berkutat dengan urusan kantor.

Sementara, Tyo adalah sutradara yang mencintai kehidupannya. Ia tipikal yang perfeksionis, bahkan dari cara dandannya, dia bak seorang produser yang duduk di kursi sutradara. Dari tampilannya yang rapi dan necis, seperti itupula adegan-adegan yang ia garap. Ingin sempurna, ingin yang terbaik. Meski, harus diganjar virus hepatitis yang mengharuskan ia dirawat.

Cerita sepasang suami istri metropolitan inilah yang dihadirkan Fajar Nugros lewat film drama komedi bertajuk 7 Hari 24 Jam. Tania dan Tyo adalah sampel menarik dari kehidupan keluarga urban hari ini. Mereka sibuk mengejar karier. Kadang, lupa merawat keluarga. Kita jangan berharap akan melihat Tania dan Tyo duduk semeja bersama putrinya saat sarapan, makan siang, apalagi makan malam. Kita tak akan melihat mereka bisa menikmati kumpul bersama di rumah, menonton televisi, atau ke bioskop.

Karena itulah, saat Tyo jatuh sakit, ia punya waktu lebih hangat dengan Tania. Ia menanyakan, alasan Tania mau dinikahinya. “Karena aku suka dengan prinsip kamu,” begitu alasannya. Dalam sakit, mereka bisa lebih romantis lagi. Di ranjang rumah sakit, mereka tidur berdua. Seakan membayar waktu dan kesempatan yang mahal, untuk bisa tidur berdua di ranjang yang hangat di rumah. Hampir setiap malam, Tania tidur sendiri, setelah mendongengkan Alya.

Ide cerita yang menarik, muncul ketika Tania yang harus menjalankan rutinitasnya, demi karier yang cemerlang, tetap merawat Tyo, merawat putrinya, membuat ia ikut-ikutan dirawat karena gejala tifus. Dokter memutuskan mereka dirawat sekamar. Dan, pada hari-hari di ranjang rumah sakit itulah… ada banyak hal tak terduga, bisa terjadi pada sepasang suami istri yang lima tahun lamanya hidup bersama. Boleh jadi, lima tahun belum cukup —bahkan tak ada waktu yang cukup— untuk saling mengenal. Dalam sakit, keduanya tetap memikirkan karier.

Hari demi hari di ranjang rumah sakit, adalah waktu yang penting, untuk saling mengenal lebih jauh satu sama lain, bagi sepasang suami istri ini. Konon, usia lima tahun (tahun ganjil) perkawinan itu rawan, kata teman karib Tania, Fransiska. Tyo belum berdamai dengan rasa cemburunya, ketika bos Tania membesuk di hari ketiga. Tania juga belum berdamai dengan rasa cemburunya saat artis yang pernah bermain di film suaminya, Mila (Aline) datang di hari kelima. Sebentar-sebentar bisa terjadi ledakan kecil, marah-marahan seperti orang pacaran –atau seperti kanak-kanak—dan nanti bisa romantis lagi. Yang tak bisa dimaafkan Tania, adalah di hari keempat, saat Tyo menghancurkan sesuatu yang telah ia bangun susah payah: karier. Dan puncaknya adalah di hari ketujuh. Tania sangat terluka dengan omongan Tyo yang kasar, dan sungguh menyakitinya. Saat itulah, Tania mempertanyakan rumah tangganya.

7 Hari 24 Jam patut diapresiasi karena muncul di tengah kekeringan film drama komedi dewasa yang bicara soal kehidupan domestik di industri film kita. Belakangan, industri tampaknya sibuk dengan film-film adaptasi dari novel remaja, yang juga untuk pasar remaja. Kita hampir tak punya drama komedi yang bisa (setidaknya) menghadirkan duet asyik setara Adam Sandler dan Drew Barrymore dalam filmnya Blended (2014) dan 50 First Dates (2004). Akhirnya, film ini membuat kita yakin, pasar yang menjanjikan untuk film drama komedi untuk mature seperti ini, setidaknya punya film yang layak tonton.

Meski tidak menjual konflik yang besar-besar, film ini sebenarnya sederhana, hanya menjual drama kecil yang bila dilihat dengan kaca pembesar bernama hati, akan terlihat besar. Kita akan masuk pada dimensi tentang betapa pentingnya pranata keluarga. Betapa pentingnya saat seorang ayah, ibu dan anak berkumpul, dan melupakan sejenak kariernya. Singkatnya, Fajar Nugros berhasil mengaduk dan mengemas sesuatu yang “sangat dalam” dan vital tentang keluarga sebagai perekat dan pondasi segala hal, namun hal yang sarat psiko-sosiologis itu, disajikan dengan ringan, santai dan sederhana.

Yang agak disesali adalah atribut “jualan” di sana-sini sangat menganggu kekhusukan kita menyimak adegan yang beragam: haru, kocak, kadang romantis. Tentu saja kita memaafkan Fajar, sebab film mana yang tidak butuh uang untuk menggarapnya.

Sementara itu, seperti pada film dan peran apapun yang diberikan kepadanya, Lukman Sardi dijamin tak akan pernah mengecewakan kita. Ia mengunyah segala jenis peran untuknya. Di film ini, kita melihat sosoknya yang lain lagi. Seorang bapak, seorang pemimpi, dan seorang suami, yang punya cinta besar, namun kadang ia luput menyampaikannya dengan cara yang tepat. Seorang sutradara yang baik pun, belum tentu berhasil “mengarahkan” kehidupan rumah tangganya sebaik mungkin. Bahkan, ia masih membutuhkan waktu seminggu lamanya, mendefinisikan ulang cinta. Dan membahasakan cinta dengan melupakan kursi sutradaranya, dan kembali ke rumah, untuk menyampaikan bahwa ia telah jatuh cinta lagi.

7 HARI 24 JAM

Sutradara: Fajar Nugros, Penulis Skenario: Nataya Subagya, Pemeran: Dian Sastrowardoyo, Lukman Sardi, Minati Atmanegara, Ari Wibowo, Aline Andita