Sajak-Sajak, True Story

Teman Menggapai Mimpi

Saya bersama ayah dan ibu saat wisuda, Februari 2015. Kami berfoto dengan Gedung Rektorat sebagai latar. (Foto: koleksi pribadi)

Saya bersama ayah dan ibu saat wisuda, Februari 2015. Kami berfoto dengan Gedung Rektorat Kampus UI Depok sebagai latar. (Foto: koleksi pribadi)

SAYA masih terpaku dengan apa yang tertulis di layar komputer: Selamat Anda diterima di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Hari ini adalah pengumuman penerimaan mahasiswa Undangan, dan saya baru saja mendapati sebuah kabar yang beberapa tahun setelahnya betul-betul mengubah hidup saya.

Berkuliah di kampus ternama, boleh jadi mimpi besar bagi saya, seorang anak nelayan yang tinggal di daerah pinggir pantai di Kota Padang. Di tempat saya tinggal, tak sedikit anak-anak nelayan yang hidupnya berakhir seperti orangtua mereka. Mereka yang sarjana, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Namun saya bertekad tak akan berakhir di laut sebagai nelayan, seperti ayah. Saya punya mimpi.

Ayah saya bilang, “Kejarlah dunia ini dengan pena,” sebuah nasihat terpenting. Bagi ayah, pena adalah simbol kemapanan dan hidup layak. Ayah selalu terobsesi suatu hari melihat anaknya bisa bekerja kantoran dan mengubah kehidupan keluarga. Ini membuat saya terpacu, sampai saya berjuang menembus Sekolah Menengah Pertama bergengsi lalu melanjutkan di SMA 1 Padang, sekolah unggulan di Padang.

Pertengahan tahun itu, saya berangkat meninggalkan kampung halaman. Orang Minangkabau punya prinsip hidup merantau, apalagi bagi pemudanya. Jadi saya pikir, sekolah di Jakarta, meninggalkan kampung halaman adalah sebuah keharusan, untuk kemudian kembali suatu hari membangun kampung.

Saya tak punya keluarga dan kerabat dekat di Jakarta, namun saya tak pernah risau karena sudah memperhitungkannya semua matang-matang. Saya siap dengan risiko hidup jauh terpisah dengan keluarga. Saya membawa pakaian, satu kardus buku favorit, namun saya tak membawa banyak uang. Sempat risau, seorang anak rantau hidup di tanah orang namun dengan bekal uang pas-pasan. Ayah saya tak menyiapkan banyak uang pada hari keberangkatan itu, kecuali nasihat-nasihat dan sebungkus rendang untuk perbekalan makan minggu pertama. Namun ia berjanji, “Bila cukup uang, ia akan mengirim sedikit uang.” Saya hanya mengangguk, dan tak membahas bagaimana ayah saya bisa mengirimkannya karena ia jarang —bahkan tak pernah — berurusan dengan bank.

Di hari pertama saya di Kampus UI Depok —saya pernah ke tempat ini dua tahun sebelumnya, dan saat kedatangan itu saya mengatakan: suatu saat saya akan menjadi mahasiswa kampus ini, dan ini terjadi — saya mengurus beasiswa. Keluarga kami tak akan pernah mampu untuk membayar biaya kuliah di UI yang mahal , setidaknya menurut perhitungan pendapatan ekonomi keluarga. Jadi, yang mungkin menyelamatkan saya adalah beasiswa. Saya mengikuti serangkaian seleksi beasiswa untuk mempertaruhkan semuanya: jika saya berhasil, saya tak perlu membayar sepeser pun hingga sarjana.

Saya hanya bermodal yakin dan sungguh-sungguh, sehingga seleksi itu berakhir dengan mudah dan berlangsung apa adanya. Panitia seleksi sempat menanyakan sesuatu dengan nada berseloroh, “Bagaimana kamu berangkat ke kota ini dari Padang, tidak nyebrang di Selat Sunda kan?”, saya bilang, “Bila hanya itu satu-satunya cara untuk bisa sampai di UI, saya akan melakukannya,” kata saya membalas, sehingga wawancara terasa sangat cair.

Saya melewati dengan mudah hari-hari pertama yang harusnya terasa berat itu. Saya mendapatkan beasiswanya, dan keluarga lega mengetahui kabar ini. Saya terbebas dari keharusan membayar biaya semester kuliah lima juta per bulan, dan menariknya, diberi biaya hidup (living cost) sebesar enam ratus ribu rupiah per bulan yang dikirimkan ke rekening enam bulan sekali lewat rekening. Jadilah, setiap penerima beasiswa membuka rekening dengan bank mitra kampus UI, Bank Negara Indonesia atau BNI yang membuka cabangnya di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Inilah kali pertama saya memiliki rekening pada Bank bertuliskan BNI46.

Di Padang, nama BNI46 ini sangat lekat, karena di Jalan Dobi, kantor Bank ini sempat terbakar dan sisa bangunannnya bertahan sekian tahun tanpa diperbaiki. Sementara untuk urusan menabung, saya mengikuti ibu yang setiap bulan mengantar kakek mengambil uang pensiun sebagai pejuang ’45, yang dialihwariskan kepada nenek, di sebuah bank milik pemerintah lainnya. Jadi sama sekali tak punya pengalaman apa-apa dengan BNI.

Kami, para penerima beasiswa harus bersabar karena baru menerima dana bulanan itu pada akhir semester. Sementara kami butuh biaya untuk membayar sewa tempat tinggal dan makan sehari-hari. Inilah saat yang mendebarkan, kami kerap bolak-balik mengecek rekening: dan berharap ada kiriman di sana. Saya tak punya harapan apa-apa selain menanti kiriman orangtua, namun saya juga tahu, meminta orangtua mengirimkan kiriman bulanan, itu sama sia-sianya seperti menimba air di laut. Dan, saya juga tak ingin orangtua terbeban. Tapi sekali waktu, saya harus mengatakan bahwa saya butuh kiriman. Ayah meminta tetangga kami yang sering berurusan dengan bank untuk mengirimkan sejumlah uang yang sanggup dikirim ayah. Tetangga itu juga tak punya rekening di BNI, sehingga dia meminta customer service BNI Cabang Kampus Universitas Negeri Padang mengirimkan ke rekening saya. Ah, lega. Akhirnya saya berhenti makan Indomie saat kiriman uang itu datang!

Selain kiriman orangtua yang sebenarnya tak pasti, ada satu “penyelamat” lainnya. Saya hobi menulis sejak kecil, dan rupanya hobi menulis itu “menyelamatkan” saya ketika saya dewasa. Sebetulnya, sejak di Padang, saya senang mengirimkan karya, entah itu puisi atau cerita pendek ke surat kabar atau majalah terbitan Jakarta. Jika dimuat, saya akan mendapat honorarium yang jumlahnya lumayan bagi seorang anak SMA. Bila dalam sebulan ada lima saja karya dimuat di media berbeda, saya bisa kantongi satu juta lebih.

Saat berkuliah di UI, hobi ini saya lanjutkan. Kadang, saat mengecek ATM BNI, saya mendapati saldo bertambah. Sekali waktu saya mengira ayah yang mengirimkan, namun rupanya tidak. Saya melacak pengirimnya, rupanya dari sebuah majalah ternama Ibukota. Sayangnya saya tak bisa produktif menulis karena semester awal kuliah sangat sibuk.

Semester kedua, semua mulai stabil. Saya mulai menikmati ritme kehidupan kampus sekaligus sebagai anak indekos perantauan. Saya tak menyia-nyiakan waktu terbuang percuma. Saya betul-betul memanfaatkannya dengan berbagai kegiatan positif. Saya mengikuti berbagai lomba dan berjanji menulis lebih banyak di media massa. Semester berikutnya, dan berikutnya lagi, saya tetap menggantungkan harapan pada beasiswa, namun sekarang saya sudah merasakan manisnya uang dari menulis. Namun di saat ini, orangtua saya mulai kesulitan mengirimkan uang, sehingga keadaannya sekarang terbalik. Saya yang harus mengirimkan uang untuk adik, karena saya punya tiga adik yang bersekolah, satu di SMA, satu di SMP dan satu lagi SD. Alamak, sekarang saya kebingungan bagaimana mengirimi mereka uang? Saya jadi ingat Paman saya yang seorang Kepala Sekolah di sebuah kota kecil di Sumatera Barat yang dulu berkirim wesel pos setiap kali mengirimkan uang bulanan untuk Ibunya —atau Nenek saya. Ibu saya yang sering menerima kiriman wesel itu masih menyimpan beberapa bukti sebagai kenangan. Tapi, di zaman dengan dunia perbankan super canggih ini, saya tak mungkin menggunakan wesel yang “jadul”. Solusinya adalah menitipkan uang itu kepada teman semasa sekolah yang memakai BNI, dan meminta dia menyerahkannya pada adik saya.

Semester demi semester saya lalui. Kadang berat, kadang ringan. Meski sempat terseok-seok dengan keuangan pas-pasan, dan dengan beasiswa yang sering datang terlambat, saya akhirnya menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga setengah tahun. Saya pikir akan sangat lama, namun malah sangat sebentar. Pada Februari 2015, saya wisuda. Saya lulus dengan predikit cum laude. Ayah dan Ibu saya datang pada hari paling membahagiakan dalam hidup saya itu.

Dan dari perjalanan panjang menggapai mimpi, saya sebenarnya tak (pernah) sendiri. Ada Tuhan yang selalu menjaga doa-doa saya. Ada orangtua yang melarang saya menyerah. Dan terakhir, ada seorang teman, bahkan perannya lebih dari seorang teman, karena telah menemani saya serta membantu menggapai mimpi, dialah: BNI.

Jakarta, Mei 2016

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blogging #70TahunBNI dengan tema “Pengalaman Bersama BNI

Iklan
Standar
Resensi

Usaha Menghadapi Bos Bongak

Salah satu adegan dalam film My Stupid Boss (2016) garapan Sutradara Upi. (Sumber: Liputan6/Falcon)

Salah satu adegan dalam film My Stupid Boss (2016) garapan Sutradara Upi. (Sumber: Liputan6/Falcon)

Duet Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari yang tak berpretensi melucu . Natural dan asyik, dengan visual bernuansa retro.

Apabila kamu bekerja di sebuah kantor yang memiliki bos menyebalkan, film terbaru Sutradara Upi ini, boleh jadi membuatmu seperti “menonton dirimu sendiri”. Diana (Bunga Citra Lestari), yang baru saja diangkat sebagai Kerani (dalam bahasa Melayu) alias Kepala Administrasi di sebuah perusahaan multinasional, bagai menghadapi mimpi terburuk sepanjang hidup: memiliki bos yang paling dibenci karyawan di seluruh dunia. Bayangkan saja: bos yang mau dipanggil Bossman (Reza Rahadian) ini akan menyerocos semaunya, dia akan membuatmu naik pitam karena tak mengizinkanmu bicara, sementara kamu tahu dia salah atau keliru, dan paling parah lagi dia pelupa, suka mencurigai, dan gemar membuat karyawannya menderita.

Kisah nyata seorang perempuan dengan akun pseudo Chaos@Work yang ditulis sejak 2005 dan kemudian dibukukan tiga tahun setelahnya dengan judul My Stupid Boss, sempat meledak di pasaran. Buku terbitan penerbit Gradien Mediatama di Yogyakarta itu kini memasuki edisi kelima. Dari empat buku itu, potongan kisah hubungan absurd seorang atasan alias bos dan bawahannya menarik perhatian rumah produksi Falcon Pictures untuk mengangkatnya ke layar lebar, dan sutradara Upi yang sempat menghilang beberapa tahun terakhir duduk di kursi sutradara.

Menjatuhkan pilihan kepada Reza Rahadian pilihan tepat Upi, karena semua aktor dalam film yang pernah digarap Upi adalah aikon. Ingat nama ini: Vino G. Bastian misalnya, dalam film-film garapan Upi: Realita, Cinta dan Rock’n Roll — bersama Herjunot Ali (2006), atau Radit Jani (2008) dan Serigala Terakhir (2009) telah menjadi karakter yang “hidup” bagi penontonnya. Ada nama lain: Abimana Aryasatya dalam Belenggu (2013). Jejak Upi tampak dalam aktor yang karakternya sangat kuat dan melekat, dan sulit membayangkan digantikan oleh nama lain.

Reza kali ini sunguh paham keinginan Upi untuk membuat sebuah film komedi tanpa memasang Komika alias aktor dari panggung lawak tunggal (stand up comedy), sehingga dari tampilan fisik bosnya saja, adalah sesuatu yang sudah lucu mengundang tawa: perut buncit, dan sabuk yang kedodoran, kepala nyaris botak — rambut asli Reza dilapisi bald cap yang kemudian ditambah rambut palsu—- dan jangan lupa, kumis segaris yang jadi bahan olokan karyawannya dengan kumis lele. Ah ya, Reza bahkan sengaja menciptakan suara tertawa yang khas sekaligus unik.

Upi membawa kita lebih dekat sekaligus bersimpatik pada tokoh Diana — yang sangat mewakili penontonnya—- saat terjebak kontrak kerja pada perusahaan Malaysia Sinar Berjaya, dan harus membayar penalti jika memutuskan keluar. Jadilah, hari demi hari terus dirongrong oleh Bossman yang tak pernah sedikitpun mendengar keluh kesah karyawannya: dari soal mesin penyejuk ruangan yang rusak, atau tagihan internet yang belum dibayar.  Dan jangan sesekali mencoba memberinya nasihat, bila tidak ingin mendengar dia mengatakan: Impossible We Do! Miracle We Try! Inilah prinsip Bossman, salahpun dia, dia tetap benar. Bossman always right. Dia mengaku “demokratis”, namun pendapat para karyawan hanyalah angin lalu.

Menarik melihat karakter Diana, seorang wanita Indonesia yang bersuamikan Dika, seorang konsultan perusahaan minyak (diperankan Alex Abbad), yang hidup nomaden ke berbagai negara dan berakhir di Kuala Lumpur, Malaysia. Jadilah, nasib tinggal dengan kehidupan Melayu super kental, dengan tetangga apartemen yang senang bergosip — termasuk menggosipkan artis Indonesia– serta sebuah keputusan bekerja dengan Bossman yang adalah sejawat suaminya saat kuliah di New York, Amerika Serikat.

Bunga Citra Lestari beruntung pernah berduet dengan Reza di film terdahulu, sehingga adu akting dengan Reza tak sulit lagi dilakukan, meski kali ini anti-tesis: tokoh yang harus dilawannya. Karakter Diana, sebagai seorang karyawan terzalimi karena ulah Bossman, cukup berhasil dimainkan dengan karakter Bunga yang sulit menahan kegusarannya, dan sebetulnya gampang meledak.

Belum lagi, setiap kali curhat tentang ulah Boss yang ia tuduh: “ada mur yang lepas dalam kepalanya” kepada Sang Suami, karena alasan pertemanan, si suami selalu mengatakan, “Dia emang gitu orangnya,” yang sontak membuat Diana kian gondok. Adegan saat Diana tertawa sendiri di tengah malam karena stres memikirkan upaya balas dendam pada bossnya, serta meneriakan kata dialah juara, adalah bagian yang terbaik karena sangat absurd. Tapi sayangnya karakter Diana ini membawa Unge tak menampilkan sesuatu yang “baru” kepada kita, jika mengingat Reza yang begitu segar dan “selalu baru”. Di balik itu, sebuah “bonus” karena Unge cukup popular dan tak asing bagi penonton di Malaysia, mengingat film ini hasil kolaborasi sineas Indonesia-Malaysia yang dibuat untuk pasar di Asia Tenggara.

Aktor Malaysia yang tampil di film ini betul-betul mendukung: Sikin (Atikah Suhaime), Adrian (Bront Palarae), Mr. Kho (Chew Kinwah) dan Azhari (Iskandar Zulkarnain). Mereka semua adalah orang Malaysia asli, berlogat Melayu yang hanya melongo karena tak mengerti betul apa yang disampaikan Bossman. Bos berkata, anak buah berkata, namun tidak ada yang saling mengerti. Belum lagi, karyawan ini berasal dari berbagai negara dan berbeda bahasa: Melayu, Tionghoa, India dan Korea, namun mereka ada di satu perusahaan dengan bos asal Indonesia yang super aneh dalam banyak hal. Sebuah gambaran menarik tentang apa jadinya jika komunitas antar-ras terhalang bahasa, relevan dengan kondisi perdagangan bebas yang tengah kita hadapi, khususnya di Asia Tenggara –yang kita sebut sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN. Film ini menarik untuk dilihat dan dikaji dari berbagai sisi, dan dari sisi budaya adalah yang paling seksi.

Sebagai sebuah film komedi, sekaligus menjadi film komedi ketiga Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta (2004 – drama komedi), Red CobeX (2010), Upi sangat berhasil menyusun sebuah kelucuan dengan mengandalkan adegan atau situasi. Sepanjang film semua aktor tak berpretensi melucu. Ingat adegan saat karyawan Bossman yang harus bergantian “ngadem” dengan cara membuka kulkas, dan hampir semua adegan, kelucuan justru datang karena kelucuan adegan dan situasi itu sendiri, tanpa dibuat-buat. Di saat industri kita “sibuk” dengan film komedi yang mengandalkan komika, Upi justru sama sekali tak memasang satupun komika yang konon jago menjual tawa. Sebuah usaha yang berhasil dan patut dipuji karena melawan tren.

Dan tak terbayangkan pula jika Upi benar-benar mundur saat ditawari H.B. Naveen dari Falcon menggarap film ini. Upi sempat mundur karena bingung menemukan cara meramu kisah yang dibangun dengan konflik melulu, sehingga sulit dialihwahanakan ke film, apalagi My Stupid Boss menjadi film pertama yang diarahkan sekaligus ditulis Upi dari sebuah novel. Dan solusinya adalah dengan memotong bagian-bagian untuk merangkai kembali menjadi sebuah alur kisahan yang solid dan saling terkait, dan bahkan nyaris berujung subtil tak tertebak.

Hal lain menarik dari film ini tentu saja dari bagaimana visual yang unik. Diana ditampilkan dengan setelan busana khas Korea: menggunakan boots dan tas ransel vintage berwarna dominan kuning, hijau dan merah. Penataan artistik yang memiliki “mood” tersendiri. Satu hal lain yang patut dibahas, Upi tak ketinggalan untuk memasukkan sisi lain Malaysia, yang salah satunya lekat dengan musik Melayu. Jadilah lagu “Gerimis Mengundang” yang pernah dipopulerkan musik Malaysia Slam pada awal 1990-an muncul menjadi musik latar bersama sejumlah musik Melayu lainnya.

Upi telah memecahkan tantangan membuat film komedi yang dianggap susah. Ia akhirnya memilihkan sebuah akhir kisah komedi yang tak terbayangkan sebelumnya. Penonton akan dimanjakan dengan komedi yang segar dan tak asal-asalan, namun juga bisa menarik sebuah pandangan berbeda: bahwa sebagai bos yang bongak, semaunya dan menyebalkan, dia jugalah seorang suami yang bahkan “tunduk” pada kemauan istri. Dia juga manusia biasa yang punya hati. Dan jangan lupa, bahwa karakter bos ini tak melulu menyebalkan, ada nilai yang penting darinya: tentang keharusan bermimpi dan tak membiarkan karyawannya bermental tempe. Ada sedikit kesempatan bagi Upi untuk menggugah penonton sehingga membungkus film ini menjadi sebuah tontonan yang tidak akan berlalu begitu saja di benak penontonnya. Seperti kata Dika, “Dia emang gitu orangnya, tapi orangnya baik.” Sebaik Upi mengakhir kisah absurd ini.

DODI PRANANDA, Penggemar Film

 

MY STUPID BOSS

Sutradara: Upi  Penulis Skenario: Upi, berdasarkan buku My Stupid Boss karangan Chaos@Work, Pemain: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Alex Abbad, Melissa Karim, Chew Kinwah, Bront Palarae, Atikah Suhaime, Iskandar Zulkarnain Produksi: Falcon Pictures

Standar
Resensi

Ada Apa dengan Cinta yang Serba Tanggung

Salah satu adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2 (Dok. Miles Film)

Salah satu adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2 (Dok. Miles Film)

MASIH adakah cinta setelah empat belas tahun berlalu?

Kita merindukan sepasang idola ini selama empat belas tahun lamanya: Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra). Kemudian pada waktu yang entah tepat atau tidak, akhirnya Riri Riza duduk di kursi sutradara menyelesaikan pertanyaan yang menggantung: masih adakah cinta setelah tahun-tahun dan sekian purnama berlalu?

Begitu banyak yang berubah. Masih ingat saat terakhir itu? Sebuah ciuman pertama di bandara, sekaligus yang terakhir. Masih ingat jugakah Mamet (Dennis Adhiswara), yang begitu mengidolakan Cinta, lantas kini berbalik menikahi Miss Tulalit, Mili (Sisy Priscillia). Bagaimana pula Alya (Ladya Cheryl), Maura (Titi Kamal), dan Karmen (Adinia Wirasti)? Sekarang mereka muncul kembali, membuka masa lalu untuk kemudian menyelesaikannya.

Sebuah tantangan sekaligus tanggung jawab besar, kursi sutradara ditempati Riri Riza yang semula sebagai Produser mendampingi Mira Lesmana. Film pertama yang tayang pada 2002, Rangga dan Cinta tidak hanya menjadi karakter yang begitu kita sayangi, dan kita miliki kisahnya, tapi tak berlebihan disebut “legenda”. Suatu langkah yang tidak mudah, namun Riri Riza telah memilihnya.

Akhirnya, kita melihat Cinta lagi. Masih secantik saat dia belia: lincah, pintar, ceria, sekaligus rapuh soal cinta. Juga Rangga: kecuekannya, sisi romantisnya, dan juga sikapnya yang misterius. Cinta, tokoh idola kita yang dulu hobi menulis dan membaca – dan mengurus mading- sekarang adalah pemilik galeri seni. Semua memang tidak sama lagi, karena telah bertumbuh dewasa. Sudah ada Trian (Ario Bayu), pengusaha kaya, tempat cinta berakhir.

***

Masih ingat buku Aku karya Suman Djaya membuat kisah dua anak manusia ini mengalir begitu indah. Puisi melekat begitu kuat —puisi-puisi indah Rako Prijanto. Sekarang buku itu juga masih ada, simbol masa lalu, yang dimasukkan Cinta ke dalam sebuah kotak kenangan yang dibuka kembali. Surat terakhir itu — surat romantis yang biasanya berisi puisi-puisi indah Rangga, namun kali itu adalah kalimat perpisahan. Lalu dengan pikiran bolak-balik akhirnya masa lalu itu dibuang juga ke keranjang sampah.

Ini membuat kita mempertanyakan: kenapa segala sesuatu tentang sastra itu: buku, puisi, latar toko buku bekas di Kwitang, Senen (ingat soal Limbong, dan tentang teori perempuan menoleh tanda ingin dikejar?), serta lagu berlirik puitis racikan Melly Goeslow dan Anto Hoed, telah mengisi serta menjalin dan berkelindan dengan keseluruhan cerita, serta bisa dibilang penggerak alur, kini tak berperan besar lagi?

Ingat lagi soal puisi terakhir: Perempuanku, yang meminta Cinta menunggu satu purnama. Artinya, film ini saat pertama kali meluncur pada 2002 muncul dengan corak berbeda, yang menjadikan sastra sebagai sebuah objek penting. Lalu kini? Masih ada puisi memang, yang dipercayakan kepada Aan Mansyur: begitu indah, dewasa, dan penuh emosi, namun kali ini hanyalah “lipstik”. Perhatikan baik-baik buku Haruki Murakami, buku Aan Mansyur, serta puisi yang disuarakan tokoh Rangga menjadi sekadar “lipstik” belaka. Buku-buku sastra itu hanya menjadi properti belaka.

Dulu, puisi kita bisa rasakan saat Cinta duduk di koridor sekolah, lalu bersama keduanya menyitir bagian-bagian puisi Chairil Anwar: bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing (Pemberian Tahu, Chairil Anwar, 1946). Indah rasanya, sekaligus manis. Tapi, Aan Mansyur yang begitu kuat menulis kepedihan hati seseorang yang hampir menyesal, namun tak ingin membunuh cintanya, menulis: lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi (Batas, Aan Mansyur, dalam buku Tak Ada New York Hari Ini, 2016), berakhir sebagai puisi tempelan yang tidak menggerakan plot.

Lalu berhasilkan peran Cinta dan Rangga dihidupkan kembali? Sebuah usaha yang tidak mudah, tapi kita harus menyaksikannya. Kita masih melihat yang dulu, sepasang yang dilipur cinta, namun kadang juga membenci. Riri Riza ingin kita melihat sepasang ini sebagai Jesse Wallace (Ethan Hawke) dan Céline (Julie Delpy) dalam Before Sunrise (1995), yang adalah kunci utama plot: mereka bergerak semaunya, membicarakan apa saja, dan sekaligus penentu keberhasilan kisah. Namun berat mengatakan bahwa itu semua adalah obsesi yang gagal, karena Riri tak seperti Richard Linklater yang mampu membuat jalinan Jesse dan Céline begitu organik, seolah kita tidak sedang menyimak film, tapi mendengar teman yang mengobrol apa saja.

***

Jogja dipilih sebagai latar, dan pastilah kita berharap latar ini berperan pada mau dibawa kemanakah kisah yang “tertidur” lama ini. Yadi Sugandi sebagai penanggungjawab sinematografi diakui berhasil menyuguhkankan kita Jogja yang jarang kita lihat dari penampakan Jogja pada umumnya dalam film atau sinema televisi. Tapi, apakah Rangga dan Cinta mampu “memainkan” latarnya? Akhirnya jadilah kita teringat 3 Hari untuk Selamanya, garapan Riri Riza pada 2007 yang mempertemukan Nicholas Saputra (sebagai Yusuf) dan Adinia Wirasti (Ambar): sebagai sebuah road movie. Menarik melihat percakapan yang “suka-suka” antara Yusuf dan Ambar, namun tidak semenarik yang ini. Menghabiskan semalam suntuk bersama Rangga dan Cinta membawa kita melihat Jogja yang tak biasa, sembari menyelesaikan konflik lama. Banyak topik yang diumbar, namun hambar. Apa kabar skenario racikan Riri, Mira dan Prima Rusdi yang tidak greget, bahkan sangat klise sebagai sebuah bahan. Lagi-lagi, dulu, jejak Jujur Prananto yang begitu kuat: membuat kita bisa merasakan betapa menariknya sepasang anak urban yang hidup di Jakarta melawan stereotipe: bukan anak mal, atau anak dugem, mereka adalah pembaca buku, mereka ada di toko buku, mereka adalah penggemar musik-musik yang tenang di kafe, sekaligus membicarakan isu-isu penting: terpercik juga bahasan komunisme, walau tidak mendalam. Sekarang? Nyaris tanpa subtansi, dan serba tanggung.

Di sebuah situs sejarah, mereka membicarakan politik: yang jelas-jelas mengarah ke Pemilihan Presiden 2014 (perhatikan baju yang dipakai Rangga –kotak kotak), lalu ada kalimat sepertinya kita milih yang sama, dan ada sindiran: nyesel gak? Yang sebenarnya menarik tapi tak tergali karena dibahas sepintas. Ada juga teater boneka, ada juga Punthuk Setumbu yang menjadi bagian penting: namun tak banyak yang dibahas selain percakapan soal beda traveling dan jalan-jalan yang konyol —selain baha kita melihat sosok Nicholas yang asli dengan hobi traveling-nya. Keseluruhannnya justru membuat kita bertanya: ada apa? Ada apa dengan skenario keduanya, kenapa serba tanggung, hambar dan sangat klise. Ingat percakapan Yusuf dan Ambar sepanjang perjalanan Jakarta menuju Jogja: liar, penuh gejolak, tidak tertebak, sekaligus mendalam. Penuh gairah anak muda yang tak hirau tabu. Bagaimana mungkin percakapan sepasang yang terpisah begitu lama, malah sangat kanak-kanak.

***

Singkatnya: apa yang dipakai tokoh, dilewati, dirasakan, ditonton hanya berlalu begitu saja. Kenapa tidak terpikir untuk membahas teater boneka yang mereka tonton, atau lukisan yang dilihat saat di pameran, atau membahas nama lain setelah Chairil Anwar dan Sumandjaya. Hidup di New York bertahun-tahun, pastilah membuat Rangga tumbuh pula dengan literatur sastra asing yang kanon ataupun modern: andaikan mereka membahas Harper Lee, Haruki Murakami (yang tergeletak saja di meja galeri Cinta dan rumah Rangga), atau barangkali Etgar Keret? Atau siapalah.

Soal akting, ada apa dengan Cinta yang tak semenarik dulu menghidupkan perannya. Dulu Cinta begitu melekat dan terkenang, sekarang begitu datar dan dibuat-buat: perhatikan saat di vila, saat di pameran dan di kafe (selain kalimat yang akhirnya jadi olokan: RANGGA, APA YANG KAMU LAKUKAN KE SAYA ITU JAHAT!”), tapi tunggu sebentar, Rangga masih seperti dulu: tak tertebak, misterius dan romantis. Namun, hampir separuh film berjalan, dia menjadi tak seistimewa yang dulu, kecuali adegan pulang ke rumah, setelah berdamai dengan semuanya. Saat memeluk sang ibu yang ia benci sepanjang hidupnya (bahkan di film pertama ia tak mau membahasnya saat cinta bertanya di mana ibunya), dan meneteskan air mata. Itulah Rangga, kita betul-betul melihatnya di situ: adegan yang khas Rangga, emosi tertahan yang meledak juga.

Sebentar, sebentar, soal teman-teman cinta, ah, mereka tetap semenarik yang dulu. Prima Rusdi yang menggawangi skrip untuk para geng Cinta ini memang tak gagal menulis karakter yang konsisten: bahkan untuk Mili, kita sangat setuju dialah yang membuat kita tak berhenti tertawa sepanjang film ini diputar. Mili adalah magnet komedi, yang pada film pertama sangat berhasil dilakukannya bersama Mamet.

Namun berat mengatakan, film ini digarap serba tanggung. Entah apa yang membuat Riri Riza terkesan buru-buru. Andai saja ia masih sabar menunggu, misalnya, untuk urusan menunggu Ladya Cheryl yang tengah sekolah di luar negeri pulang, dan bila Alya tak absen, pastilah yang kita saksikan tak seperti yang ini. Namun tak ada Alya, tak ada juga New York yang kita harapkan: sebagai latar kisah Rangga, dan juga akhir kisah yang selesai biasa-biasa saja. Lihat juga betapa buru-burunya film ini pada pengambilan gambarnya yang terlalu banyak goyang (shacking), penyuntingan yang tak lembut, pewarnaan (grading) film yang tak maksimal. Lalu, kemana lirik-lirik indah lagu garapan Melly seperti pada film pertama? Yang justru memberi ruh begitu besar, sekarang hilang di telan Satu Purnama. Kita mempertanyakan semua yang telah baik pada film pertama, yang seharusnya dipertahankan namun menjadi tidak menarik lagi di film ini. Bahkan, harus merelakan film ini begitu banyak menebar iklan-iklan komersial yang sebetulnya menganggu.

***

Sekali lagi, apakah Ada Apa Dengan Cinta 2? muncul di waktu yang tepat atau tidak, Riri Riza dan tim telah memberi jawaban atas pertanyaan empat belas tahun yang terus kita nanti. Puas atau tidak, kita berhak menilai masing-masing tanpa harus bertanya lagi, karena memang sejak dulu kita sudah memiliki kisahnya, dan juga sepasang idola itu: bagaimanapun dan apapun yang terjadi pada mereka, cinta kita kepada keduanya tetap ada. (*)

DODI PRANANDA

ADA APA DENGAN CINTA 2
Sutradara        : Riri Riza
Skenario          : Mira Lesmana dan Prima Rusdi
Pemain            : Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Priscillia, Dennis Adhiswara, Christian Sugiono, Sarita Thaib, Dimmi Cindyastira
Produksi          : Miles Films dan Legacy Pictures

 

 

 

Standar
Resensi

Balada Sari dan Sekeping DVD

Sari dan Alek dalam film A Copy of My Mind (Sumber foto: tiff.net)

Sari dan Alek dalam film A Copy of My Mind (Sumber foto: tiff.net)

Film terbaru Joko Anwar soal Jakarta yang jarang kita lihat. Romantis, sederhana dan gelap. Sekaligus menjadi kapsul waktu perpolitikan Indonesia kini. Layak diganjar tujuh nominasi Piala Citra 2015.

Dari dulu, kita mungkin sudah mengenal atau pura-pura melupakan wajah Jakarta yang ini: rumah- rumah padat berdempetan, udara yang pengap, jalan tikus menuju kosan yang kumal dan bau bacin.

Di antara kehidupan menara gading, di gedung bertingkat, di tengah Jakarta yang gemerlapan, Jakarta adalah rumah yang juga dihuni orang kecil seperti Sari (Tara Basro) seorang pekerja salon dan juga Alek (Chicco Jerikho) si tukang pembuat terjemahan “ngaco” DVD bajakan.

Sari menggambarkan wajah kaum bawah (kalau tak disebut kaum proletar) ibukota: hidup-makan-bekerja-mencari kerja-pulang-tidur. Seolah hidup ini indah, kata seorang tukang sajak, aku menangis sepuas-puasnya (bagi Sari boleh jadi: aku menonton DVD sepuas-puasnya). Namun Sari betul-betul menikmati hidupnya: ada di bus kota bersama wajah-wajah yang bercucur peluh, terkantuk-kantuk, ribut dan bising. Juga pekerjaannya, mendengar celoteh para ibu-ibu apa saja sambil memijit dan memencet jerawat di wajah tamu salon.

Joko Anwar mungkin memahami kemuakan kita dibenamkan mimpi palsu kebanyakan orang memandang Jakarta atau seperti Jakarta yang digambarkan dalam film buku atau karya seni lainnya (atau dalam imajinasi orang desa memandang kota), sehingga karakter Sari membuat kita sejenak menjadi sosok yang apa adanya, yang tak pusing-pusing amat memikirkan esok, tak peduli amat ingar bingar dan riuh rendah politik. Karena memang tidak terlibat.

Atau mungkin seperti Alek, yang sepanjang harinya dihabiskan menerjemahkan DVD bajakan untuk menyambung hidup, sambil berjudi dalam kelam malam Jakarta. Kedua karakter kita ini bukanlah manusia yang menginginkan segala. Hidup ini bagi Sari mudah, ibarat: makan tak makan asal nonton DVD. Satu mimpi terbesarnya hanyalah memiliki televisi layar besar supaya puas menonton.

Bukan tak mungkin, hidup yang payah, tumbuh cinta di sana. Kali ini, adegan bercinta Sari dan Alek di indekos Alek yang sumpek, gerah, dan kusam, di situlah cinta tumbuh. Masih ada kesempatan bagi Sari membuat lelucon: meminta Alek menyetel video porno gay saat mereka asyik bercinta, dan selepasnya Sari berceletoh tentang film kesukaannya.

Namun, sekali waktu hobi Sari menonton (juga sesekali hobi mencuri sekeping DVD)  adalah malapetaka yang membuat kita berhenti dari kehidupan yang apa adanya. DVD kali ini bukan DVD dengan terjemahan sembrono buatan Alek, DVD yang dicuri Sari dari klien spesial di penjara Bu Mirna (Maera Panigoro) adalah obrolan soal “apel” (sandi untuk membicarakan uang-uang pelicin di kalangan elite politik) dengan pejabat negeri. Dan, pada bagian inilah, kita merasakan denyut gelap Jakarta. Tak ada kompromi bagi yang telanjur berurusan dengan politik: sekecil apapun tetap kena imbas, tak ada maaf, tak ada ampun, segalanya karena kuasa politik harus terbayarkan, bahkan nyawa adalah pembayarnya. Orang bawah seperti Sari yang tak terlibat, harus menerima akibat.

Harus diakui, Joko telah membuat hampir dua jam waktu kita menyantap sebuah visual Jakarta yang tak biasa (Joko sempat twit foto dia makan di pinggiran Jakarta, berlantaikan tanah, makan di sela syuting, pun para artisnya), kehidupan di daerah pecinan Glodok, atau kosan tempat Sari tinggal telah membawa kita menjadi penonton film drama rasa dokumenter. Juga dengan pergerakan kamera (camera work) yang membuat kita merasa berada di latar. Joko menakar semua dengan pas, sehingga emosi atau bumbu drama terasa tak berlebihan.

Sekaligus film A Copy of My Mind menjadi kapsul waktu untuk melacak jejak perpolitikan Indonesia pada kurun 2014-2015, di mana politik terasa panas, riuh rendah orang-orang yang terbelah haluan politik, “membakar”, seperti matahari Jakarta yang garang. “Kita mencoba membuat sebuah rekaman zaman, ini periode penting, ada pemilihan presiden,” kata Joko Anwar ketika diwawancara sebuah televisi swasta nasional.

Mungkin bila anak cucu kita bertanya seperti apa Indonesia pada tahun 2014-2015, meski berlabel film drama, A Copy of My Mind adalah jawabannya, bukti otentik kehidupan politik negara kita yang wajah perpolitikannya coreng-moreng, penuh korupsi dan intrik. Dan, Joko Anwar tahu betul bagaimana mengemas semuanya menjadi otentik. Semua terasa alami, sehingga membuat kita sebagai penonton bukan lagi orang yang duduk manis di bangku bioskop, tapi kita adalah bagian dari setiap adegan. Jakarta itu sendiri.

Karena segala kenaturalan visual, pantaslah, sepulang dari bioskop, atau  hingga kapanpun setiap adegan dalam A Copy of My Mind akan terus-terusan terkenang dan terputar dalam pikiran kita. Sari atau Alek barangkali juga wajah kita sendiri, orang bawah yang tak terlibat, namun bisa saja terjebak dalam Jakarta yang tak tertebak. (DODI PRANANDA)

A COPY OF MY MIND
Sutradara : Joko Anwar
Skenario : Joko Anwar
Pemain : Tara Basro, Chicco Jerikho, Paul Agusta, Maera Panigoro
Produksi : Lo Fi Flicks dan CJ Entertainment

Standar
Resensi

Badut yang Mematikan

Sumber: flickmagazine.net

Sumber: flickmagazine.net

Debut dari dapur DT Films yang mengembalikan kepercayaan kita pada film horor dalam negeri.

Percayalah, kali ini kita bisa menikmati film horor dalam negeri dengan citarasa mengejutkan ala horor Amerika.

Kita tidak akan menyimak atraksi menggelikan seperti yang dilakukan kebanyakan badut dalam acara ulang tahun atau pasar malam. Ini bukan badut yang disukai anak-anak, yang kerap mengundang tawa. Kita sedang menghadapi badut yang anti-tesis: badut yang mematikan. Dia tidak hanya menakutkan karena mimik wajahnya, dengan rupa sarat gincu. Badut kali ini adalah simbol maut.

Adalah Donald (Daniel Topan) penghuni sebuah rumah susun yang hidup dengan Farel (Christoffer Nelwan), yang semula hidup (tak) tentram, meski kerap ditagih uang sewa rusun oleh Raisa (Ratu Felisha). Belum lagi, Donald harus dibayangi teror ‘apa kabar skrispi’ dari Kayla (Aurelie Moeremans), sahabatnya yang nyinyir. Sampai suatu hari Vino, anak Raisa, mendapatkan sebuah kotak musik usang yang membawa petaka. Kotak yang telah membangkitkan Sang Badut.

Film bertajuk ‘Badoet’ yang dibidani rumah produksi DT Films telah mengikuti jejak Tuyul (2015) garapan Sutradara Billy Christian, yang juga dibicarakan karena kesungguhan akan mengembalikan kualitas film horor Indonesia. Selama ini penonton terus-terusan digentayani hantu yang itu-itu saja.

“Horor masih safe,” kata Daniel saat premiere beberapa waktu lalu di Epicentrum, saat menanggapi bagaimana pasar film horor saat ini. Selama ini film horor dianggap aman untuk berinvestasi di industri, dengan bujet yang relatif murah, namun tak perlu khawatir risiko merugi. “Kita bikin bukan karena itu, tapi karena ingin yang beda. Penonton capek dikasih Pocong dan Kuntilanak melulu. Saking bedanya, disukai banyak negara,” sebutnya. Sejumlah negara seperti Amerika dan India sudah menantikan ‘Badoet’.

Kita melihat kesungguhan pada visi sang Produser, Daniel, yang konon menggelontorkan hampir 3 milyar. Sebuah ongkos produksi yang terbilang besar untuk film horor, dibanding karya kebanyakan yang selama ini sibuk menjual bintang-bintang panas dan selipan adegan sensual. Lima rusun empat lantai dan sebuah pasar malam ditutup demi kebutuhan film. Formula baru Daniel menyajikan horor bisa dikatakan berhasil. Tak semua orang punya kesan bahwa badut itu sesuatu yang lucu. Ada sesuatu yang tersimpan di balik wajah penuh gincu, hidung merah besar, dan rambut warna-warni. Badut adalah misteri. Datang membawa tawa, pulang membawa nyawa, kata tagline film ini. Sampai-sampai Daniel dan Sutradara Awi Suryadi sendiri juga penakut pada badut.

Namun, di balik bungkus yang rapi, kita harus menelan kecewa dengan beberapa bagian yang terasa menuntut penjelasan. Barangkali Anda setuju bahwa tak puas dengan latar belakang kehidupan Si Badut. Penjelasan lewat tokoh ketiga, Nikki (Tiara Westlake), apa yang menimpanya Si Badut yang diperankan Ronny Tjandra pada masa lalu sehingga ia harus berakhir di ruang jagal. Motifnya lemah. Dan apapula hubungannya dengan hanya sekadar kotak musik. Apa arti kotak musik dalam hidup Si Badut menguap begitu saja?

Menggunakan karakter Nikki, yang muncul karena ribut soal bola di media sosial dengan Donald untuk urusan mengisahkan misteri si Badut terasa sangat kebetulan. Apa kabar kalau komentator bola bukan anak indigo, apakah para tokoh bisa menyelesaikan masalah? Kita tahu, rumah susun adalah rumah dengan berbagai lapis masyarakat. Menaruh tokoh sang juru selamat sebagai salah satu penghuni rusun mungkin akan lebih baik.

Hampir semua pemeran juga bermain biasa saja. Tidak ada yang begitu menonjol, kecuali Vino yang berhasil tampil sangat natural. Adegan Vino kesurupan, dan saat ia tak bisa diajak berkomunikasi selain terus menggambar badut adalah yang terbaik. Tiara Westlake cukup meyakinkan sebagai anak Indigo. Sang Badut yang mematikan (diperankan Ronny Tjandra), berhasil membuat kita ketakutan pada badut, setidaknya pada film ini. Daniel pun mengaku harus mengimpor tukang rias dari Abang Sam hanya demi membuat Ronny sebagai badut paling mengerakan di seluruh dunia.

Selain efek kejut yang asyik, yang tidak lazim dari sekadar hantu yang tiba-tiba sebagai pemicu menyeramkan adalah elemen horor dari benda seputar badut. Entah itu balon, kotak musik, dan lagu dari kotak musik. Ditambah dengan sudut-sudut gambar Awi Suryadi yang tak biasa: lorong-lorong panjang rumah susun yang sunyi, balon yang terbang, kamera jungkir balik, dan pilihan angle yang menarik sehingga menyumbang efek menyeramkan. Inilah yang membuat kita bisa mengatakan film ini digarap dengan sungguh-sungguh.

Akhirnya kita sampai pada sebuah akhir yang ditutup dengan pertanyaan begini: “… ketika film horor kita sudah pelan-pelan membaik kualitasnya, sudah siapkah kita sebagai penonton untuk memberikan kepercayaan itu lagi dengan datang ke bioskop?” (*)

BADOET

Sutradara: Awi Suryadi, Penulis: Agasyah Karim, Khalid Kashogi, Awi Suryadi, Pemain: Daniel Topan, Aureloe Moeremans, Ratu Felisha, Christoffer Nelwan, Tiara Westlake, Marcel Chandrawinata, Ronny Tjandra, Produksi: DT Films

Standar
Resensi

Sebuah Perjalanan Menemukan

Sumber: Muvila.com

Sumber: Muvila.com

Film panjang Ismail Basbeth yang mampu “mengisi” penonton. Sarat akan renungan.

Pak Mahmud (Deddy Sutomo) adalah sosok penganut agama super taat. Apa-apa yang ia kerjakan, agama selalu jadi tiangnya. Ia tak ambil pusing usaha kedainya tak beroleh banyak untung, sebab kredonya berjualan bukanlah untuk mencari untung, melainkan sebuah ibadah. Pedagang lain terang naik pitam, menuduh Pak Mahmud “menjual agama” dalam berjualan, maklum pembeli memilih kedai Pak Mahmud yang serba murah. Dan dari kegusaran kelompok pedagang diwakili si ibu-ibu ceplas-ceplos, yang mengatakan departemen urusan agama hambur-hambur uang milyaran rupiah hanya untuk melihat hilal membuat Pak Mahmud tertohok. Si Bapak teringat tradisi purba di pesantren: kirab mencari hilal yang tak perlu banyak uang. Namun, para kawan tak mungkin kirab karena ada yang menghabiskan usia senja di kursi roda atau yang sibuk dengan ambisi kuasa, dan entah yang lain. Dengan atau tanpa kawan, Pak Mahmud tetap mencari. Dan dimulailah perjalanannya…

Dengan mengambil gaya penceritaan film perjalanan (road movie) kita diajak Sutradara Ismail Basbeth mengikuti setiap cerita yang dilalui Pak Mahmud dalam usaha “mencari hilal”. Sebagai film komersial, Ismail cukup lentur bercerita menggambarkan betapa urusan perbedaan bahkan juga terjadi dalam satu tubuh agama yang sama, alih-alih hanya dikatakan memicu konflik horizontal antaragama. Dikatakan lentur, karena berusaha mendekatkan dengan penonton, dan ramah untuk semua kalangan. Kita harus bersyukur bisa menikmati film ini hanya dengan membuka pikiran dan hati, tidak seperti film eksperimental non-komersial yang telah dimulai Ismail sejak tahun 2010, lewat film dokumenter  abang becak Jogja yang tidak gagap teknologi, Harry van Yogya (2010), dan dijamin tidak membuat kening berkerut sepanjang film diputar seperti saat menyimak Shelter (2011), Ritual (2011), Maling (2013), dan yang terakhir, yang cukup ramai dibicarakan –-yakinlah kenapa dibicarakan lantaran banyak yang bertanya-tanya setelah menontonnya–  Another Trip to the Moon (2014)

Tapi, bila kita selami hingga ke dasar, pastilah kita tahu bahwa sang sutradara tak punya pretensi sedang berdakwah macam-macam apalagi bermaksud menjejali kita dengan seruan menggurui. Selama sembilan puluh menit, kita disuguhkan tema besar tentang hubungan bapak dan anak dalam menjalankan kehidupan di tengah-tengah kehidupan beragama yang rentan rebut akibat perbedaan. Jalinan ceritanya begitu solid, sederhana namun berkesan dengan adegan tanpa dialog, namun penuh emosi. Usaha yang baik dari penulisnya Salman Aristo dan Bagus Bramanti.

Perjalanan mencari hilal sesungguhnya perjalanan dua generasi yang berbeda latar kehidupan. Satunya adalah seorang bapak yang ditopang dengan nilai agama tradisi yang kuat, satu lagi si anak hidup di dunia teknologi yang maunya enak dan serba mudah kalau tidak dikatakan pragmatis. Kita lihat saja saat sang aktivis, anak si bapak, Heli (Oka Antara) terpaksa menemani “urusan” sang bapak karena diganjar pamrih akan dibantu mengurus paspor yang waktunya sudah mepet oleh kakaknya “orang dalam” Halida (Erythrina Baskoro), karena Heli hendak dikirim ke Nikaragua untuk misi sosial. Selain itu, Heli juga gambaran terbalik bapaknya: malas salat, tidak puasa, dan jauh dari ritual agama. Dalam usaha mencari hilal, kita melihat keduanya berjalan bersama, namun pikiran dan tindak tanduk keduanya bersimpang jalan. Sesekali Pak Mahmud menuruti kemudahan teknologi versi Heli misalnya saat adegan mencari alamat, tapi lebih sering melakukan dengan caranya sendiri.

Karakter Mahmud yang pantang kalah berdebat, selalu merasa benar, dan hidupnya seolah hanya untuk agama mengingatkan kita pada karakter Haji Soleh dalam cerpen Robohnya Surau Kami milik A.A Navis. Kemiripan itu semakin kental ketika Heli adu mulut dengan sang bapak di tempat yang dituduh Pak Mahmud telah menjalankan agama dengan cara yang salah. “Kebenaran versi siapa?” kata Heli naik pitam. Di situ kita tahu bahwa Heli memendam perih yang purba, karena saat ibunya sakit si bapak sibuk berdakwah. Suatu yang tidak termaafkan, dan tak terekspresikan sepanjang hidupnya. Hal yang sama juga pada Haji Soleh yang sibuk mengejar akhirat, namun luput melakukan urusan dunia.

Dan bila kita sampai pada akhir cerita, dengan metafora yang tak terbayangkan sebelumnya sebagai penutup, kita dikejutkan dengan makna lain mencari hilal. Kita tahu, seorang pria di usia senja seperti Mahmud tak akan mungkin lagi melakukan perjalanan itu. Perjalanan mencari hilal juga bisa dimaknai sebagai perjalanan menemukan si anak yang tak lagi “dikenal” bapaknya. Orangtua mana yang sanggup berkata-kata jika dikatakan oleh anak sebagai bapak gagal mengurus anak dan keluarga. Namun Pak Mahmud sungguh telah mendapatkan yang dicari bahkan saat separuh jalan: Heli memang cuek pada agama, namun dia pribadi yang peduli, anak baik yang berkat caranya sendiri, bisa membuat kegaduhan beragama bisa damai dan rukun dengan pendekatan musyawarah. Meski tak sampai pada mencari hilal sesungguhnya, Mahmud sudah menemukan lebih dari yang ia cari “si anak yang hilang”, yang kembali. Sangat mampu “mengisi” penontonnya tanpa sedikitpun terasa menggurui.

Ismail Basbeth, luar biasa!

MENCARI HILAL

Sutradara: Ismail Basbeth Pemain: Deddy Hutomo, Oka Antara, Torro Margens, Erythrina Baskoro Penulis: Salman Aristo, Bagus Bramanti Produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film, Mizan Productions

 

Standar
Resensi

Tiga Menguak Pahit

Foto: www.jagatreview.com

Adegan Ben, Jody, dan El di kedai kopi Pak Seno (Foto: http://www.jagatreview.com)

Kisah tiga orang yang punya cerita masing-masing, seperti kopi yang tak bisa menyembunyikan bagian pahitnya.

Persoalan kopi, bukan hanya persoalan kepala. Tapi juga soal hati. Ben (Chico Jericho), yang jadi sentral cerita dalam film ini adalah tokoh yang penuh obsesi membuat kopi terbaik. Dalam setiap upaya meracik kopi, yang terbayang olehnya adalah cara untuk menemukan kesempurnaan. Ben punya kredo bahwa kopi yang enak selalu menemukan penikmatnya. Kopi adalah dunia sunyinya. Meski menyimpan luka masa lalu tentang kopi, Ben mampu berdamai dengan itu.

Sementara Jody (Rio Dewanto), tak tahu menahu urusan kopi. Yang ada dalam benaknya cara untuk mengatasi utang orangtuanya di masa silam. Ayah Jody adalah orang baik semasa hidup, dan dari kecil, Ben hidup bersama mereka.

Di tangan kedua pemuda ini, kedai kopi bernama Filosofi Kopi itu bertumbuh. Jatuh bangun, menghadapi pengunjung yang banyak mau. Dalam kepala Jody, apapun cara harus diambil untuk menyelamatkan Filosofi Kopi. Sampai tantangan seorang pria parlente (Ronny P. Tjandra) yang siap membayar puluhan juta jika Ben mampu membuat racikan kopi terenak terpaksa diambil dengan dibayangi ancaman kegagalan.

Filosofi Kopi sebagai film adaptasi terbilang unik karena mengadaptasi karya cerita pendek yang tahun emasnya telah lewat. Meski masih dibicarakan hingga kini, dari tahun rilisnya, 2006, “panggung” untuk karya Dee rupanya masih belum selesai, sejak karya terdahulu yang sudah “naik panggung”, Perahu Kertas (2012), Madre (2013), dan Supernova (2015).

Konsekuensi mengembangkan cerita untuk kebutuhan film panjang pun dilakukan. Angga Dwimas Sasongko yang duduk di kursi sutradara sadar betul bahwa kisah dua sahabat Ben dan Jody tidak akan cukup disajikan sebagai kisah panjang. Nyatanya, Filosofi Kopi berhasil diracik ulang dengan interpretasi baru. Lewat tangan penulis naskah Jenny Jusuf, –yang terbilang nama baru dan diklaim punya “masa depan” yang baik– kisah terbatas dalam cerpen akhirnya bisa kita nikmati dalam dimensi film, yang mampu memberi tempat serta menjawab bagian lain yang masih kosong.

Akhirnya, kita akan berkenalan dengan karakter El (Julie Estelle) yang muncul di kehidupan asyik Ben dan Jody, dua karakter yang sangat kuat dengan segala kekhasannya (Ben yang keras kepala dan obsesif, dan Jody yang serba realistis). Pengembangan cerita di beberapa bagian cukup solid, seperti membawa kisah soal kopi lebih menjejak tanah. Kita mungkin bakal mencibir saja saat Ben mengusulkan dengan nada menyindir, saat Jody memaksa membuka kedainya itu lebih lama, “Buka aja 24 jam sekalian, biar kayak Starbucks”. Desakan itu lantaran Jody kepalang tanggung dengan utang-utang ayahnya.

Adapun intrik soal pengunjung yang hanya mau menongkrong di kedai kopi yang dilengkapi wi-fi, adalah pengembangan yang dibuat lebih kekinian. Di kedai kopi, anak muda tidak hanya mencari kopi, tapi juga “membeli” wi-fi, sementara di Filososif Kopi, yang tersedia adalah filosofi dari kopi-kopi yang dibuat, bukan wi-fi.

Adegan di pelelangan kopi semakin membuat latar belakang yang semakin kental. Wajah para penggila kopi, yang mau mengeluarkan kocek berapa saja hanya demi biji kopi idaman mereka, menjadi pemandangan baru bagi kita yang awam soal kopi. El pun diselipkan di sini. Meski di beberapa bagian El bisa “bertanggung jawab” membuat kisahnya terhubung dengan kisah dua sahabat itu, selebihnya, ia hanya tampak sekadar tempelan, karakter serba tanggung.

Adegan tukang pungut utang yang diperankan Joko Anwar adalah bagian yang membosankan sepanjang film. Sebagai cameo, Joko sangat tidak menarik, kaku, dan tidak berhasil menolong menghidupkan konflik Jody dan utang ayahnya. Sementara itu yang mengganjal adalah soal tantangan aji mumpung. Di versi buku, Ben dijanjikan akan diganjar 50 juta jika berhasil membuat kopi terlezat, sementara versi film, untuk mendukung karakter Ben yang keras kepala dan cenderung tak tertebak, Ben meminta ganjaran satu milyar. Ini membuat kita hanya disuguhi kisah yang tak masuk akal dan hanya akan dijumpai sebagai “realitas film”. Mana ada orang sekaya, dan seberani itu?

Dari sepanjang film, yang terbaik tentu saja adegan saat Ben, Jody dan El menuju Jawa Tengah untuk membuktikan kopi terlezat, Kopi Tiwus, racikan Pak Seno (Slamet Rahardjo). Ini adalah klimaks yang menggetarkan. Karakter El, dalam bagian ini, dipakai untuk menyampaikan pesan bahwa kenapa kopi racikan Ben bisa dikalahkan oleh kopi kampung biasa, di warung yang ada di tengah hamparan kebun teh. Pak Seno membuatnya dengan hati, sementara Ben meraciknya dengan obsesi.

Dari sini, kita menjadi tahu sisi pahit masing-masing tokoh. Tentang Ben, dan masa lalu soal kopi yang muram. Ibunya dibunuh, dan ancaman berikutnya adalah dirinya, jika ayah Ben yang adalah seorang petani kopi, nekat menanam kopi. Jody adalah anak penurut, semua hal dalam diatur sang Papi, tapi saat Papinya mangkat, yang disisakan Papinya adalah utang-utang untuk membesarkan dan menyekolahkannya. Sementara El, tidak pernah betul-betul mengenal Papanya. Ia mengaku Papanya sibuk sendiri dengan dunianya, cuek dan tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada El. Gurunya meminta ia menulis kisah soal Papanya, dan ia tak bisa menulis apa-apa. Tiga orang ini adalah mereka yang memilih jalan masing-masing untuk bisa “sembuh” dari rasa pahit itu.

Namun bagaimana pun, dari kisah Ben yang akhirnya paham kenapa kopinya tidak apa-apa dibanding Tiwus, kita menjadi paham bahwa hasil pekerjaan yang dilakukan dengan hati dan obsesi akan berbeda. Di akhir film El berseloroh, soal kopi bukan hanya soal kepala, tapi juga soal hati. Nilai ini mampu mendekatkan kita pada hakikat membuat kopi. Hakikat lainnya soal kopi adalah mengenai kisah tiga orang yang menguak pahitnya masing-masing itu. Pada akhirnya kita paham, seperti yang diyakini Ben, kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi, kopi tetap kopi, punya sisi yang pahit yang tak mungkin disembunyikan.

Dodi Prananda, penggemar film

FILOSOFI KOPI

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko,  Penulis Naskah : Jenny Jusuf, Pemeran: Chico Jericho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, Baim Wong, Joko Anwar, Tara Basro, Produksi: Visinema Pictures

Standar