Teman Menggapai Mimpi

Saya bersama ayah dan ibu saat wisuda, Februari 2015. Kami berfoto dengan Gedung Rektorat sebagai latar. (Foto: koleksi pribadi)
Saya bersama ayah dan ibu saat wisuda, Februari 2015. Kami berfoto dengan Gedung Rektorat Kampus UI Depok sebagai latar. (Foto: koleksi pribadi)

SAYA masih terpaku dengan apa yang tertulis di layar komputer: Selamat Anda diterima di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Hari ini adalah pengumuman penerimaan mahasiswa Undangan, dan saya baru saja mendapati sebuah kabar yang beberapa tahun setelahnya betul-betul mengubah hidup saya.

Berkuliah di kampus ternama, boleh jadi mimpi besar bagi saya, seorang anak nelayan yang tinggal di daerah pinggir pantai di Kota Padang. Di tempat saya tinggal, tak sedikit anak-anak nelayan yang hidupnya berakhir seperti orangtua mereka. Mereka yang sarjana, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Namun saya bertekad tak akan berakhir di laut sebagai nelayan, seperti ayah. Saya punya mimpi.

Ayah saya bilang, “Kejarlah dunia ini dengan pena,” sebuah nasihat terpenting. Bagi ayah, pena adalah simbol kemapanan dan hidup layak. Ayah selalu terobsesi suatu hari melihat anaknya bisa bekerja kantoran dan mengubah kehidupan keluarga. Ini membuat saya terpacu, sampai saya berjuang menembus Sekolah Menengah Pertama bergengsi lalu melanjutkan di SMA 1 Padang, sekolah unggulan di Padang.

Pertengahan tahun itu, saya berangkat meninggalkan kampung halaman. Orang Minangkabau punya prinsip hidup merantau, apalagi bagi pemudanya. Jadi saya pikir, sekolah di Jakarta, meninggalkan kampung halaman adalah sebuah keharusan, untuk kemudian kembali suatu hari membangun kampung.

Saya tak punya keluarga dan kerabat dekat di Jakarta, namun saya tak pernah risau karena sudah memperhitungkannya semua matang-matang. Saya siap dengan risiko hidup jauh terpisah dengan keluarga. Saya membawa pakaian, satu kardus buku favorit, namun saya tak membawa banyak uang. Sempat risau, seorang anak rantau hidup di tanah orang namun dengan bekal uang pas-pasan. Ayah saya tak menyiapkan banyak uang pada hari keberangkatan itu, kecuali nasihat-nasihat dan sebungkus rendang untuk perbekalan makan minggu pertama. Namun ia berjanji, “Bila cukup uang, ia akan mengirim sedikit uang.” Saya hanya mengangguk, dan tak membahas bagaimana ayah saya bisa mengirimkannya karena ia jarang —bahkan tak pernah — berurusan dengan bank.

Di hari pertama saya di Kampus UI Depok —saya pernah ke tempat ini dua tahun sebelumnya, dan saat kedatangan itu saya mengatakan: suatu saat saya akan menjadi mahasiswa kampus ini, dan ini terjadi — saya mengurus beasiswa. Keluarga kami tak akan pernah mampu untuk membayar biaya kuliah di UI yang mahal , setidaknya menurut perhitungan pendapatan ekonomi keluarga. Jadi, yang mungkin menyelamatkan saya adalah beasiswa. Saya mengikuti serangkaian seleksi beasiswa untuk mempertaruhkan semuanya: jika saya berhasil, saya tak perlu membayar sepeser pun hingga sarjana.

Saya hanya bermodal yakin dan sungguh-sungguh, sehingga seleksi itu berakhir dengan mudah dan berlangsung apa adanya. Panitia seleksi sempat menanyakan sesuatu dengan nada berseloroh, “Bagaimana kamu berangkat ke kota ini dari Padang, tidak nyebrang di Selat Sunda kan?”, saya bilang, “Bila hanya itu satu-satunya cara untuk bisa sampai di UI, saya akan melakukannya,” kata saya membalas, sehingga wawancara terasa sangat cair.

Saya melewati dengan mudah hari-hari pertama yang harusnya terasa berat itu. Saya mendapatkan beasiswanya, dan keluarga lega mengetahui kabar ini. Saya terbebas dari keharusan membayar biaya semester kuliah lima juta per bulan, dan menariknya, diberi biaya hidup (living cost) sebesar enam ratus ribu rupiah per bulan yang dikirimkan ke rekening enam bulan sekali lewat rekening. Jadilah, setiap penerima beasiswa membuka rekening dengan bank mitra kampus UI, Bank Negara Indonesia atau BNI yang membuka cabangnya di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Inilah kali pertama saya memiliki rekening pada Bank bertuliskan BNI46.

Di Padang, nama BNI46 ini sangat lekat, karena di Jalan Dobi, kantor Bank ini sempat terbakar dan sisa bangunannnya bertahan sekian tahun tanpa diperbaiki. Sementara untuk urusan menabung, saya mengikuti ibu yang setiap bulan mengantar kakek mengambil uang pensiun sebagai pejuang ’45, yang dialihwariskan kepada nenek, di sebuah bank milik pemerintah lainnya. Jadi sama sekali tak punya pengalaman apa-apa dengan BNI.

Kami, para penerima beasiswa harus bersabar karena baru menerima dana bulanan itu pada akhir semester. Sementara kami butuh biaya untuk membayar sewa tempat tinggal dan makan sehari-hari. Inilah saat yang mendebarkan, kami kerap bolak-balik mengecek rekening: dan berharap ada kiriman di sana. Saya tak punya harapan apa-apa selain menanti kiriman orangtua, namun saya juga tahu, meminta orangtua mengirimkan kiriman bulanan, itu sama sia-sianya seperti menimba air di laut. Dan, saya juga tak ingin orangtua terbeban. Tapi sekali waktu, saya harus mengatakan bahwa saya butuh kiriman. Ayah meminta tetangga kami yang sering berurusan dengan bank untuk mengirimkan sejumlah uang yang sanggup dikirim ayah. Tetangga itu juga tak punya rekening di BNI, sehingga dia meminta customer service BNI Cabang Kampus Universitas Negeri Padang mengirimkan ke rekening saya. Ah, lega. Akhirnya saya berhenti makan Indomie saat kiriman uang itu datang!

Selain kiriman orangtua yang sebenarnya tak pasti, ada satu “penyelamat” lainnya. Saya hobi menulis sejak kecil, dan rupanya hobi menulis itu “menyelamatkan” saya ketika saya dewasa. Sebetulnya, sejak di Padang, saya senang mengirimkan karya, entah itu puisi atau cerita pendek ke surat kabar atau majalah terbitan Jakarta. Jika dimuat, saya akan mendapat honorarium yang jumlahnya lumayan bagi seorang anak SMA. Bila dalam sebulan ada lima saja karya dimuat di media berbeda, saya bisa kantongi satu juta lebih.

Saat berkuliah di UI, hobi ini saya lanjutkan. Kadang, saat mengecek ATM BNI, saya mendapati saldo bertambah. Sekali waktu saya mengira ayah yang mengirimkan, namun rupanya tidak. Saya melacak pengirimnya, rupanya dari sebuah majalah ternama Ibukota. Sayangnya saya tak bisa produktif menulis karena semester awal kuliah sangat sibuk.

Semester kedua, semua mulai stabil. Saya mulai menikmati ritme kehidupan kampus sekaligus sebagai anak indekos perantauan. Saya tak menyia-nyiakan waktu terbuang percuma. Saya betul-betul memanfaatkannya dengan berbagai kegiatan positif. Saya mengikuti berbagai lomba dan berjanji menulis lebih banyak di media massa. Semester berikutnya, dan berikutnya lagi, saya tetap menggantungkan harapan pada beasiswa, namun sekarang saya sudah merasakan manisnya uang dari menulis. Namun di saat ini, orangtua saya mulai kesulitan mengirimkan uang, sehingga keadaannya sekarang terbalik. Saya yang harus mengirimkan uang untuk adik, karena saya punya tiga adik yang bersekolah, satu di SMA, satu di SMP dan satu lagi SD. Alamak, sekarang saya kebingungan bagaimana mengirimi mereka uang? Saya jadi ingat Paman saya yang seorang Kepala Sekolah di sebuah kota kecil di Sumatera Barat yang dulu berkirim wesel pos setiap kali mengirimkan uang bulanan untuk Ibunya —atau Nenek saya. Ibu saya yang sering menerima kiriman wesel itu masih menyimpan beberapa bukti sebagai kenangan. Tapi, di zaman dengan dunia perbankan super canggih ini, saya tak mungkin menggunakan wesel yang “jadul”. Solusinya adalah menitipkan uang itu kepada teman semasa sekolah yang memakai BNI, dan meminta dia menyerahkannya pada adik saya.

Semester demi semester saya lalui. Kadang berat, kadang ringan. Meski sempat terseok-seok dengan keuangan pas-pasan, dan dengan beasiswa yang sering datang terlambat, saya akhirnya menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga setengah tahun. Saya pikir akan sangat lama, namun malah sangat sebentar. Pada Februari 2015, saya wisuda. Saya lulus dengan predikit cum laude. Ayah dan Ibu saya datang pada hari paling membahagiakan dalam hidup saya itu.

Dan dari perjalanan panjang menggapai mimpi, saya sebenarnya tak (pernah) sendiri. Ada Tuhan yang selalu menjaga doa-doa saya. Ada orangtua yang melarang saya menyerah. Dan terakhir, ada seorang teman, bahkan perannya lebih dari seorang teman, karena telah menemani saya serta membantu menggapai mimpi, dialah: BNI.

Jakarta, Mei 2016

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blogging #70TahunBNI dengan tema “Pengalaman Bersama BNI

Iklan

Hati-hati dengan Jakarta yang Tidak Punya Hati

Saya kira, tidak ada yang salah dan aneh dengan hari itu. Semua terasa sama seperti hari biasa: saya mandi pukul tujuh, memasang baju, sampai di halte Gerbatama pukul delapan dan berangkat menuju kantor di daerah Kebon Jeruk dengan menumpangi Deborah.

Liburan semester genap kali ini saya memutuskan untuk bekerja di sebuah majalah remaja yang berkantor di Jalan Kedoya Duri Raya. Ini pilihan saya untuk mengisi hari libur dengan kegiatan produktif. Menuju kantor, saya menumpangi bus Deborah dari Halte Gerbatama Universitas Indonesia, turun di Terminal Lebak Bulus kemudian melanjutkan perjalanan dengan Trans Jakarta hingga halte Duri Kepa. Begitulah aktivitas yang saya jalani lima hari dalam seminggu, dan sudah berlangsung hampir tiga minggu tanpa terasa.

(Sumber ilustrasi: kepikiranbarusan.wordpress.com)
(Sumber ilustrasi: kepikiranbarusan.wordpress.com)

Tanpa terasa. Karena saya menikmati pekerjaan di rumah baru saya itu. Saya menikmati ritme kerjaan, dan juga suasana di kantor. Tapi, Kamis, 18 Juli 2013 itu menjadi hari paling muram sepanjang sejarah saya berada di Jakarta. Jauh sebelum saya berangkat dari kampung halaman menuju tanah rantau untuk pergi menimba ilmu, keluarga menitipkan banyak pesan dan nasihat ke telinga saya. Dari pantangan a sampai pantangan z, dari bahaya a sampai bahaya z dan semua yang harus saya perhatikan selama tinggal di Jakarta. Dan semua doa, dan nasihat itu, tentu saja muaranya demi keselamatan saya yang seorang diri di Jakarta. Tapi, semua doa dan nasihat itu kembali terngiang dan menyala di kotak memori saya. Setelah sebuah kejadian nahas menimpa saya.

Kamis sedang tidak berpihak pada saya, karena selain lama menunggu (tidak sebagaimana hari biasa, ketika saya turun dari bis kuning, tak perlu berjenak-jenak menunggu Deborah langsung datang), saya yakin, macet sudah menyambut saya di Lenteng Agung. Saya punya teman setia kala menunggu: buku. Menyiasati kejenuhan di jalan, saya selalu menaruh satu buku di dalam tas dan saat itu saya membawa buku Sanubari Jakarta karya Lele Nurazizah. Biasanya, buku itu saya pegang di tangan dan manakala Bus Deborah sepi penumpang, saya dapat tempat duduk, saya akan baca.

Hari itu, nasib baik tidak bersama saya. Bus penuh sesak. Buku itu tidak saya keluarkan dari dalam tas. Masih menyetia di dalam tas. Begitu masuk dari mulut pintu belakang, sebuah suara menyapa saya. Ternyata ada Yehez, teman satu jurusan di Komunikasi yang selama libur juga magang di sebuah agensi PR di daerah Lebak Bulus. Yehez duduk di kursi belakang dan saya menghadap dia, berlawanan arah dengan penumpang lainnya, pun dengan laju mobil.

Demi membunuh waktu selama perjalanan, saya bercerita dengan Yehez, tetap dalam keadaan Yehez duduk dan saya berdiri tepat di depannya. Benar saja, Kamis itu tidak menyenangkan: Deborah yang penuh sesak, jalanan macet, perpaduan bau badan, empet-empetan yang membuat empet kalang-kalang. Dan entah bagaimana ceritanya, bagaimana dia melakukan, tangan siapa yang masuk ke dalam kantong tas saya, saya benar-benar tidak tahu. Tidak sadar baru saja ‘Jakarta’ memperlihatkan arogannya. Baru saja ada tangan nakal yang menzalimi saya.

Dan begitulah, kejadian pencopetan itu tak terendus oleh saya, begitu juga oleh Yehez. Saya baru menyadari resleting kantong depan tas saya terbuka (padahal tas sudah saya sandang di depan, dalam keadaan di peluk). Selama perjalanan, rasa-rasanya, saya sudah sandang baik-baik tas itu, saya peluk, namun kadang terlepas ketika saya harus mencari pegangan. Apalagi, kondektur yang terus memaksakan penumpang yang berdiri di mulut pintu untuk masuk lagi, lagi, dan lagi sampai saya terdesak.

Saya kira, saat itulah saya dikerjai. Saya tak tahu tangan mana, orang yang di kanan, kiri, depan saya kah yang punya kerjaaan. Saya yang mendapati kantong tas saya terbuka, langsung kaget, dan darah saya berdesir. Saya merasa pasti bahwa kejadiaan buruk saja menimpa saya. Ketika saya periksa apakah dompet saya masih di sana, ternyata tidak. Dompet saya lenyap. Kartu-kartunya…

Sudah hampir tiga tahun di Jakarta, baru kali ini ketakutan ini kembali menyerang saya. Baru kali ini Jakarta berlagak seperti raksasa berkaki besar, bertubuh besar dengan berkacak pinggang menertawai saya. Saya sudah berhati-hati, tapi Jakarta tidak punya hati. Sadar dicopet, saya bergegas menuju tempat parkir bus Deborah di Terminal Lebak Bulus dan menanyai kondektur (walau ini hanya cara hampa).

Saya tahu, sudah tidak ada harapan dompet itu kembali, dan semua yang ada di dalamnya kembali. Saya berjalan lemas, berjalan menuju halte Trans Jakarta Lebak Bulus. Untungnya, di saku celana, ada sedikit uang yang bisa saya pakai untuk menuju kantor. Hebatnya, saya tidak panik. Teman-teman saya bilang, saya orangnya panikan. Tapi, entah ketabahan yang datang darimana, saya merasa lapang, dan seperti tidak terjadi apa-apa. Saya melangkahkan kaki, dan sampai di depan mulut loket pembelian karcis TransJakarta, mengeluarkan uang yang tersisa.

Bahkan, di perjalanan menuju Duri Kepa pun, teman setia saya tidak saya sapa sedikit pun. Saya sibuk mengutak-atik ponsel genggam saya, menelepon satu-satu layanan nasabah untuk pemblokiran pin atm. Saya mengurut-urut dada, berusaha membuat semua kian terasa lapang. Mungkin Tuhan sedang menunjukkan rasa sayangnya dan perhatiannya pada saya, sebab saya sedang diuji bersabar dua kali lipat.

Rasanya, kali ini, betapa menggembirakannya ujian ini, karena diuji di bulan baik. Ini bulan yang sangat tepat untuk melatih seberapa mampu kita bersabar, termasuk ketika hal nahas semacam ini menimpa. Saya terngiang lagi nasihat keluarga, namun hari itu, saya enggan mengabari segera (saya baru mengabarinya sehari setelah kejadian itu, saya jelaskan baik-baik kepada ayah). Saya tak mau, membuat keluarga di Padang khawatir akan cerita itu. Saya yakin semua baik-baik saja, dan masih dalam kendali Tuhan. Sabar itu pahit, tapi buahnya manis, kata sebuah kalimat bijak.

Ya, saya percaya itu.

Jakarta, 22 Juli 2013

Guslaini, Ibu Nomor Satu di Dunia

Bila ada yang bertanya, apakah saya sudah pernah bertemu dengan malaikat, maka jawaban saya: sudah! Sosok dan figur Ibu adalah malaikat dalam hidup saya. Bagi saya, ia adalah Ibu nomor satu di dunia.

Ibu saya lahir dari pasangan Fatimah dan Abdul Munaf, dengan nama Guslaini. Gus, sebagaimana sapaan akrabnya, diambil dari nama tengah bulan kelahirannya: Agustus. Ayahnya adalah seorang pejuang ’45, bekas prajurit Jepang yang tergabung dalam kelompok tentara pembantu Heiho, sementara Ibunya adalah seorang penjual kue singgang yang sangat terkenal saat itu di wilayah Taluak Nibuang (saat ini namanya Muara Penjalinan, Koto Tangah, Padang). Dia merupakan bungsu dari lima bersaudara yang dibesarkan di lingkungan yang kental dengan adat Minangkabau, yaitu di Padang, Sumatra Barat.

Ilustrasi: nasional.news.viva.co.id
Ilustrasi: nasional.news.viva.co.id

Dibesarkan di lingkungan yang sangat sederhana dan seadanya, tak membuat dirinya menjadi patah semangat. Dari lima orang anak orangtuanya, hanya satu yang berhasil menjadi sarjana. Selebihnya, hanya tamat SMA, termasuk Ibu saya yang hanya mampu menamatkan pendidikan hingga Madrasyah Aliyah (MA). Semua, karena anak-anaknya tersandung masalah ekonomi. Kakak nomor tiganya pun, bisa sekolah karena tinggal bersama seorang famili yang tinggal tak terlalu jauh dari rumah. Sementara, Ibu saya punya perjuangannya sendiri: dengan memutuskan menetap di Panti Asuhan Putri Asyiyah Putri yang dikelola oleh keluarga H. Koesoema, pendiri Harian Umum Haluan Padang. Di panti yang letaknya sejengkal dari rumah, Ibu saya dirawat dan dibesarkan. Dia dipanggil Upiak Ancak, yang diambil dari kata rancak, yang artinya elok atau cantik. Oleh kawan-kawan sepermainannya, panggilan itu berubah menjadi Alak.

Setelah lepas dari panti, mendapat pendidikan agama di Madrasyah, Ibu saya tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ketaktersediaan biaya, menjadi kendala terbesar. Akhirnya, ia memilih bekerja. Semula, dia mencoba peruntungan dengan mendaftarkan diri menjadi karyawan sebuah surat kabar yang cukup terkenal di Sumatra Barat, yang didirikan Basril Djabar, Hariam Umum Singgalang. Di Singgalang, ia bekerja sebagai karyawan khusus biro iklan, sering dipindahkan, bahkan sampai ke bagian umum dan administrasi. Di Singgalang, ia bertemu tambatan hatinya. Namanya Oyon. Saya selalu teringat canda Ibu saya saat saya menyebut-nyebut nama lelaki itu,”Kalau Ibu menikah dengan dia, belum tentu kamu yang lahir,” kata Ibu saya. Cinta Ibu saya berakhir dengan lelaki itu setelah Ibu saya berhenti bekerja di sana karena memilih ikut dengan kakak sulungnya untuk merantau ke Jakarta. Mencoba peruntungan, sebut orang-orang Padang yang punya pemikiran: belum sukses kalau belum meninggalkan tanah asal. Menghargai tanah asal justru dengan cara meninggalkannya, untuk pergi ke tanah lain, dan kembali suatu hari untuk membangun kampung sendiri, bila sukses kelak. Di Jakarta, bersama kerabatnya yang lain, konon Ibu saya berjualan pakaian di Tanah Abang.

Karena bertumbuh dengan penuh perjuangan, ada semacam pemikiran dalam hidupnya bahwa hidup adalah perjuangan yang berarti. Hidup harus selalu diperjuangkan, pahit atau manis pun hasilnya. Ibu saya menunjukkan ini dengan cara dan usahanya dalam mencapai cita-citanya yaitu menjadi pegawai negeri. Ia mencuri semangat kakak laki-lakinya yang bernama Syafaruddin, yang saat itu berhasil meraih gelar sarjana dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) dengan perjuangan keras kedua orangtuanya. Tapi, pada akhirnya, semangat itu padam. Redup pelan-pelan. Mimpi itu akhirnya terkubur begitu saja sampai pada akhirnya ia dipersunting oleh seorang pria kelahiran Pesisir Selatan, 25 November 1968. Mimpi besar itu akhirnya hanya ia simpan dengan harapan, kelak, anak-anaknya bisa meneruskan mimpinya itu. Menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi.

Memang, sangat hiperbolik bila saya mengatakan Ibu saya adalah Ibu nomor satu di dunia. Tapi, begitulah adanya. Saya merasakannya sendiri. Persis setelah saya mengoek untuk pertama kali, mendengar adzan di telinga saya untuk pertama kali pada hari Sabtu, 16 Oktober 1993 dan seterusnya… Sebelum beliau meninggalkan saya dan dua adik saya: Khairunissa (saat ini berusia 17 tahun), dan Muhammad Fajri (saat ini berusia 13 tahun). Walau tidak pernah menceritakan pahitnya mengubur mimpi dan cita-cita besar dalam hidupnya secara langsung, tapi, saya tahu, Ibu saya punya harapan tongkat estafet itu harus dilanjutkan oleh anak-anaknya.

Secara usia, Ibu memang meninggal dalam usia yang muda. Saat itu, usianya masih 36 tahun. Saya dalam masa kenaikan kelas 5 di Sekolah Dasar, usai pembagian rapor di mana saat itu saya meraih peringkat 4 di kelas. Tapi, itu kado terakhir yang saya beri sebelum akhirnya beliau meninggal dunia, persis akhir tahun 2004, saat perayaan Idul Fitri kami sekeluarga harus ‘merayakannya’ di rumah sakit. Ibu saya dilarikan ke rumah sakit dan dirawat intensif di bagian syaraf. Padahal, malam itu, di malam takbiran, segala kebutuhan idul fitri sudah dipersiapkannya. Ketupat lebaran, kue, puding, es buah sudah tersedia di atas meja. Namun, malam harinya, ibu saya mengeluh sakit kepala dan menghembuskan napas terakhirnya pada suatu malam yang menjadi mimpi buruk bagi saya.

Setiap orang bertanya, apakah bakat menulis saya datang dari ibu atau ayah saya.  Saya rasa, tidak dari keduanya. Tapi, kalau didikan Ibu, mungkin iya. Pendidikan bagi Ibu nomor satu. Tidak ada tawar menawar. Karena itu, setiap kali diajak ke Pasar Raya Padang, saya selalu pulang membawa buku dan bacaan. Kegemaran membaca yang diajarkan diam-diam itu, pada akhirnya membuat saya sering dikirim sebagai perwakilan sekolah dan sering keluar sebagai pemenang pertama. Di sekolah, prestasi saya cukup bagus. Predikat bintang kelas selalu saya kantongi. Semua karena didikan beliau. Pulang sekolah, setelah mengganti pakaian, saya diminta mengulang pelajaran. Waktunya selalu ada untuk membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah (pr), bahkan untuk sekadar belajar membaca dan berhitung di atas kasur sebelum tidur. Oya, yang paling terpatri di ingatan saya adalah ketika saat itu, Ibu berjuang mendaftarkan diri saya di sekolah dasar. Syaratnya harus berusia tujuh. Sementara, usia saya masih enam tahun. Pihak sekolah meragukan. Saya terbilang cepat masuk taman kanak-kanak, yaitu di usia lima tahun. Tapi, saya diminta tes berhitung dan membaca di depan pihak sekolah, dan akhirnya diterima.

Ibu selalu bercerita tentang kakak laki-lakinya yang berhasil itu, yang juga Paman saya (dalam bahasa Minang, saya memanggil beliau Mamak). Mamak saya ini adalah Kepala Sekolah di sebuah SMA di Sijunjung. Semangat belajar yang tertular ke dalam diri ibu saya, ditularkan pula oleh Ibu ke dalam diri saya. Itu saya tunjukkan dengan cara menjadi juara kelas, tak pernah tersingkir dari peringkat 1 hingga 5. Saya belajar sungguh-sungguh. Karena itu, Ibu selalu menanti-nanti momen pembagian rapor karena ia selalu bangga bila saya maju ke depan kelas bila saya dinyatakan menjadi juara. “Kalau Metek Engat masih hidup, pasti dia bahagia melihat prestasimu,” kata Ibu saya, mengenang kakak laki-laki nomor duanya yang meninggal dunia karena truk yang ia tumpangi kecelekaan saat menuju Padang, untuk melihat saya (kemenakannya) yang saat itu baru saja lahir.

Ibu saya adalah Ibu nomor satu di dunia, menurut versi saya. Juga karena, cara Ibu saya yang membuat saya mencintai dunia tulis menulis. Seorang Ibu, tentu orang yang paling tahu dengan bakat anaknya. Diam-diam, Ibu memupuk bakat saya itu. Persis ketika saya menunjukkan nilai ulangan bahasa Indonesia saya yang meraih nilai 9,85 dan pujian-pujian yang selalu disampaikan langsung oleh guru saya kepada Ibu, tentang nilai pelajaran mengarang saya. Kepercayaan itu juga yang membuat pihak sekolah mengirim saya dalam perlombaan menulis.

Tapi, banyak hal yang tak sempat Ibu saya lihat, yaitu ketika SMP (saya melanjutkan di SMP 7 Padang dan SMA 1 Padang, sekolah favorit di Padang), saya mulai menulis di media massa: cerita pendek atau puisi yang saya tulis untuknya. Ya, banyak hal yang mungkin tidak dilihat Ibu secara langsung, tapi Ibu pasti tahu dan bangga di sana. Tidak hanya karena saat ini saya berkuliah di Universitas Indonesia, namun juga karena buku kumpulan puisi pertama saya yang berhasil dibukukan Februari 2012, berjudul: Musim Mengenang Ibu dan buku-buku lainnya yang saya tulis hingga hari ini. Tulisan-tulisan saya hari ini, adalah ‘doa-doa’ untuk Ibu saya. Saya menulis itu untuk dia. Saya mengenangnya setiap hari. Dan saya akan selalu mengingat, pesan-pesan terakhir yang ia bisikkan ke telinga ayah saya sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya: ”Lanjutkan sekolahnya. Sekolahkan dia tinggi-tinggi. Jangan sampai putus!” Dan mata saya selalu berkaca-kaca bila mengenang nasihat itu. (*)

Untuk Ibu saya di surga

Depok, 22 April 2013

Sambutan Hangat Om Kurnia Effendi untuk Waktu Pesta

Aku mengenal Om Kurnia Effendi (Keff) lewat cerpennya. Kemudian, untuk pertama kali, aku bertemu langsung di Sanggar Pelangi. Guru menulisku, Om KW, mengajaknya singgah di Sanggar Pelangi, di Gunung Pangilun Padang. Ketika berbincang dengannya, logat khasnya membuat aku sangat dapat menyimpulkan tanah asalnya: Tegal.

Pertemuan berikutnya adalah di Serang, Banten. Saat itu, aku hadir dalam acara Malam Penganugerahan Sayembara Menulis Cerpen Belistra Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Selain menjadi juri, Om Keff juga menjadi pembicara. Aku menyimak materinya yang benar-benar menjelaskan betapa karibnya Om Keff dengan sastra. Sastra seperti bertumbuh dalam dirinya, mendarah daging. Kecintaannya yang besar pada sastra pun membuat ia hingga kini masih terus menulis. Nama Om Keff, aku catat sebagai inspirator untuk menulis cerpen, sebab Om Keff adalah salah salu cerpenis andal, penulis bernapas pendek yang cukup produktif secara karya. Saat itu, tak dinyana, Om Keff memilih cerpenku yang berjudul “Ibu Menyanyi Untukku, Aku Menyanyi Untuk Ibu” sebagai juara 2. Saat itu, aku merasa berterima kasih padanya. Om Keff benar-benar melecut semangatku untuk menulis lebih bagus. “Cerpenmu asyik,” katanya di Facebook. Di kata pengantar, ia mendoakan kami yang muda-muda untuk terus menulis dalam usia yang panjang. Aku mengaminkan dengan sungguh.

Koleksi pribadi Kurnia Effendi di album Facebook
Koleksi pribadi Kurnia Effendi di album Facebook

Pertemuan berikutnya, saat itu bedah buku Gadis Pakarena karya Mas Khrisna Pabichara di TM Bookstore, Depok Town Square.  Om Keff tetap tampil sebagaimana biasa: sederhana, bersahaja. Aku berbicang dengannya, bertanya kabarnya, dan ia bertanya kabar menulisku. Aku katakan, beban akademis saat itu memenjaraku.

Dan, berikutnya, kami hanya bersapa di Facebook.

Berikutnya lagi, aku mengirimkan pesan di inbox Facebooknya. Aku meminta kesediaannya menjadi endorser untuk buku kumpulan cerpen pertamuku. Om Keff dengan senang hati menerima permintaan itu. Aku kirim ke email naskahnya. Aku menunggu balasan testimoni darinya dengan penuh debar. Rupanya, saat itu ia sibuk. Aku setia menunggu.  Aku sudah terlanjur berharap namanya ada di buku pertamaku itu, di buku antologi berjudul Waktu Pesta. Om Keff menepati janjinya dan ia mengirimkan testimoninya, walau telat dari tanggal yang dijanjikan. Tapi, aku tetap senang, sebab endorsement darinya memberikan kesan tersendiri bagiku. Bahkan, aku tak menyangka, pada saat itu Editor menaruh endorsement Om Kurnia Effendi di kulit belakang buku.

Berikut testimonya:

“Cerpen-cerpen dalam kumpulan Waktu Pesta ini memberikan gambaran yang terang mengenai gejolak anak muda dalam memeragakan sejumlah tema: meletup-letup. Suasana dramatik bagai membelah diri, sebagian dalam bentuk kecamuk perasaan, sebagian lain tampil melalui aksi fisik. Ada anasir mistik dan eksplorasi terhadap wilayah yang ganjil, membuat kisah-kisah yang ditulis memikat dan tak biasa.”
Kurnia Effendi, penulis dan penggemar sastra

Endorsement dari Om Kurnia Effendi untuk buku Waktu Pesta (Sumber foto: Facebook Kurnia Effendi)
Endorsement dari Om Kurnia Effendi untuk buku Waktu Pesta (Sumber foto: Facebook Kurnia Effendi)

Dan, ketika bukunya terbit, aku mendapat satu buku sebagai bukti terbit. Buku itu aku kirimkan pada Om Keff sebagai ucapan terima kasih. Beberapa hari setelah aku kirimkan, Om Keff mengirimkan aku pesan di Facebook:

Menurutku, kelahiran pengarang-pengarang muda di Indonesia sangat penting. Terutama jika mereka menyuguhkan gaya ungkap dan tema-tema yang berbeda dibanding sebelumnya. Kehadiran “Waktu Pesta” ini kusambut dengan rasa bangga. Langkah pertama tak harus sempurna, tetapi di sana terdapat potensi yang gampang diasah karena memiliki bakat kuat sebagai pengarang. Masa depan pun masih panjang.

Dodi Prananda, terima kasih. Buku kalian sudah kuterima. Seperti tulisan dalam suratmu, senantiasa kutunggu karyamu berikutnya.

Ini surat yang aku sertakan ketika mengirim buku Waktu Pesta ke alamat Om Keff (Foto: Om Keff)
Ini surat yang aku sertakan ketika mengirim buku Waktu Pesta ke alamat Om Keff (Foto: Om Keff)

Demikianlah, kenapa nama penulis buku Anak Arloji, Kincir Api, Bercinta di Bawah Bulan itu selalu punya arti penting dalam kepenulisanku (selain jasa besar guru menulisku Om Yusrizal KW). Tidak hanya karena cerpen-cerpennya yang membuat aku selalu terinspirasi, tetapi juga sosok pribadi penulisnya yang patut dijadikan motivator penulis muda sepertiku: SEDERHANA, BERSAHAJA.

Salam hangat untuk Om Keff,

Regards,

Dodi Prananda

Akademi Bercerita PlotPoint: Bercerita Tanpa Jeda

Suatu hari, saya mewakili FISIPERS untuk acara journalist network, sebuah acara temu wartawan kampus yang digelar Lembaga Teknika, media di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Di acara itu, saya berkenalan dengan pegiat media di Fakultas Hukum, namanya Shierly Desliyani, mahasiswa Hukum Universitas Indonesia.

Sumber foto: Blog PlotPoint
Sumber foto: Blog PlotPoint

Di hukum, namanya Perfilma (Pers, film, fotografi dan musik mahasiswa). Saat presentasi perngenalan media di fakultasnya, Shierly menjual sejumlah program di Perfilma. Saat itu juga ia mengatakan Perfilma bekerjasama dengan PlotPoint mengadakan seminar kreatif tentang dunia tulis menulis. Saya langsung bersemangat. Mencatat tanggal itu.

Tapi, ketika hari itu datang, saya baru sadar, ternyata saya ada kuliah Statistik Sosial I. Mata kuliah yang pada awalnya saya takuti. Dari dulu, saya selalu tidak
nyaman dengan pelajaran angka-angka. Untuk mata kuliah ini, rasanya saya malas untuk bolos. Saya enggan masa lalu di SMA, ketika saya merasa cemas dengan angka-angka, terulang lagi. Selama ini, saya terlanjur mencintai aksara. Dunia jurnalistik yang saya tekuni secara akademis dan praktis, mengajarkan saya bersahabat dengan huruf, bukan dengan angka. Demi alasan tuntutan mata kuliah ini, saya mengubur jauh-jauh kecemasan itu. Sekaligus sejak awal mata kuliah ini jalani, saya berusaha untuk duduk di kelas senyaman mungkin, bahkan di saat saya harus mendapati kenyataan bahwa dosen saya adalah Mas Whisnu, yang sebelumnya sangat ditakuti untuk mata kuliah ‘Metode Penelitian Sosial’. Hari pertama, saya merasa nyaman. Hari kedua, kelas ditiadakan. Dan hari ketiga, hari ini. OMG,  bertabrakan dengan acara Perfilma: Akademi Bercerita yang menghadirkan penerbit yang saya lihat punya prospek bagus itu: PlotPoint.

Ada yang harus dikorbankan, begitu prinsip biaya peluang. Tadinya, saya berencana akan menghadiri acara ini hingga pukul dua. Setelah itu, saya akan kuliah. Saya datang telat di ruangan. Acara sudah dimulai. Ada pemateri yang berbicara. Saya kurang kenal. Wajahnya baru saya kenali. Pada teman FISIPERS yang juga datang, saya bertanya, siapa nama pembicara di depan ini. Dia tidak tahu. Dan, Kak Iim (panitia journalist network) juga datang, pun tidak tahu siapa pemateri.

Saya menyenangi materi acara bertajuk Akademi Bercerita di FHUI. Saya tahu cukup banyak mengenai acara ini (Akademi Bercerita) dari twitter dan blog PlotPoint. Selain ilmunya penting, ini juga pemacu semangat saya untuk menulis. Materinya disajikan menarik. Bahkan, ketika peserta diminta bertukar cerita pada partnernya. Partner saya Kak Iim. Saya bercerita pada Kak Iim dan Kak Iim bercerita pada saya. Cerita itu kemudian harus diberi bumbunya. Cerita partner diminta diceritakan pada partner yang lain, dan kepada partner lain diminta masukan. Kemudian, cerita dipresentasikan. Ini seru. Saya kemudian mengangkat tangan ketika pembicara meminta untuk bercerita. Saya ceritakan cerita tentang Iim itu. (Saya jadi tertarik menuangkan ide cerita ini ke dalam cerita pendek).

Sumber: Blog PlotPoint
Sumber: Blog PlotPoint

Acara terus berjalan. Saya kian gelisah. Menatap waktu pada layar ponsel. Rupanya, sudah pukul dua lewat. Saya sungguh nyaman pada acara ini, selain acara ini menarik saya merasa hanyut dalam materi yang membuat saya terdorong menulis. Semangat saya jadi menggebu-gebu. Dan, saya ingin katakan, bahwa sebenarnya, selain berharap mendapatkan suntikan semangat, saya ada misi lain untuk datang ke acara ini. Sebulan yang lalu, saya mengirimkan naskah ke PlotPoint. Saya berharap, jawabannya akan saya dapatkan langsung kepada tim atau editor yang datang.

Gelisah saya semakin melaut. Kali ini sudah pukul tiga. Acara tampaknya akan berakhir. Sudah sampai di penghujung waktu, persis ketika sesi tanya jawab berakhir. Di luar, hujan turun deras. Persis gelisah saya. Saya cemas ketinggalan materi kuliah Statistik Sosial I hari ini, karena Mas Whisnu pernah bilang bahwa hari itu menghitung-hitung akan dimulai. Tapi, betapa pun, saya harus memilih.

Saya ingat, bahwa peluang dan kesempatan yang datang sekali dan tidak berulang, harus diselamatkan. Saya memilih acara ini pada akhirnya, sampai gelisah saya reda. Hujan pun reda. Sudah pukul tiga lewat. Dan, kemudian saya pun tahu, sekaligus menjadi kaget ketika ternyata pembicara yang selama tadi berbicara panjang lebar tentang menulis kreatif adalah Gina S. Noer.

Saya jadi histeris sendiri. Mbak Gina adalah co-founder PlotPoint dan penulis naskah skenario. Ia telah menulis skenario film Habibie-Ainun dan Ayat-ayat Cinta. Gina S. Noer adalah istri dari Salman Aristo.

Akhir acara, tambah menarik. Saya diberi satu buku sebagai penghargaan karena sudah berani bercerita, berani bertanya. Menariknya lagi, ketika acaranya benar-benar usai, saya memberanikan diri bertanya pada Mbak Gina. Bertanya tentang nasib naskah saya. Hati saya berdebar. Sepertinya, hujan di luar memberikan jawaban. “Mbak, boleh nanya nggak. Kemarin aku ngirim naskah ke PlotPoint,” kataku. “Judulnya apa?” tanyanya balik. Saya jelaskan. Judulnya. Sinopsisnya. Dan, saya terhenyak ketika Mbak Gina bilang,” Kayaknya ditolak, deh. Tapi, nanti kita kasih tahu hasilnya ya,” balas Mbak Gina.

Seminggu setelah acara, saya menerima email penolakan. Tapi, saya bahagia. Tidak karena semata bertemu Mbak Gina. Melainkan, karena saya menyenangi bertemu dengan orang-orang hebat. Sebab, ada yang perlu saya ingat dan saya catat sebagai pelajaran. (*)

Bunda Rika dan Waktu Pesta

Namanya, Rika Noor Athari.  Perempuan yang lahir di Padang, 8 Mei 1992 silam. Kami memanggilnya Bunda Rika. Bunda, ya. Sederhana, usia kami terpaut satu tahun. Pribadi yang penyanyang, perhatian, dan ceria. Dia adalah Ibu kami, yang selalu mengerti kami. Karena itu, kami panggil dia dengan sebutan itu.

(Dok.Pribadi milik Bunda Rika)
(Dok.Pribadi milik Bunda Rika)

Ketika Waktu Pesta beredar pertama kali di Gramedia Jabodetabek, khususnya Gramedia Depok, Bunda adalah saksinya. Usai membeli buku Waktu Pesta di Gramedia Depok, aku hendak pulang ke kost. Sambil menunggu bis kuning di halte Stasiun UI, aku membuka dan membaca kembali Waktu Pesta.

Ketika asyik membaca, Bunda lewat. Ia menyapa,” Dodi…,” sapanya dengan wajah ceria seperti biasa. “Udah keluar ya bukunya,” kata Bunda lagi.

Dan, aku tersenyum.

“Kura-kura ninja,” kataku, sambil menempelkan jari telunjuk di atas kepala, menirukan adegan Kugy di film Perahu Kertas ketika cerpen Kugy dimuat di sebuah majalah.

Ini foto 'Waktu Pesta' milik Bunda, dan bagian tulisanku yang sudah diberi sedikit tulsan dengan kata-kata manis plus tanda tangan.
Ini foto ‘Waktu Pesta’ milik Bunda, dan bagian tulisanku yang sudah diberi sedikit tulsan dengan kata-kata manis plus tanda tangan.

Bunda berjanji akan membeli buku Waktu Pesta. Janji itu ditepati. Suatu hari, Bunda mengabari. Hari lainnya, dia mengirimkan pesan untuk menandatangani buku miliknya. Aku bersedia. Kami bertemu di Kancil.

Aku selalu tidak bisa berkomentar ketika Bunda bilang: “Sekarang, dia datang kepadaku bukan lagi sebagai teman. Tapi, kini sebagai penulis….”

Bun, aku sayang Bunda! (*)

 

 

Menanti Februari: Sebut Saja Itu Kejutan

Salah satu cara merawat perasaan bahagia adalah dengan memperpanjang ‘usia’ rasa itu, menyiapkan kejutan kecil setiap setiap hari

Dodi PranandaTelah lama, saya terbiasa menyiapkan kejutan-kejutan kecil untuk diri saya sendiri. Konon, rasa ini membuat saya bahagia. Bila berkenan singgah di kamar saya, di kos, ada semacam kalender (linimasa) yang berisi 35 kotak bentuk kubus yang biasanya saya tulis momen yang dinanti. Misal, seminar yang temanya saya sukai, pengumuman pemenang sebuah kompetisi, hari ulang tahun keluarga dan teman di bulan itu, dan banyak momen lainnya.

Diam-diam, saya menyadari, cara seperti ini membuat saya merasa optimis setiap hari, merasa perlu berbahagia karena esok saya punya bahagia yang lain. Kejutan-kejutan yang saya tulis di kalender itu, membuat saya berpikir, ada alasan bagi diri saya untuk merasa bersiap dengan kejutan.

Ini hanya sekadar intro.

Saya akan cerita sebuah kebahagian, sebuah ‘kejutan’ yang sudah saya persiapkan untuk diri saya sendiri. Tepat Februari 2013, saya punya semacam kebahagiaan. Dari sebuah kompetisi menulis cerita patah hati yang digelar GagasMedia, saya dinyatakan sebagai satu dari sepuluh pemenang.  Saya mengirimkan cerita berjudul: Yogyakarta, Suatu Cerita. Cerita pada naskah itu, saya tulis ketika banyak inspirasi yang datang, semacam hidayah, dan pencerahan dari kisah seorang kawan di SMA Negeri 1 Padang.

Saya enggan membuka cerita itu di sini karena takut bukunya kehilangan keistimewaan. Tapi, yang jelas, buku ini akan diterbitkan GagasMedia, Februari 2013 mendatang. Saya juga belum tahu, buku yang ditulis oleh 10 pemenang lomba bertajuk Proyek 14: Dongeng Patah Hati itu, akan diberi judul apa oleh Redaksi.  Hal yang pasti lainnya, buku ini menjadi buku antologi saya yang kesekian (kalau tak salah jumlahnya sudah belasan) dan buku pertama yang diterbitkan GagasMedia, kelompok penerbit AgroMedia.

Sebetulnya, ini bukan kali pertama bagi saya mengikuti kompetisi menulis yang digelar Gagas. Dulu, sekitar tahun 2009, saya juga pernah ikut lomba bertajuk ‘Menulis Cerita tentang Guru’. Namun, malangnya, saya gagal. Cerita yang saya kirimkan untuk kompetisi itu tak berhasil menemukan takdirnya, dan malah (menemukan takdirnya ketika) menjuari lomba di curhatkita.com (Baca tulisan berjudul Surat dalam Botol Kaca).

Tentulah, sekarang buku ini dalam proses terbit. Sampulnya pun, mungkin kini tengah dirancang. Rasa tak sabar saya kadang sering memuncak, dan berpinta pada-Nya agar Februari segera datang.

Selamat menanti kejutan ya teman-teman. Sebetulnya, salah kalau saya memakai kata kejutan, karena terkesan menghilangkan unsur suprise-nya. Tapi, apapun namanya, ini adalah sesuatu yang membuat saya patut menunggu dengan senang hati. Saya harap nanti, kalian semua, berkenan terkesan, bila suatu hari membaca buku ini. Kejutan ini, kejutan buat kalian juga. Kita lihat dan kita tunggu, bagaimana Februari membungkus rapi kebahagiaan ini. (*)

Depok, 1 Desember 2012