Aruna dan Pertarungan Rasa

Lidah Aruna dikelabuhi rasa. Kecut asam jeruk terasa asin. Air sungai yang mengalir ke pantai yang mestinya terasa asin malah terasa tawar. Semua terjadi lewat mimpi, pada malam-malam, ketika Aruna melakukan perjalanan.

Lidah Aruna adalah lidah yang teramat peka. Lidah yang perasa. Segala rasa pernah bertarung di sana. Lidahnya bagai seorang petualang. Ia mencicipi makanan apa saja yang menarik perhatiannya, namun satu hal yang membuat ia sangat terobsesi adalah resep nasi goreng Si Mbok yang menurutnya sulit dicarikan tandingan.

Maka ketika One World, lembaga yang bekerja untuk PWP2 menugaskan ia menginvestigasi kasus flu burung yang menjangkiti warga di beberapa kota: Surabaya, Pamekasan-Madura, Singkawang, Pontianak, Aruna (Dian Sastrowardoyo) segera tahu ia punya waktu untuk lidahnya.

Edwin untuk kedua kalinya memasak di dapur film Palari, setelah Posesif (2017), mencoba menyajikan hidangan yang sederhana. Begitu layar menyala, yang muncul adalah sepanci sup daging iga. Dengan asap mengepul. Dan aroma kaldu yang seperti mampu keluar dari layar bioskop. Dan jemari Aruna yang merajang bahan-bahan tambahan seperti tomat.

Bersama Aruna, ada sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra) seorang koki di sebuah restoran yang memuja makanan. Makanan adalah pengikat organik di antara keduanya, setidaknya begitu yang diceritakan dalam versi novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak.

Apa kesamaan di antara keduanya? Baik film maupun versi buku, kita dapat mendengar suara Aruna sebagai sudut pandang cerita: pikiran-pikirannya, bagaimana ia memandang dunia lewat makanan, dan juga hatinya.

Rasa tidak hanya bertarung di lidah Aruna. Rasa juga bertarung bahkan mengelabuhinya dalam perjalanan di kota yang ia kunjungi untuk membongkar konspirasi flu burung. Jika Laksmi membuka beberapa bab dengan mimpi-mimpi yang ganjil, atau dengan bayangan, atau hanya khayalan sepintas, Edwin menampilkannya dalam bentuk keterasingan bahkan kebingungan Aruna dalam pertarungan rasa. Sudah tak jelas lagi baginya jeruk yang asam dan kecut terasa asin, dan juga saat ia diam-diam menyedot air di tengah bebatuan, kemudian suara Farish (Oka Antara) berusaha membangunkannya.

Kesamaan lainnya juga pada niat untuk melakukan eksplorasi bentuk. Edwin mencoba teknik memecah dinding keempat atau breaking the fourth wall, sehingga suara tokoh bukan lagi sekadar narasi dalam dialog belaka, melainkan sebagai narator yang bercerita. Kita melihat bagaimana air muka Aruna ketika berbicara ke kamera. Alhasil, suara Aruna terasa lebih personal seakan mengajak penonton untuk mendengarnya, bahkan masuk ke alam pikirannya. Ke dunia dan lidahnya Aruna.

Kekuatan dan jejak citarasa yang begitu khas dari Aruna dan Lidahnya ada pada dialog. Baik Aruna, Bono, Nad (Hanah Al-Rashid) semuanya seperti tiga sahabat yang sedang duduk di meja-meja restoran atau tempat makan dan berdiskusi tentang apa saja. Titien Wattimena memang jago urusan begini. Di tangan midas milik Titien, kita sampai lupa Aruna dan Bono sebagai sepasang sahabat, pernah menjadi sepasang kekasih pada sebuah masa.

Bukti bahwa dialog dan topik yang dibahas sangat keseharian adalah ketika Aruna dan Nad, seorang kritikus makanan, sedang di kamar hotel. Selagi Aruna di toilet, ia membicarakan masalah intim perkara gadis tiga puluhan. Obrolan soal seks, menstruasi, pembalut wanita, hingga kondom muncul sebagaimana mestinya. Topik-topik yang biasa dibicarakan wanita di ruang-ruang privat. Dalam kondisi dan situasi berbeda, sedikit mengingatkan kita pada Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017), ketika Marlina dan Novi di semak-semak padang tandus membicarakan soal lelaki.

Lidah Aruna adalah lidah yang teramat peka. Lidah yang perasa. Segala rasa pernah bertarung di sana. Begitu juga dengan hatinya. Maka kehadiran Farish selama masa investigasi, menjadi sebentuk rasa manis bercampur asam, bercampur asin, di tengah dua puluh satu makanan yang tampil. Rasa yang dulu pernah disimpan Aruna dalam hatinya. Lama, lama sekali. Meski rasa cinta pada Farish pernah mengelabuhinya, pada akhirnya, Aruna adalah Aruna. Aruna yang tidak pernah main-main soal rasa. (Dodi Prananda, jurnalis dan penikmat film)

 

ARUNA DAN LIDAHNYA

Produser: Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy, Sutradara: Edwin, Penulis: Titien Wattimena, Pemeran: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, dan Oka Antara, Produksi: Palari Films

Iklan

Permainan Maut dari Raditya Dika

 

Willy Dozan, Raditya Dika, dan Hifdzi Khoir dalam film terbaru garapan Raditya Dika berjudul Target (Sumber foto: Bookmyshow)

Raditya Dika selalu menarik dibahas. Ia diremehkan, sekaligus disanjung. Ia bisa jadi kurang dihargai oleh lingkungan perfilman, namun filmnya selalu tembus jutaan penonton. Karyanya belakangan mulai lintas genre, membuat kita perlu memperhatikan usahanya. Satu hal, Raditya Dika seorang pembelajar. Ia tidak berpuas diri menguasai satu tema yang selama ini menjadi cap dagangnya, yaitu tema komedi percintaan yang mengeksploitasi kisah kejombloan, namun berusaha menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Belajar dari kelemahan film Hang-Out (2016) yang mempertemukan sejumlah artis seperti Surya Saputra, Titi Kamal, Dinda Kanyadewi hingga Prilly Latuconsina, kini Raditya Dika menyapa penontonnya lewat Target. Film ini masih memakai formula yang sama, namun teknik penceritaan serta kemasannya jauh lebih menantang dan tentu saja, otak bakal terkuras untuk menulis skenario dengan plot twist berlapis. Ya, berlapis, alias multi-layer.

Cerita dimulai ketika sembilan selebriti yang memerankan dirinya sendiri terjebak di sebuah gedung kosong. Mereka awalnya diundang casting sebuah film berjudul Target. Alih-alih bertemu kru syuting, sembilan artis ini, Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, dan Anggika Bolsterli terpaksa menjalani skenario yang belum mereka pelajari sebelumnya. Enggak ada yang namanya reading. Bukannya diarahkan seorang sutradara, mereka terpaksa menjalankan arahan dari sebuah suara yang mengaku dirinya sebagai Game Master. Dan, peran yang mereka mainkan adalah peran yang mematikan. Hanya satu orang yang akan selamat. Film yang menurut penulis skenario aslinya, film yang belum pernah dibuat di manapun, film yang akan fenomenal!

Kisah semacam ini, di mana permainan maut sekaligus berbahaya, semua orang dikumpulkan pada sebuah tempat, lalu berperang satu sama lain demi mempertaruhkan siapa yang paling kuat, dan layak untuk tetap hidup, sudah tidak asing bagi pecinta thriller-misteri. Sutradara Yorgos Lanthimos pada 2015 mempertunjukkan aksi orang jomblo vs orang berpasangan dalam film The Lobsters. Francis Lawrence juga punya seri The Hunger Games-nya, di mana adu kekuatan antardistrik di Panem. James Wan pada 2014 juga sempat meneror seluruh penduduk bumi lewat Saw, yang seakan menjadi standar kengerian film bergenre serupa. Ada lagi Cube (1999), bahkan The Employer (2013). Sineas Indonesia sendiri belum terlalu banyak bermain di wilayah ini, apalagi harus mengawinkan genre ini dengan komedi.

Burukkah permainan Raditya Dika kali ini?

Pertama, terlihat ada upaya penyempurnaan dari cara membungkus penuturan atau gaya bercerita. Kita harus melihat Raditya Dika betul-betul memikirkan selebriti dari kelas mana yang harus ia ajak: Youtuber (Ria Ricis), Stand-up Comedian (Abdur Arsyad dan Hifdzi Khoir), Ilusionis (Romy Rafael), pemain film yang mengaku “senior” (Samuel Rizal, dan juga Willy Dozen) dan beberapa selebriti perempuan yang harus memberikan warna lain (Cinta Laura Kiehl dan Anggika Bolsterli).

Teknik di mana pemain memerankan dirinya sendiri dilakukan setelah Hang-Out. Mengingatkan kita juga pada cara Seth Rogen dan Evan Goldbery dalam This is The End (2013) berfantasi soal aktor hollywood jika menghadapi hari kiamat. Raditya Dika tidak sepenuhnya gagal dalam memilih pemainnya. Nama-nama dalam film Target jelas lebih beragam dan punya peranan masing-masing untuk menggerakan skenario.

Alhasil, kita tidak lagi sekadar mendengar celotehan lucu di sekitar permainan maut antara selebriti vs youtuber, selebriti baru vs selebriti senior, komika vs artis dan juga olok-olok pada karakter Willy Dozan yang demi kepentingan cerita menjadi pria kemayu bernama Wince. Yang terakhir ini terasa menganggu. Dua komika dalam film ini juga memerankan tugasnya dengan baik, mereka adalah comic relief. Perhatikan saja ketika Abdur Arsyad berucap dengan santai “Malas nonton di bioskop, air mineral saja puluhan ribu, memangnya itu dari air mata Reza Rahadian?”, lalu ada lagi ketika di sebuah level game, semua pemain diajukan pertanyaan buah apa yang kulitnya mulus? Lalu datanglah Abdur di detik-detik akhir menjawab dengan wajahnya yang tak berdosa itu: durian diamplas. Lucu, kan?

Tunggu, tak kalah lucu adalah Samuel Rizal. Semula kukira, ya ampun, ini Sammy mentang-mentang artis langganan Soraya harus banget main, tapi melihat gaya dia yang ceplas-ceplos dan arogan, dia lah magnet paling kuat film ini. Dia tokoh yang sangat merebut perhatian sejak awal. Waktu di jalan tol layang ada yang nyerempet mendahului mobilnya, langsung ngomel, “Pasti bukan artis tuh.” Dan, beberapa adu mulut dengan pemain lain seolah-olah dialah yang paling senior dan “artis beneran” dibanding yang lain. Sammy, you’re rock! Namun, jika boleh menyebut satu atau dua nama pemain yang mampu berakting dengan rentang emosi yang lebar, maka dua nama itu adalah Abdur dan Hifdzi. Mereka berdua tidak hanya menghidupkan film lewat lelucon khas komika, namun mereka orang yang mungkin tidak begitu dipandang pada mulanya, lalu berusaha pada sebuah titik konflik, menunjukkan sisi lain dalam dirinya.

Hanya saja, Raditya seakan-akan lupa kalau penempatan menegangkan dan lucu ada baiknya dipisah dan tidak selalu berjalin-berkelindan. Bagaimana mungkin orang tegang lalu tertawa bersamaan? Bakat komedian Radit yang begitu menonjol, sementara efek menegangkan terlalu datar. Enggak ada tegang-tegangnya, kecuali semua skenario terkuak. Dan, sedikit lebih parah, bagaimana mungkin para selebriti ini tidak menunjukkan simpatik sedikit pun ketika ada rekan sesama profesi mati dalam permainan. Raditya Dika agaknya hanya mengeksploitasi tawa. Setiap situasi diproyeksi menjadi sumber guyonan. Walau ini hanya film dan rekayasan belaka, alam film perlu menunjukkan sikap peduli dan emosional saat satu di antara mereka mati karena gagal dalam permainan. Iya betul kalau semua orang punya insting cuma pengin menyelamatkan diri sendiri di kondisi berbahaya, namun hanya beberapa dialog, misalnya dari Cinta Laura yang menunjukkan sisi mereka sebagai selebriti yang juga manusia biasa. Come-on Radit, act like human being!

Akhirnya, kita harus membicarakan bagaimana plot-twist dalam film Target bekerja. Semula, saya pikir saya akan mengamuk kalau mengetahui cerita berhenti pada kenyataan bahwa tokoh pesulap atau ilusionis yang diperankan Romy Rafael. Ya, ini mudah sekali menebaknya. Dan, karena bukan Raditya Dika namanya, karena ia telah belajar dari pengalaman menggarap Hang-Out, twist berlapis membuat saya akhirnya berpuas diri sebagai penonton. Julukan game master itu sendiri bukan disematkan untuk satu tokoh yang disebutkan pada akhir cerita. Game Master itu, adalah Raditya Dika sendiri, yang sudah berjuang membuat kita betah dan terikat mengikuti perjalanan atau permainan maut itu. Dialah Game Master sesungguhnya.

DODI PRANANDA, jurnalis, novelis, dan penikmat film.

TARGET

Sutradara dan Penulis Skenario: Raditya Dika Produser: Sunil Soraya Produksi: Soraya Intercine Films, Pemeran: Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli

Sebuah Hadiah Kelam dari Hanung

(Sumber foto: thegift.co.id)

Kelabu adalah warna yang dipilihkan Tuhan untuk hidup Tiana (Ayushita Nugraha). Di masa kecilnya, ia senang menyimpan dirinya di dalam lemari. Sebab, rumah tak memberikan warna pada masa kecilnya. Ibunya mengajarkan Tiana tentang kegelapan.

Satu-satunya teman yang dapat memahami Tiana hanyalah Bona, yang menjadi teman bercakap-cakap. Kadang Bona memberi suara dari seberang, tapi juga seringkali diam. Sepertinya, hidup di sepatu Tiana sungguh tidak menyenangkan.

Ketika Tiana tumbuh menjadi dewasa, ia menjadikan menulis cerita sebagai cara memberi warna atau menciptakan keindahan sendiri. Kehidupan sebagai penulis membawa Tiana sampai di paviliun milik keluarga Harun (Reza Rahadian) di Yogyakarta. Kota yang bagi Tiana, aromanya seperti “kayu tua yang dipernis ulang”.

Berawal dari kesan pertama yang tidak menyenangkan karena Harun bersikap arogan dan cuek. Namun, dua tokoh kita ini memiliki kedekatan emosional yang tumbuh atas dasar persamaan kelamnya hidup.

Tiana kecil dihantui bayangan mimpi buruk dalam hidupnya. Ketika, ia melihat ibunya meregang nyawa. Dan setiap kali memejamkan mata, masa lalu berlari di kepalanya. Sementara Harun, tumbuh dalam amarah dan dendam atas sikap ayahnya. Kemarahan itu membuat ia berakhir menjadi seorang buta yang hidup dengan menyimpan duri dalam daging.

Bagi Tiana, melihat Harun hidup dalam kegelapan, seperti memandang ke dalam dirinya. Berdosakah jika aku masuk pada kehidupan lelaki itu? Sebuah pertanyaan yang sering diajukan Tiana pada dirinya.

Sutradara Hanung Bramantyo dan penulis cerita Ifan Ismail menawarkan kisah kelam dari dua karakter yang tidak sempurna. Tidak heran kenapa kedekatan tumbuh begitu cepat pada keduanya. Sebelumnya, Harun adalah sosok keras kepala yang sangat menutup dirinya, kecuali pada pembantu yang mengurus hidupnya. Namun, kehadiran Tiana mampu menyulapnya jadi Harun yang lunak dan penuh kejutan. Ikatan itu terjalin organik, bahkan bisa dibilang timbul begitu saja.

Hanung dan juga Ifan yang menulis skenario pun tidak ragu-ragu bermain simbol. Perubahan karakter Harun misalnya, digambarkan Hanung lewat dibukanya gembok pembatas kamar yang dihuni Tiana menuju ke rumah utama yang ditinggali Harun. Adegan terbaik dalam film ini, tentang bagaimana sebuah hadiah kunci yang dapat membuka jarak fisik yang memisahkan. Meski terasa ganjil, ini adalah bentuk ungkapan Harun telah membuka diri sepenuhnya bagi kehadiran Tiana. Ungkapan cinta Harun pun divisualkan ke dalam pahatan patung berwajah gadis berambut hitam ikal itu, hanya untuk menjelaskan betapa Harun ingin mengabadikan sosok yang telah mengubah hidupnya.

Tampaknya film ini memang bukan sebuah kisah cinta romantis seperti film Hanung terdahulu: Brownies (2004), Jomblo (2006), atau Perahu Kertas (2016). Film ini bisa dibilang karya yang menampilkan sidik jari Hanung yang sesungguhnya. Film yang baginya, “ekspresi kejujuran dan kebebasan berkarya”. Terbukti, Hanung tidak memusingkan karya yang akan diberati pesan dan metafora. Di film ini pesan moral yang tampaknya ingin diajukan adalah tentang penerimaan diri serta mencari tujuan hidup. Namun, ada pesan yang jauh lebih besar, yaitu bisakah cinta dua orang yang berada di titik terendah dalam hidupnya ini menyatu, untuk kemudian saling menyembuhkan diri satu sama lain, atau alih-alih seperti akhir yang ditawarkan, mampukah kita mengekspresikan cinta dengan cara tidak memiliki?

Namun sebagai film yang bisa dibilang “serius”, kita mesti mengkal hati mengetahui kehadiran sosok Arie (Dion Wiyoko) sejak kecil di hidup Tiana — dan kelak menjadi pasangan Tiana— hanyalah cara untuk memudahkan skenario. Di paruh akhir cerita, Arie diceritakan dokter asal Indonesia yang bekerja di sebuah rumah sakit di Italia. Mestinya, ada dua momentum di mana Hanung dapat mencengkram dan meledakkan emosi penonton, yaitu saat Tiana harus menyelesaikan hubungannya dengan Harun dengan hati yang kacau, dan momentum kedua, saat Arie menunjukkan pengorbanan dalam hidupnya. Kita dapat melihat pengorbanan yang dilakukan Arie, seseorang yang awalnya mampu mengisi ruang bagi kekosongan hidup Tiana. Dan tentu saja, pada sebuah keputusan yang akhirnya dipilih Tiana bagi hidupnya.

Sebab, kata banyak pujangga kontomporer kita, cinta yang sejati itu justru ditunjukkan dengan keikhlasan untuk memberikan apa yang berharga dari dirinya, kepada seseorang yang tidak akan jadi miliknya.

Yang menarik dari film ini, adalah permainan akting Ayushita yang melampaui pencapaian yang pernah dibuatnya dalam film Tidak Bicara Cinta (2013) bersama Nicholas Saputra. Ayu mampu bermain dalam rentang emosi yang lebar: melawan kekelaman hidupnya untuk kemudian mencari warna baru. Karakter Tiana dapat berkembang, memandang hidupnya jauh lebih dari sekadar pemenuhan hasrat, namun telah melampaui pemaknaan hidup yang dia butuhkan.

Sepertinya, Tiana hanya ingin membuktikan kebenaran kata-kata pelukis Picasso yang percaya hidup adalah soal bagaimana menemukan sebuah pemberian. Dan tujuan hidup yang sesungguhnya adalah bagaimana kita sanggup memberikannya.

DODI PRANANDA, jurnalis dan penulis.

 

THE GIFT

Produser: Rodney L. Vincent, Anirudhya Mitra, Sutradara: Hanung Bramantyo, Penulis skenario: Ifan Ismail, Pemeran: Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Dion Wiyoko, Christine Hakim, Distributor: Seven Sunday Films

Dalam Simalakama Dominika

Jennifer Lawrence sebagai Dominika Egorova dalam Red Sparrow (2018). Sumber foto: ttps://www.clevescene.com

Jangan sebut kemalangan yang terjadi di hidupmu sebagai sebuah kecelakaan. Tak ada satu kejadian yang patut disebut sebagai kebetulan.

Dominika Egorova, seorang balerina kenamaan Bolshoi terjebak pada satu titik nadir hidupnya. Kejadian yang ia sebut sebagai kecelakaan pada pementasan balet telah mengubah jalan hidupnya. Semacam harus menggarami nasib, atas dorongan tak ingin melihat ibunya yang sakit itu bakal jadi tunawisma, serta tak mampu membayar pengasuh sang ibu karena Bolshoi sudah memiliki pemain baru, Dominika menelan buah simalakama pemberian pamannya, Ivan Dimitrevich Egorov (Matthias Schoenaerts) yang bekerja sebagai intel Rusia. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kamu harus pilih petualangan satu ini: menjadi mata-mata.

Sebelum ini, kita melihat Dominika (Jennifer Lawrence) hanya sedang dirundung malang. Namun, kelak kita tahu Dominika bukan hanya menimpa kemalangan, tapi ia sedang memainkan sebuah skenario petaka.

Pertolongan Paman Egorov membuat Dominika harus berjalan dengan kerikil dalam sepatunya. Tubuhnya yang tinggi semampai, molek, dan menggaraihkan, dan dengan paras yang indah itu, berjalan dengan sepatu dengan kerikil itu. Temui orang yang dianggap negara sebagai musuh. Bila perlu, korbankan yang harus dikorbankan. Tubuhmu adalah senjatamu. Dominika bahkan tak perlu dibekali senjata apa-apa, hanya butuh gaun merah, sedikit gincu, dan susunan kalimat yang tepat untuk merayu. Bagaimana bisa menolak jika semua ini dikerjakan atas nama negara?

Sutradara Francis Lawrence yang sebelumnya bekerja dengan Lawrence untuk seri Hunger Games membuat kita tersedak seperti menyuap makanan tanpa henti, sementara saat yang bersamaan di depanmu orang-orang sedang bunuh-membunuh, dan sebagian lain orang bercinta. Rasakanlah seperti itu rasanya! Tersedak, jijik sambil meringis, itulah ketika jalan hidup pilihan paman membawa Dominika di sekolah agen rahasia binaan dinas intelijen Rusia, SVR, untuk mendidik mata-mata yang mereka juluki sebagai Sparrow. Sekolah ini menggembleng pemuda-pemudi Rusia yang dipilih karena kekuatan mereka, dan sebagian lain karena kerapuhannya. Mereka didoktrin bahwa moralitas adalah omong kosong dari sikap sentimentalitas manusia, karena dalam pengalaman Ibu Kepala Sekolah Matron (Charlotte Rampling), harga diri adalah yang selalu lebih dahulu jatuh. Karena itu, jangan ambil pusing jika negara memintamu untuk menyerahkan jiwa dan raga -raga dalam artian sesungguhnya. Serahkan tubuhmu kepada negara. Sebab, inilah saatnya negara meminta imbalan atas kebaikan memberikan tempat untuk tinggal.

Sebegini menderitanyakah menjadi agen rahasia? Setidaknya itulah yang dituangkan mantan agen CIA, Jason Matthews pada novelnya yang menjadi pijakan cerita film ini. Mathews mendedahkan betapa rumitnya saat kita selalu sigap membaca motif musuh, jangan terkecoh tipu daya, serta harus terbiasa hidup dalam tekanan. Bahkan, seperti setiap kewajiban tokoh-tokoh film ini, semua penonton diharuskan jangan sampai lengah jika ingin pulang dengan pikiran yang tenang. Perhatikan setiap gerak-gerik tokoh, karena pada akhirnya itulah kunci yang dapat membuka pintu cerita. Meski kita tahu realitas film adalah refleksi dari panas-dingin hubungan dua negara adidaya ini, kita seolah dibuat memahami sendiri sebetulnya apa yang sedang diinginkan dan dicapai dua negara ini. Kita tak betul-betul diberikan latar kondisi politiknya secara gamblang, tapi dua tokoh kita, Dominika dan belakangan dengan Nate, adalah gambaran dari hubungan Amerika-Rusia yang memasuki fase panas belakangan ini, yang percikan diduga berawal ketika musim pemilihan presiden lalu.

Sebagai film spionase, Red Sparrow tetap tunduk pada konvensi lama, aksi dan misi adalah kunci. Berikutnya baru aktor, setidaknya itulah yang kita saksikan pada seri James Bond atau Jason Borne. Namun, Lawrence sepertinya punya sedikit kompromi atas hal ini, alih-alih membangun dinamika lewat aksi, ia justru berpijak pada suspensi. Kata Red atau merah yang dipakai sebagai judul, merupakan personifikasi dari darah yang mewarnai awal, paruh, hingga akhir cerita. Perhatikan cara Lawrence membuka cerita. Mula-mula ia perkenalkan Dominika dengan segala kepayahan hidupnya. Ingat, sama sekali bukan adegan aksi. Lalu, Dominika sampai pada sebuah pementasan penting yang dihadiri orang penting, namun adegan balet ini silih berganti ditampilkan dengan sebuah adegan penting lainnya yaitu pengejaran agen Amerika yang sedang bertemu seseorang di sebuah taman. Tensi dari dua peristiwa yang berjalan pada waktu bersamaan namun disorot secara bergantian, menjadi kunci yang mengantarkan kita pada jalan cerita berikutnya.

Selain itu, Lawrence justru menjadikan karakter sebagai kunci utama penggerak cerita. Ia membiarkan karakter Sparrow melanglang dunia, dari satu misi ke misi lain tanpa dibekali kecanggihan teknologi atau tampil dalam balutan busana hitam khusus. Agen rahasia kita justru diberikan kesempatan untuk menjadi manusia seutuhnya, tanpa kekuatan fisik berarti, sekali pun ia harus menghadapi kehidupan yang amat mengerikan. Menariknya, memanusiakan Sang Mata-mata ini rupanya cukup ampuh untuk membuat karakter protagonis ini mencuri perhatian. Kita melihat Dominika sebagai perempuan dengan segala keterbatasan, kelemahan dan juga kekuatan yang ia miliki. Walau pekerjaan agen rahasia itu terdengar sangat keren, kamu bisa berpindah kota dan negara sekejap kilat, ada di tempat-tempat penting dan tidur bersama orang penting, percayalah, ini kehidupan atau pekerjaan yang tidak ada indah-indahnya. Salah langkah, nyawa melayang. Saat Dominika menyelesaikan misi mendekati Nate Nash (Joel Edgerton) untuk mengantongi nama mata-mata Amerika yang disusupkan di intelijen Rusia, kita melihat sisi romantis dengan latar gelap dari film ini. Rupanya, cinta telah tumbuh di tempat yang sangat berbahaya. Namun, kekuatan cinta ini juga yang menuntun Dominika membuat permainan akal-akalan baru. Bayangkan, siapa lagi yang dapat kamu percaya di dunia ini jika semua orang punya agenda masing-masing?

Yang lebih menggembirakan daripada itu semua adalah karakter Dominika terlihat memiliki upaya mendobrak patriarki. Dominika tidak tunduk pada aturan siapa-siapa. Tidak pada Pamannya. Tidak pula pada negara. Tidak juga pada permainan yang telanjur ia mainkan. Ia membuat aturannya sendiri. Ia membuat permainannya sendiri. Kalaupun keadaan harus memaksanya tunduk pada satu kemauan, ia mencari cara untuk keluar dari keharusan memenuhi keinginan itu dan kembali pada satu tujuan hidupnya: Ibunya. Ini tentu saja selangkah lebih maju dari pion perempuan seperti yang diperankan Angelina Jolie dalam Salt (2010) dan Charlize Theron dalam Atomic Blonde (2017).

Sparrow kita, Dominika, justru memiliki kekuatan pada pikirannya sendiri, dan kemampuan ia untuk bertahan dengan segala bisikan hati. Ia selalu berusaha melihat segala persoalan dengan kacamata dalam dirinya, karena ia bukan kuda yang dapat ditunggangi oleh siapa pun. (*)

Dodi Prananda, jurnalis, novelis, dan penikmat film.

RED SPARROW

Sutradara: Francis Lawrence Produser: Jenno Topping, Peter Chernin, David Ready, Steven Zailian. Penulis: Justin Haythe. Pemeran: Jennifer Lawrence, Joel Edgerton, Matthias Schoenaerts, Charlotte Rampling, Mary-louise Parker, Jeremy Irons Distributor: 20th Century Fox

Menghidupkan Kembali Benyamin

Sumber foto: Cumicumi

Sutradara Hanung Bramantyo sedang bermain-main sambil membayangkan apa jadinya jika Pengki (yang identik dengan Benyamin Sueb) hidup di zaman kini. Pembuktian Reza Rahadian untuk tantangan baru bermain komedi musikal.

 ***

 Sekitar empat puluh enam tahun lalu, Sutradara Nawi Ismail menghadirkan karakter Pengki, pemuda Betawi panjang akal, riang jenaka, serta sering kali membuat ulah karena keisengannya. Pengki, jika Anda mengikuti ceritanya sejak awal, adalah nama asal bunyi yang disampaikan tokoh Frengki. Tokoh ini harus diakui, telanjur melekat pada satu sosok saja. Jika disebut nama Pengki, ingatan semua orang langsung tertuju pada Seniman Legendaris Benyamin Sueb, sehingga ia menjadi begitu sulit digantikan, selain hanya dapat diperankan oleh Benyamin Sueb sendiri.

Menghidupkan Pengki berarti sama saja dengan menghidupkan Benyamin Sueb. Setelah Mendiang Babe Benyamin mangkat pada 1995, kita hanya dapat bernostalgia lewat sejumlah seri Benyamin yang masih diputar di televisi sepanjang tahun 2000. Siapa yang sungguh-sungguh dapat melakukan upaya re-born sosok legendaris sekelas Benyamin? Namun, Sutradara Hanung Bramantyo yang menyanggupi tantangan rumah produksi Falcon Pictures sepertinya tidak main-main dengan ambisi menghidupkan kembali Pengki atau Benyamin. Buanglah jauh-jauh pikiran bahwa Hanung sedang membuat biopik Benyamin Sueb. Kita hanya sedang membicarakan Pengki, karakter yang puluhan tahun lalu tertidur lama dan seakan terkubur bersama perginya Sang Legenda. Hanung dalam versi re-boot Benyamin Biang Kerok (1972) tampaknya sedang bermain-main sambil membayangkan apa jadinya jika Pengki hidup di zaman kini.

Aktor terbaik negeri ini, Reza Rahadian harus menerima tantangan ambisius menghidupkan kembali karakter besar itu. Jika Anda termasuk publik golongan“Bosan Reza Rahadian”menyuarakan: Dia Lagi-Dia Lagi, setidaknya harus berbesar hati, karena memerankan Pengki sama saja dengan mendobrak kemustahilan. Pengki yang adalah Benyamin, adalah karakter dengan gerak tubuh luwes dan ia adalah orang yang paham betul menguasai medan aktingnya. Ia juga punya gelak tawa yang khas, dan ditambah lagi pandai menyanyi dan menari. Soal yang pertama, itu bukan sebuah kemustahilan karena semua orang sudah tahu Reza sangat meyakinkan dengan peran Habibie dalam Habibie & Ainun (2012). Soal yang kedua, Reza juga sudah membuktikannya lewat karakter Bosman dalam My Stupid Boss (2016), ingat tawa khas penuh kemenangan Bosman yang diciptakan Reza untuk menghidupkan karakternya. Hanya satu soal lagi, menyanyi dan menari, karena inilah sisi Reza yang belum kita lihat dari film terdahulunya.

Pengki zaman dulu yang diceritakan pandai merayu dan merebut hati banyak gadis dengan tipu-tipu bulusnya, termasuk mengaku memiliki harta benda yang adalah kepunyaan majikannya. Termasuk, menakhlukan Ida Royani yang menjadi lawan mainnya. Namun, Sutradara Hanung, dengan tiga penulis cerita versi daur ulang, Bagus Bramanti, Seno Aji Julius dan Hilman Mutasi hanya meminjam karakter Pengki dan menulis ulang semuanya dengan meletakkan semuanya pada kehidupan hari ini. Pengki zaman kini digambarkan sebagai Anak Betawi dari keluarga kaya raya. Ibu Pengki yang diperankan dengan baik oleh Meriam Bellina, seorang pengusaha kaya raya yang mewarisi harta benda dan segala kecanggihan, meski tidak begitu harmonis dengan Babe (Rano Karno). Pengki sebagai anak semata wayang, nyaris tidak dapat diandalkan keluarga. Namun, di luar sana Pengki justru terlibat dalam misi penyelamatan warga kampung pinggiran Betawi yang permukimannnya mau digusur. Bersama rekannya, Somad (Adjis Doa Ibu) merancang sebuah muslihat menyabotase sebuah kasino milik mafia ibu kota dan mengeruk seluruh uang taruhan demi membayar jaminan agar warga tak digusur. Somad meretas akses agar dapat mengirim Pengky mengandalkan segala kemampuan teknologi bawah tanahnya.

Rupanya, Hanung yang selama ini lebih sering bercerita lewat gaya drama ketimbang komedi, mencari formula lain supaya komedi tak jadi satu-satunya hal yang menjadi ruh kekinian film ini. Falcon yang sebelumnya menggarap komedi Comic 8 (2014) dan Comic 8: Casino Kings (2015) meminjam formula dua film komedi laris ini untuk Benyamin Biang Kerok.

Aksi heroik dan misi penyelamatan dengan perangkat teknologi mutakhir sekaligus dibumbui humor, adalah kata kunci pembangun cerita. Tak ketinggalan sedikit drama anak manusia, karena merayu gadis adalah kepandaian Pengki yang harus tergambarkan. Benyamin bermain bersama Ida Rodiya di film orisinalnya, sementara Pengki di masa kini, terdorong atas keinginan menyelamatkan gadis pujaannya, Aida (Delia Husein) yang berada dalam cengkeraman mafia. Aida dikisahkan sebagai biduan yang terpaksa menjadi simpanan Said (H Qomar) untuk melunasi utang keluarganya. Bagaimana akting pemain baru ini? Terlalu “berjudi” memasangkan Reza dengan Delia, membuat kita harus menyaksikan pertunjukan yang jomplang dan tak seimbang. Di bangku penonton, saya harus bersedih karena drama dua anak manusia ini tidak terkelola dengan baik, hanya karena relasi keduanya sangat datar dan tak meyakinkan sebagai pasangan yang saling jatuh cinta di antara petaka atau cengkeraman mafia. Tidak ada pengalaman mendebarkan. Tidak ada suasana romantis yang mengena ke hati, hanya karena relasi Pengki dan Aida terlindas cerita yang terlalu gagah dan sarat humor politik.

Namun, satu soal lain yang belum terungkap, tentang bagaimana Reza membuktikan ia pandai menyanyi dan menari, terjawab sudah pembuktiannya. Reza Rahadian terbukti berhasil menghidupkan kembali Pengky serta menjawab tantangan baru bermain untuk genre komedi musikal. Ia tak hanya menghidupkan Benyamin Sueb dan karakter Pengki. Reza juga membayar mahal nostalgia kita pada lagu-lagu yang dinyanyikan Benyamin. Bagian musikal dari film ini cukup berhasil membawa riang suasana dengan segala atribut Betawi yang semarak.

Sekali lagi, penonton boleh jadi akan sangat terhibur dengan kejenakaan Pengki. Semua yang menonton film ini sangat mungkin meninggalkan bioskop dengan perasaan atau pikiran rileks, meski kenyataannya ceritanya tak membekas saking gagahnya.

*) Dodi Prananda, jurnalis dan penikmat film.

 BENYAMIN BIANG KEROK

Sutradara: Hanung Bramantyo, Penulis: Bagus Bramanti, Seno Aji Julius, Hilman Mutasi Pemeran: Reza Rahadian, Rano Karno, Meriam Bellina, H. Qomar, Delia Husein, Lydia Kandau, Tora Sudiro, Adjis Doa Ibu, Aci Resti, Produksi: Falcon Pictures

Merayakan Kemenangan Perempuan

Karakter Marlina yang diperankan Marsha Timothy. Berkat perannya dalam film ini, Marsha meraih penghargaan aktris terbaik di Sitges Film Festival. (Sumber: Cinesurya)

Film Indonesia dengan pencapaian sinematik terbaik. Pernyataan tegas perempuan yang menolak tunduk pada logika patriarki. 

Nyaris tidak ada lagi yang dimiliki Marlina dalam hidupnya. Suaminya teronggok sebagai jasad yang membusuk di sudut rumah. Buah hatinya hanya bertahan tujuh bulan di kandungan. Dan, kehadiran kawanan perampok yang dimotori Markus pada hari itu, seakan melengkapi kehilangan bagian lainnya; harta, hewan ternak bahkan tubuhnya.

Perjalanan hidup Marlina yang diperankan Marsha Timothy memasuki babak pertama: perampokan (robbery),  kita melihat gambaran perempuan etnik Sumba, seorang janda kesepian yang hidup dalam sunyi. Marlina pada mulanya hanyalah perempuan biasa, kemudian terusik karena kedatangan Markus (Egy Fedly) yang dengan terang-terangan  menyampaikan maksud merampok sekaligus menidurinya jika masih ada waktu. Aksi itu tak lantas membuat membuat Marlina keok, panik atau berteriak minta tolong. Nihil jika ada yang menolong dirinya –selain dirinya sendiri– jika memikirkan ia hidup seorang diri, tak bertetangga dan tak bersuami pula.

Mouly Surya yang mengarahkan film panjang ketiganya ini menceritakan kisah perempuan dari sudut tergelap. Bekal humor gelap diselipkan imaji dendam adalah modal dasar yang sering menjadi khas Mouly Surya, selayaknya film terdahulu, Fiksi (2008) dan Yang Tak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (2013). Perempuan sebagai kunci atau “daging” cerita adalah salah satu kekhasan Mouly sejauh ini, setidaknya untuk mendengar kegelisahannya. Alisha dalam Fiksi terdorong atas motif cinta dan obsesi pada lelaki, Fitri terdorong imaji akan sosok hantu dokter, sedangkan Marlina terdorong atas motif dendam. Bahkan, usai memenggal kepala pemerkosa, setelah masuk babak kedua: perjalanan juang wanita (journey), Marlina tetap yakin ia tak berdosa. Memenggal kepala pelaku dimaknai sebagai sebuah perlawanan membela diri alih-alih dosa atau tindak kriminal. Marlina menjelma pahlawan untuk dirinya sendiri, alih-alih sebagai pendosa.

Rupanya penderitaan Marlina belum juga berakhir. Keterasingan, kesenjangan ekonomi dan pengetahuan termasuk moda sarana transportasi atau komunikasi di puncak perbukitan sabana di Sumba, Nusa Tenggara Timur tempat Marlina hidup, membuatnya harus menempuh perjalanan jauh dan nyaris sia-sia mencari keadilan sambil menenteng kepala Markus melewati padang yang panas garang dan tandus.

Marlina bukan satu-satunya yang perlu kita simak, setidaknya tentang harga yang harus dibayar menjadi seorang perempuan. Novi (Dea Panendra), yang ditemui Marlina di jalan, juga menjadi perpanjangan tangan Mouly Surya untuk menuturkan betapa tidak adilnya dunia terhadap perempuan. Novi harus menanggung beban hamil sepuluh bulan, itu pun belum termasuk tudingan miring tentangnya. Perjalannya adalah untuk menjumpai suaminya, membelah padang sabana yang berbukit-bukit untuk mencari Umbu. Ada lagi seorang Mama yang turut dalam perjalanan (Rita Matu Mona) dari sudut pandang seorang tua menjelaskan porsi atau wilayah perempuan dalam kehidupan (dan dengan teori botol sausnya itu). Kadang, tak ada dialog yang terlalu berisik, namun yang justru mengusik, betapa ketiga perempuan di perjalanan ini harus berperang melawan kenyataan tak adilnya dunia pada kaum mereka.

Sejak awal babak film ini, Mouly sudah menabur banyak kritikannya lewat sejumlah simbol. Dalam ketidakberdayaannya, perempuan terpaksa mencari upaya perlindungan untuk dirinya sendiri, sekalipun berbuntut ke ranah hukum.  Bahkan, Mouly tak membiarkan karakternya ini tunduk pada logika patriarki, dan tentu saja perempuan yang ditampilkan sebagai sosok yang rapuh dan menangisi penderitaannya adalah hal yang langka disaksikan. Marlina justru anti-tesisnya. Di babak pertama misalnya, dengan senyum bengis mengakhiri hidup empat perampok hanya dengan sup ayam racikannya. Babak ini, memperlihatkan kekuatan perempuan yang tak terduga. Meski tak disertai aksi fisik, perlawanan perempuan dimulai di wilayah domestik seperti dapur. Ironinya, rumah yang sejatinya adalah wilayah pribadi, namun Marlina kehilangan kuasanya. Ia justru mendapat penghakiman lewat ucapan sarkas, belum lagi pertanyaan yang melecehkan, bahkan didikte sebagai pelayan alih-alih tuan rumah, sehingga satu-satunya cara yang dapat menyelamatkan ia dari keharusan tunduk adalah dengan memenggal kepala Markus dan dengan sup ayam spesial itu. Sementara itu di bagian lain, di antara semak padang sabana Sumba yang memesona itu, ada-ada saja cara Mouly yang seperti mengajak kita berdiskusi tentang wacana kesetaraan gender. Digambarkan, dalam perjalanan yang mencekam itu, Marlina dan Novi buang air kecil dengan berjongkok sambil membicarakan perihal laki-laki. Sebuah gambaran yang lazim berlaku sebaliknya.

Namun, malangnya, Marlina atau Novi tidak pernah benar-benar merasakan dunia ada di pihak mereka. Setidaknya, saat Novi harus mati-matian menjelaskan kepada suaminya yang menuding ia tidur dengan laki-laki lain. Sementara, Marlina, yang akhirnya sampai pada babak ketiga: pengakuan dosa (confession), harus menghadapi kenyataan pahit bahwa di hadapan hukum, ia masih saja tak berdaya. Relasi-kuasa yang begitu dominan berada di tangan laki-laki, tampak sebagai gambaran ironi saat adegan di kantor polisi. Pikiran Marlina yang bolak-balik entah harus mengakui kesalahannya, sementara di satu sisi, ia adalah korban yang semestinya dan berhak mendapat perlindungan, bukannya kalimat pedih dari mulut polisi laki-laki (Ozzol Ramdan) seperti, “Kalau dia kurus, kenapa kamu mau diperkosa?” Saat laporan dibuat dan Marlina berusaha menjelaskan duduk perkara, sejak dalam pikiran, rupanya sudah tidak ada tempat untuk korban perkosaan seperti dirinya.

Adegan subtil dalam hidup Marlina, yaitu saat Marlina menyandar di jasad suaminya seolah ingin mengadukan penderitanyaanya, dan saat seorang gadis kecil  di warung mendekap tubuh Marlina yang berguncang meratapi hidup, adalah adegan terbaik yang membungkus film ini.

Di babak akhir, kelahiran atau tangisan bayi, adalah puncak dari semuanya. Kelahiran adalah kemenangan perempuan, setidaknya bagi Novi yang akhirnya berhenti menanggung penderitaan hamil tua. Itupun dilakukannya setelah melakukan aksi yang tak terbayangkan sebelumnya. Babak akhir juga menandakan babak baru, tanda kehidupan Marlina dan Novi, serta bayi Novi menyambut kehidupan setelahnya. Perampok itu boleh saja berhasil merenggut paksa tubuh Marlina, namun pada akhirnya, Marlina yang dibantu Novi memenangkannya. Mereka merampas kembali semuanya dengan kekuatan mereka sendiri. (*)

DODI PRANANDA, jurnalis dan penikmat film.

 

MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK

(Marlina the Murderer in Four Acts)

Sutradara: Mouly Surya Produser: Rama Adi, Fauzan Zidni Pemeran: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egi Fedly, Yayu Unru Produksi: Cinesurya kolaborasi dengan Shasa&Co Production, Cinesurya Pictures, Kaninga Pictures, Astro Shaw, HOOQ dan Purin Pictures.

Prestasi: Tayang di Directors Fortnight, Cannes Film Festival, Toronto International Film Festival. Marsha Timothy meraih penghargaan aktris terbaik Sitges International Fantastic Film Festival, Spanyol 2017.

Milenial Melawan Dunia

Pemeran film My Generation (dari kiri ke kanan), Arya Vasco, Lutesha, Alexandra Kosasie, dan Bryan Langelo. (Sumber: FHM/ IFI Sinema)

Upi memotret setiap zaman dan generasinya. Akting empat aktor pendatang baru menyuarakan kegelisahan generasi milenial dengan sangat baik dan apa adanya.

VIRAL dan menggemparkan sekolah. Keempat murid eksentrik ini, Konji, Zeke, Orly dan Suki duduk bersama orangtua mereka menghadap Kepala Sekolah akibat video mereka di YouTube yang menggugat guru, sekolah dan orang tua.

Film My Generation karya Upi Avianto dibuka dengan adegan khas generasi milenial. Karakter generasi mereka yang kritis, cenderung dinilai narsistik, haus eksistensi, dan senang dengan hal-hal baru yang mendobrak, heboh dan viral. Batas komunikasi bagi generasi mereka sudah bukan hal penting lagi. Alhasil, sebuah video yang berisi pengakuan paling jujur mereka tidak hanya membuat Kepala Sekolah naik pitam karena dianggap menghina guru dan sistem pendidikan, melainkan juga membuat orang tua mereka geram karena dipermalukan.

Konji (Arya Vasco) tumbuh dalam tekanan, alih-alih dalam nasihat atau petuah berharga. Sang Papa (Joko Anwar) adalah polisi moral bagi generasi Konji. Di meja makan, Papa selalu membandingkan generasinya dengan generasi Konji, “Zaman Papa dulu…” Bagi Papa Konji, anak-anak zaman sekarang sudah tak berpegang pada nilai moral. Ia menghakimi kebebasan yang diberikan membuat generasi Konji malah kebablasan.

Senasib dengan Konji, Suki (Lutesha) beranjak dewasa dengan krisis kepercayaan diri. Orangtuanya meletakkan segala beban moral pada pundaknya sebagai sulung yang harus memberikan contoh pada adiknya. Suki harus melewati masa mudanya dalam mosi tidak percaya Sang Ayah (Surya Saputra). Namun, apa daya, satu-satunya cara yang membuat Suki tetap dapat merasakan riuh suka cita masa mudanya hanya saat bersama kawan-kawan ketimbang saat bersama keluarga.

Sahabat perempuan lain di geng empat sekawan ini, Orly (Alexandra Kosasie) digambarkan sebagai sosok yang penuh prinsip dan pencarian akan jati diri. Gejolak pemberontakan dalam diri Orly diekspresikan saat ia menggugat betapa dunia tidak adil pada perempuan. Di rumah, Orly menghadapi bencana ibunya (Indah Kalalo), orangtua tunggal yang senang berpacaran dengan laki-laki yang nyaris sepantaran Orly dan sering bertingkah seakan masih remaja.

Lain pula dengan Zeke (Bryan Langelo) yang memiliki hubungan dingin dengan orangtuanya. Nyaris tidak ada tegur sapa dengan ayah dan ibunya. Namun di lubuk hati, Zeke memendam semacam penyesalan yang tak pernah betul-betul ia ungkapkan.

Keempat anak muda ini meski berbeda karakter, namun adalah potret paling rinci tentang apa dan siapa generasi milenial. Di rumah yang semestinya ruang untuk membentuk diri, namun justru sebagai arena penghakiman atau arena yang merenggut ekspresi masa muda mereka. Kehidupan atau generasi mereka kerap didefinisikan generasi orang tua mereka yang mengklaim selalu menjunjung moral.

Upi Avianto hadir sekali lagi tidak hanya memotret setiap zaman dan generasinya. Dalam film Realita Cinta & Rock N Roll (2006) menampilkan generasi Ipang, Nugie dan Sandra di masanya. Sekarang, Upi mendokumentasikan peliknya generasi milenial yang mendapat cap negatif dan hidup mereka selalu didenifisikan sebagai generasi yang payah sekaligus tidak dapat diharapkan.

Menariknya, sebagai penonton (entah sebagai orangtua atau anak), akhirnya kita dapat gambaran yang menarik tentang seteru dua generasi. Generasi orangtua (yang umumnya antara generasi The Baby Boom atau generasi The Baby Bust/ Generasi X) menganggap generasi mereka lebih baik, generasi yang dapat memecahkan masalah. Sementara ada gap dengan generasi Konji yang multi-tasking, namun pada akhirnya, jiwa kritis dan penuh rasa ingin tahu membawa mereka untuk menyatakan bahwa generasi The Baby Bust tidak jauh lebih baik dibanding mereka. Bahkan tampak ada pesan yang ingin disampaikan lewat dialog Konji yang mempertanyakan kenapa ia terlahir tiga bulan lebih awal dari tanggal pernikahan orangtua mereka. Kurang lebih adegan ini ingin mengatakan, apa yang diwarisi anak zaman sekarang adalah buah yang dilakukan generasi terdahulu. Jika generasi Konji dianggap kecanduan teknologi internet, kenyataannya yang menciptakan gawai justru generasi dari orangtuanya sendiri. Silang pendapat yang justru saling berkaitan. Upi berusaha lebih adil memberi ruang untuk kedua generasi ini menampilkan pikiran-pikiran mereka.

Patut juga menghargai keberanian Upi menampilkan empat aktor pendatang baru. Arya Vasvo, Bryan Langelo, Lutesha dan Alexandra Kosasie sebagai pendatang baru mampu menyuarakan kegelisahan generasi milenial dengan sangat baik dan apa adanya. Mereka sangat meyakinkan ketika menampilkan gejolak kebebasan, upaya membebaskan pemikiran serta keluar dari stereotipe lingkungan yang mengungkung dan mendiskreditkan generasi mereka.

Meski boleh dikatakan sebagai satu-satunya sutradara yang menunjukkan perhatian besar pada rekaman setiap masa dan generasinya, tentu saja cara berpikir, cara memandang empat sahabat ini sangat bias perkotaan. Kita tentu saja berharap pada Upi, suatu hari dapat menggambarkan remaja yang lain, yang jauh dari nuansa urban.

Di pengujung film ini, kita dibuat tersentak, pada fase titik terendah pertemanan Konji dan kawan-kawan. Kita melihat mereka lebih adil melihat dunia. Milenial yang sering tertuduh sebagai generasi amoral, pada akhirnya tumbuh dengan sendirinya, dengan cara mereka dan dengan logika berpikir mereka menghadapi peliknya masalah di rumah, di sekolah dan di pergaulan.

Namun, saat kita tersentak, kita sadar, meski lintas generasi (cross generation) dengan gap yang sulit dicapai, generasi Konji dan generasi orangtuanya, sampai pada satu titik temu. Kita tahu, semua orang tua di dunia pernah muda. Mereka tentu saja tak terlepas dari aib masa muda. Tapi, satu hal yang pasti, generasi Konji, belum pernah menjadi tua. Mereka hanya sedang berproses menuju ke sana. (Dodi Prananda, jurnalis dan penikmat film)

 

MY GENERATION

Sutradara dan Penulis: Upi Produser: Adi Sumarjono, Pemeran: Arya Vasco, Bryan Langelo,  Alexandra Kosasie, Lutesha, Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra, Joko Anwar, Indah Kalalo, Karina Suwandhi, Aida Nurmala, Produksi: IFI Sinema.