Dongeng Patah Hati

Sumber: Fanspage GagasMedia
Sumber: Fanspage GagasMedia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dia tidak mencintaimu lagi.

Hatimu terbelah dua ketika dia memutuskan untuk mendua.

Tak ada lagi yang bisa kau lakukan.

Semuanya berakhir, semuanya sia-sia.

Dia tidak mencintaimu lagi.

Dan kau menangis saat mengucapkan selamat tinggal.

Seketika itu juga tubuhmu terasa menggigil.

Kedinginan karena telanjur terbiasa dengan hangat pelukannya….

*

DONGENG PATAH HATI adalah omnibus karya 10 pemenang Sayembara Menulis ‘Proyek 14’ dan 4 penulis pilihan GagasMedia. Buku ini dipersembahkan untuk kamu yang patah hati, diam-diam mencintai… atau yang pernah diselingkuhi.

Sekadar Cerita, di Balik Cerita

Barangkali, ini mengawali mimpi besar saya, menerbitkan buku dengan penerbit GagasMedia. Dulu, semasa SMA, rasanya ini menjadi mimpi yang tertulis dalam diari impian saya. Baru sekarang, walau pelan-pelan, saya wujudkan. Bermula ketika Tita, teman saya di Komunikasi bercerita kalau ada lomba proyek 14 GagasMedia, Sayembara Dongeng Patah Hati. Ow!

Saya langsung semangat. Sepanjang hari, saya mencari ide cerita. Temanya adalah patah hati. Saya kemudian bersemedi berhari-hari. Sampai pada hari ketika tenggat akan berakhir. Menjelang dua belas jam terakhir, saya masih mind writing, mematangkan ide dengan menulis dalam pikiran. Kemudian, delapan jam terakhir saya mulai menuliskan. Ide ceritanya mengenai kisah yang saya pinjam dari cerita mendiang sahabat saya semasa SMA, Al. Saya kira, menulis cerita yang diangkat dari kisah nyata akan mudah saja menulisnya. Ternyata, tidak juga. Bagaimanapun, harus diberi bumbu. Menaburi bumbunya inilah yang membuat saya merasa perlu kerja keras. Kalau bumbu ceritanya tidak pas, sajiannya pasti tidak akan enak, persis bagaimana makanan.

Jam-jam terakhir, menjelang tenggat, saya kian lancar menulisnya. Adrenalin saya terpacu. Kenangan-kenangan tentang sahabat saya itu, seperti buncah dari ruang kenangan saya. Saya menjadi sangat rindu dengan mendiang Al. Saya menulis, tapi saya rasa, saat itu saya menangis. Dan saat itu, wilayah-wilayah realita, berbaur dengan fiksi. Kisah Al, dan sosok Al, terasa hidup di depan saya. Saya seperti masuk ke kesedihan itu lagi, saat Al dikabarkan meninggal dunia, dan masuk ke ruang masa lalu paling lampau, ketika saya bertemu Al semasa MOS di SMA Negeri 1 Padang. Banyak cerita lainnya ketika Al juga aktif dan bergiat organisasi, dan kenangan-kenangan ketika Al menjadi pembawa acara dalam perpisahan kakak kelas. Rasanya…

… saya lupa bahwa saya sangat larut dan saya mabuk dalam rindu…

Saya tidak bisa saat itu datang ke rumah duka dan saya merasa menyesal tidak melihat Al untuk terakhir kali. Tapi, dalam fiksi, dalam cerita ini, saya seperti bersua kembali. Kepada Al, izinkan aku ‘meminjam’ kisah yang membuat aku saat brainstorming, aku merasa ini sungguh pedih: cerita kau dan kekasihmu, Al. Aku tidak bermaksud membuat kekasihmu bersedih lagi dan harus meneguk gelas-gelas bir nostalgia yang rentan memabukkan. Tapi, aku hanya ingin mengatakan, kesejatian cinta justru terasa ketika dirimu telah tiada. Kau, kurasa adalah kekasih abadi bagi dia.

Aku sebenarnya merasa sangat kaget ketika hari itu menerima email dari Kak Christian Simamora bahwa cerpenku masuk dalam 10 terbaik dari 600-an naskah. Waktu itu, bulan Oktober, bulan kelahiranku. Hari itu, temanku yang jadi saksi: Afridho Aldana. Saat itu, aku sedang di kedai kopi. Menikmati senja setelah usai kuliah. Kabar bahagia ini membuatku semangat berhari-hari, membuka email berkali-kali dan memastikan ini bukan email spam.

Dan, aku menjadi tidak sabar menunggu Februari setelah itu. Naskah itu dijanjikan akan terbit pada bulan merah jambu itu. Aku merasa deg-degan dan penuh debar. Beberapa pemenang lainnya, ada satu dua yang aku kenal. Teman-temanku, banyak yang tidak sabar membaca cerpen tentang Al ini. Cerpen ini berjudul ‘Yogyakarta Suatu Cerita’, dan letaknya agak dipengujung halaman.

Aku rasa, mungkin kini saatnya tepat untuk mengucapkan terima kasih pada:

Almarhum Al dan kekasihnya, untuk ceritanya yang aku pinjam

Untuk Tahniah Lutfi (Tita), temanku di Komunikasi UI yang sudah memberi kabar perihal adanya lomba ini

Kepada kru gagas, Mas Christian Simamora, para editor yang luar biasa, desainer sampul yang sungguh mampu menciptakan nuansa kesedihan lewat judul buku yang bagai tersapu airmata.

Sungguh, aku hanya ingin berdoa pada Tuhan. Buat Al. Buat rasa syukur yang selalu tiada putus untuk-Nya.

Depok, 20 Maret 2013

Iklan

Rumah Seratus Empat Puluh Aksara

Pertama kali, menjadi warga republik burung biru sekitar tahun 2009. Saat itu, orang beralih dari friendster ke facebook. Plurk saat itu masih eksis, tapi, nyaris tenggelam. Sementara, twitter, mulai menampakkan batang hidungnya. Teman-teman saya, sibuk dengan akun mereka masing-masing. Saya pun mendaftarkan diri. Saat itu, terus terang, saya tak nyaman. Saya sulit menyenangi kehidupan di republik berlogo burung biru itu.

Jujur, waktu itu, saya mendaftarkan diri ke twitter karena alasan ‘ikut-ikutan’. Saya risih bila ada teman yang bertanya akun twitter saya. Di banyak forum, teman-teman saya bertukar akun twitter mereka untuk follow-follow-an. Padahal, saya lebih nyaman di facebook. Di twitter, ruangnya sangat sempit. Berbeda dengan facebook. Saya punya ruang bermain kata yang lebih besar. Bisa menautkan ini itu. Ada fasilitas yang memanjakan saya: note untuk menulis sejumlah catatan, cerita pendek, puisi, hingga informasi lomba. Di twitter, relatif sempit. Hanya seratus empat puluh aksara. Saya sulit untuk bermain lepas. Bila arena sebuah gokar, facebook membuat saya bisa dimanjakan sirkuit yang luas. Twitter, barangkali semacam rumah petak empat kali empat meter yang barangkali tidak bisa membuat gokar saya berputar-putar di arena.

Begitulah, hingga akhirnya, waktu menyatakan sesuatu. Republik burung biru menjadi kiblat media sosial. Tahun 2011, saya berniat mengurusi rumah saya lagi. Rumah saya terlalu banyak saat itu di dunia maya. Akhirnya, saya kembali ke pangkuan republik burung biru. Malangnya, saya pelupa. Saya tak ingat kunci rumah saya, sehingga saya terkurung di luar. Rumah itu saya biarkan, terkunci selamanya dari dalam. Hingga akhirnya, saya memutuskan membangun rumah baru. Membangun semua dari awal lagi, dari pondasi. Tapi, setelah terbangun, tetap saja, saya masih belum bisa merasa nyaman. Seorang teman, meledek saya,” Susah ya nulis seratus empat puluh karakter. Terbiasa menulis panjang sih.”

(Foto oleh H. Hanada)
(Foto oleh H. Hanada)

Sekitar tahun 2012, sebuah film yang berbicara soal ini dirilis. Judulnya, Republik Twitter. “Suara rakyat itu, suara twitter,” sebut dialog salah satu adegan dalam film itu yang terus terngiang.

Dan, kemudian twitter menjadi primadona. Sebagian orang nomaden. Yang saat itu merasa ada tren baru, akhirnya membangun rumah di republik burung biru. Saya kira, twitter merajai industri media sosial. Di televisi, program apapun, selalu ada akun twitternya. Pelan-pelan, saya mulai nyaman, mulai menikmati atmosfer di rumah saya ini. Rumah saya berlamat di Jalan Twitterland: @pranandadodi. Sampai tulisan ini saya tulis, tetangga yang selalu mampir ke rumah saya, ada sekitar tujuh ratusan. Mereka adalah tamu-tamu saya yang setia. Sementara, saya juga sering bertamu ke tujuh ratus rumah pula. Mereka adalah sahabat saya, penulis yang saya kagumi, tokoh, dosen, dan lain-lain.

Saya sering berisik, semenjak bermukim di sini. Tiap sebentar saya menulis seratus empat puluh aksara. Saya takut, tetangga curiga kalau saya resah sepanjang hari di rumah. Tapi, ini semata, saya ingin membuat rumah saya ramai. Ingin banyak yang tertarik untuk bertamu.

Kadang, saya menyesal juga, kenapa saat pertama kali twitter lahir, saya tidak serius mengurusi rumah. Padahal, sekarang, akun-akun pseudo macam @pepatah, @terimakasihibu, @hurufkecil, @Poconggg, dst, menjadi wisata menarik bagi mereka yang hari-harinya habis di republik ini. Tapi, tak apa. Sekarang, saya benar-benar ingin mengurusi rumah ini, tanpa melupakan rumah saya yang lain. Saya ingin, setiap rumah saya, disinggahi orang, dan bila mereka mampir ke sini, mereka nyaman. Kamu, kalau mau main ke sini, ketuk saja pintu, anggap saja rumah sendiri.

Regards,
@pranandadodi

Kata Tamu Waktu Pesta

“Membaca “Waktu Pesta” rasanya seperti memasuki sebuah perayaan yang menyuguhkan banyak pertunjukan yang berhasil dituturkan secara manis dan apik. Dan pada akhir setiap pertunjukan, semua penonton akan berdiri dan bertepuk tangan. Ini adalah karya hebat dari anak-anak muda hebat!”

Wandy Ghani (@popokman), penggiat sosial media dan penulis yang sedang berproses

 

“Cerpen-cerpen dalam kumpulan Waktu Pesta ini memberikan gambaran yang terang mengenai gejolak anak muda dalam memeragakan sejumlah tema: meletup-letup. Suasana dramatik bagai membelah diri, sebagian dalam bentuk kecamuk perasaan, sebagian lain tampil melalui aksi fisik. Ada anasir mistik dan eksplorasi terhadap wilayah yang ganjil, membuat kisah-kisah yang ditulis memikat dan tak biasa.”
Kurnia Effendi, penulis dan penggemar sastra

 

Terima kasih telah mengundangku di Waktu Pesta. Pesta yang tak biasa, dan aku serasa menjadi tamu istimewa. Disuguhkan dengan makanan jiwa yang luar biasa. Diwaktu pesta aku merasa ketagihan, tak ingin pulang bahkan luar biasa dari pestanya cinderela. Empat penulis di waktu pesta memanjakan aku dengan karya mereka yang sempurna. Penulis muda yang cerdas, patut diapresiasi karena mereka adalah aset bangsa.  Masing-masing punya nuansa cerita dan gaya bahasa yang berbeda, variatif dan menurutku setiap cerpen mengandung makna yang berbeda, aku paling suka cerita dari Intan Kirana, gaya bahasanya Dodi Prananda, jalan ceritanya Mahdy, dan kemudahan mencerna cerpennya Tya Winduwati.

Selamat kepada pesta di waktu pesta. Pestanya penulis dan pembaca!

– Fitrahtul Mutia, 19 tahun, Mahasiswi

Merayakan ‘Waktu Pesta’

BEhBskcCQAAxy4S.jpg large
Foto oleh Jonathan Davin

 

 

Waktu Pesta
oleh Dodi Prananda , Intan Kirana , Muhammad Mahdy , Tya Winduwati

SINOPSIS

Teruntuk para pembaca, Atas nama cinta, kami torehkan manis dan pahitnya warna pelangi. Atas nama gelora, kami sampaikan kelam dan indahnya asa. Atas nama sang imaji, kami tunjukkan peranan tak terduga di batas khayal.

Dan atas nama para penulis, kami mengundang Anda untuk berpesta! Mari nikmati segala suasana dan ingar-bingarnya Waktu Pesta! Karena seperti yang tertulis pada kartu undangan kami semasa kecil: “Tiada kesan tanpa kehadiranmu”.

DETAIL
Judul                    : Waktu Pesta
Seri                        : Waktu Pesta
ISBN/EAN          : 9786020205823 / 9786020205823
Pengarang          :  Dodi Prananda , Intan Kirana , Muhammad Mahdy , Tya Winduwati
Penerbit             :   ELEX MEDIA
Terbit                  :   27 Februari 2013
Pages                   :  300
Berat                    :  350 gram
Dimensi(mm)   :   135 x 200
Tag

 

Memecahkan Teka-Teki Modus Anomali (Bagian 1)

Saya tahu film ini bagus, tidak semata ketika saya tahu bahwa Joko Anwar yang membesut film ini. Hampir dari semua karya film garapan Joko Anwar telah saya tonton, semisal Kala (2007) dan Pintu Terlarang – dalam versi English The Forbidden Door (2009) membuat saya perlu (dan dirasa patut) memberinya pujian.

Termasuk juga dalam sejumlah peran Joko di beberapa film, memberikan kapasitas yang berarti; seperti dalam film ‘Fiksi‘ (2008) dimana Joko bertindak sebagai penulis, di luar peran lain seperti Asisten Sutradara dalam film Arisan! (2003) dan sejumlah film lainnya. Namun, saya juga percaya, meski hanya mencuri-curi informasi melalui thriler dan teaser sebelum menonton, Senin malam (30/4) di 21 Depok Town Square, antara lain karena garansi seorang aktor utama Rio Dewanto dalam film ini (kendatipun, saya merasa Rio belum maksimal di Film ‘?‘) . Bagi saya, pilihan Joko Anwar untuk mempercayakan Rio untuk bermain di film besutannnya ini, adalah sebuah ‘perjanjian harga mati’ bagi para penggemar film Indonesia bahwa film ini memang layak tonton. Bukan film horor yang mengandalkan sensualitas untuk mendongkrak jumlah angka penonton, juga bukan film-film produksi Indonesia murahan yang akan berakhir dengan ending yang klise. Sebab, dalam Modus Anomali, Anda akan diajak berteka-teki!

Apa yang saya ragukan, khususnya tentang totalitas Rio berakting, salah besar. Saya bisa simpulkan, dalam film ini Rio telah membuktikan tentang totalitas beraktingnya yang mapan, sekaligus mengatakan bahwa Indonesia punya ‘satu stok baru’ aktor yang menjanjikan. Di luar pemilihan pemain (karena saya percaya, Joko Anwar paham benar dan selalu memperhatikan ini), saya juga merindukan bagaimana sineas dan kreator Indonesia kembali bereksperimen.

Gambar

Saya senang melihat, bagaimana dalam setiap filmnya, Riri Riza selalu mencoba yang baru, menawarkan konsep dan ide-ide film yang segar dan membawa nuansa yang fresh kepada penonton. Saya juga melihat potensi dan karakter yang sama dalam diri Joko (melalui pengamatan sederhana dari sejumlah karyanya), bahwa Modus Anomali, dalam skala tertentu, bisa dibilang sebuah bentuk eksperimen karya film yang merambah ladang ‘Thriller Psikologi’. Ini bisa dibilang, angin segar bagi perfilman nasional yang belakangan mulai ramai (sejak Januari 2012, bisa juga ditandai dengan hadirnya sejumlah film ‘Negeri Lima Menara’, ‘Dilema’, ‘Histeria’, ‘The Raid’ dll), juga bisa menandai bahwa menjelang pertengahan tahun ini, sineas tengah gencar berproduksi; semata tentu bertendensi untuk menghasilkan karya-karya layak tonton. Hal ini juga berdampingan dengan bagaimana tampak ada sebuah model film (mungkin bisa dibilang begitu karena saya tak mengerti soal teknik film) yang mulai digemari para produsen film; yaitu film Omnibus (kumpulan film mini yang dibesut sejumlah sutradara berbeda) seperti film ‘Sanubari Jakarta’, ‘Histeria’ dan beberapa tahun silam mungkin juga di film ‘Jakarta Maghrib’ dan ‘Love’. Tapi, itu bukan suatu pembaruan, karena telah banyak digarap oleh sejumlah sutradara terdahulu.

Apa yang ditawarkan Modus Anomali, bisa dibilang suatu eksperimen Joko yang ‘mapan’ dan ‘serius’ sehingga tampak berhasil dengan eksperimennya ini. Meskipun, sepanjang pertunjukkan, saya bagai merasa; diri saya tengah sedang berhadapan dengan kolom teka-teki silang di harian Kompas Minggu yang meski kerap saya isi, namun tidak pernah komplit. Begitu juga dengan film ini, terlalu banyak ‘selipan-selipan’ petunjuk dan kode-kode yang ditempelkan Joko dalam film ini yang belum berhasil saya hubungankan sehingga membentuk sebuah pemahaman makna yang utuh.

Saya pusing, bahkan ketika tengah menulis tulisan ini. Termasuk juga, sekeluarnya dari ruang pertunjukan bioskop, saya dibuat pusing dan bertanya-tanya, kemudian mencoba menecerna apa yang sebenarnya ingin disampaikan Joko dalam Modus Anomali, karena memang sungguh, ini sebuah teka-teki yang tak sederhana! Saya yakin dan percaya, saya bukanlah penonton tunggal yang keluar dari ruang pertunjukkan membawa sekotak pertanyaan. Teka-teki itu juga bahkan tak terpecahkan, pun hingga sepulang dari bioskop.

Akhirnya, saya memutuskan untuk browsing. Mencoba mencerna pelan-pelan, memahami kode demi kode, mencoba mengerti dan memahami scene demi scene yang masih segar di ingatan dengan dibantu sejumlah ulasan (meskipun banyak ulasan di google yang belum sepenuhnya menjawab tanda tanya besar saya). Saya kembali me-refresh ingatan saya, bagaimana Joko membuka film ini dengan menampilkan latar sebuah hutan (yang menjadi latar tunggal film ini; latar kabin hutan secara khusus), muncul binatang-binatang di pepohonan hutan; serangga, kadal dan yang lainnya. Pergerakan kamera yang menelusuri setiap semak belukar hutan, hingga pada akhirnya muncul karakter John (yang diperankan Rio Dewanto), keluar dari sebuah liang lahat hidup-hidup dengan kondisi serba berlumur tanah coklat.

Dari sini, teka-teki itu berawal; bahwa diceritakan John hilang ingatan, dan ia mencoba mengingat kembali apa yang tengah menimpanya dengan cara meraih dompet dan menemukan kartu identitasnya serta sebuah foto ‘keluarga bahagia’; ia dan istri beserta dua orang anak. Ia bahkan juga tidak bisa mengingat apa yang terakhir kali terjadi pada sebuah kabin di hutan (dimana terakhir kali tempat ia berlibur, tertawa canda bersama keluarganya). Kemudian, John kembali menelusuri hutan yang baginya pun terasa asing, sehingga Joko Anwar dalam hal ini tampak ingin menunjukkan; yang saat ini sedang kebingungan tidak hanya penonton (rasa ingin tahu di awal film tentang, apa yang sebenarnya terjadi pada John, siapa dia sesungguhnya?), melainkan juga tokoh utama dalam film ini sendiri yang berusaha mencari tahu misteri apa yang terjadi. Sehingga, ia kembali ke kabin dan menemukan sebuah televisi layar datar merek Sony (Sony bayar berapa ya sebagai sponsor?) dan sebuah handycam yang dipasang di tripot kamera. Lantas, dari sana muncul gambar seorang perempuan yang tak lain adalah istrinya (diperankan oleh Hannah Al Rashid) tengah terancam dibunuh oleh seseorang yang sungguh misterius. Istri John yang tengah hamil anak ketiga mereka akhirnya tewas setelah pisau milik sosok misterius itu menghunjam tepat diperutnya. Ini clue kedua, sekaligus lanjutan teka-teki ke rani yang lebih menyulitkan untuk dijawab.

Gambar

Bila mungkin insting saya kuat untuk menerjemahkan petunjuk-petunjuk Joko dalam film ini, mungkin saya tak perlu melakukan pencarian jawaban ini sendiri. Sejumlah petunjuk yang mungkin membantu memahami adalah; bahwa John sebenarnya tengah berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarganya dari ancaman maut sosok misterius itu. Jam alarm ini banyak muncul dalam beberapa scene, akan tetapi saya luput mencatat waktu-waktu yang ada, sehingga saya hanya bisa mengamati bagaimana perjalanan waktu film ini dengan latar suasana siang dan malam. Ini salah satu petunjuk untuk bisa menerka, sebab dalam sejumlah sinopsis Modus Anomali, tertera tulisan demikian; bahwa John sedang berpacu dengan waktu. Namun, sepanjang film ini dipertunjukkan, saya tak temukan bagaimana kondisi dimana John memang tengah berpacu dengan waktu. Karena saya rasa, penceritaan tentang John tengah berpacu dengan waktu tidak begitu dijelaskan selain, mungkin juga unsur-unsur suara alarm yang kuat karena dalam sejumlah artikel saya membaca, ini antara lain karena kemapanan Yusuf Andi Patawari dalam merekem setiap detail suara, sehingga tak satupun suara dari unsur benda yang menghasilkan bunyi luput olehnya. Salah satunya, suara alarm sebagai penanada waktu. Suara langkah kaki John yang kadang tersaruk-saruk melangkah di hutan dsb. Saya nukilkan dari yahoo, katanya juga, para peracik musik film ini merekam suara-suara dari pendingin ruangan, mesin kopi, atau air pembuangan di toilet yang kemudian di-mix menjadi seperti yang terdengar dalam film Modus Anomali. Oya, selain jam alarm itu, masih terdapat sejumlah petunjuk lain, semisal beberapa tempat, kotak-kotak yang ada diliang (kalau tak salah bertuliskan truth), mayat yang ditubuhnya tertulis tulisan ukiran di kulit tubuh, liang-liang yang ada, dan mungkin beberapa petunjuk yang tak teraba oleh saya. Ketika film dimulai dan hingga dua puluh menit awal berjalan, saya mulai merasa jenuh, karena yang tampil hanyalah bagaimana John tengah mencoba mencari tahu dan hampir sepenuhnya muncul adegan-adegan John berjalan menyusuri hutan, suara napas yang tersengal-sengal, seluruh tubuh John yang kumal dan terus berlari menjamah hutan yang maha asing olehnya. Tapi, ternyata, setelah saya pikir-pikir, apa ini mungkin bagian dari keutuhan cerita (bahkan, di sana juga terselip petunjuk itu).

Saya memang gagal belum bisa berhasil menerjemahkan maksud isi film. Ini juga kali pertama, setelah running text tanda film berakhir muncul dari layar bawah menuju layar atas, dalam menonton film, tapi saya belum berhasil mengerti benar maksud filmnya. Bahkan lebih ekstrem, ketika hendak menonton, masih ada menjanggal di benak; apa sebenarnya maksud judul film yang tak membuahkan sedikit gambaran di benak (kira-kira filmnya akan bercerita tentang apa, sebab biasanya dalam sejumlah judul film yang saya tonton, akan muncul asumsi-asumsi tersendiri dari judul). Dalam penelusuran saya, ternyata Modus Anomali berarti kejiwaan yang tidak biasa (dikutip dari Yahoo). Pendefinisian ini, mengingatkan saya pada sejumlah film Thriller berjudul ‘Psikopat’, yang juga memakai unsur-unsur yang kurang lebih sama, bahwa ada penjagal bernuansa Psikologis. Psikopat mungkin bisa dijelaskan dalam literatur Psikologi, sebagaimana juga film Modus Anomali ini.

Namun, dalam waktu dua jam ini menulis ini, saya tentu tak berhasil temukan literatur Psikologis yang mampu menjelaskan apa sebenarnya sisi kejiwaan yang ‘tidak biasa’ itu, sebagaimana yang ingin dihadirkan oleh Joko melalui karakter John, dimana ditampilkan dalam film, John muncul sebagai karakter penjagal nyawa. Melalui cara pura-pura (setelah diceritakan, secara tak sengaja ia telah membunuh kedua anaknya secara sadis, mungkin juga karena faktor harus berpacu dengan waktu, sehingga waktu yang menjawabnya), ia menyamar sebagai seorang tetangga yang tinggal di kabin hutan sebuah keluarga. Keluarga itu juga tengah menikmati masa liburnya; antara lain diperankan oleh Marsha Timothy, Surya Saputra sebagai suami istri bersama kedua putra mereka. Dari sinilah, saya baru bisa merasakan sisi kejiwaan yang tidak biasa dari John yang ternyata seorang ‘pemain kematian’ karena ia aktor baru terhadap kematian keluarga itu. Secara sadis, John memukul Surya Saputra dengan tongkat baseball sehingga jatuh pingsan. Disusul membekap mulut Marsha dan menempelkan sebuah cairan (nah, ini dia, saya tak mengerti itu cairan apa dan juga yang pernah disuntikkan John ke lengannya, yang dalam asumsi saya, inilah yang menjadikan John menjadi penjagal karena dibagian akhir, ada kalimat “Beri aku monster!” seraya menyuntikkan jarum itu ke tubuhnya). Lalu, John merekam di handycam milik keluarga Surya dan Marsha, setelah ia sebelumnya melihat beberapa video keakraban keluarga itu, bagaimana ia mencoba membangunkan kembali Marsha lantas membunuhnya. Semuanya ia rekam dalam handycam lantas ia tinggalkan di atas meja. Sementara, juga ada sebuah kertas di sisi kedua putra Marsha dan Surya yang agaknya belum mati. Di sana tertulis tulisan John tentang sejumlah ancamannya, dan kalimat bila mereka (kedua putra Marsha dan Surya) ingin menemukan Bapak mereka, carilah kunci yang tersimpan dalam tubuh John yang ia sendiri lantas mengubur dirinya hidup-hidup. Di sinilah, saya mulai kembali dibuat berasumsi; apa cairan berwarna itu semacam cairan untuk melupakan ingatan, sehingga bilaman kedua putra Surya dan Marsha siuman, ia tak ingat apa yang terjadi (sebagaimana yang tengah menimpa John di awal film)? Atau, apa yang telah diperbuat John pada keluarga Marhsa dan Surya, adalah memang sebuah ‘permainan kematian’ yang digemari John karena ia tengah mengidap kejiwaan yang tidak biasa itu? Saya rasa, arahnya akan ke situ. Saya rasa juga, tokoh John, merupakan tokoh misterius yang hobi membunuh demi kepuasaan jiwanya yang tidak biasa itu, karena ada scene dimana ia merekam cara ia membunuh Marsha. Secara sadar, ia merekam semua itu lewat handycam.

Saya sungguh kecewa sebenarnya, tak berkesempatan hadir dalam Screening Film ‘Pintu Terlarang’ dan Bedah Film Modus Anomali yang dihelat BEM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Senin (30/4) di Pusat Studi Jepang yang menghadirkan Joko Anwar (selaku Director-Produser), Lala Timothy (Produser) dan sejumlah kru serta Cast film ini. Waktu untuk mengikuti Journalist Days di Fakultas Ekonomi yang bertabrakan membuat saya mesti harus memilih salah satu (diluar pilihan untuk absen pada mata kuliah Dasar-dasar Penulisan). Bila mungkin berkesempatan hadir, mungkin saja, sedikit banyak, saya bisa dapat bocoran untuk menjawab kebingungan dan teka-teki. Minimal, saya ada saldo clue dan tidak sebingung ini ketika sepulang menonton.

Saya pikir, ini film cerdas, karena berhasil membuatnya penonton bingung. Saya tak tahu, apa ini ada quotesnya; yang jelas ada kalimat yang menyebutkan, karya besar adalah karya yang membuat orang banyak berpikir. Tidak salah kalau film ini menyabet sejumlah prestasi seperti memenangkan penghargaan Bucheon Award di ajang Network of Asian Fantastic Films (NAFF) yang merupakan bagian dari Puchon International Fantastic Film Festival di Korea Selatan (Juli 2011) dan World Premiere di festival film terbesar kedua di Amerika Serikat, South By Southwest (SXSW) 2012, di Austin, Texas pada 9-17 Maret 2012. Saya pikir lagi, ini kesuksesan besar Joko Anwar untuk karya filmnya yang sangat dinanti-nanti juga dikemudian hari. Semoga ini menjadi PR kita bersama untuk memahami lebih dalam lagi teka-teki itu, sehingga misteri terpecahkan! Kepada Joko Anwar dan Rio Dewanto, saya ucapkan selamat.

*) Dodi Prananda, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP UI. Ia merupakan seorang penikmat sekaligus penggemar film.

Belajar Bisnis dari Para Pebisnis Muda

Berbisnis di zaman sekarang ini tidak hanya dilakoni oleh orang-orang dewasa.  Betapa tidak, di lapangan kita bisa melihat mahasiswa bahkan pelajar sekolah menengah atas mampu ikut berkecimpung dalam dunia usaha. Berikut liputan khusus Singgalang Masuk Sekolah mengenai para pelajar SMA di kota Padang yang telah berkecimpung di dunia bisnis.

Welan Mauli Angguna, 17, Bisnis Puding

Dok.Pribadi

Bisnis puding, itulah bisnis yang ditekuni cewek kelahiran 20 Agustus yang masih tercatat sebagai pelajar di SMA Negeri 1 Padang (Ketika tulisan ini ditulis masih tercatat sebagai pelajar SMA, sekarang ia tengah menempuh studi di jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia). Ide bisnis ini didapati Welan ketika ia makan bersama keluarganya di salah satu Resto fastfood yang tersohor di Padang. Welan menilai ide bisnis tersebut cukup menjanjikan dalam segi keuntungan. Sehingga Welan pun meminta bantuan modal pada Mamanya.

Menurut Welan, berbisnis puding modalnya tidak begitu besar, sehingga ia tidak begitu terbebani untuk memulai usaha bisnis ini. Satu porsi puding dijulanya dengan harga Rp.1.500. Dari bisnis ini, ia bisa meraup keuntungan minimal Rp.200 ribu per bulan. “Selain puding itu gampang bikinnya, usaha puding masih jarang penjualnya, sehingga pasar peminatnya cukup banyak. Lagian, bisnis makanan itu untungnya gede,” ujar cewek yang hobi membaca dan main musik ini. Keuntungan dari bisnis puding tersebut dimanfaatkan oleh Welan untuk membeli kebutuhan pribadinya seperti tas, baju, sandal hingga buku bacaan.

Kevin Rama Chandra, 17, Bisnis Fotografer Freelance

Dok.Pribadi

Berawal dari hobi, mengilhami Kevin Rama Chandra untuk bergelut di bisnis fotografer freelance. Ketidakterikatan kerja dan sifat bisnisnya yang bebas semakin memantapkan pilihannya untuk jauh lebih terjun pada bisnis ini. Pengakuannya pada SMS, bisnis ini terbilang cukup menjanjikan. Pasalnya tiap minggunya di kota Padang hampir selalu ada pesta perkawinan. Hal itulah yang dijadikan Kevin sebagai peluang bisnis yang bisa meraup keuntungan besar.

“Dari bisnis itu Kevin bisa dapat keuntungan hingga Rp.1,5 juta untuk setiap orderan foto wedding,” ujar cowok yang hobi fotografi dan desaign grafis ini. Kevin mengatakan untuk satu orderan pra-wedding ia bisa mengantongi uang hingga Rp.800 ribu, sedangkan untuk foto model bisa meraup kocek sebesar Rp.400 ribu. Meski masih tercatat sebagai pelajar, tak membuat Kevin merasa terganggu dengan adanya bisnis ini. Ekspektasi kedepannya, Kevin berharap ia bisa membuka Studio Photo sehingga bisnisnya bisa dapat dikembangkan. Saat ini Kevin tercatat sebagai Mahasiswa Universitas Katholik Parahyangan Bandung.

Ashari Hidayat, 17, Bisnis Hamster

Dok.Pribadi

Dari hobi mengkolekasi hamster mengantarkan Ashari Hidayat bergelut di dunia bisnis hamster. Koleksi tipe hamster yang terbilang beragam di rumahnya, membuat Dayat (demikian sapaan akrabnya-red) berkecimpung semakin jauh dengan dunia usaha ini. Dayat melihat adanya potensi peluang usaha yang menjanjikan dari bisnis hamster ini. “Peluang bisnis ini terbilang masih langka, penjual hamster masih jarang di kota Padang,” ucapnya. Lebih jauh ia mengatakan, bila membeli hamster di Pet Shop harga hamster dipatok relatif mahal, sama halnya bila membeli di hamster di komplek pasar raya Padang. “Tapi kalau beli sama Dayat, harganya di jamin murah, karena Dayat menyesuaikan dengan kantong pembeli,” tambahnya.

Kendatipun demikian, Dayat tidak menutupi kalau untuk memulai bisnis ini memakan modal yang cukup besar. Untuk harga jualnya, paket paling murah dijual seharga Rp.300 ribu termasuk hamster dan kandang. Sedangkan untuk paket paling mahal harganya dipatok hingga Rp.600 ribu. Indikasi mahal murahnya ditinjau dari tipe hamster, besar ukuran kandang, dan langka atau tidaknya tipe hamster. Dari bisnis ini, Dayat bisa mengantongi uang sebesar Rp. 3 juta per bulannya. Keuntungan dari bisnis ini digunakannya Dayat untuk modal yang diputarkan kembali hingga untuk kebutuhan konsumsi pribadi. (Saat ini Dayat menempuh pendidikan di Institut Pendidikan Dalam Negeri, Jatinangor, Bandung)

Melda Novia, 17, Bisnis Pulsa

Melda Novia, siswa SMA Adabiah Padang. Ketertarikannya dengan dunia bisnis dilandasi atas pikiran bahwa dengan membuka sebuah bisnis sangat menguntungkan secara finansial. Tak tanggung-tanggung, ia telah memulai bisnis tersebut sejak kelas satu SMA. “Saya sudah mulai menjual pulsa sejak kelas satu SMA,” katanya.

Ia mengaku selain pengalaman, dengan berkecimpung dirinya di dunia bisnis sangat membantunya untuk mempelajari bagaimana taktik berbisnis. Taktik tersebut berguna untuk melihat potensi keuntungan yang besar. “Biasanya keuntungannya saya gunakan untuk menambah uang saku,” ujarnya. Kendatipun telah merasa berhasil sejauh ini mengelola usaha atau bisnis pulsa, Melda tak mengelak bahwa ia juga menuai beberapa kendala-kendala yang menghambat kemajuan bisnisnya. “Salah satu kendala yang cukup memprihatinkan yaitu adanya konsumen yang membeli pulsa dengan sistem ngutang,” akunya.

M.Ola Oktrian, 17, Bisnis Kelinci

M.Ola Oktrian, juga mencoba peruntungan di dunia bisnis sejak ia kelas 2 SMA. Ketertarikannya pun didasari atas keuntungan yang ia dapat, khususnya secara materi. Bisnis yang ditekuni M.Ola Oktrian juga terbilang unik. Ia menjual anak dan bibit kelinci dengan harga sedang dan tinggi. Keuntungan yang ia raup melalui bisnis ini setidaknya telah membantu ia dalam memenuhi kebutuhan pribadinya. Beberapa kendala pun sempat menghambat bisnis yang ia lakoni tersebut. Sebut saja kendala ketika perawatan dan pengiriman kelinci pada pelanggannya. Hal tersebut kerap kali menjadi penghambat bagi Ola untuk mengembangkan bisnisnya jauh lebih luas lagi. (Liputan oleh Dodi Prananda)

Muhammad Iman Usman Itu Dimata Saya, Seperti…

Muhammad Iman Usman, Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. (Foto; Dok.Pribadi)

Oleh: Dodi Prananda

Sebelum saya memulai cerita ini, saya hendak memperkenalkan diri terlebih dahulu melalui bahasa tulis. Saya Dodi Prananda, berusia 18 tahun dan saat ini sedang menempuh studi di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia. Tulisan ini semata, memberikan gambaran, penilaian serta apresiasi terhadap pribadi Sdr.Muhammad Iman Usman, senior saya di SMA Negeri 1 Padang sekaligus senior juga di FISIP UI. Tulisan ini adalah semacam testimonanial untuk mengulas bagaimana influe karakter Sdr.Iman Usman yang ditularkan secara tidak langsung dan memiliki pengaruh besar terhadap diri saya.

Saya mengenal sosok Iman Usman ketika saya menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas di Padang. Ketika itu, saya masih kelas X SMA, di SMA 1 Padang, ketika itu sekolah masih berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman. Meski siswa baru kala itu, saya sudah mengenal nama Iman Usman ketika masih duduk di bangku SMP (saat itu saya menempuh pendidikan di SMPN 7 Padang). Saya kerap kali menemukan artikel yang mengulas tentang Iman, berikut berita-berita seputar prestasi terbaru Sdr.Iman yang diwartakan media lokal Sumatera Barat. Masih segar dalam ingatan saya, profil Iman dalam sejumlah perlombaan yang ditampilkan bersamaan dengan berita tentang kemenangannya dalam sebuah even.

Dari cerita teman sejawat, saya mendengar pula, prestasi yang diraih Iman sewaktu ia masih SMP (seingat saya, saya mengenali Iman sebagai siswa teladan yang aktif di lingkungan organisasi sekolah). Ketika tercatat sebagai siswa SMAN 1 Padang, darisinilah saya bisa melihat langsung sosok dan pribadi siswa yang selama ini saya baca dan temukan di media massa. Saat itu pula, saya masih mengingat Iman merupakan siswa teladan di sekolah, selain karena sederat prestasinya yang ikut bersumbangsih dalam mendongkrak reputasi dan kredibilitas sekolah, ia juga dikenal sebagai sosok yang kutu buku, gemar berkecimpung dalam organisasi dan kerap melibatkan diri dalam sejumlah aktivitas kemanusiaan.

Darisinilah saya mencoba menumbuhkembangkan setiap stimulus, spirit, dan energi positif yang secara tidak langsung saya serap melalui keseharian Iman di sekolah. Saya acap kagum, bilamana melihat Iman di jam istirahat sekolah, duduk diantara kursi panjang koridor sekolah sambil membuka buku. Buku barangkalai bisa dikonotasikan sebagai pacar setia Iman. Bilamana jam istirahat datang, saya akan selalu mendapati Iman sibuk dengan bacaannya.

Meski hobi membaca telah saya miliki sejak SD, saya tetap berani mengklaim dan mengakui bahwa, ada spirit terselubung yang sangat saya sadari yang ditangkap oleh diri saya. Disaat siswa-siswa lain (khususnya siswa ‘kebanyakan’ menghabiskan jam istirahat dengan kelompok sebaya, dengan kekasih, dengan makanan di kantin), Iman cenderung dan memang lebih menyukai mengisi jam istirahat untuk aktivitas membaca. Inilah yang kemudian mendasari, sejak di bangku SMA, saya lebih menyenangi pustaka sebagai destinasi kunjungan kala jam istirahat.

Ini mungkin hanya bagian dari stimulus paling sederhana, bila perlu saya menjabarkan semangat lain (yang dengan sadar tertangkap oleh diri saya), maka itu adalah semangat berjunalistik Sdr. Iman. Kecintaan pada dunia kepenulisan, khususnya jurnalistik dan sastra adalah dunia yang telah saya geluti pada bangku SMP. Tetapi, saya semakin merasa terarah dan mendapatkan panah dan petunjuk yang cerah tentang betapa asyik ikut melibatkan diri dalam dunia ini. Di bangku SMA, Iman ikut terlibat secara aktif di media jurnalistik sekolah yaitu MEDIA SMANSA dan menempati posisi sebagai Redaktur Pelaksana. Tugas yang cukup berat di emban, dibuktikan dengan semangat etos kerja yang tinggi oleh ia, sehingga menghasilkan buah karya jurnalistik yang maksimal. Setahu saya, dan sepengamatan saya pula, di Padang, selain SMAN 1 Padang, baru sekolah kami yang mampu menerbitkan majalah selain SMA Don Bosco Padang dan SMAN 2 Padang. Kendatipun begitu, Media SMANSA, ditangan Iman Usman, mampu bermetamorfosis dari format publikasi yang awalnya berupa tabloid menjadi majalah. Spirit begitu cepat lahir dalam tubuh saya, sehingga pada tahun 2008, saya dipercaya menjadi Koordinator Berita, berikut setahun setelah itu diangkat menjadi Pejabat Sementara menggantikan posisi Pimpinan Redaksi yang mendapat surat pemberhentian. Semangat itu, meski kadang tidak tersadari, telah melahirkan buah manis yaitu saya secara resmi dilantik pada tahun 2010 menjadi Pimpinan Redaksi, menaungi penerbitan majalah selama kurang lebih tujuh kali penerbitan. Inilah, dampak positif yang terasa begitu nyata bila saya menunaskan spirit dan energi positif yang diberikan Iman melalui aktivitas dan kesehariannya di sekolah.

Meskipun demikian, saya lebih senang menyatakan ini sebagai suatu semangat yang dilahirkan kembali ke dalam diri saya. Bukan berarti, saya adalah seorang pembajak, apalagi mesti dikatakan followers, terlebih fanatik sosok seorang Iman.

Tetapi, saya lebih senang menyebut ini sebagai, apresiasi tersendiri dari saya atas pribadi Iman yang mesti saya ekspresikan dengan cara saya sendiri. Dalam kalimat lain, energi positif yang disebarkan Iman secara tidak langsung, telah saya tangkap dan saya eksplorasi sesuai versi diri saya, berprestasi dan berkreasi dengan cara dan ‘gaya’saya sendiri.

Hal lain yang terasa sama pada diri Iman, dan juga ada pada diri saya, adalah kegemaran berorganisasi. Di sekolah, pada masa bhakti 2008 hingga 2009 (bila saya tak salah mengingat tahun), Iman adalah Ketua Bidang 4 OSIS SMA Negeri 1 Padang sekaligus dipercaya menjadi Ketua penyelenggaraan iven sains akbar di Sumatera Barat garapan SMAN 1 Padang. Iman terkenal dengan pesona dan kharismatik organisasinya di kalangan pelajar Sumbar, terlebih ia kerap kali melibatkan diri dalam organisasi eksternal sekolah. Iman tercatat pernah menjadi Sekretaris Forum Anak Daerah Sumbar (yang menjadi salah satu indikator dan cikal bakal terpilihnya Iman menjadi Pemimpin Muda Indonesia 2008 karena aktivitasnya pada bidang itu).

Jam terbangnya yang sangat banyak dengan organisasi membuat Iman ikut melibatkan diri dan dilibatkan banyak pihak. Saya tidak hapal persis apa saja organisasi eksternal sekolah yang digelutinya selain beberapa organisasi yang sempat terekam oleh jejak pengamatan saya. Meskipun demikian, seolah tak ingin kalah, saya di SMA pun lebih berkontribusi melalui kapasitas dan kapabilitas diri yang bisa saya sumbangkan demi kemajuan sekolah, seperti layaknya Iman berkontribusi. Meski menguasai bidang yang berbeda pada OSIS (Saya Bidang 6 OSIS), saya tetap menyatakan ini sebagai usaha saya untuk ingin menjadi siswa yang kontributif dan tidak terjebak pada stereotype dan ‘gaya’ hidup siswa kebanyakan di sekolah yang cenderung menghabiskan waktu untuk hal-hal tidak sarat guna dan jauh dari mutu.

Muhammad Iman Usman. (Dok.Pribadi)

 

Akan tetapi, meski sebetulnya banyak spirit yang ada di sekitar keseharian Iman, tidak berhasil tertangkap dengan baik oleh diri saya. Tentu saja ini, atas dasar perbedaan kesempatan, perbedaan faktor keburuntungan dan perbedaan kapasitas diri, membuat saya, kadang tidak berhasil mewujudkan apa yang telah menginspirasi dalam diri saya. Misalnya, ketika Iman punya riwayat pertukaran pelajar ke Jepang melalui program JENESYS, saya belum berhasil untuk itu. Faktor tadi yang kadang menghambat keinginan saya untuk melakukan hal yang sama, karena saya menilai itu adalah hal baik dan positif yang mesti saya contoh, saya tiru dan diimitasi bila perlu.

Hal lain adalah, menjadi Pemimpin Muda Indonesia, sebuah penghargaan tertinggi UNICEF yang diberikan kepada anak-anak dan remaja yang berkontribusi terhadap upaya advokasi dan pemenuhan hak anak. Sangat sayang rasanya, keterlembatan menjadi faktor ketidakmampuan saya mengikuti jejak positif itu. Iman telah melibatkan dirinya dalam kegiatan kemanusian (yang peta aktivitas Iman untuk hal ini tidak begitu saya ketahui), serta keterlibatan Iman dalam sejumlah lembaga indenpenden dan nirlaba di kawasan Padang secara khusus, dan Sumbar secara umum. Hal terbesar yang pernah ditorehkan Iman yang hingga kini belum dapat saya wujudkan adalah bertemu langsung dengan Presiden RI, karena dalam riwayat usia saya hingga kini, baru di usia 17 tahun saya baru berhasil mencapai segelintir porsi dari apa yang telah saya mimpi; yaitu bertemu langsung dan bersalaman dengan Bapak Boediono, Wakil Presiden RI, meski dalam kacamata di sisi lain, bertemu Wakil Presiden mungkin bagian dari terkecil dari catatan perjalanan prestasi Iman. Akan tetapi saya sadar satu hal, Iman yang kerap bertemu tokoh-tokoh penting nasional dan dunia telah membakar semangat saya untuk melakukan hal serupa. Iman dengan caranya, telah berupaya menunjukan aksi-aksi revolusi yang nyata, dan saya dengan cara saya pula, telah berusaha pula menampilkannya di permukaan meski secara objektif disadari banyak hal-hal besar yang telah dilakukan Iman, tetapi masih menjadi bagian dari mimpi, cita dan target saya.

Saya sangat menyadari, membaca tulisan-tulisan Iman tentang catatan perjalanannya ke luar negeri, dan bertemu tokoh-tokoh hebat Indonesia adalah bagian dari cara saya menginspirasi diri. Tulisan-tulisan itulah yang pada akhirnya, menjadi salah satu pembakar semangat saya untuk tetap berprestasi dan menunjukan eksistensi diri yang saya miliki. Karena saya menyadari potensi dalam dunia kepenulisan, saya mengarahkannya pada koridor sejenis yaitu dunia tulis menulis. Alhasil, sepanjang tahun 2008 hingga tahun 2011 (bulan September), saya telah mengantongi sebanyak 50 butir prestasi yang didominasi prestasi dibidang kepenulisan sastra dan nonsastra.

Satu hal terbesar yang saya catat dalam kamus perjalanan hidup saya adalah saya telah berhasil mewujudkan mimpi untuk bisa mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Secara ekonomi dan finansial keluarga, saya bahkan mungkin jauh di bawah Iman Usman. Saya memang kurang bahkan jarang punya motivator internal seperti orangtua, terlebih ketika duduk dibangku kela VI sekolah dasar, saya kehilangan sosok seorang Ibu. Kendatipun begitu, saya justru merasa sangat bahagia memiliki motivator sejati yang tidak pernah lelah menginspirasil; seorang manusia biasa yang ‘tak biasa’ bernama Muhammad Iman Usman. Sukses selalu untukmu Bang…

Depok, 8 September 2011