Resensi

Ketika Waktunya Ibu Datang

Salah satu adegan film Pengabdi Setan (2017) (Sumber foto: Rapi Films)

Joko Anwar duduk di kursi sutradara mengarahkan produksi film yang mengambil tempat penting dalam jejak kariernya di bidang perfilman. Film horor dengan atmosfer kengerian tingkat tinggi.

Di ranjang tua berkelambu di kamar dengan motif ukiran kembang itu,  Mawarni Suwono (Ayu Laksmi) terbaring sakit. Tiga tahun terakhir, penyanyi yang sudah tidak kebagian royalti itu terpaksa merepotkan suami dan keempat anaknya untuk mengurusnya menjelang ajal menjemput. Ketika lonceng dibunyikan, itulah tanda Mawarni membutuhkan bantuan. Namun, pada suatu malam, saat Mawarni sudah benar-benar pergi, lonceng itu kembali berdentang….

Film Pengabdi Setan (1980) garapan Sisworo Gautama Putra yang dinobatkan Majalah Rolling Stones sebagai film horor Indonesia terseram sepanjang masa dibuat versi barunya dengan banyak pengubahan atau penyesuaian (re-boot version) oleh Sutradara Joko Anwar. Beberapa tahun terakhir Joko Anwar berusaha meyakinkan Sunil G. Samtani dan termasuk ayah Sunil, Gope Samtani dari rumah produksi Rapi Films sebagai pemegang hak cipta film Pengabdi Setan lawas itu. Seolah memberi “sesajen” sebagai bukti kelayakannya duduk di kursi sutradara, Joko menggarap dua film pendek persembahan, Jenny (diperankan Asmara Abigail) dan Jangan Kedip, keduanya diluncurkan 2016 lalu.

Apa sebab Joko begitu ambisius mendambakan proyek ini? Konon, film inilah yang membersitkan keinginan menjadi sineas dalam diri Joko Anwar. Hal lainnya, menurut Joko, jika ditonton hari ini pun, di saat teknologi produksi film semakin canggih, tidak menghilangkan hawa kengerian film Pengabdi Setan.

Tentu saja tidak mudah dan merupakan beban berat mengulang kesuksesan Pengabdi Setan yang pernah diputar di berbagai negara. Belum lagi jika harus mencari tandingan aktor seperti Ruth Pelupessi yang memerankan Darminah, pembantu rumah tangga yang ternyata seorang pengabdi setan. Belum lagi, bagaimana kembali ke zaman 1980 untuk menambah suasana serta atmosfer kengerian sebagai latar untuk menceritakan sebuah keluarga menghadapi petaka dari dosa masa lalu?

Alih-alih membuat versi re-make yang menjiplak utuh semua tentang Pengabdi Setan, Joko justru menulis ulang. Tidak ada Darsinah. Tidak ada Hendarto,  berserta dua anaknya, Rita dan Tomi, keluarga kecil yang terpaksa menanggung derita dikejar-kejar roh jahat karena lalai dan jauh dari agama. Kali ini yang ada adalah seorang bapak (Bront Palarae) beserta empat anaknya, Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), Bondy (Nasar Annuz) dan Ian (M. Adhiyat). Demi terhindar dari keharusan mengulang yang sudah, Joko hanya meminjam semesta (universe) yang melingkupi kisah keluarga yang jauh dari agama ini. Selebihnya, Joko menulis ulang semua cerita dengan konteks yang lebih baru. Bahkan, tampak usaha Joko Anwar berusaha menerjemahkan judul “Pengabdi Setan” ke dalam makna yang harfiah. Jika pada film versi orisinal kita tidak dapat melihat gambaran jelas tentang sejumlah tanya: ‘apa’, ‘kenapa’ dan ‘bagaimana’ tentang pengabdian pada setan itu (kecuali bahwa setan selalu bersama orang-orang yang lemah imannya), dalam versi re-boot, penonton setidaknya mendapat penjelasan tentang alasan seseorang mengabdi pada setan untuk meminta sesuatu. Meski begitu, Joko pun tidak memberikan visualisasi yang gamblang seperti apakah ritual sekte yang disebut menginginkan tumbal tersebut.

Selain tetap membiarkan keseluruh tokoh ada pada semesta yang lama, tentu saja menarik melihat penggambaran suasana rumah yang sangat “jadul” ini. Sejumlah perabotan usang: ranjang, lemari berkaca oval, telepon, televisi, radio, dan jam dinding. Kita mungkin sepakat masa lalu atau masa lampau itu selalu menyeramkan. “Suasana latar tahun 80-an itu terasa lebih creepy,” kata Sunil dalam wawancara di video di balik layar pembuatan Pengabdi Setan yang terbaru.

Selain melakukan pendalaman cerita berikut karakter untuk memberikan warna baru dalam Pengabdi Setan, Joko Anwar pun paham bagaimana menakut-nakuti lewat keseluruhan suasana atau atmosfer, bukan hanya mengandalkan adegan tipuan belaka (jumpscare). Sejak pertama, film ini sudah menakutkan dari pilihan rumahnya. Sebuah rumah usang di Pengalengan, Jawa Barat yang butuh waktu tiga bulan untuk mendapatkannya. Di sekitar rumah ini, tumbuh pohon-pohon tinggi dengan kabut kelam serta tanah cokelat kemerah-merahan. Lingkungan sekitar rumah ini pun sangat menunjang guna membangun suasana kengerian. Belum lagi sumur tua lengkap dengan katrolnya, walau dibuat sebagai penambahan untuk kebutuhan cerita (ada sejumlah adegan menakutkan yang berhubungan dengan sumur). Itu baru di luar rumah! Sekarang, masuklah ke dalam. Joko Anwar pandai betul memanfaatkan segala yang ada. Ia menakuti-nakuti lewat elemen dari rumah ini. Lorong sunyi yang mencekam dengan foto ibu di ujungnya. Suara gemerincing lonceng ibu di tengah malam buta (baik saat 20 menit pertama saat ibu masih ada, atau bunyi lonceng setelah ibu tiada). Suara kaki yang menapak di rumah tua ini. Derit tangga kayu dan derit pintu. Desir angin yang mengempas daun jendela. Nyanyian dari Kelab Malam (yang ternyata sengaja  dibuat untuk kepentingan film ini), dan suara dari piringan hitam yang mendadak kusut, bercampur dengan mantra aneh. Keseluruhannya adalah atmosfer pembangun kengerian sehingga tidak memerlukan kemunculan hantu untuk menakut-nakutkan.

Bront, Endy ataupun Tara yang bermain untuk kedua kalinya di film garapan Joko Anwar bermain sangat asyik. Kemampuan pemain cilik seperti Nasar Annuz dan M. Adhiyat ini di atas rata-rata. Joko Anwar tidak membiarkan film horornya ini kopong tanpa bangunan drama yang kuat. Ia pun dapat menggambarkan dengan baik relasi keluarga kecil ini yang digambarkan sebagai keluarga yang tidak pernah salat. Empat anak dengan empat karakter berbeda. Belum lagi dengan Ian, sebagai anak bungsu yang tunarungu. Namun, sedikit disayangkan, karakter Ian dan Bondi yang seharusnya mengambil posisi penting dalam jalinan cerita, tidak diberikan penegasan untuk akhir yang mengejutkan (twist ending). Andaikan dua anak terakhir yang memegang peranan penting ini sebagai kunci yang mengantarkan kita pada jawaban tentang sejumlah kematian mungkin akan membuat cerita lebih padu dan tentu saja lebih seru.

Sebagai film pertama Joko Anwar yang menyelipkan nilai religiositas, menjadi wacana menarik tentang bagaimana film ini menempatkan agama. Di film orisinal yang ditulis Subagio S, menempatkan agama sebagai pondasi untuk mengalahkan yang jahat serta mengungkapnya di akhir kisah, ustaz yang membantu keluarga Hendarto dapat membinasakan sang pengabdi, namun Joko berusaha mendobrak nilai ustaz pun tak mampu menolong keluarga empat anak ini terbebas dari segala gangguan. Meski ini adalah bagian yang dapat diperdebatkan, di film horor luar hari ini pun, kekuatan iblis pun dapat menembus gereja seperti The Crucifixion (2017).

Namun, yang lebih mendasar daripada itu, Joko tetap berpegang pada nilai drama, di mana rasa saling menyayangi di antara keluarga adalah kunci jauh dari keinginan setan untuk merebut anak manusia. Saat suasana drama dibuat kental, menjadi bagian untuk mempersilakan penonton kembali dapat bernapas, sebelum disuguhkan akhir cerita yang betul-betul mengerikan tingkat tinggi. Menakutkan sekaligus menghibur, karena dalam konteks film horor menghibur adalah saat penonton berhasil ketakutan begitu keluar dari ruang teater bioskop. (*)

DODI PRANANDA, jurnalis dan penikmat film

PENGABDI SETAN

Sutradara: Joko Anwar Penulis Skenario: Joko Anwar (berdasarkan cerita versi orisinal dari Sisworo Gautama Putra, Naryono Prayitno dan Subagio S), Pemeran: Bront Palarae, Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Annuz, Ayu Laksmi, M. Adhiyat, Dimas Aditya, Egy Fredly, Asmara Abigail dan Fachry Albar

Iklan
Standar
Resensi

Pada Suatu Hari Ada Baby, Deborah dan Musik Sepanjang Jalan

Baby (Ansel Elgort) dan Deborah (Lily James) dalam film arahan Edwar Wright, Baby Driver (Sumber: movieweb.com)

Edgar Wright mendobrak film aksi-kriminal yang seragam tentang raja jalanan dengan cara menyatukan dinamika adegan dan musik. Bintang muda Ansel Elgort membuktikan kualitas perannya di luar zona nyaman.

Apakah dia lamban? Sepenggal kalimat penuh keraguan itu menggasing di kepalanya. Ia mengulang kalimat yang sama dari tape recorder-nya kemudian menggubah kata-kata itu menjadi sebuah speech composing. B-A-B-Y, ia mengeja namanya seakan ia memang bayi lugu, polos dan telanjur hidup di dunia yang tidak bersahabat untuk seorang kanak-kanak.

Pengemudi kita ini yang menyebut dirinya sebagai Baby (Ansel Elgort) barangkali sosok yang tak seperti pengemudi di film kebut-kebutan di jalanan yang umumnya maskulin, parlente, arogan,  bertubuh gempal, tipikal yang dapat bergonta-ganti perempuan serta mulut penuh umpatan dan cacian. Pengemudi kita ini adalah pria muda yang sibuk dengan dunianya sendiri. Ia irit bicara. Ia tipikal penyendiri dan sering gugup, dan satu satunya hal yang dapat memperbaiki mood-nya adalah musik yang disetel lewat iPod miliknya.

Sebuah kejadian masa kecil yang menimbulkan traumatik membuat Baby mengalami gangguan pada gendang pendengaran sekaligus menjadikan ia sangat peka. Ia dapat menyimak semua suara dan perintah sembari mendengar lagu-lagu penentram jiwa. Ia dianggap aneh, selalu diremehkan dan menjadi objek perundungan namun dengan segala kelebihannya justru menjadi yang paling diandalkan Doc (Kevin Spacey) dalam sindikasinya.

Sutradara Edgar Wright tidak hanya membuat penonton terkesan dengan adegan kejar-kejaran polisi dengan sekelompok perampok kelas kakap, di mana kelincahan pengemudi menjadi tontonan yang asyik. Wright menjadikan musik sebagai elemen penting, bukan sebagai tempelan atau musik latar belaka.

Dalam hidup Baby, sang juru kemudi, musik ibarat alat bantu denyut nadinya. Ia menyetir seolah mengikuti setiap irama musik menembus jalanan Atlanta. Bahkan ia tak akan menginjak pedal gasnya sebelum menemukan lagu yang benar-benar pas untuk memacu adrenalin.

Wright pun berusaha membuat alur cerita bergerak dengan lincah seiring setiap lagu-lagu yang berganti. Jika film serupa yang telah lebih dulu mencapai kesuksesan seperti The Transporter (2002), seri Fast and Furious (2001-2017), Need for Speed (2015), Fast Five (2011) hanya menyisakan arogansi di jalanan dari cerita kebut-kebutan mobil, Baby Driver membuat ikatan cerita dengan musik lawas terjalin erat. Emosi penonton pun dapat dikatrol lewat lagu-lagu lawas dari Queen, The Detroit Emeralds, Blur dan Run The Jewels. Bahkan dalam suasana dialog yang tegang sekali pun di antara komplotan perampok yang penuh rencana ini, masih ada selentingan dialog yang membahas beberapa lagu tahun 80-an.

Masih pujian untuk Wright, balutan kisah cinta bernapas drama pun hadir di tengah peliknya hubungan Baby dan Doc. Wright berusaha mengembalikan karakter Baby sebagai seorang jahat yang masih memiliki hati. Relasi yang terbentuk antara Baby dengan seorang pelayan restoran bernama Deborah (Lily James), serta relasi antara Baby dan ayah angkatnya yang tunarungu menjadi bagian termanis dari film ini. Wright seakan ingin mengatakan penjahat sekali pun masih ingin dapat merasakan jatuh cinta dan memiliki keluarga seutuhnya. Meski terjebak dalam pusaran konflik sebagai pengemudi komplotan rampok, Baby seperti namanya hanyalah seorang remaja muda yang ingin melalui harinya dengan irama musik yang indah dan dengan kencan bersama perempuan yang mencuri hatinya.

Ansel Elgort yang pertama kali tampil di film Carrie (2013) membuktikan kualitas perannya menghidupkan karakter Baby yang sebetulnya sosok yang sangat bersahaja namun memiliki banyak kelebihan. Elgort sebagai bintang muda telah menunjukkan kemampuannya berakting lintas genre: thriller, fiksi-ilmiah, drama dan aksi sekali pun. Ia pun mampu tampil sejajar dengan lawan aktingnya seperti Bats (Jamie Foxx) dan Deora (Lily James).

Akhir film ini pun terasa sangat manis, di saat satu per satu saksi memberikan kesaksian tentang Baby. Dan untuk sebuah janji yang ia buat dengan Deborah, setelah 25 tahun berselang, pada suatu hari ada Baby, Deborah dan musik sepanjang jalan….   | DODI PRANANDA, jurnalis dan penikmat film

 

BABY DRIVER

Sutradara: Edgar Wright Produser: Nira Park, Tim Bevan, Eric Fellner, Penulis Skenario: Edgar Wright Pemeran: Ansel Elgort, Kevin Spacey, Lily James, Eiza Gonzales, Jon Hamm, Jammie Foxx, Jon Bernthal Produksi: Working Tittle Films

 

 

Standar
Resensi

Tiga Menguak Petaka

Adegan saat Tomo (Reza Rahadian), Arni (Julia Estelle) dan Guntur (Dwi Sasono) menelusuri piramida Gunung Padang dalam film Gerbang Neraka (2017) arahan Sutradara Rizal Mantovani. (Foto: Dok. Legacy Pictures)

Sutradara Rizal Mantovani mencoba gaya baru horor avontur. Setelah satu dekade, Reza Rahadian membuktikan aktingnya di film horor “di jalur yang benar” setelah tampil di Film Horor untuk pertama kali.

Tiga yang sedang menguak petaka ini adalah tiga orang dengan latar berbeda. Tomo Gunadi (Reza Rahadian) wartawan tabloid mistis yang menjalankan pekerjaannya nyaris hanya untuk uang. Arni Kumalasari (Julie Estelle) arkeolog muda yang penuh rasa ingin tahu namun selalu membantah segala hal yang klenik. Dan Guntur Samudra (Dwi Sasono) paranormal yang diliputi ketenaran dan haus pada sesuatu yang astral. Meski berbeda latar pekerjaan, pengetahuan dan keyakinan tentang mitologi dan realitas, ketiganya punya satu misi menguak misteri  dan petaka di piramida situs prasejarah megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat.

Untuk pertama kalinya Sutradara Rizal Mantovani mencoba gaya pengungkapan baru dan seolah ingin keluar dari pakem horor Indonesia yang “itu-itu saja”. Jika umumnya film Indonesia menjadikan sebuah tempat yang angker, sosok makluk tak kasat mata yang bergentayangan atau benda tertentu sebagai sentral cerita, namun film Gerbang Neraka: Fire Gate, Rizal menyajikan ketakutan dalam balutan fantasi serta petualangan (avontur) dengan pijakan fakta faktual meski keseluruhan kisah tetap bernapas fiktif.

Rizal membuka cerita dengan menggiring imajinasi kita pada visual Gunung Padang pada tahun 5.000 Sebelum Masehi (SM). Kemudian cerita bergerak pada latar penemuan nyata arkeologi yang paling menggemparkan dunia di abad 21. Pada 2012 silam, hasil uji karbon Piramida Gunung Padang menyatakan usia piramida mencapai 5000 SM, jauh lebih sepuh dari piramida Giza di Mesir yang hanya berusia 2850 SM. Semboyan imperialiasme kuno gold (kekayaan), gospel (penyebaran agama) dan glory (kejayaan) berusaha diterjemahkan ke dalam berbagai spektrum dan dimensi, salah satunya perwatakan tokoh. Dimensi pertama adalah realitas seorang Tomo yang menyerahkan sebagian hidupnya demi pekerjaan wartawan, sampai idealisme membawanya pada kenyataan pemberedelan majalah politik tempatnya bekerja, lantas berakhir membawa jalan hidupnya pada sebuah media yang menjual kisah mistik. Tomo pun melakukannya hanya demi uang, sekali pun ia tak percaya tentang yang ditulisnya. Di antara keseharian sebagai wartawan dengan peliknya industri media yang materialistik di mana berita bisa dibayar oleh narasumber, Tomo adalah seorang ayah yang menjadikan anak adalah napas dalam hidup. Dimensi lain adalah Arni, Arkeolog yang mendasari hidupnya dengan sesuatu yang bersifat sains atau ilmiah. Cara berpikir yang logis dan sistematis dan berhasrat mengungkap kebenaran piramida Gunung Padang yang ia yakini sepenuh hati sebagai tempat yang menyimpan pengetahuan yang dibutuhkan di akhir zaman serta segala kebudayaan kuno di masa lampau berpusat. Meski begitu, Arni selalu menganulir segala hal klenik dan kiblatnya dalam memahami sesuatu sebagai sains. Arni adalah corak dari dimensi gospel bagian dari penyebaran agama dan diperluas maknanya sebagai penyebaran ilmu pengetahuan. Dan dari dimensi kejayaan adalah Guntur, seorang paranormal dengan pamor yang menjanjikan serta berpandangan kekuatan atau roh jahat akan dikalahkan oleh sesuatu yang baik.

Meski pijakan pada semboyan imperialisme kuno berusaha diterjemahkan ke dalam karakter dan dihubungkan sebagai sumbu cerita, kita dapat melihat jejak ambisius Produser Robert Ronny yang berusaha membuat kisah yang ditulisnya tetap setia pada fakta yang faktual. Akting Julia Estelle sebagai Arkeolog cukup meyakinkan seolah ia adalah ensiklopedia bidang arkeologi, dengan sangat fasih menjelaskan serta membaca simbol artefak serta kujang batu, sisa peninggalan situs masa lalu. Pada bagian ini, boleh jadi kita berpandangan seperti ini: cerita ini mungkin tidak dapat dinikmati oleh banyak orang (kalau tidak dikatakan membosankan bagi sejumlah orang), mungkin hanya mereka yang antusias dengan kajian arkeologi dan sejarah yang dapat tersambung pada cerita.  Tapi anggapan itu tentu tidak berlaku jika kita sedang menyaksikan The Mummy (1999), The Mummy: Tomb of The Dragon  Emperor (2008) atau The Pyramid (2014). Masyarakat kita terbiasa mendapat sesuatu dan pengalaman baru yang datang dari luar, sementara jika eksperimen atau pembaruan itu datang dari negeri sendiri, kita merasa ada yang aneh dan ganjil jika dikatakan itu tidak riil, bahkan kadang malah mendatangkan cemooh. Namun, seolah menjawab keraguan itu sendiri, Robert Ronny sebagai Produser tampaknya mengerti boleh jadi hanya mereka yang mengapresiasi eksperimen terhadap film horor yang dapat menghargai sebuah eksplorasi cerita. Seakan-akan kalimat yang dilontarkan Tomo pada sebuah adegan itu benar adanya sebagai kegelisahan pribadi Produser: “Emang mudah jadi idealis kalo punya duit.”

Selain didasari pada riset yang matang tentang situs megalitikum Gunung Padang, kita juga melihat sisi yang menarik tentang betapa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari berbagai unsur: ilmu pengetahuan atau sains dengan hal yang bersifat ghaib bahkan klenik sekali pun. Semuanya berdiri masing-masing. Pada kenyataannya kita melihat realitas acara televisi yang menjual mistik tetap mendapat penonton yang banyak. Keduanya adalah air dan minyak yang tidak pernah bersatu tapi tetap menjadi hybrid.

Film ini sebagai upaya menampilkan pembaruan horor lokal bukan berarti hadir tanpa cacat. Jika kita kembali pada pandangan bahwa kenapa film yang mengambil latar mesir kuno sekali pun masih dapat diterima, karena boleh jadi digarap dengan computer generated imagery (CGI) yang meyakinkan. Namun, sayangnya, visual Gerbang Neraka saat menyajikan petualangan Arni, Tomo dan Guntur saat menelusuri piramida masih terasa kasar. Belum lagi jika dikritisi, bagaimana mungkin ‘proyek negara’ ini mendadak diamanahkan kepada tiga orang ini: arkeolog, jurnalis dan paranormal di saat satu per satu orang yang ada di sekitar penggalian itu mati secara misterius dengan wajah penyok? Yang agak menggangu, sejumlah aktor seperti Julia Estelle dan Lukman Sardi dibiarkan “lolos” menggunakan kata “ubah” yang diucapkan sebagai “rubah” (merubah, yang seharusnya mengubah).

Akhir film ini, saat Tomo bertemu ‘visualisasi sosok penting’ dalam cerita menjadi adegan terbaik. Untuk pertama kali, kita melihat dua aktor watak terbaik negeri ini Lukman Sardi dan Reza Rahadian ada dalam satu frame yang sama untuk sebuah dialog yang kuat. Adegan itu sekaligus mendedahkan peran wartawan yang bagai diutus ke muka bumi untuk menyelamatkan umat manusia, untuk menutup gerbang neraka, agar sesuatu yang jahat tidak keluar. Wartawan lewat berita yang ditulisnya atau pun lewat cara lainnya semestinya menyampaikan kebenaran untuk membantu manusia memutuskan pilihan dalam hidupnya, untuk membuat dunia lebih baik, bukan untuk menyesatkan orang dengan informasi yang belum tentu benar.

Dan kehadiran film ini seakan memberi harapan semakin baiknya mutu film Indonesia. Meski Tomo, sang wartawan telah menutup gerbang petaka, ada satu gerbang lain yang harus segera dibuka. Robert dan Rizal membuka gerbang masa depan film horor depan Indonesia yang semakin layak tonton. (Dodi Prananda, jurnalis, penulis dan penikmat film)

GERBANG NERAKA

Produksi: Legacy Pictures Produser: Robert Ronny Sutradara: Rizal Mantovani Penulis Skenario: Robert Ronny Pemeran: Reza Rahadian, Julie Estelle, Dwi Sasono, Ray Sahetapy

Standar
Resensi

Nenek Tua yang Mengulang Masa Muda

Adegan dalam film Sweet 20 yang diadaptasi dari Mrs Granny, diperankan oleh Tatjana Saphira. (Foto: Starvisionplus/layar.id)

 Film drama komedi keluarga yang diadaptasi dari film Mrs Granny yang telah dibuat di enam negara. Film yang membuatmu tertawa dan bersedih dalam waktu nyaris bersamaan.

Pada sebuah malam, dengan hati yang sangat berantakan setelah merenungi masa tuanya, seorang nenek lanjut usia bernama Fatmawati (Niniek L. Karim) datang ke sebuah studio foto antik dan misterius bernama Forever Young. Tukang foto berjanji tidak hanya membuat sebuah foto yang menampilkan kecantikan sisa masa muda sang nenek, tapi juga membuat dia benar-benar lebih muda lima puluh tahun.

Adegan film Mrs Granny (2014), sebuah drama komedi Korea laris besutan Hwang Dong-hyuk yang masuk dalam jajaran film box office kini dapat dinikmati di Indonesia setelah dibuat versi adaptasinya oleh Sutradara Ody C. Harahap, yang belakangan filmnya selalu mencuri perhatian seperti Cinta/Mati (2013), Kapan Kawin? (2015) dan Me Vs Mami (2016).

Tentu saja hanya premisnya yang sama: seorang nenek yang di hari tuanya merasa kesepian, kosong, dan sendiri serta tidak ada yang dapat memahaminya, dan lewat sebuah kejadian yang tidak terduga di studio foto misterius itu, membuat ia melancong kembali ke masa muda untuk misi memperbaiki hal-hal yang membuat ia kecewa di masa sekarang.

Meski menggunakan premis yang sama, lewat skenario yang ditulis Upi Avianto, kita bisa merasakan betapa dekatnya “Sweet20” dengan kehidupan sehari-hari. Seorang nenek tua yang nyinyir, merasa paling tahu dan paling benar, suka mengatur kehidupan menantunya Salma (Cut Mini), selalu membanggakan putra kesayangannyanya Aditya (Lukman Sardi) di hadapan teman sejawatnya, namun sebenarnya memendam sebuah kekosongan di lubuk hati.

Dan konflik itu seperti nyaris berpilin berkelindan di antara tokoh kita: seorang menantu yang serba salah menghadapi mertua. Seorang anak yang sayang pada ibunya, namun suatu hari harus dihadapkan pada sebuah simalakama (dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati) saat dibayangi usulan memasukan sang ibu ke panti jompo. Seorang cucu yang punya ambisi menjadi pemusik namun tidak didukung orangtua, dan satu lagi, seorang kakek duda beranak satu yang di masa tuanya tetap mendamba kasih tak sampainya. Di antara karakter nenek, kakek, mertua, menantu, anak dan cucu, tentu saja banyak konflik yang bisa tercipta dan nyaris tak berkesudahan. Dan boleh jadi, kita ada di posisi seperti yang dialami salah satu karakter dalam cerita.

Namun konflik utama kita tidak lagi sekadar bagaimana hubungan serta relasi mertua-menantu, anak-orangtua, nenek dan cucu, termasuk konflik mantan calon pacar yang di hari tuanya masih mendamba hangatnya andai ia bisa merasakan cinta masa muda dengan sang pujaan hati. Saat Fatma kembali ABG (diperankan Tatjana Saphira), konflik pun berangsur menjadi jauh lebih rumit dan tidak sesederhana sebelumnya. Fatma yang kembali muda pun berusaha mencari studio foto misterius itu, namun tak dinyana, studio itu sudah tidak ada. Studo itu lenyap tiba-tiba membawa serta semua ingatan hari tuanya. Dan berikutnya, Fatma harus melalui hari-hari menjadi muda lagi dengan konflik yang jauh lebih rumit dari yang seharusnya ia hadapi.

Sebuah fantasi yang menarik tentang menjadi tua. Menjadi tua, apalagi di Jakarta, memang terdengar bukan sebuah keinginan yang menarik. Saya teringat sepotong pemikiran Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah karyanya,

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. – Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma

Persis seperti renungan menjadi tua ini, tokoh Fatma dalam film ini pun, sebetulnya memiliki ingatan tentang masa muda, yang andai ia bisa, ingin sekali ia perbaiki. Sayangnya, kehidupan tidak memberikan kita satu kesempatan —meski itu hanya sekali saja— untuk memperbaiki semuanya supaya kita tidak menyesal kelak di hari tua.

Di masa tuanya, yang harus dihadapi Fatma adalah kenyataan bahwa anaknya akan memasukkannya ke panti jompo, serta seorang teman sejak masa muda bernama Hamzah (Slamet Rahardjo) yang tetap cinta hingga akhir hayatnya. Ibarat pepatah: pagiku hilang sudah melajang, hari mudaku sudah pergi, sekarang petang datang membayang, batang usiaku sudah tinggi.” Apa yang kita jalani di masa tua, adalah hasil yang kita tanam di masa muda. Sebuah pelajaran yang menarik dari film ini. Fatma sedih mengetahui ia merasa sangat menyusahkan anak-anaknya saat ia tua seperti sekarang, tapi apa daya, nasi sudah telanjur jadi bubur, dan bubur bisa diberi beberapa pelengkap supaya tetap bisa disantap.

Namun, karena tentu saja ini sebuah komedi drama keluarga dengan balutan fantasi, maka kita akan melihat cerita bergerak untuk sebuah akhir yang mengejutkan. Kita dibawa melihat perjalanan Fatma dengan segala keganjilan. Hampir semua adegan dalam film ini sangat kuat membahas jalinan relasi antar-anggota keluarga . Dan sesekali kita diajak tertawa saat melihat gap budaya antara Fatma yang mengaku bernama Mieke Wijaya (meminjam nama dari aktris idolanya) terlihat sok tua (meski faktanya dia  memang seorang nenek-nenek) saat menghadapi Juna (Kevin Julio) atau saat bersama produser musik (Morgan Oey) yang tidak hanya jatuh cinta pada bakat menyanyi dan menarinya, tapi juga pada sosok Mieke. Belum lagi tentang selera berpakaian dan selera lagu-lagu yang dibawakannya, sebutlah Payung Fantasi (1955) atau Layu Sebelum Berkembang (1966). Perjalanan Fatma ini adalah misi untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Sebuah tugas yang mungkin luput dilakukannya dulu.

Sebentar-sebentar, kita akan tertawa melihat Tatjana yang sok tua di hadapan Juna atau produser musik itu. Hampir dari semua film Tatjana yang pernah saya tonton, saya nyaris lupa bagaimana Tatjana berakting. Tapi, tidak saat ia memerankan Fatmawati (dari busana polkadot dan potongan rambut jadul, serta tak ketinggalan payung khasnya itu).

Saya sampai sekarang masih ingat bagaimana adegan di kamar indekos Fatma di rumah Hamzah, saat ia meyakinkan Hamzah bahwa ia benar-benar Fatma sungguhan. Atau, adegan terbaik yang paling menyayat hati dan membuat mata sebagian besar penonton berkaca-kaca melihat Aditya (Lukman Sardi) menyatakan kesungguhan hati betapa tidak tahu diri dan tidak pandainya ia berterima kasih kepada seorang ibu yang membesarkannya seorang diri sampai ia menjadi seorang sarjana dan menjadi dosen, lalu berencana mencampakkan ibunya ke pantai jompo. Adegan yang paling menguras emosi dan membuat kita betul-betul “dekat” dengan film ini, yaitu relasi anak dan ibunya.

Belum lagi, ada pesan tentang mengejar mimpi. Juna tidak didukung oleh orangtuanya untuk menjadi anak band. Sementara sang nenek justru mendukung apapun pilihan sang cucu. Saat Fatmawati mengulang masa muda, di situ juga tergambar fantasi tentang cita-cita. Ia mungkin tidak dapat meraih ambisinya menjadi penyanyi karena kata orang bijak hidup hanya sekali. Tapi, lorong waktu itu membuanya dapat memperbaiki semuanya, serta membuat pengandaian itu menjadi nyata. Sebuah pernyataan yang tajam tentang keinginan dan cita-cita. Yang ingin dikatakan bagian ini kira-kira begini, “udah jangan takut mengejar apa yang lo benar-benar mau, sekali pun itu ditentang orangtua lo. Kalo lo mengerjakan sungguh-sungguh dan berhasil, kelak orangtua pasti terima dan bangga”.

Cerita Fatmawati yang mengulang masa mudanya ini pun ditutup dengan sebuah akhir yang paling hakiki tentang menjadi keluarga seutuhnya. Betapapun Fatma terlena dengan kebahagiaan “menjadi muda”, ia mesti kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Setiap orang pasti menjadi tua, itu sebuah mutlak. Kita tidak dapat menolaknya lagi. Di dunia ini, hanya Barbie dan Dian Sastro yang tidak pernah (terlihat) tua. Jadi bagaimana pun hidup yang sulit dan payah sekali pun harus dijalani. Ibarat sebuah kereta yang bergeser dari rel, ia ingin kembali stabil dan melewati hari-hari setelahnya.

Dan hanya di film ini kamu akan tertawa-tawa karena melihat Aliando yang tiba-tiba berboncengan dengan Niniek L. Karim. Apa dan siapakah Aliando? Mungkin kita harus menuntut Sutradara Ody C. Harahap untuk membuat kita tertawa dan menangis sekali lagi dengan film yang semanis ini di lain waktu. (*)

Dodi Prananda, penulis, jurnalis dan penikmat film.

SWEET 20

Sutradara: Ody C. Harahap Produser: Chand Parwes Servia, Fiaz Servia, Riza, Min Yoon, Mike Im, Kang Eun Gyoung, Upi, Reza Servia, Mithu Nisar. Skenario: Upi berdasarkan Miss Granny yang ditulis Shin Dong-Ick, Hoon Young, Jeong Dong Hee dan diadaptasi oleh Upi. Pemeran: Niniek L. Karim, Tatjana Saphira, Morgan Oey, Kevin Julio, Lukman Sardi, Slamet Rahardjo Produksi: Starvision Plus dan CJ Entertainment

Standar
Resensi

Ziarah Hati Mbah Sri

Adegan Mbah Sri (Ponco Sutiyem) melakukan perjalanan dari Bantul ke Wonogiri untuk mencari makam suaminya Prawiro Sahid (Foto: The Jakarta Post)

Bagaimana mengarahkan seorang nenek sembilan puluh lima tahun untuk beradegan dalam sebuah film yang irit dialog dan lebih menonjolkan air muka untuk membangun emosi? Sutradara BW Purbanegara melakukannya bersama seorang nenek dari Gunung Kidul.

***

Di hari tuanya, dan di usianya yang senja, Mbah Sri (Ponco Sutiyem) sampai pada satu tujuan akhirnya sebelum mati. Perempuan tua itu akhirnya melihat nama suaminya tertulis di batu nisan. Tanpa sepotong kata yang terucap. Tanpa sedu sedan atau bercucuran air mata. Dan, sekonyong-konyong tubuh ringkih sembilan puluh lima tahun itu itu ambruk ke tanah…

Sutradara B.W. Purbanegara menutup film panjang debutnya itu dengan sebuah adegan yang betul-betul pedih dan melekat. Seakan adegan itu mewakili perjalanan panjang si nenek tua yang mesti menempuh perjalanan jauh seorang diri dari kampung ke kampung, naik-turun bus, menyusuri sungai dan melewati daerah berlembah dan berbukit, demi mencari jejak makam suaminya yang gugur perang.

Sebelum ia mati, satu harapan terakhir Mbah Sri adalah dimakamkan di sebelah makam suaminya, Prawiro Sahid . Namun, nyaris hingga akhir hayat, Mbah Sri tak tahu di mana tulang belulang sang suami yang pamit perang saat Agresi Militer Belanda II pada 1948. Tak dinyana, pada 2012, seorang veteran membawa kabar tentang suami Mbah Sri yang ditembak Belanda pada 1949. Demi mewujudkan keinginan dimakamkan kelak di sebelah makam suami, seperti yang dilakukan sejawatnya, Mbah Sri pergi membawa kita dalam sebuah perjalanan pencariannya seorang diri.

Terinspirasi dari tragedi tsunami di Aceh pada 2004 silam, B.W Purbanegara menulis cerita pencarian Mbah Sri selama dua tahun. Bersiaplah, karena kita akan menyaksikan sebuah cerita kehilangan yang pedih. Bayangkan sebentar, apa jadinya jika anggota keluarga atau  orang yang kita sayangi yang diyakini sudah mati, namun tak pernah tahu di mana kuburnya yang dapat diziarahi? Pengalaman sebagai relawan untuk korban bencana Tsunami ini mampu membuat Purbanegara bercerita dengan sangat detail tentang pedihnya berdamai dengan kehilangan.

Saya yakin semua kita sepakat untuk menyebut Purbanegara sebagai pencerita yang baik. Dia mampu menjelaskan betapa berbedanya karakter dua sosok perempuan dari dua generasi yang berbeda. Pertama, kita disuguhkan sosok Mbah Sri, tokoh perempuan tua yang digambarkan sebagai figur istri yang setia, tegar dan tak banyak keinginan yang muluk-muluk. Yang ia inginkan hanyalah sebuah keinginan sederhana sebelum mati, yaitu dimakamkan di sebelah makam suaminya. Saat yang bersamaan, Purbanegara juga menggambarkan —dan sekaligus berpretensi membandingkan— dengan calon istri cucunya yang cerewet, banyak mau dan selalu berorientasi duniawi. Sang calon cucu menantu mengadu dan berkali-kali menuntut ingin ini-itu, minta rumah dengan kamar yang luas, termasuk minta mesin cuci yang lagi diskon saat pondasi rumah pun belum berdiri. Tak heran, calon suami pusing tujuh keliling, pertama karena dituduh main-main dengan niatnya menikah serta saat yang bersamaan juga ia harus mencari Si Mbah yang sudah berhari-hari tak pulang ke rumah agar surat tanah yang ia janjikan untuk calon istri bisa diteken Si Mbah. Dari Mbah Sri, kita memetik satu pelajaran penting, harta duniawi tak lagi penting kelak jika kita tua. Harapan untuk bersanding di sebelah makam suami jika mati kelak adalah yang paling didamba. Sementara dari calon cucu menantu, kita melihat gambaran tentang hidup yang selalu diliputi hasrat duniawi.

Penggambaran karakter Mbah Sri yang setia sepanjang hayatnya untuk memastikan benarkah Prawiro memiliki makam sesungguhnya, membawa ingatan kita pada karakter Siti dalam film Siti (2014), perempuan penjual peyek jingking demi menafkahi keluarga karena sang suami yang terbaring karena sakit keras. Ini menegaskan watak yang setia perempuan Jawa. Dalam keadaan apapun, ia masih terus melewati hidup dengan sebaik mungkin. Purbanegara kembali menegaskan tentang kesetiaan ini dalam paruh tengah cerita. Seorang wanita dari sebuah kampung memilih gantung diri karena mengetahui suaminya selingkuh tiga puluh tahun yang lalu. Dalam keadaan sakit dan pedihnya, Mbah Sri tetap berjuang melewati hidup tanpa suami bahkan hingga sampai di akhir cerita sekalipun, Mbah Sri tetap kukuh dengan kesetiaan dalam diri dan berbesar hati dengan kenyataan pahit di hadapannya.

Sebagai sebuah film perjalanan (road movie), Purbanegara tidak sekadar mengajak kita lewat perjalanan tokohnya berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain tanpa makna. Setiap langkah ada arti. Setiap langkah ada cerita. Kita diajak mengikuti perjalanan Mbah Sri dari Bantul ke Wonogiri. Dalam banyak film Indonesia, latar hanyalah tempat belaka. Tak ada cerita di sana. Tak ada motivasi untuk memberikan arti lebih pada latar. Tapi, lihat yang dilakukan Purbanegara, melampaui kata berhasil dalam mempertontonkan daya tarik Pedukuhan Pager Jurang sebagai sebuah desa wisata. Dalam perjalanan berpindah tempat itu, kita mendengar warga yang bercerita soal tanah dan juga tentang sebuah kritik sosial tentang Waduk Kedung Ombo, tempat Mbah Sri menabur kembang. Jika kita membuka lembar sejarah, Waduk Kedung Ombo ini mengisahkan warga yang kehilangan tanah dan rumah mereka saat proyek waduk membuat rumah mereka lenyap, dan warga hanya bisa menyaksikan rumah mereka ditenggelamkan.

Dan, akhirnya kita sampai pada akhir cerita. Melihat Mbah Sri di hadapan makam suaminya. Tanpa sepotong kata yang terucap. Tanpa sedu sedan atau bercucuran air mata. Mbah Sri telah memberi makna baru tentang ziarah. Ziarah tak hanya sekadar menabur bunga semata. Ziarah adalah pemaknaan tentang kita yang sejengkal di hadapan kematian dan semampu apa kita berdamai dengan masa lalu, sekalipun itu sangat pedih. (*)

Dodi Prananda, menulis esai film, cerita pendek dan puisi. Lulus dari Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi. Saat ini bekerja di stasiun televisi swasta di Jakarta.

ZIARAH
Sutradara         : B.W. Purbanegara
Skenario           : B.W Purbanegara
Pemain             : Ponco Sutiyem,  Rosadi, Ledjar Subroto
Produksi          : BR Purbanegara Films, Limaenam Films, Lotus Cinema, Hide Projects Films, Super 8mm Studio dan Goodwork

Penghargaan: Nominasi Skenario Terbaik Festival Film Indonesia 2016

Nominasi ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 untuk kategori Aktris Terbaik

Standar
Resensi

Saling Tuduh Mencari Pembunuh

Salah satu adegan dalam film Hangout (2016) arahan Raditya Dika. (Sumber foto: BookMyShow)

Salah satu adegan dalam film Hangout (2016) arahan Raditya Dika. (Sumber foto: BookMyShow)

Formula baru Raditya Dika mengawinkan kisah misteri thriller dan komedi. Mendebarkan sekaligus menghibur.

Sembilan pesohor diundang ke sebuah pertemuan membicarakan proyek besar. Undangan itu datang tiba-tiba, dan kebetulan di saat yang tepat pula dengan iming-iming berlimpah uang. Datanglah orang-orang ini memenuhi undangan dari tukang undang yang bahkan tak tahu siapa: Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Titi Kamal, Mathias Muchus, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Surya Saputra Sholeh Solihun, dan Bayu Skak.

Kesembilan ini datang sebagai diri sendiri karena mereka tidak sedang melakoni suatu peran. Sebagai artis —atau sebutlah saja pesohor, lazim bertemu produser di tempat-tempat seperti restoran atau kafe, atau mungkin hotel mewah. Bagaimana kalau undangan membicarakan proyek besar ini di sebuah vila di tengah hutan, dan untuk mencapainya harus menumpangi kapal, memasuki ceruk hutan, melewati hari tanpa sinyal dan harus menapaki jalan setapak di hutan yang rimbun? Membicarakan proyek besar atau malah mengantarkan nyawa?

Saling tuduh mencari pembunuh seperti dalam permainan werewolf memantik ide Raditya Dika  mengisahkan cerita pembunuhan berbalut komedi dalam film terbarunya Hangout (2016). Sebuah komedi dengan formula baru yang dicoba Raditya dari film terdahulunya. Seakan menjelaskan tak berhenti pada sebuah pakem dan komedi yang “itu-itu saja” dan dengan tema yang “itu-itu saja”, Raditya Dika mengawinkan kisah misteri thriller dengan komedi. Hasilnya? Sebuah film yang mendebarkan sekaligus menghibur. Sebentar-sebentar kita tertawa dengan setiap celetukan dan dialog dari para bintang ini yang menyebut hal-hal di seputar keseharian mereka. Mereka tidak sedang memerankan peran lain, sehingga memungkinkan untuk mengeksplore dari karakter keseharian mereka. Segala atribut yang berhubungan dengan kehidupan para bintang di kehidupan nyata pun akhirnya tidak menjadi celetukan yang sekilas lewat, namun bisa mengundang tawa. Namun apakah yang memerankan diri sendiri benar-benar senyata aslinya, toh kita tahu ini film komedi yang sangat wajar jika dilebih-lebihkan: jika melihat Dinda Kanya Dewi yang digambarkan sangat jorok.

Film dengan aktor yang memerankan dirinya sendiri pernah berhasil dibuat Seth Rogen dan Evan Goldberg: This is The End (2013) dengan memasang sejumlah aktor James Franco, Jonah Hill, Emma Watson. Mengisahkan para aktor terjebak pada sebuah akhir kehidupan dan mereka harus menyelamatkan diri, diwarnai dengan karakter asli aktor. Tapi, apakah Raditya Dika mampu seberhasil Seth dan Evan dalam menampilkan keaslian para aktornya sebagai diri mereka sendiri?

Banyak kesempatan untuk menampilkan sifat asli dan keseharian sang aktor yang sangat natural saat adegan penyelamatan dari vila aneh itu. Sifat egois, sifat kemaruk, dan juga sifat khas manusia lainnya harusnya bisa ditampilkan lebih “human” lagi. Kita tahu, dalam setiap film para pesohor ini adalah orang lain, atau menjadi orang lain. Sekarang mereka adalah diri mereka sendiri. Karakter yang melekat pada diri pemain bukan tidak mungkin menambah keseruan cerita, seperti bagaimana keributan yang tercipta pada tokoh saat memilih bertahan atau kabur pada film This is The End. Apakah dalam keadaan sulit dan menakutkan, masih ada kesempatan bagi tukang akting untuk berpura-pura?

Sekali lagi, ini adalah komedi. Kenaturalan apapun yang diharapkan, sekalipun memasang bintang yang memerankan diri sendiri, unsur fiktif tak akan terelakkan. Di sejumlah adegan, bukan tak mungkin juga penonton sulit meraba manakah yang asli atau justru dibuat-buat untuk kepentingan tawa. Sementara dari sisi misterinya, untuk Anda penggila film misteri atau thriller mungkin mudah saja menebak siapa pembunuhnya dari awal, karena banyak sekali clue yang ditebar sejak awal cerita. Namun yang menarik dari semua itu bukan tentang siapa pembunuhnya, tapi bagaimana setiap tokoh akhirnya berpikiran dan “awas” jika pembunuh itu adalah satu di antara mereka. Seperti menebak pembunuh pada permainan werewolf yang penuh intrik: bahkan bisa saja pertengkaran timbul karena saling tuduh. Akhirnya yang timbul adalah: dugaan persaingan ‘artis vs stand up comedy’ seperti yang dilontarkan Gading, sebuah spekulasi yang muncul saat saling tuduh mencari pembunuh bisa melahirkan suatu kebencian yang sesat pikir. Tapi itu disajikan sebagai sebuah komedi, ingat, tak boleh serius-serius amat karena ini komedi!

Meski tak serius-serius amat, akhir kisah bisa saja dibuat sangat light. Tetap ada pesan. Sudah di beberapa film terakhirnya ini, Raditya Dika seolah tak ingin mengakhiri filmnya dengan biasa-biasa saja. DODI PRANANDA

 

HANGOUT

Sutradara: Raditya Dika, Penulis Naskah: Raditya Dika, Produser: Sunil Samtani, Gope T. Samtani, Produksi: Rapi Films, Pemeran: Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Titi Kamal, Mathias Muchus, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Surya Saputra Sholeh Solihun, Bayu Skak

Standar
Resensi

Lelaki yang Mencari Kembali Dirinya

Film aksi pertama dari sutradara Kimo dan Timo. Dibangun dengan ide cerita yang menarik, walau terasa jejak film The Raid yang kental.

Di atas ranjang sebuah rumah sakit, di kota yang berpantai —kota yang tidak terlalu ramai itulah seorang lelaki terbaring. Seorang lelaki tanpa nama pada papan di muka ranjang. Dokter yang menanganginya, Ailin (Chelsea Islan) bolak-balik menghampiri, siapakah lelaki ini? Kapan ia akan sadar?

Namun begitu si lelaki bangun dari koma, terjelaskanlah ia amnesia. Siapa dirinya? Darimanakah ia berasal? Sementara ia sendiri, tanpa keluarga. Iseng mengutip nama dari tokoh pencerita novel Moby Dick karya Herman Melville, Ailin memanggil si lelaki Ishmael. Paling tidak membantu Ishmael mengigat kehidupannya di masa yang dulu.

Dan masih menggantung pertanyaan: siapakah dirinya, dan bagaimana ia bisa tak sadarkan diri begitu lama, sembari mencari-cari, kita baru saja diperkenalkan dengan si jago berantem itu. Dunia yang seperti tidak aman bagi lelaki ini, membuat sang dokter cantik Ailin berpikiran membawa Ishmael (Iko Uwais) ke Jakarta. Namun, Ishmael menolak dengan alasan ia akan mencari tahu siapa dirinya, apakah dia orang baik atau orang jahat, satu janji yang ia ucapkan ia akan tetap bertemu lagi dengan Ailin. Dan belum-belum, napas sebagai film aksi pun telah berbunyi peluitnya. Penyerangan dimulai. Penuh tembakan dan baku hantam. Penuh darah, dan juga ketegangan.

Penuh darah seakan mampu mewakili film-film garapan sutradara yang berjuluk The Mo Brothers, Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel. Ingat film terdahulunya yang bergenre horor slasher –atau horor jagal, Rumah Dara (2009) dan Killers (2013). Kini duo sutradara Kimo dan Timo yang biasanya senang “memasak” horor jagal, bagai menyuguhkan menu masakan baru: film laga. Dan bagaimana peruntungan mereka dalam menggarap ini?

Keduanya memang tak pernah muncul dengan film dengan cerita klise. Ide cerita pada setiap film yang mereka garap selalu menarik dan tereksekusi dengan baik. Headshot pun juga memiliki ide menarik. Saat dibawa ke cerita masa kecil si lelaki dengan luka jahitan di kening—Ishmael ini adalah yang paling menarik. Kisah anak-anak yang bertarung di dalam sumur, dan bagaimana kehidupan mereka dewasa kelak? Ini yang kemudian diceritakan Kimo dan Timo pada sebuah geng terkuat, yang disegani: yang kepala araknya adalah Lee (Sunny Pang), yang menyantap mie sebelum membunuh yang bersimbah darah. Katakanlah ide cerita dari film dua Kimo dan Timo tak perlu diragukan. Namun bagaimana elemen lain dalam film laga pertama mereka ini?

Pada akhirnya, kita harus mengatakan bahwa menu masakan baru Kimo dan Timo ini memang lezat: adegan tembak-tembakan di bus yang reot itu, adegan di sarang geng, adegan sumur dan juga perkelahian Ishmael dengan Rika (Julia Estelle) di pantai yang gambarnya sangat “seksi”. Namun menu ini ada yang terasa tidak segar. Menu ini hampir basi karena kita sudah menikmatinya pada film The Raid (2011) racikan Gareth Evans. Sulit untuk tidak membawa ingatan kita pada setiap dentum dan tembakan serta darah yang berceceran hampir setiap saat. Apakah risiko karena memasang Iko Uwais? Bisa jadi, sehingga setiap unsur masakan ini membuat serba terasa ala The Raid. Apakah tidak ada sedikit rasa yang menyentak? Tentu saja, karena menarik melihat akting Chelsea yang jauh dari film terdahulunya. Kita jadi tahu bintang muda ini betul-betul berusaha keras untuk film ini memeranan Ailin sebaik mungkin. Dan apa yang lain, selain scoring yang juga khas The Raid. Tentu saja, apakah seseorang akan teringat The Raid tidak lagi menjadi penting karena Kimo dan Timo tidak pernah menggarap filmnya setengah-setengah. “Makanan” atau menu baru yang dicobanya ini tetap menarik untuk disantap.

HEADSHOT
Sutradara :  Kimo Stamboel, Timo Tjahjanto
Skenario : Timo Tjahjanto
Pemain : Iko Uwais, Julie Estelle, Chelsea Islan, David Hendrawan, Sunny Pang, ,  Zack Lee, Yayu Unru, 
Produksi : Screenplay Infinite Films

Standar