Nenek Tua yang Mengulang Masa Muda

Adegan dalam film Sweet 20 yang diadaptasi dari Mrs Granny, diperankan oleh Tatjana Saphira. (Foto: Starvisionplus/layar.id)

 Film drama komedi keluarga yang diadaptasi dari film Mrs Granny yang telah dibuat di enam negara. Film yang membuatmu tertawa dan bersedih dalam waktu nyaris bersamaan.

Pada sebuah malam, dengan hati yang sangat berantakan setelah merenungi masa tuanya, seorang nenek lanjut usia bernama Fatmawati (Niniek L. Karim) datang ke sebuah studio foto antik dan misterius bernama Forever Young. Tukang foto berjanji tidak hanya membuat sebuah foto yang menampilkan kecantikan sisa masa muda sang nenek, tapi juga membuat dia benar-benar lebih muda lima puluh tahun.

Adegan film Mrs Granny (2014), sebuah drama komedi Korea laris besutan Hwang Dong-hyuk yang masuk dalam jajaran film box office kini dapat dinikmati di Indonesia setelah dibuat versi adaptasinya oleh Sutradara Ody C. Harahap, yang belakangan filmnya selalu mencuri perhatian seperti Cinta/Mati (2013), Kapan Kawin? (2015) dan Me Vs Mami (2016).

Tentu saja hanya premisnya yang sama: seorang nenek yang di hari tuanya merasa kesepian, kosong, dan sendiri serta tidak ada yang dapat memahaminya, dan lewat sebuah kejadian yang tidak terduga di studio foto misterius itu, membuat ia melancong kembali ke masa muda untuk misi memperbaiki hal-hal yang membuat ia kecewa di masa sekarang.

Meski menggunakan premis yang sama, lewat skenario yang ditulis Upi Avianto, kita bisa merasakan betapa dekatnya “Sweet20” dengan kehidupan sehari-hari. Seorang nenek tua yang nyinyir, merasa paling tahu dan paling benar, suka mengatur kehidupan menantunya Salma (Cut Mini), selalu membanggakan putra kesayangannyanya Aditya (Lukman Sardi) di hadapan teman sejawatnya, namun sebenarnya memendam sebuah kekosongan di lubuk hati.

Dan konflik itu seperti nyaris berpilin berkelindan di antara tokoh kita: seorang menantu yang serba salah menghadapi mertua. Seorang anak yang sayang pada ibunya, namun suatu hari harus dihadapkan pada sebuah simalakama (dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati) saat dibayangi usulan memasukan sang ibu ke panti jompo. Seorang cucu yang punya ambisi menjadi pemusik namun tidak didukung orangtua, dan satu lagi, seorang kakek duda beranak satu yang di masa tuanya tetap mendamba kasih tak sampainya. Di antara karakter nenek, kakek, mertua, menantu, anak dan cucu, tentu saja banyak konflik yang bisa tercipta dan nyaris tak berkesudahan. Dan boleh jadi, kita ada di posisi seperti yang dialami salah satu karakter dalam cerita.

Namun konflik utama kita tidak lagi sekadar bagaimana hubungan serta relasi mertua-menantu, anak-orangtua, nenek dan cucu, termasuk konflik mantan calon pacar yang di hari tuanya masih mendamba hangatnya andai ia bisa merasakan cinta masa muda dengan sang pujaan hati. Saat Fatma kembali ABG (diperankan Tatjana Saphira), konflik pun berangsur menjadi jauh lebih rumit dan tidak sesederhana sebelumnya. Fatma yang kembali muda pun berusaha mencari studio foto misterius itu, namun tak dinyana, studio itu sudah tidak ada. Studo itu lenyap tiba-tiba membawa serta semua ingatan hari tuanya. Dan berikutnya, Fatma harus melalui hari-hari menjadi muda lagi dengan konflik yang jauh lebih rumit dari yang seharusnya ia hadapi.

Sebuah fantasi yang menarik tentang menjadi tua. Menjadi tua, apalagi di Jakarta, memang terdengar bukan sebuah keinginan yang menarik. Saya teringat sepotong pemikiran Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah karyanya,

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. – Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma

Persis seperti renungan menjadi tua ini, tokoh Fatma dalam film ini pun, sebetulnya memiliki ingatan tentang masa muda, yang andai ia bisa, ingin sekali ia perbaiki. Sayangnya, kehidupan tidak memberikan kita satu kesempatan —meski itu hanya sekali saja— untuk memperbaiki semuanya supaya kita tidak menyesal kelak di hari tua.

Di masa tuanya, yang harus dihadapi Fatma adalah kenyataan bahwa anaknya akan memasukkannya ke panti jompo, serta seorang teman sejak masa muda bernama Hamzah (Slamet Rahardjo) yang tetap cinta hingga akhir hayatnya. Ibarat pepatah: pagiku hilang sudah melajang, hari mudaku sudah pergi, sekarang petang datang membayang, batang usiaku sudah tinggi.” Apa yang kita jalani di masa tua, adalah hasil yang kita tanam di masa muda. Sebuah pelajaran yang menarik dari film ini. Fatma sedih mengetahui ia merasa sangat menyusahkan anak-anaknya saat ia tua seperti sekarang, tapi apa daya, nasi sudah telanjur jadi bubur, dan bubur bisa diberi beberapa pelengkap supaya tetap bisa disantap.

Namun, karena tentu saja ini sebuah komedi drama keluarga dengan balutan fantasi, maka kita akan melihat cerita bergerak untuk sebuah akhir yang mengejutkan. Kita dibawa melihat perjalanan Fatma dengan segala keganjilan. Hampir semua adegan dalam film ini sangat kuat membahas jalinan relasi antar-anggota keluarga . Dan sesekali kita diajak tertawa saat melihat gap budaya antara Fatma yang mengaku bernama Mieke Wijaya (meminjam nama dari aktris idolanya) terlihat sok tua (meski faktanya dia  memang seorang nenek-nenek) saat menghadapi Juna (Kevin Julio) atau saat bersama produser musik (Morgan Oey) yang tidak hanya jatuh cinta pada bakat menyanyi dan menarinya, tapi juga pada sosok Mieke. Belum lagi tentang selera berpakaian dan selera lagu-lagu yang dibawakannya, sebutlah Payung Fantasi (1955) atau Layu Sebelum Berkembang (1966). Perjalanan Fatma ini adalah misi untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Sebuah tugas yang mungkin luput dilakukannya dulu.

Sebentar-sebentar, kita akan tertawa melihat Tatjana yang sok tua di hadapan Juna atau produser musik itu. Hampir dari semua film Tatjana yang pernah saya tonton, saya nyaris lupa bagaimana Tatjana berakting. Tapi, tidak saat ia memerankan Fatmawati (dari busana polkadot dan potongan rambut jadul, serta tak ketinggalan payung khasnya itu).

Saya sampai sekarang masih ingat bagaimana adegan di kamar indekos Fatma di rumah Hamzah, saat ia meyakinkan Hamzah bahwa ia benar-benar Fatma sungguhan. Atau, adegan terbaik yang paling menyayat hati dan membuat mata sebagian besar penonton berkaca-kaca melihat Aditya (Lukman Sardi) menyatakan kesungguhan hati betapa tidak tahu diri dan tidak pandainya ia berterima kasih kepada seorang ibu yang membesarkannya seorang diri sampai ia menjadi seorang sarjana dan menjadi dosen, lalu berencana mencampakkan ibunya ke pantai jompo. Adegan yang paling menguras emosi dan membuat kita betul-betul “dekat” dengan film ini, yaitu relasi anak dan ibunya.

Belum lagi, ada pesan tentang mengejar mimpi. Juna tidak didukung oleh orangtuanya untuk menjadi anak band. Sementara sang nenek justru mendukung apapun pilihan sang cucu. Saat Fatmawati mengulang masa muda, di situ juga tergambar fantasi tentang cita-cita. Ia mungkin tidak dapat meraih ambisinya menjadi penyanyi karena kata orang bijak hidup hanya sekali. Tapi, lorong waktu itu membuanya dapat memperbaiki semuanya, serta membuat pengandaian itu menjadi nyata. Sebuah pernyataan yang tajam tentang keinginan dan cita-cita. Yang ingin dikatakan bagian ini kira-kira begini, “udah jangan takut mengejar apa yang lo benar-benar mau, sekali pun itu ditentang orangtua lo. Kalo lo mengerjakan sungguh-sungguh dan berhasil, kelak orangtua pasti terima dan bangga”.

Cerita Fatmawati yang mengulang masa mudanya ini pun ditutup dengan sebuah akhir yang paling hakiki tentang menjadi keluarga seutuhnya. Betapapun Fatma terlena dengan kebahagiaan “menjadi muda”, ia mesti kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Setiap orang pasti menjadi tua, itu sebuah mutlak. Kita tidak dapat menolaknya lagi. Di dunia ini, hanya Barbie dan Dian Sastro yang tidak pernah (terlihat) tua. Jadi bagaimana pun hidup yang sulit dan payah sekali pun harus dijalani. Ibarat sebuah kereta yang bergeser dari rel, ia ingin kembali stabil dan melewati hari-hari setelahnya.

Dan hanya di film ini kamu akan tertawa-tawa karena melihat Aliando yang tiba-tiba berboncengan dengan Niniek L. Karim. Apa dan siapakah Aliando? Mungkin kita harus menuntut Sutradara Ody C. Harahap untuk membuat kita tertawa dan menangis sekali lagi dengan film yang semanis ini di lain waktu. (*)

Dodi Prananda, penulis, jurnalis dan penikmat film.

SWEET 20

Sutradara: Ody C. Harahap Produser: Chand Parwes Servia, Fiaz Servia, Riza, Min Yoon, Mike Im, Kang Eun Gyoung, Upi, Reza Servia, Mithu Nisar. Skenario: Upi berdasarkan Miss Granny yang ditulis Shin Dong-Ick, Hoon Young, Jeong Dong Hee dan diadaptasi oleh Upi. Pemeran: Niniek L. Karim, Tatjana Saphira, Morgan Oey, Kevin Julio, Lukman Sardi, Slamet Rahardjo Produksi: Starvision Plus dan CJ Entertainment

Ziarah Hati Mbah Sri

Adegan Mbah Sri (Ponco Sutiyem) melakukan perjalanan dari Bantul ke Wonogiri untuk mencari makam suaminya Prawiro Sahid (Foto: The Jakarta Post)

Bagaimana mengarahkan seorang nenek sembilan puluh lima tahun untuk beradegan dalam sebuah film yang irit dialog dan lebih menonjolkan air muka untuk membangun emosi? Sutradara BW Purbanegara melakukannya bersama seorang nenek dari Gunung Kidul.

***

Di hari tuanya, dan di usianya yang senja, Mbah Sri (Ponco Sutiyem) sampai pada satu tujuan akhirnya sebelum mati. Perempuan tua itu akhirnya melihat nama suaminya tertulis di batu nisan. Tanpa sepotong kata yang terucap. Tanpa sedu sedan atau bercucuran air mata. Dan, sekonyong-konyong tubuh ringkih sembilan puluh lima tahun itu itu ambruk ke tanah…

Sutradara B.W. Purbanegara menutup film panjang debutnya itu dengan sebuah adegan yang betul-betul pedih dan melekat. Seakan adegan itu mewakili perjalanan panjang si nenek tua yang mesti menempuh perjalanan jauh seorang diri dari kampung ke kampung, naik-turun bus, menyusuri sungai dan melewati daerah berlembah dan berbukit, demi mencari jejak makam suaminya yang gugur perang.

Sebelum ia mati, satu harapan terakhir Mbah Sri adalah dimakamkan di sebelah makam suaminya, Prawiro Sahid . Namun, nyaris hingga akhir hayat, Mbah Sri tak tahu di mana tulang belulang sang suami yang pamit perang saat Agresi Militer Belanda II pada 1948. Tak dinyana, pada 2012, seorang veteran membawa kabar tentang suami Mbah Sri yang ditembak Belanda pada 1949. Demi mewujudkan keinginan dimakamkan kelak di sebelah makam suami, seperti yang dilakukan sejawatnya, Mbah Sri pergi membawa kita dalam sebuah perjalanan pencariannya seorang diri.

Terinspirasi dari tragedi tsunami di Aceh pada 2004 silam, B.W Purbanegara menulis cerita pencarian Mbah Sri selama dua tahun. Bersiaplah, karena kita akan menyaksikan sebuah cerita kehilangan yang pedih. Bayangkan sebentar, apa jadinya jika anggota keluarga atau  orang yang kita sayangi yang diyakini sudah mati, namun tak pernah tahu di mana kuburnya yang dapat diziarahi? Pengalaman sebagai relawan untuk korban bencana Tsunami ini mampu membuat Purbanegara bercerita dengan sangat detail tentang pedihnya berdamai dengan kehilangan.

Saya yakin semua kita sepakat untuk menyebut Purbanegara sebagai pencerita yang baik. Dia mampu menjelaskan betapa berbedanya karakter dua sosok perempuan dari dua generasi yang berbeda. Pertama, kita disuguhkan sosok Mbah Sri, tokoh perempuan tua yang digambarkan sebagai figur istri yang setia, tegar dan tak banyak keinginan yang muluk-muluk. Yang ia inginkan hanyalah sebuah keinginan sederhana sebelum mati, yaitu dimakamkan di sebelah makam suaminya. Saat yang bersamaan, Purbanegara juga menggambarkan —dan sekaligus berpretensi membandingkan— dengan calon istri cucunya yang cerewet, banyak mau dan selalu berorientasi duniawi. Sang calon cucu menantu mengadu dan berkali-kali menuntut ingin ini-itu, minta rumah dengan kamar yang luas, termasuk minta mesin cuci yang lagi diskon saat pondasi rumah pun belum berdiri. Tak heran, calon suami pusing tujuh keliling, pertama karena dituduh main-main dengan niatnya menikah serta saat yang bersamaan juga ia harus mencari Si Mbah yang sudah berhari-hari tak pulang ke rumah agar surat tanah yang ia janjikan untuk calon istri bisa diteken Si Mbah. Dari Mbah Sri, kita memetik satu pelajaran penting, harta duniawi tak lagi penting kelak jika kita tua. Harapan untuk bersanding di sebelah makam suami jika mati kelak adalah yang paling didamba. Sementara dari calon cucu menantu, kita melihat gambaran tentang hidup yang selalu diliputi hasrat duniawi.

Penggambaran karakter Mbah Sri yang setia sepanjang hayatnya untuk memastikan benarkah Prawiro memiliki makam sesungguhnya, membawa ingatan kita pada karakter Siti dalam film Siti (2014), perempuan penjual peyek jingking demi menafkahi keluarga karena sang suami yang terbaring karena sakit keras. Ini menegaskan watak yang setia perempuan Jawa. Dalam keadaan apapun, ia masih terus melewati hidup dengan sebaik mungkin. Purbanegara kembali menegaskan tentang kesetiaan ini dalam paruh tengah cerita. Seorang wanita dari sebuah kampung memilih gantung diri karena mengetahui suaminya selingkuh tiga puluh tahun yang lalu. Dalam keadaan sakit dan pedihnya, Mbah Sri tetap berjuang melewati hidup tanpa suami bahkan hingga sampai di akhir cerita sekalipun, Mbah Sri tetap kukuh dengan kesetiaan dalam diri dan berbesar hati dengan kenyataan pahit di hadapannya.

Sebagai sebuah film perjalanan (road movie), Purbanegara tidak sekadar mengajak kita lewat perjalanan tokohnya berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain tanpa makna. Setiap langkah ada arti. Setiap langkah ada cerita. Kita diajak mengikuti perjalanan Mbah Sri dari Bantul ke Wonogiri. Dalam banyak film Indonesia, latar hanyalah tempat belaka. Tak ada cerita di sana. Tak ada motivasi untuk memberikan arti lebih pada latar. Tapi, lihat yang dilakukan Purbanegara, melampaui kata berhasil dalam mempertontonkan daya tarik Pedukuhan Pager Jurang sebagai sebuah desa wisata. Dalam perjalanan berpindah tempat itu, kita mendengar warga yang bercerita soal tanah dan juga tentang sebuah kritik sosial tentang Waduk Kedung Ombo, tempat Mbah Sri menabur kembang. Jika kita membuka lembar sejarah, Waduk Kedung Ombo ini mengisahkan warga yang kehilangan tanah dan rumah mereka saat proyek waduk membuat rumah mereka lenyap, dan warga hanya bisa menyaksikan rumah mereka ditenggelamkan.

Dan, akhirnya kita sampai pada akhir cerita. Melihat Mbah Sri di hadapan makam suaminya. Tanpa sepotong kata yang terucap. Tanpa sedu sedan atau bercucuran air mata. Mbah Sri telah memberi makna baru tentang ziarah. Ziarah tak hanya sekadar menabur bunga semata. Ziarah adalah pemaknaan tentang kita yang sejengkal di hadapan kematian dan semampu apa kita berdamai dengan masa lalu, sekalipun itu sangat pedih. (*)

Dodi Prananda, menulis esai film, cerita pendek dan puisi. Lulus dari Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi. Saat ini bekerja di stasiun televisi swasta di Jakarta.

ZIARAH
Sutradara         : B.W. Purbanegara
Skenario           : B.W Purbanegara
Pemain             : Ponco Sutiyem,  Rosadi, Ledjar Subroto
Produksi          : BR Purbanegara Films, Limaenam Films, Lotus Cinema, Hide Projects Films, Super 8mm Studio dan Goodwork

Penghargaan: Nominasi Skenario Terbaik Festival Film Indonesia 2016

Nominasi ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 untuk kategori Aktris Terbaik

Saling Tuduh Mencari Pembunuh

Salah satu adegan dalam film Hangout (2016) arahan Raditya Dika. (Sumber foto: BookMyShow)
Salah satu adegan dalam film Hangout (2016) arahan Raditya Dika. (Sumber foto: BookMyShow)

Formula baru Raditya Dika mengawinkan kisah misteri thriller dan komedi. Mendebarkan sekaligus menghibur.

Sembilan pesohor diundang ke sebuah pertemuan membicarakan proyek besar. Undangan itu datang tiba-tiba, dan kebetulan di saat yang tepat pula dengan iming-iming berlimpah uang. Datanglah orang-orang ini memenuhi undangan dari tukang undang yang bahkan tak tahu siapa: Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Titi Kamal, Mathias Muchus, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Surya Saputra Sholeh Solihun, dan Bayu Skak.

Kesembilan ini datang sebagai diri sendiri karena mereka tidak sedang melakoni suatu peran. Sebagai artis —atau sebutlah saja pesohor, lazim bertemu produser di tempat-tempat seperti restoran atau kafe, atau mungkin hotel mewah. Bagaimana kalau undangan membicarakan proyek besar ini di sebuah vila di tengah hutan, dan untuk mencapainya harus menumpangi kapal, memasuki ceruk hutan, melewati hari tanpa sinyal dan harus menapaki jalan setapak di hutan yang rimbun? Membicarakan proyek besar atau malah mengantarkan nyawa?

Saling tuduh mencari pembunuh seperti dalam permainan werewolf memantik ide Raditya Dika  mengisahkan cerita pembunuhan berbalut komedi dalam film terbarunya Hangout (2016). Sebuah komedi dengan formula baru yang dicoba Raditya dari film terdahulunya. Seakan menjelaskan tak berhenti pada sebuah pakem dan komedi yang “itu-itu saja” dan dengan tema yang “itu-itu saja”, Raditya Dika mengawinkan kisah misteri thriller dengan komedi. Hasilnya? Sebuah film yang mendebarkan sekaligus menghibur. Sebentar-sebentar kita tertawa dengan setiap celetukan dan dialog dari para bintang ini yang menyebut hal-hal di seputar keseharian mereka. Mereka tidak sedang memerankan peran lain, sehingga memungkinkan untuk mengeksplore dari karakter keseharian mereka. Segala atribut yang berhubungan dengan kehidupan para bintang di kehidupan nyata pun akhirnya tidak menjadi celetukan yang sekilas lewat, namun bisa mengundang tawa. Namun apakah yang memerankan diri sendiri benar-benar senyata aslinya, toh kita tahu ini film komedi yang sangat wajar jika dilebih-lebihkan: jika melihat Dinda Kanya Dewi yang digambarkan sangat jorok.

Film dengan aktor yang memerankan dirinya sendiri pernah berhasil dibuat Seth Rogen dan Evan Goldberg: This is The End (2013) dengan memasang sejumlah aktor James Franco, Jonah Hill, Emma Watson. Mengisahkan para aktor terjebak pada sebuah akhir kehidupan dan mereka harus menyelamatkan diri, diwarnai dengan karakter asli aktor. Tapi, apakah Raditya Dika mampu seberhasil Seth dan Evan dalam menampilkan keaslian para aktornya sebagai diri mereka sendiri?

Banyak kesempatan untuk menampilkan sifat asli dan keseharian sang aktor yang sangat natural saat adegan penyelamatan dari vila aneh itu. Sifat egois, sifat kemaruk, dan juga sifat khas manusia lainnya harusnya bisa ditampilkan lebih “human” lagi. Kita tahu, dalam setiap film para pesohor ini adalah orang lain, atau menjadi orang lain. Sekarang mereka adalah diri mereka sendiri. Karakter yang melekat pada diri pemain bukan tidak mungkin menambah keseruan cerita, seperti bagaimana keributan yang tercipta pada tokoh saat memilih bertahan atau kabur pada film This is The End. Apakah dalam keadaan sulit dan menakutkan, masih ada kesempatan bagi tukang akting untuk berpura-pura?

Sekali lagi, ini adalah komedi. Kenaturalan apapun yang diharapkan, sekalipun memasang bintang yang memerankan diri sendiri, unsur fiktif tak akan terelakkan. Di sejumlah adegan, bukan tak mungkin juga penonton sulit meraba manakah yang asli atau justru dibuat-buat untuk kepentingan tawa. Sementara dari sisi misterinya, untuk Anda penggila film misteri atau thriller mungkin mudah saja menebak siapa pembunuhnya dari awal, karena banyak sekali clue yang ditebar sejak awal cerita. Namun yang menarik dari semua itu bukan tentang siapa pembunuhnya, tapi bagaimana setiap tokoh akhirnya berpikiran dan “awas” jika pembunuh itu adalah satu di antara mereka. Seperti menebak pembunuh pada permainan werewolf yang penuh intrik: bahkan bisa saja pertengkaran timbul karena saling tuduh. Akhirnya yang timbul adalah: dugaan persaingan ‘artis vs stand up comedy’ seperti yang dilontarkan Gading, sebuah spekulasi yang muncul saat saling tuduh mencari pembunuh bisa melahirkan suatu kebencian yang sesat pikir. Tapi itu disajikan sebagai sebuah komedi, ingat, tak boleh serius-serius amat karena ini komedi!

Meski tak serius-serius amat, akhir kisah bisa saja dibuat sangat light. Tetap ada pesan. Sudah di beberapa film terakhirnya ini, Raditya Dika seolah tak ingin mengakhiri filmnya dengan biasa-biasa saja. DODI PRANANDA

 

HANGOUT

Sutradara: Raditya Dika, Penulis Naskah: Raditya Dika, Produser: Sunil Samtani, Gope T. Samtani, Produksi: Rapi Films, Pemeran: Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Titi Kamal, Mathias Muchus, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Surya Saputra Sholeh Solihun, Bayu Skak

Lelaki yang Mencari Kembali Dirinya

Sumber foto: http://cdn.collider.com/wp-content/uploads/2016/09/headshot-iko-uwais.jpg
Sumber foto: http://cdn.collider.com/wp-content/uploads/2016/09/headshot-iko-uwais.jpg

Film aksi pertama dari sutradara Kimo dan Timo. Dibangun dengan ide cerita yang menarik, walau terasa jejak film The Raid yang kental.

Di atas ranjang sebuah rumah sakit, di kota yang berpantai —kota yang tidak terlalu ramai itulah seorang lelaki terbaring. Seorang lelaki tanpa nama pada papan di muka ranjang. Dokter yang menanganginya, Ailin (Chelsea Islan) bolak-balik menghampiri, siapakah lelaki ini? Kapan ia akan sadar?

Namun begitu si lelaki bangun dari koma, terjelaskanlah ia amnesia. Siapa dirinya? Darimanakah ia berasal? Sementara ia sendiri, tanpa keluarga. Iseng mengutip nama dari tokoh pencerita novel Moby Dick karya Herman Melville, Ailin memanggil si lelaki Ishmael. Paling tidak membantu Ishmael mengigat kehidupannya di masa yang dulu.

Dan masih menggantung pertanyaan: siapakah dirinya, dan bagaimana ia bisa tak sadarkan diri begitu lama, sembari mencari-cari, kita baru saja diperkenalkan dengan si jago berantem itu. Dunia yang seperti tidak aman bagi lelaki ini, membuat sang dokter cantik Ailin berpikiran membawa Ishmael (Iko Uwais) ke Jakarta. Namun, Ishmael menolak dengan alasan ia akan mencari tahu siapa dirinya, apakah dia orang baik atau orang jahat, satu janji yang ia ucapkan ia akan tetap bertemu lagi dengan Ailin. Dan belum-belum, napas sebagai film aksi pun telah berbunyi peluitnya. Penyerangan dimulai. Penuh tembakan dan baku hantam. Penuh darah, dan juga ketegangan.

Penuh darah seakan mampu mewakili film-film garapan sutradara yang berjuluk The Mo Brothers, Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel. Ingat film terdahulunya yang bergenre horor slasher –atau horor jagal, Rumah Dara (2009) dan Killers (2013). Kini duo sutradara Kimo dan Timo yang biasanya senang “memasak” horor jagal, bagai menyuguhkan menu masakan baru: film laga. Dan bagaimana peruntungan mereka dalam menggarap ini?

Keduanya memang tak pernah muncul dengan film dengan cerita klise. Ide cerita pada setiap film yang mereka garap selalu menarik dan tereksekusi dengan baik. Headshot pun juga memiliki ide menarik. Saat dibawa ke cerita masa kecil si lelaki dengan luka jahitan di kening—Ishmael ini adalah yang paling menarik. Kisah anak-anak yang bertarung di dalam sumur, dan bagaimana kehidupan mereka dewasa kelak? Ini yang kemudian diceritakan Kimo dan Timo pada sebuah geng terkuat, yang disegani: yang kepala araknya adalah Lee (Sunny Pang), yang menyantap mie sebelum membunuh yang bersimbah darah. Katakanlah ide cerita dari film dua Kimo dan Timo tak perlu diragukan. Namun bagaimana elemen lain dalam film laga pertama mereka ini?

Pada akhirnya, kita harus mengatakan bahwa menu masakan baru Kimo dan Timo ini memang lezat: adegan tembak-tembakan di bus yang reot itu, adegan di sarang geng, adegan sumur dan juga perkelahian Ishmael dengan Rika (Julia Estelle) di pantai yang gambarnya sangat “seksi”. Namun menu ini ada yang terasa tidak segar. Menu ini hampir basi karena kita sudah menikmatinya pada film The Raid (2011) racikan Gareth Evans. Sulit untuk tidak membawa ingatan kita pada setiap dentum dan tembakan serta darah yang berceceran hampir setiap saat. Apakah risiko karena memasang Iko Uwais? Bisa jadi, sehingga setiap unsur masakan ini membuat serba terasa ala The Raid. Apakah tidak ada sedikit rasa yang menyentak? Tentu saja, karena menarik melihat akting Chelsea yang jauh dari film terdahulunya. Kita jadi tahu bintang muda ini betul-betul berusaha keras untuk film ini memeranan Ailin sebaik mungkin. Dan apa yang lain, selain scoring yang juga khas The Raid. Tentu saja, apakah seseorang akan teringat The Raid tidak lagi menjadi penting karena Kimo dan Timo tidak pernah menggarap filmnya setengah-setengah. “Makanan” atau menu baru yang dicobanya ini tetap menarik untuk disantap.

HEADSHOT
Sutradara :  Kimo Stamboel, Timo Tjahjanto
Skenario : Timo Tjahjanto
Pemain : Iko Uwais, Julie Estelle, Chelsea Islan, David Hendrawan, Sunny Pang, ,  Zack Lee, Yayu Unru, 
Produksi : Screenplay Infinite Films

Teman Menggapai Mimpi

Saya bersama ayah dan ibu saat wisuda, Februari 2015. Kami berfoto dengan Gedung Rektorat sebagai latar. (Foto: koleksi pribadi)
Saya bersama ayah dan ibu saat wisuda, Februari 2015. Kami berfoto dengan Gedung Rektorat Kampus UI Depok sebagai latar. (Foto: koleksi pribadi)

SAYA masih terpaku dengan apa yang tertulis di layar komputer: Selamat Anda diterima di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Hari ini adalah pengumuman penerimaan mahasiswa Undangan, dan saya baru saja mendapati sebuah kabar yang beberapa tahun setelahnya betul-betul mengubah hidup saya.

Berkuliah di kampus ternama, boleh jadi mimpi besar bagi saya, seorang anak nelayan yang tinggal di daerah pinggir pantai di Kota Padang. Di tempat saya tinggal, tak sedikit anak-anak nelayan yang hidupnya berakhir seperti orangtua mereka. Mereka yang sarjana, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Namun saya bertekad tak akan berakhir di laut sebagai nelayan, seperti ayah. Saya punya mimpi.

Ayah saya bilang, “Kejarlah dunia ini dengan pena,” sebuah nasihat terpenting. Bagi ayah, pena adalah simbol kemapanan dan hidup layak. Ayah selalu terobsesi suatu hari melihat anaknya bisa bekerja kantoran dan mengubah kehidupan keluarga. Ini membuat saya terpacu, sampai saya berjuang menembus Sekolah Menengah Pertama bergengsi lalu melanjutkan di SMA 1 Padang, sekolah unggulan di Padang.

Pertengahan tahun itu, saya berangkat meninggalkan kampung halaman. Orang Minangkabau punya prinsip hidup merantau, apalagi bagi pemudanya. Jadi saya pikir, sekolah di Jakarta, meninggalkan kampung halaman adalah sebuah keharusan, untuk kemudian kembali suatu hari membangun kampung.

Saya tak punya keluarga dan kerabat dekat di Jakarta, namun saya tak pernah risau karena sudah memperhitungkannya semua matang-matang. Saya siap dengan risiko hidup jauh terpisah dengan keluarga. Saya membawa pakaian, satu kardus buku favorit, namun saya tak membawa banyak uang. Sempat risau, seorang anak rantau hidup di tanah orang namun dengan bekal uang pas-pasan. Ayah saya tak menyiapkan banyak uang pada hari keberangkatan itu, kecuali nasihat-nasihat dan sebungkus rendang untuk perbekalan makan minggu pertama. Namun ia berjanji, “Bila cukup uang, ia akan mengirim sedikit uang.” Saya hanya mengangguk, dan tak membahas bagaimana ayah saya bisa mengirimkannya karena ia jarang —bahkan tak pernah — berurusan dengan bank.

Di hari pertama saya di Kampus UI Depok —saya pernah ke tempat ini dua tahun sebelumnya, dan saat kedatangan itu saya mengatakan: suatu saat saya akan menjadi mahasiswa kampus ini, dan ini terjadi — saya mengurus beasiswa. Keluarga kami tak akan pernah mampu untuk membayar biaya kuliah di UI yang mahal , setidaknya menurut perhitungan pendapatan ekonomi keluarga. Jadi, yang mungkin menyelamatkan saya adalah beasiswa. Saya mengikuti serangkaian seleksi beasiswa untuk mempertaruhkan semuanya: jika saya berhasil, saya tak perlu membayar sepeser pun hingga sarjana.

Saya hanya bermodal yakin dan sungguh-sungguh, sehingga seleksi itu berakhir dengan mudah dan berlangsung apa adanya. Panitia seleksi sempat menanyakan sesuatu dengan nada berseloroh, “Bagaimana kamu berangkat ke kota ini dari Padang, tidak nyebrang di Selat Sunda kan?”, saya bilang, “Bila hanya itu satu-satunya cara untuk bisa sampai di UI, saya akan melakukannya,” kata saya membalas, sehingga wawancara terasa sangat cair.

Saya melewati dengan mudah hari-hari pertama yang harusnya terasa berat itu. Saya mendapatkan beasiswanya, dan keluarga lega mengetahui kabar ini. Saya terbebas dari keharusan membayar biaya semester kuliah lima juta per bulan, dan menariknya, diberi biaya hidup (living cost) sebesar enam ratus ribu rupiah per bulan yang dikirimkan ke rekening enam bulan sekali lewat rekening. Jadilah, setiap penerima beasiswa membuka rekening dengan bank mitra kampus UI, Bank Negara Indonesia atau BNI yang membuka cabangnya di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Inilah kali pertama saya memiliki rekening pada Bank bertuliskan BNI46.

Di Padang, nama BNI46 ini sangat lekat, karena di Jalan Dobi, kantor Bank ini sempat terbakar dan sisa bangunannnya bertahan sekian tahun tanpa diperbaiki. Sementara untuk urusan menabung, saya mengikuti ibu yang setiap bulan mengantar kakek mengambil uang pensiun sebagai pejuang ’45, yang dialihwariskan kepada nenek, di sebuah bank milik pemerintah lainnya. Jadi sama sekali tak punya pengalaman apa-apa dengan BNI.

Kami, para penerima beasiswa harus bersabar karena baru menerima dana bulanan itu pada akhir semester. Sementara kami butuh biaya untuk membayar sewa tempat tinggal dan makan sehari-hari. Inilah saat yang mendebarkan, kami kerap bolak-balik mengecek rekening: dan berharap ada kiriman di sana. Saya tak punya harapan apa-apa selain menanti kiriman orangtua, namun saya juga tahu, meminta orangtua mengirimkan kiriman bulanan, itu sama sia-sianya seperti menimba air di laut. Dan, saya juga tak ingin orangtua terbeban. Tapi sekali waktu, saya harus mengatakan bahwa saya butuh kiriman. Ayah meminta tetangga kami yang sering berurusan dengan bank untuk mengirimkan sejumlah uang yang sanggup dikirim ayah. Tetangga itu juga tak punya rekening di BNI, sehingga dia meminta customer service BNI Cabang Kampus Universitas Negeri Padang mengirimkan ke rekening saya. Ah, lega. Akhirnya saya berhenti makan Indomie saat kiriman uang itu datang!

Selain kiriman orangtua yang sebenarnya tak pasti, ada satu “penyelamat” lainnya. Saya hobi menulis sejak kecil, dan rupanya hobi menulis itu “menyelamatkan” saya ketika saya dewasa. Sebetulnya, sejak di Padang, saya senang mengirimkan karya, entah itu puisi atau cerita pendek ke surat kabar atau majalah terbitan Jakarta. Jika dimuat, saya akan mendapat honorarium yang jumlahnya lumayan bagi seorang anak SMA. Bila dalam sebulan ada lima saja karya dimuat di media berbeda, saya bisa kantongi satu juta lebih.

Saat berkuliah di UI, hobi ini saya lanjutkan. Kadang, saat mengecek ATM BNI, saya mendapati saldo bertambah. Sekali waktu saya mengira ayah yang mengirimkan, namun rupanya tidak. Saya melacak pengirimnya, rupanya dari sebuah majalah ternama Ibukota. Sayangnya saya tak bisa produktif menulis karena semester awal kuliah sangat sibuk.

Semester kedua, semua mulai stabil. Saya mulai menikmati ritme kehidupan kampus sekaligus sebagai anak indekos perantauan. Saya tak menyia-nyiakan waktu terbuang percuma. Saya betul-betul memanfaatkannya dengan berbagai kegiatan positif. Saya mengikuti berbagai lomba dan berjanji menulis lebih banyak di media massa. Semester berikutnya, dan berikutnya lagi, saya tetap menggantungkan harapan pada beasiswa, namun sekarang saya sudah merasakan manisnya uang dari menulis. Namun di saat ini, orangtua saya mulai kesulitan mengirimkan uang, sehingga keadaannya sekarang terbalik. Saya yang harus mengirimkan uang untuk adik, karena saya punya tiga adik yang bersekolah, satu di SMA, satu di SMP dan satu lagi SD. Alamak, sekarang saya kebingungan bagaimana mengirimi mereka uang? Saya jadi ingat Paman saya yang seorang Kepala Sekolah di sebuah kota kecil di Sumatera Barat yang dulu berkirim wesel pos setiap kali mengirimkan uang bulanan untuk Ibunya —atau Nenek saya. Ibu saya yang sering menerima kiriman wesel itu masih menyimpan beberapa bukti sebagai kenangan. Tapi, di zaman dengan dunia perbankan super canggih ini, saya tak mungkin menggunakan wesel yang “jadul”. Solusinya adalah menitipkan uang itu kepada teman semasa sekolah yang memakai BNI, dan meminta dia menyerahkannya pada adik saya.

Semester demi semester saya lalui. Kadang berat, kadang ringan. Meski sempat terseok-seok dengan keuangan pas-pasan, dan dengan beasiswa yang sering datang terlambat, saya akhirnya menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga setengah tahun. Saya pikir akan sangat lama, namun malah sangat sebentar. Pada Februari 2015, saya wisuda. Saya lulus dengan predikit cum laude. Ayah dan Ibu saya datang pada hari paling membahagiakan dalam hidup saya itu.

Dan dari perjalanan panjang menggapai mimpi, saya sebenarnya tak (pernah) sendiri. Ada Tuhan yang selalu menjaga doa-doa saya. Ada orangtua yang melarang saya menyerah. Dan terakhir, ada seorang teman, bahkan perannya lebih dari seorang teman, karena telah menemani saya serta membantu menggapai mimpi, dialah: BNI.

Jakarta, Mei 2016

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blogging #70TahunBNI dengan tema “Pengalaman Bersama BNI

Usaha Menghadapi Bos Bongak

Salah satu adegan dalam film My Stupid Boss (2016) garapan Sutradara Upi. (Sumber: Liputan6/Falcon)
Salah satu adegan dalam film My Stupid Boss (2016) garapan Sutradara Upi. (Sumber: Liputan6/Falcon)

Duet Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari yang tak berpretensi melucu . Natural dan asyik, dengan visual bernuansa retro.

Apabila kamu bekerja di sebuah kantor yang memiliki bos menyebalkan, film terbaru Sutradara Upi ini, boleh jadi membuatmu seperti “menonton dirimu sendiri”. Diana (Bunga Citra Lestari), yang baru saja diangkat sebagai Kerani (dalam bahasa Melayu) alias Kepala Administrasi di sebuah perusahaan multinasional, bagai menghadapi mimpi terburuk sepanjang hidup: memiliki bos yang paling dibenci karyawan di seluruh dunia. Bayangkan saja: bos yang mau dipanggil Bossman (Reza Rahadian) ini akan menyerocos semaunya, dia akan membuatmu naik pitam karena tak mengizinkanmu bicara, sementara kamu tahu dia salah atau keliru, dan paling parah lagi dia pelupa, suka mencurigai, dan gemar membuat karyawannya menderita.

Kisah nyata seorang perempuan dengan akun pseudo Chaos@Work yang ditulis sejak 2005 dan kemudian dibukukan tiga tahun setelahnya dengan judul My Stupid Boss, sempat meledak di pasaran. Buku terbitan penerbit Gradien Mediatama di Yogyakarta itu kini memasuki edisi kelima. Dari empat buku itu, potongan kisah hubungan absurd seorang atasan alias bos dan bawahannya menarik perhatian rumah produksi Falcon Pictures untuk mengangkatnya ke layar lebar, dan sutradara Upi yang sempat menghilang beberapa tahun terakhir duduk di kursi sutradara.

Menjatuhkan pilihan kepada Reza Rahadian pilihan tepat Upi, karena semua aktor dalam film yang pernah digarap Upi adalah aikon. Ingat nama ini: Vino G. Bastian misalnya, dalam film-film garapan Upi: Realita, Cinta dan Rock’n Roll — bersama Herjunot Ali (2006), atau Radit Jani (2008) dan Serigala Terakhir (2009) telah menjadi karakter yang “hidup” bagi penontonnya. Ada nama lain: Abimana Aryasatya dalam Belenggu (2013). Jejak Upi tampak dalam aktor yang karakternya sangat kuat dan melekat, dan sulit membayangkan digantikan oleh nama lain.

Reza kali ini sunguh paham keinginan Upi untuk membuat sebuah film komedi tanpa memasang Komika alias aktor dari panggung lawak tunggal (stand up comedy), sehingga dari tampilan fisik bosnya saja, adalah sesuatu yang sudah lucu mengundang tawa: perut buncit, dan sabuk yang kedodoran, kepala nyaris botak — rambut asli Reza dilapisi bald cap yang kemudian ditambah rambut palsu—- dan jangan lupa, kumis segaris yang jadi bahan olokan karyawannya dengan kumis lele. Ah ya, Reza bahkan sengaja menciptakan suara tertawa yang khas sekaligus unik.

Upi membawa kita lebih dekat sekaligus bersimpatik pada tokoh Diana — yang sangat mewakili penontonnya—- saat terjebak kontrak kerja pada perusahaan Malaysia Sinar Berjaya, dan harus membayar penalti jika memutuskan keluar. Jadilah, hari demi hari terus dirongrong oleh Bossman yang tak pernah sedikitpun mendengar keluh kesah karyawannya: dari soal mesin penyejuk ruangan yang rusak, atau tagihan internet yang belum dibayar.  Dan jangan sesekali mencoba memberinya nasihat, bila tidak ingin mendengar dia mengatakan: Impossible We Do! Miracle We Try! Inilah prinsip Bossman, salahpun dia, dia tetap benar. Bossman always right. Dia mengaku “demokratis”, namun pendapat para karyawan hanyalah angin lalu.

Menarik melihat karakter Diana, seorang wanita Indonesia yang bersuamikan Dika, seorang konsultan perusahaan minyak (diperankan Alex Abbad), yang hidup nomaden ke berbagai negara dan berakhir di Kuala Lumpur, Malaysia. Jadilah, nasib tinggal dengan kehidupan Melayu super kental, dengan tetangga apartemen yang senang bergosip — termasuk menggosipkan artis Indonesia– serta sebuah keputusan bekerja dengan Bossman yang adalah sejawat suaminya saat kuliah di New York, Amerika Serikat.

Bunga Citra Lestari beruntung pernah berduet dengan Reza di film terdahulu, sehingga adu akting dengan Reza tak sulit lagi dilakukan, meski kali ini anti-tesis: tokoh yang harus dilawannya. Karakter Diana, sebagai seorang karyawan terzalimi karena ulah Bossman, cukup berhasil dimainkan dengan karakter Bunga yang sulit menahan kegusarannya, dan sebetulnya gampang meledak.

Belum lagi, setiap kali curhat tentang ulah Boss yang ia tuduh: “ada mur yang lepas dalam kepalanya” kepada Sang Suami, karena alasan pertemanan, si suami selalu mengatakan, “Dia emang gitu orangnya,” yang sontak membuat Diana kian gondok. Adegan saat Diana tertawa sendiri di tengah malam karena stres memikirkan upaya balas dendam pada bossnya, serta meneriakan kata dialah juara, adalah bagian yang terbaik karena sangat absurd. Tapi sayangnya karakter Diana ini membawa Unge tak menampilkan sesuatu yang “baru” kepada kita, jika mengingat Reza yang begitu segar dan “selalu baru”. Di balik itu, sebuah “bonus” karena Unge cukup popular dan tak asing bagi penonton di Malaysia, mengingat film ini hasil kolaborasi sineas Indonesia-Malaysia yang dibuat untuk pasar di Asia Tenggara.

Aktor Malaysia yang tampil di film ini betul-betul mendukung: Sikin (Atikah Suhaime), Adrian (Bront Palarae), Mr. Kho (Chew Kinwah) dan Azhari (Iskandar Zulkarnain). Mereka semua adalah orang Malaysia asli, berlogat Melayu yang hanya melongo karena tak mengerti betul apa yang disampaikan Bossman. Bos berkata, anak buah berkata, namun tidak ada yang saling mengerti. Belum lagi, karyawan ini berasal dari berbagai negara dan berbeda bahasa: Melayu, Tionghoa, India dan Korea, namun mereka ada di satu perusahaan dengan bos asal Indonesia yang super aneh dalam banyak hal. Sebuah gambaran menarik tentang apa jadinya jika komunitas antar-ras terhalang bahasa, relevan dengan kondisi perdagangan bebas yang tengah kita hadapi, khususnya di Asia Tenggara –yang kita sebut sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN. Film ini menarik untuk dilihat dan dikaji dari berbagai sisi, dan dari sisi budaya adalah yang paling seksi.

Sebagai sebuah film komedi, sekaligus menjadi film komedi ketiga Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta (2004 – drama komedi), Red CobeX (2010), Upi sangat berhasil menyusun sebuah kelucuan dengan mengandalkan adegan atau situasi. Sepanjang film semua aktor tak berpretensi melucu. Ingat adegan saat karyawan Bossman yang harus bergantian “ngadem” dengan cara membuka kulkas, dan hampir semua adegan, kelucuan justru datang karena kelucuan adegan dan situasi itu sendiri, tanpa dibuat-buat. Di saat industri kita “sibuk” dengan film komedi yang mengandalkan komika, Upi justru sama sekali tak memasang satupun komika yang konon jago menjual tawa. Sebuah usaha yang berhasil dan patut dipuji karena melawan tren.

Dan tak terbayangkan pula jika Upi benar-benar mundur saat ditawari H.B. Naveen dari Falcon menggarap film ini. Upi sempat mundur karena bingung menemukan cara meramu kisah yang dibangun dengan konflik melulu, sehingga sulit dialihwahanakan ke film, apalagi My Stupid Boss menjadi film pertama yang diarahkan sekaligus ditulis Upi dari sebuah novel. Dan solusinya adalah dengan memotong bagian-bagian untuk merangkai kembali menjadi sebuah alur kisahan yang solid dan saling terkait, dan bahkan nyaris berujung subtil tak tertebak.

Hal lain menarik dari film ini tentu saja dari bagaimana visual yang unik. Diana ditampilkan dengan setelan busana khas Korea: menggunakan boots dan tas ransel vintage berwarna dominan kuning, hijau dan merah. Penataan artistik yang memiliki “mood” tersendiri. Satu hal lain yang patut dibahas, Upi tak ketinggalan untuk memasukkan sisi lain Malaysia, yang salah satunya lekat dengan musik Melayu. Jadilah lagu “Gerimis Mengundang” yang pernah dipopulerkan musik Malaysia Slam pada awal 1990-an muncul menjadi musik latar bersama sejumlah musik Melayu lainnya.

Upi telah memecahkan tantangan membuat film komedi yang dianggap susah. Ia akhirnya memilihkan sebuah akhir kisah komedi yang tak terbayangkan sebelumnya. Penonton akan dimanjakan dengan komedi yang segar dan tak asal-asalan, namun juga bisa menarik sebuah pandangan berbeda: bahwa sebagai bos yang bongak, semaunya dan menyebalkan, dia jugalah seorang suami yang bahkan “tunduk” pada kemauan istri. Dia juga manusia biasa yang punya hati. Dan jangan lupa, bahwa karakter bos ini tak melulu menyebalkan, ada nilai yang penting darinya: tentang keharusan bermimpi dan tak membiarkan karyawannya bermental tempe. Ada sedikit kesempatan bagi Upi untuk menggugah penonton sehingga membungkus film ini menjadi sebuah tontonan yang tidak akan berlalu begitu saja di benak penontonnya. Seperti kata Dika, “Dia emang gitu orangnya, tapi orangnya baik.” Sebaik Upi mengakhir kisah absurd ini.

DODI PRANANDA, Penggemar Film

 

MY STUPID BOSS

Sutradara: Upi  Penulis Skenario: Upi, berdasarkan buku My Stupid Boss karangan Chaos@Work, Pemain: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Alex Abbad, Melissa Karim, Chew Kinwah, Bront Palarae, Atikah Suhaime, Iskandar Zulkarnain Produksi: Falcon Pictures

Ada Apa dengan Cinta yang Serba Tanggung

Salah satu adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2 (Dok. Miles Film)
Salah satu adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2 (Dok. Miles Film)

MASIH adakah cinta setelah empat belas tahun berlalu?

Kita merindukan sepasang idola ini selama empat belas tahun lamanya: Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra). Kemudian pada waktu yang entah tepat atau tidak, akhirnya Riri Riza duduk di kursi sutradara menyelesaikan pertanyaan yang menggantung: masih adakah cinta setelah tahun-tahun dan sekian purnama berlalu?

Begitu banyak yang berubah. Masih ingat saat terakhir itu? Sebuah ciuman pertama di bandara, sekaligus yang terakhir. Masih ingat jugakah Mamet (Dennis Adhiswara), yang begitu mengidolakan Cinta, lantas kini berbalik menikahi Miss Tulalit, Mili (Sisy Priscillia). Bagaimana pula Alya (Ladya Cheryl), Maura (Titi Kamal), dan Karmen (Adinia Wirasti)? Sekarang mereka muncul kembali, membuka masa lalu untuk kemudian menyelesaikannya.

Sebuah tantangan sekaligus tanggung jawab besar, kursi sutradara ditempati Riri Riza yang semula sebagai Produser mendampingi Mira Lesmana. Film pertama yang tayang pada 2002, Rangga dan Cinta tidak hanya menjadi karakter yang begitu kita sayangi, dan kita miliki kisahnya, tapi tak berlebihan disebut “legenda”. Suatu langkah yang tidak mudah, namun Riri Riza telah memilihnya.

Akhirnya, kita melihat Cinta lagi. Masih secantik saat dia belia: lincah, pintar, ceria, sekaligus rapuh soal cinta. Juga Rangga: kecuekannya, sisi romantisnya, dan juga sikapnya yang misterius. Cinta, tokoh idola kita yang dulu hobi menulis dan membaca – dan mengurus mading- sekarang adalah pemilik galeri seni. Semua memang tidak sama lagi, karena telah bertumbuh dewasa. Sudah ada Trian (Ario Bayu), pengusaha kaya, tempat cinta berakhir.

***

Masih ingat buku Aku karya Suman Djaya membuat kisah dua anak manusia ini mengalir begitu indah. Puisi melekat begitu kuat —puisi-puisi indah Rako Prijanto. Sekarang buku itu juga masih ada, simbol masa lalu, yang dimasukkan Cinta ke dalam sebuah kotak kenangan yang dibuka kembali. Surat terakhir itu — surat romantis yang biasanya berisi puisi-puisi indah Rangga, namun kali itu adalah kalimat perpisahan. Lalu dengan pikiran bolak-balik akhirnya masa lalu itu dibuang juga ke keranjang sampah.

Ini membuat kita mempertanyakan: kenapa segala sesuatu tentang sastra itu: buku, puisi, latar toko buku bekas di Kwitang, Senen (ingat soal Limbong, dan tentang teori perempuan menoleh tanda ingin dikejar?), serta lagu berlirik puitis racikan Melly Goeslow dan Anto Hoed, telah mengisi serta menjalin dan berkelindan dengan keseluruhan cerita, serta bisa dibilang penggerak alur, kini tak berperan besar lagi?

Ingat lagi soal puisi terakhir: Perempuanku, yang meminta Cinta menunggu satu purnama. Artinya, film ini saat pertama kali meluncur pada 2002 muncul dengan corak berbeda, yang menjadikan sastra sebagai sebuah objek penting. Lalu kini? Masih ada puisi memang, yang dipercayakan kepada Aan Mansyur: begitu indah, dewasa, dan penuh emosi, namun kali ini hanyalah “lipstik”. Perhatikan baik-baik buku Haruki Murakami, buku Aan Mansyur, serta puisi yang disuarakan tokoh Rangga menjadi sekadar “lipstik” belaka. Buku-buku sastra itu hanya menjadi properti belaka.

Dulu, puisi kita bisa rasakan saat Cinta duduk di koridor sekolah, lalu bersama keduanya menyitir bagian-bagian puisi Chairil Anwar: bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing (Pemberian Tahu, Chairil Anwar, 1946). Indah rasanya, sekaligus manis. Tapi, Aan Mansyur yang begitu kuat menulis kepedihan hati seseorang yang hampir menyesal, namun tak ingin membunuh cintanya, menulis: lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi (Batas, Aan Mansyur, dalam buku Tak Ada New York Hari Ini, 2016), berakhir sebagai puisi tempelan yang tidak menggerakan plot.

Lalu berhasilkan peran Cinta dan Rangga dihidupkan kembali? Sebuah usaha yang tidak mudah, tapi kita harus menyaksikannya. Kita masih melihat yang dulu, sepasang yang dilipur cinta, namun kadang juga membenci. Riri Riza ingin kita melihat sepasang ini sebagai Jesse Wallace (Ethan Hawke) dan Céline (Julie Delpy) dalam Before Sunrise (1995), yang adalah kunci utama plot: mereka bergerak semaunya, membicarakan apa saja, dan sekaligus penentu keberhasilan kisah. Namun berat mengatakan bahwa itu semua adalah obsesi yang gagal, karena Riri tak seperti Richard Linklater yang mampu membuat jalinan Jesse dan Céline begitu organik, seolah kita tidak sedang menyimak film, tapi mendengar teman yang mengobrol apa saja.

***

Jogja dipilih sebagai latar, dan pastilah kita berharap latar ini berperan pada mau dibawa kemanakah kisah yang “tertidur” lama ini. Yadi Sugandi sebagai penanggungjawab sinematografi diakui berhasil menyuguhkankan kita Jogja yang jarang kita lihat dari penampakan Jogja pada umumnya dalam film atau sinema televisi. Tapi, apakah Rangga dan Cinta mampu “memainkan” latarnya? Akhirnya jadilah kita teringat 3 Hari untuk Selamanya, garapan Riri Riza pada 2007 yang mempertemukan Nicholas Saputra (sebagai Yusuf) dan Adinia Wirasti (Ambar): sebagai sebuah road movie. Menarik melihat percakapan yang “suka-suka” antara Yusuf dan Ambar, namun tidak semenarik yang ini. Menghabiskan semalam suntuk bersama Rangga dan Cinta membawa kita melihat Jogja yang tak biasa, sembari menyelesaikan konflik lama. Banyak topik yang diumbar, namun hambar. Apa kabar skenario racikan Riri, Mira dan Prima Rusdi yang tidak greget, bahkan sangat klise sebagai sebuah bahan. Lagi-lagi, dulu, jejak Jujur Prananto yang begitu kuat: membuat kita bisa merasakan betapa menariknya sepasang anak urban yang hidup di Jakarta melawan stereotipe: bukan anak mal, atau anak dugem, mereka adalah pembaca buku, mereka ada di toko buku, mereka adalah penggemar musik-musik yang tenang di kafe, sekaligus membicarakan isu-isu penting: terpercik juga bahasan komunisme, walau tidak mendalam. Sekarang? Nyaris tanpa subtansi, dan serba tanggung.

Di sebuah situs sejarah, mereka membicarakan politik: yang jelas-jelas mengarah ke Pemilihan Presiden 2014 (perhatikan baju yang dipakai Rangga –kotak kotak), lalu ada kalimat sepertinya kita milih yang sama, dan ada sindiran: nyesel gak? Yang sebenarnya menarik tapi tak tergali karena dibahas sepintas. Ada juga teater boneka, ada juga Punthuk Setumbu yang menjadi bagian penting: namun tak banyak yang dibahas selain percakapan soal beda traveling dan jalan-jalan yang konyol —selain baha kita melihat sosok Nicholas yang asli dengan hobi traveling-nya. Keseluruhannnya justru membuat kita bertanya: ada apa? Ada apa dengan skenario keduanya, kenapa serba tanggung, hambar dan sangat klise. Ingat percakapan Yusuf dan Ambar sepanjang perjalanan Jakarta menuju Jogja: liar, penuh gejolak, tidak tertebak, sekaligus mendalam. Penuh gairah anak muda yang tak hirau tabu. Bagaimana mungkin percakapan sepasang yang terpisah begitu lama, malah sangat kanak-kanak.

***

Singkatnya: apa yang dipakai tokoh, dilewati, dirasakan, ditonton hanya berlalu begitu saja. Kenapa tidak terpikir untuk membahas teater boneka yang mereka tonton, atau lukisan yang dilihat saat di pameran, atau membahas nama lain setelah Chairil Anwar dan Sumandjaya. Hidup di New York bertahun-tahun, pastilah membuat Rangga tumbuh pula dengan literatur sastra asing yang kanon ataupun modern: andaikan mereka membahas Harper Lee, Haruki Murakami (yang tergeletak saja di meja galeri Cinta dan rumah Rangga), atau barangkali Etgar Keret? Atau siapalah.

Soal akting, ada apa dengan Cinta yang tak semenarik dulu menghidupkan perannya. Dulu Cinta begitu melekat dan terkenang, sekarang begitu datar dan dibuat-buat: perhatikan saat di vila, saat di pameran dan di kafe (selain kalimat yang akhirnya jadi olokan: RANGGA, APA YANG KAMU LAKUKAN KE SAYA ITU JAHAT!”), tapi tunggu sebentar, Rangga masih seperti dulu: tak tertebak, misterius dan romantis. Namun, hampir separuh film berjalan, dia menjadi tak seistimewa yang dulu, kecuali adegan pulang ke rumah, setelah berdamai dengan semuanya. Saat memeluk sang ibu yang ia benci sepanjang hidupnya (bahkan di film pertama ia tak mau membahasnya saat cinta bertanya di mana ibunya), dan meneteskan air mata. Itulah Rangga, kita betul-betul melihatnya di situ: adegan yang khas Rangga, emosi tertahan yang meledak juga.

Sebentar, sebentar, soal teman-teman cinta, ah, mereka tetap semenarik yang dulu. Prima Rusdi yang menggawangi skrip untuk para geng Cinta ini memang tak gagal menulis karakter yang konsisten: bahkan untuk Mili, kita sangat setuju dialah yang membuat kita tak berhenti tertawa sepanjang film ini diputar. Mili adalah magnet komedi, yang pada film pertama sangat berhasil dilakukannya bersama Mamet.

Namun berat mengatakan, film ini digarap serba tanggung. Entah apa yang membuat Riri Riza terkesan buru-buru. Andai saja ia masih sabar menunggu, misalnya, untuk urusan menunggu Ladya Cheryl yang tengah sekolah di luar negeri pulang, dan bila Alya tak absen, pastilah yang kita saksikan tak seperti yang ini. Namun tak ada Alya, tak ada juga New York yang kita harapkan: sebagai latar kisah Rangga, dan juga akhir kisah yang selesai biasa-biasa saja. Lihat juga betapa buru-burunya film ini pada pengambilan gambarnya yang terlalu banyak goyang (shacking), penyuntingan yang tak lembut, pewarnaan (grading) film yang tak maksimal. Lalu, kemana lirik-lirik indah lagu garapan Melly seperti pada film pertama? Yang justru memberi ruh begitu besar, sekarang hilang di telan Satu Purnama. Kita mempertanyakan semua yang telah baik pada film pertama, yang seharusnya dipertahankan namun menjadi tidak menarik lagi di film ini. Bahkan, harus merelakan film ini begitu banyak menebar iklan-iklan komersial yang sebetulnya menganggu.

***

Sekali lagi, apakah Ada Apa Dengan Cinta 2? muncul di waktu yang tepat atau tidak, Riri Riza dan tim telah memberi jawaban atas pertanyaan empat belas tahun yang terus kita nanti. Puas atau tidak, kita berhak menilai masing-masing tanpa harus bertanya lagi, karena memang sejak dulu kita sudah memiliki kisahnya, dan juga sepasang idola itu: bagaimanapun dan apapun yang terjadi pada mereka, cinta kita kepada keduanya tetap ada. (*)

DODI PRANANDA

ADA APA DENGAN CINTA 2
Sutradara        : Riri Riza
Skenario          : Mira Lesmana dan Prima Rusdi
Pemain            : Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Priscillia, Dennis Adhiswara, Christian Sugiono, Sarita Thaib, Dimmi Cindyastira
Produksi          : Miles Films dan Legacy Pictures