Lidah Aruna dikelabuhi rasa. Kecut asam jeruk terasa asin. Air sungai yang mengalir ke pantai yang mestinya terasa asin malah terasa tawar. Semua terjadi lewat mimpi, pada malam-malam, ketika Aruna melakukan perjalanan.

Lidah Aruna adalah lidah yang teramat peka. Lidah yang perasa. Segala rasa pernah bertarung di sana. Lidahnya bagai seorang petualang. Ia mencicipi makanan apa saja yang menarik perhatiannya, namun satu hal yang membuat ia sangat terobsesi adalah resep nasi goreng Si Mbok yang menurutnya sulit dicarikan tandingan.

Maka ketika One World, lembaga yang bekerja untuk PWP2 menugaskan ia menginvestigasi kasus flu burung yang menjangkiti warga di beberapa kota: Surabaya, Pamekasan-Madura, Singkawang, Pontianak, Aruna (Dian Sastrowardoyo) segera tahu ia punya waktu untuk lidahnya.

Edwin untuk kedua kalinya memasak di dapur film Palari, setelah Posesif (2017), mencoba menyajikan hidangan yang sederhana. Begitu layar menyala, yang muncul adalah sepanci sup daging iga. Dengan asap mengepul. Dan aroma kaldu yang seperti mampu keluar dari layar bioskop. Dan jemari Aruna yang merajang bahan-bahan tambahan seperti tomat.

Bersama Aruna, ada sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra) seorang koki di sebuah restoran yang memuja makanan. Makanan adalah pengikat organik di antara keduanya, setidaknya begitu yang diceritakan dalam versi novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak.

Apa kesamaan di antara keduanya? Baik film maupun versi buku, kita dapat mendengar suara Aruna sebagai sudut pandang cerita: pikiran-pikirannya, bagaimana ia memandang dunia lewat makanan, dan juga hatinya.

Rasa tidak hanya bertarung di lidah Aruna. Rasa juga bertarung bahkan mengelabuhinya dalam perjalanan di kota yang ia kunjungi untuk membongkar konspirasi flu burung. Jika Laksmi membuka beberapa bab dengan mimpi-mimpi yang ganjil, atau dengan bayangan, atau hanya khayalan sepintas, Edwin menampilkannya dalam bentuk keterasingan bahkan kebingungan Aruna dalam pertarungan rasa. Sudah tak jelas lagi baginya jeruk yang asam dan kecut terasa asin, dan juga saat ia diam-diam menyedot air di tengah bebatuan, kemudian suara Farish (Oka Antara) berusaha membangunkannya.

Kesamaan lainnya juga pada niat untuk melakukan eksplorasi bentuk. Edwin mencoba teknik memecah dinding keempat atau breaking the fourth wall, sehingga suara tokoh bukan lagi sekadar narasi dalam dialog belaka, melainkan sebagai narator yang bercerita. Kita melihat bagaimana air muka Aruna ketika berbicara ke kamera. Alhasil, suara Aruna terasa lebih personal seakan mengajak penonton untuk mendengarnya, bahkan masuk ke alam pikirannya. Ke dunia dan lidahnya Aruna.

Kekuatan dan jejak citarasa yang begitu khas dari Aruna dan Lidahnya ada pada dialog. Baik Aruna, Bono, Nad (Hanah Al-Rashid) semuanya seperti tiga sahabat yang sedang duduk di meja-meja restoran atau tempat makan dan berdiskusi tentang apa saja. Titien Wattimena memang jago urusan begini. Di tangan midas milik Titien, kita sampai lupa Aruna dan Bono sebagai sepasang sahabat, pernah menjadi sepasang kekasih pada sebuah masa.

Bukti bahwa dialog dan topik yang dibahas sangat keseharian adalah ketika Aruna dan Nad, seorang kritikus makanan, sedang di kamar hotel. Selagi Aruna di toilet, ia membicarakan masalah intim perkara gadis tiga puluhan. Obrolan soal seks, menstruasi, pembalut wanita, hingga kondom muncul sebagaimana mestinya. Topik-topik yang biasa dibicarakan wanita di ruang-ruang privat. Dalam kondisi dan situasi berbeda, sedikit mengingatkan kita pada Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017), ketika Marlina dan Novi di semak-semak padang tandus membicarakan soal lelaki.

Lidah Aruna adalah lidah yang teramat peka. Lidah yang perasa. Segala rasa pernah bertarung di sana. Begitu juga dengan hatinya. Maka kehadiran Farish selama masa investigasi, menjadi sebentuk rasa manis bercampur asam, bercampur asin, di tengah dua puluh satu makanan yang tampil. Rasa yang dulu pernah disimpan Aruna dalam hatinya. Lama, lama sekali. Meski rasa cinta pada Farish pernah mengelabuhinya, pada akhirnya, Aruna adalah Aruna. Aruna yang tidak pernah main-main soal rasa. (Dodi Prananda, jurnalis dan penikmat film)

 

ARUNA DAN LIDAHNYA

Produser: Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy, Sutradara: Edwin, Penulis: Titien Wattimena, Pemeran: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, dan Oka Antara, Produksi: Palari Films

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s