Willy Dozan, Raditya Dika, dan Hifdzi Khoir dalam film terbaru garapan Raditya Dika berjudul Target (Sumber foto: Bookmyshow)

Raditya Dika selalu menarik dibahas. Ia diremehkan, sekaligus disanjung. Ia bisa jadi kurang dihargai oleh lingkungan perfilman, namun filmnya selalu tembus jutaan penonton. Karyanya belakangan mulai lintas genre, membuat kita perlu memperhatikan usahanya. Satu hal, Raditya Dika seorang pembelajar. Ia tidak berpuas diri menguasai satu tema yang selama ini menjadi cap dagangnya, yaitu tema komedi percintaan yang mengeksploitasi kisah kejombloan, namun berusaha menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Belajar dari kelemahan film Hang-Out (2016) yang mempertemukan sejumlah artis seperti Surya Saputra, Titi Kamal, Dinda Kanyadewi hingga Prilly Latuconsina, kini Raditya Dika menyapa penontonnya lewat Target. Film ini masih memakai formula yang sama, namun teknik penceritaan serta kemasannya jauh lebih menantang dan tentu saja, otak bakal terkuras untuk menulis skenario dengan plot twist berlapis. Ya, berlapis, alias multi-layer.

Cerita dimulai ketika sembilan selebriti yang memerankan dirinya sendiri terjebak di sebuah gedung kosong. Mereka awalnya diundang casting sebuah film berjudul Target. Alih-alih bertemu kru syuting, sembilan artis ini, Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, dan Anggika Bolsterli terpaksa menjalani skenario yang belum mereka pelajari sebelumnya. Enggak ada yang namanya reading. Bukannya diarahkan seorang sutradara, mereka terpaksa menjalankan arahan dari sebuah suara yang mengaku dirinya sebagai Game Master. Dan, peran yang mereka mainkan adalah peran yang mematikan. Hanya satu orang yang akan selamat. Film yang menurut penulis skenario aslinya, film yang belum pernah dibuat di manapun, film yang akan fenomenal!

Kisah semacam ini, di mana permainan maut sekaligus berbahaya, semua orang dikumpulkan pada sebuah tempat, lalu berperang satu sama lain demi mempertaruhkan siapa yang paling kuat, dan layak untuk tetap hidup, sudah tidak asing bagi pecinta thriller-misteri. Sutradara Yorgos Lanthimos pada 2015 mempertunjukkan aksi orang jomblo vs orang berpasangan dalam film The Lobsters. Francis Lawrence juga punya seri The Hunger Games-nya, di mana adu kekuatan antardistrik di Panem. James Wan pada 2014 juga sempat meneror seluruh penduduk bumi lewat Saw, yang seakan menjadi standar kengerian film bergenre serupa. Ada lagi Cube (1999), bahkan The Employer (2013). Sineas Indonesia sendiri belum terlalu banyak bermain di wilayah ini, apalagi harus mengawinkan genre ini dengan komedi.

Burukkah permainan Raditya Dika kali ini?

Pertama, terlihat ada upaya penyempurnaan dari cara membungkus penuturan atau gaya bercerita. Kita harus melihat Raditya Dika betul-betul memikirkan selebriti dari kelas mana yang harus ia ajak: Youtuber (Ria Ricis), Stand-up Comedian (Abdur Arsyad dan Hifdzi Khoir), Ilusionis (Romy Rafael), pemain film yang mengaku “senior” (Samuel Rizal, dan juga Willy Dozen) dan beberapa selebriti perempuan yang harus memberikan warna lain (Cinta Laura Kiehl dan Anggika Bolsterli).

Teknik di mana pemain memerankan dirinya sendiri dilakukan setelah Hang-Out. Mengingatkan kita juga pada cara Seth Rogen dan Evan Goldbery dalam This is The End (2013) berfantasi soal aktor hollywood jika menghadapi hari kiamat. Raditya Dika tidak sepenuhnya gagal dalam memilih pemainnya. Nama-nama dalam film Target jelas lebih beragam dan punya peranan masing-masing untuk menggerakan skenario.

Alhasil, kita tidak lagi sekadar mendengar celotehan lucu di sekitar permainan maut antara selebriti vs youtuber, selebriti baru vs selebriti senior, komika vs artis dan juga olok-olok pada karakter Willy Dozan yang demi kepentingan cerita menjadi pria kemayu bernama Wince. Yang terakhir ini terasa menganggu. Dua komika dalam film ini juga memerankan tugasnya dengan baik, mereka adalah comic relief. Perhatikan saja ketika Abdur Arsyad berucap dengan santai “Malas nonton di bioskop, air mineral saja puluhan ribu, memangnya itu dari air mata Reza Rahadian?”, lalu ada lagi ketika di sebuah level game, semua pemain diajukan pertanyaan buah apa yang kulitnya mulus? Lalu datanglah Abdur di detik-detik akhir menjawab dengan wajahnya yang tak berdosa itu: durian diamplas. Lucu, kan?

Tunggu, tak kalah lucu adalah Samuel Rizal. Semula kukira, ya ampun, ini Sammy mentang-mentang artis langganan Soraya harus banget main, tapi melihat gaya dia yang ceplas-ceplos dan arogan, dia lah magnet paling kuat film ini. Dia tokoh yang sangat merebut perhatian sejak awal. Waktu di jalan tol layang ada yang nyerempet mendahului mobilnya, langsung ngomel, “Pasti bukan artis tuh.” Dan, beberapa adu mulut dengan pemain lain seolah-olah dialah yang paling senior dan “artis beneran” dibanding yang lain. Sammy, you’re rock! Namun, jika boleh menyebut satu atau dua nama pemain yang mampu berakting dengan rentang emosi yang lebar, maka dua nama itu adalah Abdur dan Hifdzi. Mereka berdua tidak hanya menghidupkan film lewat lelucon khas komika, namun mereka orang yang mungkin tidak begitu dipandang pada mulanya, lalu berusaha pada sebuah titik konflik, menunjukkan sisi lain dalam dirinya.

Hanya saja, Raditya seakan-akan lupa kalau penempatan menegangkan dan lucu ada baiknya dipisah dan tidak selalu berjalin-berkelindan. Bagaimana mungkin orang tegang lalu tertawa bersamaan? Bakat komedian Radit yang begitu menonjol, sementara efek menegangkan terlalu datar. Enggak ada tegang-tegangnya, kecuali semua skenario terkuak. Dan, sedikit lebih parah, bagaimana mungkin para selebriti ini tidak menunjukkan simpatik sedikit pun ketika ada rekan sesama profesi mati dalam permainan. Raditya Dika agaknya hanya mengeksploitasi tawa. Setiap situasi diproyeksi menjadi sumber guyonan. Walau ini hanya film dan rekayasan belaka, alam film perlu menunjukkan sikap peduli dan emosional saat satu di antara mereka mati karena gagal dalam permainan. Iya betul kalau semua orang punya insting cuma pengin menyelamatkan diri sendiri di kondisi berbahaya, namun hanya beberapa dialog, misalnya dari Cinta Laura yang menunjukkan sisi mereka sebagai selebriti yang juga manusia biasa. Come-on Radit, act like human being!

Akhirnya, kita harus membicarakan bagaimana plot-twist dalam film Target bekerja. Semula, saya pikir saya akan mengamuk kalau mengetahui cerita berhenti pada kenyataan bahwa tokoh pesulap atau ilusionis yang diperankan Romy Rafael. Ya, ini mudah sekali menebaknya. Dan, karena bukan Raditya Dika namanya, karena ia telah belajar dari pengalaman menggarap Hang-Out, twist berlapis membuat saya akhirnya berpuas diri sebagai penonton. Julukan game master itu sendiri bukan disematkan untuk satu tokoh yang disebutkan pada akhir cerita. Game Master itu, adalah Raditya Dika sendiri, yang sudah berjuang membuat kita betah dan terikat mengikuti perjalanan atau permainan maut itu. Dialah Game Master sesungguhnya.

DODI PRANANDA, jurnalis, novelis, dan penikmat film.

TARGET

Sutradara dan Penulis Skenario: Raditya Dika Produser: Sunil Soraya Produksi: Soraya Intercine Films, Pemeran: Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s