Merayakan Kemenangan Perempuan

Karakter Marlina yang diperankan Marsha Timothy. Berkat perannya dalam film ini, Marsha meraih penghargaan aktris terbaik di Sitges Film Festival. (Sumber: Cinesurya)

Film Indonesia dengan pencapaian sinematik terbaik. Pernyataan tegas perempuan yang menolak tunduk pada logika patriarki. 

Nyaris tidak ada lagi yang dimiliki Marlina dalam hidupnya. Suaminya teronggok sebagai jasad yang membusuk di sudut rumah. Buah hatinya hanya bertahan tujuh bulan di kandungan. Dan, kehadiran kawanan perampok yang dimotori Markus pada hari itu, seakan melengkapi kehilangan bagian lainnya; harta, hewan ternak bahkan tubuhnya.

Perjalanan hidup Marlina yang diperankan Marsha Timothy memasuki babak pertama: perampokan (robbery),  kita melihat gambaran perempuan etnik Sumba, seorang janda kesepian yang hidup dalam sunyi. Marlina pada mulanya hanyalah perempuan biasa, kemudian terusik karena kedatangan Markus (Egy Fedly) yang dengan terang-terangan  menyampaikan maksud merampok sekaligus menidurinya jika masih ada waktu. Aksi itu tak lantas membuat membuat Marlina keok, panik atau berteriak minta tolong. Nihil jika ada yang menolong dirinya –selain dirinya sendiri– jika memikirkan ia hidup seorang diri, tak bertetangga dan tak bersuami pula.

Mouly Surya yang mengarahkan film panjang ketiganya ini menceritakan kisah perempuan dari sudut tergelap. Bekal humor gelap diselipkan imaji dendam adalah modal dasar yang sering menjadi khas Mouly Surya, selayaknya film terdahulu, Fiksi (2008) dan Yang Tak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (2013). Perempuan sebagai kunci atau “daging” cerita adalah salah satu kekhasan Mouly sejauh ini, setidaknya untuk mendengar kegelisahannya. Alisha dalam Fiksi terdorong atas motif cinta dan obsesi pada lelaki, Fitri terdorong imaji akan sosok hantu dokter, sedangkan Marlina terdorong atas motif dendam. Bahkan, usai memenggal kepala pemerkosa, setelah masuk babak kedua: perjalanan juang wanita (journey), Marlina tetap yakin ia tak berdosa. Memenggal kepala pelaku dimaknai sebagai sebuah perlawanan membela diri alih-alih dosa atau tindak kriminal. Marlina menjelma pahlawan untuk dirinya sendiri, alih-alih sebagai pendosa.

Rupanya penderitaan Marlina belum juga berakhir. Keterasingan, kesenjangan ekonomi dan pengetahuan termasuk moda sarana transportasi atau komunikasi di puncak perbukitan sabana di Sumba, Nusa Tenggara Timur tempat Marlina hidup, membuatnya harus menempuh perjalanan jauh dan nyaris sia-sia mencari keadilan sambil menenteng kepala Markus melewati padang yang panas garang dan tandus.

Marlina bukan satu-satunya yang perlu kita simak, setidaknya tentang harga yang harus dibayar menjadi seorang perempuan. Novi (Dea Panendra), yang ditemui Marlina di jalan, juga menjadi perpanjangan tangan Mouly Surya untuk menuturkan betapa tidak adilnya dunia terhadap perempuan. Novi harus menanggung beban hamil sepuluh bulan, itu pun belum termasuk tudingan miring tentangnya. Perjalannya adalah untuk menjumpai suaminya, membelah padang sabana yang berbukit-bukit untuk mencari Umbu. Ada lagi seorang Mama yang turut dalam perjalanan (Rita Matu Mona) dari sudut pandang seorang tua menjelaskan porsi atau wilayah perempuan dalam kehidupan (dan dengan teori botol sausnya itu). Kadang, tak ada dialog yang terlalu berisik, namun yang justru mengusik, betapa ketiga perempuan di perjalanan ini harus berperang melawan kenyataan tak adilnya dunia pada kaum mereka.

Sejak awal babak film ini, Mouly sudah menabur banyak kritikannya lewat sejumlah simbol. Dalam ketidakberdayaannya, perempuan terpaksa mencari upaya perlindungan untuk dirinya sendiri, sekalipun berbuntut ke ranah hukum.  Bahkan, Mouly tak membiarkan karakternya ini tunduk pada logika patriarki, dan tentu saja perempuan yang ditampilkan sebagai sosok yang rapuh dan menangisi penderitaannya adalah hal yang langka disaksikan. Marlina justru anti-tesisnya. Di babak pertama misalnya, dengan senyum bengis mengakhiri hidup empat perampok hanya dengan sup ayam racikannya. Babak ini, memperlihatkan kekuatan perempuan yang tak terduga. Meski tak disertai aksi fisik, perlawanan perempuan dimulai di wilayah domestik seperti dapur. Ironinya, rumah yang sejatinya adalah wilayah pribadi, namun Marlina kehilangan kuasanya. Ia justru mendapat penghakiman lewat ucapan sarkas, belum lagi pertanyaan yang melecehkan, bahkan didikte sebagai pelayan alih-alih tuan rumah, sehingga satu-satunya cara yang dapat menyelamatkan ia dari keharusan tunduk adalah dengan memenggal kepala Markus dan dengan sup ayam spesial itu. Sementara itu di bagian lain, di antara semak padang sabana Sumba yang memesona itu, ada-ada saja cara Mouly yang seperti mengajak kita berdiskusi tentang wacana kesetaraan gender. Digambarkan, dalam perjalanan yang mencekam itu, Marlina dan Novi buang air kecil dengan berjongkok sambil membicarakan perihal laki-laki. Sebuah gambaran yang lazim berlaku sebaliknya.

Namun, malangnya, Marlina atau Novi tidak pernah benar-benar merasakan dunia ada di pihak mereka. Setidaknya, saat Novi harus mati-matian menjelaskan kepada suaminya yang menuding ia tidur dengan laki-laki lain. Sementara, Marlina, yang akhirnya sampai pada babak ketiga: pengakuan dosa (confession), harus menghadapi kenyataan pahit bahwa di hadapan hukum, ia masih saja tak berdaya. Relasi-kuasa yang begitu dominan berada di tangan laki-laki, tampak sebagai gambaran ironi saat adegan di kantor polisi. Pikiran Marlina yang bolak-balik entah harus mengakui kesalahannya, sementara di satu sisi, ia adalah korban yang semestinya dan berhak mendapat perlindungan, bukannya kalimat pedih dari mulut polisi laki-laki (Ozzol Ramdan) seperti, “Kalau dia kurus, kenapa kamu mau diperkosa?” Saat laporan dibuat dan Marlina berusaha menjelaskan duduk perkara, sejak dalam pikiran, rupanya sudah tidak ada tempat untuk korban perkosaan seperti dirinya.

Adegan subtil dalam hidup Marlina, yaitu saat Marlina menyandar di jasad suaminya seolah ingin mengadukan penderitanyaanya, dan saat seorang gadis kecil  di warung mendekap tubuh Marlina yang berguncang meratapi hidup, adalah adegan terbaik yang membungkus film ini.

Di babak akhir, kelahiran atau tangisan bayi, adalah puncak dari semuanya. Kelahiran adalah kemenangan perempuan, setidaknya bagi Novi yang akhirnya berhenti menanggung penderitaan hamil tua. Itupun dilakukannya setelah melakukan aksi yang tak terbayangkan sebelumnya. Babak akhir juga menandakan babak baru, tanda kehidupan Marlina dan Novi, serta bayi Novi menyambut kehidupan setelahnya. Perampok itu boleh saja berhasil merenggut paksa tubuh Marlina, namun pada akhirnya, Marlina yang dibantu Novi memenangkannya. Mereka merampas kembali semuanya dengan kekuatan mereka sendiri. (*)

DODI PRANANDA, jurnalis dan penikmat film.

 

MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK

(Marlina the Murderer in Four Acts)

Sutradara: Mouly Surya Produser: Rama Adi, Fauzan Zidni Pemeran: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egi Fedly, Yayu Unru Produksi: Cinesurya kolaborasi dengan Shasa&Co Production, Cinesurya Pictures, Kaninga Pictures, Astro Shaw, HOOQ dan Purin Pictures.

Prestasi: Tayang di Directors Fortnight, Cannes Film Festival, Toronto International Film Festival. Marsha Timothy meraih penghargaan aktris terbaik Sitges International Fantastic Film Festival, Spanyol 2017.

Iklan

Milenial Melawan Dunia

Pemeran film My Generation (dari kiri ke kanan), Arya Vasco, Lutesha, Alexandra Kosasie, dan Bryan Langelo. (Sumber: FHM/ IFI Sinema)

Upi memotret setiap zaman dan generasinya. Akting empat aktor pendatang baru menyuarakan kegelisahan generasi milenial dengan sangat baik dan apa adanya.

VIRAL dan menggemparkan sekolah. Keempat murid eksentrik ini, Konji, Zeke, Orly dan Suki duduk bersama orangtua mereka menghadap Kepala Sekolah akibat video mereka di YouTube yang menggugat guru, sekolah dan orang tua.

Film My Generation karya Upi Avianto dibuka dengan adegan khas generasi milenial. Karakter generasi mereka yang kritis, cenderung dinilai narsistik, haus eksistensi, dan senang dengan hal-hal baru yang mendobrak, heboh dan viral. Batas komunikasi bagi generasi mereka sudah bukan hal penting lagi. Alhasil, sebuah video yang berisi pengakuan paling jujur mereka tidak hanya membuat Kepala Sekolah naik pitam karena dianggap menghina guru dan sistem pendidikan, melainkan juga membuat orang tua mereka geram karena dipermalukan.

Konji (Arya Vasco) tumbuh dalam tekanan, alih-alih dalam nasihat atau petuah berharga. Sang Papa (Joko Anwar) adalah polisi moral bagi generasi Konji. Di meja makan, Papa selalu membandingkan generasinya dengan generasi Konji, “Zaman Papa dulu…” Bagi Papa Konji, anak-anak zaman sekarang sudah tak berpegang pada nilai moral. Ia menghakimi kebebasan yang diberikan membuat generasi Konji malah kebablasan.

Senasib dengan Konji, Suki (Lutesha) beranjak dewasa dengan krisis kepercayaan diri. Orangtuanya meletakkan segala beban moral pada pundaknya sebagai sulung yang harus memberikan contoh pada adiknya. Suki harus melewati masa mudanya dalam mosi tidak percaya Sang Ayah (Surya Saputra). Namun, apa daya, satu-satunya cara yang membuat Suki tetap dapat merasakan riuh suka cita masa mudanya hanya saat bersama kawan-kawan ketimbang saat bersama keluarga.

Sahabat perempuan lain di geng empat sekawan ini, Orly (Alexandra Kosasie) digambarkan sebagai sosok yang penuh prinsip dan pencarian akan jati diri. Gejolak pemberontakan dalam diri Orly diekspresikan saat ia menggugat betapa dunia tidak adil pada perempuan. Di rumah, Orly menghadapi bencana ibunya (Indah Kalalo), orangtua tunggal yang senang berpacaran dengan laki-laki yang nyaris sepantaran Orly dan sering bertingkah seakan masih remaja.

Lain pula dengan Zeke (Bryan Langelo) yang memiliki hubungan dingin dengan orangtuanya. Nyaris tidak ada tegur sapa dengan ayah dan ibunya. Namun di lubuk hati, Zeke memendam semacam penyesalan yang tak pernah betul-betul ia ungkapkan.

Keempat anak muda ini meski berbeda karakter, namun adalah potret paling rinci tentang apa dan siapa generasi milenial. Di rumah yang semestinya ruang untuk membentuk diri, namun justru sebagai arena penghakiman atau arena yang merenggut ekspresi masa muda mereka. Kehidupan atau generasi mereka kerap didefinisikan generasi orang tua mereka yang mengklaim selalu menjunjung moral.

Upi Avianto hadir sekali lagi tidak hanya memotret setiap zaman dan generasinya. Dalam film Realita Cinta & Rock N Roll (2006) menampilkan generasi Ipang, Nugie dan Sandra di masanya. Sekarang, Upi mendokumentasikan peliknya generasi milenial yang mendapat cap negatif dan hidup mereka selalu didenifisikan sebagai generasi yang payah sekaligus tidak dapat diharapkan.

Menariknya, sebagai penonton (entah sebagai orangtua atau anak), akhirnya kita dapat gambaran yang menarik tentang seteru dua generasi. Generasi orangtua (yang umumnya antara generasi The Baby Boom atau generasi The Baby Bust/ Generasi X) menganggap generasi mereka lebih baik, generasi yang dapat memecahkan masalah. Sementara ada gap dengan generasi Konji yang multi-tasking, namun pada akhirnya, jiwa kritis dan penuh rasa ingin tahu membawa mereka untuk menyatakan bahwa generasi The Baby Bust tidak jauh lebih baik dibanding mereka. Bahkan tampak ada pesan yang ingin disampaikan lewat dialog Konji yang mempertanyakan kenapa ia terlahir tiga bulan lebih awal dari tanggal pernikahan orangtua mereka. Kurang lebih adegan ini ingin mengatakan, apa yang diwarisi anak zaman sekarang adalah buah yang dilakukan generasi terdahulu. Jika generasi Konji dianggap kecanduan teknologi internet, kenyataannya yang menciptakan gawai justru generasi dari orangtuanya sendiri. Silang pendapat yang justru saling berkaitan. Upi berusaha lebih adil memberi ruang untuk kedua generasi ini menampilkan pikiran-pikiran mereka.

Patut juga menghargai keberanian Upi menampilkan empat aktor pendatang baru. Arya Vasvo, Bryan Langelo, Lutesha dan Alexandra Kosasie sebagai pendatang baru mampu menyuarakan kegelisahan generasi milenial dengan sangat baik dan apa adanya. Mereka sangat meyakinkan ketika menampilkan gejolak kebebasan, upaya membebaskan pemikiran serta keluar dari stereotipe lingkungan yang mengungkung dan mendiskreditkan generasi mereka.

Meski boleh dikatakan sebagai satu-satunya sutradara yang menunjukkan perhatian besar pada rekaman setiap masa dan generasinya, tentu saja cara berpikir, cara memandang empat sahabat ini sangat bias perkotaan. Kita tentu saja berharap pada Upi, suatu hari dapat menggambarkan remaja yang lain, yang jauh dari nuansa urban.

Di pengujung film ini, kita dibuat tersentak, pada fase titik terendah pertemanan Konji dan kawan-kawan. Kita melihat mereka lebih adil melihat dunia. Milenial yang sering tertuduh sebagai generasi amoral, pada akhirnya tumbuh dengan sendirinya, dengan cara mereka dan dengan logika berpikir mereka menghadapi peliknya masalah di rumah, di sekolah dan di pergaulan.

Namun, saat kita tersentak, kita sadar, meski lintas generasi (cross generation) dengan gap yang sulit dicapai, generasi Konji dan generasi orangtuanya, sampai pada satu titik temu. Kita tahu, semua orang tua di dunia pernah muda. Mereka tentu saja tak terlepas dari aib masa muda. Tapi, satu hal yang pasti, generasi Konji, belum pernah menjadi tua. Mereka hanya sedang berproses menuju ke sana. (Dodi Prananda, jurnalis dan penikmat film)

 

MY GENERATION

Sutradara dan Penulis: Upi Produser: Adi Sumarjono, Pemeran: Arya Vasco, Bryan Langelo,  Alexandra Kosasie, Lutesha, Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra, Joko Anwar, Indah Kalalo, Karina Suwandhi, Aida Nurmala, Produksi: IFI Sinema.