Di Balik Cinta Kelam Lala

Putri Marino dan Adipati Dolken dalam Film Posesif (Foto: Palari Film)

Sebuah realitas cinta brutal yang mencekam dari tangan Sutradara Edwin. Film yang membuat kita percaya drama kisah cinta yang nyaris klise masih dapat dieksplorasi di wilayah gelap. Diganjar sepuluh Nominasi Piala Citra tahun ini.

Ada tiga bagian penting dalam hidup Lala. Sebelum laki-laki itu datang, saat laki-laki itu bersamanya, dan setelah laki-laki itu tiada.

Sebelum laki-laki itu datang, Lala (Putri Marino) selalu mengawali hari dengan berlari di pagi buta. Setiap langkah bagi Lala adalah pertaruhan. Setidaknya, bagi ayahnya (Yaya Unru) yang terobsesi menjadikan putrinya yang beranjak dewasa itu seorang atlet loncat indah dengan prestasi moncer. Ayahnya sebagai pelatih selalu meletakkan Lala di bawah bayang-bayang mendiang ibunya.

Karena ayahnya, sebagai satu-satunya sosok yang tersisa di hidupnya (masih sebelum laki-laki itu datang), Lala bahkan menuliskan lompat indah sebagai tujuan dan akhir hidupnya. Meski penuh tekanan, ia berusaha sepenuh hati menghidupi impian ayahnya, karena… “Tiap  kali lompat, aku merasa ibu ada di sebelahku,” Lala membuat sebuah pengakuan kepada seorang kawan sekolah yang menjadi cinta pertamanya.

Saat laki-laki itu datang, kehidupan Lala berubah, bahkan nyaris seperti aksi lompat indahnya. Saat tubuhnya meliuk di udara, semua seakan baik-baik saja, tampak indah di permukaan, sebelum ia benar-benar jungkir balik dan masuk menembus air kolam yang dalam.

Mulanya Lala merasakan manisnya pertemuan pertama dengan seorang siswa baru di sekolah bernama Yudhis (Adipati Dolken). Seperti kebanyakan kisah cinta pertama, Lala melaluinya dengan sangat manis serta penuh debar. Yudhis membawa Lala ke tempat-tempat yang tidak biasa. Hubungan mereka pun mulai intens. Yudhis mampu membuat Lala terkesan saat membicarakan persoalan cinta seakan Lala benar-benar pantas mendapatkan semuanya. “Kita berdua sudah cukup untuk mengalahkan dunia,” Yudhis berkata dengan penuh doktrin.

Saat inilah, sosok Lala yang tampak kuat di setiap kali aksi lompat indahnya, akhirnya mulai menampakkan sisi rapuhnya. Kehadiran Yudhis yang pada mulanya tampak sebagai cinta, perlahan-lahan menjelma seolah penyelamat yang sangat berarti mengisi ruang di hidup Lala yang kosong. Ia mendikte setiap pilihan hidup Lala. Bagai hantu, ia pun selalu membayangi dan mengikuti kemana Lala pergi. Bahkan, ia hendak merampas Lala dari sang ayah, satu-satunya sosok yang dimiliki Lala dalam hidup.

Sampai detik ini, Sutradara Edwin dibantu cerita yang penuh gejolak dan cengkeraman emosi dari penulis Gina S. Noer membawa kita ke gambaran yang mencengangkan. Sebelum ini, kita mungkin masih percaya pada cinta. Lala pun tentu saja setuju dan sangat yakin Yudhis mencintai karena mereka punya banyak kesamaan. Lambat laun, cerita pun bergerak ke arah yang gelap. Ini menjadi bagian kedua, sekaligus bagian terburuk dalam kehidupan Lala. Pun pada bagian ini, Edwin sepertinya dengan sangat lantang mengatakan ia tidak sedang membuat kisah cinta yang biasa-biasa saja atau sebuah kisah cinta ringan yang klise. Kita tidak sedang disuguhan manisnya kisah cinta coming of age yang latah menjadi tema umum dalam sebagian besar drama remaja di Indonesia.

Ia pun masuk ke lapis terdalam tentang konsep cinta yang tak wajar, dibalut latar psikologis yang menjelaskan kenapa seorang korban kekerasan pada akhirnya menjelma sebagai aktor atau pelaku. Mata rantai atau lingkaran kekerasan dari korban menjadi pelaku ini sesungguhnya bukan barang baru. Pemberitaan tentang pedofilia, pelaku kekerasan seksual dan pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di media massa, pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari lingkaran setan kekerasan.

Saat penonton sedang dicengkram emosinya dan mulai mempertanyakan serta mendefinikan ulang kata cinta, pada bagian ini, Edwin secara perlahan-lahan, membuka lapis demi lapis bagaimana mata rantai itu bekerja. Edwin menjelaskannya dari sebuah rumah mentereng yang berlimpah harta, namun adalah rumah yang membentuk watak Yudhis. Cut Mini yang memerankan ibu Yudhis, dalam wawancara usai pemutaran untuk media di XXI Senayan City, Jakarta Pusat, mengakui karakter Mama yang diperankannya bukan sekadar fiktif belaka. Umumnya, dalam rantai yang sempit, kekerasan berasal dari kantor atau lingkungan pekerjaan. Kemudian, korban dari lingkungan pekerjaan, seperti seorang ayah, akan melampiskannya pada istri. Istri melampiaskan kepada anak. Anak kepada hewan atau peliharaan, Edwin menyatakannya dalam hal ini anak pun dapat melampiaskannya pada pasangan. Teori psikoanalisis dari Freud juga berbicara sama. Tentu saja sudah tidak aneh kenapa Yudhis begitu tega saat mencekik leher perempuan yang ia akui sangat ia cintai selamanya. Ketidakteraturan kepribadian serta trauma masa lalu di lingkungan keluarga adalah penyebabnya, sehingga menghasilkan pribadi yang sulit mengontrol diri dan agresif kepada orang lain, bahkan disertai aksi fisik.

Namun, kita masih belum cukup puas dengan gambaran traumatik sang Ibu Yudhis dan Yudhis atas perlakuan sang ayah. Sejenak rasanya kita masih menuntut penjelasan tentang kenapa seorang ibu tampak sangat begitu bengis dan kejam kepada anak kandungnya sendiri. Namun, tentu saja sosok ibu Nayla di film Mereka Bilang Saya Monyet (2008) dan Pintu Terlarang (2009) bukan gambaran fiktif belaka, melainkan potret dari kehidupan sehari-hari kita. Apa kabar dengan ibu yang membuang bayi atau bahkan membakar bayinya hidup-hidup, tidakkah itu lebih bengis dan tidak manusiawi?

Jika hampir semua sutradara memberi warna merah atau merah jambu sebagai warna cinta, Edwin pun memilih warna kelabu sebagai warna yang mewakilinya. Bahkan hitam. Tangan dingin Edwin mampu menghadirkan realitas cinta brutal yang mencekam. Film ini pun akhirnya membuat kita percaya drama kisah cinta yang nyaris klise dan berulang, masih dapat dieksplorasi di wilayah yang gelap. Jika film-film Edwin sebelumya, Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) dan Post Card From The Zoo (2012) terasa lebih rumit dan tidak dapat “dicerna sekali duduk” (dari istilah selesai dibaca sekali duduk), dan membutuhkan ruang-ruang pertanyaan untuk menerjemahkan simbol atau metafora, namun kali ini ego itu terasa turun, meski bukan berarti Edwin tidak dapat bermain lewat simbol khasnya. Lompat indah setidaknya menggambarkan kehidupan Lala. Rubik yang selalu dimainkan Yudhis di sela hari-harinya yang buram adalah segelintir metafora tentang Yudhis sedang menata hidupnya yang pelik dan rumit, pun kisah cinta. Atas segala bagian yang penuh perhitungan Edwin, tidak heran film ini mampu memikat hati juri dan memasukkannya ke dalam sepuluh kategori dalam senarai nominasi Piala Citra tahun ini. Belum lagi, Putri Marino tampil sangat menawan di film debutannya.

Edwin juga tidak asal-asalan saat menegosiasikan obsesi pribadi ke dalam film yang sedekat mungkin dengan penonton. Alhasil, kita melihat kehidupan generasi milenial ini lebih dekat. Dengan dialog tidak terlalu rumit, hingga unfollow di media Instagram untuk memutus hubungan maya. Meski kisah persahabatan menjadi salah satu tulang, namun Edwin luput menghadirkan dua sosok sahabat di masa kritis dalam hidup Lala. Sahabat Lala, Rino (Chicco Kurniawan) dan Ega (Gritte Agatha) bahkan tidak muncul batang hidungnya saat Lala nyaris porak-poranda, saat Lala kehilangan arah masa depan. Sebelum terlambat, Edwin dan tentu saja Gina sebagai penulis skenario yang mampu menulis dialog-dialog yang manis, mengubah awan kelabu nan kelam menjadi penuh warna-warni di hari kelulusan, di mana Lala akhirnya tahu apa yang harusnya ia jalani dalam hidupnya.

Dan, inilah bagian ketiga, setelah laki-laki itu tiada. Lala berusaha memulai harinya selayaknya hidupnya tak pernah disinggahi lelaki itu. Dengan langkah yang pasti, Lala terus berlari seakan masa depan telah menunggu di hadapannya. Dalam gelap, Lala berlalu di hadapan laki-laki itu tanpa pernah menoleh lagi.

POSESIF

Sutradara: Edwin Penulis: Gina S. Noer Produser: Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia Pemeran: Putri Marino, Adipati Dolken, Chicco Kurniawan, Gritte Agatha, Cut Mini, Yayu Unru Produksi: Palari Films

Iklan