Ziarah Hati Mbah Sri

Adegan Mbah Sri (Ponco Sutiyem) melakukan perjalanan dari Bantul ke Wonogiri untuk mencari makam suaminya Prawiro Sahid (Foto: The Jakarta Post)

Bagaimana mengarahkan seorang nenek sembilan puluh lima tahun untuk beradegan dalam sebuah film yang irit dialog dan lebih menonjolkan air muka untuk membangun emosi? Sutradara BW Purbanegara melakukannya bersama seorang nenek dari Gunung Kidul.

***

Di hari tuanya, dan di usianya yang senja, Mbah Sri (Ponco Sutiyem) sampai pada satu tujuan akhirnya sebelum mati. Perempuan tua itu akhirnya melihat nama suaminya tertulis di batu nisan. Tanpa sepotong kata yang terucap. Tanpa sedu sedan atau bercucuran air mata. Dan, sekonyong-konyong tubuh ringkih sembilan puluh lima tahun itu itu ambruk ke tanah…

Sutradara B.W. Purbanegara menutup film panjang debutnya itu dengan sebuah adegan yang betul-betul pedih dan melekat. Seakan adegan itu mewakili perjalanan panjang si nenek tua yang mesti menempuh perjalanan jauh seorang diri dari kampung ke kampung, naik-turun bus, menyusuri sungai dan melewati daerah berlembah dan berbukit, demi mencari jejak makam suaminya yang gugur perang.

Sebelum ia mati, satu harapan terakhir Mbah Sri adalah dimakamkan di sebelah makam suaminya, Prawiro Sahid . Namun, nyaris hingga akhir hayat, Mbah Sri tak tahu di mana tulang belulang sang suami yang pamit perang saat Agresi Militer Belanda II pada 1948. Tak dinyana, pada 2012, seorang veteran membawa kabar tentang suami Mbah Sri yang ditembak Belanda pada 1949. Demi mewujudkan keinginan dimakamkan kelak di sebelah makam suami, seperti yang dilakukan sejawatnya, Mbah Sri pergi membawa kita dalam sebuah perjalanan pencariannya seorang diri.

Terinspirasi dari tragedi tsunami di Aceh pada 2004 silam, B.W Purbanegara menulis cerita pencarian Mbah Sri selama dua tahun. Bersiaplah, karena kita akan menyaksikan sebuah cerita kehilangan yang pedih. Bayangkan sebentar, apa jadinya jika anggota keluarga atau  orang yang kita sayangi yang diyakini sudah mati, namun tak pernah tahu di mana kuburnya yang dapat diziarahi? Pengalaman sebagai relawan untuk korban bencana Tsunami ini mampu membuat Purbanegara bercerita dengan sangat detail tentang pedihnya berdamai dengan kehilangan.

Saya yakin semua kita sepakat untuk menyebut Purbanegara sebagai pencerita yang baik. Dia mampu menjelaskan betapa berbedanya karakter dua sosok perempuan dari dua generasi yang berbeda. Pertama, kita disuguhkan sosok Mbah Sri, tokoh perempuan tua yang digambarkan sebagai figur istri yang setia, tegar dan tak banyak keinginan yang muluk-muluk. Yang ia inginkan hanyalah sebuah keinginan sederhana sebelum mati, yaitu dimakamkan di sebelah makam suaminya. Saat yang bersamaan, Purbanegara juga menggambarkan —dan sekaligus berpretensi membandingkan— dengan calon istri cucunya yang cerewet, banyak mau dan selalu berorientasi duniawi. Sang calon cucu menantu mengadu dan berkali-kali menuntut ingin ini-itu, minta rumah dengan kamar yang luas, termasuk minta mesin cuci yang lagi diskon saat pondasi rumah pun belum berdiri. Tak heran, calon suami pusing tujuh keliling, pertama karena dituduh main-main dengan niatnya menikah serta saat yang bersamaan juga ia harus mencari Si Mbah yang sudah berhari-hari tak pulang ke rumah agar surat tanah yang ia janjikan untuk calon istri bisa diteken Si Mbah. Dari Mbah Sri, kita memetik satu pelajaran penting, harta duniawi tak lagi penting kelak jika kita tua. Harapan untuk bersanding di sebelah makam suami jika mati kelak adalah yang paling didamba. Sementara dari calon cucu menantu, kita melihat gambaran tentang hidup yang selalu diliputi hasrat duniawi.

Penggambaran karakter Mbah Sri yang setia sepanjang hayatnya untuk memastikan benarkah Prawiro memiliki makam sesungguhnya, membawa ingatan kita pada karakter Siti dalam film Siti (2014), perempuan penjual peyek jingking demi menafkahi keluarga karena sang suami yang terbaring karena sakit keras. Ini menegaskan watak yang setia perempuan Jawa. Dalam keadaan apapun, ia masih terus melewati hidup dengan sebaik mungkin. Purbanegara kembali menegaskan tentang kesetiaan ini dalam paruh tengah cerita. Seorang wanita dari sebuah kampung memilih gantung diri karena mengetahui suaminya selingkuh tiga puluh tahun yang lalu. Dalam keadaan sakit dan pedihnya, Mbah Sri tetap berjuang melewati hidup tanpa suami bahkan hingga sampai di akhir cerita sekalipun, Mbah Sri tetap kukuh dengan kesetiaan dalam diri dan berbesar hati dengan kenyataan pahit di hadapannya.

Sebagai sebuah film perjalanan (road movie), Purbanegara tidak sekadar mengajak kita lewat perjalanan tokohnya berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain tanpa makna. Setiap langkah ada arti. Setiap langkah ada cerita. Kita diajak mengikuti perjalanan Mbah Sri dari Bantul ke Wonogiri. Dalam banyak film Indonesia, latar hanyalah tempat belaka. Tak ada cerita di sana. Tak ada motivasi untuk memberikan arti lebih pada latar. Tapi, lihat yang dilakukan Purbanegara, melampaui kata berhasil dalam mempertontonkan daya tarik Pedukuhan Pager Jurang sebagai sebuah desa wisata. Dalam perjalanan berpindah tempat itu, kita mendengar warga yang bercerita soal tanah dan juga tentang sebuah kritik sosial tentang Waduk Kedung Ombo, tempat Mbah Sri menabur kembang. Jika kita membuka lembar sejarah, Waduk Kedung Ombo ini mengisahkan warga yang kehilangan tanah dan rumah mereka saat proyek waduk membuat rumah mereka lenyap, dan warga hanya bisa menyaksikan rumah mereka ditenggelamkan.

Dan, akhirnya kita sampai pada akhir cerita. Melihat Mbah Sri di hadapan makam suaminya. Tanpa sepotong kata yang terucap. Tanpa sedu sedan atau bercucuran air mata. Mbah Sri telah memberi makna baru tentang ziarah. Ziarah tak hanya sekadar menabur bunga semata. Ziarah adalah pemaknaan tentang kita yang sejengkal di hadapan kematian dan semampu apa kita berdamai dengan masa lalu, sekalipun itu sangat pedih. (*)

Dodi Prananda, menulis esai film, cerita pendek dan puisi. Lulus dari Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi. Saat ini bekerja di stasiun televisi swasta di Jakarta.

ZIARAH
Sutradara         : B.W. Purbanegara
Skenario           : B.W Purbanegara
Pemain             : Ponco Sutiyem,  Rosadi, Ledjar Subroto
Produksi          : BR Purbanegara Films, Limaenam Films, Lotus Cinema, Hide Projects Films, Super 8mm Studio dan Goodwork

Penghargaan: Nominasi Skenario Terbaik Festival Film Indonesia 2016

Nominasi ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 untuk kategori Aktris Terbaik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s