Resensi

Saling Tuduh Mencari Pembunuh

Salah satu adegan dalam film Hangout (2016) arahan Raditya Dika. (Sumber foto: BookMyShow)

Salah satu adegan dalam film Hangout (2016) arahan Raditya Dika. (Sumber foto: BookMyShow)

Formula baru Raditya Dika mengawinkan kisah misteri thriller dan komedi. Mendebarkan sekaligus menghibur.

Sembilan pesohor diundang ke sebuah pertemuan membicarakan proyek besar. Undangan itu datang tiba-tiba, dan kebetulan di saat yang tepat pula dengan iming-iming berlimpah uang. Datanglah orang-orang ini memenuhi undangan dari tukang undang yang bahkan tak tahu siapa: Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Titi Kamal, Mathias Muchus, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Surya Saputra Sholeh Solihun, dan Bayu Skak.

Kesembilan ini datang sebagai diri sendiri karena mereka tidak sedang melakoni suatu peran. Sebagai artis —atau sebutlah saja pesohor, lazim bertemu produser di tempat-tempat seperti restoran atau kafe, atau mungkin hotel mewah. Bagaimana kalau undangan membicarakan proyek besar ini di sebuah vila di tengah hutan, dan untuk mencapainya harus menumpangi kapal, memasuki ceruk hutan, melewati hari tanpa sinyal dan harus menapaki jalan setapak di hutan yang rimbun? Membicarakan proyek besar atau malah mengantarkan nyawa?

Saling tuduh mencari pembunuh seperti dalam permainan werewolf memantik ide Raditya Dika  mengisahkan cerita pembunuhan berbalut komedi dalam film terbarunya Hangout (2016). Sebuah komedi dengan formula baru yang dicoba Raditya dari film terdahulunya. Seakan menjelaskan tak berhenti pada sebuah pakem dan komedi yang “itu-itu saja” dan dengan tema yang “itu-itu saja”, Raditya Dika mengawinkan kisah misteri thriller dengan komedi. Hasilnya? Sebuah film yang mendebarkan sekaligus menghibur. Sebentar-sebentar kita tertawa dengan setiap celetukan dan dialog dari para bintang ini yang menyebut hal-hal di seputar keseharian mereka. Mereka tidak sedang memerankan peran lain, sehingga memungkinkan untuk mengeksplore dari karakter keseharian mereka. Segala atribut yang berhubungan dengan kehidupan para bintang di kehidupan nyata pun akhirnya tidak menjadi celetukan yang sekilas lewat, namun bisa mengundang tawa. Namun apakah yang memerankan diri sendiri benar-benar senyata aslinya, toh kita tahu ini film komedi yang sangat wajar jika dilebih-lebihkan: jika melihat Dinda Kanya Dewi yang digambarkan sangat jorok.

Film dengan aktor yang memerankan dirinya sendiri pernah berhasil dibuat Seth Rogen dan Evan Goldberg: This is The End (2013) dengan memasang sejumlah aktor James Franco, Jonah Hill, Emma Watson. Mengisahkan para aktor terjebak pada sebuah akhir kehidupan dan mereka harus menyelamatkan diri, diwarnai dengan karakter asli aktor. Tapi, apakah Raditya Dika mampu seberhasil Seth dan Evan dalam menampilkan keaslian para aktornya sebagai diri mereka sendiri?

Banyak kesempatan untuk menampilkan sifat asli dan keseharian sang aktor yang sangat natural saat adegan penyelamatan dari vila aneh itu. Sifat egois, sifat kemaruk, dan juga sifat khas manusia lainnya harusnya bisa ditampilkan lebih “human” lagi. Kita tahu, dalam setiap film para pesohor ini adalah orang lain, atau menjadi orang lain. Sekarang mereka adalah diri mereka sendiri. Karakter yang melekat pada diri pemain bukan tidak mungkin menambah keseruan cerita, seperti bagaimana keributan yang tercipta pada tokoh saat memilih bertahan atau kabur pada film This is The End. Apakah dalam keadaan sulit dan menakutkan, masih ada kesempatan bagi tukang akting untuk berpura-pura?

Sekali lagi, ini adalah komedi. Kenaturalan apapun yang diharapkan, sekalipun memasang bintang yang memerankan diri sendiri, unsur fiktif tak akan terelakkan. Di sejumlah adegan, bukan tak mungkin juga penonton sulit meraba manakah yang asli atau justru dibuat-buat untuk kepentingan tawa. Sementara dari sisi misterinya, untuk Anda penggila film misteri atau thriller mungkin mudah saja menebak siapa pembunuhnya dari awal, karena banyak sekali clue yang ditebar sejak awal cerita. Namun yang menarik dari semua itu bukan tentang siapa pembunuhnya, tapi bagaimana setiap tokoh akhirnya berpikiran dan “awas” jika pembunuh itu adalah satu di antara mereka. Seperti menebak pembunuh pada permainan werewolf yang penuh intrik: bahkan bisa saja pertengkaran timbul karena saling tuduh. Akhirnya yang timbul adalah: dugaan persaingan ‘artis vs stand up comedy’ seperti yang dilontarkan Gading, sebuah spekulasi yang muncul saat saling tuduh mencari pembunuh bisa melahirkan suatu kebencian yang sesat pikir. Tapi itu disajikan sebagai sebuah komedi, ingat, tak boleh serius-serius amat karena ini komedi!

Meski tak serius-serius amat, akhir kisah bisa saja dibuat sangat light. Tetap ada pesan. Sudah di beberapa film terakhirnya ini, Raditya Dika seolah tak ingin mengakhiri filmnya dengan biasa-biasa saja. DODI PRANANDA

 

HANGOUT

Sutradara: Raditya Dika, Penulis Naskah: Raditya Dika, Produser: Sunil Samtani, Gope T. Samtani, Produksi: Rapi Films, Pemeran: Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Titi Kamal, Mathias Muchus, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Surya Saputra Sholeh Solihun, Bayu Skak

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s