Sajak-Sajak, True Story

Teman Menggapai Mimpi

Saya bersama ayah dan ibu saat wisuda, Februari 2015. Kami berfoto dengan Gedung Rektorat sebagai latar. (Foto: koleksi pribadi)

Saya bersama ayah dan ibu saat wisuda, Februari 2015. Kami berfoto dengan Gedung Rektorat Kampus UI Depok sebagai latar. (Foto: koleksi pribadi)

SAYA masih terpaku dengan apa yang tertulis di layar komputer: Selamat Anda diterima di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Hari ini adalah pengumuman penerimaan mahasiswa Undangan, dan saya baru saja mendapati sebuah kabar yang beberapa tahun setelahnya betul-betul mengubah hidup saya.

Berkuliah di kampus ternama, boleh jadi mimpi besar bagi saya, seorang anak nelayan yang tinggal di daerah pinggir pantai di Kota Padang. Di tempat saya tinggal, tak sedikit anak-anak nelayan yang hidupnya berakhir seperti orangtua mereka. Mereka yang sarjana, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Namun saya bertekad tak akan berakhir di laut sebagai nelayan, seperti ayah. Saya punya mimpi.

Ayah saya bilang, “Kejarlah dunia ini dengan pena,” sebuah nasihat terpenting. Bagi ayah, pena adalah simbol kemapanan dan hidup layak. Ayah selalu terobsesi suatu hari melihat anaknya bisa bekerja kantoran dan mengubah kehidupan keluarga. Ini membuat saya terpacu, sampai saya berjuang menembus Sekolah Menengah Pertama bergengsi lalu melanjutkan di SMA 1 Padang, sekolah unggulan di Padang.

Pertengahan tahun itu, saya berangkat meninggalkan kampung halaman. Orang Minangkabau punya prinsip hidup merantau, apalagi bagi pemudanya. Jadi saya pikir, sekolah di Jakarta, meninggalkan kampung halaman adalah sebuah keharusan, untuk kemudian kembali suatu hari membangun kampung.

Saya tak punya keluarga dan kerabat dekat di Jakarta, namun saya tak pernah risau karena sudah memperhitungkannya semua matang-matang. Saya siap dengan risiko hidup jauh terpisah dengan keluarga. Saya membawa pakaian, satu kardus buku favorit, namun saya tak membawa banyak uang. Sempat risau, seorang anak rantau hidup di tanah orang namun dengan bekal uang pas-pasan. Ayah saya tak menyiapkan banyak uang pada hari keberangkatan itu, kecuali nasihat-nasihat dan sebungkus rendang untuk perbekalan makan minggu pertama. Namun ia berjanji, “Bila cukup uang, ia akan mengirim sedikit uang.” Saya hanya mengangguk, dan tak membahas bagaimana ayah saya bisa mengirimkannya karena ia jarang —bahkan tak pernah — berurusan dengan bank.

Di hari pertama saya di Kampus UI Depok —saya pernah ke tempat ini dua tahun sebelumnya, dan saat kedatangan itu saya mengatakan: suatu saat saya akan menjadi mahasiswa kampus ini, dan ini terjadi — saya mengurus beasiswa. Keluarga kami tak akan pernah mampu untuk membayar biaya kuliah di UI yang mahal , setidaknya menurut perhitungan pendapatan ekonomi keluarga. Jadi, yang mungkin menyelamatkan saya adalah beasiswa. Saya mengikuti serangkaian seleksi beasiswa untuk mempertaruhkan semuanya: jika saya berhasil, saya tak perlu membayar sepeser pun hingga sarjana.

Saya hanya bermodal yakin dan sungguh-sungguh, sehingga seleksi itu berakhir dengan mudah dan berlangsung apa adanya. Panitia seleksi sempat menanyakan sesuatu dengan nada berseloroh, “Bagaimana kamu berangkat ke kota ini dari Padang, tidak nyebrang di Selat Sunda kan?”, saya bilang, “Bila hanya itu satu-satunya cara untuk bisa sampai di UI, saya akan melakukannya,” kata saya membalas, sehingga wawancara terasa sangat cair.

Saya melewati dengan mudah hari-hari pertama yang harusnya terasa berat itu. Saya mendapatkan beasiswanya, dan keluarga lega mengetahui kabar ini. Saya terbebas dari keharusan membayar biaya semester kuliah lima juta per bulan, dan menariknya, diberi biaya hidup (living cost) sebesar enam ratus ribu rupiah per bulan yang dikirimkan ke rekening enam bulan sekali lewat rekening. Jadilah, setiap penerima beasiswa membuka rekening dengan bank mitra kampus UI, Bank Negara Indonesia atau BNI yang membuka cabangnya di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Inilah kali pertama saya memiliki rekening pada Bank bertuliskan BNI46.

Di Padang, nama BNI46 ini sangat lekat, karena di Jalan Dobi, kantor Bank ini sempat terbakar dan sisa bangunannnya bertahan sekian tahun tanpa diperbaiki. Sementara untuk urusan menabung, saya mengikuti ibu yang setiap bulan mengantar kakek mengambil uang pensiun sebagai pejuang ’45, yang dialihwariskan kepada nenek, di sebuah bank milik pemerintah lainnya. Jadi sama sekali tak punya pengalaman apa-apa dengan BNI.

Kami, para penerima beasiswa harus bersabar karena baru menerima dana bulanan itu pada akhir semester. Sementara kami butuh biaya untuk membayar sewa tempat tinggal dan makan sehari-hari. Inilah saat yang mendebarkan, kami kerap bolak-balik mengecek rekening: dan berharap ada kiriman di sana. Saya tak punya harapan apa-apa selain menanti kiriman orangtua, namun saya juga tahu, meminta orangtua mengirimkan kiriman bulanan, itu sama sia-sianya seperti menimba air di laut. Dan, saya juga tak ingin orangtua terbeban. Tapi sekali waktu, saya harus mengatakan bahwa saya butuh kiriman. Ayah meminta tetangga kami yang sering berurusan dengan bank untuk mengirimkan sejumlah uang yang sanggup dikirim ayah. Tetangga itu juga tak punya rekening di BNI, sehingga dia meminta customer service BNI Cabang Kampus Universitas Negeri Padang mengirimkan ke rekening saya. Ah, lega. Akhirnya saya berhenti makan Indomie saat kiriman uang itu datang!

Selain kiriman orangtua yang sebenarnya tak pasti, ada satu “penyelamat” lainnya. Saya hobi menulis sejak kecil, dan rupanya hobi menulis itu “menyelamatkan” saya ketika saya dewasa. Sebetulnya, sejak di Padang, saya senang mengirimkan karya, entah itu puisi atau cerita pendek ke surat kabar atau majalah terbitan Jakarta. Jika dimuat, saya akan mendapat honorarium yang jumlahnya lumayan bagi seorang anak SMA. Bila dalam sebulan ada lima saja karya dimuat di media berbeda, saya bisa kantongi satu juta lebih.

Saat berkuliah di UI, hobi ini saya lanjutkan. Kadang, saat mengecek ATM BNI, saya mendapati saldo bertambah. Sekali waktu saya mengira ayah yang mengirimkan, namun rupanya tidak. Saya melacak pengirimnya, rupanya dari sebuah majalah ternama Ibukota. Sayangnya saya tak bisa produktif menulis karena semester awal kuliah sangat sibuk.

Semester kedua, semua mulai stabil. Saya mulai menikmati ritme kehidupan kampus sekaligus sebagai anak indekos perantauan. Saya tak menyia-nyiakan waktu terbuang percuma. Saya betul-betul memanfaatkannya dengan berbagai kegiatan positif. Saya mengikuti berbagai lomba dan berjanji menulis lebih banyak di media massa. Semester berikutnya, dan berikutnya lagi, saya tetap menggantungkan harapan pada beasiswa, namun sekarang saya sudah merasakan manisnya uang dari menulis. Namun di saat ini, orangtua saya mulai kesulitan mengirimkan uang, sehingga keadaannya sekarang terbalik. Saya yang harus mengirimkan uang untuk adik, karena saya punya tiga adik yang bersekolah, satu di SMA, satu di SMP dan satu lagi SD. Alamak, sekarang saya kebingungan bagaimana mengirimi mereka uang? Saya jadi ingat Paman saya yang seorang Kepala Sekolah di sebuah kota kecil di Sumatera Barat yang dulu berkirim wesel pos setiap kali mengirimkan uang bulanan untuk Ibunya —atau Nenek saya. Ibu saya yang sering menerima kiriman wesel itu masih menyimpan beberapa bukti sebagai kenangan. Tapi, di zaman dengan dunia perbankan super canggih ini, saya tak mungkin menggunakan wesel yang “jadul”. Solusinya adalah menitipkan uang itu kepada teman semasa sekolah yang memakai BNI, dan meminta dia menyerahkannya pada adik saya.

Semester demi semester saya lalui. Kadang berat, kadang ringan. Meski sempat terseok-seok dengan keuangan pas-pasan, dan dengan beasiswa yang sering datang terlambat, saya akhirnya menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga setengah tahun. Saya pikir akan sangat lama, namun malah sangat sebentar. Pada Februari 2015, saya wisuda. Saya lulus dengan predikit cum laude. Ayah dan Ibu saya datang pada hari paling membahagiakan dalam hidup saya itu.

Dan dari perjalanan panjang menggapai mimpi, saya sebenarnya tak (pernah) sendiri. Ada Tuhan yang selalu menjaga doa-doa saya. Ada orangtua yang melarang saya menyerah. Dan terakhir, ada seorang teman, bahkan perannya lebih dari seorang teman, karena telah menemani saya serta membantu menggapai mimpi, dialah: BNI.

Jakarta, Mei 2016

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blogging #70TahunBNI dengan tema “Pengalaman Bersama BNI

Iklan
Standar

40 thoughts on “Teman Menggapai Mimpi

  1. melati berkata:

    Inspiratif 🙂 semoga banyak anak rantau yg makin pantang menyerah abis baca Ini. Bahwa Kalo Dodi bisa , kenapa mereka nggak? Keep it up, bro!

  2. Sebagai orang yang menjadi saksi sepanjang di perkuliahan dan di dunia kerja, saya selalu bersyukur 5 tahun ini diberi kesempatan belajar banyak darimu. Semangat Dodi! Umur kita masih muda, masih banyak yang harus kita raih dan tuntaskan. Jangan lupa untuk berbagi 🙂

    • Aku pun merasa beruntung ada teman yang berjuang seiring, dan untuk kesuksesan satu sama lain. Terima kasih Tuhan telah memilih kita sebagai sepasang teman —atau bahkan sahabat.

  3. Andre Aditya berkata:

    The story so touch ;), begitu menyentuh sekali saat membaca ceritanya, bagaimana bisa seorang anak bisa meraih gelar sarjana dengan beberapa faktor kekurangan yang dimiliki, banyak nilai- nilai yang dikutip dari cerita singkat ini, tentunya dapat menginpirasi juga bagi kalangan muda yang masih mengharapkan untuk meraih gelar sarjana.

    Sukses selalu sdr Dodi Prananda.

  4. A nice story! Salam kenal. Saya salut dengan semangat juangnya. Saya juga baru tersadar, ternyata di jaman sekarang, masih banyak orang yang kesulitan untuk menempuh pendidikan tinggi. Sama sulitnya dengan jaman Bapak saya dulu mengkuliahkan kakak saya di tahun 90-an. Saya akan ceritakan kisahnya ke mahasiswa-mahasiswa saya, supaya mereka tidak malas-malasan belajar.

    Btw, selamat artikelnya menjadi juara 1 lomba blog BNI.

  5. Ririn berkata:

    Tulisannya menggugah sekali bang Dod….saya turut bangga ada urang awak yang bisa masuk UI dengan segala keterbatasannya, dapat predikat cum laude lg, saya juga anak rantau di Jakarta…
    Sukses yo di rantau urang…jaan lupo jo kota Padang..

  6. Pertama, Selamat utk prestasimu dan semoga karyamu makin langgeng.
    Kedua : Menyenangkan membaca artikel “cerita hidupmu”, mengigatkan saya masa merantau dan berjuang berguru ilmu di Yogya (perantau jg dr seberang), dengan segala pahit manisnya dalam menyelesaikan durasi sekolah. Semuanya berbuah manis bak madu. Sekali lagi selamat Dodi Pranada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s