Usaha Menghadapi Bos Bongak

Salah satu adegan dalam film My Stupid Boss (2016) garapan Sutradara Upi. (Sumber: Liputan6/Falcon)
Salah satu adegan dalam film My Stupid Boss (2016) garapan Sutradara Upi. (Sumber: Liputan6/Falcon)

Duet Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari yang tak berpretensi melucu . Natural dan asyik, dengan visual bernuansa retro.

Apabila kamu bekerja di sebuah kantor yang memiliki bos menyebalkan, film terbaru Sutradara Upi ini, boleh jadi membuatmu seperti “menonton dirimu sendiri”. Diana (Bunga Citra Lestari), yang baru saja diangkat sebagai Kerani (dalam bahasa Melayu) alias Kepala Administrasi di sebuah perusahaan multinasional, bagai menghadapi mimpi terburuk sepanjang hidup: memiliki bos yang paling dibenci karyawan di seluruh dunia. Bayangkan saja: bos yang mau dipanggil Bossman (Reza Rahadian) ini akan menyerocos semaunya, dia akan membuatmu naik pitam karena tak mengizinkanmu bicara, sementara kamu tahu dia salah atau keliru, dan paling parah lagi dia pelupa, suka mencurigai, dan gemar membuat karyawannya menderita.

Kisah nyata seorang perempuan dengan akun pseudo Chaos@Work yang ditulis sejak 2005 dan kemudian dibukukan tiga tahun setelahnya dengan judul My Stupid Boss, sempat meledak di pasaran. Buku terbitan penerbit Gradien Mediatama di Yogyakarta itu kini memasuki edisi kelima. Dari empat buku itu, potongan kisah hubungan absurd seorang atasan alias bos dan bawahannya menarik perhatian rumah produksi Falcon Pictures untuk mengangkatnya ke layar lebar, dan sutradara Upi yang sempat menghilang beberapa tahun terakhir duduk di kursi sutradara.

Menjatuhkan pilihan kepada Reza Rahadian pilihan tepat Upi, karena semua aktor dalam film yang pernah digarap Upi adalah aikon. Ingat nama ini: Vino G. Bastian misalnya, dalam film-film garapan Upi: Realita, Cinta dan Rock’n Roll — bersama Herjunot Ali (2006), atau Radit Jani (2008) dan Serigala Terakhir (2009) telah menjadi karakter yang “hidup” bagi penontonnya. Ada nama lain: Abimana Aryasatya dalam Belenggu (2013). Jejak Upi tampak dalam aktor yang karakternya sangat kuat dan melekat, dan sulit membayangkan digantikan oleh nama lain.

Reza kali ini sunguh paham keinginan Upi untuk membuat sebuah film komedi tanpa memasang Komika alias aktor dari panggung lawak tunggal (stand up comedy), sehingga dari tampilan fisik bosnya saja, adalah sesuatu yang sudah lucu mengundang tawa: perut buncit, dan sabuk yang kedodoran, kepala nyaris botak — rambut asli Reza dilapisi bald cap yang kemudian ditambah rambut palsu—- dan jangan lupa, kumis segaris yang jadi bahan olokan karyawannya dengan kumis lele. Ah ya, Reza bahkan sengaja menciptakan suara tertawa yang khas sekaligus unik.

Upi membawa kita lebih dekat sekaligus bersimpatik pada tokoh Diana — yang sangat mewakili penontonnya—- saat terjebak kontrak kerja pada perusahaan Malaysia Sinar Berjaya, dan harus membayar penalti jika memutuskan keluar. Jadilah, hari demi hari terus dirongrong oleh Bossman yang tak pernah sedikitpun mendengar keluh kesah karyawannya: dari soal mesin penyejuk ruangan yang rusak, atau tagihan internet yang belum dibayar.  Dan jangan sesekali mencoba memberinya nasihat, bila tidak ingin mendengar dia mengatakan: Impossible We Do! Miracle We Try! Inilah prinsip Bossman, salahpun dia, dia tetap benar. Bossman always right. Dia mengaku “demokratis”, namun pendapat para karyawan hanyalah angin lalu.

Menarik melihat karakter Diana, seorang wanita Indonesia yang bersuamikan Dika, seorang konsultan perusahaan minyak (diperankan Alex Abbad), yang hidup nomaden ke berbagai negara dan berakhir di Kuala Lumpur, Malaysia. Jadilah, nasib tinggal dengan kehidupan Melayu super kental, dengan tetangga apartemen yang senang bergosip — termasuk menggosipkan artis Indonesia– serta sebuah keputusan bekerja dengan Bossman yang adalah sejawat suaminya saat kuliah di New York, Amerika Serikat.

Bunga Citra Lestari beruntung pernah berduet dengan Reza di film terdahulu, sehingga adu akting dengan Reza tak sulit lagi dilakukan, meski kali ini anti-tesis: tokoh yang harus dilawannya. Karakter Diana, sebagai seorang karyawan terzalimi karena ulah Bossman, cukup berhasil dimainkan dengan karakter Bunga yang sulit menahan kegusarannya, dan sebetulnya gampang meledak.

Belum lagi, setiap kali curhat tentang ulah Boss yang ia tuduh: “ada mur yang lepas dalam kepalanya” kepada Sang Suami, karena alasan pertemanan, si suami selalu mengatakan, “Dia emang gitu orangnya,” yang sontak membuat Diana kian gondok. Adegan saat Diana tertawa sendiri di tengah malam karena stres memikirkan upaya balas dendam pada bossnya, serta meneriakan kata dialah juara, adalah bagian yang terbaik karena sangat absurd. Tapi sayangnya karakter Diana ini membawa Unge tak menampilkan sesuatu yang “baru” kepada kita, jika mengingat Reza yang begitu segar dan “selalu baru”. Di balik itu, sebuah “bonus” karena Unge cukup popular dan tak asing bagi penonton di Malaysia, mengingat film ini hasil kolaborasi sineas Indonesia-Malaysia yang dibuat untuk pasar di Asia Tenggara.

Aktor Malaysia yang tampil di film ini betul-betul mendukung: Sikin (Atikah Suhaime), Adrian (Bront Palarae), Mr. Kho (Chew Kinwah) dan Azhari (Iskandar Zulkarnain). Mereka semua adalah orang Malaysia asli, berlogat Melayu yang hanya melongo karena tak mengerti betul apa yang disampaikan Bossman. Bos berkata, anak buah berkata, namun tidak ada yang saling mengerti. Belum lagi, karyawan ini berasal dari berbagai negara dan berbeda bahasa: Melayu, Tionghoa, India dan Korea, namun mereka ada di satu perusahaan dengan bos asal Indonesia yang super aneh dalam banyak hal. Sebuah gambaran menarik tentang apa jadinya jika komunitas antar-ras terhalang bahasa, relevan dengan kondisi perdagangan bebas yang tengah kita hadapi, khususnya di Asia Tenggara –yang kita sebut sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN. Film ini menarik untuk dilihat dan dikaji dari berbagai sisi, dan dari sisi budaya adalah yang paling seksi.

Sebagai sebuah film komedi, sekaligus menjadi film komedi ketiga Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta (2004 – drama komedi), Red CobeX (2010), Upi sangat berhasil menyusun sebuah kelucuan dengan mengandalkan adegan atau situasi. Sepanjang film semua aktor tak berpretensi melucu. Ingat adegan saat karyawan Bossman yang harus bergantian “ngadem” dengan cara membuka kulkas, dan hampir semua adegan, kelucuan justru datang karena kelucuan adegan dan situasi itu sendiri, tanpa dibuat-buat. Di saat industri kita “sibuk” dengan film komedi yang mengandalkan komika, Upi justru sama sekali tak memasang satupun komika yang konon jago menjual tawa. Sebuah usaha yang berhasil dan patut dipuji karena melawan tren.

Dan tak terbayangkan pula jika Upi benar-benar mundur saat ditawari H.B. Naveen dari Falcon menggarap film ini. Upi sempat mundur karena bingung menemukan cara meramu kisah yang dibangun dengan konflik melulu, sehingga sulit dialihwahanakan ke film, apalagi My Stupid Boss menjadi film pertama yang diarahkan sekaligus ditulis Upi dari sebuah novel. Dan solusinya adalah dengan memotong bagian-bagian untuk merangkai kembali menjadi sebuah alur kisahan yang solid dan saling terkait, dan bahkan nyaris berujung subtil tak tertebak.

Hal lain menarik dari film ini tentu saja dari bagaimana visual yang unik. Diana ditampilkan dengan setelan busana khas Korea: menggunakan boots dan tas ransel vintage berwarna dominan kuning, hijau dan merah. Penataan artistik yang memiliki “mood” tersendiri. Satu hal lain yang patut dibahas, Upi tak ketinggalan untuk memasukkan sisi lain Malaysia, yang salah satunya lekat dengan musik Melayu. Jadilah lagu “Gerimis Mengundang” yang pernah dipopulerkan musik Malaysia Slam pada awal 1990-an muncul menjadi musik latar bersama sejumlah musik Melayu lainnya.

Upi telah memecahkan tantangan membuat film komedi yang dianggap susah. Ia akhirnya memilihkan sebuah akhir kisah komedi yang tak terbayangkan sebelumnya. Penonton akan dimanjakan dengan komedi yang segar dan tak asal-asalan, namun juga bisa menarik sebuah pandangan berbeda: bahwa sebagai bos yang bongak, semaunya dan menyebalkan, dia jugalah seorang suami yang bahkan “tunduk” pada kemauan istri. Dia juga manusia biasa yang punya hati. Dan jangan lupa, bahwa karakter bos ini tak melulu menyebalkan, ada nilai yang penting darinya: tentang keharusan bermimpi dan tak membiarkan karyawannya bermental tempe. Ada sedikit kesempatan bagi Upi untuk menggugah penonton sehingga membungkus film ini menjadi sebuah tontonan yang tidak akan berlalu begitu saja di benak penontonnya. Seperti kata Dika, “Dia emang gitu orangnya, tapi orangnya baik.” Sebaik Upi mengakhir kisah absurd ini.

DODI PRANANDA, Penggemar Film

 

MY STUPID BOSS

Sutradara: Upi  Penulis Skenario: Upi, berdasarkan buku My Stupid Boss karangan Chaos@Work, Pemain: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Alex Abbad, Melissa Karim, Chew Kinwah, Bront Palarae, Atikah Suhaime, Iskandar Zulkarnain Produksi: Falcon Pictures

Iklan

3 Comments

  1. Menurutku karena dasarnya karakter bossman itu absurd banget, jadi materi filmnya udah dapat lah ceritanya. Tinggal aktor dan sutradaranya yang mengarahkan. Ngomong-ngomong tentang komika, waktu nonton Warkop aku juga malah merasa yang paling dapat aktingnya justru Vino dan Abimanyu bukan Tora Sudiro yang seharusnya lebih dekat ke dunia komedi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s