Ada Apa dengan Cinta yang Serba Tanggung

Salah satu adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2 (Dok. Miles Film)
Salah satu adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2 (Dok. Miles Film)

MASIH adakah cinta setelah empat belas tahun berlalu?

Kita merindukan sepasang idola ini selama empat belas tahun lamanya: Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra). Kemudian pada waktu yang entah tepat atau tidak, akhirnya Riri Riza duduk di kursi sutradara menyelesaikan pertanyaan yang menggantung: masih adakah cinta setelah tahun-tahun dan sekian purnama berlalu?

Begitu banyak yang berubah. Masih ingat saat terakhir itu? Sebuah ciuman pertama di bandara, sekaligus yang terakhir. Masih ingat jugakah Mamet (Dennis Adhiswara), yang begitu mengidolakan Cinta, lantas kini berbalik menikahi Miss Tulalit, Mili (Sisy Priscillia). Bagaimana pula Alya (Ladya Cheryl), Maura (Titi Kamal), dan Karmen (Adinia Wirasti)? Sekarang mereka muncul kembali, membuka masa lalu untuk kemudian menyelesaikannya.

Sebuah tantangan sekaligus tanggung jawab besar, kursi sutradara ditempati Riri Riza yang semula sebagai Produser mendampingi Mira Lesmana. Film pertama yang tayang pada 2002, Rangga dan Cinta tidak hanya menjadi karakter yang begitu kita sayangi, dan kita miliki kisahnya, tapi tak berlebihan disebut “legenda”. Suatu langkah yang tidak mudah, namun Riri Riza telah memilihnya.

Akhirnya, kita melihat Cinta lagi. Masih secantik saat dia belia: lincah, pintar, ceria, sekaligus rapuh soal cinta. Juga Rangga: kecuekannya, sisi romantisnya, dan juga sikapnya yang misterius. Cinta, tokoh idola kita yang dulu hobi menulis dan membaca – dan mengurus mading- sekarang adalah pemilik galeri seni. Semua memang tidak sama lagi, karena telah bertumbuh dewasa. Sudah ada Trian (Ario Bayu), pengusaha kaya, tempat cinta berakhir.

***

Masih ingat buku Aku karya Suman Djaya membuat kisah dua anak manusia ini mengalir begitu indah. Puisi melekat begitu kuat —puisi-puisi indah Rako Prijanto. Sekarang buku itu juga masih ada, simbol masa lalu, yang dimasukkan Cinta ke dalam sebuah kotak kenangan yang dibuka kembali. Surat terakhir itu — surat romantis yang biasanya berisi puisi-puisi indah Rangga, namun kali itu adalah kalimat perpisahan. Lalu dengan pikiran bolak-balik akhirnya masa lalu itu dibuang juga ke keranjang sampah.

Ini membuat kita mempertanyakan: kenapa segala sesuatu tentang sastra itu: buku, puisi, latar toko buku bekas di Kwitang, Senen (ingat soal Limbong, dan tentang teori perempuan menoleh tanda ingin dikejar?), serta lagu berlirik puitis racikan Melly Goeslow dan Anto Hoed, telah mengisi serta menjalin dan berkelindan dengan keseluruhan cerita, serta bisa dibilang penggerak alur, kini tak berperan besar lagi?

Ingat lagi soal puisi terakhir: Perempuanku, yang meminta Cinta menunggu satu purnama. Artinya, film ini saat pertama kali meluncur pada 2002 muncul dengan corak berbeda, yang menjadikan sastra sebagai sebuah objek penting. Lalu kini? Masih ada puisi memang, yang dipercayakan kepada Aan Mansyur: begitu indah, dewasa, dan penuh emosi, namun kali ini hanyalah “lipstik”. Perhatikan baik-baik buku Haruki Murakami, buku Aan Mansyur, serta puisi yang disuarakan tokoh Rangga menjadi sekadar “lipstik” belaka. Buku-buku sastra itu hanya menjadi properti belaka.

Dulu, puisi kita bisa rasakan saat Cinta duduk di koridor sekolah, lalu bersama keduanya menyitir bagian-bagian puisi Chairil Anwar: bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing (Pemberian Tahu, Chairil Anwar, 1946). Indah rasanya, sekaligus manis. Tapi, Aan Mansyur yang begitu kuat menulis kepedihan hati seseorang yang hampir menyesal, namun tak ingin membunuh cintanya, menulis: lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi (Batas, Aan Mansyur, dalam buku Tak Ada New York Hari Ini, 2016), berakhir sebagai puisi tempelan yang tidak menggerakan plot.

Lalu berhasilkan peran Cinta dan Rangga dihidupkan kembali? Sebuah usaha yang tidak mudah, tapi kita harus menyaksikannya. Kita masih melihat yang dulu, sepasang yang dilipur cinta, namun kadang juga membenci. Riri Riza ingin kita melihat sepasang ini sebagai Jesse Wallace (Ethan Hawke) dan Céline (Julie Delpy) dalam Before Sunrise (1995), yang adalah kunci utama plot: mereka bergerak semaunya, membicarakan apa saja, dan sekaligus penentu keberhasilan kisah. Namun berat mengatakan bahwa itu semua adalah obsesi yang gagal, karena Riri tak seperti Richard Linklater yang mampu membuat jalinan Jesse dan Céline begitu organik, seolah kita tidak sedang menyimak film, tapi mendengar teman yang mengobrol apa saja.

***

Jogja dipilih sebagai latar, dan pastilah kita berharap latar ini berperan pada mau dibawa kemanakah kisah yang “tertidur” lama ini. Yadi Sugandi sebagai penanggungjawab sinematografi diakui berhasil menyuguhkankan kita Jogja yang jarang kita lihat dari penampakan Jogja pada umumnya dalam film atau sinema televisi. Tapi, apakah Rangga dan Cinta mampu “memainkan” latarnya? Akhirnya jadilah kita teringat 3 Hari untuk Selamanya, garapan Riri Riza pada 2007 yang mempertemukan Nicholas Saputra (sebagai Yusuf) dan Adinia Wirasti (Ambar): sebagai sebuah road movie. Menarik melihat percakapan yang “suka-suka” antara Yusuf dan Ambar, namun tidak semenarik yang ini. Menghabiskan semalam suntuk bersama Rangga dan Cinta membawa kita melihat Jogja yang tak biasa, sembari menyelesaikan konflik lama. Banyak topik yang diumbar, namun hambar. Apa kabar skenario racikan Riri, Mira dan Prima Rusdi yang tidak greget, bahkan sangat klise sebagai sebuah bahan. Lagi-lagi, dulu, jejak Jujur Prananto yang begitu kuat: membuat kita bisa merasakan betapa menariknya sepasang anak urban yang hidup di Jakarta melawan stereotipe: bukan anak mal, atau anak dugem, mereka adalah pembaca buku, mereka ada di toko buku, mereka adalah penggemar musik-musik yang tenang di kafe, sekaligus membicarakan isu-isu penting: terpercik juga bahasan komunisme, walau tidak mendalam. Sekarang? Nyaris tanpa subtansi, dan serba tanggung.

Di sebuah situs sejarah, mereka membicarakan politik: yang jelas-jelas mengarah ke Pemilihan Presiden 2014 (perhatikan baju yang dipakai Rangga –kotak kotak), lalu ada kalimat sepertinya kita milih yang sama, dan ada sindiran: nyesel gak? Yang sebenarnya menarik tapi tak tergali karena dibahas sepintas. Ada juga teater boneka, ada juga Punthuk Setumbu yang menjadi bagian penting: namun tak banyak yang dibahas selain percakapan soal beda traveling dan jalan-jalan yang konyol —selain baha kita melihat sosok Nicholas yang asli dengan hobi traveling-nya. Keseluruhannnya justru membuat kita bertanya: ada apa? Ada apa dengan skenario keduanya, kenapa serba tanggung, hambar dan sangat klise. Ingat percakapan Yusuf dan Ambar sepanjang perjalanan Jakarta menuju Jogja: liar, penuh gejolak, tidak tertebak, sekaligus mendalam. Penuh gairah anak muda yang tak hirau tabu. Bagaimana mungkin percakapan sepasang yang terpisah begitu lama, malah sangat kanak-kanak.

***

Singkatnya: apa yang dipakai tokoh, dilewati, dirasakan, ditonton hanya berlalu begitu saja. Kenapa tidak terpikir untuk membahas teater boneka yang mereka tonton, atau lukisan yang dilihat saat di pameran, atau membahas nama lain setelah Chairil Anwar dan Sumandjaya. Hidup di New York bertahun-tahun, pastilah membuat Rangga tumbuh pula dengan literatur sastra asing yang kanon ataupun modern: andaikan mereka membahas Harper Lee, Haruki Murakami (yang tergeletak saja di meja galeri Cinta dan rumah Rangga), atau barangkali Etgar Keret? Atau siapalah.

Soal akting, ada apa dengan Cinta yang tak semenarik dulu menghidupkan perannya. Dulu Cinta begitu melekat dan terkenang, sekarang begitu datar dan dibuat-buat: perhatikan saat di vila, saat di pameran dan di kafe (selain kalimat yang akhirnya jadi olokan: RANGGA, APA YANG KAMU LAKUKAN KE SAYA ITU JAHAT!”), tapi tunggu sebentar, Rangga masih seperti dulu: tak tertebak, misterius dan romantis. Namun, hampir separuh film berjalan, dia menjadi tak seistimewa yang dulu, kecuali adegan pulang ke rumah, setelah berdamai dengan semuanya. Saat memeluk sang ibu yang ia benci sepanjang hidupnya (bahkan di film pertama ia tak mau membahasnya saat cinta bertanya di mana ibunya), dan meneteskan air mata. Itulah Rangga, kita betul-betul melihatnya di situ: adegan yang khas Rangga, emosi tertahan yang meledak juga.

Sebentar, sebentar, soal teman-teman cinta, ah, mereka tetap semenarik yang dulu. Prima Rusdi yang menggawangi skrip untuk para geng Cinta ini memang tak gagal menulis karakter yang konsisten: bahkan untuk Mili, kita sangat setuju dialah yang membuat kita tak berhenti tertawa sepanjang film ini diputar. Mili adalah magnet komedi, yang pada film pertama sangat berhasil dilakukannya bersama Mamet.

Namun berat mengatakan, film ini digarap serba tanggung. Entah apa yang membuat Riri Riza terkesan buru-buru. Andai saja ia masih sabar menunggu, misalnya, untuk urusan menunggu Ladya Cheryl yang tengah sekolah di luar negeri pulang, dan bila Alya tak absen, pastilah yang kita saksikan tak seperti yang ini. Namun tak ada Alya, tak ada juga New York yang kita harapkan: sebagai latar kisah Rangga, dan juga akhir kisah yang selesai biasa-biasa saja. Lihat juga betapa buru-burunya film ini pada pengambilan gambarnya yang terlalu banyak goyang (shacking), penyuntingan yang tak lembut, pewarnaan (grading) film yang tak maksimal. Lalu, kemana lirik-lirik indah lagu garapan Melly seperti pada film pertama? Yang justru memberi ruh begitu besar, sekarang hilang di telan Satu Purnama. Kita mempertanyakan semua yang telah baik pada film pertama, yang seharusnya dipertahankan namun menjadi tidak menarik lagi di film ini. Bahkan, harus merelakan film ini begitu banyak menebar iklan-iklan komersial yang sebetulnya menganggu.

***

Sekali lagi, apakah Ada Apa Dengan Cinta 2? muncul di waktu yang tepat atau tidak, Riri Riza dan tim telah memberi jawaban atas pertanyaan empat belas tahun yang terus kita nanti. Puas atau tidak, kita berhak menilai masing-masing tanpa harus bertanya lagi, karena memang sejak dulu kita sudah memiliki kisahnya, dan juga sepasang idola itu: bagaimanapun dan apapun yang terjadi pada mereka, cinta kita kepada keduanya tetap ada. (*)

DODI PRANANDA

ADA APA DENGAN CINTA 2
Sutradara        : Riri Riza
Skenario          : Mira Lesmana dan Prima Rusdi
Pemain            : Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Priscillia, Dennis Adhiswara, Christian Sugiono, Sarita Thaib, Dimmi Cindyastira
Produksi          : Miles Films dan Legacy Pictures

 

 

 

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s