Balada Sari dan Sekeping DVD

Sari dan Alek dalam film A Copy of My Mind (Sumber foto: tiff.net)
Sari dan Alek dalam film A Copy of My Mind (Sumber foto: tiff.net)

Film terbaru Joko Anwar soal Jakarta yang jarang kita lihat. Romantis, sederhana dan gelap. Sekaligus menjadi kapsul waktu perpolitikan Indonesia kini. Layak diganjar tujuh nominasi Piala Citra 2015.

Dari dulu, kita mungkin sudah mengenal atau pura-pura melupakan wajah Jakarta yang ini: rumah- rumah padat berdempetan, udara yang pengap, jalan tikus menuju kosan yang kumal dan bau bacin.

Di antara kehidupan menara gading, di gedung bertingkat, di tengah Jakarta yang gemerlapan, Jakarta adalah rumah yang juga dihuni orang kecil seperti Sari (Tara Basro) seorang pekerja salon dan juga Alek (Chicco Jerikho) si tukang pembuat terjemahan “ngaco” DVD bajakan.

Sari menggambarkan wajah kaum bawah (kalau tak disebut kaum proletar) ibukota: hidup-makan-bekerja-mencari kerja-pulang-tidur. Seolah hidup ini indah, kata seorang tukang sajak, aku menangis sepuas-puasnya (bagi Sari boleh jadi: aku menonton DVD sepuas-puasnya). Namun Sari betul-betul menikmati hidupnya: ada di bus kota bersama wajah-wajah yang bercucur peluh, terkantuk-kantuk, ribut dan bising. Juga pekerjaannya, mendengar celoteh para ibu-ibu apa saja sambil memijit dan memencet jerawat di wajah tamu salon.

Joko Anwar mungkin memahami kemuakan kita dibenamkan mimpi palsu kebanyakan orang memandang Jakarta atau seperti Jakarta yang digambarkan dalam film buku atau karya seni lainnya (atau dalam imajinasi orang desa memandang kota), sehingga karakter Sari membuat kita sejenak menjadi sosok yang apa adanya, yang tak pusing-pusing amat memikirkan esok, tak peduli amat ingar bingar dan riuh rendah politik. Karena memang tidak terlibat.

Atau mungkin seperti Alek, yang sepanjang harinya dihabiskan menerjemahkan DVD bajakan untuk menyambung hidup, sambil berjudi dalam kelam malam Jakarta. Kedua karakter kita ini bukanlah manusia yang menginginkan segala. Hidup ini bagi Sari mudah, ibarat: makan tak makan asal nonton DVD. Satu mimpi terbesarnya hanyalah memiliki televisi layar besar supaya puas menonton.

Bukan tak mungkin, hidup yang payah, tumbuh cinta di sana. Kali ini, adegan bercinta Sari dan Alek di indekos Alek yang sumpek, gerah, dan kusam, di situlah cinta tumbuh. Masih ada kesempatan bagi Sari membuat lelucon: meminta Alek menyetel video porno gay saat mereka asyik bercinta, dan selepasnya Sari berceletoh tentang film kesukaannya.

Namun, sekali waktu hobi Sari menonton (juga sesekali hobi mencuri sekeping DVD)  adalah malapetaka yang membuat kita berhenti dari kehidupan yang apa adanya. DVD kali ini bukan DVD dengan terjemahan sembrono buatan Alek, DVD yang dicuri Sari dari klien spesial di penjara Bu Mirna (Maera Panigoro) adalah obrolan soal “apel” (sandi untuk membicarakan uang-uang pelicin di kalangan elite politik) dengan pejabat negeri. Dan, pada bagian inilah, kita merasakan denyut gelap Jakarta. Tak ada kompromi bagi yang telanjur berurusan dengan politik: sekecil apapun tetap kena imbas, tak ada maaf, tak ada ampun, segalanya karena kuasa politik harus terbayarkan, bahkan nyawa adalah pembayarnya. Orang bawah seperti Sari yang tak terlibat, harus menerima akibat.

Harus diakui, Joko telah membuat hampir dua jam waktu kita menyantap sebuah visual Jakarta yang tak biasa (Joko sempat twit foto dia makan di pinggiran Jakarta, berlantaikan tanah, makan di sela syuting, pun para artisnya), kehidupan di daerah pecinan Glodok, atau kosan tempat Sari tinggal telah membawa kita menjadi penonton film drama rasa dokumenter. Juga dengan pergerakan kamera (camera work) yang membuat kita merasa berada di latar. Joko menakar semua dengan pas, sehingga emosi atau bumbu drama terasa tak berlebihan.

Sekaligus film A Copy of My Mind menjadi kapsul waktu untuk melacak jejak perpolitikan Indonesia pada kurun 2014-2015, di mana politik terasa panas, riuh rendah orang-orang yang terbelah haluan politik, “membakar”, seperti matahari Jakarta yang garang. “Kita mencoba membuat sebuah rekaman zaman, ini periode penting, ada pemilihan presiden,” kata Joko Anwar ketika diwawancara sebuah televisi swasta nasional.

Mungkin bila anak cucu kita bertanya seperti apa Indonesia pada tahun 2014-2015, meski berlabel film drama, A Copy of My Mind adalah jawabannya, bukti otentik kehidupan politik negara kita yang wajah perpolitikannya coreng-moreng, penuh korupsi dan intrik. Dan, Joko Anwar tahu betul bagaimana mengemas semuanya menjadi otentik. Semua terasa alami, sehingga membuat kita sebagai penonton bukan lagi orang yang duduk manis di bangku bioskop, tapi kita adalah bagian dari setiap adegan. Jakarta itu sendiri.

Karena segala kenaturalan visual, pantaslah, sepulang dari bioskop, atau  hingga kapanpun setiap adegan dalam A Copy of My Mind akan terus-terusan terkenang dan terputar dalam pikiran kita. Sari atau Alek barangkali juga wajah kita sendiri, orang bawah yang tak terlibat, namun bisa saja terjebak dalam Jakarta yang tak tertebak. (DODI PRANANDA)

A COPY OF MY MIND
Sutradara : Joko Anwar
Skenario : Joko Anwar
Pemain : Tara Basro, Chicco Jerikho, Paul Agusta, Maera Panigoro
Produksi : Lo Fi Flicks dan CJ Entertainment

Iklan

4 comments

  1. mantap, tapi nampakny selain adegan ranjang Alex dan Sari, film ini tidak begitu saja bisa dinikmati,.alur nya cukup lambat, serta penyelesaian yg terkesan dipaksakan

    saya sepakat, sempat terpikir kok jd mirip dokumenter ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s