Badut yang Mematikan

Sumber: flickmagazine.net
Sumber: flickmagazine.net

Debut dari dapur DT Films yang mengembalikan kepercayaan kita pada film horor dalam negeri.

Percayalah, kali ini kita bisa menikmati film horor dalam negeri dengan citarasa mengejutkan ala horor Amerika.

Kita tidak akan menyimak atraksi menggelikan seperti yang dilakukan kebanyakan badut dalam acara ulang tahun atau pasar malam. Ini bukan badut yang disukai anak-anak, yang kerap mengundang tawa. Kita sedang menghadapi badut yang anti-tesis: badut yang mematikan. Dia tidak hanya menakutkan karena mimik wajahnya, dengan rupa sarat gincu. Badut kali ini adalah simbol maut.

Adalah Donald (Daniel Topan) penghuni sebuah rumah susun yang hidup dengan Farel (Christoffer Nelwan), yang semula hidup (tak) tentram, meski kerap ditagih uang sewa rusun oleh Raisa (Ratu Felisha). Belum lagi, Donald harus dibayangi teror ‘apa kabar skrispi’ dari Kayla (Aurelie Moeremans), sahabatnya yang nyinyir. Sampai suatu hari Vino, anak Raisa, mendapatkan sebuah kotak musik usang yang membawa petaka. Kotak yang telah membangkitkan Sang Badut.

Film bertajuk ‘Badoet’ yang dibidani rumah produksi DT Films telah mengikuti jejak Tuyul (2015) garapan Sutradara Billy Christian, yang juga dibicarakan karena kesungguhan akan mengembalikan kualitas film horor Indonesia. Selama ini penonton terus-terusan digentayani hantu yang itu-itu saja.

“Horor masih safe,” kata Daniel saat premiere beberapa waktu lalu di Epicentrum, saat menanggapi bagaimana pasar film horor saat ini. Selama ini film horor dianggap aman untuk berinvestasi di industri, dengan bujet yang relatif murah, namun tak perlu khawatir risiko merugi. “Kita bikin bukan karena itu, tapi karena ingin yang beda. Penonton capek dikasih Pocong dan Kuntilanak melulu. Saking bedanya, disukai banyak negara,” sebutnya. Sejumlah negara seperti Amerika dan India sudah menantikan ‘Badoet’.

Kita melihat kesungguhan pada visi sang Produser, Daniel, yang konon menggelontorkan hampir 3 milyar. Sebuah ongkos produksi yang terbilang besar untuk film horor, dibanding karya kebanyakan yang selama ini sibuk menjual bintang-bintang panas dan selipan adegan sensual. Lima rusun empat lantai dan sebuah pasar malam ditutup demi kebutuhan film. Formula baru Daniel menyajikan horor bisa dikatakan berhasil. Tak semua orang punya kesan bahwa badut itu sesuatu yang lucu. Ada sesuatu yang tersimpan di balik wajah penuh gincu, hidung merah besar, dan rambut warna-warni. Badut adalah misteri. Datang membawa tawa, pulang membawa nyawa, kata tagline film ini. Sampai-sampai Daniel dan Sutradara Awi Suryadi sendiri juga penakut pada badut.

Namun, di balik bungkus yang rapi, kita harus menelan kecewa dengan beberapa bagian yang terasa menuntut penjelasan. Barangkali Anda setuju bahwa tak puas dengan latar belakang kehidupan Si Badut. Penjelasan lewat tokoh ketiga, Nikki (Tiara Westlake), apa yang menimpanya Si Badut yang diperankan Ronny Tjandra pada masa lalu sehingga ia harus berakhir di ruang jagal. Motifnya lemah. Dan apapula hubungannya dengan hanya sekadar kotak musik. Apa arti kotak musik dalam hidup Si Badut menguap begitu saja?

Menggunakan karakter Nikki, yang muncul karena ribut soal bola di media sosial dengan Donald untuk urusan mengisahkan misteri si Badut terasa sangat kebetulan. Apa kabar kalau komentator bola bukan anak indigo, apakah para tokoh bisa menyelesaikan masalah? Kita tahu, rumah susun adalah rumah dengan berbagai lapis masyarakat. Menaruh tokoh sang juru selamat sebagai salah satu penghuni rusun mungkin akan lebih baik.

Hampir semua pemeran juga bermain biasa saja. Tidak ada yang begitu menonjol, kecuali Vino yang berhasil tampil sangat natural. Adegan Vino kesurupan, dan saat ia tak bisa diajak berkomunikasi selain terus menggambar badut adalah yang terbaik. Tiara Westlake cukup meyakinkan sebagai anak Indigo. Sang Badut yang mematikan (diperankan Ronny Tjandra), berhasil membuat kita ketakutan pada badut, setidaknya pada film ini. Daniel pun mengaku harus mengimpor tukang rias dari Abang Sam hanya demi membuat Ronny sebagai badut paling mengerakan di seluruh dunia.

Selain efek kejut yang asyik, yang tidak lazim dari sekadar hantu yang tiba-tiba sebagai pemicu menyeramkan adalah elemen horor dari benda seputar badut. Entah itu balon, kotak musik, dan lagu dari kotak musik. Ditambah dengan sudut-sudut gambar Awi Suryadi yang tak biasa: lorong-lorong panjang rumah susun yang sunyi, balon yang terbang, kamera jungkir balik, dan pilihan angle yang menarik sehingga menyumbang efek menyeramkan. Inilah yang membuat kita bisa mengatakan film ini digarap dengan sungguh-sungguh.

Akhirnya kita sampai pada sebuah akhir yang ditutup dengan pertanyaan begini: “… ketika film horor kita sudah pelan-pelan membaik kualitasnya, sudah siapkah kita sebagai penonton untuk memberikan kepercayaan itu lagi dengan datang ke bioskop?” (*)

BADOET

Sutradara: Awi Suryadi, Penulis: Agasyah Karim, Khalid Kashogi, Awi Suryadi, Pemain: Daniel Topan, Aureloe Moeremans, Ratu Felisha, Christoffer Nelwan, Tiara Westlake, Marcel Chandrawinata, Ronny Tjandra, Produksi: DT Films

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s