Resensi

Sebuah Perjalanan Menemukan

Sumber: Muvila.com

Sumber: Muvila.com

Film panjang Ismail Basbeth yang mampu “mengisi” penonton. Sarat akan renungan.

Pak Mahmud (Deddy Sutomo) adalah sosok penganut agama super taat. Apa-apa yang ia kerjakan, agama selalu jadi tiangnya. Ia tak ambil pusing usaha kedainya tak beroleh banyak untung, sebab kredonya berjualan bukanlah untuk mencari untung, melainkan sebuah ibadah. Pedagang lain terang naik pitam, menuduh Pak Mahmud “menjual agama” dalam berjualan, maklum pembeli memilih kedai Pak Mahmud yang serba murah. Dan dari kegusaran kelompok pedagang diwakili si ibu-ibu ceplas-ceplos, yang mengatakan departemen urusan agama hambur-hambur uang milyaran rupiah hanya untuk melihat hilal membuat Pak Mahmud tertohok. Si Bapak teringat tradisi purba di pesantren: kirab mencari hilal yang tak perlu banyak uang. Namun, para kawan tak mungkin kirab karena ada yang menghabiskan usia senja di kursi roda atau yang sibuk dengan ambisi kuasa, dan entah yang lain. Dengan atau tanpa kawan, Pak Mahmud tetap mencari. Dan dimulailah perjalanannya…

Dengan mengambil gaya penceritaan film perjalanan (road movie) kita diajak Sutradara Ismail Basbeth mengikuti setiap cerita yang dilalui Pak Mahmud dalam usaha “mencari hilal”. Sebagai film komersial, Ismail cukup lentur bercerita menggambarkan betapa urusan perbedaan bahkan juga terjadi dalam satu tubuh agama yang sama, alih-alih hanya dikatakan memicu konflik horizontal antaragama. Dikatakan lentur, karena berusaha mendekatkan dengan penonton, dan ramah untuk semua kalangan. Kita harus bersyukur bisa menikmati film ini hanya dengan membuka pikiran dan hati, tidak seperti film eksperimental non-komersial yang telah dimulai Ismail sejak tahun 2010, lewat film dokumenter  abang becak Jogja yang tidak gagap teknologi, Harry van Yogya (2010), dan dijamin tidak membuat kening berkerut sepanjang film diputar seperti saat menyimak Shelter (2011), Ritual (2011), Maling (2013), dan yang terakhir, yang cukup ramai dibicarakan –-yakinlah kenapa dibicarakan lantaran banyak yang bertanya-tanya setelah menontonnya–  Another Trip to the Moon (2014)

Tapi, bila kita selami hingga ke dasar, pastilah kita tahu bahwa sang sutradara tak punya pretensi sedang berdakwah macam-macam apalagi bermaksud menjejali kita dengan seruan menggurui. Selama sembilan puluh menit, kita disuguhkan tema besar tentang hubungan bapak dan anak dalam menjalankan kehidupan di tengah-tengah kehidupan beragama yang rentan rebut akibat perbedaan. Jalinan ceritanya begitu solid, sederhana namun berkesan dengan adegan tanpa dialog, namun penuh emosi. Usaha yang baik dari penulisnya Salman Aristo dan Bagus Bramanti.

Perjalanan mencari hilal sesungguhnya perjalanan dua generasi yang berbeda latar kehidupan. Satunya adalah seorang bapak yang ditopang dengan nilai agama tradisi yang kuat, satu lagi si anak hidup di dunia teknologi yang maunya enak dan serba mudah kalau tidak dikatakan pragmatis. Kita lihat saja saat sang aktivis, anak si bapak, Heli (Oka Antara) terpaksa menemani “urusan” sang bapak karena diganjar pamrih akan dibantu mengurus paspor yang waktunya sudah mepet oleh kakaknya “orang dalam” Halida (Erythrina Baskoro), karena Heli hendak dikirim ke Nikaragua untuk misi sosial. Selain itu, Heli juga gambaran terbalik bapaknya: malas salat, tidak puasa, dan jauh dari ritual agama. Dalam usaha mencari hilal, kita melihat keduanya berjalan bersama, namun pikiran dan tindak tanduk keduanya bersimpang jalan. Sesekali Pak Mahmud menuruti kemudahan teknologi versi Heli misalnya saat adegan mencari alamat, tapi lebih sering melakukan dengan caranya sendiri.

Karakter Mahmud yang pantang kalah berdebat, selalu merasa benar, dan hidupnya seolah hanya untuk agama mengingatkan kita pada karakter Haji Soleh dalam cerpen Robohnya Surau Kami milik A.A Navis. Kemiripan itu semakin kental ketika Heli adu mulut dengan sang bapak di tempat yang dituduh Pak Mahmud telah menjalankan agama dengan cara yang salah. “Kebenaran versi siapa?” kata Heli naik pitam. Di situ kita tahu bahwa Heli memendam perih yang purba, karena saat ibunya sakit si bapak sibuk berdakwah. Suatu yang tidak termaafkan, dan tak terekspresikan sepanjang hidupnya. Hal yang sama juga pada Haji Soleh yang sibuk mengejar akhirat, namun luput melakukan urusan dunia.

Dan bila kita sampai pada akhir cerita, dengan metafora yang tak terbayangkan sebelumnya sebagai penutup, kita dikejutkan dengan makna lain mencari hilal. Kita tahu, seorang pria di usia senja seperti Mahmud tak akan mungkin lagi melakukan perjalanan itu. Perjalanan mencari hilal juga bisa dimaknai sebagai perjalanan menemukan si anak yang tak lagi “dikenal” bapaknya. Orangtua mana yang sanggup berkata-kata jika dikatakan oleh anak sebagai bapak gagal mengurus anak dan keluarga. Namun Pak Mahmud sungguh telah mendapatkan yang dicari bahkan saat separuh jalan: Heli memang cuek pada agama, namun dia pribadi yang peduli, anak baik yang berkat caranya sendiri, bisa membuat kegaduhan beragama bisa damai dan rukun dengan pendekatan musyawarah. Meski tak sampai pada mencari hilal sesungguhnya, Mahmud sudah menemukan lebih dari yang ia cari “si anak yang hilang”, yang kembali. Sangat mampu “mengisi” penontonnya tanpa sedikitpun terasa menggurui.

Ismail Basbeth, luar biasa!

MENCARI HILAL

Sutradara: Ismail Basbeth Pemain: Deddy Hutomo, Oka Antara, Torro Margens, Erythrina Baskoro Penulis: Salman Aristo, Bagus Bramanti Produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film, Mizan Productions

 

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s