Tiga Menguak Pahit

Foto: www.jagatreview.com
Adegan Ben, Jody, dan El di kedai kopi Pak Seno (Foto: http://www.jagatreview.com)

Kisah tiga orang yang punya cerita masing-masing, seperti kopi yang tak bisa menyembunyikan bagian pahitnya.

Persoalan kopi, bukan hanya persoalan kepala. Tapi juga soal hati. Ben (Chico Jericho), yang jadi sentral cerita dalam film ini adalah tokoh yang penuh obsesi membuat kopi terbaik. Dalam setiap upaya meracik kopi, yang terbayang olehnya adalah cara untuk menemukan kesempurnaan. Ben punya kredo bahwa kopi yang enak selalu menemukan penikmatnya. Kopi adalah dunia sunyinya. Meski menyimpan luka masa lalu tentang kopi, Ben mampu berdamai dengan itu.

Sementara Jody (Rio Dewanto), tak tahu menahu urusan kopi. Yang ada dalam benaknya cara untuk mengatasi utang orangtuanya di masa silam. Ayah Jody adalah orang baik semasa hidup, dan dari kecil, Ben hidup bersama mereka.

Di tangan kedua pemuda ini, kedai kopi bernama Filosofi Kopi itu bertumbuh. Jatuh bangun, menghadapi pengunjung yang banyak mau. Dalam kepala Jody, apapun cara harus diambil untuk menyelamatkan Filosofi Kopi. Sampai tantangan seorang pria parlente (Ronny P. Tjandra) yang siap membayar puluhan juta jika Ben mampu membuat racikan kopi terenak terpaksa diambil dengan dibayangi ancaman kegagalan.

Filosofi Kopi sebagai film adaptasi terbilang unik karena mengadaptasi karya cerita pendek yang tahun emasnya telah lewat. Meski masih dibicarakan hingga kini, dari tahun rilisnya, 2006, “panggung” untuk karya Dee rupanya masih belum selesai, sejak karya terdahulu yang sudah “naik panggung”, Perahu Kertas (2012), Madre (2013), dan Supernova (2015).

Konsekuensi mengembangkan cerita untuk kebutuhan film panjang pun dilakukan. Angga Dwimas Sasongko yang duduk di kursi sutradara sadar betul bahwa kisah dua sahabat Ben dan Jody tidak akan cukup disajikan sebagai kisah panjang. Nyatanya, Filosofi Kopi berhasil diracik ulang dengan interpretasi baru. Lewat tangan penulis naskah Jenny Jusuf, –yang terbilang nama baru dan diklaim punya “masa depan” yang baik– kisah terbatas dalam cerpen akhirnya bisa kita nikmati dalam dimensi film, yang mampu memberi tempat serta menjawab bagian lain yang masih kosong.

Akhirnya, kita akan berkenalan dengan karakter El (Julie Estelle) yang muncul di kehidupan asyik Ben dan Jody, dua karakter yang sangat kuat dengan segala kekhasannya (Ben yang keras kepala dan obsesif, dan Jody yang serba realistis). Pengembangan cerita di beberapa bagian cukup solid, seperti membawa kisah soal kopi lebih menjejak tanah. Kita mungkin bakal mencibir saja saat Ben mengusulkan dengan nada menyindir, saat Jody memaksa membuka kedainya itu lebih lama, “Buka aja 24 jam sekalian, biar kayak Starbucks”. Desakan itu lantaran Jody kepalang tanggung dengan utang-utang ayahnya.

Adapun intrik soal pengunjung yang hanya mau menongkrong di kedai kopi yang dilengkapi wi-fi, adalah pengembangan yang dibuat lebih kekinian. Di kedai kopi, anak muda tidak hanya mencari kopi, tapi juga “membeli” wi-fi, sementara di Filososif Kopi, yang tersedia adalah filosofi dari kopi-kopi yang dibuat, bukan wi-fi.

Adegan di pelelangan kopi semakin membuat latar belakang yang semakin kental. Wajah para penggila kopi, yang mau mengeluarkan kocek berapa saja hanya demi biji kopi idaman mereka, menjadi pemandangan baru bagi kita yang awam soal kopi. El pun diselipkan di sini. Meski di beberapa bagian El bisa “bertanggung jawab” membuat kisahnya terhubung dengan kisah dua sahabat itu, selebihnya, ia hanya tampak sekadar tempelan, karakter serba tanggung.

Adegan tukang pungut utang yang diperankan Joko Anwar adalah bagian yang membosankan sepanjang film. Sebagai cameo, Joko sangat tidak menarik, kaku, dan tidak berhasil menolong menghidupkan konflik Jody dan utang ayahnya. Sementara itu yang mengganjal adalah soal tantangan aji mumpung. Di versi buku, Ben dijanjikan akan diganjar 50 juta jika berhasil membuat kopi terlezat, sementara versi film, untuk mendukung karakter Ben yang keras kepala dan cenderung tak tertebak, Ben meminta ganjaran satu milyar. Ini membuat kita hanya disuguhi kisah yang tak masuk akal dan hanya akan dijumpai sebagai “realitas film”. Mana ada orang sekaya, dan seberani itu?

Dari sepanjang film, yang terbaik tentu saja adegan saat Ben, Jody dan El menuju Jawa Tengah untuk membuktikan kopi terlezat, Kopi Tiwus, racikan Pak Seno (Slamet Rahardjo). Ini adalah klimaks yang menggetarkan. Karakter El, dalam bagian ini, dipakai untuk menyampaikan pesan bahwa kenapa kopi racikan Ben bisa dikalahkan oleh kopi kampung biasa, di warung yang ada di tengah hamparan kebun teh. Pak Seno membuatnya dengan hati, sementara Ben meraciknya dengan obsesi.

Dari sini, kita menjadi tahu sisi pahit masing-masing tokoh. Tentang Ben, dan masa lalu soal kopi yang muram. Ibunya dibunuh, dan ancaman berikutnya adalah dirinya, jika ayah Ben yang adalah seorang petani kopi, nekat menanam kopi. Jody adalah anak penurut, semua hal dalam diatur sang Papi, tapi saat Papinya mangkat, yang disisakan Papinya adalah utang-utang untuk membesarkan dan menyekolahkannya. Sementara El, tidak pernah betul-betul mengenal Papanya. Ia mengaku Papanya sibuk sendiri dengan dunianya, cuek dan tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada El. Gurunya meminta ia menulis kisah soal Papanya, dan ia tak bisa menulis apa-apa. Tiga orang ini adalah mereka yang memilih jalan masing-masing untuk bisa “sembuh” dari rasa pahit itu.

Namun bagaimana pun, dari kisah Ben yang akhirnya paham kenapa kopinya tidak apa-apa dibanding Tiwus, kita menjadi paham bahwa hasil pekerjaan yang dilakukan dengan hati dan obsesi akan berbeda. Di akhir film El berseloroh, soal kopi bukan hanya soal kepala, tapi juga soal hati. Nilai ini mampu mendekatkan kita pada hakikat membuat kopi. Hakikat lainnya soal kopi adalah mengenai kisah tiga orang yang menguak pahitnya masing-masing itu. Pada akhirnya kita paham, seperti yang diyakini Ben, kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi, kopi tetap kopi, punya sisi yang pahit yang tak mungkin disembunyikan.

Dodi Prananda, penggemar film

FILOSOFI KOPI

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko,  Penulis Naskah : Jenny Jusuf, Pemeran: Chico Jericho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, Baim Wong, Joko Anwar, Tara Basro, Produksi: Visinema Pictures

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s