Tak Hanya Soal “Kawin”

Adegan saat Satrio dan Dinda di pantai. Salah satu adegan yang menampilkan dialog terkuat dalam film (Sumber foto: mandhut.wordpress.com)
Adegan saat Satrio dan Dinda di pantai. Salah satu adegan yang menampilkan dialog terkuat dalam film (Sumber foto: mandhut.wordpress.com)

Film bertajuk Kapan Kawin? yang mempertemukan Reza dan Adinia dalam sebuah drama komedi romantis. Film yang membuat kita terkekeh, sekaligus merenung bersamaan.

Apalagi yang kurang dari Dinda (Adinia Wirasti) selain fakta bahwa ia belum memiliki pendamping. Ia sukses di usianya 33 tahun sebagai General Manager hotel berbintang, usia yang terlampau matang versi orangtuanya yang menginginkan perkawinan bagi putrinya itu. Perkawinan bagi Dinda adalah sesuatu yang tidak pernah dan atau belum terpikirkan dalam hidupnya.

Anak mana yang tak luluh hatinya jika keinginan itu datang dari Pak Gatot (Adi Kurdi), orangtuanya (yang mengaku) sekarat. “Pulanglah ke Jogja, Nduk. Bawa kekasihmu,” pinta Dewi, ibunya (Ivanka Suwandi) dari seberang, lengkap dengan isak meyakinkan. Terlalu sayang pada orangtua, Dinda terpaksa membahagiakan keduanya dengan cara membayar seorang aktor untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Satrio Maulana yang menjelma Rio (Reza Rahadian), sosok yang katanya aktor sukses, yang kerap berfalsafah dan idealis tentang seni peran. Yang dibutuhkan Dinda darinya adalah mengaku, menunjukkan pada Ibu dan Bapak Dinda, bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Sandiwara pun dimulai dengan penuh intrik setelahnya.

Film dari dapur Legacy Pictures yang digarap sungguh-sungguh. Ody C. Harahap yang sebelumnya sukses menggarap Cinta/Mati, kali ini memasangkan duet asyik Reza dan Adinia, yang turut meramaikan menu drama komedi romantis di dapur film kita setelah 7 Hari/24 Jam, yang memasangkan Dian Sastro dan Lukman Sardi. Ide untuk menduetkan Reza dan Adinia tentu saja garansi bahwa film ini tidak akan mengecewakan.

Kita bisa menyimak betapa luwesnya Reza, memerankan karakter Satrio Maulana yang mengaku “aktor hebat” di balik predikat aktor yang juga melekat pada diri Reza. Kini dia tampil sebagai Rio yang konon katanya berprinsip, lugas, dan apa adanya. Tapi di balik itu semua, ia juga hanya seorang manusia, yang tidak bisa berpura-pura pada cintanya.

Sementara itu, Adinia tak kalah asyik dengan Dinda. Ia adalah tipikal yang sebetulnya menyayangi keluarganya, lebih dari dirinya. Cara berbohong itu, juga untuk menyenangkan hati kedua orangtuanya. Berdamai dengan rengekan kapan kawin? yang mengusiknya. Tapi sosok Rio yang awalnya melakoni semua itu demi bayaran, rupanya mengalami sesuatu yang tidak terduga sebelumnya.

Adegan saat di pantai, saat Rio menanyakan apa makanan kesukaan Dinda, menampilkan dialog penting tentang bagaimana bahagia yang seharusnya. Dinda ingin semua keluarga memakan makanan kesukaan mereka, sementara dia, apapun tak menjadi penting baginya. Tapi penting bagi Rio untuk mengetahui itu. Di situlah, Dinda terketuk, mendefinisikan ulang konsep bahagianya, terlebih saat Rio menohoknya dengan kalimat “sadis” sepajang film ini: “Kalau mau bikin orang lain bahagia, kamu dulu yang harus bahagia.” Tentu saja pujian akan dialog yang padat, mengalir, dan kadang memberi perenungan itu dialamatkan pada penulisnya, Monty Tiwa.

Ide cerita semacam ini mungkin sudah bertebaran dalam Film Televisi (FTV) yang tayang lumrah begitu saja. Dengan premis: anak yang diteror orangtuanya kapan kawin lantas membayar orang mengaku pacarnya, dan kemudian kepura-puraan itu berbuah cinta, rasanya akan semakin membuat kita malas menonton film Indonesia di bioskop, dan memberi cap betapa rendahnya mutu cerita film drama kita. Namun di atas keklisean itu (apalagi klise dalam hal setting Jogja yang sangat khas FTV), ide yang acap dipakai itu, dengan memaksimalkan usaha menghidupkan karakter, dengan skrip yang mapan, dan juga dengan sinematrografi yang memanjakan mata arahan Padri Nadeak, rasanya film ini layak mendapat tempat di hati penontonnya.

Dan yang terpenting, bahwa konsep soal kawin tak semudah kedengarannya. Alasan kenapa Dinda belum kunjung kawin, tentulah juga karena ide soal itu, tak segampang mengajak seseorang jalan-jalan ke mal. Kawin juga adalah tentang bagaimana berdamai dari pergulatan masa lalu tentang Gerry (Erwin Sutahardjo), yang kini adalah suami saudaranya, Nana (Feby Febiola). Kita teringat pada sajak kontemporer Sutardji Calzoum Bahri berjudul Tragedi Winka Sinka. Di sana, ada kata kawin yang dipecah menjadi ka-win, dan sin-ka. Interpretasi tentang ka-win itu sendiri yaitu perkawinan adalah tentang yang ka- (kalah) dan win- (menang). Ada hati yang kalah, ada hati yang menang. Dalam cerita masa lalunya, Dinda adalah pemilik hati yang kalah itu. Dan tentang permintaan orangtuanya yang segera menikah, Dinda juga adalah yang kalah, karena tak mampu berdamai dengan itu. Ini sekaligus membuat kita yakin, keegoisan hanya akan membuat kesakitan. Semua orangtua di dunia perlu tahu itu.

Ody menutup film ini dengan manis. Pada akhirnya, Dinda harus menang. Ia merasa Satrio telah memenangkan hatinya dengan cinta yang tulus. Dengan begitu, kawin menjadi mudah karena menang adalah milik orang yang telah bahagia untuk dirinya sendiri, dan juga orang lain (orangtua).

KAPAN KAWIN?

Sutradara: Ody C. Harahap Produser: Robert Ronny Penulis Naskah: Monty Tiwa, Robert Ronny, Pemain: Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Feby Febiola, Adi Kurdi, Ivanka Suwandi, Firman Ferdiansyah, Ellis Alisha Produksi: Legacy Pictures

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s