Usaha Merebut Tongkat Sakti

sumber: uniqpost.com
Elang dan Dara saat beruaha merebut tongkat emas dari Biru dan Gerhana (Sumber: uniqpost.com)

Film panjang bergenre laga yang digarap sungguh-sunguh. Berhasil mengeksplore keluwesan akting bintang muda Eva Celia.

Di hari tua sang pendekar karismatik bernama Cempaka (Christine Hakim), di sebuah gubuk reot nun jauh terpencil, dengan tanah kerontang di halaman, ia menyaksikan empat muridnya berlatih.

Kita mendengar pergulatan batin Cempaka lewat narasi dengan suaranya yang serak dan getir. Ilmu silat sekuat apapun, tidak bisa menunda atau melawan kematian, begitulah kredonya. Lantaran itu, ia harus memilih murid yang mewarisi tongkat emas, simbol kejayan perguruan Tongkat Emas yang dirintis Cempaka di masa lalu.

Penerima tongkat sakti itu adalah salah satu dari keempat muridnya, yang kesemuanya adalah anak yang dipungut dari para musuh yang mati terbunuh. Dara (Eva Celia) murid termuda, yang ilmunya belum seberapa. Biru (Reza Rahadian) murid yang paling menjanjikan, Gerhana (Tara Basro) murid yang tangguh, dan Angin (Aria Kusumah) murid cilik yang tekun berlatih. Cempaka telah memikirkan matang-matang bahwa tongkat itu pantas untuk Dara. Rupanya keputusan itu membuat murid Cempaka yang lain iri. Air susu pun dibalas air tuba karena dendam masa silam.

Menu baru dari dapur Miles Film yang menggandeng KG Studio, dan manggaet sutradara muda Ifa Isfansyah. Kadar drama pun ditakar pas di tangan sutradara andal yang memikat lewat sejumlah film dramanya seperti Sang Penari (2011) dan Ambilkan Bulan (2012). Di antara film drama latah belakangan yang digarapan asal-asalan (dan asal jadi), Mira Lesmana sebagai produser hadir dengan keyakinan bahwa kejayaan film silat atau laga Indonesia bisa kembali. Kesungguhan serta keseriusan untuk membuat film bagus ini tampak sekali.

Film ini dikerjakan dengan biaya dan waktu pengerjaan terlama yang pernah digarap rumah produksi Mira Lesmana. Lebih dari 20 milyar digelontorkan untuk ongkos produksi. Lebih dari setahun waktu yang dibutuhkan. Ia pun sangat cerdik, bahwa sebuah karya industri yang “hidup” adalah karya yang juga menghidupkan industri yang lain. Akhirnya, industri buku misalnya, terciprat untung dengan adanya komik tentang kisah Pendekar Tongkat Emas, atau industri kreatif lainnya lewat kemunculan games Pendekar Tongkat Emas.

Nilai yang dibawa film ini juga dikemas dengan baik dan relevan dengan kehidupan hari ini. Cinta dalam dunia persilatan yang keruh. Juga bicara tentang ambisi dan dendam. Karakter Biru yang arogan, haus kuasa, dan tak punya hati adalah segelintir masalah pemimpin hari ini. Siapa yang sudi dipimpin seorang yang merasa dirinya hebat, namun bagi rakyatnya, ia adalah benalu yang mematikan? Dia diberi ilmu (atau jurus), tapi bukan untuk membela kebenaran dan berbuat kebaikan. Malah, untuk menyengsarakan rakyat, dan merusak di muka bumi. Bumi dan Gerhana tidak hanya berkhianat, tapi juga melanggar pantang guru, bahwa dunia silat bukan untuk pertumpahan darah, melainkan membela kebaikan.

Lewat film ini, kita melihat masa depan akting Eva Celia. Di film Adriana (2013), kita terkagum lewat karakter Adriana yang ia perankan, perempuan misterius yang fasih dengan sejarah. Kali ini, ia menjadi Dara yang begitu rapuh, terkadang sangat berapi-api, membela guru dan adik seperguruanya yang dibunuh karena dendam. Eva bisa dibilang berhasil mengunyah peran baru yang pasti butuh usaha untuk menghidupkannya. Itu juga terbantu lewat dialog dan narasi yang sangat terasa sekali, bahwa skenarionya dikerjakan sungguh-sungguh oleh Jujur Prananto dan Seno Gumira Ajidarma (dengan pengembangan cerita oleh Mira Lesmana, Ifa Isfansyah,  Eddie Cahyono dan Riri Riza). Sesekali kita mendengar kalimat dengan pakem cerita silat, seperti yang dikatakan Gerhana pada Dara, “… bicaramu melantur, Dara,” saat Dara berusaha merebut kembali tongkat emas yang jatuh di tangan orang yang salah.

Sayangnya ada sejumlah adegan yang tidak perlu di beberapa bagian yang cukup menganggu. Seperti adegan saat Dara tak sengaja melihat Elang mandi di sungai. Kealpaan serta kendala teknis di penyuntingan juga terlihat, seperti adegan saat Cempaka dimakamkan. Di layar kita menyaksikan mulut Biru dan Gerahan mengucapkan sesuatu, namun tak ada suaranya. Di bagian lain, ada suara yang keluar, namun tak ada mulut pemainnya yang bergerak.

Selain itu, adegan saat Dara membuntuti Elang (Nicholas Saputra), mencari tahu siapa Elang sesungguhnya juga menimbulkan pertanyaan. Informasi bahwa Elang adalah seorang pengumpul utang (debt collector) yang tangguh dan pemberani, rasanya tanggung sekali diceritakan. Pun, juga tidak menyumbang bagi keutuhan cerita atau karakter. Untuk mengatakan bahwa Elang sakti dan pandai membela diri, rasanya tak perlu harus dengan mengangkat keseharian profesi Elang. Dengan sederhana misalnya, bisa diceritakan dengan aksi melawan penjahat di desanya.

Ada juga ketidaklogisan secara waktu dengan kemunculan anak Biru dan Gerhana yang serba tiba-tiba. Saat terjadi keributan, dua lawan dua, anaknya sekonyong-konyong tumbuh besar tanpa diberitahu tumbuhnya. Tidak ada informasi bahwa peristiwa telah berlangsung sekian tahun.

Yang agak lebih penting dibicarakan adalah ketidakpuasan mengetahui apa sesungguhnya kesaktian tongkat emas yang diperebutkan. Satu-satunya adegan yang menunjukkan itu hanyalah adegan akhir yang penuh aksi silat yang meyakinkan. Di situ, kita perlu memuji usaha yang dilakukan pelatih gerakan yang didatangkan dari Hongkong, Xin Xin Xiong, yang merupakan double body Jet Lee dalam film-filmnya. Dipoles dengan editing dengan teknologi yang mapan, citarasa laga yang dihadirkan Pendekar Tongkat Emas setidaknya berhasil menghibur.

Walau menyembunyikan latar, sebuah dunia antah berantah, kita mungkin tak terlalu terganggu dengan atribut adat setempat, tempat di mana film ini dikerjakan. Kain-kain yang dipakai pemeran adalah kain tenun corak Sumba. Selama ini, merek-merek tertentu bisa langsung laris di pasaran setelah produknya dipakai di sebuah film. Harusnya, hal yang sama juga berlaku lewat usaha promosi karya kain tenun setempat.

Mira tak salah memilih Sumba, Nusa Tenggara Timur sebagai latar. Sumba adalah tempat yang cocok untuk menghidupkan latar dunia silat yang perlu tanah lapang. Kita menyaksikan padang sabana yang indah luas membentang, perbukitan berbatu yang hijau, pantai yang damai, dan juga sungai-sungai dengan air yang jernih. Bila pemerintah setempat cermat, sebentar lagi tempat itu pasti akan dijamah banyak pelancong yang butuh surga-surga tersembunyi di timur Indonesia. Keindahannya yang menawan, sangat mungkin membuat setting film ini bernasib bagus untuk mendatangkan uang, layaknya Belitung dalam Laskar Pelangi, Selandia Baru dalam film The Hobbit, dan tempat indah di Korea yang selalu “dijual” di banyak film dramanya.

Dengan adegan penutup Elang yang harus menjalankan sanksi karena melanggar sumpah, serta pertanyaan tentang apakah kisah membayar dendam terulang lagi pada anak Biru-Gerhana yang dipungut Dara, adalah open ending yang membuka peluang untuk dibuatnya sekual untuk film ini. Penonton pasti sangat menunggu itu. (*)

PENDEKAR TONGKAT EMAS (THE GOLDEN CANE WARRIOR)

Sutradara: Ifa Isfansyah Produksi: Miles Films & KG Studio Penulis: Jujur Prananto, Seno Gumira Ajidarma, Mira Lesmana dan Riri Riza Pemeran: Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Prisia Nasution, Darius Sinathrya, Whani Darmawan, Landung Simatupang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s