Tulisan Lepas Non Fiksi

Andai FISIP Hemat Kertas

Delapan Departemen, ribuan mahasiswa, ratusan dosen: berapa kebutuhan kertas sehari, seminggu, sebulan yang dihabiskan untuk kebutuhan akademik maupun non-akademik di FISIP UI?

Pertanyaan itulah yang pernah menganggu saya saat kelas Strategi Media Komunikasi, dan saat itu Dosen meminta kami membuat sebuah social campaign yang berdampak di FISIP UI. Di Ilmu Komunikasi, saya mengambil peminatan Jurnalisme, jadi sehari-hari menulis berita. Meskipun ada kerja “meneliti” dalam menulis laporan jurnalistik, pada dasarnya saya bukan tipikal mahasiswa yang senang meneliti ini-dan-itu. Jadi, pertanyaan tentang berapa jumlah kertas yang dihabiskan sehari, seminggu, sebulan itu tetap menjadi tanda tanya besar.

Dosen saya, Lilik Arifin yang mengampu mata kuliah Strategi Media Komunikasi lantas bercerita tentang sebuah social campaign yang pernah dilakukan mahasiswanya tentang upaya paperless. Konon dia punya data tentang berapa jumlah kertas yang dihabiskan sehari di FISIP UI. Saya pun sangat yakin kalau mahasiswa yang mengangkat hal itu pastilah anak Kajian Media (Media Studies) yang sehari-hari memang kerjanya meneliti dan menganalisis. Paper adalah makanan sehari-hari mereka, begitu seloroh anak-anak Jurnalisme yang lebih sibuk berkutat menulis berita, feature dan berita televisi.

Campaign yang dibuat mahasiswa yang selalu disebut-sebut oleh Mas Lilik di kelas ini, adalah kampanye sosial dengan tema lingkungan. Dia mengupayakan habit paperless kepada mahasiswa FISIP. Konon karena tergugah, Mas Lilik ikutan mengubah habit-nya. Dulu, ia selalu meminta mahasiswa mengumpulkan tugas dalam bentuk hardcopy, dicetak. Mahasiswa harus keluar biaya. Juga harus repot-repot mengantarkan ke Departemen jika tugas dikumpulkan beberapa hari seblum kelas. Karena kampanye hemat kertas yang dibuat mahasiswa yang disanjung-sanjungnya itu, Mas Lilik kemudian tidak lagi menerima tugas dalam bentuk cetak. Dia lebih senang softcopy. “Praktis dan hemat kertas,” katanya suatu hari di kelas. Dua kali saya mengambil kelasnya (Strategi Media Komunikasi dan Menulis Artikel Opini), semuanya dengan sistem pengumpulan tugas soft copy via surat elektronik.

Kalian tahu Mas Lilik ini Dosen muda apa tua? Begini, Mahasiswa yang dulu pernah diajarnya, sekarang sudah jadi Dosen pula, bahkan sudah tua pula? Nah, itulah yang membuat saya salut. Kebanyakan dosen yang sudah berumur tua, selalu diidentikan dengan dosen yang gagap iptek alias “gaptek”. Bila disuruh membaca file digital, pasti akan kasihan sekali jika membiarkan dia membaca satu per satu karya mahasiswanya dari layar laptop atau komputer. Tapi, Mas Lilik melakukannya. Faktor usia (khususnya mata), tak menghalanginya untuk tergerak mengubah habit. Dia membaca satu per satu tugas dalam format softcopy yang dikirimkan ke emailnya. Dan dia tak mengeluh.

Dari kelas Mas Lilik ini, terpikir oleh saya, ada berapa banyakkah Dosen yang berpikiran semacam ini. Kebanyakan Dosen masih suka dengan tugas yang diserahkan dalam bentuk cetak (print out). Bisa diperiksa di mana-mana dan kapanpun. Tak bikin mata lelah. Apalagi kalau tugasnya panjang, seperti makalah misalnya. Yang anehnya, yang suka dicetak ini kebanyakan dosen muda. Jadi, premis bahwa dosen muda lebih berpikiran digital (dan paperless) salah besar. Kebanyakan dosen muda malah tidak melakukannya.

Belum lagi, dari tugas-tugas yang dikumpulkan dalam bentuk cetak itu, nasibnya di tangan dosen bisa jadi berbeda. Kadang, tugas hanya sekadar dikumpulkan, tanpa pernah diperiksa. Teronggok menumpuk di ruang-ruang dosen atau departemen. Kertas-kertas yang pada akhirnya menggunung, lalu kemudian bertambah dan bertambah lagi, karena tak pernah betul-betul diperiksa. Apalagi yang diharapkan dengan sistem dan habit semacam ini?

Terbayang oleh saya, jika semua Dosen ikut tergugah seperti Mas Lilik (akibat kampanye paperless mahasiswanya itu), bagaimana FISIP ke depannya? Boleh jadi, cita-cita bahwa FISIP menjadi Green Campus FISIP UI bisa terwujud. Salah satu indikator kampus hijau tentu saja dilihat dari penggunaan kertas yang dapat diminimalisasi penggunaanya. Alangkah menarik jika kertas hanya digunakan seperlunya, memang hanya untuk kebutuhan “hitam di atas putih”. Jika tidak perlu-perlu amat, kita bisa beralih ke bentuk softcopy. Berapa kertas yang bisa dihemat jika setidaknya, setengah saja dosen membiasakan pengumpulan tugas dalam bentuk softcopy? Duh, lagi-lagi saya bukan mahasiswa peneliti, jadi saya tak tahu jawaban pastinya. Tapi, penulis seperti saya lebih senang berimajinasi, dan imajinasi saya mengatakan akan ada penghematan kertas besar-besaran jika hal itu benar dilakukan.

Mahasiswa dan E-booknya

Satu hal yang terdengar konyol adalah kebiasaan aneh mahasiswa mencetak buku-buku elektronik yang didapatkan dari internet, bursa buka digital atau pemberian dosen. Rupanya, mahasiswa kita belum terbiasa dengan membaca digital. Memang, melelahkan mata, dan kesenangan memegang kertas, mencium aroma buku, tidak tergantikan dengan e-book. E-book yang sengaja didesain untuk menciptakan kultur paperless di era digital belum bisa diterima dengan budaya mahasiswa hari ini, yaitu budaya fotokopi.

Saya dan Media

Setahun terakhir ini, saya menjabat sebagai Pemimpin Umum FISIPERS 2014. FISIPERS itu, kalau ada yang tidak tahu, adalah Badan Otonom di FISIP UI yang kerjanya membuat produk media berupa buletin, video berita dan produk pers lainnya. Saat pertama kali memimpin, saya menghapuskan salah satu produk media kami berbentuk newsletter. Kalau tak tahu rupanya, kira-kira bentuknya seperti selebaran dua lembar, hitam putih. Produk satu ini dibagikan gratis, karena memang biaya cetaknya tidak besar. Kenapa saya hapuskan, karena saya merasa sayang sekali jika membuat media tapi dibuang setelah membacanya. Tidak semua mahasiswa FISIP yang diberi produk cuma-Cuma mau bersusah-susah menyimpannya. Sekali baca langsung dibuang. Itu masih mending. Ada yang baru saja diberi, langsung diremuk, kemudian jadi jatah tong sampah.

Itu yang membuat saya memutuskan produk itu dihentikan. Jadi, produk cetak kami satu-satunya adalah buletin. Itupun oplah cetaknya saya kurangi dari yang sebelumnya seribu, menjadi 500 ratus. Biarlah sedikit, tapi berwarna, dan siapa yang membelinya, berkenan menyimpan. Apa yang ada di balik ini? Bahwa media yang saya pimpin berusaha untuk meminimalisasi penggunaan kertas. Di Komunikasi, isu konvergensi media sangat hangat-hangatnya. Jadi, sudah saatnya, sebagai pelaku media, saya berpikir dengan cara pikir green lifestyle seperti yang digadang-gadangkan Tupperware Indonesia. Pemimpin Redaksi pun berpikir juga untuk pelan-pelan ganti platform. Sudahlah susah mencetak jauh-jauh di Senen, kemudian biayanya besar pula. Apalagi yang diharapkan dengan media cetak yang betul-betul “tua” dan kadang terkesan “buang-buang kertas”, apalagi… kalau isinya tidak menarik pula. Karena itu, FISIPERS mulai mengakrabi bentuk online, video berita di YouTube dan Majalah Digital (e-magz). Beginilah, cara media kami menyayangi bumi.

Dari beberapa cerita di atas, intinya hanya satu, bagaimana membumikan gaya hidup hijau di FISIP UI, yang diwujudkan dengan hemat menggunakan kertas. Banyak tradisi lama yang mesti ditinggalkan. Gaya hidup digital yang digadang-gadangkan hari ini, niscaya tidak akan pernah berhasil, jika orang-orang di FISIP UI, masih terjebak dengan gaya di masa lalu. (*)

Dodi Prananda, Mahasiswa Jurnalisme Ilmu Komunikasi FISIP UI 2011. Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition Tupperware dan FISIP UI, 2014

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s