Dari Dapur Tabula Rasa

Sumber foto: muvila.com
Sumber foto: muvila.com

Menu baru  dari dapur film Indonesia yang mengangkat sub genre food movie. Menyuguhkan drama yang subtil dari dapur sebuah rumah makan Padang bernama Takana Juo.

Rumah makan Padang Takana Juo (dalam bahasa Indonesia berarti Teringat Jua) itu milik Mak Uwo (Dewi Irawan) yang dirintisnya setelah mengungsi ke Jawa karena kampung halamannya rata dengan tanah akibat Gempa 30 September 2009. Yang Mak andalkan saat membuka usaha rumah makan Padang — yang lebih tepat disebut Ampera (sejenis rumah makang Padang, namun biasanya tidak seeklusif restoran atau rumah makan Padang)– adalah tulang delapan kerat (tulang lapan karek). Dua tulang di lengan, dua tulang di tangan, dua tulang di paha dan dua tulang lagi di kaki. Mak dibantu dua pekerja lain di rumah makan yang letaknya di pelosok Jakarta (yang cenderung sepi lalu lalang, jalanan penuh debu, panas kerontang, dan toko-toko yang berjejaran), pertama sang juru masak, Parmanto (Yayu Unru), kedua Natsir (Ozzol Ramdan), tukang sanduak Takana Juo.

Kita akan berkenalan dengan sosok Mak yang walau dari luar tampak kuat, badan tegap dengan tulang delapan keratnya, sebenarnya tipikal Mak yang punya hati yang rapuh. Pertemuan tak sengaja dengan seorang pemuda berkulit gelap yang terkapar di atas jembatan berkawat, yang di bawahnya ada perlintasan kereta, adalah awal dari drama Tabula Rasa. Pemuda itu orang asing, tak punya barang apa-apa, terlihat seperti gelandangan dengan kaus merah yang compang-camping. Tapi Mak yakin dia bukan orang jahat, sebagaimana yang dituduh Natsir. “Bantuaknyo se bantuak rampok (wajahnya saja seperti rampok),” kata Natsir menolak ide membantu dari Mak.

Namun Mak punya alasan pribadi kenapa ia ngotot membantu orang asing berambut kriting bernama Hans (Jimmy Kabogau) itu. Hans adalah satu dari sekian orang yang membawa mimpi besar ke Jakarta. Ia diiming-imingi belajar sepak bola di Jakarta karena dianggap berbakat. Jauh-jauh dari daerah kecil bernama Serui (Ibukota Kabupaten Yapen) di Papua, ia berangkat ke Jakarta. Meninggalkan adik-adiknya di panti, juga Mama yang mengasuhnya.

Tapi, nasib sial memilih Hans. Alih-alih menjadi pemain sepakbola, ia malah menggelandang di Jakarta, tidur di emperan toko, berjalan tanpa arah dan berpikiran akan menamatkan hidupnya dengan melompat dari jembatan yang di bawah kereta api melintas. Akibat kaki patah yang tak diurus, ia tercampakkan, berjalan terseret-seret sebagai tukang pungut. Mimpi besar menjadi pemain sepakbola terkubur. Pertemuan dengan Mak lah yang berhasil membuat  hidupnya kembali berarti.

Hans diberi makan. Gulai kepala ikan kakap buatan Mak yang menyimpan kepedihan saat Mak membuatnya, juga alasan tersendiri kenapa Hans disuguhi menu itu. Hans terlanjur masuk ke kehidupan Takana Juo yang pelik. Rumah Makan sepi tamu. Kursi-kursi yang mestinya dipenuhi orang yang perlu pengisi lambung, malah diisi oleh empunya warung sendiri. Belum lagi, keberadaan Hans mengusik Parmanto. Ia bersikeras menolak Hans ada di saat yang sulit itu. Hans bolak-balik,  dan mengatakan ia tak hanya butuh makan tapi juga butuh uang. Ia jadi pembantu Mak yang serba bisa, walaupun melangkah terseret-seret: dibangunkan subuh buta untuk menemani Mak belanja, mengangkut beras, mencuci piring. Suatu hari karena lancang minta uang, Mak mengusirnya, dan ia datang lagi. Sampai yang terpikir dalam kepala Mak, orang asing yang dekil, bau matahari, tak pernah mandi dan tetap berpakaian compang-camping, kaus merah dan celana pendek itu diperbantukan di Takana Juo.

Sebagai juru masak, pantang bagi Parmanto untuk disandingkan dengan orang baru yang tak jelas kebutuhannya –apalagi jatah bisa berkurang karena harus dibagi empat. Ia naik pitam dan memutuskan keluar sebagai juru masak. Saat itulah sebenarnya, sang sutradara Adriyanto Dewo baru saja mulai menyuguhkan menu utama drama (food movie-nya) pada kita.

Kita mulai diperkenalkan dengan kehidupan dapur sebuah rumah makan Padang yang sibuk. Tungku dari kayu bakar yang sibuk. Pisau-pisau yang sibuk. Dan alat-alat lainnya. Saat itulah, pelan-pelan, sembari melanjutkan drama Hans yang mulai diajarkan memasak oleh Mak, sang juru masak membuat selera kita terbit saat Hans memasak rendang dan Mak memasang dendeng batokok bakar. Bagi sebagian orang tentulah kekhasan memasak itu adalah “barang baru” sehingga visual dapur Tabula Rasa adalah semacam cara lain berjelajah ke dapur rumah orang di kampung-kampung di Sumatera Barat.

Dari kursi sutradara, Adriyanto tak ingin kita kehilangan barang sedikitpun detail dari bagaimana api bisa menyala dengan cara ditiup, bagaimana cabai yang enak di lidah itu adalah hasil jerih payah tangan seorang Mak menggilingnya langsung di ulekan (batu giliang), alat peras santan manual untuk citarasa santan yang nikmat, dan daun ruku-ruku untuk menambah kekhasan rasa pada gulai. Semua gambar itu rapi, membuat penonton kelaparan, memanjakan dan “mengenyangkan” mata, sekaligus menguras emosi, membuat penonton sejenak larut dalam kepedihan di balik ketegaran seorang Mak. Itu terjadi saat Parmanto bekerja di Restoran lain, menjadi juru masak di sana, tapi mencuri resep yang diajarkan Mak. Terang saja Mak marah, tapi, Hans berapi-api untuk melawan dengan cara menjual menu lain yang tak dijual di Restoran Parmanto. “Kita jual gulai kepala ikan kakap, Mak,” usul Hans, tapi Mak menolak.

Mak mulai berdamai dengan dirinya, dan tentang kepedihan saat memasak gulai kepala ikan kakap. Asap kembali mengepul dari dapur Takana Juo. Mak kembali bergairah, walau sebenarnya, itu pedih. Nyatanya, gulai kepala ikan kakap itu menyelamatkan nasib rumah makan yang nyaris bangkrut. Hans semakin cemerlang sebagai juru masak, sementara Parmanto justru menangisi kelicikannya saat mengetahui pelanggannya mulai berkurang.

Sebagai film yang disebut-sebut masuk sub genre food movie, kita belum terpuaskan dengan bagaimana filosofi sebuah makan dan menjadikan menu-menu dapur Tabula Rasa itu sebagai sentral cerita. Tabula Rasa terjebak pada drama dengan konflik yang sebenarnya sangat sederhana. Tapi upaya untuk menghidupkan makanan itu sebagai sentral visual, baru dirasakan di tengah. Kita juga hanya menikmati gambar rendang sepintas lalu, karena Mak sempat menyebut istilah khas Ibu-ibu minang saat memasak rendang: tidak boleh dibiarkan tidak dikacau, dan tidak boleh juga dikacau terlalu berlebihan. Padahal, di balik suguhan rendang yang nikmat itu, sebenarnya ada cerita tentang kesabaran, proses yang alot ketika membuatnya, tapi itu terlewatkan di film ini. Apalagi mengenai gulai kepala ikan kakap yang diharapkan akan kita santap sepanjang film diputar. Adegan itu rupanya hanya sekilas lalu, namun dramanya menjadi sentral cerita, sehingga kita kembali mempertanyakan label film kuliner yang sempat digadang-gadangkan produser. Di luar adegan di dapur, hampir tidak ada tampilan visual yang menarik ketika makanan itu disajikan. Saat di dapur pun, apa yang tampil di layar adalah semua yang telah ditata sedemikian rupa, sehingga dapurnya tak dibiarkan centang perenang sebagaimana lazimnya dapur rumah makan yang juru masaknya sibuk memasak ini-itu.

Terlepas itu, perlu dihargai usaha dan keinginan sang produser, Sheila Timothy untuk membuat menu baru ini. Selama ini kita terlalu menggemborkan kuliner Indonesia banyak disenangi lidah-lidah orang lintas negara. Rendang dicap nomor satu sebagai makanan terlezat. Tapi kita (khususnya sineas) tidak pernah benar-benar mendokumentasikan itu dan menggarapnya dalam wahana film. Sebagai produser, Sheila yang sebelumnya menggarap Pintu Terlarang (2009) dan Modus Anomali (2012) di bawah Lifelike Pictures, bisa dikatakan produser berusia 42 tahun ini punya visi akan perkembangan film tanah air. Ia tidak asal-asalan. Ia menyiapkan dialek coach untuk pemain, juga riset hingga ke daerah Serpong yang kebetulan kisahnya mirip dengan kisah Mak –merantau ke Jakarta akibat gempa. Ia juga menyimak referensi yang bisa dibilang pas sehingga membayangkan akan “memasak” hal yang enak juga seperti masakan Ang Lee yang menunya diberi judul “Eat Drink Man Woman” (1994). Usaha yang intens, termasuk riset sana-sini dan menggarap film ini selama empat tahun dengan sungguh-sungguh perlu dibalas dengan pujian.

Pilihannya menggandeng Adriyanto yang bisa dibilang belum berpengalaman menggarap film panjang adalah sebuah keberanian. Tapi, karya film pendek Adriyanto “Menunggu Warna” dalam film Sanubari Jakarta (2012) adalah sebuah garansi. Jadi, bisa sangat kawin dengan racikan skenario milik Tumpal Tampubolon yang menghasilkan dialog yang gurih. Kita akan mendengarkan Mak melontarkan pepatah orang Minang: kalah mambali, manang mamakai (kalah membeli, menang memakai), petuah-petuah di dapur, dan dialog yang segar saat Hans muncul sebagai karakter yang punya semangat meledak-ledak dan mengatakan pada Mak bahwa ia ingin menjadi pemain sepak bola.

Kita tahu, setiap masakan kadang juga tak sempurna kelezatannya, bisa kurang garam atau kurang bumbu lainnya. Tapi adanya intrik emosi personal Mak dan Hans, adalah bumbu yang melezatkan Tabula Rasa. Saat Hans bergurau dengan Mak di dapur, saat Mak diajarkan memakan makanan buatan Hans.

Dewi Irawan juga tidak pernah mengecewakan dalam setiap peran ibu yang ia perankan. Ia meyakinkan sebagai seorang Ibu Minang yang lihai dan lincah di dapur (dan saya betul-betul “melihatnya”), punya semangat yang seperti tak habis-habis untuk memasak dan membuat Takana Juo tetap eksis, dan berdialog dengan dialek Minang dengan baik. Ia sejajar dengan Christine Hakim di film Merantau (2009) yang juga menjadi Ibu Minang dengan dialek yang kental, hampir tanpa cacat, dan sungguh-sungguh. Pastilah butuh lidah yang dibuat patah-patah untuk melafalkan dialog berbahasa Minang sepanjang film berdurasi 107 menit ini.

Sebagai masakan pertama duet Sheila yang menggandeng Adriyanto, kita sebagai penonton, yang sekaligus tukang makan berharap besar, akan ada menu lainnya, yang tak kalah menariknya, membuat selera terbit, dan membuat kita “kekenyangan dengan nikmat” saat menyantapnya.

TABULA RASA

Sutradara : Adriyanto Dewo Skenario : Tumpal Tampubolon Pemain : Jimmy Kobogau, Dewi Irawan. Ozzol Ramdan, Yayu Unru Produksi : Lifelike Pictures

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s