Resensi

Saat Cinta di Depan Mata Dika

Jangan katakan Raditya Dika sebagai sosok yang maruk, karena Marmut Merah Jambu adalah sebuah bukti kematangannya sekaligus menunjukkan dirinya yang serba bisa.

Di film Marmut Merah Jambu, kita bisa menikmati Raditya Dika sebagai sutradara, sebagai penulis, sekaligus sebagai aktor. Paket komplit itu bisa dikatakan efek kesuksesan atas kebolehan Dika ketika menggarap seri Malam Minggu Miko I dan II. Kehadiran Dika sebagai pekerja kreatif yang serba bisa seakan memberikan harapan baru bahwa dunia kepenulisan juga membukakan pintu serta kesempatan bagi kreatornya untuk melebarkan sayap ke ranah lain.

Sebagai penulis komedi, Dika bukanlah penulis bernapas panjang, karena setiap karya yang ditulisnya selalu singkat. Dia juga tidak menulis novel komedi, melainkan kumpulan cerita penuh homor yang diawali dari kumpulan cerita di blog yang dibukukan dalam Kambing Jantan (2005), disusul Cinta Brontosaurus (2006), Marmut Merah Jambu (2010) dan Manusia Setengah Salmon (2011). Semuanya juga sudah difilmkan.

Karena yang ditulis pendek-pendek, ketika dialihkreasikan dalam bentuk film, maka jadilah sebuah jahit-menjahit cerita sehingga membentuk suatu kesatuan. Dari sekian bab yang ada dalam Marmut Merah Jambu, hanya tiga bab yang masuk ke dalam film, yaitu Orang yang Jatuh Cinta Diam-diam, Peretemuan Pertama dengan Ina Mangunkusumo, dan Misteri Surat Cinta Ketua OSIS. Bab Marmut Merah Jambu sendiri yang diangkat sebagai judul buku ibarat sebuah jarum dan benang yang mampu menjahit bagian yang kosong.

Ini mengingatkan saya pada film Mereka Bilang Saya Monyet!, dalam film itu, Djenar juga sama seperti Dika, menunjukkan bahwa dia tak hanya pandai menulis. Dia memilih sejumlah cerita saja: Lintah dan Melukis Jendela. Dia menyutradarai sendiri. Dia juga bisa menghidupkan sendiri tokoh-tokohnya ke dalam film. Bisa merangkum ceritanya dalam sebuah kumpulan cerita, dan memilih sejumlah cerita saja untuk dinikmati sebagai sebuah film panjang.

Marmut Merah Jambu masih menawarkan rasa yang sama, seperti karya Dika terdahulu yang sudah dibukukan. Masih bicara dan berkutat di tema percintaan anak remaja, tentu saja dengan latar belakang kehidupan SMA. Drama percintaan anak SMA, dibalut humor, itulah jualan andalan Dika yang selalu ia suguhkan kepada kita.

Dengan mengambil gaya penceritaan flash back, Dika menceritakan kisah SMA-nya yang kelam karena tak kunjung memiliki kekasih. Berdua dengan temanya, Bertus, mereka berjuang mati-matian meluluhkan hati perempuan dengan cara-cara yang konyol: menelepon satu per satu perempuan yang mereka suka, dan menembaknya lewat telepon. Tentu saja perempuan itu menolak cowok yang tak macho, dan hanya berani mengatakan perasaan via telepon. “Mending gue mati,” kata perempuan di seberang, sesaat setelah Bertus menembaknya.

Dika memang tipikal anak yang tak banyak teman, dan Bertus, sebagai teman dekatnya juga bukan cowok populer. Sehingga, sebagai sepasang sahabat yang bernasib sama, mereka mencari cara supaya didekati perempuan. Mereka juga bermimpi seperti seorang cowok tampan —anak basket yang sangat eksis dan digilai semua anak perempuan di sekolah.

Karena putus asa tak kunjung diterima pernyataan cintanya pada sosok yang mereka sukai, Bertus yang selalu punya ide-ide gila dan kadang tak masuk akal, melakukan sesuatu. Sampai terpikirlah oleh mereka untuk membuat grup detektif di sekolah, supaya mereka bisa eksis, dibutuhkan, dan dengan begitu, ada perempuan yang menggilai Dika dan Bertus.

Perjalanan grup detektif itu dimulai dari misi pertama yang konyol, membantu guru olahraga mereka yang konon, kehilangan bola basket sekolah. Duo grup ini langsung turun tangan dan membeberkan hal-hal yang membuat guru sekolah mereka itu geleng-geleng kepala. Kehadiran Cindy (Sonya Pandarmawan), yang memecahkan misteri hilangnya bola basket itu membuat grup detektif buatan Bertus dan Dika mendapat tambahan satu anggota baru, sekaligus langkah awal keduanya dikenal di sekolah.

Satu per satu misteri mereka pecahkan, termasuk misteri surat kaleng ketua OSIS. Meskipun mulai terkenal di sekolah akibat prestasi membantu ketua OSIS –dan mereka memiliki ruangan khusus- Bertus dan Dika tak kunjung mendapatkan pacar. Dan pada misteri coretan misterius di dinding sekolah lah, menjadi misteri yang dibaliknya, ada hati seorang perempuan yang tersembunyi.

Cerita humor ala Dika memang enak dinikmati tanpa perlu mendebat logikanya, karena akan banyak hal-hal tak masuk akal sepanjang film. Kita cukup siap-siap dibuat ketawa tanpa perlu mencari kebenarannya di realitas. Sekali lagi, komedi tetaplah komedi yang kadang menyimaknya tak perlu pakai otak, dan sedikit menyalakan hati. Sebab, ciri komedi remaja khas Dika, pastilah tersimpan renungan tentang perasaan anak remaja yang dalam masa pubertas, pencarian cinta dan sebagainya.

Sayangnya, sebagai anak yang bersekolah dan besar di Jakarta, Dika tak mewakili remaja Indonesia pada umumnya. Komedi yang ia hadirkan pun sangat Jakarta sentris. Latar belakang kehidupan masa SMA yang porsinya kira-kira 70 persen dari keseluruhan cerita, hanya mampu menggambarkan lika-liku pencarian cinta dua ABG Jakarta, dari kalangan menengah atas pula. Artinya, Dika ada pr besar setelah semua bukunya difilmkan, mampukan ia menulis komedi atau drama percintaan dengan keluar dari cara pikir anak Jakartanya? Dan tidak melulu mengenai dirinya dan cintanya…

Marmut Merah Jambu juga menceritakan harapan bahwa berkhayal memiliki cewek tercantik di sekolah adalah bagian dari hak cowok yang tak populer juga. Seperti Dika, yang merasa jatuh dari cinta pada perempuan cantik bernama Ina Mangunkusumo. Namun sebagaimana dalam dongeng-dongeng, sang ratu cantik pasti jatuh ke tangan pangeran tampan. Ina sama sekali tak tertarik pada Dika, ia hanya sempat kagum karena aksi Dika dan geng detektifnya yang menguak sejumlah misteri. Apalagi di akhir cerita, Ina milik orang lain, dan Dika hanya membiarkan harapannya menguap. Adegan yang subtil adalah ketika Dika luput membuka matanya, bahwa cinta itu ada di sekitarnya, bahkan lebih dekat dari matanya. Sayangnya, ia tak membuka mata lebih lebar lagi, bahwa cinta sebenarnya sudah ada sejak lama di dekatnya, dan ia lamur memandang keindahan yang jauh.. dan teka-teki di dinding sekolah hanyalah sedikit kode atas perasaan Cindy pada Dika.

Marmut Merah Jambu cukup segar untuk para remaja yang sedang dalam pencarian cinta. Kadang, kita menghabiskan waktu terlalu lama untuk menjangkau langit (sebagaimana khayal Dika memiliki Ina), padahal di sekitar kita, setangkai mawar telah lama ingin dipetik (saat Cindy telah dari lama menyukai dirinya, namun Dika tak menyadarinya).

Film ini juga berhasil mempertemukan duet Christoffer Nelwan dan Julian Liberty. Akting Julian akan mengocok perut sepanjang film. Adegan saat keduanya saling menjauh karena kesalahpahaman orientasi membangun grup detektif hingga keduanya nyaris sama sekali tak bertegur sapa, adalah bagian terbaik dari drama pertemanan sepasang sahabat yang tuna asmara tersebut.

Di bagian akhir, kita dibuat tak terkekeh lagi saat melihat Bertus dewasa (diperankan Kamga Tangga) memiliki tiga istri. Sementara, Dika baru menyadari cintanya (Cindy dewasa diperankan Franda) — mawarnya yang hampir layu, harus segera di petik di hari pernikahan Ina itu.

MARMUT MERAH JAMBU

Sutradara Raditya Dika, Produser: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Pemeran: Raditya Dika, Franda, Kamga Mo, Tio Pakusadewo, Bucek Depp, Dewi Irawan, Jajang C.Noer, Christoffer Nelwan, Sonya Pandarmawan, Julian Liberty Produksi: Starvision Plus

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s