Resensi

Tokoh-tokoh yang Tenggelam

Meski kisah yang diusung bukan lagi menu baru, yaitu kisah cinta tragis anak manusia karena persoalan adat, film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck nyantanya tetap ditonton. Prestasi bahwa film itu masuk deretan senarai film laris sepanjang tahun 2013, perlu diiringi dengan kesadaran bahwa sebenarnya ada tokoh-tokoh yang tenggelam di balik kesuksesan itu.

Adegan ketika Hayati (Pevita) menonton pacuan kuda. Ia berbusana ala gadis Eropa. (sumber foto: http://tikamustofa.files.wordpress.com)

Adegan ketika Hayati (Pevita) menonton pacuan kuda. Ia berbusana ala gadis Eropa. (sumber foto: http://tikamustofa.files.wordpress.com)

Perdebatan ini di kepala saya muncul saat melihat betapa hebatnya Sunil Soraya memvisualiasikan buah karya Hamka, khususnya tentang gambaran di beberapa bagian. Langsung saja, bahwa saya sepakat dengan Leila S.Chudori yang merasakan ada bayang-bayang The Great Gatsby yang diwakilkan tokoh Aziz, seorang pribumi kaya raya, hidup mewah, dan sangat menyenangi kehidupan hura-hura.”The Great Gatsby masuk Sumatera Barat,” tulis Leila dalam resensinya di Tempo.

Saya kontan tertawa membacanya, tidak hanya karena merasakan yang sama. Namun, itu adalah ledekan yang sebenarnya patut dibicarakan. Kenapa? Karena itu, tidak hanya soal distorsi atau bauran kreativitas terhadap apa yang sineas tonton dan yang ia kagumi. Sunil boleh saja suka dengan karakter yang hidup di kepalanya, yang di benak kepala lain, orang sudah pasti mengidentikannya dengan suatu film tertentu. Nah, tidak sampai di situ, bahwa kita harus pelajari Sunil lebih jauh. Film ini adalah karyanya yang kedua setelah Apa Artinya Cinta? (2005), sebelumnya ia juga menjadi produser untuk Eiffel I’m in Love (2003) serta 5 cm (2012).

Memang, ada hal yang sudah lama saya rasakan sendiri untuk film-film yang disajikan dapur film Soraya. Kita mesti sadar saat menonton, tidak boleh terbuai dengan apa yang terhidang di depan mata. Bahwa kenapa terasa ada sosok The Great Gatsby di Sumatera Barat, lebih karena cara dan sudut pandang Soraya meninabobokan penontonnya. Ini mungkin lebih tepat disebut sebagai suatu kajian kritis, bahwa hemat saya, Soraya agaknya mengajak penonton untuk menelan mentah-mentah tentang konsep kemewahan. Adegan yang menunjukkan sisi glamour tempo dulu dan flamboyannya Aziz, adalah segelintir saja argumen yang bisa dengan jujur menyatakan ada kesadaran palsu yang ditanamkan tentang hidup mewah. Lebih-lebih, ketika sosok Zainuddin (Herjunot Ali) yang tadinya hidup dalam penderitaan yang bertubi-tubi (fisik dan batin), kemudian dengan mantra yang lebih ajaib dari mantra Tuhan, dia menjadi kaya raya. Hidup di rumah mewah, dan megah seperti istana kerajaan. Punya mobil klasik yang elegan dibanding yang dimiliki Aziz di kampung halamannya di Padang Panjang. Di benak Hamka, mungkin tidak seperti itu semestinya hidup Aziz dan keluarga digambarkan. Sampai suatu hari saya menuliskan status ini di Facebook:

Di dapur film Soraya, kita dininabobokan tentang konsep kemewahan, hidup enak, dan sedikit aroma tentang hedonisme. Kita diajarkan bermimpi bahwa hidup itu mudah, seolah-olah manusia bisa punya mantra sehebat mantra Tuhan. Jadi, perlu hati-hati menangkap pesan filmnya (di luar subtansi yang diadaptasi) dan yang terpenting, menontonlah dalam keadaan ‘sadar’…

Visualisasi itu memang indah. Ingin rasanya kita ada di sana. Tapi penonton tidak boleh lupa, tahun demikian, tahun 30-an, siapa pribumi di Minangkabau yang sungguh-sungguh semapan itu. Lagipula, saat itu orang sibuk berperang dan dalam masa penjajahan. Memang juga terlihat di sana, dari kehidupan adik Aziz, Khadijah, ia sungguh telah terjajah secara busana. Gadis Minangkabau yang sok gaya noni belanda. Karakter Khadijah semestinya tidak jatuh ke tangan Gesya Shandy yang terlalu ‘kota’. Meski hanya peran pendukung, ia begitu buruk memerankan gadis minang kaya raya.

Reza Rahadian memang tidak gagal memerankan Aziz. Niscaya, ia tidak pernah main buruk. Hanya saja, dalam hal ini, tokoh yang ia perankan yang tenggelam. Tokohnya adalah hasrat memunculkan apa yang bersemayam kuat di benak sineasnya. Sebab berada di bawah bayang-bayang, tokohnya dihadirkan sebagai suatu kontaminasi imajinasi.

Tapi, setidaknya saya senang, ada Herjunot Ali dan Pevita yang menyelamatkan. Keduanya, sebagai tokoh utama, sudah menunjukkan kemampuan yang terbaik. Pevita patut dipuji karena tidak sok Minang, khususnya dalam bertutur. Dalam kebanyakan film yang mengambil latar tanah Minangkabau, dan sebagai orang Minang, saya sebal mereka yang meminang-minangkan kalimat dalam bahasa Indonesia. Untungnya Hayati (Pevita) mau belajar, dan adegan di Batipuh, saat ia naik di atas bendi, itu mampu mewakili kecantikan gadis Minang yang indah dipandang rupanya.

Junot, dia juga belajar dari kegagalannya dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah, di mana sangat datar bermain dengan Bella. Namun, sebagai anak kota, yang terbiasa dengan film-film urban (Realita Cinta dan Rock n Roll tahun 2005 misalnya), akting Junot layak diberi pujian. Apalagi, bila mesti belajar bahasa Makasar.

Saya harus bilang pada anak-anak muda yang semasa menonton film ini di bioskop, mereka banyak yang tertawa. Entah menertawakan dialog yang versi mereka mungkin terdengar lebay. Tapi, harus dipahami, sebagai Buya yang puitis, Hamka memang memikat dengan dialognya yang berbunga-bunga. Anak zaman sekarang saya rasa pasti tak suka. Namun bukanlah roman Balai Pustaka namanya jika dialognya tak indah, dan untuk sebuah adegan perpisahan, dipastikan butuh waktu yang panjang. Dan mungkin juga, yang terasa hanyut oleh suasana, akan terkuras airmatanya. (*)

Dodi Prananda, penikmat film

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

Sutradara         : Sunil Soraya
Skenario           : Donny Dhirgantoro, Imam Tantowi
Berdasarkan novel karya Hamka
Pemain             :  Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Jajang C.Noer

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s