Mimpi-mimpi (Kopong) yang Dibangun Industri

Belakangan ini, ada yang dua hal yang membuat saya geram. Pertama, hari itu, halaman depan Media Indonesia ditutup penuh oleh iklan raksasa sebuah produk cat. Headline tertutup. Ruang fakta dirampas. Informasi tertunda karena iklan yang loba. Kedua, pernyataan Gita Wirjawan di media yang menyebutkan bahwa Indonesia masih butuh banyak mal. Dua hal ini sungguh memancing saya naik pitam.

consumerism
ilustrasi dari http://reney.files.wordpress.com

Kasus yang terjadi di Media Indonesia, dan beberapa hari setelahnya diikuti oleh Kompas, bagi saya tak ubah seperti penggerusan ranah publik: yang harusnya disuguhkan fakta penting dan haram rasanya bila informasi (dan fakta) harus ditunda. Kita bicara soal koran harian yang diharapkan mampu mengabarkan dengan cepat (walaupun tidak secepat media elektronik seperti televisi, koran online dan radio). Hal ini berbeda dengan sampul majalah yang sering diperlakukan semaunya oleh iklan, iklan tampak buas dan ganas, merampas lahan-lahan yang dipakai untuk menampilkan materi sampul.

Bila majalah diperlakukan demikian, kondisinya tak sama dengan koran. Di koran, apalagi kita bicara media nasional dengan jangkaun pembaca yang luas, suguhan headline menjadi penting dan utama. Harus dikabarkan segera. Namun, bila kondisinya iklan menutup semua halaman depan, apa jadinya? Bisa dikatakan, bekerja seeking and delivering the truth tergerus, dari yang semula demi kepentingan publik, menjadi kepentingan pengiklan.

Saya kira, ini gejala awal yang berjangkit, sebagaimana yang disebutkan oleh Zulhasril Nasir dalam tulisannya Perdaya Neoliberalisme, Konsumerisme dan Identitas Generasi Muda oleh Zulhasril Nasir dalam Nasion Vol. 5 No. 2 Th. 2008, Hlm. 66-100: bahwa terjadi proses linglung (disorientasi) jurnalisme.

Saya jadi teringat apa yang digadang-gadangkan oleh New York Times sebagai garis api (fire wall), di mana antara ruang iklan dan ruang berita dipisahkan. Tapi, di saat aroma neoliberalisme menguar keras, dan media merasa terciprat untung darisitu, istilah garis api menjadi tidak sahih lagi. Kita menjadi masa bodoh dengan tugas kesegeraan wartawan dalam mewartakan, sebab, di sini uang yang bicara, uang yang bekerja.

Benar bahwa ada kondisi bahasa bisnis masuk ke redaksi. Dan tak salah lagi, bila bahasa marketing dipakai wartawan dan pembaca adalah pelanggan, sementara berita berubah menjadi layanan pelanggan (customer services), redaktur adalah penjaja (salesman).

Sejarah media di negeri ini pernah punya cerita kelam. Di saat media di Indonesia harusnya merayakan suka cita pasca bertahun-tahun terbebas dari rezim orde lama, kita justru melihat kondisi yang lain pasca reformasi 1998. Hemat saya, harusnya kebebasan itu dirayakan sebaik mungkin, dan seberkualitas mungkin. Tapi, makin ke sini, kita seperti merasa media tampak mengalami kemunduran yang pesat (dalam konteks pengembanan tugas/misi jurnalisme), di tengah badai dan krisis pertarungan. Media terdorong ke ranah neoliberalisme karena terdesak pada euforia liberalisasi media sejak reformasi itu. Peluit panjang kebebasan itu juga menandai dibukanya kesempatan sebesar-besarnya, seluas-luasnya, bagi yang punya modal. Struktur kepemilikan media dirancang sedemikian rupa, yang semula berdiri pada core yang kecil-kecil, lalu membentuk kesatuan yang besar (grup).

Singkatnya, media kita seperti sedang tersesat di rimba belantara neoliberalisme yang ‘jahil’ dan ‘serakah’. Saya setuju bahwa kita tak perlu berpanjang-panjang, sebab induk atau akar neoliberalisme sendiri, Amerika Serikat, juga tidak sehat. Imbas dari kiblat ini justru membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Sekarang, kita merasa kasihan pada media-media yang kesepian, yang tak punya induk. Mereka bertahan sendirian menghadapi gempuran persaingan grup yang berkuasa, saya menganalogikannya dengan raksasa yang lapar (pengiklan atau pemodal). Sebutlah misalnya, Koran Jakarta. Atau, di daerah-daerah, cukup banyak media yang hidup segan mati tak mau.

Sementara itu, pertarungan yang sengit antar grup terus terjadi. Uang-uang terus berputar di sana, dan suara pemegang saham bagaimana pun harus didengarkan oleh ruang redaksi (news room). Berita bisa jadi tidak lagi balance, sebab, eksekusi berada di tangan yang punya modal. Nasib jurnalis yang bernaung di bawah grup-grup raksasa seperti tikus yang terjebak di antara kerajaan kucing yang kelaparan. Demi bertahan, ia harus ikut aturan majikan, daripada ‘dibunuh’ sia-sia.

Jadi, rasanya tak heran kenapa Laurie Garret (wartawan AS yang meraih Pulitzer bidang sains dan kesehatan) sebagaimana yang dinukilkan dari tulisan Zulhasril Nasir, keluar dari Newsday (kelompok Times Mirror) pada Maret 2005 dengan alasan atasannya mulai ‘sakit’: mengutamakan pemegang saham, lalu Wall Street. Sementara, kepentingan pembaca diletakkan pada urutan terakhir. Keuntungan (profit) yang bersumber dari iklan, yang turut dipengaruhi rating and share, menjadi “dewa” di atas segala “dewa” media.

Industri Sedang Sakit

Karena itu, saya bilang: industri sedang sakit. Kita lihat, ulah industri media selama ini dalam mengajarkan konsumerisme. Data berbicara: bahwa belanja iklan di negara ini sangat tinggi. Saya memperoleh data terbaru, di tahun 2012, belanja iklan Indonesia sebanyak Rp 87,471 triliun (tumbuh 20 persen dari tahun sebelumnya, menurut Republika). Nilai itu terdiri dari pangsa iklan: televisi sebesar 64 persen, surat kabar 33 persen, tabloid dan majalah 3 persen.

Sementara itu, sumber iklan terbesar berasal dari sektor telekomunikasi (terjadi di seluruh dunia), yaitu menyumbang 4,9 triliun. Yang menarik di sini, data pada jurnal, sedikit bertolak belakang: di jurnal disebutkan bahwa kelompok produk yang dominan berasal dari kosmetik. Lainnya, pertumbuhan yang berarti juga dialami sektor konsumer makanan dan minuman akibat kian bervariasinya makanan. Menyusul, 34 persen, iklan pemerintah dan partai politik (menyongsong panggung politik 2014, sehingga partai politik ‘bersolek’ lewat iklan di layar kaca. Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P31) memerkirakan belanja iklan selama tahun 2013 akan mencapai angka Rp. 124 triliun (peningkatan 16 persen). Ini angka yang fantastis.

Setelah menyebut angka-angka ini, bagaimana mungkin kita menyebut negara ini negara miskin? Saya ragu untuk mengatakannya. Tapi, di balik itu, kita menjadi miris sendiri karena bisa dibilang betapa buruknya wajah konsumtif negara kita.

Televisi bisa dibilang tersangka utamanya. Di sana (televisi), sebagaimana data yang terdapat di jurnal, produk kosmetik menempati jumlah iklan terbanyak di sejumlah televisi arus utama. Sebab, untuk produk ini, pasarnya terbilang banyak, apalagi bila melihat jumlah populasi perempuan di Indonesia, khususnya yang berusia remaja dan dewasa. Mereka adalah sasaran empuk industri dari segala sektor: untuk urusan kecantikan, industri kosmetik memperbudak mereka. Untuk urusan berpakaian, industri fashion memperdaya mereka. Untuk urusan bacaan, makanan, dan gaya hidup, ada industri lainnya. Dan semuanya itu, muaranya ada di industri media. Industri media yang mengajarkan mereka untuk jadi budak hasrat belanja. Ini tidak lagi sekadar istilah: pekerja tanpa gaji, sebagaimana kata Dedy Nur Hidayat, yang saya pinjam dan saya kutip dalam Nasir, 2008 dalam Effendi, 2002, yaitu orang yang patuh menonton acara komersial televisi. Mereka terbuai oleh mimpi-mimpi yang dibangun industri.

Benar bahwa remaja pada generasi saya adalah donatur sukarela kapitalisme, bila melihat mereka yang sehari-hari dibesarkan oleh media-media yang seperti setan dan membisikkan ke telinga mereka: ayo belanja, ayo belanja! Mereka menggeser kalimat sakti: cogito ergo sum yang artinya aku berpikir, maka aku pun ada menjadi slogan khas mereka: saya belanja, maka saya ada. Anehnya, mereka (khususnya yang perempuan) senang diperbudak. Lihat bagaimana perilaku membaca majalah dan ketakpandaian mereka dalam seleksi bacaan (uses and gratifications). Mereka membaca Go Girls, GirlFriend, Teen, Cosmopolitan, Chick, Bazar dll,  yang isinya tak lebih dari sekadar tipu daya belanja, membuat mereka terus berhasrat. Majalah semacam itu mendidik mereka untuk membangun mimpi-mimpi kopong. Kata teori uses and gratifications, dengan bacan itu, mereka dipuaskan (atas imbalan) karena merasa dipelihara oleh mimpi untuk kesenangan, pelarian dari rasa khawatir, peredaan rasa kesepian, dukungan emosional, perolehan informasi dan kontak sosial.

Tergambar di sini, betapa tingkat konsumsi orang Indonesia itu tinggi. Masyarakat kelas menegah (dan juga atas), yang memperoleh terpaan dari media untuk berlaku konsumtif, memuaskan hasrat-hasrat mereka di mal. Mereka menjadi bangga duduk mengobrol di kedai kopi mahal, dan pulang menjinjing paper bag bertuliskan nama merek-merek terkenal yang mencirikan identitas dan kelas sosial mereka. Sementara, mereka yang berada di kelas menengah bawah, dengan terengah-engah berusaha memenuhi hasrat belanja mereka, dipuaskan oleh produk-produk keluaran Cina, Taiwan yang relatif bisa dijangkau.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana suatu masa, mal masuk desa. Orang desa yang punya kekhasan komunikasi, yaitu dicirikan dengan gotong royong, kerjasama, dan keharmonisan bertetangga akan disulap menjadi orang yang individualis, egoisme yang tinggi, tidak lagi mengenal kerukunan, dan komunikasi lisan mereka tergerus karena jaringan telekomunikasi begitu pesat merantai mereka, sehingga orang desa tak ubah seperti orang kota yang di komunitasnya mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Inikah yang diinginkan Gita Wirjawan dengan pernyataannya bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak supermarket dan mal karena pertumbuhan konsumsi nasional yang diperkirakan terus meningkat?

Apa bangganya menjadi negara dengan konsumsi akumulatif dengan nilai Rp. 10 ribu triliun (dan diprediksi mencapai Rp. 360 ribu triliun), bila kita hanya menjadi negara yang bisanya hanya mengonsumsi dan tak pandai memproduksi? Dan, tak kasihankah kita pada mereka kelas menengah ke bawah, yang harus berurusan dengan masalah kemiskinan, tapi dipaksa untuk tetap belanja (ini seperti orang lumpuh yang disuruh berdiri).

Saya kira, ini benar-benar sakit! (*)

Dodi Prananda, Wartawan Kampus di FISIPERS Lembaga Pers Mahasiswa Sosial dan Politik, FISIP UI. Selain menulis artikel, ia juga menulis cerpen dan puisi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s