Profil

Okky Madasari: Suarakan Ketidakadilan Lewat Novel

Prestasi menulis Okky kian gemilang pasca meraih Khatulistiwa Literary Award 2012 atas novelnya “Maryam”. Ia bertekad melawan ketidakadilan lewat novel-novelnya yang bertema humanis.

(Dok.Pribadi Okky)

(Dok.Pribadi Okky Madasari)

Okky memulai kariernya sebagai wartawan setelah menyelesaikan studinya di Jurusan Hubungan Internasional, di Universitas Gajah Mada. Menjadi wartawan, impiannya sejak kecil. Bahkan di majalah dinding semasa bersekolah di SMA 1 Magetan, Jawa Timur, ia menulis tentang keadilan, masalah-masalah bangsa dan isu yang tak terlepas dari manusia.

Tapi, karier sebagai wartawan bidang hukum itu tidak berlangsung lama. Belakangan, Okky memutuskan menjadi penulis novel  sembari menyelesaikan pendidikan S2 –nya di jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia,  dan mengelola Yayasan Muara Bangsa (bergerak dalam bidang pendidikan usia dini dan pendidikan anak-anak pinggiran).

Debut pertama Okky berjudul Entrok. Ia terinspirasi neneknya yang rajin bercerita, untuk mendapatkan entrok (dalam dialek zaman dulu khas Magetan-Madiun, entrok berarti bra), dibutuhkan kerja keras. Entrok mengisahkan sosok perempuan Jawa, yang dipadu dengan latar keberagaman keyakinan, kesewenang-wenangan militer dan kediktatoran orde baru.

Okky mengaku tujuan besarnya dalam berkarya adalah turut menyuarakan persoalan ketidakadilan yang ada dalam masyarakat kita. Okky menuntut keadilan, khususnya mereka yang terbungkam dan tak mampu bersuara. Suara-suara mereka diwakili Okky lewat novelnya. Misalnya, dalam novel Maryam (2012), Okky menuturkan keprihatinannya atas kekerasan berkedok agama yang sering terjadi belakangan ini. Maryam merupakan tokoh utama, seorang penganut Ahmadiyah asal Lombok yang didiskriminasi, terusir dari kampung halamannya sendiri karena berbeda keyakinan.

Dengan berani, Okky mengangkat kisah yang sangat sensitif tentang kaum minoritas kelompok Ahmadiyah dari sudut pandang hak asasi manusia. Dewan Juri KLA 2012 memuji karya Okky sebagai novel yang berhasil mengangkat masalah kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyah dari hiruk-pikuk berita media dan kontroversi di sekitarnya ke tingkat yang berbeda. Maryam merupakan kritik pedas terhadap penindasan yang dilakukan pihak kuat terhadap yang lemah atas nama agama.

Kepekaan dalam mengendus ketidakadilan yang terjadi di sekitar, lewat kemampuan wartawan yang sempat ia pelajari, nose for news, Okky melakukan riset selama enam bulan di Lombok. Tanpa cemas, Okky mendatangi langsung lokasi pengungsian kaum Ahmadiyah di Gedung Transito dan mewawancarai orang-orang Ahmadiyah yang rumahnya dirusak massa.

Okky merasa geram, nilai-nilai kemanusian terus diabaikan. Banyak sekali ketidakadilan dan penindasan yang terjadi dalam masyarakat. Sebagai penulis, Okky mencoba merespon itu. Ia melawan. Ia membungkus isu sosial yang aktual itu, ke dalam ranah fiksi. Uniknya, karyanya tetap dibumbui kisah percintaan dalam perbedaan. Ia berusaha menggugah kesadaran orang lain untuk melawan.

“Karya saya baru mampu bersuara lirih lewat kesadaran pembaca yang pelan-pelan, sedikit demi sedikit, memiliki pemahaman baru terhadap realitas yang saya angkat. Orang berlatarbelakang lain punya cara berbeda untuk melawan ketidakadilan tersebut. Apa pun caranya, lakukan. Kita tidak boleh hanya diam dan menerima,” ujarnya.

Realitas tentang korupsi yang hampir setiap hari kita saksikan di media, juga menjadi perhatian Okky. Isu itu dituangkannya ke dalam novel bertajuk 86 (terbit Maret 2011). Ia berpikir bagaimana agar novel-novelnya mengungkap permasalahan yang tengah dihadapi bangsa. 86 berhasil menembus lima besar penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award 2011.

Terakhir, Okky menerbitkan Pasung Jiwa (2013). Pasung Jiwa mengangkat kisah tentang kungkungan setiap orang yang tak pernah bebas dalam hidupnya. Okky menilai, selama ini, kita terbiasa menurut kata lingkungan, untuk ikut-ikutan, walau mengabaikan suara hati kita sendiri. Lewat Pasung Jiwa, Okky berupaya mendobrak keterpasungan itu.

“Kebebasan baru ada ketika rasa takut sudah tak ada. Kebebasan baru ada jika kita melakukan sesuatu dengan kesadaran kita,” tutur Okky.

Kendati pun demikian, Okky sangsi, apakah kesadaran yang dibangunnya dalam Pasung Jiwa sampai pada pembaca. Ia merindukan pembacanya mendapatkan kesadaran baru tentang arti dan makna kebebasan yang sesungguhnya.

Lewat tulisannya, Okky turut mengukuhkan idealisme yang ia perjuangkan, dan harus ditularkan kepada semua orang. Walau menulis novel yang mengangkat tema-tema sensitif, kekhawatiran akan adanya penolakan atas karyanya atau penarikan, sudah tak menganggu proses kreatifnya berkarya. Okky hanya menganggap itu sebagai risiko berkarya. “Selama ini pun sudah biasa jika ada yang menghujat, tak suka atau keberatan. Tapi, selama tidak melakukan kekerasan dan tidak melawan hukum, ya, kita harus menerima itu sebagai bagian dari kebebasan berpendapat,” tuturnya.

Ke depannya, Okky bertekad akan terus menulis dengan tema-tema serupa. Sebagai bocoran, tahun depan, Okky akan menggarap novel terbarunya, yang masih di bawah payung tema perlawanan pada ketidakadilan. Saat ini, Okky tengah fokus berkonsentrasi menulis tesis S2-nya. (Dodi Prananda, tulisan ini pernah dimuat di Singgalang Minggu)

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s