Nyala Puisi yang Tak Pernah Padam

Di saat adiknya terbaring lemah di rumah sakit pasca kecelakaan akhir tahun lalu, ia mengumpulkan tulisan-tulisan adiknya yang tersebar di kanal media sosial. Buku itu diberi judul Teorema Pagi. Jose Rizal Manua, penyair dan dramawan, memuji karya adiknya itu sebagai tulisan aneka corak yang ditulis dengan jujur dan rendah hati, seperti jendela yang terbuka bagi angin yang sejuk.  Sementara itu, presenter dan penyiar radio Arie Dagienkz, menyebutnya kakak idaman para adik di dunia.

(Dok.Pribadi Astrid)
(Dok.Pribadi Astrid)

Mungkin banyak cara bagi seorang kakak menunjukkan cinta dan kasih pada adiknya. Tapi, Astrid Dhorotea (29), putri pertama pasangan Regina Maria Artati dan Eusebius Thomas Bambang Tridjoko, punya cara tersendiri menunjukkan perasaan itu. Ia mewujudkan satu mimpi kecil adiknya, Kristo Basko, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia angkatan 2010. Mimpi membukukan karya.

Jauh sebelum Kristo mengalami kecelakaan, Astrid memahami mimpi adiknya itu. Dia sangat mengenal bakat menulis yang Kristo miliki, pun kemampuan Kristo dalam seni teater. Selain aktif di Komunitas Sastra FISIP UI, Kristo kerap terlibat sebagai aktor dalam pementasan Teater Paradoks.

Sebagai kakak, terlalu banyak kenangan indah yang ia alami bersama Kristo, termasuk suatu hari, sebulan sebelum Kristo kecelakaan. Kali ini pembicaraannya tidak seputar buku-buku yang mereka baca berdua sebelum tidur, tidak juga seputar naskah-naskah yang hendak diajukan ke penerbit. Tapi, dari obrolan panjang hingga dini hari, di balkon atas rumah, Kristo mengajaknya berbicara tentang kuliah, tentang kekasihnya, tentang cita-citanya, tentang apa yang ia kerjakan, tentang Tuhan, tentang semesta. Pun sampai tentang apa yang selalu dirasakan adiknya itu ketika akan terjadi sesuatu dalam keluarga mereka.

Astrid masih mengingat jelas dengan perasaan berkecamuk, ia mendengar Kristo mengatakan,”Gue selalu seperti dikasih petunjuk sama Tuhan, kalau mau terjadi hal nggak enak di keluarga kita, Mbak. Nggak tahu kenapa, tapi pasti gue tulis. Karena orang lain belum tentu percaya,” kenang Astrid menceritakan.

Dada Astrid terasa sangat hangat, pun airmatanya ingin meleleh saat Kristo berkata: “Gue emang nggak selalu bisa ada buat jagain lo Mbak, tapi gue selalu ada buat lo butuh gue selamanya.”

Malam itu, Astrid merinding mendengarnya. Mendengar Kristo berbicara demikian, ia merasa terberkati, merasa dicintai. “Itu terdengar sebagai kalimat terindah,” sebutnya. Tak kalah tergugunya ketika Astrid mendapati Kristo menulis ‘koma’ di twitter dan keesokan harinya dia benar terbaring sampai sekarang.

Kecelakaan di Tanjung Barat, Jakarta Selatan, yang menimpa Kristo saat dalam perjalanan menuju kampus, mungkin menjadi mimpi buruk bagi keluarganya. Akibat dari kejadian nahas tersebut, Kristo mengalami patah tulang dan belikat kiri dan pendarahan di otak.

Saat Kristo dirawat di Rumah Sakit Bunda Margonda Depok - (Foto Dok.Pribadi)
Saat Kristo dirawat di Rumah Sakit Bunda Margonda Depok – (Foto Dok.Pribadi)

Dan saat adiknya terbaring tak sadarkan diri itulah, Astrid menggagas ide untuk membukukan tulisan Kristo, menyemai benih mimpi Kristo. Adik tercinta yang selalu hadir sebagai sosok yang baik, tenang, sedikit humoris, penyabar, dewasa di matanya. Adik yang memiliki minat yang begitu besar dalam dunia tulis-menulis. Menurut Astrid, membukukan tulisan, adalah cita-citanya (Kristo), bagian dari mimpi besarnya.

“Ketika dia terbaring tidak sadarkan diri, aku merasa takut kehilangan dia. Lalu aku ingin membuat sesuatu yang bisa memompa semangatnya. Aku ingin Kristo tahu, kalau aku bangga padanya. Aku juga ingin saat dia bangun, sebagian dari mimpinya terwujud. Memiliki sebuah buku yang dia tulis, yang bisa dinikmati orang banyak,” kenang Astrid bercerita.

Usai menyusun naskah, Astrid kemudian meminta sejumlah penulis memberikan testimoni. Penulis seperti Hilbram Dunar, Moammar Emka, M. Aan Mansyur, Falla Adinda meramaikan halaman testimoninya pada buku terbitan sebuah penerbit di Yogyakarta tersebut. Dibantu Fransiskus Xaverius Bonni Wicaksono (Bonni), adik laki-lakinya, ia juga meminta Darius Sinarthrya, presenter sekaligus aktor untuk turut mengapresiasi, juga menyelipkan doa. “Tuhan menjagamu Kristo,” tulis Darius.

Saat Kristo terbaring lemah, koma, dan operasi berkali-kali, perhatian datang dari berbagai pihak. Buktinya, sebagai bentuk solidaritas, rekan-rekan Kristo di kampus turut membantu penyelenggaraan acara bertajuk ‘Satu Hati untuk Kristo’ yang digelar 9 Maret silam di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia. Malam itu Payung Teduh, Komunitas Teater Paradoks, Komunitas Tari FISIP UI dan Vocal Group FISIP UI turut menghibur. Lewat acara penggalangan dana itu, dana yang terkumpul sebesar Rp. 53 juta, jauh dari biaya satu kali operasi yang mencapai Rp. 75 juta. Kerja keras itu, dan niat tulus membantu Kristo betul-betul membuat Astrid percaya bahwa adiknya sungguh diterima di komunitas dan lingkungan di kampusnya.

Musim Berganti, Nyala Puisi Terang Kembali

Selama lebih dari tiga bulan, Kristo menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bunda Margonda Depok, namun perangsuran yang terjadi sangat kecil. Kristo berkali-kali dioperasi, sempat dipindahkan ke Rumah Sakit di Bekasi. Hingga saat ini keluarganya memutuskan untuk perawatan di rumah, di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan. Walau pun belum sembuh total, dari hari ke hari, ada perkembangan yang membuat Astrid yakin bahwa nyala ‘puisi’ dalam diri adiknya itu tak pernah padam.

Astrid meyakini nyala puisi dalam hatinya, dalam hati Kristo, sebentar lagi akan terang kembali. Ia tersenyum melihat Kristo berangsur-angsur membaik, menggerakan kaki dan tangannya pelan-pelan. Tapi, Kristo belum bisa berinteraksi atau berkomunikasi. Pandangan matanya juga kadang masih terlihat kosong. Meski tidak perlu ada tindakan medis lagi, Dokter masih belum mengizinkan Kristo untuk duduk di kursi roda. Dalam keadaan berbaring, Kristo tetap dibantu dengan obat dan terapi.

Astrid merasakan musim dalam keluarganya seperti berganti. Keceriaan, perlahan-lahan datang lagi. Kemarau seperti telah pergi menjauh dan bersama keluarga besarnya mereka menikmati kebahagiaan musim-musim yang indah. Astrid mengatakan, keadaan seperti ini pada awalnya memang perih, pedih. Terlalu banyak sedih dan airmata. Namun, Astrid memetik suatu hikmah yang sangat luar biasa.

“Mata kami seperti dibuka, bahwa ternyata selama ini, Kristo menabur begitu banyak kebaikan, sehingga saat Kristo terbaring seperti ini, kebaikan dan berkat dari Tuhan melalui sesama tidak pernah terasa habis,” ungkap Astrid. Ia menambahkan, keluarganya mendapat pertolongan oleh banyak orang. Teman, kerabat, bahkan orang yang tak mereka kenal. “Kami sekeluarga menjadi semakin kuat dan menyadari, bahwa kami ternyata benar-benar seperti satu tubuh. Ketika yang satu sakit, yang lain merasakan yang sama,” sambungnya lagi.

Demikianlah musim berganti. Lima kali operasi besar, dua kali detak jantung berhenti dan Tuhan masih mengizinkan Kristo hidup. “Kami semakin percaya, Kristo sungguh akan dipakai Tuhan, untuk mewartakan kabar suka cita, bahwa tidak ada harapan yg sia-sia kalau dilandasi oleh iman yang teguh,” ujarnya. Dan Astrid juga percaya, puisi dalam diri Kristo benar-benar telah menyala kembali, mennyala dengan terang. Persis buku Teorema Pagi-nya yang juga saat ini bersinar terang, memasuki cetakan kedua. (*)

Feature ini pernah dimuat di Singgalang, 9 Juni 2013

Serimba-rimbanya tempat adalah kota, dan seramah-ramahnya ruang adalah rumah

[Kristo Baskoro, dalam buku Teorema Pagi]

Iklan

2 comments

  1. Menarik 🙂 Dodi. Saya senang membaca tulisan Anda, inspiratif dan garing. Saya senang bisa menemukan blog ini dan saya akan ikuti terus. Belajar dari Anda menulis untuk mewarnai dunia sekalis menjadi kepuasan batin. Terimakasih Dodi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s