Cinta Bunda yang Tak Pernah Habis-habis

Siapa pun mungkin tak kuasa membendung airmata bila bicara pengorbanan seorang Ibu. Termasuk saat Endri Pelita menyuguhkan kisah yang begitu menyentuh tentang keluarga korban lumpur Lapindo Sidoarjo dalam film terbarunya bertajuk Airmata Terakhir Bunda. Tidak hanya akan melelehkan airmata seorang anak saat menontonnya, namun juga membuat kita sadar, saat ranting hati seorang ibu begitu mudah lapuk, anak-anaknya akan menguatkannya, akan selalu membuatnya kokoh.

air_mata_terakhir_bunda-20130911-002-rita
sumber: kapanlagi.com

Airmata Terakhir Bunda berkisah tentang seorang bungsu bernama Delta Santoso (Ilman Lazulva – Vino G. Bastian), yang hidup di keluarga kecil di Sidoarjo. Di gubuk sederhana, berlantai tanah, dengan dinding kayu di sekelilingnya, ia tinggal bersama saudara laki-lakinya Iqbal (Reza Farhan Bariqi – Rizky Hanggono) dan Ibunya, Sriyani (Happy Salma). Ibunya menanggung luka yang disimpannya rapat-rapat setelah kepergian suaminya ke pelukan wanita lain. Delta mengetahui bahwa dirinya tak berayah. Tapi, orang-orang di sekelilingnya enggan menyebutnya anak yatim, karena rupanya ayahnya yang seorang juragan sepatu masih hidup. Delta kecil bertanya-tanya. Namun, karena dinasihati abangnya untuk tidak bicara soal di mana ayahnya, dan bagaimana wajahnya, Delta tidak pernah lagi bicara soal ayahnya dan toko sepatu tempat ayahnya berjualan.  Suatu hari, tabungan tanya yang menumpuk dalam dadanya, membuat lidahnya tak sengaja melontarkan nama tempat ayahnya berada. Saat Delta minta dibelikan sepatu.

Walau tak dinafkahi suaminya, Sriyani berjuang banting tulang untuk menghidupi kedua buah hatinya. Ia berjualan lontong kupang yang ia jajakan dengan sepeda tuanya. Terkadang, jadi buruh cuci setrika.  Dalam keterpurukan sekalipun, Sriyani tetap tegar, kuat, dan pantang menyerah pada hidup karena ia punya pelita dalam jiwanya: Delta dan Iqbal. Dari kecil, Delta menunjukkan semangat belajar yang sungguh-sungguh. Ia rajin bersekolah, setiap hari dibonceng Iqbal dengan sepeda. Ia punya dua kalimat sakti yang ia hidupkan dalam dirinya, banyak-banyak sabar dan banyak-banyak bersyukur.  Karena itu juga, Delta tidak pernah berkata Tuhan tidak adil untuk hidupnya sebagaimana orang-orang yang pesimis pada sang pencipta. Semangat untuk menyongsong hidup dalam luka sekalipun, ia pelajari dari Ibunya yang selalu menasihatinya dengan petuah-petuah hidup. “Semakin banyak harta, semakin kamu sibuk kamu menjaganya. Tapi, semakin banyak ilmu, dia yang akan menjaga kamu.” Semangat itulah yang mengantarkan Delta menjadi sarjana Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).

Akting bintang cilik Ilman Lazulva dan Reza Farhan patut dipuji. Ilman memerankan Delta dengan baik, sosok yang punya ambisi tinggi untuk terus menggapai cita-citanya, sebagaimana kata pelatih festivalnya yang juga pemilik kios buku: cita-cita itu jangan datar kayak meja, tapi harus tinggi seperti langit. Endri Pelita sadar bahwa senjata terbesar dalam film ini selain karakter Delta, yaitu sosok ibu yang kuat dalam kelemahannnya. Happy Salma bermain nyaris tanpa minus. Ia jadi sosok Ibu yang berjanji tidak akan menangisi meski kehidupan sering kali tidak berpihak kepadanya.

Sebagai karya yang diaptasi dari novel yang konon telah mencapai cetakan keenam, film ini tak luput dari kritik. Sampul film yang tak menarik membuat asumsi buruk di benak calon penonton (pun pada sampul bukunya), bahkan sekilas sampul tersebut saru dengan sampul sinetron.  Kisah yang cukup menarik itu jadi kehilangan ‘wajah’. Tidak selesai pada sampul, kerja penata musik juga kurang terasa menghidupkan suasana. Banyak peristiwa sedih yang dibiarkan berjalan sendirian. Musik tidak ikut membantu menemaninya.

Baik Delta dan Iqbal dididik dalam kesederhanaan dan semangat memperjuangkan hidup dari ibunya. Sebab itu, keduanya tumbuh menjadi anak yang tahu balas budi. Iqbal digambarkan sebagai karakter yang taat beragama, sementara Delta adalah anak dengan kegigihan, dan kemauan belajar tinggi. Pernah sekali ia mengeluh, saat kalah festival. Namun, sahabat sejatinya, menyadarkan dia bahwa dalam hidup kita butuh ‘harapan’. Hanya orang mati yang tidak punya harapan. Bagian itu, melengkapi bagian yang penuh dengan petuah-petuah hidup yang menarik. Sayangnya, porsi kalimat-kalimat berunsur quotable semacam itu terlalu ‘sesak’.  Alih-alih menginspirasi, hal semacam itu justru menganggu dan membuat penonton ‘mual’. Termasuk saat Sriyani memarahi anaknya karena jadi tamu tak diundang di acara kondangan. Petuah yang keluar dari mulut Sriyani yang berdiri di depan pintu, terasa terlalu dibuat-buat, dipaksakakan dan terlalu verbal.

Saat Delta menjelaskan pada Ibunya yang terbaring lemah di ranjang, hal yang sama juga terulang. Delta berkata bahwa ia diterima di ITS, namun Sriyani malah menanggapi secara berlebihan dan salah konteks. Sebab, diterima di ITS belum tentu mendapat beasiswa. Cara Sriyani menanggapi pun terkesan sangat berlebihan.

Tapi, di luar itu terjadi luapan emosi kesedihan saat Sriyani mengembuskan napasnya yang terakhir di hari wisuda Delta. Ini jadi bagian yang mengentak. Di ruang-ruang bioskop, kiranya, penonton menangis berjamaah. Termasuk saya yang terisak-isak hingga film selesai. Selain berusaha untuk mengenang kota hilang (Sidoarjo yang berkubang lumpur), Edri Pelita ingin menegaskan satu hal: yakinlah, cinta Bunda tidak akan pernah ada habisnya untuk kita, anaknya. (*)

AIRMATA TERAKHIR BUNDA

Jenis Film : Drama | Produser : Erna Pelita | Produksi : RK 23 PICTURES | Sutradara : Endri Pelita | Pemain: Happy Salma, Vino G. Bastian, Rizky Hanggono, Ilman Lazulya, Reza Farhan Bariqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s