Resensi

Belenggu Masa Lalu dan Kejenuhan Raditya Dika

Lewat Manusia Setengah Salmon, Raditya Dika menunjukan kematangannya. Tidak hanya matang berakting, namun juga matang bercerita, menyisipkan suatu renungan tentang pelajaran mengubur masa lalu dalam film terbaru besutan sutradara Herdanius Larobu itu. Raditya Dika menjanjikan oase bagi penonton (dan pembaca) yang dahaga tawa.

maxresdefault

Kemunculan Jessica yang tiba-tiba, membuat Dika kembali dihantui bayang-bayang masa lalu. (Sumber foto: google.com)

Secara cerita, Manusia Setengah Salmon adalah loncatan terbaik Raditya Dika. Pada buku-buku terdahulunya, Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus yang juga diangkat ke layar lebar, Raditya Dika terlalu sibuk pada aspek lelucon dan komedi. Tak jarang, baik di filmnya, penonton dan juga pembaca yang menonton, merasakan terlalu banyak adegan lucu yang dipaksakan, tidak menggali unsur tawa dari peristiwa. Namun, bergeliat di dunia kreatif semacam ini, tentu saja juga karena terlibat dalam film layar lebar Cinta Dalam Kardus, kreator Malam Minggu Miko dan Malam Minggu Miko 2, adalah sekelumit perjalanan yang menempa karier kreatifnya. Ia dimatangkan karena pengalaman-pengalaman itu. Maka kita tidak akan lelah lagi, seperti saat menyaksikan aksi pertama Radit di layar lebar, saat memerenkan karakter Radit di film Kambing Jantan.

Manusia Setengah Salmon jauh dari kesan film bergenre drama komedi yang kerap menjual lelucon kosong. Perjalanan untuk berpindah, adalah sentral ceritanya. Sebagaimana karya adaptasi buku, Dika bercerita tentang pilihan Mamanya (Dewi Irawan) yang memutuskan untuk pindah rumah. Tentu saja tidak mudah bagi Dika untuk menerima keputusan itu. Terlalu banyak kenangan yang ia miliki di rumah itu. Ibarat sebuah beringin yang telah tumbuh lama, bertahun-tahun di sebuah tempat, mustahil untuk dipindahkan. Beringin itu telah mengakar di sana. Begitu juga kisah cintanya. Selepas putus dengan Jessica (Eriska Rein), Dika masih dihantui bayang-bayang. Terlalu susah untuk melepaskan diri dari belenggu masa lalu.

Namun, ketika menyadari semua bertumbuh, menyadari apa yang ada di sekitarnya telah berubah, misalnya Edgar yang beranjak usia, ayahnya yang semakin menua, Dika tersentak. Harusnya, perubahan semua itu dapat dijalani dengan mudah seiring dengan berubahnya cara pikir dan kematangan dirinya dalam menjalani hidup. Rupanya, Dika pun tahu, terlalu lama dibelenggu masa lalu akan menyakitkan. Karena itu, ia menyetujui pilihan Mamanya untuk pindah. Ada hal yang ingin dikatakan Dika saat dia dan Mamanya berpetualangan mencari rumah yang baru. Saat kita ingin hijrah, tak mudah bagi kita untuk menemukan pengganti yang baru itu. Kita tentu saja mencari sesuatu yang standarnya minimal sama atau harus di atas yang lama. Untuk meraih itu, kita harus melewati perjalanan menemukan, sampai bersua yang cocok, persis pilihan hati yang akan berkata, ya, aku akan nyaman dengan ini. Sampai akhirnya Dika bertemu Patricia (Kimberly Ryder), sosok yang baru itu.

Akhirnya, perjalanan menemukan itu juga membuat Dika dan Mamanya menemukan rumah. Saat berkemas-kemas, tak sengaja, Dika menemukan potret-potretnya bersama Jessica. Saat kita beranjak ke hal yang baru, yang lama harus ditinggalkan. Biar tidak terus mengusik pikiran. Rupanya, Dika belum cukup siap untuk beranjak (hati). Di rumah ini, tentu saja, ada kenangan saat Jessica makan malam bersama di rumahnya, dan kenangan bersama adik-adiknya tercinta. Di rumah barunya, Dika mengeluh pada Mamanya kalau ia tidak hafal letak gelas. “Di rumah yang lama aku kan tahu di mana letak gelas,” katanya saat bangun pagi. Mamanya menanggapi enteng. “Dika, butuh adaptasi!” Lagi-lagi, sebagai penulis cerita, Dika berusaha mengajak pembaca dan juga penonton untuk belajar menyesuaikan diri terhadap segala hal yang baru. Kenyamanan lahir karena pembiasaan diri. Dika tak suka, anak-anak kompleknya ribut di depan kamarnya. Ia mengeluhkan ini, namun tidak cukup bisa menghentikan gangguan itu. Gangguan yang sama dideritanya, saat Patricia datang ke butik bersamanya. Tak sengaja, Dika meraih sebuah baju yang sama persis dengan yang dimiliki Jessica. Dika pun dihantui lagi pikiran tentang kekasih lamanya itu. Betapa pun ia telah mengusir jauh-jauh segala tentang Jessica, ia ternyata tidak cukup siap. Masa lalu adalah hantu. Bisa datang kapan saja, seenaknya. Ya, Jessica datang tiba-tiba di depan pintu rumahnya. Membuat tabungan kenangannya pecah lagi. Puncaknya adalah suatu hari ketika kencan ke bioskop dengan Patricia. Saat membayar tiket, Patricia melihat foto Jessica di dompet Dika. Patricia yang tak enak hati, minta putus di tempat.

Dari situlah, Dika belajar dewasa. Ternyata, Dika tahu, masalah apapun akan dapat terselesaikan dengan mengomunikasikan masalah itu. Katakanlah apa yang tidak membuat kita nyaman, walaupun perlu perjuangan karena kita tak cukup siap mengatakannya. Bagian ini digambarkan dengan probelem Dika dan sopir pribadinya. Ia tahu, dirinya sangat dilema antara memecat atau mengorbakan dirinya untuk terus-terusan tersiksa. Ini perkara yang sama dengan asmaranya, apakah ia akan melupakan semua tentang Jessica, barang-barang pemberiannya, foto-foto dengannya, atau terus-terusan membiarkan dirinya tersiksa, karena sosok dan nama Jessica masih hidup di pikirannya. Dengan memberanikan diri untuk jujur pada sopirnya itu, Dika akhirnya terbebas dari ‘problem ketek’. Namun perkara asmaranya belum usai. Ia masih butuh menjelaskan pada Patricia bahwa setelah ini, ia tidak akan lagi menyebut nama siapa-siapa, karena hanya ada satu nama di pikirannya: Patricia.

Hanya saja, judul buku yang juga menjadi judul filmnya, tidak melekat erat pada jalinan cerita yang utuh. Memang benar bahwa keputusan berkomitmen adalah keputusan untuk berpindah seperti rombongan jutaan salmon yang menempuh perjalanan 1.448 km untuk kawin, dibayangi berbagai ancaman predator. Karena konsistensi untuk tetap menggunakan ciri khas memberi judul karyanya dengan term-term seputar binatang, akhirnya Dika menjadi korban kehilangan relevansi. Malangnya, bagian yang menjelaskan (keterkaitan judul film dengan cerita) ini, terkesan sangat dipaksakan. Yaitu lewat penggambaran editor yang selalu menggentayangi Dika. Adegan terakhir, saat sang editor muncul di kolam renang, mencerminkan ‘memaksakan’ adegan. Terlihat upaya menyambung-nyambungkan judul.

Tapi ada satu hal yang menggelitik, bahwa tercium aroma kejenuhan Raditya Dika. Manusia Setengah Salmon (baik buku ataupun film) adalah loncatan tertinggi yang pernah dibuatnya. Sekarang, tinggal penentuan. Apakah dia akan tetap bertahan di batu tertinggi itu, di pijakan itu, atau terjun bebas. Artinya, konsitensi Dika untuk tetap mengusung karya-karya semacam ini tidak akan lekang dari dirinya, atau justru mencoba hal yang baru alias keluar dari zona nyaman. Persis di awal film, editor menolak karya Dika karena merasa Dika butuh menulis sesuatu yang baru (fresh), agar tak monoton. Sekarang, semua buku yang judulnya berunsur binatang, sudah difilmkan semua. Berikutnya, setelah lepas dari belenggu masa lalu, Dika akan melewati dua tugas besar: mencari cari untuk tetap bertahan (konsisten), atau mencoba yang baru dengan pertaruhan, siap-siap jatuh bangun (lagi). (*)

MANUSIA SETENGAH SALMON

Jenis Film : Comedy
Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Produksi : STARVISION
Sutradara : Herdanius Larobu
Pemeran: Raditya Dika, Kimberly Ryder, Erisca Rein, Dewi Irawan, Bucek

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s