Resensi

The Insidious Chapter 2, Bumbu dan Rasa yang Sama

The Insidious Chapter 2 boleh dibilang karya James Wan yang memadukan segala teknik horor yang pernah dicobanya. Film ini pembuktian keseriusan James Wan dalam menggarap film horor yang tidak hanya memukau dari segi cerita, namun juga sukses meneror setiap penonton dengan kadar dan tensi horor yang tinggi. Sekaligus mendobrak pandangan bahwa tak selamanya karya sekuel itu gagal ketimbang karya awalnya.

Sumber: empireonline

Sumber: empireonline

Saat memasuki ruang bioskop, dan begitu film dimulai, suasana horor yang menegangkan sudah mulai terasa. The Insidious adalah kerja keras tim yang berbuah keberhasilan, termasuk kerja penata musik musik, Joseph Bishara, yang mampu mengolah musik yang menyayat, begitu apik berjalin dengan suasana dalam film. Terlepas dari pro dan kontra yang menghakimi bahwa jarang film sekuel yang berhasil, Wan mencoba keluar dari belenggu judge penonton itu. Dari sinilah, perjuangan membuat film dengan ongkos yang relatif minim, namun mampu mendulang penghasilan yang tinggi dimulai.

Wan kian disorot saat The Conjuring ramai dibicarakan. The Conjuring satu karya yang oleh sebagian penonton dijadikan sebagai jaminan. Belum lagi, sejumlah fim lainnya yang diarahkan Wan seperti The Saw. Perjalanan panjang saat menggarap film-film itu kiranya menjadi batu loncatan bagi Wan untuk membuat eksperimen yang memadukan segala elemen. Unsur dan teknik dipadukan. Elemen terbaik adalah saat Wan melakukan time travel bagi para tokoh-tokohnya, guna menjahit bagian di film pertama yang rumpang. Cerita dimatangkan. Segala elemen saling berjalin satu sama lain. Terlihat pula kesenangan-kesenangan Wan yang diulang. Itu senjata terkuat Wan dalam menawarkan lanjutan kisah keluarga Lambert ini.

Meskipun Insidious I tak butuh lanjutan cerita, namun sebagai penulis cerita, Wan berusaha untuk merapikan semua celah-celah cerita yang berlobang. Apa yang terjadi di Insidious II tidak berdiri sendiri, ceritanya menguatkan, sekaligus menjawab apa yang sebenarnya (tidak) patut dijawab, walau saat Insidious I selesai, penonton disilakan menerka-nerka, siapa yang membunuh Elice. Itulah cikal dan tunas cerita yang dikembangkannya sebagai sajian di film Insidious Chapter 2 ini .

Kengerian yang dijual Wan kali ini bukan lagi soal saat Dalton Lambert (Ty Simpkins) yang pada kisah awal diceritakan berhasil diselamatkan ayahnya. Namun, soal Josh Lambert (Patrick Wilson) yang setelah bertarung dengan arwah jahat yang menginginkan raga Josh untuk hidup kembali. Roh jahat itu juga menyenangi adik Dalton, Foster Lambert (Andrew Astor), karena itu mereka juga mengincar Foster. Kepada istrinya, Renai (Rose Byrne), Josh mengatakan bahwa semuanya sudah selesai dan keluarga mereka bisa hidup normal. Tapi, Renai tidak percaya. Mimpi buruknya belum usai. Ia merasakan sesuatu yang buruk, jauh lebih buruk dari sebelumnya. Ia mencium gelagat aneh pada sosok suaminya. Di saat yang sama, ia mendengar denting piano yang melagukan lagu karangannya yang ia tulis untuk Josh. Belum lagi benda-benda di rumah mertuanya bergerak sendiri. Anak bungsunya, Kali, menangis karena diganggu roh wanita bergaun putih.

Rupanya, karunia yang tersimpan dalam diri Josh dan juga keluarga Lambert, malah membawa petaka. Mereka mampu terhubung dengan alam roh. Ini yang membuat perhatian para roh jahat untuk kembali ke alam manusia dengan meminjam raga-raga keluarga Lambert. Alhasil, pertarungan memperebutkan raga manusia itu berakhir pada culik menculik orang yang dicintai Renai, anak-anaknya dan suaminya.

Keberhasilan itu ternyata juga dibumbui oleh rasa-rasa yang sama. Penonton yang akrab dengan kesenangan-kesenangan Wan, akan sadar bahwa banyak hal yang diulang. Pengulangan ini akhirnya membuat ‘tubuh’ seram horor yang ada di Insidious seolah keropos. Misalnya, kesenangan Wan dalam menggunakan boneka sebagai pengecoh kengerian. Boneka-boneka yang dipakai Wan biasanya boneka dengan rupa yang menyeramkan dan akan membuat penonton bergidik ketakutan. Kesenangan boleh saja dilakukan sekali dua kali, namun bila selalu dipakai, Wan kelihatan miskin cara.

Di balik atmosfer kelam dan pedih, Wan bak seorang pramusaji yang menyajikan menu berbeda, namun dibuat dengan cara memasak yang sama. Jump scares scene adalah nama cara itu. Memang, cara ini efektif dalam membuat lompatan cerita menarik, dan ada kesalingtersambungan antar scene sepanjang film, memberdayakan efek kejut secara maksimal, serta perjalanan cerita yang tegang. Namun, ada baiknya, meramu menu itu dengan cara memasak yang baru. Di sini, Wan perlu haus eksperimen.

Untuk meredakan kengerian, Wan senang memasang tokoh-tokoh pencair suasana. Mungkin, ini jeda untuk penonton, biar ada waktu menarik napas. Di Insidious Chapter 2 ini, sutradara asal Malaysia itu menduetkan Angus Sampson dan Leigh Whannel yang juga penulis naskah. Di film The Conjuring, juga dimunculkan tokoh pembantu paranormal yang sesekali mengundang tawa.

Citarasa yang sama juga terasa saat para hantu keluar dari lemari. Wan senang dengan bagian ini dan hampir selalu ada di setiap filmya. Belum lagi, dengan hantu-hantu yang dipakai, penonton yang mampu merekam dengan baik di ingatannya pada sosok mengerikan di film-film Wan terdahulu, akan merasakan kemiripan. Antara lain, sosok hantu tua, berkulit keriput dengan bedak yang sangat tebal. Mungkin juga, gambaran sosok yang menyamar, atau yang menggunakan gaun.

Klimaks kesamaannya adalah saat tokoh ayah di film ini yang ketika dirasuki arwah jahat, ingin membunuh anaknya sendiri (anggota keluarganya). Bandingkan dengan tokoh Ibu yang ingin membunuh anaknya di The Conjuring. Puncak kengerian adalah saat itu, dan saat bagian itu dihadirkan, mungkin ada yang merasa de javu, dan ketika anti-klimaks dimunculkan, maka jump scare scene membantu cerita diselesaikan. Ujungnya adalah yang baik, akan mengalahkan yang jahat. Namun, kali ini, getar terasa saat Elice yang berada di alam roh, ikut membantu. Betapa mengharukan saat Josh benar-benar kembali dan ia berkata,” semua cara sudah kulakukan untuk kembali, aku mainkan lagu itu untukmu.” Dan baru saja Renai sadar, bahwa yang memainkan piano itu adalah arwah suaminya yang tersesat mencari raganya.

Hanya saja, Wan tidak menggunakan teknik pengusiran setan saat kesurupan, layaknya film The Conjuring. Karena itu, layak diberi apresiasi, bahwa Wan telah keluar dari pakem lama dan mencoba membuat fitur baru dalam horor hollywood.

INSIDIOUS CHAPTER 2

(Dodi Prananda, penikmat film)

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s