Resensi

Bicara Takdir dan Cinta

Ketakterdugaan kadang menjadi kejutan yang benar-benar berkesan dan boleh jadi sulit dilupakan. Berusaha mendobrak kesangsian akan takdir, dan mengatakan tak ada yang benar-benar kebetulan. Setiap kejadian pasti punya alasan. Itulah yang kira-kira dijelaskan film Cinta/Mati. Ini jadi lompatan besar Oddy C. Harahap dalam menggarap karya drama satir yang selain mengocok perut, namun meninggalkan sesuatu yang bernama: twist yang menyentak.

Karakter Acid yang dipercaya pada Astrid Tiar dan Jaya pada Vino adalah pilihan yang tepat. Adu akting di antara keduanya menjadi tontonan yang menarik selama 95 menit. Kisah satu malam itu, berjalan sangat manis, dengan alur cerita di luar pikiran penonton, dan dialognya cair.

Adegan saat Jaya membantu Acid bunuh diri dengan mengajarkan Acid memutus urat nadinya (Sumber foto: google)

Adegan saat Jaya membantu Acid bunuh diri dengan mengajarkan Acid memutus urat nadinya (Sumber foto: google)

Cinta/Mati mengisahkan keputusasaan Acid terhadap cinta, persis setelah melihat kekasihnya bercinta dengan seseorang (yang konon sahabatnya) di hari jelang pernikahannya. Karena merasa amat terluka, dan pesimis tentang kesetiaan cinta, Acid memutuskan untuk bunuh diri. Namun, usaha bunuh diri itu berlanjut menjadi suatu petualangan yang menarik dalam semalam, yaitu perjuangan panjang untuk mati (bersama).

Malam itu, takdir mempertemukan Acid pada Jaya, seorang cowok yang tampak bohemian, yang juga seorang anak band, dan kepada dia Acid meminta pertolongan untuk membantunya bunuh diri. Beragam cara untuk membantu Acid bunuh diri telah dilakukan Jaya (mulanya karena iming-iming uang dan sumpah yang telah dibuat Acid untuknya, yaitu bila tidak tepat janji, alat kelaminnya akan mengerut, atau karena alasan lain yang dipendamnya). Ide sederhana itulah yang coba digali Oddy, berujung menjadi tontonan yang segar, sesekali ada suasana romantis dan sesekali hadir nuansa kesedihan yang subtil.

Seorang tukang cerita mungkin boleh saja menyuguhkan twist untuk penonton, namun tentu harus disajikan mulus, memberi percikan-percikan, dan tidak mendadak begitu saja. Anehnya, entah alasan apa, Jaya yang dikisahkan sebenarnya juga sedang dalam ‘percobaan bunuh diri’ karena ingin menjadi legend seperti bintang yang ia kagumi, yaitu Kurt Cobain (Vokalis Nirvana) namun tiba-tiba alasannya bergeser pada persoalan seksual Jaya. Hal ini yang tiba-tiba begitu dipaksakan dan ‘pemilihan’ akan kisahan yang mengecoh model itu dirasa janggal karena sangat mendadak dihadirkan di akhir. Karena sejak diawal, penonton ditipu dengan alasan ‘bunuh diri’nya Jaya karena ia ingin jadi legend. Percikan cerita yang ke arah sana mestinya harus dihadirkan pelan-pelan, dan diujung, twist baru digambarkan secara menyentak.

Betapa pun, film yang konon katanya telah diproduksi (secara gerilya dan mati-matian) sejak dua tahun lalu  dari tahun rilisnya, mengajak kita merenung tentang takdir dan cinta. Cerita yang nakal (pun terlalu banyak dialog dengan kata-kata sarkas dan kasar), tertutupi dengan adegan dan pesan-pesan positif yang dihadirkan lewat tokoh Jaya yang liar, kadang dia sendiri yang justru mengingatkan tentang bunuh diri itu dosa pada Acid, dia juga yang menasihati Acid tentang beramal dan lainnya.

Yang terasa menohok, justru diakhirnya. Adegan itu sangat menjelaskan bahwa mati tak perlu dicari-cari, yang perlu dicari adalah makna bahwa hidup ini indah. Tanpa usaha bunuh diri yang dilakukannya, Acid mungkin tak akan bertemu Jaya. Dan, mungkin juga, seberapa besar keras usahanya untuk bunuh diri, ia tak akan bisa mati sebelum ajalnya datang. Sebab, takdir telah menggariskannya untuk bertemu Jaya, melewati malam penuh makna, penuh tawa, penuh canda, tangis dan seterusnya sebelum akhirnya sepasang anak muda itu menemui ajalnya.

Dibanding film besutannya yang bergenre drama lainnya, Punk in Love (2009), dan Alexandria (2005) dan Selamanya (2007), Cinta/Mati bisa dibilang sebagai puncak karyanya. Pujian itu setali dengan keberhasilan Oddy dalam mendobrak pandangan bahwa tak selamanya film dengan bujet yang minim itu rendah mutu. Cinta/Mati mampu membuktikan, dengan eksplorasi cerita yang mapan, dan memberdayakan dua karakter yang mampu berakting total, dan upaya lainnya yang mampu menghemat bujet. Selain duduk di kursi sutradara, Oddy juga meracik skrip yang menarik. (*)

CINTA/MATI

Sutradara: Oddy C. Harahap Pemain: Vino G. Bastian, Astrid Tiar

Dodi Prananda, penikmat film

Iklan
Standar

One thought on “Bicara Takdir dan Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s