True Story

Hati-hati dengan Jakarta yang Tidak Punya Hati

Saya kira, tidak ada yang salah dan aneh dengan hari itu. Semua terasa sama seperti hari biasa: saya mandi pukul tujuh, memasang baju, sampai di halte Gerbatama pukul delapan dan berangkat menuju kantor di daerah Kebon Jeruk dengan menumpangi Deborah.

Liburan semester genap kali ini saya memutuskan untuk bekerja di sebuah majalah remaja yang berkantor di Jalan Kedoya Duri Raya. Ini pilihan saya untuk mengisi hari libur dengan kegiatan produktif. Menuju kantor, saya menumpangi bus Deborah dari Halte Gerbatama Universitas Indonesia, turun di Terminal Lebak Bulus kemudian melanjutkan perjalanan dengan Trans Jakarta hingga halte Duri Kepa. Begitulah aktivitas yang saya jalani lima hari dalam seminggu, dan sudah berlangsung hampir tiga minggu tanpa terasa.

(Sumber ilustrasi: kepikiranbarusan.wordpress.com)

(Sumber ilustrasi: kepikiranbarusan.wordpress.com)

Tanpa terasa. Karena saya menikmati pekerjaan di rumah baru saya itu. Saya menikmati ritme kerjaan, dan juga suasana di kantor. Tapi, Kamis, 18 Juli 2013 itu menjadi hari paling muram sepanjang sejarah saya berada di Jakarta. Jauh sebelum saya berangkat dari kampung halaman menuju tanah rantau untuk pergi menimba ilmu, keluarga menitipkan banyak pesan dan nasihat ke telinga saya. Dari pantangan a sampai pantangan z, dari bahaya a sampai bahaya z dan semua yang harus saya perhatikan selama tinggal di Jakarta. Dan semua doa, dan nasihat itu, tentu saja muaranya demi keselamatan saya yang seorang diri di Jakarta. Tapi, semua doa dan nasihat itu kembali terngiang dan menyala di kotak memori saya. Setelah sebuah kejadian nahas menimpa saya.

Kamis sedang tidak berpihak pada saya, karena selain lama menunggu (tidak sebagaimana hari biasa, ketika saya turun dari bis kuning, tak perlu berjenak-jenak menunggu Deborah langsung datang), saya yakin, macet sudah menyambut saya di Lenteng Agung. Saya punya teman setia kala menunggu: buku. Menyiasati kejenuhan di jalan, saya selalu menaruh satu buku di dalam tas dan saat itu saya membawa buku Sanubari Jakarta karya Lele Nurazizah. Biasanya, buku itu saya pegang di tangan dan manakala Bus Deborah sepi penumpang, saya dapat tempat duduk, saya akan baca.

Hari itu, nasib baik tidak bersama saya. Bus penuh sesak. Buku itu tidak saya keluarkan dari dalam tas. Masih menyetia di dalam tas. Begitu masuk dari mulut pintu belakang, sebuah suara menyapa saya. Ternyata ada Yehez, teman satu jurusan di Komunikasi yang selama libur juga magang di sebuah agensi PR di daerah Lebak Bulus. Yehez duduk di kursi belakang dan saya menghadap dia, berlawanan arah dengan penumpang lainnya, pun dengan laju mobil.

Demi membunuh waktu selama perjalanan, saya bercerita dengan Yehez, tetap dalam keadaan Yehez duduk dan saya berdiri tepat di depannya. Benar saja, Kamis itu tidak menyenangkan: Deborah yang penuh sesak, jalanan macet, perpaduan bau badan, empet-empetan yang membuat empet kalang-kalang. Dan entah bagaimana ceritanya, bagaimana dia melakukan, tangan siapa yang masuk ke dalam kantong tas saya, saya benar-benar tidak tahu. Tidak sadar baru saja ‘Jakarta’ memperlihatkan arogannya. Baru saja ada tangan nakal yang menzalimi saya.

Dan begitulah, kejadian pencopetan itu tak terendus oleh saya, begitu juga oleh Yehez. Saya baru menyadari resleting kantong depan tas saya terbuka (padahal tas sudah saya sandang di depan, dalam keadaan di peluk). Selama perjalanan, rasa-rasanya, saya sudah sandang baik-baik tas itu, saya peluk, namun kadang terlepas ketika saya harus mencari pegangan. Apalagi, kondektur yang terus memaksakan penumpang yang berdiri di mulut pintu untuk masuk lagi, lagi, dan lagi sampai saya terdesak.

Saya kira, saat itulah saya dikerjai. Saya tak tahu tangan mana, orang yang di kanan, kiri, depan saya kah yang punya kerjaaan. Saya yang mendapati kantong tas saya terbuka, langsung kaget, dan darah saya berdesir. Saya merasa pasti bahwa kejadiaan buruk saja menimpa saya. Ketika saya periksa apakah dompet saya masih di sana, ternyata tidak. Dompet saya lenyap. Kartu-kartunya…

Sudah hampir tiga tahun di Jakarta, baru kali ini ketakutan ini kembali menyerang saya. Baru kali ini Jakarta berlagak seperti raksasa berkaki besar, bertubuh besar dengan berkacak pinggang menertawai saya. Saya sudah berhati-hati, tapi Jakarta tidak punya hati. Sadar dicopet, saya bergegas menuju tempat parkir bus Deborah di Terminal Lebak Bulus dan menanyai kondektur (walau ini hanya cara hampa).

Saya tahu, sudah tidak ada harapan dompet itu kembali, dan semua yang ada di dalamnya kembali. Saya berjalan lemas, berjalan menuju halte Trans Jakarta Lebak Bulus. Untungnya, di saku celana, ada sedikit uang yang bisa saya pakai untuk menuju kantor. Hebatnya, saya tidak panik. Teman-teman saya bilang, saya orangnya panikan. Tapi, entah ketabahan yang datang darimana, saya merasa lapang, dan seperti tidak terjadi apa-apa. Saya melangkahkan kaki, dan sampai di depan mulut loket pembelian karcis TransJakarta, mengeluarkan uang yang tersisa.

Bahkan, di perjalanan menuju Duri Kepa pun, teman setia saya tidak saya sapa sedikit pun. Saya sibuk mengutak-atik ponsel genggam saya, menelepon satu-satu layanan nasabah untuk pemblokiran pin atm. Saya mengurut-urut dada, berusaha membuat semua kian terasa lapang. Mungkin Tuhan sedang menunjukkan rasa sayangnya dan perhatiannya pada saya, sebab saya sedang diuji bersabar dua kali lipat.

Rasanya, kali ini, betapa menggembirakannya ujian ini, karena diuji di bulan baik. Ini bulan yang sangat tepat untuk melatih seberapa mampu kita bersabar, termasuk ketika hal nahas semacam ini menimpa. Saya terngiang lagi nasihat keluarga, namun hari itu, saya enggan mengabari segera (saya baru mengabarinya sehari setelah kejadian itu, saya jelaskan baik-baik kepada ayah). Saya tak mau, membuat keluarga di Padang khawatir akan cerita itu. Saya yakin semua baik-baik saja, dan masih dalam kendali Tuhan. Sabar itu pahit, tapi buahnya manis, kata sebuah kalimat bijak.

Ya, saya percaya itu.

Jakarta, 22 Juli 2013

Iklan
Standar

2 thoughts on “Hati-hati dengan Jakarta yang Tidak Punya Hati

  1. Bagus kalau bisa tidak panik, karena anggap saja alam semesta membutuhkan dompetmu untuk orang yang membutuhkan.

    kelak akan diganti yang lebih baik dan lebih bagus lagi dengan isi yang lebih banya lagi.

    jangan takut untuk menghadapi arogansi Jakarta, ibarat arisan, saat itu giliranmu, dan pasti setiap detik ada yang mendapat giliran lagi.

    rela, adalah tugasmu Di, saat kita Rela akan banyak kemungkinan baru yang datang padamu~

    Namaste
    Nikotopia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s