What They Don’t Talk About When They Talk About Love: Romantis di Jalan Sunyi

Siapa saja boleh merasa jatuh cinta dengan fantasi seorang perempuan dalam Fiksi (2008), namun harus bersiap untuk jatuh cinta (lagi) untuk kedua kalinya pada film Mouly Surya yang bicara tentang romantis yang jauh dari romantis arus utama, cinta yang mungkin tak biasa walau sebenarnya mereka ada di sekitar kita, dan cinta penyandang disabilitas yang hidup di jalan sunyi masing-masing.

What They Don’t Talk About When They Talk About Love dibuka dengan adegan para siswa murid sekolah biasa di Jakarta. Mereka riang, mungkin seriang mereka yang ‘berpunya’: penglihatan, pendengaran, dan seterusnya. Mereka bahagia, mungkin juga sebahagia orang pada umumnya bila mereka bernyanyi, belajar, dan jatuh cinta. Di sekolah itu, mereka bertumbuh sebagai remaja yang juga sebagaimana remaja lainnya lakukan: merasakan bagaimana berseragam, bagaimana khidmatnya sebuah upacara, bagaimana duduk di bangku dan merasakan suasana kelas, dan mereka tinggal di asrama.

Salah satu adegan ketika dokter hantu menjumpai Fitri (Sumber foto: google.com)
Salah satu adegan ketika dokter hantu menjumpai Fitri (Sumber foto: google.com)

Drama cinta yang dihadirkan Mouly terkesan unik. Sisi unik yang muncul dalam visual selama seratus lima menit justru muncul dari romantisme mereka, tentang mereka yang tidak dikarunia penglihatan, namun tetap mampu merasakan bagaimana berfantasi itu. Bila dia tidak beruntung karena Tuhan tak memberikan penglihatan, tapi dia boleh jadi beruntung karena merasa bebas dengan fantasinya. Itulah yang dialami remaja putri bernama Fitri  (Ayushita Nugraha), bahwa fantasi membuat hidupnya menjadi berarti. Dalam benaknya, ia punya kehidupan sendiri yang dibangun sebagai upaya untuk keluar menemukan sosok dirinya yang lain, bahwa ia berhak merasakan bagaimana nikmatnya menjalin kasih dengan lelaki yang ia cintai. Diana ‘mengarang’ itu dengan melahirkan sosok lelaki imajinasi yang bertumbuh dalam fantasinya, ia panggil sebagai Hantu Dokter.

Diceritakan, bila malam datang dan ia duduk di tepian kolam renang, ia merasa Hantu Dokter mendengarkannya, mendengar keluhnya, mendengar perasaannya tercurah. Dan, mirisnya, fantasi ini sendiri yang akhirnya membuat Fitri ‘dijebak’ oleh seorang lelaki yang merasa serupa elang, mendapati makanan empuk berupa ‘anak ayam mungil’ di depannya.

Sebelumnya, lelaki itu (Edo, diperankan Nicholas Saputra) melihat Fitri dalam cengkraman elang yang jahat, ‘elang’ yang bertompel.  Suatu hari, Edo mendapati Fitri dibawa masuk ke gudang oleh seorang lelaki dewasa bernama Lukman (Khiva Iskak) yang dengan tega mengelabui Fitri akan keberadaan hantu. Seolah ‘membayar jasa’ telah menggirangkan hatinya, membesar-besarkan hatinya bahwa hantu dokter itu ada, Fitri dengan begitu mudah merelakan dirinya, tubuhnya, kelaminnya, untuk ‘dilecehkan’ oleh Lukman walau ia tak bisa menolak. Demi kegairahan dan fantasi itu, Fitri rela-rela saja berhubungan seks dengan Lukman. Episode lain, Fitri mendapati dirinya juga terjebak oleh lelaki lain. Lelaki itu masuk ke dalam alur fantasinya. Serupa Lukman, ia juga memanfaatkan ‘kedunguan’ Fitri yang berfantasi terlalu jauh. Edo masuk dalam jalinan alur cerita fantasi perempuan yang di matanya cantik itu, hanya di matanya…

Bayangan lain tentang cinta hadir dalam kisah Diana, seorang perempuan yang penglihatannya samar dan buram (low vision). Diana hanya bisa melihat dalam jarak dua sentimenter. Tapi, walau merasa kurang akan itu, ia merasa lebih di sisi lain. Saat ada bagian fisiknya yang tak sempurna, Diana merasa punya kesempurnaan lain, ikhwal kecantikannya. Demi membuat lelaki yang ia kagumi, yang membuat perasaannya kerap bergetar, ia menggunakan parfum yang sama dengan seorang perempuan yang pernah berbincang dengan lelaki yang ia puja. Fantasy, merk minyak wangi itu, dan akhirnya Diana memutuskan menyemprotkan ke tubuhnya dan akhirnya Andhika bersin-bersin di depannya.

Walau masih dapat melihat dengan samar (dibantu kacamata khusus), Diana percaya bahwa cantik itu juga miliknya. Kekurangan di matanya, barangkali bukan alasan untuk membuat sisi lain dari dirinya kehilangan kecantikannnya juga. Misalnya rambut, demi kecantikan rambutnya, Diana bahkan menyikat rambutnya 100 kali (dan ia menghitungnya dengan melafalkan hitungan). Itu semata demi Andhika, lelaki yang membuat lampu dalam hatinya menyala terang.  Diana boleh saja mengubur impiannya sejak kecil, kalau saja ia dapat melihat sempurna, tentu ia akan mengikuti kelas balet sejak kecil. Tapi, ia tak mengubur impiannya untuk mengejar Andhika, merasakan indahnya disentuh lelaki itu. Kehadiran Andhika sebagai murid baru di sana, membuat Diana merasa menjadi seorang wanita. Itu terjadi ketika Diana bahagia saat mengalami menstruasi pertama.

Bila cermat, mungkin akan ditemukan gaya khas Mouly untuk menyampaikan suatu cerita, misalnya bagaimana pentingnya adegan yang berulang. Di Fiksi (Film terbaik dalam FFI 2008), ada adegan berulang ketika Bari (Dony Alamsyah) mencuri patung kelinci. Di film ini, juga ada adegan berulang yang penting bagi gambaran dan keutuhan cerita, misalnya ketika Fitri dan ‘hantu dokter’ berbalas surat. Kesamaan yang juga mungkin kesenangan Mouly adalah menghadirkan tokoh dengan karakter yang sama, yaitu perempuan yang menyenangi fantasi. Bedanya, Alisha dalam Fiksi tidak seperti Fitri yang tunanetra.

Kedekatan yang berdiri di atas pondasi kebohongan dan tipuan yang dibuat Edo, membuat Fitri akhirnya bagai ‘klimaks’. Di kolam renang, ia bercinta untuk pertama kali dengan dokter hantunya. Ia merasakan gairah yang membuat dadanya berdebar setiap saat menunggu kedatangan dokter hantu di sana. Untuk kali yang pertama, ia sungguh merelakan dirinya pada lelaki fantasinya itu. Dokter hantu itu padahal hanyalah ‘akal-akalan’ Edo, lelaki berhasrat tinggi (sesaat setelah melihat Fitri ‘dikerjai’ Lukman), yang merupakan putra angkat pemilik warung (Jajang C. Noer). Demi meyakinkan Fitri bahwa ia benar dokter hantu, ia mengenakan jas putih dokter dan stetoskop. Sebagai seorang tunarungu, Edo yang menyamar menjadi dokter hantu hanya bisa melihat. Untuk mengomunikasikan sesuatu, ia hanya mengandalkan ujung jarinya untuk menulis sesuatu di atas lengan, atau gerak jari jemarinya.

Ada hal menarik yang dikatakan Mouly bahwa perempuan jatuh cinta pada apa yang didengarnya, lelaki jatuh cinta pada apa yang dilihatnya. Fitri mendengar cinta, sementara Edho melihat cinta. Mouly tampaknya ingin menghadirkan betapa mahalnya harga romantis mereka yang hidup di jalan sunyi masing-masing, di sebuah sekolah luar biasa. Sebab, terlalu banyak cerita di sana, termasuk juga yang samar, dan mungkin tak diketahui orang banyak.

Bila realitas kurang memuaskan, senyaman-nyaman tempat untuk bermukim adalah fantasi. Para tokoh ini kemudian hijrah ke fantasinya masing-masing. Betapa sesungguhnya setiap orang (apalagi mereka yang menyandang disabilitas), dapat berimajinasi sesukanya. Bagian ini, merupakan ruh terbesar film ini. Bagaimana Mouly menggambarkan dengan mulus empat bagian fantasi. Dalam ruang bayangan itu, mereka bukanlah mereka yang ada dengan kekurangan mereka. Di sana, mereka tampil sebagai sosok manusia yang berbahagia, tak dihinggapi getir, merasakan gairah yang meletup-letup, nikmat dan indahnya bila mampu berbicara dan melihat. Mulai dari Diana yang ‘nyaman’ hidup di dunia itu, saat ia membayangkan bagaimana bila dirinya menjadi seorang penari balet yang selain mampu meliuk-liukkan tubuhnya dengan indah, ia juga merasakan matanya melihat dengan jelas, tidak samar: bahwa ia sungguh cantik.

Sementara, di dunia itu, Fitri dan Edo membangun kehidupan yang menarik saat mereka dapat menikmati indahnya kota di malam hari, di ruang-ruang umum, di kafe, jalan-jalan di malam hari bahkan hidup bersama di sebuah kamar kecil namun mereka bahagia. Di mana Fitri dapat melihat dengan jelas betapa tampannya Edo dan Edo dapat mengatakan langsung bahwa ia mencintai Fitri. Lain lagi dengan Andhika, ia juga merasa gembira ketika perempuan yang ia cintai, memeluk pinggangnya saat mereka menempuh perjalanan dengan motor. Di dunia itu, Andhika tahu betapa gembiranya hidup ini bila dapat mencumbu kekasih dengan penuh nafsu, bahagia ketika mengantar dan menjemput kekasihnya.

Selain disajikan dengan sinematografi yang indah, film ini sangat memanjakan mata dengan apa yang sebenarnya kita lihat di kehidupan sehari-hari, tapi tak pernah benar kita ‘lihat’ sehari-hari. Gambaran kita tentang mereka mungkin sangat dangkal, dan film ini mampu mengungkapkannya dengan dalam dan jujur. Fitri, Diana, Edho dan Andhika boleh saja mencapai sisi klimaks tentang imajinasi dan fantasi yang mereka bangun, namun tidak bisa selamanya tertidur di sana. Saat mereka harus kembali, mereka mungkin harus sadar, bahwa imajinasi dan fantasi itu tak cukup mampu mengekalkan cinta. Bahwa, sebaik-baik mencinta, insting harus bekerja dan fantasi harus dipadamkan.

WHAT THEY DONT TALK WHEN THEY TALK ABOUT LOVE
Sutradara       :
 Mouly Surya
Skenario         :  Mouly Surya
Pemain           : Karina Salim, Ayushita Nugraha, Nicholas Saputra, Anggun Priambodo, Lupita Jennifer, Tutie Kirana, Jajang C. Noer
Produksi         : Cinesurya Pictures dan Amalina Pictures

Dodi Prananda, penikmat film

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s