9 Summers 10 Autumns: Mimpi Terang dari Kota Malang

Dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah seorang anak laki-laki yang lahir dari rahim seorang istri yang bersuami seorang sopir angkot. Tapi, mimpi yang ia pupuk setiap hari, membuat hidupnya berarti. Dia bilang, dia tidak bisa memilih masa lalu, tapi masa depan dia yang menentukan. Dari nun jauh di Batu sana, di sebelah barat kota Malang, seorang pemuda melewati perjalanan hidupnya dengan cahaya mimpi yang terang benderang.

Sumber foto: http://media.viva.co.id
Sumber foto: http://media.viva.co.id

Film 9 Summers 10 Autumns garapan sutradara Ifa Isfansyah bercerita soal perjalanan seorang Lanang (anak laki-laki) bernama Iwan Setyawan (diperankan Ihsan Tarore) yang tinggal di kaki Gunung Panderman. Dikisahkan ia hidup di keluarga yang tak istimewa. Impiannya sederhana, ingin punya kamar sendiri. ‘Kamar’ bagi Iwan semacam harapan, boleh jadi simbol impian, sebab di realitas kemiskinan yang mengungkung keluaganya, Iwan bahkan tak bisa berharap banyak. Ayahnya (Alex Komang) menggantungkan roda ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai sopir angkot. Ibunya (Dewi Irawan) tak tamat sekolah. Ia punya empat saudara.

Jatuh bangun kehidupan tergambarkan dengan baik dalam karya visual berdurasi 112 menit ini. Dengan alur maju mundur, 9 Summers 10 Autumns menyalakan obor semangat dan gelora yang membara di dada seorang Iwan. Kegigihan dan semangat belajar yang sungguh-sungguh, kadang lebih besar dimiliki oleh mereka yang tidak berpunya. Ifa menggambarkan itu dengan sosok Iwan kecil yang dengan santai melahap buku-buku pelajaran Matematika untuk anak SMA. Penggambaran kota Batu yang ramah, seakan bercerita sendiri, memberi suasana dan kesan tersendiri dalam perjuangan Iwan. Persis ketika ia diminta ayahnya untuk ikut bekerja.

Film ini boleh jadi menegaskan bahwa kesuksesan itu milik semua orang. Semua orang berhak untuk sukses. Sukses milik siapa saja, tentunya milik mereka yang sungguh-sungguh. Sebagai tontonan keluarga, film ini sangat sangkil dan mangkus untuk menyuntik semangat anak mana pun (dengan latar ekonomi apa pun) untuk bisa sukses. Sebab, usaha Iwan mengejar mimpinya dari kota apel ke big apple, boleh jadi tamparan bagi siapa saja yang merasa frustrasi dan lelah dengan kehidupannya. Cara Iwan menumbuh dan memupuk mimpinya, barangkali referensi mahal tentang bagaimana hidup seharusnya diperjuangkan.

Film ini turut menandai keberhasilan akting Ihsan dalam memerankan karakter Iwan yang (aslinya) cenderung feminim. Persis permintaan ayahnya yang sehari-hari dibesarkan jalanan, hidup sebagai sopir angkot yang terbiasa keras, ia pun mendambakan anak lanang satu-satunya di keluarganya tak gentar, lemah, apalagi penakut. Dalam keluarga dengan latar sosial atau kultural apa pun di negeri ini, sedikit meminjam semangat patriarki, bahwa laki-laki tentu menjadi harapan setiap ayah, agar kelak ia mampu memimpin keluarganya.

Tapi, toh, ketakutan Iwan di masa kecilnya, yang digambarkan sebagai anak yang pemalu, penakut, lemah, tidak berani luntur karena kecerdasan otaknya. Saat sebagian hal dalam dirinya membuat ia merasa tak berdaya di lingkungan pergaulan, sisi lain dari dirinya justru menjadi penopang terkuat dirinya: kecerdasan yang benar-benar luar biasa. Itu yang agaknya terus dipelihara Iwan hingga akhirnya hidup terasa mudah dilaluinya, mulai dari lulus di IPB, menyelesaikan studi, bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang statisik, hingga diterima bekerja di Amerika.

Pepatah hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri orang, selalu berkata bila saatnya tiba. Iwan menentukan pilihannya. Terombang-ambing dalam pilihan, tak membuat ia risau. Dia tahu, kemana seharusnya ia pulang. Perjalanan, barangkali untuk sementara waktu harus diselesaikan, saat segala upaya memperjuangkan hidup mencapai titik akhirnya, sebagaimana yang pernah Iwan protes: dalam setiap film yang ia tonton, selalu saja masalahnya terselesaikan, selalu saja ada solusinya. Iwan menjumpai titik itu, titik di mana saatnya ia harus merasakan indahnya memanen, karena selama ini ia telah berdarah-darah menanam.

Saya dan sahabat yang menonton film ini, seperti berkaca pada film ini. Sebenarnya, ada hal yang sangat kami sadari, bahwa film ini menuntun setiap kita untuk mengatakan begini: di balik kesuksesan seorang anak, tentu ada sosok hebat orangtuanya. Didikan orangtua boleh jadi turut menjadi penentu.

Saya yang kebetulan punya latar belakang ekonomi yang mirip dengan keluarga Iwan, merasa melihat diri saya pada semangat Iwan yang kuat untuk terus belajar dan belajar. Saya dan sahabat, sepakat untuk mengatakan begini: bahwa film ini memberikan harapan dan cercah semangat. (*)

9 SUMMERS 10 AUTUMNS

Sutradara: Ifa Isfansyah Produser: Arya Pradana, Edwin Nazir Penulis: Ifa Isfansyah, Fajar Nugros, Iwan Setyawan Pemain: Ihsan Tarore, Dewi Irawan, Alex Komang, Sfahil Hamdi Nawara Genre: Drama Durasi: 112 menit

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s