Guslaini, Ibu Nomor Satu di Dunia

Bila ada yang bertanya, apakah saya sudah pernah bertemu dengan malaikat, maka jawaban saya: sudah! Sosok dan figur Ibu adalah malaikat dalam hidup saya. Bagi saya, ia adalah Ibu nomor satu di dunia.

Ibu saya lahir dari pasangan Fatimah dan Abdul Munaf, dengan nama Guslaini. Gus, sebagaimana sapaan akrabnya, diambil dari nama tengah bulan kelahirannya: Agustus. Ayahnya adalah seorang pejuang ’45, bekas prajurit Jepang yang tergabung dalam kelompok tentara pembantu Heiho, sementara Ibunya adalah seorang penjual kue singgang yang sangat terkenal saat itu di wilayah Taluak Nibuang (saat ini namanya Muara Penjalinan, Koto Tangah, Padang). Dia merupakan bungsu dari lima bersaudara yang dibesarkan di lingkungan yang kental dengan adat Minangkabau, yaitu di Padang, Sumatra Barat.

Ilustrasi: nasional.news.viva.co.id
Ilustrasi: nasional.news.viva.co.id

Dibesarkan di lingkungan yang sangat sederhana dan seadanya, tak membuat dirinya menjadi patah semangat. Dari lima orang anak orangtuanya, hanya satu yang berhasil menjadi sarjana. Selebihnya, hanya tamat SMA, termasuk Ibu saya yang hanya mampu menamatkan pendidikan hingga Madrasyah Aliyah (MA). Semua, karena anak-anaknya tersandung masalah ekonomi. Kakak nomor tiganya pun, bisa sekolah karena tinggal bersama seorang famili yang tinggal tak terlalu jauh dari rumah. Sementara, Ibu saya punya perjuangannya sendiri: dengan memutuskan menetap di Panti Asuhan Putri Asyiyah Putri yang dikelola oleh keluarga H. Koesoema, pendiri Harian Umum Haluan Padang. Di panti yang letaknya sejengkal dari rumah, Ibu saya dirawat dan dibesarkan. Dia dipanggil Upiak Ancak, yang diambil dari kata rancak, yang artinya elok atau cantik. Oleh kawan-kawan sepermainannya, panggilan itu berubah menjadi Alak.

Setelah lepas dari panti, mendapat pendidikan agama di Madrasyah, Ibu saya tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ketaktersediaan biaya, menjadi kendala terbesar. Akhirnya, ia memilih bekerja. Semula, dia mencoba peruntungan dengan mendaftarkan diri menjadi karyawan sebuah surat kabar yang cukup terkenal di Sumatra Barat, yang didirikan Basril Djabar, Hariam Umum Singgalang. Di Singgalang, ia bekerja sebagai karyawan khusus biro iklan, sering dipindahkan, bahkan sampai ke bagian umum dan administrasi. Di Singgalang, ia bertemu tambatan hatinya. Namanya Oyon. Saya selalu teringat canda Ibu saya saat saya menyebut-nyebut nama lelaki itu,”Kalau Ibu menikah dengan dia, belum tentu kamu yang lahir,” kata Ibu saya. Cinta Ibu saya berakhir dengan lelaki itu setelah Ibu saya berhenti bekerja di sana karena memilih ikut dengan kakak sulungnya untuk merantau ke Jakarta. Mencoba peruntungan, sebut orang-orang Padang yang punya pemikiran: belum sukses kalau belum meninggalkan tanah asal. Menghargai tanah asal justru dengan cara meninggalkannya, untuk pergi ke tanah lain, dan kembali suatu hari untuk membangun kampung sendiri, bila sukses kelak. Di Jakarta, bersama kerabatnya yang lain, konon Ibu saya berjualan pakaian di Tanah Abang.

Karena bertumbuh dengan penuh perjuangan, ada semacam pemikiran dalam hidupnya bahwa hidup adalah perjuangan yang berarti. Hidup harus selalu diperjuangkan, pahit atau manis pun hasilnya. Ibu saya menunjukkan ini dengan cara dan usahanya dalam mencapai cita-citanya yaitu menjadi pegawai negeri. Ia mencuri semangat kakak laki-lakinya yang bernama Syafaruddin, yang saat itu berhasil meraih gelar sarjana dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) dengan perjuangan keras kedua orangtuanya. Tapi, pada akhirnya, semangat itu padam. Redup pelan-pelan. Mimpi itu akhirnya terkubur begitu saja sampai pada akhirnya ia dipersunting oleh seorang pria kelahiran Pesisir Selatan, 25 November 1968. Mimpi besar itu akhirnya hanya ia simpan dengan harapan, kelak, anak-anaknya bisa meneruskan mimpinya itu. Menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi.

Memang, sangat hiperbolik bila saya mengatakan Ibu saya adalah Ibu nomor satu di dunia. Tapi, begitulah adanya. Saya merasakannya sendiri. Persis setelah saya mengoek untuk pertama kali, mendengar adzan di telinga saya untuk pertama kali pada hari Sabtu, 16 Oktober 1993 dan seterusnya… Sebelum beliau meninggalkan saya dan dua adik saya: Khairunissa (saat ini berusia 17 tahun), dan Muhammad Fajri (saat ini berusia 13 tahun). Walau tidak pernah menceritakan pahitnya mengubur mimpi dan cita-cita besar dalam hidupnya secara langsung, tapi, saya tahu, Ibu saya punya harapan tongkat estafet itu harus dilanjutkan oleh anak-anaknya.

Secara usia, Ibu memang meninggal dalam usia yang muda. Saat itu, usianya masih 36 tahun. Saya dalam masa kenaikan kelas 5 di Sekolah Dasar, usai pembagian rapor di mana saat itu saya meraih peringkat 4 di kelas. Tapi, itu kado terakhir yang saya beri sebelum akhirnya beliau meninggal dunia, persis akhir tahun 2004, saat perayaan Idul Fitri kami sekeluarga harus ‘merayakannya’ di rumah sakit. Ibu saya dilarikan ke rumah sakit dan dirawat intensif di bagian syaraf. Padahal, malam itu, di malam takbiran, segala kebutuhan idul fitri sudah dipersiapkannya. Ketupat lebaran, kue, puding, es buah sudah tersedia di atas meja. Namun, malam harinya, ibu saya mengeluh sakit kepala dan menghembuskan napas terakhirnya pada suatu malam yang menjadi mimpi buruk bagi saya.

Setiap orang bertanya, apakah bakat menulis saya datang dari ibu atau ayah saya.  Saya rasa, tidak dari keduanya. Tapi, kalau didikan Ibu, mungkin iya. Pendidikan bagi Ibu nomor satu. Tidak ada tawar menawar. Karena itu, setiap kali diajak ke Pasar Raya Padang, saya selalu pulang membawa buku dan bacaan. Kegemaran membaca yang diajarkan diam-diam itu, pada akhirnya membuat saya sering dikirim sebagai perwakilan sekolah dan sering keluar sebagai pemenang pertama. Di sekolah, prestasi saya cukup bagus. Predikat bintang kelas selalu saya kantongi. Semua karena didikan beliau. Pulang sekolah, setelah mengganti pakaian, saya diminta mengulang pelajaran. Waktunya selalu ada untuk membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah (pr), bahkan untuk sekadar belajar membaca dan berhitung di atas kasur sebelum tidur. Oya, yang paling terpatri di ingatan saya adalah ketika saat itu, Ibu berjuang mendaftarkan diri saya di sekolah dasar. Syaratnya harus berusia tujuh. Sementara, usia saya masih enam tahun. Pihak sekolah meragukan. Saya terbilang cepat masuk taman kanak-kanak, yaitu di usia lima tahun. Tapi, saya diminta tes berhitung dan membaca di depan pihak sekolah, dan akhirnya diterima.

Ibu selalu bercerita tentang kakak laki-lakinya yang berhasil itu, yang juga Paman saya (dalam bahasa Minang, saya memanggil beliau Mamak). Mamak saya ini adalah Kepala Sekolah di sebuah SMA di Sijunjung. Semangat belajar yang tertular ke dalam diri ibu saya, ditularkan pula oleh Ibu ke dalam diri saya. Itu saya tunjukkan dengan cara menjadi juara kelas, tak pernah tersingkir dari peringkat 1 hingga 5. Saya belajar sungguh-sungguh. Karena itu, Ibu selalu menanti-nanti momen pembagian rapor karena ia selalu bangga bila saya maju ke depan kelas bila saya dinyatakan menjadi juara. “Kalau Metek Engat masih hidup, pasti dia bahagia melihat prestasimu,” kata Ibu saya, mengenang kakak laki-laki nomor duanya yang meninggal dunia karena truk yang ia tumpangi kecelekaan saat menuju Padang, untuk melihat saya (kemenakannya) yang saat itu baru saja lahir.

Ibu saya adalah Ibu nomor satu di dunia, menurut versi saya. Juga karena, cara Ibu saya yang membuat saya mencintai dunia tulis menulis. Seorang Ibu, tentu orang yang paling tahu dengan bakat anaknya. Diam-diam, Ibu memupuk bakat saya itu. Persis ketika saya menunjukkan nilai ulangan bahasa Indonesia saya yang meraih nilai 9,85 dan pujian-pujian yang selalu disampaikan langsung oleh guru saya kepada Ibu, tentang nilai pelajaran mengarang saya. Kepercayaan itu juga yang membuat pihak sekolah mengirim saya dalam perlombaan menulis.

Tapi, banyak hal yang tak sempat Ibu saya lihat, yaitu ketika SMP (saya melanjutkan di SMP 7 Padang dan SMA 1 Padang, sekolah favorit di Padang), saya mulai menulis di media massa: cerita pendek atau puisi yang saya tulis untuknya. Ya, banyak hal yang mungkin tidak dilihat Ibu secara langsung, tapi Ibu pasti tahu dan bangga di sana. Tidak hanya karena saat ini saya berkuliah di Universitas Indonesia, namun juga karena buku kumpulan puisi pertama saya yang berhasil dibukukan Februari 2012, berjudul: Musim Mengenang Ibu dan buku-buku lainnya yang saya tulis hingga hari ini. Tulisan-tulisan saya hari ini, adalah ‘doa-doa’ untuk Ibu saya. Saya menulis itu untuk dia. Saya mengenangnya setiap hari. Dan saya akan selalu mengingat, pesan-pesan terakhir yang ia bisikkan ke telinga ayah saya sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya: ”Lanjutkan sekolahnya. Sekolahkan dia tinggi-tinggi. Jangan sampai putus!” Dan mata saya selalu berkaca-kaca bila mengenang nasihat itu. (*)

Untuk Ibu saya di surga

Depok, 22 April 2013

Iklan

One comment

  1. Sosok yang luar biasa. Saya terharu membacanya, karena memang bagi saya juga ibu saya (almh) adalah sosok yang luar biasa di balik saya saat ini. 🙂 Menginspirasi saya untuk menuliskan hal serupa di blog saya nantinya. Trims Dodi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s