Opini

Menolak Lupa, Menagih Janji!

Janji undang-undang: fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Apakah salah bila kemudian kita mengatakan bahwa negara juga memberi harapan palsu, sehingga kemudian Deddy Mizwar mencibir pemerintah lewat film “Alangkah Lucunya Negeri Ini?”

 Rasanya, saya lelah bila setiap hari harus berbicara soal pemerintah. Apalagi, untuk janji satu ini. Perkara melindungi fakir miskin dan anak terlantar. Dalam undang-undang dasar, (bila perlu saya sebutkan pasalnya pasal 34 ayat 1) secara tegas menerangkan hal ini. Itu tersurat hitam di atas putih. Namun, dalam realitas, janji itu tampak semu. Belum ada upaya pemenuhan (janji) yang berarti sehingga kemudian kita merasa sepakat untuk menyimpulkan seperti ini: mungkin, kita sama-sama sadar, dari dulu bahkan, perhatian untuk hal ini dirasa tak memberi dampak besar. Anak-anak semakin bertumbuh di jalan. Anak-anak besar di jalan. Anak-anak mengais rupiah di antara deru jalanan dan bising ibukota.

Saya senang dengan para pekerja seni yang merayakan ‘kegelisahannya’ lewat film, ketika di sekelilingnya terlalu banyak masalah yang tak terentas. Film boleh jadi cerminan dari apa yang terjadi realitas, sebagai bentuk ketidakpuasan atau kecamuk pikiran. Di awal, saya menyebut namanya. Aktor kawakan yang punya andil dalam penggarapan film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Bagi saya, film ini sebuah tamparan keras yang mungkin akan memerahkan wajah negara (pemerintah). Saya hanya ingin meminjam kegelisahan Deddy untuk menyadarkan kita bersama bahwa ada kegelisahan yang patut kita gelisahkan bersama; ikhwal anak jalanan. Karena, sebagian di antara kita mungkin merasa ada yang lelah sehingga kemudian memilih menutup mata.

 Di film itu, tokoh Muluk yang diperankan Reza Rahardian benar-benar menginspirasi saya. Di altar realitas yang kejam ini, tokoh serupa muluk saya rasa sangat langka. Perhatian yang diberikan kepada anak jalanan, sebatas kekhawatiran dan kerisauan yang bersifat sementara dan jangka pendek (termasuk saya yang hanya bisa berkoar-koar lewat tulisan, namun konon, saya percaya sebuah tulisan yang menggerakan bisa memberikan efek jangka panjang).

Foto: Aldinoga Prayogo, sumber: http://fdimasn.blogspot.com/

Foto: Aldinoga Prayogo, sumber: http://fdimasn.blogspot.com/

Saya kira, negara kita telah lama mengidap penyakit kronis. Bila masalah korupsi, anarkistis di sana-sini, perang antar agama yang berujung pada bunuh-membunuh dan aksi pengrusakan merupakan penyakit paling mengkhawatirkan, maka ada sejumlah penyakit lainnya yang terkesan terabaikan. Masalah anak jalanan ini pada akhirnya memiliki takdir itu. Saya lagi-lagi menyangsikan apakah anak jalanan di pelbagai kota di Indonesia sungguh telah ‘terpelihara’, di saat kita sama-sama tahu ada sejumlah anak yang dilahirkan, disusui, dan dibesarkan ibu dan ayahnya di bawah kolong tol, di saat kita sama-sama tahu bahwa ada anak-anak yang masa depannya suram karena dieksploitasi demi alasan membantu orangtua menafkahi keluarga. Di kampung halaman saya, di Padang, di Jalan Veteran anak jalanan mengharap belas kasih kita. Dengan suara cemprengnya, berharap ada sedikit rezeki terulur dari mereka yang merasa ‘tersentuh’ dan iba. Biasanya kaum Ibu yang tergugah hatinya, sering membayangkan betapa miris bila itu anak kandung mereka. Di kampus saya, di Universitas Indonesia, mereka berkeliaran menjual tisu, sebagian lagi menjual koran dan ‘merengek’ di depan mahasiswa. Yang berhasil ‘merengek’, artinya berhasil membuat mahasiswa yang punya niat tulus membantu (lagi-lagi, dalam dugaan saya, yang dengan tulus membeli adalah mereka yang membayangkan bagaimana kalau anak jalanan yang menjajakan koran dan tisu itu adalah adik mereka) dan seterusnya.

Kecemasan saya berikutnya adalah pemerintah sangat rentan memberikan janji palsu. Kalau boleh saya pakai istilah anak mudanya: ‘php’ alis pemberi harapan palsu. Janji yang tertuang dalam undang-undang akhirnya menjadi sekadar hal yang membesar-besarkan hati, hal yang menghibur-hibur diri, namun nyatanya kita kecewa. Suara-suara yang membela anak jalanan, yang menyuarakan hak-hak anak, yang memperjuangkan nasib dan kehidupan anak-anak yang seperti telah bersahabat dengan buasnya rimba belantara kota, pada akhirnya terbenam sia-sia dengan riuh-rendah suara yang lain. Negara ini kronis. Kadang, membuat kita jadi bersikap pesimis. Terlalu banyak masalah sulit membuat kita optimis, lebih-lebih pada persoalan korupsi yang sepertinya menjadi santapan kita sehari-hari. Kita, yang merasa marah dan gusar, mungkin sudah kenyang dengan semua ini, sehingga memilih bungkam dirasa tepat daripada pusing bila larut dalam beragam masalah.

 Tapi, tidakkah kita luangkan waktu sejenak untuk merenung, mengamati, memikirkan mereka yang setiap harinya besar di jalan, besar dari satu tempat ke tempat lain. Sebagian dari mereka yang masih memiliki nyala semangat, datang ke keramaian dan tempat umum untuk berjualan. Sedangkan, sebagian lagi yang saya kira sampai pada titik frustrasi, dengan napas pesimis menjadi tangan di bawah. Terlalu lama tidak diperhatikan nasibnya, kecewa tak diacuhkan, saya kira, membuat mereka merasa (berhak untuk) berpikiran bahwa cara meminta satu-satunya yang dipunyai.

Kelompok anak jalanan yang masih ada daya usaha, ingin sekali saya beri apresiasi. Misalnya, suatu hari ketika bertemu menjajakan koran di bis kuning, korannya saya beli. Atau, dengan cara lainnya yang menghibur hati mereka. Bagi saya, mereka yang semacam ini, masih punya semangat menjalani hidup, malu bila menadah dan membiarkan ada tangan di atas menyelipkan sesuatu ke tangannya di bawah. Artinya, mereka masih mengerti dan paham bahwa hidup itu masih butuh kerja keras, jerih payah dan usaha. Berbeda dengan mereka yang kerap saya temui di bus cepat terbatas (patas) atau di sejumlah angkutan kota yang ‘meminta’ namun terkesan ‘memaksa’.

Tetapi, bagaimana pun cara dan usaha mereka mencari uang, mereka tetap anak jalanan yang merupakan korban eksploitasi dan ketidakberpihakan negara yang menjamin akan memelihara mereka. Mereka ada karena ada kesenjangan sosial dan ketimpangan perhatian negara. Masalah anak jalanan juga bagian besar dari beragamnya masalah sosial.

Saya ingin katakan begini, permasalahan anak jalanan di sebuah negara, sebenarnya turut mencerminkan bagaimana keadaan sebuah negara itu sendiri. Wajah negara bisa tercermin melalui sendi-sendi sosial budaya yang terpelihara, dari sendi-sendi ekonomi, dan sendi-sendi lainnya yang merupakan penopang dan pembentuk wajah. Dengan itu, saya ingin kita menilai bersama, telah sampai manakah upaya dan usaha pemerintah memelihara anak jalanan. Selama ini, saya hanya dihibur dengan cara dan perlakuan negara yang kemudian menertibkan anak jalanan dengan cara razia. Duh, ini cara lama. Yang terjaring razia, kemudian dititipkan ke rumah singgah atau dipulangkan pada orangtua. Bagi saya, cara semacam ini, kalau boleh dianalogikan: siku gatal, lengan dipotong. Bukankah selama ini yang mereka harapkan hidup yang layak, bisa bersekolah, menikmati bagaimana mengenakan seragam putih-merah atau putih biru dst, dan harapan-harapan mereka lainnya. Bila ada pohon tua yang tak berbuah dan ingin dimusnahkan, mungkin kita tak bisa hanya memotong batangnya. Demikian pula menangani masalah anak jalanan, mungkin harus ada upaya yang benar-benar sampai ke akar.

Setiap orang, saya rasa punya titik untuk merasa ia lelah. Sehingga, ia perlu untuk rehat sejenak dan menarik napas panjang. Saat-saat inilah yang mendebarkan, sekaligus membutakan. Mereka yang merasa lelah, dan merasa hidup tidak pernah berpihak pada mereka akhirnya direcoki pikiran untuk memakai cara mudah untuk bertahan hidup (survive): mencopet. Saat itu, masalah baru muncul. Ditambah lagi, sebagian dari kita, di mata mereka enggan untuk berempati sehingga pada akhirnya suatu hari kita menjadi santapan mereka. Dompet atau ponsel genggam kita berpindah ke tangan mereka, misalnya.

Saya pikir, negara tidak sedang lengah, namun justru terengah-engah. Terlalu banyak hal yang mesti diselesaikan. Terlalu banyak masalah yang menjadi beban.

Rekan saya, Muhammad Iman Usman pernah menuliskan sesuatu yang saya catat dan saya ingat baik-baik. Suatu hari, ia ada kunjungan ke Toronta, Canada. Katanya, pemerintah setempat sangat peduli dengan kaum anak jalanan. Pemerintah mendirikan arena khusus bagi mereka untuk berkarya. Mereka difasilitasi tempat untuk berkarya: bermain musik, menulis puisi, menghasilkan aneka karya seni yang layak jual. Anak jalanan di sana dilatih untuk memiliki kreativitas yang tinggi sehingga punya kualitas diri yang diharapkan mampu mengubah status sosial mereka. Di Kanada, anak jalanan diajarkan kaya melalui karya, bukan dengan cara meminta-minta, apalagi menjual iba. Tak ayal, jalanan melahirkan seniman. Mereka punya jiwa seni yang hasilnya patut ditukar dengan uang. Mereka yang menggandrungi musik, kemudian dibuatkan album dan dijual. Karya lukis, karya tulis semisal puisi, layak dijual dan diperhitungkan. Jelas ini bukan upaya eksploitasi, namaun justru tepat bila disebut upaya proteksi, atau dalam bahasa kita ‘memelihara’ anak jalanan.

Di negara lain di luar sana, saya rasa terlalu banyak cerita yang memperkaya referensi kita untuk memelihara anak jalanan. Meminjam tagline sebuah media: kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita (yang memulai), siapa lagi?

Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan mengatakan seperti ini: bagaimana mungkin negara mampu memelihara anak jalanan di saat kita lihat banyak oknum pejabat yang tidak mampu memelihara diri, sehingga mereka terpeleset di ‘tempat basah’. Dan sungguh, wajah negara, memang tercermin melalui keadaan sosial negara itu sendiri. (*)

Dodi Prananda, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Penulis fiksi dan pegiat jurnalistik. Menetap di rumah maya: @pranandadodi

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s