Resensi

Membaca Kesepian Perempuan dalam ‘Rahasia Selma’

Nama Linda Christanty tidak hanya dikenal di dunia jurnalistik. Di dunia sastra, namanya pun cukup tersohor. Tahun 2004 silam, karya berjudul ‘Kuda Terbang Maria Pinto’, yang meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2004, membuat nama Linda melambung dan disambut hangat pecinta sastra. Sapardi, memuji Linda dengan mengatakan: membaca cerpen-cerpen Linda, ia membayangkan perkembangan cerita pendek Indonesia di masa mendatang. Kali ini, ‘Rahasia Selma’ karya yang dirilis tahun 2010 ini, juga mengajak kita bertamu ke rumah fiksinya yang nyaris tak berwarna, disuguhkan dengan narasi kelam nan mencekam. Ikhwal kesepian perempuan…
Rahasia Selma merupakan salah satu judul cerita dalam buku ini, sekaligus menegaskan benang merah yang ingin Linda sampaikan: ikhwal perempuan, rumah dan kesepian. Ada sebelas cerpen dalam buku ini, delapan di antaranya telah dipublikasikan di media massa seperti Koran Tempo, Media Indonesia dan Demos. Dari semua judul, hanya empat cerita yang belum terpublikasi.

Hampir dari semua cerita dalam Rahasia Selma, mengambil latar rumah. Cerpen Rahasia Selma misalnya. Deskripsi yang kuat, tentang suasana kehidupan Selma di rumahnya, digambarkan dengan sangat tegas di bagian awal. “Selma tidak lagi merasa sepi atau sendirian seperti sebelumnya. Ibu mengizinkannya memelihara kura-kura, bukan cuma seekor, tapi ribuan. Kura-kura mengelilinginya, berlapis-lapis seperti benteng di halaman rumahnya sendiri. Ia berbaring di sofa biru yang sengaja diletakkan di bawah pohon mangga itu, sementara ribuan kura-kura menjejak hamparan rumput hijau…” (hal 51)

Sumber: google.com

Sumber: google.com

Hal yang sama, juga tergambar dalam cerpen Pohon Kersen, Kesedihan, dan Menungu Ibu. Tokoh-tokoh dalam cerpen itu, hidup di ‘rumah’ masing-masing, dengan kesepian masing-masing. Rumah bagi Linda, digambarkan sebagai ruang yang membuat tokoh-tokohnya merasa terlindungi. Uniknya, pada cerpen Pohon Kersen, rumah mengalami pergeseran makna. Diceritakan seorang anak perempuan yang hidup dalam sebuah keluarga yang tampaknya bahagia, penuh keceriaan, pengertian, namun ternyata memendam suatu permasalahan yang sangat personal. Bang Husni, cucu angkat Kakek yang tinggal serumah dengan keluarganya, melecehkan tokoh “aku” secara seksual yang menyebabkan “aku” sukar buang air kecil pada keesokan harinya. Karena merasa ada ancaman, pohon kersen dijadikan semacam cara untuk menoleh dari realitas yang menimpanya, karena tokoh aku merasa rumah tidak lagi memberi kenyamanan dan ketenangan bagi dirinya.

Penggambaran tentang rumah yang dirangkai dengan narasi kelam ala Linda, terasa ‘kawin’ dengan cara bertutur dan deskripsi yang kuat dan lincah. Sebagai tukang cerita, Linda tahu bagaimana cara mengajak pembaca untuk masuk ke ‘rumah’ yang ia maksud itu. Dengan bahasa sehari-hari, deskripsi yang Linda tulis terasa hidup dan berkesan. Linda memahami betul, arti penting suasana dalam setiap ceritanya. Hanya deskripsi waktu yang tidak begitu menonjol dalam cerpen-cerpen Linda.

Ide cerita yang diangkat Linda dalam Rahasa Selma banyak bicara soal cerita keseharian manusia. Tokoh-tokoh yang ada, tak jauh dari pusaran konflik kesepian, kekelaman dan kemuraman, kedukaan dan sejenisnya. Linda sepertinya tampak ingin mengungkapkan, betapa pengalaman penistaan, kerap dilakukan oleh orang-orang yang berada di lingkungan terdekat tokohnya. Seperti misalnya tokoh aku dalam cerpen Pohon Kersen yang punya cara lain agar ia bisa mengalihkan pikirannya terhadap kekelaman itu dengan cara merindukan pohon kersen di halaman rumahnya.

Kekelaman, kemuraman, kedukaan versi lain juga dihadirkan melalui cerpen Kupu-Kupu Merah Jambu. Pada cerita ini, Linda justru mematahkan anggapan tidak selamanya perempuan yang jadi korban, lelaki pun bisa dijadikan objek pelecahan. Kali ini, bukan seorang Bang Husin (orang yang melecahkan tokoh aku dalam cerpen Pohon Kersen), melainkan oleh seorang guru mengaji yang kerap menghukum anak didiknya yang tidak dapat menghafalkan atau salah melafalkan ayat Al-Quran. Pelecehan seksual yang dilakukan seorang guru terhadap anak didiknya barangkali sebuah realitas yang juga dapat kita saksikan di layar televisi kita. Linda mencoba memotret dan melihat realita ini dengan ‘lensa’ dan kacamata fiksi.

Guru mengajinya menghukum murid laki-laki maupun perempuan di kamar gelap tiap kali mereka salah melafalkan ayat. Akibat hukuman itu ia sukar buang air besar berminggu-minggu. Dua teman perempuannya tidak datang mengaji lagi. Orang-orang kampung berbisik-bisik keduanya hamil gara-gara tidak sanggup mengucap ayat-ayat suci dengan benar. “Sebaik-baiknya hukuman lebih baik datang dari manusia sebelum hukuman dari Allah yang lebih dahsyat itu membakar dan memanggang kamu semua di api neraka,” kata sang guru, dengan suara diseram-seramkan..” (Hal. 34)

Sampul Buku

 

Barangkali kita akan dibuat terkesan ketika melihat sampul buku ini. Secara sampul, buku Rahasia Selma terbilang menarik, mengusung gambar kaki anak-anak yang mengenakan kaus kaki warna hijau dengan motif bunga-bunga. Anak tersebut tampak memakai sandal warna hitam. Gambar kaki seorang anak-anak tersebut dipadu dengan latar warna oranye pudar. Apabila kita cermati, sekilas konsep sampul yang diusung Linda dalam buku ini memang agak mirip dengan konsep buku Vladimir Nabokov berjudul Lolita.

Buku Vladimir juga mengangkat konsep sampul yang agak mirip dengan buku Rahasia Selma ini. Namun, ada hal yang berbeda di antara keduanya. Lolita dibuat dengan kesan menonjolkan kesedihan, terlihat melalui pemilihan warna hitam putih yang mendominasi. Sedangkan Rahasia Selma cenderung terkesan lebih “ngejreng”, dengan paduan warna-warna hidup. Perbedaan kedua terlihat dari cara berdiri sang tokoh anak-anak. Kalau dalam buku Lolita, pada sampulnya terlihat kaki anak-anak yang berdiri dengan pose kaki kanan yang agak sedikit ditekuk ke depan. Berbeda dengan Rahasa Selma, justru sang anak berdiri lurus tegak, dengan sepasang sepatu menghadap lurus.

Secara tersirat, ada maksud yang ingin disampaikan Linda atas pemilihan konsep sampul seperti itu. Apabila kita telusuri lebih jauh, khususnya dalam cerpen Rahasia Selma, kita dibuat melalang buana ke dunia Selma, seorang anak yang ingin banyak tahu tentang dunia luar. Atas rasa keingintahuannya itulah, secara sembunyi-sembunyi Selma melakukan perjalanan tanpa diketahui siapapun, termasuk Ibu Selma sendiri.

Kalau kita sadari, apa yang membuat Selma melakukan semua itu? Ingin tahu dunia luar, melakukan perjalanan itu secara diam-diam? Ya, kesepianlah yang mensugesti dan merangsang Selma sehingga bocah itu diam-diam pergi tanpa sepengetahuan Ibunya. Hemat saya, ini semacam gambaran betapa ingin tahunya anak-anak terhadap dunia luar – sebagai akibat kesepian yang melandanya—dan diekspresikan melalui gambar kaki anak-anak itu.

Begitulah Linda hadir di tengah khasanah sastra Indonesia dengan memunculkan cerita-cerita yang lahir atas fenomena kelam yang hadir di kehidupan kita sehari-hari. Barangkali, satu atau dua cerita, tak ubah sebagaimana yang kita saksikan dari layar televisi. Kehidupan masyarakat kita yang di dalamnya terdapat bermacam masalah sosial, bahkan sampai masalah personal atau wilayah pribadi yang mungkin tidak akan diketahui oleh orang lain. Buku Rahasia Selma ini meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori buku prosa. Akhir kata, saya kira, buku ini sangat layak untuk dibaca. (*)

 

Judul Buku              : Rahasia Selma)
Penulis                        : Linda Christanty
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                      : Pertama, April 2010
Halaman                    : 130 halaman
ISBN                              : 978-979-22565-6-7
Harga                            : Rp.30.000
Resensiator              : Dodi Prananda

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s