Resensi

Madre: ‘Ibu’ dan Cinta yang Memanggil Pulang

Sore itu saya memutuskan menonton Madre. Selama ini, saya punya tradisi berbeda bila menonton film yang diangkat dari novel. Sebagai penulis, saya lebih menyenangi menyimak karya visualnya terlebih dahulu ketimbang karya teksnya. Tujuannya sederhana, saya akan merasa terbantu dengan cara bernarasi dan cara berdeskripsi pengarangnya. Dengan melihat adegan visualnya (khususnya bagian yang tampil di visual dan tertera di teks), saya belajar mereka-reka seperti apa pengarangnya bertutur. Perlakuan yang sama juga berlaku untuk Madre. Saya sengaja tidak membaca bukunya terlebih dulu, dan baru ‘berani’ membaca apabila ekspektasi saya mencapai klimaksnya.

Saya menonton bersama dua sahabat saya, Melati dan Haikal. Ada Dian, satu lagi sahabat kami. Tapi, dia enggan menonton film dalam negeri, sekalipun segala bujuk rayu dan persuasi sudah kami upayakan. Betapa pun hanya bertiga, tapi kami merasa tak kehilangan ramainya. Walaupun ketika duduk di antara penonton yang lain, kami merasa sedikit canggung karena hampir semua penonton berpasangan.

Selama ini, saya tahu Dee namanya dibicarakan. Karya-karyanya, hampir di semua toko buku, terpampang di rak buku laris. Tapi, anehnya, selama ini saya belum berani membaca. Tidak juga untuk novelnya Perahu Kertas. Saya hanya menyenangi visualnya, persis alasan saya di atas. Saya tahu, ada sejumlah nama yang saya tahu karyanya bagus, namun saya belum siap membacanya. Untuk buku Filosofi Kopi, Madre, dan serial Supernova-nya, nama Dee mungkin masuk senarai itu.

Kepada sejumla teman saya menjelaskan bahwa saya belum siap ‘membaca’ Dee. Beberapa bukunya, punya banyak kandungan filosofis yang membuat kening saya berkerut. Saya yakin, banyak literatur yang Dee lahap untuk menulis buku-bukunya itu, sehingga saya sebagai pembacanya pun tak bisa melahapnya dengan kepala kosong, apalagi buta dengan apa yang Dee tulis. Karena itu, serupa hal yang saya alami ketika membaca Ayu Utami, Triyanto Triwikromo, dan beberapa penulis yang karya-karyanya tampak ‘agung’ di mata saya, saya sengaja ‘menjarak’ dari karya mereka, dengan harapan suatu waktu berani membuka halaman demi halaman. Membaca pelan-pelan.

Salah satu adegan Tansen dan Mei di Tan de Bakker (Sumber foto; www.wowkeren.com)

Salah satu adegan Tansen dan Mei di Tan de Bakker (Sumber foto; http://www.wowkeren.com)

Agar tak terlalu berpanjang-panjang, mungkin saya memulai mengulas filmnya. Film ini saya sukai karena bintangnya adalah bintang film favorit saya. Vino G. Bastian, semua filmnya tak ada yang buruk di mata saya. Rasanya, sulit untuk tidak memuji kualitas aktingnya pada film-film yang ia bintangi. Laura, saya jatuh cinta padanya ketika ia bermain Gara-gara Bola. Aktingnya berani. Suaranya renyah dan enak didengar. Bila bersuara, saya seperti terbuai di surga. Mempertemukan mereka berdua dalam suatu film, bagi saya adalah magnet luar biasa yang siapa pun, berada di belahan dunia manapun, pasti akan kena daya tariknya.

Bahkan sampai masuk ke dalam ruangan bioskop, di benak saya masih bersisa tanya. Persis ketika saya menonton Rectorverso. Judulnya saja, tidak memberikan saya gambaran apa-apa. Ini mungkin karena efek saya tidak membaca sehingga tidak tahu, dan tidak mampu menebak apa-apa. Tapi, ketika Madre mulai, saya mendapat jawaan. Madre ternyata nama biang roti. Madre sendiri artinya Ibu.

Setelah satu jam pertama film berlangsung, saya dapat gambaran yang banyak tentang Madre. Pertama, saya cemburu pada Dee. Untuk menulis Madre, pastilah butuh riset mendalam, sehingga Dee tampak mengerti (dengan fasih) tentang dunia roti. Vino dan Laura, saya juga rasa patut mendapat rasa cemburu saya yang sama, terlebih ketika melihat adegan Vino yang memerankan Tansen, yang semula ‘buta’ dengan roti, kemudian tiba-tiba mencintai dunia barunya itu (walau alasan sebenarnya bukan mencintai roti, tapi mencintai perempuan yang membuat ia jatuh cinta pada roti). Akting Didi Petet (yang memerankan Pak Hadi) juga kawin dengan Tansen. Kemistri yang terjalin, kadang memunculkan adegan-adegan yang mengundang tawa dan saya sulit untuk tidak tersenyum ketika menyaksikannya.

Laura, seperti filmnya yang lain selalu tampil cantik. Untuk film ini, rambutnya dicat sedikit pirang. Adegan di pantai, membuat saya meleleh. Laura benar-benar layak dijadikan ‘bintang’ dalam film ini karena sinarnya membuat siapa saja terpesona. Dan, termasuk semua lelaki yang ada di ruang bioskop sore itu, saya yakin.

Daya tarik lainnya film ini adalah pemilihan latar (setting). Saya senang, Braga dijadikan pilihan. Memang, ini pilihan yang tepat. Cerita yang diangkat, sangat kawin dengan suasana Braga. Sehingga, sajian suasana yang disuguhkan sangat ‘old’ dan klasik, namun tak kehilangan kesan mewah. Sampai hari ini, saya menyenangi Jalan Braga, tidak semata karena pernah menuliskan cerpen dengan setting tempat itu. Tapi, Braga memang punya ‘nyawa’ tempat tersendiri. Ia menyumbang ruh untuk membuat film Madre terasa lebih hidup. Apalagi melihat Tan de Bakker, bersebelahan dengan toko-toko dengan bangunan tua, dengan cat-cat mengelupas, usang. Saya terpana dan merasa rugi kalau mata saya berkedip dan terpejam begitu lama.

Film ini banyak saya mengajari nilai-nilai tentang kehidupan. Tentang asal. Tentang tempat kita dilahirkan. Tentang keluarga. Tansen boleh saja merasa hidupnya bebas, membenci kota karena alasan kota itu ribut dan kejam, dan mencintai kebebasan yang ia temui di laut dengan cara bermain surfing. Sampai hari itu saya berkata seperti ini kepada Vino, lewat mention twitter kepadanya: Betapa pun kita ingin ‘bebas’, kita akan selalu pulang ke rumah. Dan Vino memberikan RT-nya.

Nilai lain, adalah semangat untuk mencoba yang baru. Dunia roti dan dunia ombak, jelas jauh beda. Di sini, ditegaskan, walau Vino sempat ingin pergi dan kembali ke dunia ombaknya, ia sulit untuk meninggalkan dunia roti. Ia sudah terlalu jauh masuk ke dunia barunya, sehingga sulit ditinggalkan. Saya belajar, hal baru yang sama sekali tak kita ketahui, tapi bila dilakukan dengan cinta, pasti berhasil juga.

Bayang-bayang Perahu Kertas

Setelah keluar dari ruangan bioskop, saya menduga-duga. Entah kenapa, terlalu banyak kesamaan antara Madre dan Perahu Kertas. Pertama, setting. Kedua film itu sama-sama mengambil setting di Bandung, walau Madre lebih dominan. Selain Bandung, juga di Bali. Kedua film itu, ada sejumlah adegan yang mengambil setting Bali, khususnya pikat pantai yang memanjakan mata.

Kedua, gaya khas narator yang berkata dalam hati, dengan memakai bahasa-bahasa liris. Dalam Perahu Kertas bagian-bagian yang diberi suara narator tokohnya, banyak sekali. Persis ketika Kugy yang diperankan Maudy Ayunda menyampaikan keluh dan gelisah hatinya. Cara menyisipkan suara narator memang menjadikan film lebih hidup. Tapi, karena Perahu Kertas dan Madre ditulis oleh orang yang sama, walaupun digarap oleh sutradara berbeda, gaya demikian tetap serupa. Yang anehnya, ketika Tansen mengungkapkan isi hatinya dengan gaya narator itu. Kesan laki-laki macho jadi sedikit hilang karena sangat jarang lelaki terlalu berperasaan dan gelisah yang terpendam sehingga membuat hatinya berkata-kata.

Lainnya adalah musik-musik pengiring (scoring) yang juga terdengar mirip dengan Perahu Kertas. Adegan ketika perahu kertas yang terombang-ambing di lautan, ketika Kugy menaiki perahu motor dan melepaskan perahu kertas, mirip degan beberapa musik dalam film Madre. Selain itu, juga ada beberapa kalimat-kalimat yang dilontarkan pemeran (seperti quotation), yang seperti dilanjutkan di film Madre ini, yaitu ketika Pak Hadi berkata kepada Tansen, jatuh cintalah pelan-pelan, tapi jangan lambat, nanti menyesal. Hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh Pak Wayan (diperankan Tio Pakusadewo) dalam film Perahu Kertas dengan versi: jatuh cintalah pelan-pelan, jangan sekaligus. Berat nanti.

Di luar kemiripan yang mungkin tidak sengaja itu (atau sengaja?), ada adegan yang benar-benar membuat saya tertawa geli dan sedikit canggung. Pertama, adegan pemain biola yang tampak menghafal dialog. Diceritakan oleh Tansen, kalau pemain biola itu (sebagaimana yang ia ketahui dari Pak Hadi) adalah pemain biola yang dulu bekerja sebagai pemusik di Tan de Bakker. Ini  agak merusak keindahan filmnya. Ada juga adegan yang bahkan mirip sinetron, yaitu saat Tansen dan Mei membuat roti bersama dan kemudian pelan-pelan mereka melepaskan tangan, seperti ada perpisahan. Oh, ini membuat Madre terkesan ke-sinetron-an. Harusnya, adegan itu bisa dibuat lebih mewah dan berkelas lagi.

Melati, teman saya yang sudah membaca Madre sebelumnya, juga menyesalkan akhir yang agak aneh dan tidak menarik. Secara keseluruhan, Madre membuat ia terpana. Tapi, ending yang demikian, membuat ia kecewa.

Saya pun juga protes, karena bagian ending, yang memunculkan nama sutradara tiba-tiba, mengesankan film ini ditutup mendadak, sementara, penonton masih menanti-nanti bagaimana intepretasi Benni, seperti apa menutupnya. Bagaimana Mei dengan pernikahannya pun juga tidak terselesaikan. Penonton pasti bertanya-tanya, walaupun sebenarnya terungkap di sini: Mei memilih cinta yang memanggilnya, persis Tansen yang pulang, karena ‘ibu’ dan cinta memanggilnya pulang. (*)

*Dodi Prananda, penikmat film. (Depok, 13-4-2013)

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s