True Story

Akademi Bercerita PlotPoint: Bercerita Tanpa Jeda

Suatu hari, saya mewakili FISIPERS untuk acara journalist network, sebuah acara temu wartawan kampus yang digelar Lembaga Teknika, media di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Di acara itu, saya berkenalan dengan pegiat media di Fakultas Hukum, namanya Shierly Desliyani, mahasiswa Hukum Universitas Indonesia.

Sumber foto: Blog PlotPoint

Sumber foto: Blog PlotPoint

Di hukum, namanya Perfilma (Pers, film, fotografi dan musik mahasiswa). Saat presentasi perngenalan media di fakultasnya, Shierly menjual sejumlah program di Perfilma. Saat itu juga ia mengatakan Perfilma bekerjasama dengan PlotPoint mengadakan seminar kreatif tentang dunia tulis menulis. Saya langsung bersemangat. Mencatat tanggal itu.

Tapi, ketika hari itu datang, saya baru sadar, ternyata saya ada kuliah Statistik Sosial I. Mata kuliah yang pada awalnya saya takuti. Dari dulu, saya selalu tidak
nyaman dengan pelajaran angka-angka. Untuk mata kuliah ini, rasanya saya malas untuk bolos. Saya enggan masa lalu di SMA, ketika saya merasa cemas dengan angka-angka, terulang lagi. Selama ini, saya terlanjur mencintai aksara. Dunia jurnalistik yang saya tekuni secara akademis dan praktis, mengajarkan saya bersahabat dengan huruf, bukan dengan angka. Demi alasan tuntutan mata kuliah ini, saya mengubur jauh-jauh kecemasan itu. Sekaligus sejak awal mata kuliah ini jalani, saya berusaha untuk duduk di kelas senyaman mungkin, bahkan di saat saya harus mendapati kenyataan bahwa dosen saya adalah Mas Whisnu, yang sebelumnya sangat ditakuti untuk mata kuliah ‘Metode Penelitian Sosial’. Hari pertama, saya merasa nyaman. Hari kedua, kelas ditiadakan. Dan hari ketiga, hari ini. OMG,  bertabrakan dengan acara Perfilma: Akademi Bercerita yang menghadirkan penerbit yang saya lihat punya prospek bagus itu: PlotPoint.

Ada yang harus dikorbankan, begitu prinsip biaya peluang. Tadinya, saya berencana akan menghadiri acara ini hingga pukul dua. Setelah itu, saya akan kuliah. Saya datang telat di ruangan. Acara sudah dimulai. Ada pemateri yang berbicara. Saya kurang kenal. Wajahnya baru saya kenali. Pada teman FISIPERS yang juga datang, saya bertanya, siapa nama pembicara di depan ini. Dia tidak tahu. Dan, Kak Iim (panitia journalist network) juga datang, pun tidak tahu siapa pemateri.

Saya menyenangi materi acara bertajuk Akademi Bercerita di FHUI. Saya tahu cukup banyak mengenai acara ini (Akademi Bercerita) dari twitter dan blog PlotPoint. Selain ilmunya penting, ini juga pemacu semangat saya untuk menulis. Materinya disajikan menarik. Bahkan, ketika peserta diminta bertukar cerita pada partnernya. Partner saya Kak Iim. Saya bercerita pada Kak Iim dan Kak Iim bercerita pada saya. Cerita itu kemudian harus diberi bumbunya. Cerita partner diminta diceritakan pada partner yang lain, dan kepada partner lain diminta masukan. Kemudian, cerita dipresentasikan. Ini seru. Saya kemudian mengangkat tangan ketika pembicara meminta untuk bercerita. Saya ceritakan cerita tentang Iim itu. (Saya jadi tertarik menuangkan ide cerita ini ke dalam cerita pendek).

Sumber: Blog PlotPoint

Sumber: Blog PlotPoint

Acara terus berjalan. Saya kian gelisah. Menatap waktu pada layar ponsel. Rupanya, sudah pukul dua lewat. Saya sungguh nyaman pada acara ini, selain acara ini menarik saya merasa hanyut dalam materi yang membuat saya terdorong menulis. Semangat saya jadi menggebu-gebu. Dan, saya ingin katakan, bahwa sebenarnya, selain berharap mendapatkan suntikan semangat, saya ada misi lain untuk datang ke acara ini. Sebulan yang lalu, saya mengirimkan naskah ke PlotPoint. Saya berharap, jawabannya akan saya dapatkan langsung kepada tim atau editor yang datang.

Gelisah saya semakin melaut. Kali ini sudah pukul tiga. Acara tampaknya akan berakhir. Sudah sampai di penghujung waktu, persis ketika sesi tanya jawab berakhir. Di luar, hujan turun deras. Persis gelisah saya. Saya cemas ketinggalan materi kuliah Statistik Sosial I hari ini, karena Mas Whisnu pernah bilang bahwa hari itu menghitung-hitung akan dimulai. Tapi, betapa pun, saya harus memilih.

Saya ingat, bahwa peluang dan kesempatan yang datang sekali dan tidak berulang, harus diselamatkan. Saya memilih acara ini pada akhirnya, sampai gelisah saya reda. Hujan pun reda. Sudah pukul tiga lewat. Dan, kemudian saya pun tahu, sekaligus menjadi kaget ketika ternyata pembicara yang selama tadi berbicara panjang lebar tentang menulis kreatif adalah Gina S. Noer.

Saya jadi histeris sendiri. Mbak Gina adalah co-founder PlotPoint dan penulis naskah skenario. Ia telah menulis skenario film Habibie-Ainun dan Ayat-ayat Cinta. Gina S. Noer adalah istri dari Salman Aristo.

Akhir acara, tambah menarik. Saya diberi satu buku sebagai penghargaan karena sudah berani bercerita, berani bertanya. Menariknya lagi, ketika acaranya benar-benar usai, saya memberanikan diri bertanya pada Mbak Gina. Bertanya tentang nasib naskah saya. Hati saya berdebar. Sepertinya, hujan di luar memberikan jawaban. “Mbak, boleh nanya nggak. Kemarin aku ngirim naskah ke PlotPoint,” kataku. “Judulnya apa?” tanyanya balik. Saya jelaskan. Judulnya. Sinopsisnya. Dan, saya terhenyak ketika Mbak Gina bilang,” Kayaknya ditolak, deh. Tapi, nanti kita kasih tahu hasilnya ya,” balas Mbak Gina.

Seminggu setelah acara, saya menerima email penolakan. Tapi, saya bahagia. Tidak karena semata bertemu Mbak Gina. Melainkan, karena saya menyenangi bertemu dengan orang-orang hebat. Sebab, ada yang perlu saya ingat dan saya catat sebagai pelajaran. (*)

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s