Guslaini, Ibu Nomor Satu di Dunia

Bila ada yang bertanya, apakah saya sudah pernah bertemu dengan malaikat, maka jawaban saya: sudah! Sosok dan figur Ibu adalah malaikat dalam hidup saya. Bagi saya, ia adalah Ibu nomor satu di dunia.

Ibu saya lahir dari pasangan Fatimah dan Abdul Munaf, dengan nama Guslaini. Gus, sebagaimana sapaan akrabnya, diambil dari nama tengah bulan kelahirannya: Agustus. Ayahnya adalah seorang pejuang ’45, bekas prajurit Jepang yang tergabung dalam kelompok tentara pembantu Heiho, sementara Ibunya adalah seorang penjual kue singgang yang sangat terkenal saat itu di wilayah Taluak Nibuang (saat ini namanya Muara Penjalinan, Koto Tangah, Padang). Dia merupakan bungsu dari lima bersaudara yang dibesarkan di lingkungan yang kental dengan adat Minangkabau, yaitu di Padang, Sumatra Barat.

Ilustrasi: nasional.news.viva.co.id
Ilustrasi: nasional.news.viva.co.id

Dibesarkan di lingkungan yang sangat sederhana dan seadanya, tak membuat dirinya menjadi patah semangat. Dari lima orang anak orangtuanya, hanya satu yang berhasil menjadi sarjana. Selebihnya, hanya tamat SMA, termasuk Ibu saya yang hanya mampu menamatkan pendidikan hingga Madrasyah Aliyah (MA). Semua, karena anak-anaknya tersandung masalah ekonomi. Kakak nomor tiganya pun, bisa sekolah karena tinggal bersama seorang famili yang tinggal tak terlalu jauh dari rumah. Sementara, Ibu saya punya perjuangannya sendiri: dengan memutuskan menetap di Panti Asuhan Putri Asyiyah Putri yang dikelola oleh keluarga H. Koesoema, pendiri Harian Umum Haluan Padang. Di panti yang letaknya sejengkal dari rumah, Ibu saya dirawat dan dibesarkan. Dia dipanggil Upiak Ancak, yang diambil dari kata rancak, yang artinya elok atau cantik. Oleh kawan-kawan sepermainannya, panggilan itu berubah menjadi Alak.

Setelah lepas dari panti, mendapat pendidikan agama di Madrasyah, Ibu saya tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ketaktersediaan biaya, menjadi kendala terbesar. Akhirnya, ia memilih bekerja. Semula, dia mencoba peruntungan dengan mendaftarkan diri menjadi karyawan sebuah surat kabar yang cukup terkenal di Sumatra Barat, yang didirikan Basril Djabar, Hariam Umum Singgalang. Di Singgalang, ia bekerja sebagai karyawan khusus biro iklan, sering dipindahkan, bahkan sampai ke bagian umum dan administrasi. Di Singgalang, ia bertemu tambatan hatinya. Namanya Oyon. Saya selalu teringat canda Ibu saya saat saya menyebut-nyebut nama lelaki itu,”Kalau Ibu menikah dengan dia, belum tentu kamu yang lahir,” kata Ibu saya. Cinta Ibu saya berakhir dengan lelaki itu setelah Ibu saya berhenti bekerja di sana karena memilih ikut dengan kakak sulungnya untuk merantau ke Jakarta. Mencoba peruntungan, sebut orang-orang Padang yang punya pemikiran: belum sukses kalau belum meninggalkan tanah asal. Menghargai tanah asal justru dengan cara meninggalkannya, untuk pergi ke tanah lain, dan kembali suatu hari untuk membangun kampung sendiri, bila sukses kelak. Di Jakarta, bersama kerabatnya yang lain, konon Ibu saya berjualan pakaian di Tanah Abang.

Karena bertumbuh dengan penuh perjuangan, ada semacam pemikiran dalam hidupnya bahwa hidup adalah perjuangan yang berarti. Hidup harus selalu diperjuangkan, pahit atau manis pun hasilnya. Ibu saya menunjukkan ini dengan cara dan usahanya dalam mencapai cita-citanya yaitu menjadi pegawai negeri. Ia mencuri semangat kakak laki-lakinya yang bernama Syafaruddin, yang saat itu berhasil meraih gelar sarjana dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) dengan perjuangan keras kedua orangtuanya. Tapi, pada akhirnya, semangat itu padam. Redup pelan-pelan. Mimpi itu akhirnya terkubur begitu saja sampai pada akhirnya ia dipersunting oleh seorang pria kelahiran Pesisir Selatan, 25 November 1968. Mimpi besar itu akhirnya hanya ia simpan dengan harapan, kelak, anak-anaknya bisa meneruskan mimpinya itu. Menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi.

Memang, sangat hiperbolik bila saya mengatakan Ibu saya adalah Ibu nomor satu di dunia. Tapi, begitulah adanya. Saya merasakannya sendiri. Persis setelah saya mengoek untuk pertama kali, mendengar adzan di telinga saya untuk pertama kali pada hari Sabtu, 16 Oktober 1993 dan seterusnya… Sebelum beliau meninggalkan saya dan dua adik saya: Khairunissa (saat ini berusia 17 tahun), dan Muhammad Fajri (saat ini berusia 13 tahun). Walau tidak pernah menceritakan pahitnya mengubur mimpi dan cita-cita besar dalam hidupnya secara langsung, tapi, saya tahu, Ibu saya punya harapan tongkat estafet itu harus dilanjutkan oleh anak-anaknya.

Secara usia, Ibu memang meninggal dalam usia yang muda. Saat itu, usianya masih 36 tahun. Saya dalam masa kenaikan kelas 5 di Sekolah Dasar, usai pembagian rapor di mana saat itu saya meraih peringkat 4 di kelas. Tapi, itu kado terakhir yang saya beri sebelum akhirnya beliau meninggal dunia, persis akhir tahun 2004, saat perayaan Idul Fitri kami sekeluarga harus ‘merayakannya’ di rumah sakit. Ibu saya dilarikan ke rumah sakit dan dirawat intensif di bagian syaraf. Padahal, malam itu, di malam takbiran, segala kebutuhan idul fitri sudah dipersiapkannya. Ketupat lebaran, kue, puding, es buah sudah tersedia di atas meja. Namun, malam harinya, ibu saya mengeluh sakit kepala dan menghembuskan napas terakhirnya pada suatu malam yang menjadi mimpi buruk bagi saya.

Setiap orang bertanya, apakah bakat menulis saya datang dari ibu atau ayah saya.  Saya rasa, tidak dari keduanya. Tapi, kalau didikan Ibu, mungkin iya. Pendidikan bagi Ibu nomor satu. Tidak ada tawar menawar. Karena itu, setiap kali diajak ke Pasar Raya Padang, saya selalu pulang membawa buku dan bacaan. Kegemaran membaca yang diajarkan diam-diam itu, pada akhirnya membuat saya sering dikirim sebagai perwakilan sekolah dan sering keluar sebagai pemenang pertama. Di sekolah, prestasi saya cukup bagus. Predikat bintang kelas selalu saya kantongi. Semua karena didikan beliau. Pulang sekolah, setelah mengganti pakaian, saya diminta mengulang pelajaran. Waktunya selalu ada untuk membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah (pr), bahkan untuk sekadar belajar membaca dan berhitung di atas kasur sebelum tidur. Oya, yang paling terpatri di ingatan saya adalah ketika saat itu, Ibu berjuang mendaftarkan diri saya di sekolah dasar. Syaratnya harus berusia tujuh. Sementara, usia saya masih enam tahun. Pihak sekolah meragukan. Saya terbilang cepat masuk taman kanak-kanak, yaitu di usia lima tahun. Tapi, saya diminta tes berhitung dan membaca di depan pihak sekolah, dan akhirnya diterima.

Ibu selalu bercerita tentang kakak laki-lakinya yang berhasil itu, yang juga Paman saya (dalam bahasa Minang, saya memanggil beliau Mamak). Mamak saya ini adalah Kepala Sekolah di sebuah SMA di Sijunjung. Semangat belajar yang tertular ke dalam diri ibu saya, ditularkan pula oleh Ibu ke dalam diri saya. Itu saya tunjukkan dengan cara menjadi juara kelas, tak pernah tersingkir dari peringkat 1 hingga 5. Saya belajar sungguh-sungguh. Karena itu, Ibu selalu menanti-nanti momen pembagian rapor karena ia selalu bangga bila saya maju ke depan kelas bila saya dinyatakan menjadi juara. “Kalau Metek Engat masih hidup, pasti dia bahagia melihat prestasimu,” kata Ibu saya, mengenang kakak laki-laki nomor duanya yang meninggal dunia karena truk yang ia tumpangi kecelekaan saat menuju Padang, untuk melihat saya (kemenakannya) yang saat itu baru saja lahir.

Ibu saya adalah Ibu nomor satu di dunia, menurut versi saya. Juga karena, cara Ibu saya yang membuat saya mencintai dunia tulis menulis. Seorang Ibu, tentu orang yang paling tahu dengan bakat anaknya. Diam-diam, Ibu memupuk bakat saya itu. Persis ketika saya menunjukkan nilai ulangan bahasa Indonesia saya yang meraih nilai 9,85 dan pujian-pujian yang selalu disampaikan langsung oleh guru saya kepada Ibu, tentang nilai pelajaran mengarang saya. Kepercayaan itu juga yang membuat pihak sekolah mengirim saya dalam perlombaan menulis.

Tapi, banyak hal yang tak sempat Ibu saya lihat, yaitu ketika SMP (saya melanjutkan di SMP 7 Padang dan SMA 1 Padang, sekolah favorit di Padang), saya mulai menulis di media massa: cerita pendek atau puisi yang saya tulis untuknya. Ya, banyak hal yang mungkin tidak dilihat Ibu secara langsung, tapi Ibu pasti tahu dan bangga di sana. Tidak hanya karena saat ini saya berkuliah di Universitas Indonesia, namun juga karena buku kumpulan puisi pertama saya yang berhasil dibukukan Februari 2012, berjudul: Musim Mengenang Ibu dan buku-buku lainnya yang saya tulis hingga hari ini. Tulisan-tulisan saya hari ini, adalah ‘doa-doa’ untuk Ibu saya. Saya menulis itu untuk dia. Saya mengenangnya setiap hari. Dan saya akan selalu mengingat, pesan-pesan terakhir yang ia bisikkan ke telinga ayah saya sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya: ”Lanjutkan sekolahnya. Sekolahkan dia tinggi-tinggi. Jangan sampai putus!” Dan mata saya selalu berkaca-kaca bila mengenang nasihat itu. (*)

Untuk Ibu saya di surga

Depok, 22 April 2013

Iklan

Setan di Perlintasan

Jumat saya kelabu. Recent updates di ponsel pintar saya tiba-tiba menghitam. Di linimasa, orang-orang ‘memanjatkan’ doa. Saudara kami meninggal dunia.

Arradan Trengganala, mahasiswa jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Bagian dari keluarga kami. Anggota baru keluarga kami. Kami bersedih. Adik kami, jiwanya terlepas, tulis orang-orang menyampaikan belasungkawa yang dalam. Berduka cita yang rasanya harus membuat mata kami basah lagi. Padahal air mata kami belum kering pasca kejadian nahas yang menimpa Annisa Azward, Februari lalu. Sekarang, kami berduka lagi.

Sumber:aanniss.blogspot.com
Sumber:aanniss.blogspot.com

Selama ini, saya melihat orang-orang yang dipanggil Tuhan pada hari Jumat adalah mereka yang dicintai penciptanya. Mereka dijemput pada hari yang baik. Hari yang mulia. Banyak rahasia pada hari ini, rahasia Tuhan. Banyak berkah, kata mereka yang percaya bahwa Jumat punya kemuliaan yang tak dimiliki hari lain. Doa-doa dikabulkan. Karena itu, saya jadi menyimpulkan Tuhan sayang kakek saya, Alm. Abdul Munaf. Beliau juga dipanggil pada hari Jumat, di hari kelahiran adik laki-laki saya yang bungsu, September 2002 silam. Berarti, saya kira, Tuhan sangat cinta pada Arradan sehingga menjemput dia dalam usia yang muda, di hari yang mulia.

Kematian Arradan memang membuat setiap kita merasa sedih tak tertanggungkan. Nyawa Arradan terenggut dengan cara yang tragis setelah menerobos palang perlintasan kereta. Siapa yang menyana, Kereta rel listrik (KRL) yang datang dari arah Jakarta menuju Bogor pagi itu yang akhirnya menutup usia Arradan. Kejadian itu terjadi di perlintasan Stasiun Pondok Cina (Pocin), Depok.

Mengetahui tentang tewasnya Arradan yang tragis itu, konon katanya, kereta itu menyeret Arradan dan motornya hingga 100 meter. Bulu kuduk saya tiba-tiba berdiri, membayangkan betapa menyeramkan sekali peristiwa itu. Pikiran saya kemudian dibawa melayang pada tempat kejadian. Perlintasan kereta Stasiun Pocin. Ya, tempat itu… tempat yang sering saya lalui bila saya hendak ke toko buku atau menjumpai teman saya yang kos di kawasan sana. Dan, kemudian saya merasa berkaca pada kejadian Arradan, persis yang saya tulis di situs berlambang burung biru: bahwa dari setiap peristiwa, saya memetik pelajaran. Peristiwa nahas yang menimpa Arradan, juga membuat saya memetik satu pelajaran tentang kesabaran.

sumber:depoklik.com
Di perlintan kereta Pondok Cina inilah, Arradan nekat menerobos sehingga kereta yang melintas dari Jakarta-Bogor luput dari perhatiannya. (sumber:depoklik.com)

Setan di perlintasan, seperti judul tulisan ini, hanya berusaha mengingatkan kita semua tentang pelajaran kesabaran. Sebab, saya merasa ada ujian tersendiri di situ, ujian yang sama juga bila berada di jalan raya. Menyebrang di rel kereta api atau di jalan raya, sama bahayanya. Sama-sama butuh kehati-hatian. Kalau tidak, nyawa bisa saja melayang. Di situ, kesabaran di pertanyakan dan diujikan. Sebab, ketika berada di jalan, kita selalu ingin bersegera, ingin cepat sampai di tujuan. Karena itu, sering saya melihat, sesama pengendara kadang lempar-lemparan umpatan kasar karena potong-memotong di jalan, tikung menikung, dan seterusnya. Pengendara wanita sering kali membuat pengendara lainnya terpancing untuk emosi. Kata-kata kasar terlontar begitu saja. Tidak hanya karena urusan ingin dahulu mendahului agar segera tiba, tetapi juga ujian untuk menghadapi tingkah laku berkendara yang kadang seenaknya, semaunya di jalan.

Ujian yang sama juga berlaku ketika berada di depan palang perlintasan kereta. Saya yang pedestrian, kerap kali merasa tergoda ketika baru saja palang turun pelan-pelan dan sirine meraung keras. Setan-setan di perlintasan mengganggu saya. “Menyebranglah, kereta masih jauh,” bisiknya. Saya harus berhadapan dengan bisikan-bisikan semacam ini. Berperang antara tetap berdiam, menunggu, bersabar dan ketergesaan. Saya kira, ajal yang memang sudah waktunya memanggil Arradan, terejawantahkan lewat ketidaksabarannya itu. Konon, setelah saya telusuri sana sini, banyak yang mengatakan kalau Arradan berpikir kereta yang lewat hanya kereta Bogor menuju Jakarta Kota. Sehingga ketika kereta dari Kota yang menuju Bogor sudah selesai melintas, ia mengira perlintasan sudah bisa dilewati dengan aman. Tapi, ia salah. Arradan tak mengacuhkan palang kereta yang belum naik ke atas, dan sirine yang masih meraung. Setan yang membisiki telinganya terlalu keras. “Kereta sudah lewat,” duga saya mengenai bisikan setan itu. Tapi, Arradan salah. Ternyata, ada dua kereta yang melintas, yang dari arah Jakarta menuju Bogor.

Saya kemudian terbayang, betapa kadang saya mengabaikan keselamatan ketika berada di depan perlintasan kereta. Di perlintasan yang ada palangnya, yang ditambah lagi bunyi sirine, masih saja ada kecelakaan semacam ini. Bagaimana dengan yang tanpa palang, seperti misalnya potensi ditabrak kereta ketika menyebang di rel gang senggol, yang menghubungkan para pedestrian menuju Depok Town Square. Di sana, selain para penjual sekitar rel, hampir tidak ada sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawa kita selain kehatian-hatian sendiri. Lebih mencengangkan lagi, saat menyebrang di sana, masih ada yang saya lihat mereka-mereka yang merasa nyawanya ada duplikatnya, sehingga dengan santai menyebrang sambil mendengarkan musik dengan kuping yang ditutup headshet. Berani sekali! Kadang, ada yang menyebrang sambil bercanda. Karena itu juga, merasakan betapa harus berhati-hati dan perlu ada yang ‘mengingatkan’ saya merasa betapa mulianya penunggu palang kereta yang ada di depan Fakultas Hukum, yang konon katanya sengaja dibayar dengan iuran mahasiswa demi keselamatan mahasiswa Hukum khususnya yang sering bolak-balik di sana.

Saya tak bermaksud menuliskan obituari. Hanya ingin sedikit bercerita tentang apa yang saya ketahui kemudian tentang Arradan. Saya juga sempat bertemu teman satu jurusan Arradan dan dia banyak bercerita. Arradan anak pintar, saya yakin itu.  Anaknya juga pendiam, kata teman Arradan yang berasal dari tanah asal yang sama dengan saya. Teman saya itu ikut mengantarkan Arradan ke peristirahatan terakhirnya, mengamati suasana di rumah duka, di Jalan Cemara Raya RT 09 RW 013, Bakti Jaya Sukmajaya, Depok, Jawa Barat.

Saya terpikir untuk menanyakan tanda-tanda yang muncul sebelum Arradan dipanggil. Saya jadi terbayang, perkatan terakhir yang sekaligus menjadi tanda-tanda ketika ibu saya meninggal dunia. Dia bilang kepada saya, “Mama mau pergi jauh,” kata Mama sebelum beliau meninggalkan saya dan dua adik saya yang kecil saat itu. Arradan juga sama. Teman saya di Psikologi, Welan, selalu melihat tanda-tanda orang yang meninggal dunia dari matanya yang sayu. Teman saya yang juga teman Arradan itu membantah. Matanya biasa saja, dia juga pakai kacamata, ceritanya. Tapi, ada sesuatu yang membuat semua kita terhenyak ketika membaca beberapa kicauan terakhir Arradan. Sedikitnya ada dua hal yang mungkin bisa dibilang tanda-tanda:

”@ArvadarT: I know, caught up in the middle. I cry, just a little when I think of letting go.” Kicauan tersebut, ditulis Arradan semalam, sekitar pukul 23.18 WIB.

Kemudian, mengenai kicaun tentang H-5 dia sebelum berangkat umrah. Konon, dikabarkan, Arradan berangkat umrah hari ini. ‘Bertamu’ ke rumah Tuhan bersama keluarga, namun Arradan tidak hanya bertamu untuk beberapa waktu, namun untuk selamanya. Tuhan memeluknya, ketika doa-doa dikirimkan semua orang.

Tanda lain adalah, seperti yang dikatakan teman saya, ada yang mengatakan ada hal yang berbeda dilakukan Arradan dibanding hari biasannya. Mengenai jalan yang ditempuhnya. Biasanya, untuk menuju kampus, Arradan melewati gerbang utama Universitas Indonesia, melalui fly over depan UI Wood. Namun, hari ini ia memilih jalan Pondok Cina. Cerita lainnya, Ibu Arradan dikabarkan tetap pergi umrah. Mungkin, karena ingin langsung bertemu Allah tentang kesedihan yang teramat sangat hari ini. Dan, sekali lagi, mungkin juga kenapa Ibu Arradan tidak begitu larut dalam duka, sebab saya yakin ia tahu, Allah menyayangi Arradan karena dijemput hari Jumat.

Saya ingin akhiri tulisan ini, dengan ingin membuat setiap kita lebih sabar lagi ketika berada di depan perlintasan kereta api. Baik yang dijaga atau tidak. Kehati-hatian yang utama ada pada diri sendiri. Saya kira, setiap kita, tak ada yang tidak menyayangi nyawanya sendiri kecuali mereka yang depresi hingga akhirnya memilih bunuh diri. Sebab, nyawa ini tidak bisa dibeli dengan cara apa pun. Abaikan saja setan di perlintasan. Sekian. (*)

Membaca Kesepian Perempuan dalam ‘Rahasia Selma’

Nama Linda Christanty tidak hanya dikenal di dunia jurnalistik. Di dunia sastra, namanya pun cukup tersohor. Tahun 2004 silam, karya berjudul ‘Kuda Terbang Maria Pinto’, yang meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2004, membuat nama Linda melambung dan disambut hangat pecinta sastra. Sapardi, memuji Linda dengan mengatakan: membaca cerpen-cerpen Linda, ia membayangkan perkembangan cerita pendek Indonesia di masa mendatang. Kali ini, ‘Rahasia Selma’ karya yang dirilis tahun 2010 ini, juga mengajak kita bertamu ke rumah fiksinya yang nyaris tak berwarna, disuguhkan dengan narasi kelam nan mencekam. Ikhwal kesepian perempuan…
Rahasia Selma merupakan salah satu judul cerita dalam buku ini, sekaligus menegaskan benang merah yang ingin Linda sampaikan: ikhwal perempuan, rumah dan kesepian. Ada sebelas cerpen dalam buku ini, delapan di antaranya telah dipublikasikan di media massa seperti Koran Tempo, Media Indonesia dan Demos. Dari semua judul, hanya empat cerita yang belum terpublikasi.

Hampir dari semua cerita dalam Rahasia Selma, mengambil latar rumah. Cerpen Rahasia Selma misalnya. Deskripsi yang kuat, tentang suasana kehidupan Selma di rumahnya, digambarkan dengan sangat tegas di bagian awal. “Selma tidak lagi merasa sepi atau sendirian seperti sebelumnya. Ibu mengizinkannya memelihara kura-kura, bukan cuma seekor, tapi ribuan. Kura-kura mengelilinginya, berlapis-lapis seperti benteng di halaman rumahnya sendiri. Ia berbaring di sofa biru yang sengaja diletakkan di bawah pohon mangga itu, sementara ribuan kura-kura menjejak hamparan rumput hijau…” (hal 51)

Sumber: google.com
Sumber: google.com

Hal yang sama, juga tergambar dalam cerpen Pohon Kersen, Kesedihan, dan Menungu Ibu. Tokoh-tokoh dalam cerpen itu, hidup di ‘rumah’ masing-masing, dengan kesepian masing-masing. Rumah bagi Linda, digambarkan sebagai ruang yang membuat tokoh-tokohnya merasa terlindungi. Uniknya, pada cerpen Pohon Kersen, rumah mengalami pergeseran makna. Diceritakan seorang anak perempuan yang hidup dalam sebuah keluarga yang tampaknya bahagia, penuh keceriaan, pengertian, namun ternyata memendam suatu permasalahan yang sangat personal. Bang Husni, cucu angkat Kakek yang tinggal serumah dengan keluarganya, melecehkan tokoh “aku” secara seksual yang menyebabkan “aku” sukar buang air kecil pada keesokan harinya. Karena merasa ada ancaman, pohon kersen dijadikan semacam cara untuk menoleh dari realitas yang menimpanya, karena tokoh aku merasa rumah tidak lagi memberi kenyamanan dan ketenangan bagi dirinya.

Penggambaran tentang rumah yang dirangkai dengan narasi kelam ala Linda, terasa ‘kawin’ dengan cara bertutur dan deskripsi yang kuat dan lincah. Sebagai tukang cerita, Linda tahu bagaimana cara mengajak pembaca untuk masuk ke ‘rumah’ yang ia maksud itu. Dengan bahasa sehari-hari, deskripsi yang Linda tulis terasa hidup dan berkesan. Linda memahami betul, arti penting suasana dalam setiap ceritanya. Hanya deskripsi waktu yang tidak begitu menonjol dalam cerpen-cerpen Linda.

Ide cerita yang diangkat Linda dalam Rahasa Selma banyak bicara soal cerita keseharian manusia. Tokoh-tokoh yang ada, tak jauh dari pusaran konflik kesepian, kekelaman dan kemuraman, kedukaan dan sejenisnya. Linda sepertinya tampak ingin mengungkapkan, betapa pengalaman penistaan, kerap dilakukan oleh orang-orang yang berada di lingkungan terdekat tokohnya. Seperti misalnya tokoh aku dalam cerpen Pohon Kersen yang punya cara lain agar ia bisa mengalihkan pikirannya terhadap kekelaman itu dengan cara merindukan pohon kersen di halaman rumahnya.

Kekelaman, kemuraman, kedukaan versi lain juga dihadirkan melalui cerpen Kupu-Kupu Merah Jambu. Pada cerita ini, Linda justru mematahkan anggapan tidak selamanya perempuan yang jadi korban, lelaki pun bisa dijadikan objek pelecahan. Kali ini, bukan seorang Bang Husin (orang yang melecahkan tokoh aku dalam cerpen Pohon Kersen), melainkan oleh seorang guru mengaji yang kerap menghukum anak didiknya yang tidak dapat menghafalkan atau salah melafalkan ayat Al-Quran. Pelecehan seksual yang dilakukan seorang guru terhadap anak didiknya barangkali sebuah realitas yang juga dapat kita saksikan di layar televisi kita. Linda mencoba memotret dan melihat realita ini dengan ‘lensa’ dan kacamata fiksi.

Guru mengajinya menghukum murid laki-laki maupun perempuan di kamar gelap tiap kali mereka salah melafalkan ayat. Akibat hukuman itu ia sukar buang air besar berminggu-minggu. Dua teman perempuannya tidak datang mengaji lagi. Orang-orang kampung berbisik-bisik keduanya hamil gara-gara tidak sanggup mengucap ayat-ayat suci dengan benar. “Sebaik-baiknya hukuman lebih baik datang dari manusia sebelum hukuman dari Allah yang lebih dahsyat itu membakar dan memanggang kamu semua di api neraka,” kata sang guru, dengan suara diseram-seramkan..” (Hal. 34)

Sampul Buku

 

Sumber: http://dreamsromanceexcess.files.wordpress.com/2012/06/lolita.png
Sumber: http://dreamsromanceexcess.files.wordpress.com/2012/06/lolita.png

Barangkali kita akan dibuat terkesan ketika melihat sampul buku ini. Secara sampul, buku Rahasia Selma terbilang menarik, mengusung gambar kaki anak-anak yang mengenakan kaus kaki warna hijau dengan motif bunga-bunga. Anak tersebut tampak memakai sandal warna hitam. Gambar kaki seorang anak-anak tersebut dipadu dengan latar warna oranye pudar. Apabila kita cermati, sekilas konsep sampul yang diusung Linda dalam buku ini memang agak mirip dengan konsep buku Vladimir Nabokov berjudul Lolita.

Buku Vladimir juga mengangkat konsep sampul yang agak mirip dengan buku Rahasia Selma ini. Namun, ada hal yang berbeda di antara keduanya. Lolita dibuat dengan kesan menonjolkan kesedihan, terlihat melalui pemilihan warna hitam putih yang mendominasi. Sedangkan Rahasia Selma cenderung terkesan lebih “ngejreng”, dengan paduan warna-warna hidup. Perbedaan kedua terlihat dari cara berdiri sang tokoh anak-anak. Kalau dalam buku Lolita, pada sampulnya terlihat kaki anak-anak yang berdiri dengan pose kaki kanan yang agak sedikit ditekuk ke depan. Berbeda dengan Rahasa Selma, justru sang anak berdiri lurus tegak, dengan sepasang sepatu menghadap lurus.

Secara tersirat, ada maksud yang ingin disampaikan Linda atas pemilihan konsep sampul seperti itu. Apabila kita telusuri lebih jauh, khususnya dalam cerpen Rahasia Selma, kita dibuat melalang buana ke dunia Selma, seorang anak yang ingin banyak tahu tentang dunia luar. Atas rasa keingintahuannya itulah, secara sembunyi-sembunyi Selma melakukan perjalanan tanpa diketahui siapapun, termasuk Ibu Selma sendiri.

Kalau kita sadari, apa yang membuat Selma melakukan semua itu? Ingin tahu dunia luar, melakukan perjalanan itu secara diam-diam? Ya, kesepianlah yang mensugesti dan merangsang Selma sehingga bocah itu diam-diam pergi tanpa sepengetahuan Ibunya. Hemat saya, ini semacam gambaran betapa ingin tahunya anak-anak terhadap dunia luar – sebagai akibat kesepian yang melandanya—dan diekspresikan melalui gambar kaki anak-anak itu.

Begitulah Linda hadir di tengah khasanah sastra Indonesia dengan memunculkan cerita-cerita yang lahir atas fenomena kelam yang hadir di kehidupan kita sehari-hari. Barangkali, satu atau dua cerita, tak ubah sebagaimana yang kita saksikan dari layar televisi. Kehidupan masyarakat kita yang di dalamnya terdapat bermacam masalah sosial, bahkan sampai masalah personal atau wilayah pribadi yang mungkin tidak akan diketahui oleh orang lain. Buku Rahasia Selma ini meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori buku prosa. Akhir kata, saya kira, buku ini sangat layak untuk dibaca. (*)

 

Judul Buku              : Rahasia Selma)
Penulis                        : Linda Christanty
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                      : Pertama, April 2010
Halaman                    : 130 halaman
ISBN                              : 978-979-22565-6-7
Harga                            : Rp.30.000
Resensiator              : Dodi Prananda

Menolak Lupa, Menagih Janji!

Janji undang-undang: fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Apakah salah bila kemudian kita mengatakan bahwa negara juga memberi harapan palsu, sehingga kemudian Deddy Mizwar mencibir pemerintah lewat film “Alangkah Lucunya Negeri Ini?”

 Rasanya, saya lelah bila setiap hari harus berbicara soal pemerintah. Apalagi, untuk janji satu ini. Perkara melindungi fakir miskin dan anak terlantar. Dalam undang-undang dasar, (bila perlu saya sebutkan pasalnya pasal 34 ayat 1) secara tegas menerangkan hal ini. Itu tersurat hitam di atas putih. Namun, dalam realitas, janji itu tampak semu. Belum ada upaya pemenuhan (janji) yang berarti sehingga kemudian kita merasa sepakat untuk menyimpulkan seperti ini: mungkin, kita sama-sama sadar, dari dulu bahkan, perhatian untuk hal ini dirasa tak memberi dampak besar. Anak-anak semakin bertumbuh di jalan. Anak-anak besar di jalan. Anak-anak mengais rupiah di antara deru jalanan dan bising ibukota.

Saya senang dengan para pekerja seni yang merayakan ‘kegelisahannya’ lewat film, ketika di sekelilingnya terlalu banyak masalah yang tak terentas. Film boleh jadi cerminan dari apa yang terjadi realitas, sebagai bentuk ketidakpuasan atau kecamuk pikiran. Di awal, saya menyebut namanya. Aktor kawakan yang punya andil dalam penggarapan film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Bagi saya, film ini sebuah tamparan keras yang mungkin akan memerahkan wajah negara (pemerintah). Saya hanya ingin meminjam kegelisahan Deddy untuk menyadarkan kita bersama bahwa ada kegelisahan yang patut kita gelisahkan bersama; ikhwal anak jalanan. Karena, sebagian di antara kita mungkin merasa ada yang lelah sehingga kemudian memilih menutup mata.

 Di film itu, tokoh Muluk yang diperankan Reza Rahardian benar-benar menginspirasi saya. Di altar realitas yang kejam ini, tokoh serupa muluk saya rasa sangat langka. Perhatian yang diberikan kepada anak jalanan, sebatas kekhawatiran dan kerisauan yang bersifat sementara dan jangka pendek (termasuk saya yang hanya bisa berkoar-koar lewat tulisan, namun konon, saya percaya sebuah tulisan yang menggerakan bisa memberikan efek jangka panjang).

Foto: Aldinoga Prayogo, sumber: http://fdimasn.blogspot.com/
Foto: Aldinoga Prayogo, sumber: http://fdimasn.blogspot.com/

Saya kira, negara kita telah lama mengidap penyakit kronis. Bila masalah korupsi, anarkistis di sana-sini, perang antar agama yang berujung pada bunuh-membunuh dan aksi pengrusakan merupakan penyakit paling mengkhawatirkan, maka ada sejumlah penyakit lainnya yang terkesan terabaikan. Masalah anak jalanan ini pada akhirnya memiliki takdir itu. Saya lagi-lagi menyangsikan apakah anak jalanan di pelbagai kota di Indonesia sungguh telah ‘terpelihara’, di saat kita sama-sama tahu ada sejumlah anak yang dilahirkan, disusui, dan dibesarkan ibu dan ayahnya di bawah kolong tol, di saat kita sama-sama tahu bahwa ada anak-anak yang masa depannya suram karena dieksploitasi demi alasan membantu orangtua menafkahi keluarga. Di kampung halaman saya, di Padang, di Jalan Veteran anak jalanan mengharap belas kasih kita. Dengan suara cemprengnya, berharap ada sedikit rezeki terulur dari mereka yang merasa ‘tersentuh’ dan iba. Biasanya kaum Ibu yang tergugah hatinya, sering membayangkan betapa miris bila itu anak kandung mereka. Di kampus saya, di Universitas Indonesia, mereka berkeliaran menjual tisu, sebagian lagi menjual koran dan ‘merengek’ di depan mahasiswa. Yang berhasil ‘merengek’, artinya berhasil membuat mahasiswa yang punya niat tulus membantu (lagi-lagi, dalam dugaan saya, yang dengan tulus membeli adalah mereka yang membayangkan bagaimana kalau anak jalanan yang menjajakan koran dan tisu itu adalah adik mereka) dan seterusnya.

Kecemasan saya berikutnya adalah pemerintah sangat rentan memberikan janji palsu. Kalau boleh saya pakai istilah anak mudanya: ‘php’ alis pemberi harapan palsu. Janji yang tertuang dalam undang-undang akhirnya menjadi sekadar hal yang membesar-besarkan hati, hal yang menghibur-hibur diri, namun nyatanya kita kecewa. Suara-suara yang membela anak jalanan, yang menyuarakan hak-hak anak, yang memperjuangkan nasib dan kehidupan anak-anak yang seperti telah bersahabat dengan buasnya rimba belantara kota, pada akhirnya terbenam sia-sia dengan riuh-rendah suara yang lain. Negara ini kronis. Kadang, membuat kita jadi bersikap pesimis. Terlalu banyak masalah sulit membuat kita optimis, lebih-lebih pada persoalan korupsi yang sepertinya menjadi santapan kita sehari-hari. Kita, yang merasa marah dan gusar, mungkin sudah kenyang dengan semua ini, sehingga memilih bungkam dirasa tepat daripada pusing bila larut dalam beragam masalah.

 Tapi, tidakkah kita luangkan waktu sejenak untuk merenung, mengamati, memikirkan mereka yang setiap harinya besar di jalan, besar dari satu tempat ke tempat lain. Sebagian dari mereka yang masih memiliki nyala semangat, datang ke keramaian dan tempat umum untuk berjualan. Sedangkan, sebagian lagi yang saya kira sampai pada titik frustrasi, dengan napas pesimis menjadi tangan di bawah. Terlalu lama tidak diperhatikan nasibnya, kecewa tak diacuhkan, saya kira, membuat mereka merasa (berhak untuk) berpikiran bahwa cara meminta satu-satunya yang dipunyai.

Kelompok anak jalanan yang masih ada daya usaha, ingin sekali saya beri apresiasi. Misalnya, suatu hari ketika bertemu menjajakan koran di bis kuning, korannya saya beli. Atau, dengan cara lainnya yang menghibur hati mereka. Bagi saya, mereka yang semacam ini, masih punya semangat menjalani hidup, malu bila menadah dan membiarkan ada tangan di atas menyelipkan sesuatu ke tangannya di bawah. Artinya, mereka masih mengerti dan paham bahwa hidup itu masih butuh kerja keras, jerih payah dan usaha. Berbeda dengan mereka yang kerap saya temui di bus cepat terbatas (patas) atau di sejumlah angkutan kota yang ‘meminta’ namun terkesan ‘memaksa’.

Tetapi, bagaimana pun cara dan usaha mereka mencari uang, mereka tetap anak jalanan yang merupakan korban eksploitasi dan ketidakberpihakan negara yang menjamin akan memelihara mereka. Mereka ada karena ada kesenjangan sosial dan ketimpangan perhatian negara. Masalah anak jalanan juga bagian besar dari beragamnya masalah sosial.

Saya ingin katakan begini, permasalahan anak jalanan di sebuah negara, sebenarnya turut mencerminkan bagaimana keadaan sebuah negara itu sendiri. Wajah negara bisa tercermin melalui sendi-sendi sosial budaya yang terpelihara, dari sendi-sendi ekonomi, dan sendi-sendi lainnya yang merupakan penopang dan pembentuk wajah. Dengan itu, saya ingin kita menilai bersama, telah sampai manakah upaya dan usaha pemerintah memelihara anak jalanan. Selama ini, saya hanya dihibur dengan cara dan perlakuan negara yang kemudian menertibkan anak jalanan dengan cara razia. Duh, ini cara lama. Yang terjaring razia, kemudian dititipkan ke rumah singgah atau dipulangkan pada orangtua. Bagi saya, cara semacam ini, kalau boleh dianalogikan: siku gatal, lengan dipotong. Bukankah selama ini yang mereka harapkan hidup yang layak, bisa bersekolah, menikmati bagaimana mengenakan seragam putih-merah atau putih biru dst, dan harapan-harapan mereka lainnya. Bila ada pohon tua yang tak berbuah dan ingin dimusnahkan, mungkin kita tak bisa hanya memotong batangnya. Demikian pula menangani masalah anak jalanan, mungkin harus ada upaya yang benar-benar sampai ke akar.

Setiap orang, saya rasa punya titik untuk merasa ia lelah. Sehingga, ia perlu untuk rehat sejenak dan menarik napas panjang. Saat-saat inilah yang mendebarkan, sekaligus membutakan. Mereka yang merasa lelah, dan merasa hidup tidak pernah berpihak pada mereka akhirnya direcoki pikiran untuk memakai cara mudah untuk bertahan hidup (survive): mencopet. Saat itu, masalah baru muncul. Ditambah lagi, sebagian dari kita, di mata mereka enggan untuk berempati sehingga pada akhirnya suatu hari kita menjadi santapan mereka. Dompet atau ponsel genggam kita berpindah ke tangan mereka, misalnya.

Saya pikir, negara tidak sedang lengah, namun justru terengah-engah. Terlalu banyak hal yang mesti diselesaikan. Terlalu banyak masalah yang menjadi beban.

Rekan saya, Muhammad Iman Usman pernah menuliskan sesuatu yang saya catat dan saya ingat baik-baik. Suatu hari, ia ada kunjungan ke Toronta, Canada. Katanya, pemerintah setempat sangat peduli dengan kaum anak jalanan. Pemerintah mendirikan arena khusus bagi mereka untuk berkarya. Mereka difasilitasi tempat untuk berkarya: bermain musik, menulis puisi, menghasilkan aneka karya seni yang layak jual. Anak jalanan di sana dilatih untuk memiliki kreativitas yang tinggi sehingga punya kualitas diri yang diharapkan mampu mengubah status sosial mereka. Di Kanada, anak jalanan diajarkan kaya melalui karya, bukan dengan cara meminta-minta, apalagi menjual iba. Tak ayal, jalanan melahirkan seniman. Mereka punya jiwa seni yang hasilnya patut ditukar dengan uang. Mereka yang menggandrungi musik, kemudian dibuatkan album dan dijual. Karya lukis, karya tulis semisal puisi, layak dijual dan diperhitungkan. Jelas ini bukan upaya eksploitasi, namaun justru tepat bila disebut upaya proteksi, atau dalam bahasa kita ‘memelihara’ anak jalanan.

Di negara lain di luar sana, saya rasa terlalu banyak cerita yang memperkaya referensi kita untuk memelihara anak jalanan. Meminjam tagline sebuah media: kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita (yang memulai), siapa lagi?

Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan mengatakan seperti ini: bagaimana mungkin negara mampu memelihara anak jalanan di saat kita lihat banyak oknum pejabat yang tidak mampu memelihara diri, sehingga mereka terpeleset di ‘tempat basah’. Dan sungguh, wajah negara, memang tercermin melalui keadaan sosial negara itu sendiri. (*)

Dodi Prananda, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Penulis fiksi dan pegiat jurnalistik. Menetap di rumah maya: @pranandadodi

Madre: ‘Ibu’ dan Cinta yang Memanggil Pulang

Sore itu saya memutuskan menonton Madre. Selama ini, saya punya tradisi berbeda bila menonton film yang diangkat dari novel. Sebagai penulis, saya lebih menyenangi menyimak karya visualnya terlebih dahulu ketimbang karya teksnya. Tujuannya sederhana, saya akan merasa terbantu dengan cara bernarasi dan cara berdeskripsi pengarangnya. Dengan melihat adegan visualnya (khususnya bagian yang tampil di visual dan tertera di teks), saya belajar mereka-reka seperti apa pengarangnya bertutur. Perlakuan yang sama juga berlaku untuk Madre. Saya sengaja tidak membaca bukunya terlebih dulu, dan baru ‘berani’ membaca apabila ekspektasi saya mencapai klimaksnya.

Saya menonton bersama dua sahabat saya, Melati dan Haikal. Ada Dian, satu lagi sahabat kami. Tapi, dia enggan menonton film dalam negeri, sekalipun segala bujuk rayu dan persuasi sudah kami upayakan. Betapa pun hanya bertiga, tapi kami merasa tak kehilangan ramainya. Walaupun ketika duduk di antara penonton yang lain, kami merasa sedikit canggung karena hampir semua penonton berpasangan.

Selama ini, saya tahu Dee namanya dibicarakan. Karya-karyanya, hampir di semua toko buku, terpampang di rak buku laris. Tapi, anehnya, selama ini saya belum berani membaca. Tidak juga untuk novelnya Perahu Kertas. Saya hanya menyenangi visualnya, persis alasan saya di atas. Saya tahu, ada sejumlah nama yang saya tahu karyanya bagus, namun saya belum siap membacanya. Untuk buku Filosofi Kopi, Madre, dan serial Supernova-nya, nama Dee mungkin masuk senarai itu.

Kepada sejumla teman saya menjelaskan bahwa saya belum siap ‘membaca’ Dee. Beberapa bukunya, punya banyak kandungan filosofis yang membuat kening saya berkerut. Saya yakin, banyak literatur yang Dee lahap untuk menulis buku-bukunya itu, sehingga saya sebagai pembacanya pun tak bisa melahapnya dengan kepala kosong, apalagi buta dengan apa yang Dee tulis. Karena itu, serupa hal yang saya alami ketika membaca Ayu Utami, Triyanto Triwikromo, dan beberapa penulis yang karya-karyanya tampak ‘agung’ di mata saya, saya sengaja ‘menjarak’ dari karya mereka, dengan harapan suatu waktu berani membuka halaman demi halaman. Membaca pelan-pelan.

Salah satu adegan Tansen dan Mei di Tan de Bakker (Sumber foto; www.wowkeren.com)
Salah satu adegan Tansen dan Mei di Tan de Bakker (Sumber foto; http://www.wowkeren.com)

Agar tak terlalu berpanjang-panjang, mungkin saya memulai mengulas filmnya. Film ini saya sukai karena bintangnya adalah bintang film favorit saya. Vino G. Bastian, semua filmnya tak ada yang buruk di mata saya. Rasanya, sulit untuk tidak memuji kualitas aktingnya pada film-film yang ia bintangi. Laura, saya jatuh cinta padanya ketika ia bermain Gara-gara Bola. Aktingnya berani. Suaranya renyah dan enak didengar. Bila bersuara, saya seperti terbuai di surga. Mempertemukan mereka berdua dalam suatu film, bagi saya adalah magnet luar biasa yang siapa pun, berada di belahan dunia manapun, pasti akan kena daya tariknya.

Bahkan sampai masuk ke dalam ruangan bioskop, di benak saya masih bersisa tanya. Persis ketika saya menonton Rectorverso. Judulnya saja, tidak memberikan saya gambaran apa-apa. Ini mungkin karena efek saya tidak membaca sehingga tidak tahu, dan tidak mampu menebak apa-apa. Tapi, ketika Madre mulai, saya mendapat jawaan. Madre ternyata nama biang roti. Madre sendiri artinya Ibu.

Setelah satu jam pertama film berlangsung, saya dapat gambaran yang banyak tentang Madre. Pertama, saya cemburu pada Dee. Untuk menulis Madre, pastilah butuh riset mendalam, sehingga Dee tampak mengerti (dengan fasih) tentang dunia roti. Vino dan Laura, saya juga rasa patut mendapat rasa cemburu saya yang sama, terlebih ketika melihat adegan Vino yang memerankan Tansen, yang semula ‘buta’ dengan roti, kemudian tiba-tiba mencintai dunia barunya itu (walau alasan sebenarnya bukan mencintai roti, tapi mencintai perempuan yang membuat ia jatuh cinta pada roti). Akting Didi Petet (yang memerankan Pak Hadi) juga kawin dengan Tansen. Kemistri yang terjalin, kadang memunculkan adegan-adegan yang mengundang tawa dan saya sulit untuk tidak tersenyum ketika menyaksikannya.

Laura, seperti filmnya yang lain selalu tampil cantik. Untuk film ini, rambutnya dicat sedikit pirang. Adegan di pantai, membuat saya meleleh. Laura benar-benar layak dijadikan ‘bintang’ dalam film ini karena sinarnya membuat siapa saja terpesona. Dan, termasuk semua lelaki yang ada di ruang bioskop sore itu, saya yakin.

Daya tarik lainnya film ini adalah pemilihan latar (setting). Saya senang, Braga dijadikan pilihan. Memang, ini pilihan yang tepat. Cerita yang diangkat, sangat kawin dengan suasana Braga. Sehingga, sajian suasana yang disuguhkan sangat ‘old’ dan klasik, namun tak kehilangan kesan mewah. Sampai hari ini, saya menyenangi Jalan Braga, tidak semata karena pernah menuliskan cerpen dengan setting tempat itu. Tapi, Braga memang punya ‘nyawa’ tempat tersendiri. Ia menyumbang ruh untuk membuat film Madre terasa lebih hidup. Apalagi melihat Tan de Bakker, bersebelahan dengan toko-toko dengan bangunan tua, dengan cat-cat mengelupas, usang. Saya terpana dan merasa rugi kalau mata saya berkedip dan terpejam begitu lama.

Film ini banyak saya mengajari nilai-nilai tentang kehidupan. Tentang asal. Tentang tempat kita dilahirkan. Tentang keluarga. Tansen boleh saja merasa hidupnya bebas, membenci kota karena alasan kota itu ribut dan kejam, dan mencintai kebebasan yang ia temui di laut dengan cara bermain surfing. Sampai hari itu saya berkata seperti ini kepada Vino, lewat mention twitter kepadanya: Betapa pun kita ingin ‘bebas’, kita akan selalu pulang ke rumah. Dan Vino memberikan RT-nya.

Nilai lain, adalah semangat untuk mencoba yang baru. Dunia roti dan dunia ombak, jelas jauh beda. Di sini, ditegaskan, walau Vino sempat ingin pergi dan kembali ke dunia ombaknya, ia sulit untuk meninggalkan dunia roti. Ia sudah terlalu jauh masuk ke dunia barunya, sehingga sulit ditinggalkan. Saya belajar, hal baru yang sama sekali tak kita ketahui, tapi bila dilakukan dengan cinta, pasti berhasil juga.

Bayang-bayang Perahu Kertas

Setelah keluar dari ruangan bioskop, saya menduga-duga. Entah kenapa, terlalu banyak kesamaan antara Madre dan Perahu Kertas. Pertama, setting. Kedua film itu sama-sama mengambil setting di Bandung, walau Madre lebih dominan. Selain Bandung, juga di Bali. Kedua film itu, ada sejumlah adegan yang mengambil setting Bali, khususnya pikat pantai yang memanjakan mata.

Kedua, gaya khas narator yang berkata dalam hati, dengan memakai bahasa-bahasa liris. Dalam Perahu Kertas bagian-bagian yang diberi suara narator tokohnya, banyak sekali. Persis ketika Kugy yang diperankan Maudy Ayunda menyampaikan keluh dan gelisah hatinya. Cara menyisipkan suara narator memang menjadikan film lebih hidup. Tapi, karena Perahu Kertas dan Madre ditulis oleh orang yang sama, walaupun digarap oleh sutradara berbeda, gaya demikian tetap serupa. Yang anehnya, ketika Tansen mengungkapkan isi hatinya dengan gaya narator itu. Kesan laki-laki macho jadi sedikit hilang karena sangat jarang lelaki terlalu berperasaan dan gelisah yang terpendam sehingga membuat hatinya berkata-kata.

Lainnya adalah musik-musik pengiring (scoring) yang juga terdengar mirip dengan Perahu Kertas. Adegan ketika perahu kertas yang terombang-ambing di lautan, ketika Kugy menaiki perahu motor dan melepaskan perahu kertas, mirip degan beberapa musik dalam film Madre. Selain itu, juga ada beberapa kalimat-kalimat yang dilontarkan pemeran (seperti quotation), yang seperti dilanjutkan di film Madre ini, yaitu ketika Pak Hadi berkata kepada Tansen, jatuh cintalah pelan-pelan, tapi jangan lambat, nanti menyesal. Hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh Pak Wayan (diperankan Tio Pakusadewo) dalam film Perahu Kertas dengan versi: jatuh cintalah pelan-pelan, jangan sekaligus. Berat nanti.

Di luar kemiripan yang mungkin tidak sengaja itu (atau sengaja?), ada adegan yang benar-benar membuat saya tertawa geli dan sedikit canggung. Pertama, adegan pemain biola yang tampak menghafal dialog. Diceritakan oleh Tansen, kalau pemain biola itu (sebagaimana yang ia ketahui dari Pak Hadi) adalah pemain biola yang dulu bekerja sebagai pemusik di Tan de Bakker. Ini  agak merusak keindahan filmnya. Ada juga adegan yang bahkan mirip sinetron, yaitu saat Tansen dan Mei membuat roti bersama dan kemudian pelan-pelan mereka melepaskan tangan, seperti ada perpisahan. Oh, ini membuat Madre terkesan ke-sinetron-an. Harusnya, adegan itu bisa dibuat lebih mewah dan berkelas lagi.

Melati, teman saya yang sudah membaca Madre sebelumnya, juga menyesalkan akhir yang agak aneh dan tidak menarik. Secara keseluruhan, Madre membuat ia terpana. Tapi, ending yang demikian, membuat ia kecewa.

Saya pun juga protes, karena bagian ending, yang memunculkan nama sutradara tiba-tiba, mengesankan film ini ditutup mendadak, sementara, penonton masih menanti-nanti bagaimana intepretasi Benni, seperti apa menutupnya. Bagaimana Mei dengan pernikahannya pun juga tidak terselesaikan. Penonton pasti bertanya-tanya, walaupun sebenarnya terungkap di sini: Mei memilih cinta yang memanggilnya, persis Tansen yang pulang, karena ‘ibu’ dan cinta memanggilnya pulang. (*)

*Dodi Prananda, penikmat film. (Depok, 13-4-2013)

Sambutan Hangat Om Kurnia Effendi untuk Waktu Pesta

Aku mengenal Om Kurnia Effendi (Keff) lewat cerpennya. Kemudian, untuk pertama kali, aku bertemu langsung di Sanggar Pelangi. Guru menulisku, Om KW, mengajaknya singgah di Sanggar Pelangi, di Gunung Pangilun Padang. Ketika berbincang dengannya, logat khasnya membuat aku sangat dapat menyimpulkan tanah asalnya: Tegal.

Pertemuan berikutnya adalah di Serang, Banten. Saat itu, aku hadir dalam acara Malam Penganugerahan Sayembara Menulis Cerpen Belistra Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Selain menjadi juri, Om Keff juga menjadi pembicara. Aku menyimak materinya yang benar-benar menjelaskan betapa karibnya Om Keff dengan sastra. Sastra seperti bertumbuh dalam dirinya, mendarah daging. Kecintaannya yang besar pada sastra pun membuat ia hingga kini masih terus menulis. Nama Om Keff, aku catat sebagai inspirator untuk menulis cerpen, sebab Om Keff adalah salah salu cerpenis andal, penulis bernapas pendek yang cukup produktif secara karya. Saat itu, tak dinyana, Om Keff memilih cerpenku yang berjudul “Ibu Menyanyi Untukku, Aku Menyanyi Untuk Ibu” sebagai juara 2. Saat itu, aku merasa berterima kasih padanya. Om Keff benar-benar melecut semangatku untuk menulis lebih bagus. “Cerpenmu asyik,” katanya di Facebook. Di kata pengantar, ia mendoakan kami yang muda-muda untuk terus menulis dalam usia yang panjang. Aku mengaminkan dengan sungguh.

Koleksi pribadi Kurnia Effendi di album Facebook
Koleksi pribadi Kurnia Effendi di album Facebook

Pertemuan berikutnya, saat itu bedah buku Gadis Pakarena karya Mas Khrisna Pabichara di TM Bookstore, Depok Town Square.  Om Keff tetap tampil sebagaimana biasa: sederhana, bersahaja. Aku berbicang dengannya, bertanya kabarnya, dan ia bertanya kabar menulisku. Aku katakan, beban akademis saat itu memenjaraku.

Dan, berikutnya, kami hanya bersapa di Facebook.

Berikutnya lagi, aku mengirimkan pesan di inbox Facebooknya. Aku meminta kesediaannya menjadi endorser untuk buku kumpulan cerpen pertamuku. Om Keff dengan senang hati menerima permintaan itu. Aku kirim ke email naskahnya. Aku menunggu balasan testimoni darinya dengan penuh debar. Rupanya, saat itu ia sibuk. Aku setia menunggu.  Aku sudah terlanjur berharap namanya ada di buku pertamaku itu, di buku antologi berjudul Waktu Pesta. Om Keff menepati janjinya dan ia mengirimkan testimoninya, walau telat dari tanggal yang dijanjikan. Tapi, aku tetap senang, sebab endorsement darinya memberikan kesan tersendiri bagiku. Bahkan, aku tak menyangka, pada saat itu Editor menaruh endorsement Om Kurnia Effendi di kulit belakang buku.

Berikut testimonya:

“Cerpen-cerpen dalam kumpulan Waktu Pesta ini memberikan gambaran yang terang mengenai gejolak anak muda dalam memeragakan sejumlah tema: meletup-letup. Suasana dramatik bagai membelah diri, sebagian dalam bentuk kecamuk perasaan, sebagian lain tampil melalui aksi fisik. Ada anasir mistik dan eksplorasi terhadap wilayah yang ganjil, membuat kisah-kisah yang ditulis memikat dan tak biasa.”
Kurnia Effendi, penulis dan penggemar sastra

Endorsement dari Om Kurnia Effendi untuk buku Waktu Pesta (Sumber foto: Facebook Kurnia Effendi)
Endorsement dari Om Kurnia Effendi untuk buku Waktu Pesta (Sumber foto: Facebook Kurnia Effendi)

Dan, ketika bukunya terbit, aku mendapat satu buku sebagai bukti terbit. Buku itu aku kirimkan pada Om Keff sebagai ucapan terima kasih. Beberapa hari setelah aku kirimkan, Om Keff mengirimkan aku pesan di Facebook:

Menurutku, kelahiran pengarang-pengarang muda di Indonesia sangat penting. Terutama jika mereka menyuguhkan gaya ungkap dan tema-tema yang berbeda dibanding sebelumnya. Kehadiran “Waktu Pesta” ini kusambut dengan rasa bangga. Langkah pertama tak harus sempurna, tetapi di sana terdapat potensi yang gampang diasah karena memiliki bakat kuat sebagai pengarang. Masa depan pun masih panjang.

Dodi Prananda, terima kasih. Buku kalian sudah kuterima. Seperti tulisan dalam suratmu, senantiasa kutunggu karyamu berikutnya.

Ini surat yang aku sertakan ketika mengirim buku Waktu Pesta ke alamat Om Keff (Foto: Om Keff)
Ini surat yang aku sertakan ketika mengirim buku Waktu Pesta ke alamat Om Keff (Foto: Om Keff)

Demikianlah, kenapa nama penulis buku Anak Arloji, Kincir Api, Bercinta di Bawah Bulan itu selalu punya arti penting dalam kepenulisanku (selain jasa besar guru menulisku Om Yusrizal KW). Tidak hanya karena cerpen-cerpennya yang membuat aku selalu terinspirasi, tetapi juga sosok pribadi penulisnya yang patut dijadikan motivator penulis muda sepertiku: SEDERHANA, BERSAHAJA.

Salam hangat untuk Om Keff,

Regards,

Dodi Prananda

Akademi Bercerita PlotPoint: Bercerita Tanpa Jeda

Suatu hari, saya mewakili FISIPERS untuk acara journalist network, sebuah acara temu wartawan kampus yang digelar Lembaga Teknika, media di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Di acara itu, saya berkenalan dengan pegiat media di Fakultas Hukum, namanya Shierly Desliyani, mahasiswa Hukum Universitas Indonesia.

Sumber foto: Blog PlotPoint
Sumber foto: Blog PlotPoint

Di hukum, namanya Perfilma (Pers, film, fotografi dan musik mahasiswa). Saat presentasi perngenalan media di fakultasnya, Shierly menjual sejumlah program di Perfilma. Saat itu juga ia mengatakan Perfilma bekerjasama dengan PlotPoint mengadakan seminar kreatif tentang dunia tulis menulis. Saya langsung bersemangat. Mencatat tanggal itu.

Tapi, ketika hari itu datang, saya baru sadar, ternyata saya ada kuliah Statistik Sosial I. Mata kuliah yang pada awalnya saya takuti. Dari dulu, saya selalu tidak
nyaman dengan pelajaran angka-angka. Untuk mata kuliah ini, rasanya saya malas untuk bolos. Saya enggan masa lalu di SMA, ketika saya merasa cemas dengan angka-angka, terulang lagi. Selama ini, saya terlanjur mencintai aksara. Dunia jurnalistik yang saya tekuni secara akademis dan praktis, mengajarkan saya bersahabat dengan huruf, bukan dengan angka. Demi alasan tuntutan mata kuliah ini, saya mengubur jauh-jauh kecemasan itu. Sekaligus sejak awal mata kuliah ini jalani, saya berusaha untuk duduk di kelas senyaman mungkin, bahkan di saat saya harus mendapati kenyataan bahwa dosen saya adalah Mas Whisnu, yang sebelumnya sangat ditakuti untuk mata kuliah ‘Metode Penelitian Sosial’. Hari pertama, saya merasa nyaman. Hari kedua, kelas ditiadakan. Dan hari ketiga, hari ini. OMG,  bertabrakan dengan acara Perfilma: Akademi Bercerita yang menghadirkan penerbit yang saya lihat punya prospek bagus itu: PlotPoint.

Ada yang harus dikorbankan, begitu prinsip biaya peluang. Tadinya, saya berencana akan menghadiri acara ini hingga pukul dua. Setelah itu, saya akan kuliah. Saya datang telat di ruangan. Acara sudah dimulai. Ada pemateri yang berbicara. Saya kurang kenal. Wajahnya baru saya kenali. Pada teman FISIPERS yang juga datang, saya bertanya, siapa nama pembicara di depan ini. Dia tidak tahu. Dan, Kak Iim (panitia journalist network) juga datang, pun tidak tahu siapa pemateri.

Saya menyenangi materi acara bertajuk Akademi Bercerita di FHUI. Saya tahu cukup banyak mengenai acara ini (Akademi Bercerita) dari twitter dan blog PlotPoint. Selain ilmunya penting, ini juga pemacu semangat saya untuk menulis. Materinya disajikan menarik. Bahkan, ketika peserta diminta bertukar cerita pada partnernya. Partner saya Kak Iim. Saya bercerita pada Kak Iim dan Kak Iim bercerita pada saya. Cerita itu kemudian harus diberi bumbunya. Cerita partner diminta diceritakan pada partner yang lain, dan kepada partner lain diminta masukan. Kemudian, cerita dipresentasikan. Ini seru. Saya kemudian mengangkat tangan ketika pembicara meminta untuk bercerita. Saya ceritakan cerita tentang Iim itu. (Saya jadi tertarik menuangkan ide cerita ini ke dalam cerita pendek).

Sumber: Blog PlotPoint
Sumber: Blog PlotPoint

Acara terus berjalan. Saya kian gelisah. Menatap waktu pada layar ponsel. Rupanya, sudah pukul dua lewat. Saya sungguh nyaman pada acara ini, selain acara ini menarik saya merasa hanyut dalam materi yang membuat saya terdorong menulis. Semangat saya jadi menggebu-gebu. Dan, saya ingin katakan, bahwa sebenarnya, selain berharap mendapatkan suntikan semangat, saya ada misi lain untuk datang ke acara ini. Sebulan yang lalu, saya mengirimkan naskah ke PlotPoint. Saya berharap, jawabannya akan saya dapatkan langsung kepada tim atau editor yang datang.

Gelisah saya semakin melaut. Kali ini sudah pukul tiga. Acara tampaknya akan berakhir. Sudah sampai di penghujung waktu, persis ketika sesi tanya jawab berakhir. Di luar, hujan turun deras. Persis gelisah saya. Saya cemas ketinggalan materi kuliah Statistik Sosial I hari ini, karena Mas Whisnu pernah bilang bahwa hari itu menghitung-hitung akan dimulai. Tapi, betapa pun, saya harus memilih.

Saya ingat, bahwa peluang dan kesempatan yang datang sekali dan tidak berulang, harus diselamatkan. Saya memilih acara ini pada akhirnya, sampai gelisah saya reda. Hujan pun reda. Sudah pukul tiga lewat. Dan, kemudian saya pun tahu, sekaligus menjadi kaget ketika ternyata pembicara yang selama tadi berbicara panjang lebar tentang menulis kreatif adalah Gina S. Noer.

Saya jadi histeris sendiri. Mbak Gina adalah co-founder PlotPoint dan penulis naskah skenario. Ia telah menulis skenario film Habibie-Ainun dan Ayat-ayat Cinta. Gina S. Noer adalah istri dari Salman Aristo.

Akhir acara, tambah menarik. Saya diberi satu buku sebagai penghargaan karena sudah berani bercerita, berani bertanya. Menariknya lagi, ketika acaranya benar-benar usai, saya memberanikan diri bertanya pada Mbak Gina. Bertanya tentang nasib naskah saya. Hati saya berdebar. Sepertinya, hujan di luar memberikan jawaban. “Mbak, boleh nanya nggak. Kemarin aku ngirim naskah ke PlotPoint,” kataku. “Judulnya apa?” tanyanya balik. Saya jelaskan. Judulnya. Sinopsisnya. Dan, saya terhenyak ketika Mbak Gina bilang,” Kayaknya ditolak, deh. Tapi, nanti kita kasih tahu hasilnya ya,” balas Mbak Gina.

Seminggu setelah acara, saya menerima email penolakan. Tapi, saya bahagia. Tidak karena semata bertemu Mbak Gina. Melainkan, karena saya menyenangi bertemu dengan orang-orang hebat. Sebab, ada yang perlu saya ingat dan saya catat sebagai pelajaran. (*)