Artikel Populer

Dongeng Patah Hati

Sumber: Fanspage GagasMedia

Sumber: Fanspage GagasMedia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dia tidak mencintaimu lagi.

Hatimu terbelah dua ketika dia memutuskan untuk mendua.

Tak ada lagi yang bisa kau lakukan.

Semuanya berakhir, semuanya sia-sia.

Dia tidak mencintaimu lagi.

Dan kau menangis saat mengucapkan selamat tinggal.

Seketika itu juga tubuhmu terasa menggigil.

Kedinginan karena telanjur terbiasa dengan hangat pelukannya….

*

DONGENG PATAH HATI adalah omnibus karya 10 pemenang Sayembara Menulis ‘Proyek 14’ dan 4 penulis pilihan GagasMedia. Buku ini dipersembahkan untuk kamu yang patah hati, diam-diam mencintai… atau yang pernah diselingkuhi.

Sekadar Cerita, di Balik Cerita

Barangkali, ini mengawali mimpi besar saya, menerbitkan buku dengan penerbit GagasMedia. Dulu, semasa SMA, rasanya ini menjadi mimpi yang tertulis dalam diari impian saya. Baru sekarang, walau pelan-pelan, saya wujudkan. Bermula ketika Tita, teman saya di Komunikasi bercerita kalau ada lomba proyek 14 GagasMedia, Sayembara Dongeng Patah Hati. Ow!

Saya langsung semangat. Sepanjang hari, saya mencari ide cerita. Temanya adalah patah hati. Saya kemudian bersemedi berhari-hari. Sampai pada hari ketika tenggat akan berakhir. Menjelang dua belas jam terakhir, saya masih mind writing, mematangkan ide dengan menulis dalam pikiran. Kemudian, delapan jam terakhir saya mulai menuliskan. Ide ceritanya mengenai kisah yang saya pinjam dari cerita mendiang sahabat saya semasa SMA, Al. Saya kira, menulis cerita yang diangkat dari kisah nyata akan mudah saja menulisnya. Ternyata, tidak juga. Bagaimanapun, harus diberi bumbu. Menaburi bumbunya inilah yang membuat saya merasa perlu kerja keras. Kalau bumbu ceritanya tidak pas, sajiannya pasti tidak akan enak, persis bagaimana makanan.

Jam-jam terakhir, menjelang tenggat, saya kian lancar menulisnya. Adrenalin saya terpacu. Kenangan-kenangan tentang sahabat saya itu, seperti buncah dari ruang kenangan saya. Saya menjadi sangat rindu dengan mendiang Al. Saya menulis, tapi saya rasa, saat itu saya menangis. Dan saat itu, wilayah-wilayah realita, berbaur dengan fiksi. Kisah Al, dan sosok Al, terasa hidup di depan saya. Saya seperti masuk ke kesedihan itu lagi, saat Al dikabarkan meninggal dunia, dan masuk ke ruang masa lalu paling lampau, ketika saya bertemu Al semasa MOS di SMA Negeri 1 Padang. Banyak cerita lainnya ketika Al juga aktif dan bergiat organisasi, dan kenangan-kenangan ketika Al menjadi pembawa acara dalam perpisahan kakak kelas. Rasanya…

… saya lupa bahwa saya sangat larut dan saya mabuk dalam rindu…

Saya tidak bisa saat itu datang ke rumah duka dan saya merasa menyesal tidak melihat Al untuk terakhir kali. Tapi, dalam fiksi, dalam cerita ini, saya seperti bersua kembali. Kepada Al, izinkan aku ‘meminjam’ kisah yang membuat aku saat brainstorming, aku merasa ini sungguh pedih: cerita kau dan kekasihmu, Al. Aku tidak bermaksud membuat kekasihmu bersedih lagi dan harus meneguk gelas-gelas bir nostalgia yang rentan memabukkan. Tapi, aku hanya ingin mengatakan, kesejatian cinta justru terasa ketika dirimu telah tiada. Kau, kurasa adalah kekasih abadi bagi dia.

Aku sebenarnya merasa sangat kaget ketika hari itu menerima email dari Kak Christian Simamora bahwa cerpenku masuk dalam 10 terbaik dari 600-an naskah. Waktu itu, bulan Oktober, bulan kelahiranku. Hari itu, temanku yang jadi saksi: Afridho Aldana. Saat itu, aku sedang di kedai kopi. Menikmati senja setelah usai kuliah. Kabar bahagia ini membuatku semangat berhari-hari, membuka email berkali-kali dan memastikan ini bukan email spam.

Dan, aku menjadi tidak sabar menunggu Februari setelah itu. Naskah itu dijanjikan akan terbit pada bulan merah jambu itu. Aku merasa deg-degan dan penuh debar. Beberapa pemenang lainnya, ada satu dua yang aku kenal. Teman-temanku, banyak yang tidak sabar membaca cerpen tentang Al ini. Cerpen ini berjudul ‘Yogyakarta Suatu Cerita’, dan letaknya agak dipengujung halaman.

Aku rasa, mungkin kini saatnya tepat untuk mengucapkan terima kasih pada:

Almarhum Al dan kekasihnya, untuk ceritanya yang aku pinjam

Untuk Tahniah Lutfi (Tita), temanku di Komunikasi UI yang sudah memberi kabar perihal adanya lomba ini

Kepada kru gagas, Mas Christian Simamora, para editor yang luar biasa, desainer sampul yang sungguh mampu menciptakan nuansa kesedihan lewat judul buku yang bagai tersapu airmata.

Sungguh, aku hanya ingin berdoa pada Tuhan. Buat Al. Buat rasa syukur yang selalu tiada putus untuk-Nya.

Depok, 20 Maret 2013

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s