Rumah Seratus Empat Puluh Aksara

Pertama kali, menjadi warga republik burung biru sekitar tahun 2009. Saat itu, orang beralih dari friendster ke facebook. Plurk saat itu masih eksis, tapi, nyaris tenggelam. Sementara, twitter, mulai menampakkan batang hidungnya. Teman-teman saya, sibuk dengan akun mereka masing-masing. Saya pun mendaftarkan diri. Saat itu, terus terang, saya tak nyaman. Saya sulit menyenangi kehidupan di republik berlogo burung biru itu.

Jujur, waktu itu, saya mendaftarkan diri ke twitter karena alasan ‘ikut-ikutan’. Saya risih bila ada teman yang bertanya akun twitter saya. Di banyak forum, teman-teman saya bertukar akun twitter mereka untuk follow-follow-an. Padahal, saya lebih nyaman di facebook. Di twitter, ruangnya sangat sempit. Berbeda dengan facebook. Saya punya ruang bermain kata yang lebih besar. Bisa menautkan ini itu. Ada fasilitas yang memanjakan saya: note untuk menulis sejumlah catatan, cerita pendek, puisi, hingga informasi lomba. Di twitter, relatif sempit. Hanya seratus empat puluh aksara. Saya sulit untuk bermain lepas. Bila arena sebuah gokar, facebook membuat saya bisa dimanjakan sirkuit yang luas. Twitter, barangkali semacam rumah petak empat kali empat meter yang barangkali tidak bisa membuat gokar saya berputar-putar di arena.

Begitulah, hingga akhirnya, waktu menyatakan sesuatu. Republik burung biru menjadi kiblat media sosial. Tahun 2011, saya berniat mengurusi rumah saya lagi. Rumah saya terlalu banyak saat itu di dunia maya. Akhirnya, saya kembali ke pangkuan republik burung biru. Malangnya, saya pelupa. Saya tak ingat kunci rumah saya, sehingga saya terkurung di luar. Rumah itu saya biarkan, terkunci selamanya dari dalam. Hingga akhirnya, saya memutuskan membangun rumah baru. Membangun semua dari awal lagi, dari pondasi. Tapi, setelah terbangun, tetap saja, saya masih belum bisa merasa nyaman. Seorang teman, meledek saya,” Susah ya nulis seratus empat puluh karakter. Terbiasa menulis panjang sih.”

(Foto oleh H. Hanada)
(Foto oleh H. Hanada)

Sekitar tahun 2012, sebuah film yang berbicara soal ini dirilis. Judulnya, Republik Twitter. “Suara rakyat itu, suara twitter,” sebut dialog salah satu adegan dalam film itu yang terus terngiang.

Dan, kemudian twitter menjadi primadona. Sebagian orang nomaden. Yang saat itu merasa ada tren baru, akhirnya membangun rumah di republik burung biru. Saya kira, twitter merajai industri media sosial. Di televisi, program apapun, selalu ada akun twitternya. Pelan-pelan, saya mulai nyaman, mulai menikmati atmosfer di rumah saya ini. Rumah saya berlamat di Jalan Twitterland: @pranandadodi. Sampai tulisan ini saya tulis, tetangga yang selalu mampir ke rumah saya, ada sekitar tujuh ratusan. Mereka adalah tamu-tamu saya yang setia. Sementara, saya juga sering bertamu ke tujuh ratus rumah pula. Mereka adalah sahabat saya, penulis yang saya kagumi, tokoh, dosen, dan lain-lain.

Saya sering berisik, semenjak bermukim di sini. Tiap sebentar saya menulis seratus empat puluh aksara. Saya takut, tetangga curiga kalau saya resah sepanjang hari di rumah. Tapi, ini semata, saya ingin membuat rumah saya ramai. Ingin banyak yang tertarik untuk bertamu.

Kadang, saya menyesal juga, kenapa saat pertama kali twitter lahir, saya tidak serius mengurusi rumah. Padahal, sekarang, akun-akun pseudo macam @pepatah, @terimakasihibu, @hurufkecil, @Poconggg, dst, menjadi wisata menarik bagi mereka yang hari-harinya habis di republik ini. Tapi, tak apa. Sekarang, saya benar-benar ingin mengurusi rumah ini, tanpa melupakan rumah saya yang lain. Saya ingin, setiap rumah saya, disinggahi orang, dan bila mereka mampir ke sini, mereka nyaman. Kamu, kalau mau main ke sini, ketuk saja pintu, anggap saja rumah sendiri.

Regards,
@pranandadodi

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s