(Jangan) Panggil Aku Gondrong!

Foto oleh Hanev Hanada
Foto oleh Hanev Hanada

Jangan panggil aku gondrong, begitu tulisan ini saya beri judul. Setelah sempat beberapa kali berpikir, kira-kira apa judul yang tepat. Persis sealot bagaimana saya berpikir, kenapa sampai terlintas pikiran untuk mengondrongkan rambut.

Saya akan menolak, bila ada pendapat yang mengatakan fenomena gondrong pasca lepas dari putih abu-abu, semacam euforia atas selama bertahun-tahun di kerangkeng dalam aturan tidak boleh berambut panjang di sekolah. Bukan. Sama sekali bukan. Tak ada sama sekali maksud untuk merayakan kebebasan untuk melakukan apa saja terhadap kemerdekaan rambut, karena tak akan pernah lagi ada razia sebagaimana ketakutan banyak pelajar yang bercita-cita berambut panjang, namun selalu terhalang aturan dan disiplin sekolah. Perkaranya tidak itu. Lagian dulu, semasa sekolah, saya hampir tak pernah dicap ‘bandel’ gara-gara hobi memanjangkan rambut. Beberapa kali, memang pernah terjaring razia karena luput memotong rambut. Tapi, imej buruk sebagai siswa ‘bandel’ yang selalu daftar rutin pelanggar disiplin, sama sekali tidak melekat pada diri saya.

Rambut, boleh jadi semacam identitas. Coba, lihat Bob Marley. Betapa gampang, ruang memori kita mengingat wajahnya. Yang istimewa, dari diri dia, salah satunya adalah penampilannya. Rambut, boleh jadi. Banyak orang-orang yang unik, karena satu bagian saja dari rambutnya. Perhatikan, Vino G. Bastian. Salah satu daya tariknya, mungkin perempuan yang sangat mampu merasakan (lebih-lebih Marsha Timothy), bahwa rambut Vino dan bentuk wajahnya yang demikian, sangat kawin.

Ingin tampil berbeda, itulah intinya. Pertimbangan utama kenapa saya harus memelihara rambut saya ini sejak Januari lalu. Saya putuskan untuk tidak akan memotong, barang sekalipun, untuk sekadar merapikan. Saya jadi ingat, teman SMA saya yang selalu protes kalau saya memang lebih cocok berambut panjang. Bila saya lihat diri saya di cermin, saya melihat sosok yang lebih dewasa. Tidak terjebak pada imej kanak.

“Lebih pas aja,” kata dia. Saya perhatikan baik-baik diri saya di cermin. Tidak bermaksud untuk berlagak sok, ingin nyari perkara. Untungnya, orangtua saya tak nyinyir menasihati. Tidak seperti teman-teman saya yang lain, yang bila rambut anaknya panjang sedikit saja, langsung mengoceh… “Potonglah,” kata orangtua mereka. Orangtua saya bisa terima, apa yang menjadi putusan saya. Saya jelaskan pada mereka: Sungguh, ini tak ada maksudnya untuk berlagak ala seniman, yang identik dengan rambut panjang atau…

Dan, dengan alasan apapun, orangtua saya akan tetap menerima. Tak ada protes.

Orangtua saya terima, ketika saat itu, di seberang saya bilang,” Nanti, kalau saya pulang, ayah nggak boleh protes ya,” kataku. Saat itu, rambut saya sedang menuju gondrong.

Ternyata, rambut panjang ini, selain ada yang memberi puji, ada juga yang mengomentari. Yang memberi puji, alasannya rambut saya ikal. Kalau panjang, jatuhnya indah. Astaga, jangan sampai, rambut pemberian Tuhan ini membuat perempuan cemburu. Hahahaa.. Ini jelas mengada-ada! Tapi, beneran, ada yang bilang, masih teman perempuan. “Duh, andai kalau rambut gue kayak lo..!” katanya. Saya kadang, bingung harus merespon apa. Haruskah… haruskah saya potong saja biar tak ada yang cemburu ?

Apa saya harus potong rambut saja?

Kadang, terlintas pikiran ini. Bila ada yang bertanya, kapan potong rambut? Saya biasanya menjawab sama pada penanya: belum ada rencana. Atau, bila ada yang bertanya, sampai kapan nih Dod rambutnya panjang? Saya jawab: sampai saya benar-benar bosan. Saya sudah terlanjur nyaman dengan rambut ini. Nyaman dengan rambut model ini. Rambut yang panjangnya mencapai bahu. Rasanya, wajah saya memang tepat bila dipasangkan dengan rambut ini. Lagian, seperti kata Dirga, teman saya di Komunikasi UI, belakangan, hampir jarang yang gondrong.

Oya, ngomong-ngomong soal Dirga yang juga menyangkut rambut saya, ada cerita menarik. Jadi, Dirga ini juga salah satu teman saya yang tengah memelihara rambut panjangnya. Kalau saya lihat-lihat, tipe rambut kami sama, rada ikal. Ikal yang seksi, dan menawan, kurang lebih begitu. Karena kesamaan ini, banyak yang bilang, rambut saya persis seperti Dirga. Dari belakang, dan bila tak sadar diri, ada yang mengira saya Dirga. Ouch!

Kali ini, soal gosip-gosipan. Rada negatif. Tak sedikit, teman SMA yang protes. Mereka minta saya potong segera. Kembalikan rambut saya sebagaimana model SMA. Pendek, rapi. Saya bilang, biarkanlah kini, orang mengenali saya dengan imej ini. Berambut panjang. Lagian, tidak selamanya, berambut gondrong itu diasosiakan dengan hal yang buruk atau negatif. Lebih-lebih, saya paling tak senang bila disangkut-pautkan dengan hobi menulis saya dan kesimpulan bahwa saya ikut-ikutan jadi seniman urakan. Oh!

Tidakkah mereka tahu, ketika memiliki rambut macam ini, saya menjadi gampang diingat orang, selain dengan kelakuan yang baik dan prestasi yang bisa dibanggakan. Ciri-ciri fisik, paling mempan untuk membuat diri kita diingat orang. Dosen paling penting untuk hal ini. Setidaknya, saya jadi yang ‘ditandai’ bila suatu waktu, saya diberi kesempatan untuk dapat nilai A. Maksudnya, paling memorable. Jadi, tidak ada alasan bagi dia untuk melupakan apa yang saya lakukan di kelasnya. Paling tidak, bisa diingat, bila saya menuturkan suatu perkataan atau hasil kerja yang berkesan dan memuaskan.

Dan, tak jarang, di berbagai kesempatan seminar atau workshop, khususnya pada kesempatan tanya jawab, saya diberi kesempatan ketika mengangkat tangan. Maka, si moderator biasanya selalu bilang: Mas yang gondrong, katanya memberi saya kesempatan mengajukan pertanyaan.

Duh, plis, (jangan) panggil aku gondrong! Apalagi, suatu hari, sempat trauma: “Ya, Mbak yang berbaju hitam,” katanya menunjuk saya yang mengacungkan tangan. Pembicara, waktu itu penulis buku Menuju(h), berbisik-bisik, “Eh, itu cowok tahu!”

Damn!

(Depok, 5 Januari 2013)

Iklan

2 comments

  1. Eh ini Dodi yang reporternya STORY ya? saya baru baca edisi ultahnya STORY dan nemu foto kamu yang agak familiar. Eh beneran, saya pernah mampir ke blog ini 🙂

    btw, selamat buat rambut gondrongnya. Jaman sekarang jarang loh mahasiswa yang punya rambut gondrong *kecuali mahasiswa seni kayaknya* 😀
    sukses terus buat kamu ya!

    • Hai Destini. Iya, kamu benar…
      Hahahaa aku senang kamu ngasih selamat untuk rambutku ini. Aku sebenarnya telah mengukuhkan niat untuk memotong rambut gondrong ini pada tanggal 16 Oktober 2013, persis ketika aku berumur 20 tahun. Aku hanya ingin terlahir kembali. Hahahaa…

      Iya, seratus untuk kalimat kamu yang terakhir. Populasi mahasiswa rambut gondrong mulai langka dan perlu dilestarikan… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s