Tujuh Hari ‘Membaca’ Andi di KOMPAS

Analisis Kualitas Berita terhadap Pemberitaan Harian KOMPAS dan Kompas.com mengenai Mundurnya Andi Mallarangeng sebagai Menpora dan Terkait Posisinya Sebagai Tersangka Kasus Hambalang

Oleh Dodi Prananda

* Intro

Foto: antaranews.com
Foto: antaranews.com

Tersangka, Andi Mallarangeng Mundur dari Jabatan Menpora, tulis Kompas.com Jumat (7/12/2012) pukul 10.11 WIB, mewartakan perihal mundurnya Andi Mallarangeng dari Jabatan Menpora dan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat. Berita tersebut dipublikasikan dua jam setelah Andi mengajukan pengunduran diri dari jabatannya, di Kantor Presiden. Setelah dari kantor Presiden, pukul 09.30 Andi tiba di Kantor Kemenpora dan pukul 10.11 menggelar jumpa pers yang menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan Menpora dan kepengurusan Partai Demokrat.

Esok harinya, Sabtu, 8 Desember 2012, giliran Harian KOMPAS yang menuliskan. Bukan Tersangka Terakhir: Andi Mallarangeng Pilih Mundur, itulah judul headline yang dipilih. Kini, berita terkait ditulis dengan angle yang berbeda, di mana tak sekadar memberitakan persoalan Andi yang mengundurkan diri, namun menyampaikan hal terpenting yang mutakhir secara lebih komprehensif, yaitu bagaimana kronologis titik balik Andi dan pengembangan penyelidikan kasus dugaan korupsi proyek Hambalang yang disebutkan bahwa Andi bukanlah yang terakhir, dan sementara KPK masih membidik tersangka tersebut.

Sejak pemberitaan mengenai Andi bergulir di media, khususnya terhitung 7 Desember 2012 oleh Kompas.com, hingga hari ini, isu tersebut masih dan terus terus bergulir. Satu pekan, media sibuk memberikan informasi terkait perkembangan jalannya kasus yang menimpa Andi. Permasalahannya justru tidak hanya terletak pada bahasan mengenai subtansi isu, namun turut memerhatikan soal bagaimana pemberitaan kasus tersebut dalam produk jurnalistik Kompas. Tulisan ini akan membedah kualitas berita yang ditulis Kompas (baik cetak maupun online) lewat 15 ‘pisau’ indikator kualitas berita yang dijadikan acuan.

***

Selama tujuh hari saya mengamati dan ‘membaca’ pemberitaan mengenai kasus Andi yang dimuat Kompas, terhitung sejak Jumat 7 Desember hingga Kamis 13 Desember 2012, hal utama yang menggelitik saya adalah berita berjudul Presiden agar Utamakan Sosok Profesional di Kompas cetak, Minggu 9 Desember 2012 di halaman satu. Saya kutip bagian yang menurut saya paling ‘aneh’: “Sejumlah kalangan mengapresiasi keputusan Andi Mallarangeng. Keputusan itu bahkan perlu dijadikan momentum membangun budaya politik baru di Indonesia. Sikap serupa perlu diikuti semua pejabat publik” (bagian sambungan, hal.11, kol 5-7).

Saya berangkat dari poin bahwa salah satu hal untuk mengukur kualitas berita dilihat pada aspek angle berita yang harus tajam. Dari aspek angle, jelas bagian ini bukan contoh yang tepat dan baik. Bagaimana mungkin, apresiasi dapat kita diberikan kepada orang yang jelas-jelas sudah ditetapkan KPK sebagai tersangka? Di mana letak logika pikir wartawan yang menuliskan bagian ini, padahal apa yang dilakukan Andi toh sudah sangat semestinya, sepatutnya, sewajarnya dan dengan cara penyampaian informasi seperti ini, saya menangkap adanya tendensi membesar-besarkan hal yang tidak patut untuk dibesarkan. Bukankah sudah sewajarnya orang yang bersalah dan nyata-nyata tersangkut masalah hukum, harus mundur dari jabatan yang ia emban?

Saya bahkan tidak menemukan pertimbangan apa yang dilakukan Kompas ketika menyampaikan ini sebagai sesuatu yang harus digembor-gemborkan dengan cara meminta pendapat sejumlah ahli dan pakar seperti Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan M Romahurmuzy, Pengajar Kebijakan Publik Universitas Indonesia Andrinof Chaniago, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Syamsuddin Haris dan sejumlah pakar lainnya guna membangun dan mendukung statement bahwa apa yang dilakukan Andi adalah hal yang patut diteladani, walau sebenarnya, saya pun bingung di poin apakah Andi harus diteladani? (Boleh jadi, meneladani kelihaiannya berkelit selama ini dan membuktikan kebenaran pepatah bahwa sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga)

Saya mencoba berpikir positif bahwa ini koran yang terbit hari Minggu, sehingga sajian berita hardnews-nya tidak seperti layaknya koran harian. Bila dicermati, sajian isu politiknya pun hadir dengan kadar rendah namun berupaya mencari ‘sesuatu’ (katakanlah sensasi) serta ‘berjarak’ dari kepelikan isu. Ini cukup terjelaskan ketika berita ini dibaca utuh sehingga mampu menangkap gambaran bahwa yang disampaikan dalam berita ini adalah kutipan-kutipan (langsung maupun tak langsung) pemikiran, permintaan dan desakan Dosen Politik, FISIPOL, Universitas Gadjah Mada serta Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman, mengenai keadaan pasca mundurnya Andi.

Hal lain, yang membuat saya prihatin, ketika sepanjang masa mengamati berita Kompas adalah, hampir tidak ada berita yang memberi perhatian pada permasalahan dan kekhawatiran tentang masa depan Kemenpora selepas Andi mundur. Atau, misalnya berita tentang bagaimana prestasi olahraga yang kian menurun, masalah kepemudaan semisal tawuran, kisruh di tubuh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan bagaimana pula kelanjutan kasus-kasus dan masalah yang membelit Kemenpora setelah Andi pergi begitu saja, mundur begitu saja, seolah-olah sebagai pelaku ‘tabrak lari’ serta merta akan membiarkan penanggungjawab berikutnya ‘cuci piring’? Di sini anehnya, Kompas tidak memberi perhatian soal itu.

Saya kaitkan hal ini pada poin bahwa sebuah berita berkualitas, tentulah harus melaporkan fakta terpenting mutakhir kepada pembaca dan dibuka dengan lead yang kuat guna mencuri perhatian pembaca. Perhatikan apa yang diangkat KOMPAS pada Senin 10 Desember 2012, hanya menyoroti masa depan Partai Demokrat dalam berita berjudul “Pertemuan Cikeas, Kasus Andi Tidak Jadi Topik Bahasan”. Salah satu bagian berita, dalam bentuk kutipan langsung yang disampaikan Ketua Fraksi Partai Demokrat, Nurhayati Ali Assegaf bahwa Ketua Dewan Pembina mengingatkan, kunci keberhasilan pada Pemilu 2004 dan 2014 adalah kekompakan dan kebersamaan. Dilihat dari lead, saya kira, hampir tidak ada persinggungan dengan kebutuhan publik yang sangat dekat dan erat hubungannya. Begitu pun isi berita secara detail, yang hanya bicara soal rumah tangga Partai Demokrat. Bila dicermati, apa pentingnya bagi publik pertemuan di Cikeas itu, yang bahasannya tak jauh-jauh dari menyusun strategi bagaimana cara agar Partai Demokrat bisa berjaya (baca: menang) di Pemilu 2014 mendatang. Sementara itu, persoalan dan perkembangan kasus Andi yang terus bergulir, terasa dikesampingkan. Perkembangan berita mengenai Andi pada Kompas hari Senin tersebut mulai minim (namun di Kompas.com beritanya terus mengalir, namun tak jelas arah pemberitaannya, hal ini akan dibahas kemudian), kecuali berita tersebut yang secara subtansi memang tidak menyinggung banyak soal kasus Andi.

Lebih anehnya lagi (masih berita yang sama), berita tersebut juga berisikan opini penulis dan jelas melanggar salah satu aspek mutu kualitas berita: tidak boleh berisikan pendapat si pelapor. Coba cermati paragraf berikut: Kasus korupsi yang menyeret sejumlah kader penting Partai Demokrat, termasuk kasus yang menjerat Mantan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat Andi Mallarangeng, berpengaruh pada citra Demokrat di mata publik. Bahkan, keterpilihan Partai Demokrat diprediksi bakal terpuruk pada Pemilu 2014 mendatang jika Demokrat tidak cepat melakukan perubahan. Bagian ini jelas menunjukkan bahwa berita ini memiliki muatan opini yang begitu gamblang disebutkan. Kandungan opininya terasa jelas pada kata ‘diprediksi bakal terpuruk’ yang sangat menjurus pada bahasa opini, itu ditulis tanpa parafrase, pun tidak dalam bentuk kutipan langsung, dengan artian, hak milik kalimat dan pemikirannya murni milik si penulis. Ini sangat menciderai kualitas berita produksi KOMPAS.

Masih di Kompas Cetak, saya juga merasa tidak nyaman ketika membaca headline, “Bukan Tersangka Terakhir: Andi Mallarangeng Pilih Mundur” di Harian KOMPAS, Sabtu 8 Desember 2012. Ini juga masih persoalan lead, namun saya padukan dengan persoalan penyajian yang jernih agar menghindari pembaca dari hal skeptis dan kebingungan. Kalimat kedua pada lead menuliskan: Komisi Pemberantasan Korupsi terus mengembangkan kasus itu untuk menjerat tersagka lain. Pada kata ‘mengembangkan kasus’ saya merasa kejernihannya tak tampak, melainkan justru menimbulkan tafsir yang berbeda. Hal yang sama juga terjadi pada bagian sambungan di halaman 15 kolom 5-7 yang tertulis: Senada dengan Bambang, Abraham mengatakan, untuk sementara KPK menetapkan tersangka baru terhadap Andi. Terhadap Choel dan Arief, kata Abraham, untuk sementara statusnya hanya sebagai saksi. Kalimat pertama bagian ini terasa membingungkan ketika dibaca. Tersangka baru terhadap Andi? Apa maksudnya? Ini menimbulkan tanda tanya walau saya kira mungkin maksudnya, ingin mengatakan KPK saat ini dalam tengah pencarian dan pencocokan bukti dengan dugaan tersangka berikutnya, setelah Andi.

Selasa, 11 Desember 2012 pemberitaan mengenai Andi masih ‘banjir’. Kali ini soal Andi memetik rambutan di kediamannya di daerah Cipayung, Jakarta Timur, dalam berita berjudul SBY Kasihani Tersangka KPK: Choel Berperan Sebagai Perantara Proyek. Ini terasa agak ganjil, karena hampir tidak ada informasi yang berharga bagi publik tentang Andi yang memetik rambutan di rumahnya, membagikan rambutan itu kepada wartawan walau ia enggan diwawancarai. Memasuki Rabu, 12 Desember hingga Kamis 13 Desember 2012, berita mengenai Andi di Kompas cetak mulai sepi, namun secara kualitas dan isi, berita tersebut tidak bermasalah (lihat berita Korupsi Hambalang, Deddy Kusdinar Diperiksa untuk Andi, Kompas Rabu 12 Desember 2012 hal.3).

Saya juga mencoba mengaitkan hal ini dengan pemberitaan Kompas.com yang sangat ganjil, lantas kemudian saya menarik suatu benang merah bahwa pemberitaan tersebut sama sekali tidak memerhatikan dan mempertimbangkan aspek pendidikan publik. Membaca berita mengenai Andi di Kompas.com membuat saya mengernyitkan dahi, karena bingung melihat ke mana arah dan apa juntrungan pemberitaannya. Misalnya, dalam berita yang berjudul Setelah Mundur, Andi Mallarangeng Kembali Mancing dan Baca Buku (Kompas.com, Sabtu 8 Desember 2012, pukul 01.09 WIB), atau pada berita yang berjudul Sebelum Jadi Tersangka, Andi Mallarangeng Minum Air Awet Muda (Kompas.com, Minggu 9 Desember 2012, pukul 18:36 WIB). Dilihat subtansi beritanya, banyak hal yang membuat berita ini ‘tersandung’ poin dalam kriteria sebuah berita yang berkualitas. Pertama, soal aspek pendidikan publik, kedua soal angle, ketiga soal informasi yang mutakhir bagi pembaca. Berita yang disebutkan di atas, sama sekali tidak memenuhi ketiga aspek tersebut. Hal yang lebih ekstrem, terjadi pada berita yang berjudul Humas Kemenpora: Andi Mallarangeng Tidak Bersalah (Kompas.com, Jumat 7 Desember 2012, pukul 18:41 WIB). Berita ini begitu jelas menampakkan maksud membela Andi, sekalipun sudah jelas bersalah melalui opini publik. Berita ini tidak disajikan secara berimbang (balanced), melainkan berat sebelah, tidak melaporkan kedua sisi mata uang (cover both sides).

Nah, dengan demikian, di saat selama ini kita mengaggungkan-agungkan KOMPAS sebagai semacam barometer, panutan dan kiblat mencari informasi dan kebenaran, dan sekarang nyatanya banyak hal yang membuat KOMPAS jauh dari apa yang kita harapkan, kemana lagikah kita harus mencari panutan untuk mencari kebenaran?

Depok, 16 Desember 2012

*) Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (Peminatan Jurnalisme), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. NPM: 1106-01-8051 Ditulis untuk Tugas Mata Kuliah Meliput dan Menulis Berita I

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s